cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Research Report - Engineering Science
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Research Report - Engineering Science merupakan kumpulan laporan penelitian yang dilakukan oleh para dosen Universitas Katolik Parahyangan, Bandung dalam bidang rekayasa. Penelitian tersebut didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Katolik Parahyangan. Bidang rekayasa mencakup berbagai disiplin ilmu, diantaranya Teknik Sipil, Arsitektur, Teknik Industri, Teknik Kimia, Teknik Informatika, Matematika dan Fisika. Research Abstract diterbitkan dua (2) kali setiap tahunnya.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 (2014)" : 15 Documents clear
DIALOG ILMU DAN IMAN: SUATU PENDEKATAN DAN CARA REALISASINYA – TAHAP 3 Aloysius Rusli; Benny Suprapto Brotosiswojo; Paulus Karta Wijaya
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.927 KB)

Abstract

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk menunjang konkretisasi cara pelaksanaan dan penerapan dialog ilmu dan iman di lingkungan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), dalam rangka memenuhi persyaratan yang dikemukakan dalam Konstitusi Apostolik tentang Universitas Katolik tahun 1990. Sasaran khususnya adalah menemukan prosedur sederhana yang agak mudah dilaksanakan oleh warga Unpar. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode pengamatan yang direfleksikan lalu diuji dengan beberapa tugas mingguan dalam beberapa kuliah yang sedang dijalankan. Dengan cara  ini juga terjajagi minat dan sikap, cara berpikir dan perilaku mahasiswa masa kini yang akan menjadi pimpinan masyarakat masa depan. Hasil sementara Tahap III ini adalah kesimpulan, bahwa ilmu dan iman memiliki prosedur yang selaras, sehingga peluangnya membesar, untuk saling memperkaya melalui dialog dalam menggali makna dan arah. Perbedaan prosedur ilmu dan iman adalah dalam cara pengujian: yang pertama membatasi diri pada hal yang dapat diukur, yang digunakan untuk mengkonsistenkan hipotesis dengan pengamatan-terukur; sedangkan yang kedua terutama mengandalkan intuisi-hatinurani yang terus menerus diasah dan ditantang konsistensinya dengan pengamatan. Kesimpulan sementara ini tentu perlu diuji lebih lanjut, dengan menemukan prosedur yang lebih konkret dan khas bagi bidang teknik, bidang ilmu, maupun bidang dogma atau kesimpulan-hipotesis yang dikemukakan berdasarkan proses iman, untuk melihat bagaimana konsistensi ilmu dan iman. Karena itu penelitian ini sebaiknya ditindaklanjuti.
Menggali Potensi Kesejarahan TAHURA (Taman Hutan Raya) Ir. H Djuanda dalam Pengembangan Arsitektur Kawasan Pariwisata yang berbasis pada Eco-culture Kasus Studi : Curug Dago Tito Gunawan W; Rahadhian Prajudi Herwindo; Amirani R; Caecilia W.
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3869.435 KB)

Abstract

Tahura Ir. H Djuanda merupakan kawasan penting di kota Bandung yang memiliki multifungsi. Fungsi utama Tahura pada saat ini sebagai area konservasi alam yang dapat menimbulkan dampak positip bagi perkembangan kota Bandung. Dalam rangka mendukung Pariwisata di Kota Bandung ke depan Tahura memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan, khususnya mendukung pariwisata yang berbasis pada Eco-Culture. Potensi penting yang akan dikembangkan dalam desain adalah Curug Dago sebagai bagian dari Tahura. Curug Dago sebagai kawasan bersejarah ternyata tidak memiliki sarana yang memadai khususnya dalam pengembangan wisata alam dan budaya. Pengembangan gagasan Eco-Culture tidak dapat dilepaskan pada aspek kesejarahan suatu tempat. Curug Dago memiliki nilai kesejarahan yang kuat bagi kota Bandung. Oleh karena itu untuk mendukung Pariwisata yang berbasis pada Eco-Culture diperlukan penggalian potensi-potensinya, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan aspek kesejarahan. Diharapkan melalui kajian ini akan didapatkan model pengembangan kesejarahan yang dapat diterapkan dalam wujud fisik yakni berupa arsitektur kawasan pariwisata di Curug Dago. Arsitektur dapat menjadi salah satu pendorong terjadinya perubahan, baik menyangkut fisik kawasan maupun aspek sosial masyarakat seperti perilaku-budaya, dsb. Dengan demikian kajian ini akan dapat mendukung pembangunan di Kota Bandung menuju kota yang humanis dan livable serta didukung oleh kreativitas masyarakatnya. Hal ini diharapkan juga berdampak positif bagi peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar curug ini.
KONSEP GAGASAN ADAPTASI KOTA SABANG SEBAGAI LINGKUNGAN BINAAN Caecilia S. Wijayaputri; Kamal A. Arif; Sandi A. Siregar
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12027.895 KB)

Abstract

Sejarah perkembangan kota di Indonesia, biasanya diawali oleh kota-kota kerajaan, kota pedalaman yang agraris, atau kota-kota pantai. Peran dan fungsi kota-kota awal tersebut menarik suku lain untuk tinggal sementara maupun menetap. Dari kondisi inilah kota berikut lingkungannya berkembang, termasuk di dalamnya pola ruang kota sebagai wujud budaya material masyarakat pendukungnya. Dalam satu hal, kotasama seperti manusia, dimana setiap aspek membentuk jati diri suatu kota. Maka bagaimana sebuah kota tetap memiliki identitas yang sama apabila ia terus menerus berada dalam suatu perubahan? Pada dasarnyapembangunan seharusnya dapat melestarikan warisan budaya bangsa, oleh karena itu diperlukan usaha untuk menggali patokan-patokan pembangunan fisik masa lalu untuk dapat digunakan sebagai pengembangan kebudayaan selanjutnya. Selama ini, Sabang hanya dikaji secara ekonomi dan geografis sebagai pintu masuk via perairan laut wilayah Kesultanan Aceh. Pada tahun 1970 pelabuhan Sabang menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Indonesia, walaupun akhirnya ditutup pada tahun 1986. Pertanyaan yang kemudian timbul adalah dengan peran sebagai pintu masuk kesultanan Aceh, apa sebenarnya identitas kultural kota Sabang. Sehingga untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai pola perkembangan kota Sabang, maka penelitian ini kemudian dilakukan. Metoda penelitian terdiri atas dua kajian yang saling isi yaitu diakronik melaui historical reading, dan sinkronik melalui tissue analysis.Kata kunci: identitas kultural, warisanbudaya, morfologi, ruang kota, perubahan kultural.
POTENSI PENCAHAYAAN ALAMI PADA RUMAH SUSUN SARIJADI BANDUNG Yasmin Suriansyah
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1466.171 KB)

Abstract

Apartment Sarijadi Bandung (ASB) is a first-generation mass public housing (1975) in Bandung Indonesia is intended as mass public housing for the lower middle income, and until now still inhabited. ASB is the only apartment in the city designed as cluster typology with one staircase lined to four dwelling units, so that the wall has openings on outer façade and inner court facade. One of its design approaches is to optimize natural lighting with wall openings on those two-façade. This study aims to determine the extent of a natural lighting at ASB that is designed with optimization approach of the natural lighting. This study used quantitative methods. Field surveys conducted to obtain data of (1) physical spatial configurations of architectural elements, and (2) illuminant of the residential units, which will be used for analyzing how much the natural lighting potential in the residential units at ASB. The finding is the innovations of disclosure of influence factors of the architectural physic-spatial configuration to day lighting potential in vertical residential building typology as in the ASB. It is a useful new finding to be applied in supporting the development of science and technology and procurement related to vertical housing that provide opportunities for better life quality and energy efficiency in urban areas.Keywords: Daylight, physic-spatial configuration, apartment, Sarijadi Bandung Indonesia
RELASI ARSITEKTUR DAN PELESTARIAN GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA DI BANDUNG Alwin Suryono
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1290.582 KB)

Abstract

Studi ini bertujuan mengungkap relasi antara arsitektur dan pelestarian gedung Rektorat UPI., dengan tahapan: Mengungkap esensi pelestarian arsitektur; Mengungkap elemen-elemen arsitektur signifikan untuk dilestarikan; dan mendeskripsikan tindakan pelestarian, agar makna kulturalnya bertahan.Gedung Rektorat UPI karya CPW. Schoemacker dikenal sebagai Bangunan Cagar Budaya yang masih utuh dan asli, tapi sejarahnya berkata lain yaitu: sebagai tempat tinggal, markas pejuang kemerdekaan (rusak tertembak), kampus (bangunan diperbaiki-ditambah-dirubah). Perubahan bangunan tidak   terbaca, sehingga bukti sejarah tersamar.Esensi pelestarian arsitektur adalah pelestarian makna kultural melalui aspek bentuk dan fungsi. Makna kultural aspek bentuk berupa makna modern-kelokalan pada selubung bangunan, tema lengkung dan apresiasi lingkungan pada ruang dalam, tema lengkung dan orientasi lingkungan pada ruang luar.  Makna kultural aspek fungsi berupa makna sejarah (tempat tinggal, markas pejuang, tempat kuliah) dan makna kegunaan kantor Rektorat UPI.Elemen-elemen arsitektur signifikan. Selubung bangunan: bidang-bidang polos-lengkung, atap datar, jendela besar-teritis lebar. Ruang dalam: tatanan ruang lengkung 3 zona, zona tengah memanjang arah Utara-Selatan diapit oleh ruang zona kiri dan zona kanan, berlantai marmer.  Ruang luar berupa taman, terowongan, kolam ikan, pohon-pohon besar, pintu gerbang, tugu, dan pandangan ke arah Kota Bandung dan gunung Tangkuban Perahu.Selubung bangunan telah sedikit berubah dari asalnya, maka tindakan pelestariannya ada 2 pilihan: Restorasi (bagian selubung dikembalikan ke bentuk asal) atau Rehabilitasi (pembedaan tampilan bangunan antara bagian yang asli dan yang lebih baru, dengan warna atau tekstur namun tetap harmonis). Tindakan terpilih dilengkapi dengan tindakan preservasi selubung bangunan (perbaikan bagian-bagian yang retak/lapuk, perapihan jaringan kabel-pipa),  Ruang tengah (direstorasi ke pola lengkung seperti semula), Atap entrance sebaiknya dijadikan transparan kembali agar entrance hall dan lobby dapat terang alami. Kata kunci: Makna kultural, fungsi, bentuk, preservasi, restorasi.
PENGEMBANGAN MODEL DAN TOOLS UNTUK MENGAUDIT APLIKASI WEB SEKALA BESAR (WEB ENTERPRISE AUDIT) Veronica Sri Moertini; Gede Karya
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3347.988 KB)

Abstract

Pemanfaatan aplikasi web sekala besar (web enterprise) untuk mengimplementasikan sistem informasi pada organisasi memberikan manfaat (benefit) dan potensi resiko. Sebagai proses pengendalian resiko, perlu dilakukan audit secara berkala. Agar audit berjalan efektif, diperlukan metodologi, model audit dan kakas (tools).Pada penelitian ini diusulkan model audit aplikasi web sekala besar (web enterprise audit) dengan mengkombinasikan framework ISACA dan ISO/IEC 25010. Framework ISACA lebih berfokus pada aspek fungsional dan tata kelola, sedangkan ISO/IEC 25010 berfokus pada aspek non fungsional, khususnya performansi dan reliabilitas yang mencerminkan karakteristik aplikasi web sekala besar. Model yang diusulkan diharapkan menyediakan jaminan kualitas yang lebih komprehensip.Untuk mengimplementasikan model usulan, kakas uji Integrated Web Test Environment (IWTE) yang telah dihasilkan pada penelitian sebelumnya diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut. IWTE telah menyediakan modul uji fungsional dan uji beban. Agar memenuhi kebutuhan model usulan, pada penelitian ini, IWTE dikembangkan dengan menambah modul uji pengendalian yang diturunkan dari application control (AC) assesment dari COBIT 4.1 yang digunakan dalam framework ISACA.Hasil pengujian pada kasus Student Portal Unpar menunjukkan bahwa model dan kakas yang diusulkan dapat memberikan hasil yang memadai. Namun, pada proses pengujian ditemukan kesulitan dalam deployment aplikasi agen uji IWTE khususnya untuk uji beban. Untuk penelitian lanjutan, diberikan saran untuk mengembangkan aplikasi IWTE dengan kelengkapan fungsi analisis statistik dan visualisasi hasil pengujian.Kata kunci: audit aplikasi web sekala besar, web enterprise audit, IWTE, framework ISACA, ISO/IEC 25010
PENELITIAN BETON RINGAN NON-STRUKTURAL DENGAN AGREGAT STYROFOAM BEKAS Cecilia Lauw Giok Swan; Buen Sian
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3319.628 KB)

Abstract

Styrofoam berupa gabus putih yang sangat ringan dan murah, sehingga amat disukai untuk mengemas makanan dan berbagai keperluan lain. Namun penelitian membuktikan bahwa penggunaan styrofoam sebagai kemasan makanan memiliki pula dampak negatif yang luas. Styrofoam mempunyai efek merusak lingkungan hidup, karena sampah styrofoam di alam tanah nyaris tidak dapat terurai. Meski sangat mudah menyala tetapi sampah styrofoam terus meningkat volumenya karena tidak boleh dimusnahkan dengan cara dibakar, sebab styrofoam yang menyala melepaskan gas berbahaya yang bersifat karsinogen. Styrofoam bekas kemasan produk kondisinya cukup bersih sehingga dapat dikirim ke pabrik untuk dihancurkan dan selanjutnya didaur ulang menjadi produk styrofoam baru. Tetapi daur ulang styrofoam bekas kemasan makanan tidak menarik karena biasanya perlu dibersihkan lebih dulu.Penelitian ini adalah solusi cepat untuk berkontribusi dalam gerakan daur ulang styrofoam bekas kotak makanan dengan volume yang signifikan. Cara yang dipilih adalah memproses dan memanfaatkannya sebagai agregat untuk membuat beton ringan non-struktural, karena sesuai prinsip bahwa fungsi agregat adalah filler di dalam campuran beton. Dalam jangka panjang, mengolah dan menggunakan styrofoam bekas sebagai agregat beton ringan non-struktural, dapat berarti ikut melestarikan batuan alam karena mengurangi kebutuhan untuk menambang agregat alami yaitu batu dan pasir.Eksperimen dilaksanakan dengan potongan styrofoam ukuran maksimum 1 cm direncanakan sebagai substitusi sebagian agregat kasar dengan rasio volume absolut 20-80% dari volume agregat kasar total. Hasil uji menunjukkan kelecakan beton dipengaruhi oleh jumlah agregat styrofoam sehingga diperlukan bahan tambahan dan cara pemadatan khusus untuk mencegah segregasi. Disimpulkan bahwa semakin tinggi kadar styrofoam berdampak pada kuat tekan beton yang semakin menurun. Pengukuran menunjukkan terjadinya pemampatan volume styrofoam sehingga berdampak pada berat isi beton yang menjadi lebih berat dari rencana. Meskipun demikian, pengaruh volume styrofoam pada kuat lentur beton ringan non struktural tidak signifikan. Akan tetapi, disarankan efek styrofoam dengan tipe dan berat jenis berbeda dari yang digunakan pada penelitian ini untuk diteliti secara khusus.Kata kunci: styrofoam, bekas kotak makanan, agregat ringan, beton non-struktural.
KOMPARASI PENGGUNAAN MATERIAL BAMBU DALAM STRUKTUR ‘FORM-ACTIVE’ DAN ‘SEMI-FORM-ACTIVE’ PADA BANGUNAN LENGKUNG BENTANG LEBAR Anastasia Maurina; Wulani Enggar Sari; Janice Krisanti; Jati Adhisaksana
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15762.087 KB)

Abstract

Bambu merupakan material lokal yang memiliki banyak potensi. Di Indonesia, bambu sudah dikenal sebagai salah satu material konstruksi bangunan. Bambu memiliki nilai ekologis yang baik. Bambu juga memiliki properti mekanikal yang baik. Teknologi seputar bambu mulai berkembang, seperti munculnya joint-joint bambu yang menambah kekuatan bambu. Teknologi pengawetan bambu mulai berkembang, sehingga bambu dapat dijadikan material konstruksi yang lebih permanen. Material yang ringan namun memiliki kekuatan yang tinggi, bambu berpotensi dijadikan material struktur untuk bangunan bentang lebar. Selain itu, karakter yang fleksibel (mudah dibentuk), berpotensi untuk bentuk-bentuk lengkung (bentuk yang cukup sulit dicapai dengan material konstruksi lainnya).Pada bangunan bentang lebar seringkali struktur sebagai arsitektur, dimana bentuk struktural adalah bentuk arsitekturalnya. Sehingga, seorang perancang (arsitek) sangat perlu memahami karakteristik material dan prinsip-prinsip perancangan strukturnya. Pemilihan tipe struktur ‘form-active’ dan ‘semi-form-active’ pada bangunan lengkung bentang besar akan berpengaruh pada bentuk arsitektural, bentuk struktural dan properti material bambu itu sendiri.Di Indonesia, aplikasi bambu sebagai struktur pada bangunan lengkung berbentang lebar mulai muncul di dekade terakhir ini, contohnya adalah Green School – Bali, Puri Ahimsa – Bali, dan Obi Campus – Jatiluhur (bangunan tersebut akan menjadi objek studi pada penelitian ini).Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi & komparatif yang dianalisa secara kualitatif. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan observasi multi - objek studi. Penelitian ini memperlihatkan korelasi kausal-komparasi antara bentuk arsitektural, bentuk struktural dan properti material bambu dalam perancangan bangunan lengkung bentang besar yang mengaplikasikan struktur ‘form-active’ dan ‘semi-form-active’. Pengambilan keputusan mengenai bentuk struktural dalam perancangan akan berdampak pada bentuk arsitektural dan properti material bambu yang digunakan. Oleh sebab itu perancang/arsitek harus memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai bentuk struktural dan properti material ketika proses merancang bentuk arsitekturalnya. Hal ini bermanfaat untuk mengembangkan keilmuan mengenai bambu sebagai struktur bangunan lengkung berbentang besar lebar.Kata kunci:form active, semi form active, bambu, lengkung, struktur bentang lebar
EMPLOYEE ENGAGEMENT INDEX UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN Romy Loice; Johanna Hariandja; Alfian Alfian
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3396.522 KB)

Abstract

Employee Engagement adalah bagian yang tidak dapat dilepaskan dari organisasi untuk dapat terciptanya kinerja organisasi secara optimal. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat engagement karyawan yang tinggi akan memberikan berbagai keuntungan pada perusahaan tempatmereka bekerja, antara lain peningkatan profit, peningkatan pendapatan operasional, serta lebih banyaknya karyawan yang berkinerja baik dibandingkan perusahaan‐perusahaan lain yang memiliki tingkat engagement lebih rendah. Usaha peningkatan level engagement sangat penting pada semua jenis organisasi termasuk organisasi/institusi pendidikan, khususnya pada Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Sebelum mengetahui usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk peningkatanlevel engagement, suatu organisasi perlu terlebih dahulu mengukur tingkat engagement saat ini. Pengukuran employee engagement di Unpar dilakukan melalui pengukuran terhadap 6 faktor yang mempengaruhi employee engagement atau disebut juga sebagai Six Driver Groups, yaitu Job Design, Organizational Health, Managerial Excellence, Extrinsic Rewards, Workplace Readiness, dan Other. Kuesioner yang berisikan 54 item pertanyaan dibagikan ke 511 responden dengan tingkat pengembalian kuesioner dengan jawaban lengkap hanya 45%. Dari hasil pengolahan menggunakan Structural EquationModel, diperoleh employee engagement di Unpar adalah sebesar 75,25 (skala 100). Unit kerja dengan employee engagement tertinggi adalah Unit PPB (85,75). Untuk profesi dosen, dosen 12 jam memiliki employee engagement tertinggi (82,57). Untuk masa kerja, masa kerja 6‐10 tahun memiliki employee engagement tertinggi (79,26). Golongan yang memiliki employee engagement tertinggi adalah golonganIV (79,85).
MOTIVASI SITE MANAGER PADA PROYEK KONSTRUKSI DI KOTA BANDUNG Felix Hidayat; Pipien Purnomo
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.874 KB)

Abstract

Konsep motivasi yang diimplementasikan pada pekerjaan konstruksi akan meningkatkan kinerja proyek konstruksi melalui peningkatan produktivitas pekerja konstruksi. Maka dari itu,penerapan konsep motivasi diperlukan pada proyek konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat kebutuhan, tingkat motivator, tingkat demotivator, dan alternatif yang direkomendasikan untuk meningkatkan motivasi site manager pada proyek konstruksi di Kota Bandung. Penelitian dilaksanakan dengan berdasarkan dua teori motivasi, yaitu Teori Kebutuhan Maslow dan Teori Herzberg. Survai dilaksanakan dengan menyebarkan kuesioner terhadap 31(tiga puluh satu) responden dengan jabatan site manager pada proyek konstruksi dengan kualifikasi 5-7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa site manager pada proyek konstruksi di Kota Bandung berada pada tingkatan physiological needs dan need for esteem. Hal ini disebabkan karena para sitemanager di Kota Bandung bmasih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar mereka dan penghargaan terhadap hasil kerja mereka. Untuk faktor motivator, penelitian menunjukkan bahwafaktor motivator utama bagi site manager pada proyek konstruksi di Kota Bandung adalah upah yang baik dan penghargaan dari atasan.Untuk faktor demotivator, penelitian menunjukkan bahwa faktor demotivator utama bagi site manager pada proyek konstruksi di Kota Bandung adalahkurang baiknya kerjasama dengan divisi lain dan kurangnya perhatian dari atasan.Alternatif yang dapat diusulkan berdasarkan faktor motivator adalah dengan menyediakan upah yang baik bagi site manager yang memiliki kinerja yang baik dan memberikan penghargaan terhadap manajer proyekyang memiliki pencapaian yang baik. Alternatif yang dapat diusulkan berdasarkan faktor demotivator adalah dengan menggunakan pekerja atau pelaksana yang telah memiliki pengalaman bekerja sama dengan site manager. Selain itu, upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan perhatian lebih kepada site manager.Kata kunci : site manager, motivasi, motivator, demotivator

Page 1 of 2 | Total Record : 15