cover
Contact Name
Wartoyo
Contact Email
wartoyo10@gmail.com
Phone
+6283838421909
Journal Mail Official
jurnalalamwal@gmail.com
Editorial Address
Gedung FEBI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi Cirebon
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kajian Ekonomi dan Perbankan Syariah
ISSN : 23031573     EISSN : 25273876     DOI : -
Core Subject : Economy, Social,
Al-Amwal: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah is a peer-reviewed journal published by the Department of Islamic Banking Syariah Faculty of Islamic Economics and Business of IAIN Syekh Nurjati Cirebon. The journal publishes papers in the accounting and finance field that contribute significantly to the development of the economic and sharia banking profession in Indonesia. Al-Amwal is published twice a year, the first edition was published in July and the second edition was published in December.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2015)" : 10 Documents clear
PENEGAKAN SYARIAT ISLAM DALAM BIDANG EKONOMI DI INDONESIA Ujang Syafrudin
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v7i1.220

Abstract

AbstrakSecara historis Islam memang punya saham besar dalam terbentuknya negara ini. Tetapi mau ke mana arah dan sistem kebijakan negara ini, tidak selalu ditentukan oleh pemilik saham mayoritas. Juga bukan ditentukan oleh agama mayoritas penduduknya. Dan tentu saja bukan dengan bentuk negara yang kita katakansebagai negara kapitalis atau bukan kapitalis.  Semua kebijakan ekonomi di negara kita, atau mungkin malah di semua negara lebih ditentukan oleh 'the man behind the gun', yaitu orang yang sedang memerintah saat ini. Istilah mudahnya, ditentukan oleh para pejabat. Termasuk dalam masalah kebijakan ekonomi, semua ditentukan oleh para pejabat, bukan oleh sejarah masa lalu yang kini nyaris sudah dilupakan orang. Siapa yang menjabat di bidang ekonomi, monenter, perbankan, dan sejenisnya, maka mereka adalah orang-orang yang menentukan arah kebijakan ekonomi negara ini. Di zaman penguasa orde baru, Soeharto menyebut bahwa ekonomi negara kita adalah ekonomi Pancasila. Lalu ekonomi Pancasila itu apa dan bagaimana? Jawabnya kembali kepada kebijakan subjektif para pejabat yang berkuasa saat itu, tentunya di bawah kemauan Soeharto. Kata kunci: Syariat Islam, ekonomi AbstractHistorically Islam does have a large stock in the formation of this country. But where to go and the direction of state policy system, it is not always determined by the majority shareholder. Nor is it determined by the religion of the majority population. And certainly not the kind of country that we call capitalist or non-capitalist countries. All economic policy in our country, or maybe even in all over the country are determined by 'the man behind the gun', that is, those who are ruled today.  Easy terms, determined by manajer.  Including in matters of economic policy, all determined by officials and not by the past history now almost been forgotten. Who served in economics, monenter, banking, and the like, then they are the ones who determine the direction of economic  policy of this country. In the era of the New Order ruler, Suharto said that the economy of our country is the economic ideology. Then the Pancasila economy what and how? The answer back to the subjective policy officials of the ruling at the time, of course, under the will of Suharto. Keywords: Islamic Shari'a,  economics
Pengaruh Kreasi Nilai: Function/Instrumental Value, Experiental/ Hedonic Value, Symbolic/ Expressive Value dan Cost/Sacrefice Value terhadap Loyalitas Pelanggan Rita Kusumadewi
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v7i1.216

Abstract

AbstrakPerusahaan berusaha untuk membentuk kesetiaan pelanggan lama, dan sekaligus menarik pelanggan baru melalui kreasi nilai terhadap produk yang ditawarkannya. Loyalitas pelanggan tidak hanya menjadi kunci sukses jangka pendek tapi juga kunci sustainable competitive advantage, karena pada dasarnya melalui terpeliharanya loyalitas maka perusahaan akan profitable. Artikel ini akan mengkaji dan mengembangkan teori lama mengenai kreasi nilai melalui variabel functional/instrumental value, experiental/hedonic value, symbolic/ expressive value dan cost/sacrifice value terhadap customer loyalty. Dengan metode explanatory survey dan metode pengembangannya cross sectional maka dapat diperoleh hasil bahwa functional/instrumental value (FIV) dan experiental/ hedonic value (EHV) memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap customer loyalty dibandingkan dengan symbolic/expressive value (SEV) dan cost/sacrifice value (CSV). Penurunan kesetiaan pelangan akan terjadi bila indikator-indikator ini tidak ditingkatkan atau tidak diperhatikan. Kata kunci: functional/instrumental value, experiental/ hedonic value, symbolic/ expressive value, cost/sacrifice value, loyalitas pelanggan AbstractThe company tried to establish customer loyalty, as well as attracting new customers through the creation of value of the product offerings. Customer loyalty is not only a short term key of success but also key to sustainable competitive advantage, because basically through the maintenance of loyalty the company will be more profitable. The purpose of this article are to assess and develop the old theory about the influence of value creation through functional/instrumental value, experimental/hedonic value, symbolic/expressive value and cost/sacrifice value to customer loyalty. By using explanatory survey method with cross sectional method as the result showed that the functional/instrumental value (FIV) and experiental/hedonic value (EHV) has bigger effect on customer loyalty than a symbolic/expressive value (SEV) and cost/sacrifice value (CSV). The decrease of customers loyalty will happen if these indicators were not being improve or watch. Keywords: customers value, functional/instrumental value, experiental/hedonic value, symboli/expressive value, cost/sacrifice value, customers loyalty
Sistem Activity Based Costing (ABC) dan Sistem Just In Time (JIT) Ridwan Widagdo
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v7i1.221

Abstract

AbstrakPembebanan biaya secara konvensional sudah mulai ditinggalkan dan beralih ke pembebanan biaya berdasarkan aktivitas/activity based costing system (ABC-system), Sistem ABC mendukung keunggulan manufakturing. Mereka dapat secara ekonomis digunakan, tidak selalu memerlukan sistem pengumpulan data tambahan, dan dapat di bawah pengawasan operasi atau perekayasaan. Sistem ABC memberi informasi tentang biaya dan kinerja dari aktivitas dan sumber daya serta dapat menelusuri biaya-biaya secara akurat ke objek biaya selain produk, misalnya pelanggan dan saluran distribusi. Just in time adalah sistem yang memproduksi barang hanya ketika produk dibutuhkan dan hanya dalam jumlah yang diminta konsumen. JIT secara khusus mengurangi persediaan sampai tingkat jauh lebih rendah dari sistem konvensional, menekankan pada pengendalian mutu, serta menghasilkan perubahan mendasar dalam cara produksi diorganisasi dan dilaksanakan. Salah satu keuntungan sistem JIT terletak pada pengurangan jumlah investasi yang melekat dalam persediaan bahan baku dan barang jadi dan perusahaan manufakturing tidak perlu menyediakan fasilitas gudang persediaan yang besar.  Kata Kunci: activity based costing (ABC),  just in time (JIT)AbstractConventional charging is becoming obsolete and switch to charging based activities / activity based costing system (ABC-System), ABC system supports manufacturing excellence. They can be economically used, does not always require additional data collection systems, and can be under the supervision of operations or engineering. ABC systems provide information about the cost and performance of activities and resources and can trace accurately the costs to a cost object other than a product, for example, customers and distribution channels. Just in time is a system that produces goods only when needed and only product in the consumer requested amount. JIT specifically reduce inventory to a level much lower than conventional systems, emphasis on quality control, and produce fundamental changes in the way production is organized and implemented. One of the advantages of JIT system lies in the reduction of the amount of investment that is inherent in the supply of raw materials and finished goods and manufacturing companies do not need to provide a large inventory warehouse facilities. Keyword: activity based costing (ABC),  just in time (JIT)
ANALISIS COMMON SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN BANK SYARIAH (Studi pada Laporan Keuangan PT. Bank Syariah Mandiri tahun 2013) wartoyo wartoyo
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v7i1.222

Abstract

AbstrakPenilaian terhadap kinerja suatu perusahaan dapat dilakukan dengan berbagai cara dan metode. Penilaian ini tergantung dari tujuan para pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Salah satu analisis yang paling mudah dan sering digunakan dalam melakukan penilaian kinerja suatu perusahaan adalah analisis Common Size atau yang dikenal juga dengan istilah analisis vertikal. Dimana analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan data-data keuangan yang terdapat dalam sebuah laporan keuangan dengan total aktiva ataupun passiva pada laporan neraca atau dengan total pendapatan pada laporan laba-rugi. Hasil dari analisis common size pada laporan keuangan Bank Syariah Mandiri diketahui bahwa kinerja dan keuangan BSM dalam kondisi kurang optimal, data-data di aktiva yang mengalami kenaikan, seperti kas dan setara kas mengalami kenaikan sebesar 4,87% dan yang mengalami penurunan, seperti pinjaman qardh yang turun sebesar -2,63%. Sedangkan pada data-data di passiva yang mengalami kenaikan, seperti simpanan wadiah yang naik sebesar 0,73% dan yang mengalami penurunan, seperti liabilitas segera yang turun sebesar -0,20%. Untuk sisi Laporan Laba-Rugi berdasarkan analisis common size yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa kinerja keuangan PT Bank Syariah Mandiri periode 2013 dan 2012 adalah kurang baik. Meskipun pendapatan operasional perusahaan mengalami peningkatan, namun laba usaha yang diperoleh mengalami penurunan karena perusahaan kurang mampu melakukan pengefisienan dalam mengelola asset yang dimilikinya sebagai beban usaha untuk mendapatkan keuntungan.Kata kunci: Analisis, Common Size, Laporan Keuangan AbstractAssessment of the performance of a company can be done in various ways and methods. This assessment depends on the purpose of the parties interested in the company. One analysis of the most convenient and frequently used in assessing the performance of a company is the analysis of Common Size or also known as vertical analysis. Where this analysis is done by comparing the financial data contained in a financial statement with the total assets or liabilities on the balance sheet or the total income in the income statement. Results of a common size analysis of the financial statements of Bank Syariah Mandiri is known that the performance and financial BSM in less than optimal conditions, the data on assets that have increased, such as cash and cash equivalents increased by 4.87% and the decline, such as loans qardh which fell by -2.63%. While the data on the increased liabilities, such as deposits wadiah which rose by 0.73% and is decreased, as soon liabilities which fell by -0.20%. For the Income Statement based on common size analysis that has been done, it can be seen that the financial performance of PT Bank Syariah Mandiri period in 2013 and 2012 are not good. Although the company's operating revenues have increased, but operating profit gained decreased as companies are less able to do efficiency in managing its assets as operating expenses for profit. Keywords: Analysis, Common Size, Financial Statements
Teori-teori dalam Pengungkapan Informasi Corporate Social Responbility Perbankan Sri Rokhlinasari
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v7i1.217

Abstract

AbstrakTanggung jawab sosial atau Corporate Social responbility (CSR) sebagai sebuah gagasan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. Tapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom line CSR merupakan bentuk tanggung jawab sosial tidak hanya pada perusahan industri saja namun jenis perusahaan lainnya seperti perbankan. Memandang CSR dapat dari berbagai perspektif, dalam artikel ini CSR dilihat dari berbagai teori terutama teori yang berkaitan dalam penelitian akuntansi. Kata kunci : teori agensi, stakeholder, legitimasi, sinyal AbstractSocial responsibility or Corporate Social Responsibility (CSR) as an idea, the company no longer faced with the responsibility that rests on the single bottom line, that is the value of the company (corporate value) which reflected its only financial condition (financial). But the responsibility of the company should be based on the triple bottom line CSR is a form of social responsibility not only in industrial companies alone but other types of companies such as banks. View CSR can be from a variety of perspectives, in this article CSR views of various theories, especially theories related to accounting research . Keywords : agency theory, stakeholder, legitimacy, signal
IMPLEMENTASI EXPERIENTIAL MARKETING STRATEGY PADA PERGURUAN TINGGI Dewi Fatmasari; Dikdik Harjadi
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v7i1.213

Abstract

AbstrakDitengah persaingan antar Perguruan Tinggi dalam merebut kepercayaan masyarakat, maka sudah selayaknya para pengelola Perguruan Tinggi terus berupaya mengkaji berbagai strategi yang kemudian dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan. Salah satu alternatif strategi yang dapat dikembangkan adalah Experiential Marketing yang mencoba memberikan perhatian yang lebih besar pada sisi emosional individu sebagai pendorong mereka dalam berperilaku. Kerangka analisis experiential marketing/pengalaman pemasaran terdiri dari dua aspek. Pertama adalah strategy experiential modules (SEMs) yang merupakan pondasi pengalaman pemasaran dan terdiri dari pengalaman melalui sensori panca indera (sense), pengalaman efektif (feel), pengalaman kognitif kreatif (think), pengalaman fisik dan keseluruhan gaya hidup (act), serta pengalaman yang timbul dari hubungan dengan kelompok referensi tertentu atau kultur tertentu (relate). Implementasi experiential marketing harus dilakukan secara terintegrasi oleh semua komponen di dalam kampus sebagai suatu rangkaian aktivitas yang terstruktur sehingga mampu memberikan suatu pengalaman yang positif bagi mahasiswa. Kondisi ini pada akhirnya akan menjadi evaluasi bagi setiap mahasiswa dalam kaitannya dengan semua aktivitas yang pernah dialaminya di dalam kampus. Kata Kunci : Experiential Marketing, pengalaman, kepercayaan AbstractAmid the competition among universities in the capture public confidence, then it should managers College continues to examine various strategies which can then be used as a basis for decision making. One alternative strategy that can be developed is Experiential Marketing that try to give greater attention to the emotional side of the individual as their driving behavior. Analytical framework experiential marketing / marketing experience consists of two aspects. The first is the strategy experiential modules (SEMS), which is the foundation of marketing experience and consists of sensory experience through the five senses (sense), effective experience (feel), creative cognitive experiences (think), physical experience and overall lifestyle (act), as well as experience arising from a relationship with a particular group or a particular culture reference (relate). Implementation of experiential marketing should be done in an integrated manner by all components in the campus as a structured set of activities so as to provide a positive experience for the students. This condition will eventually be an evaluation for each student in connection with any activity that ever happened in the campus. Keywords: Experiential Marketing, experiences, confidence
ANALSIS RISIKO PEMBIAYAAN MUSYARAKAH LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH Abdul Aziz
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v7i1.218

Abstract

Abstrak Dalam setiap pembiayaan pasti ada risiko yang timbul sebagai akibat kegagalan pihak memenuhi kewajibannya. Pada bank umum, pembiayaan disebut pinjaman, sementara di bank syariah disebut pem-biayaan, sedangkan untuk balas jasa yang diberikan atau diterima pada bank umum berupa bunga (interest loan atau deposit) dalam persentase yang sudah ditentukan sebelum-nya. Pada bank syariah, tingkat balas jasa terukur oleh sistem bagi hasil dari usaha. Selain itu, persyaratan pengajuan kredit pada perbankan syariah lebih ketat dari perbankan konven-sional sehingga risiko kredit dari perbankan syariah lebih kecil dari perbankan konvensional. maka dapat dikatakan bahwa risiko pembiayaan musyarakah pada lembaga keuangan syariah adalah suatu yang normal mengingat bahwa di setiap bisnis apa pun dan dimanapun potensi risiko pasti ada. Walau demikian, terjadinya risiko yang tentu dapat menghadang dapat dihadapi dengan berbagai cara. Misalnya, risiko itu langsung dihadapi dengan cara mempersiapkan diri dengan mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, atau dengan cara mentransfer sebagian tanggungan melalui lembaga asuransi. Dimana risiko pembiayaan musyarakah, baik yang berupa wanprestasi, risiko likuiditas, risiko pasar, risiko operasional atau pun lainnya memang akan berdampak pada besar kecilnya kerugian yang akan didapat. Karena itu, pengelolaan atas risiko tersebut menjadi penting. Demikian pula pengendalian risiko pembiayaan musyarakat terhadap risiko kredit dan risiko operasilan pada lembaga keuangan syariah harus menjadi perhatian bagi para pengelola lembaga keuangan tersebut. Keywords : Risiko, Pembiayaan, Musyarakah dan Mudharabah. Abstract   In any financing there must be a risk that arises as a result of failure by a counterparty to fulfill its obligations. At commercial banks, the financing referred to loans, while in Islamic banks are called estab-financing, while for the remuneration given or received at commercial banks in the form of interest (interest loan or deposit) within a specified percentage before her. Islamic bank, measured by the level of remuneration for the results of the business system. In addition, the credit application requirements more stringent Islamic banking from banking Convent-sional so that the credit risk of Islamic banking is smaller than conventional banking. it can be said that the risk of Musharaka financing in Islamic financial institutions is a normal considering that in any business whatsoever and wherever there is definitely potential risks. However, the occurrence of certain risks that can confront can be dealt with in various ways. For example, the risk was immediately faced with how to prepare to prepare for the possibilities that occur, or by transferring the majority of dependents through insurance agencies. The same thing can be found in the risk of Musharaka financing in Islamic financial institutions. Therefore, the management of such risks is important. Similarly, risk control musyarakat financing to credit risk and risk operasilan on Islamic financial institutions should be a concern for the managers of the financial institutions.Keywords: Risk, financing, Musharakah and Mudarabah.
A Change Based Organizational Model Suatu Model Diagnostic Organisasional
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v7i1.214

Abstract

AbstrakPerubahan merupakan sesuatu hal yang wajar, tetapi untuk menghadapi perubahan bukanlah hal yang mudah karena banyak factor-faktor yang perlu dipertimbangkan. Tujuan perubahan untuk memperbaiki kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan serta mengupayakan perubahan perilaku karyawan untuk meningkatkan produktivitasnya. Sebelum melakukan perubahan perlu dilakukan diagnosis organisasional karena bertujuan meningkatkan kinerja organisasi. Diagnosis organisasional meliputi pengumpulan dan analisis data mengenai system yang sedang berlaku saat itu,hasilnya diharapkan bisa menjadi pendorong perubahan. Salah satu model diagnostic organisasional untuk membantu organisasi menyelesaian masalah adalah a change based organizational model. Menurut model ini factor-faktor lingkungan internal organisasi yang meliputi susunan organisasi, factor sosial, lingkungan fisik, teknologi dan visi. Menurut model ini terjadi interaksi antara pengembangan individu dengan kinerja organisasional. Kata Kunci: perubahan, model diagnosis organisasional AbstractChange is a natural thing, but to deal with change is not easy because a lot of factors that need to be considered. The purpose of the changes is to improve the organization's ability to adapt to environmental changes and seeking changes in the behavior of employees to increase productivity. Before making changes necessary organizational diagnosis because it aims to improve organizational performance. Organizational diagnosis involves the collection and analysis of data about the system that was applicable at the time, the result is expected to be a driver of change. One of the organizational diagnostic models to help organizations menyelesaian problem is a change based organizational models. According to this model environmental factors internal to the organization that includes the organizational structure, social factors, physical environment, technology and vision. According to this model the interaction between individual development with organizational performance. Keywords: the change, the organizational diagnostic models
ETIKA BISNIS SYARIAH Moch Endang Djunaeni
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v7i1.219

Abstract

AbstrakDalam menjalankan suatu usaha atau bisnis diperlukan kiat-kiat untuk menarik pembeli atau pemasok barang. Salah satunya etika, etika merupakan suatu bagian yang terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha atau pembisnis, karena etika dipandang sebagai sebuah tuntutan dalam membuat keputusan atau memecahkan masalah dalam hal bisnis. Etika juga adalah, a code or set rinciples which people live (kaidah atau seperangkat prinsip yang mengatur hidup manusia). Seorang pengusaha atau pembisnis memerlukan prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam etika usaha yaitu tauhid, keseimbangan atau kesejajaran, dan tanggung jawab. Tauhid merupakan akar penting untuk mengantarkan manusia pada pengakuan keesaan Allah selaku Tuhan semesta alam. Prinsip kedua mengenai kesetaraan atau kesejajaran yang membahas tentang konsep yang menunjukkan adanya keadilan social.Kehendak bebas yakni manusia mempunyai suatu potensi dalam menentukan pilihan-pilihanyang beragam, karena kebebasan manusia tidak terbatas. Dengan memegang prinsip beretika ini, pembisnis diharuskan selalu menghargai pendapat orang lain (pegawai biasa) agar usaha yang dia pimpin tetap berkembang dan menciptakan keadilan social yang tidak membeda-bedakan satu sama lain. Rasa tanggung jawab merupakan hal pokok yang harus dimiliki oleh seorang pembisnis. Jika pebisnis tidak memiliki rasa tanggung jawab maka dapat dipastikan dia tidak dapat memimpin dengan baik usahanya atau bisa saja usahanya akan bangkrut, karena perbuatan manusia baik atau buruk harus dipertanggungjawabkan. Kata Kunci : etika, bisnis, dan Islam AbstractIn running a business or a business the necessary tips to attract buyers or suppliers. Ethics is an important part that must be owned by an entrepreneur. ethics is seen as a requirement to make a decision or solve a problem in terms of business. Ethics also is, a code or set principles the which people live (set of principles that govern human life). A entrepreneur or businessman need principles that should be applied in business ethics that is monotheism, balance or alignment, and accountability is jawab.Tauhid it is important to deliver human roots in the recognition of the oneness of God as the Lord of the womb nature. In believe that everything that exists in nature originates and ends. The second principle of equality or equality that discuss the concept of showing the existence of human justice that is free social. Holding this ethical pnciple, entrepreuner required to always respect the opinions of others (regular employees) in order that he led efforts to keep growing and creating social justice that does not discriminate against each lain. Responsibility is main things that must be owned by a businessman.If do not have a sense of responsibility it is certain he can not lead with either its business or its business may be insolvent, due to human actions good or bad should be accounted for. Keywords: ethics, business, and Islam
ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC) 2015 DAN PERBANKAN SYARI’AH Nur Eka Setiowati
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/amwal.v7i1.215

Abstract

AbstrakAsean Economic Community (AEC) 2015 merupakan tujuan akhir integrasi ekonomi yang merupakan program kerjasama negara -negara ASEAN termasuk Indonesia di bidang ekonomi. Siap atau tidak industri perbankan syari’ah harus mampu menghadapi tantangan global yang diakibatkan dari perjanjian kerjasama ini. Dengan berbagai peluang dan tantangan semua pihak harus berupaya keras agar industri keuangan syari’ah nasional semakin berkualitas, berkembang secara berkelanjutan dan mampu bersaing dalam kancah persaingan global, khususnya dalam menyambut AEC 2015. Kata kunci : AEC 2015, Industri perbankan, perbankan syari’ah AbstractAsean Economic Community (AEC) 2015 is the ultimate goal of economic integration of the cooperation program ASEAN countries including Indonesia in economics. Ready or not Islamic banking industry must be able to face the global challenges resulting from this agreement. A wide range of opportunities and challenges all parties should strive hard to national Islamic finance industry is getting quality, develop sustainable and able to compete in the global competition, especially in welcoming AEC 2015.

Page 1 of 1 | Total Record : 10