cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta" : 6 Documents clear
Kepekaan Filologis untuk Pengkajian Budaya Arps, Bernard
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.158

Abstract

The author argues for the importance of a scholarly attitude and competence he terms philological sensitivity. Philology is usually associated with the study of manuscripts, where it is a sophisticated approach for making sense of texts. It entails a specific focus and mode of understanding. But the significance and utility of philology are not restricted to texts or manuscripts. Its scope is wider. Its approach is grounded in a cultural tendency that lives in society, namely the tendency to experience and try to understand five aspects of a cultural process or object: its artefactuality, apprehensibility, compositionality, contextuality, and historicity. If cultivated to meet the requirements of academic scholarship, this philological sensibility may form a perspective for understanding other kinds of artefacts too – especially if selectively enriched with elements from philological traditions worldwide. The author discusses examples from his own research: a manuscript with the narrative of Amir Hamza in Javanese, religious sermons in Osing on Youtube, and oral critique regarding shadow puppetry. === Penulis mengemukakan pentingnya sebuah sikap dan keterampilan ilmiah yang disebutnya kepekaan filologis. Filologi lazim dihubungkan dengan studi naskah tulisan tangan, di mana filologi merupakan pendekatan canggih untuk mengapresiasi teks. Pendekatan tersebut membawa fokus dan cara pemahaman yang khas. Tetapi makna dan guna filologi tidak terbatas pada teks, apalagi naskah. Jangkauannya lebih luas. Pendekatan yang telah dikembangkan dalam rangka filologi teks itu berdasarkan kecenderungan kultural yang hidup di masyarakat, yaitu kecenderungan untuk menghayati dan memahami lima aspek dari sebuah proses atau benda budaya: keterbuatan, ketercerapan, ketersusunan, kontekstualitas dan kesejarahannya. Jika dipupuk sehingga memenuhi syarat ilmu pengetahuan, sensibilitas filologis tersebut bisa menjadi wawasan yang andal untuk pemahaman artefak budaya lain pula – apalagi kalau wawasan tersebut diperkaya dengan menyerap unsur-unsur terpilih dari tradisi filologi seantero dunia. Penulis mengutip contoh dari penelitiannya sendiri: naskah berisi ceritera Amir Hamzah berbahasa Jawa, ceramah agama Islam berbahasa Osing di Youtube, dan kritik lisan atas pertunjukan wayang.
Sanksi Pidana dalam Teks Naskah Undang-Undang Hukum Laut Mahardhika, Kholifatu Nurlaili; Kramadibrata, Dewaki
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.159

Abstract

This article explains how to apply criminal sanctions in the text of the Undang-Undang Hukum Laut (UUHL). This study aims to explain the form of regulations contained in the UUHL by looking at the criminal sanctions applied. In addition, this research is expected to provide benefits to overcome marine problems faced today. The research was conducted by means of philology. The analysis is carried out with a legal law approach to see the criminal sanctions contained in the UUHL. Based on the analysis that has been done, it can be seen that in the UUHL that the criminal sanctions imposed on people on board vary not only depending on the type of crime, but also on the subject of criminal law. The application of the UUHL law has certain stratifications. For the same crime, criminal offenders of different positions can receive different sentences. This shows that when the UUHL was implemented, there was no principle of equality of rights in effect. === Artikel ini menjelaskan bagaimana penerapan sanksi pidana dalam naskah Undang-Undang Hukum Laut (UUHL). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk peraturan yang terkandung dalam UUHL dengan melihat sanksi pidana yang diterapkan. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk mengatasi masalah kelautan yang dihadapi pada masa kini. Penelitian dilakukan dengan cara kerja filologi. Analisis dilakukan dengan pendekatan hukum untuk melihat sanksi pidana yang terdapat dalam UUHL. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, terlihat bahwa dalam UUHL, sanksi pidana yang dijatuhkan untuk orang-orang di atas kapal berbeda-beda tidak hanya bergantung kepada jenis pidana, tetapi juga kepada subjek hukum pidana. Penerapan hukum UUHL memiliki stratifikasi tertentu. Atas tindak pidana yang sama, pelaku pidana yang berbeda jabatannya dapat menerima hukuman yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat UUHL diterapkan, tidak ada azas kesamaan atas hak yang berlaku.
Keindahan dalam Hikayat Sultan Taburat Hidayah, Adilah Nurul
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.160

Abstract

Hikayat Sultan Taburat written by Muhammad Bakir. It is one of adventure stories which is also included in the type of solace tale. This research used transliteration of Hikayat Sultan Taburat ML 259 version from Rias Anto Suharjo in 2019. It has a dominant aesthetic elements and function in it. Malay aesthetic theory by Bragunsky used to be able to reveal those purpose. The various elements of external aesthetic in Hikayat Sultan Taburat could be identified through the description of the beauty of clothing, the charm of the princess, garden, music, reception, warfare, ship, and the crowds of the country. The function of external aesthetic in Hikayat Sultan Taburat is to entertain the reader. === Hikayat Sultan Taburat merupakan hikayat karangan Muhammad Bakir. Hikayat ini merupakan salah satu cerita petualangan yang juga termasuk dalam jenis cerita pelipur lara. Penelitian ini memakai transliterasi Hikayat Sultan Taburat versi ML 259 oleh Rias Anto Suharjo pada tahun 2019. Hikayat Sultan Taburat memiliki unsur dan fungsi keindahan yang dominan di dalamnya. Teori estetika Melayu oleh Braginsky dipakai untuk dapat mengungkapkan keduanya. Berbagai unsur keindahan dapat ditemukan melalui penggambaran keindahan pakaian, pesona tuan putri, taman, musik, periringan, peperangan, kapal, dan keramaian negeri. Fungsi keindahan dalam Hikayat Sultan Taburat berfungsi sebagai pelipur lara bagi pembacanya.
Paheman Radyapustaka sebagai Skriptorium Alhamami, Ahmad Alfan Rizka
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.161

Abstract

Since its establishment on October 28, 1890, Paheman Radyapustaka has only been known for its function as a museum. The main activity of Paheman Radyapustaka is as a place for writing, copying, and collecting Surakarta manuscripts, so that Paheman Radyapustaka deserves to be called a Scriptorium. This paper aims to reveal the production activities of the Paheman Radyapustaka scriptorium which includes the writers/copyists, the writing results, and the genre. The method in this paper is a method of codicological studies that includes history, writers/copyists, and scriptorium collections. The results of the search through the archives and manuscript colophon of the Paheman Radyapustaka scriptorium were that of the 400 manuscripts in his collection, there were 82 manuscripts written by the Scripts of the Scriptures. The scribes of the Paheman Radyapustaka Scriptorium were Wirapustaka, Sastrasayana, Dayapangreka, Karyarujita and the residents. The genres written by the scribes of the Paheman Radyapustaka scriptorium are macapat and gancaran. === Sejak berdiri pada 28 Oktober 1890, Paheman Radyapustaka hanya dikenal fungsinya sebagai sebuah museum. Aktivitas utama dari Paheman Radyapustaka adalah sebagai tempat penulisan, penyalinan, dan pengoleksian naskah-naskah Surakarta sehingga Paheman Radyapustaka pantas disebut sebagai Skriptorium. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap aktivitas produksi naskah Skriptorium Paheman Radyapustaka yang meliputi para penulis/penyalin, hasil penulisan, dan genrenya. Metode dalam tulisan ini adalah metode kajian kodikologi yang mencakup sejarah, penulis/penyalin, dan koleksi skriptorium. Hasil penelusuran melalui arsip dan kolofon naskah Skriptorium Paheman Radyapustaka adalah dari 400 naskah koleksinya terdapat 82 naskah yang ditulis oleh para juru tulis Skriptorium. Para juru tulis Skriptorium Paheman Radyapustaka adalah Wirapustaka, Sastrasayana, Dayapangreka, Karyarujita dan para warga. Genre yang ditulis oleh para juru tulis Skriptorium Paheman Radyapustaka adalah macapat dan gancaran.
Analisis Nilai Karakter dalam Naskah Wawacan Samun Dewi, Trie Utari; Hidayatullah, Syarif; Puspitasari, Nur Aini
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.162

Abstract

This article discusses the character values contained in the Wawacan Samun (WS). The Wawacan Samun manuscript tells about the journey of the Gnadasari character in trying to be able to meet his brother again, Gandawerdaya. On that journey there were obstacles that he faced. however, he managed to face all these obstacles thanks to the good qualities he had and the kindness of other characters. Therefore, the character and attitude of the characters in the WS text need to be emulated by the wider community. For this reason, the purpose of this study is to reveal the character values ​​contained in the Wawacan Samun manuscript so that it can be used as a guide for life for the nation's future generations. The character values ​​contained in the Wawacan Samun manuscript include 1) Responsible; 2) Trustworthy and Honest; 3) Respect and Courtesy; 4) Compassion, Caring, and Cooperation; 5) Confident, Creative, Hard Work, and Never Give Up; 6) Fairness and Leadership; 7) Kind and Humble; and 8) Tolerant. === Artikel ini mendiskusikan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam naskah Wawacan Samun (WS). Naskah ini menceritakan tentang perjalanan tokoh Gandasari dalam berupaya untuk dapat bertemu dengan kakaknya kembali, Gandawerdaya. Dalam perjalanan tersebut terdapat halang rintangan yang ia hadapi. Akan tetapi, semua rintangan tersebut berhasil ia hadapi berkat sifat baik yang ia miliki serta kebaikan dari tokoh-tokoh lainnya. Oleh karena itu, sifat dan sikap baik yang terdapat pada para tokoh dalam naskah WS perlu untuk diteladani oleh masyarakat luas. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengungkap nilai karakter yang terdapat di dalam naskah WS agar dapat dijadikan pedoman kehidupan bagi generasi penerus bangsa. Nilai karakter yang terdapat dalam naskah Wawacan Samun antara lain adalah 1) Bertanggung Jawab; 2) Amanah dan Jujur; 3) Hormat dan Santun; 4) Kasih Sayang, Peduli, dan Kerjasama; 5) Percaya Diri, Kreatif, Kerja Keras, dan Pantang Menyerah; 6) Adil dan Kepemimpinan; 7) Baik dan Rendah Hati; serta 8) Toleran.
Citra Kepemimpinan Wanita dalam Naskah Hikayat Pandu dan Naskah Dewi Maleka: Kajian Sastra Bandingan Apriyadi, Clara Shinta Anindita
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.163

Abstract

This article explains the image of female leadership in the Hikayat Pandu and Dewi Maleka. The value of leadership or the image of leadership that serves as the basis of classification is Astabrata teaching. The aim of this research is to compare the leadership image of the female leaders from the Hikayat Pandu, the goddess Rara Amis and the female leaders of the Dewi Maleka. The research method used is descriptive analysis method and the theory used is comparative literature theory. This research resulted in a comparison of leadership imagery between female leader figures derived from the Malay version and Javanese version. It can therefore be concluded that there are similarities and differences in the image of female leadership between Dewi Rara Amis and Dewi Maleka. Similarities and differences, namely Dewi Maleka has 8 classifications in astabrata, while Dewi Rara Amis only has five classifications in Astabrata as follows: ambeging surya, ambeging rembulan, ambeging angin, ambeging banyu, and ambeging bumi. === Tulisan ini membahas citra kepemimpinan yang terkandung dalam Hikayat Pandu dan naskah Dewi Maleka. Nilai kepemimpinan atau citra kepemimpinan yang dijadikan landasan sebagai dasar klasifikasi yaitu ajaran astabrata. Tujuan penelitian ini adalah melakukan perbandingan citra kepemimpinan tokoh pemimpin wanita dari naskah Hikayat Pandu yaitu tokoh Dewi Rara Amis dan pemimpin wanita dari naskah Dewi Maleka yaitu tokoh Dewi Maleka. Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif analisis dan teori yang digunakan ialah teori sastra bandingan. Penelitian ini menghasilkan perbandingan citra kepemimpinan antara tokoh pemimpin wanita yang berasal dari naskah versi Melayu dan naskah versi Jawa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan citra kepemimpinan wanita antara Dewi Rara Amis dan Dewi Maleka. Persamaan dan perbedaannya, yaitu Dewi Maleka memiliki delapan klasifikasi dalam astabrata, sedangkan Dewi Rara Amis hanya memiliki lima klasifikasi dalam Astabrata antara lain ambeging surya, ambeging rembulan, ambeging angin, ambeging banyu, dan ambeging bumi.

Page 1 of 1 | Total Record : 6