cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 14 No 1 (2024): Manuskripta" : 5 Documents clear
Naskah Carita Sajarah Désa Bunter: Kajian Filologis, Fungsi dan Nilai Fauzi, Ahmad Rizky; Aditya, Iwang Rusniawan; Erisman, Gunari Putra
Manuskripta Vol 14 No 1 (2024): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i1.12

Abstract

The Carita Sajarah Désa Bunter manuscript is a manuscript in Bunter Village, Sukadana District, Ciamis Regency, West Java Province which was completed in 1960, telling the history of the Bunter Village area since the beginning of the 19th century. This article aims to find out the contents of the manuscript, the function of the manuscript and the values ​​contained therein which can be a guide to life now and in the future. This research uses a qualitative and philological approach. Editing the manuscript is carried out using the standard edition method. The results of the research show that the Carita Sajarah Désa Bunter manuscript is a Latin script with Suwandi spelling/Republican spelling, containing the history of the Bunter area starting from the wilderness and then the arrival of people until it became a village. This manuscript is still functional and is often read at village birthday events. The values ​​contained in it are moral values, leadership values, mutual cooperation, humility, religious values ​​and knowledge based on local wisdom. === Naskah Carita Sajarah Désa Bunter adalah naskah yang berada di Desa Bunter Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat yang selesai ditulis tahun 1960, menceritakan sejarah di wilayah Desa Bunter sejak awal abad ke-19. Naskah ini belum terpublikasi dan terkaji secara mendalam sehingga menarik minat penulis. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui isi naskah, fungsi naskah dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya yang dapat menjadi pedoman hidup di masa sekarang dan masa nanti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode penelitian yang digunakan adalah bersifat filologis. Dalam mengedisi naskah dilakukan dengan menggunakan metode edisi standar. Hasil penelitian menunjukan naskah Carita Sajarah Désa Bunter berupa naskah beraksara latin berejaan Suwandi/ Ejaan Republik, berisi tentang sejarah wilayah Bunter mulai dari hutan belantara lalu berdatangan orang hingga menjadi sebuah desa. Naskah tersebut sampai saat ini masih berfungsi dan sering dibacakan dalam acara ulang tahun desa. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya ialah nilai moral, nilai kepemimpinan, gotong royong, rendah hati, nilai religius hingga pengetahuan berbasis kearifan lokal.
Penanda Waktu Salat Dengan Menabuh Kentongan: Pandangan Keagamaan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Dalam Naskah Ḥukm Al-Nāqūs Abror, Muhamad
Manuskripta Vol 14 No 1 (2024): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i1.13

Abstract

Beating kentongan is a Javanese tradition that has existed for a long time. Functioning as a non-verbal communication tool, one of the kentongan is a time marker, including prayer times. Because it is related to Islamic religious activities, some scholars also study it from the point of view of Islamic law (fiqh). From here, then emerged two different views. Some judge forbidden, some others permissible. Among some existing scholars, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (d. 1926) views haram with a fairly critical analysis. Firmly, this professor at Haramain said that hitting the kentongan as a marker of prayer time was equivalent to publicizing the evil that had become a tradition of the infidels. Apart from that, he emphasized that as far as he has observed, there has not been a single representative cleric who has permitted this practice. Even though it is forbidden, Ahmad Khatib's moderate attitude does not make the perpetrators infidel as some scholars do. This paper will discuss the views of this great teacher of Nusantara scholars from Minangkabau regarding the law of beating kentongan as a marker of prayer time in the perspective of Islamic philology, history, and law originating from the Ḥukm al-Nāqūs manuscript. === Menabuh kentongan merupakan tradisi masyarakat Jawa yang sudah ada sejak lama. Berfungsi sebagai alat komunikasi nonverbal, kentongan salah satunya menjadi penanda waktu, termasuk waktu salat. Karena berkaitan dengan aktivitas keagamaan Islam, sejumlah ulama pun mengkajinya dari sudut pandang hukum Islam (fikih). Dari sini kemudian muncul dua pandangan yang berbeda. Sebagian menghukumi haram, sebagian yang lain boleh. Dari sejumlah ulama yang ada, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1926) memiliki pandangan haram dangan analisa yang cukup kritis. Dengan tegas, guru besar di Haramain ini mengatakan memukul kentongan sebagai penanda waktu salat sama saja mempublikasikan kemungkaran yang sudah menjadi tradisi orang kafir. Selain itu, ia menegaskan sejauh pengamatannya belum ada satu ulama representatif pun yang membolehkan praktik ini. Kendati mengharamkan, sikap moderat Ahmad Khatib membuatnya tidak mengkafirkan pelakunya sebagaimana sebagian dilakukan sebagian ulama. Makalah ini akan membahas pandangan maha guru ulama Nusantara asal Minangkabau ini tentang hukum menabuh kentongan sebagai penanda waktu salat dalam perspektif filologi, sejarah, dan hukum Islam yang bersumber dari naskah Ḥukm al-Nāqūs.
Budaya Gunung dalam Hikayat Wayang Pandu Karya Muhammad Bakir: Telaah Kedudukan Gunung dalam Teks Naratif Windayanto, Riqko Nur Ardi
Manuskripta Vol 14 No 1 (2024): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i1.15

Abstract

This research aims to reveal the mountain culture in the Hikayat Wayang Pandu by Muhammad Bakir by using tandem narratology and cultural geography. Textual and contextual studies are the building methodology. The mountains become the locations for the actors to learn and teach, meditate and express gratitude, and become priests after giving up the kingship. These are caused by the mountains’ positions in the actor’s understanding as a space for the circulation of knowledge, a sacred space, and a space for achieving asceticism. These simultaneously show the opposition and integration between mountains and countries (kingdoms), which place mountains as a location for accumulating capital for power and giving it up. The presence of mountains is parallel to texts from the same tradition and other traditions as well as Java’s environment. The author also presents new mountains as a form of creativity of the 19th century. Thus, mountains are not only natural, but also cultural spaces that have discursive positions as a geographical context for carrying out various cultural activities. === Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan budaya gunung dalam Hikayat Wayang Pandu karya Muhammad Bakir dengan naratologi dan geografi budaya sebagai teori tandem. Kajian tekstual dan kontekstual menjadi bangunan metodologis. Gunung-gunung dalam hikayat ini menjadi lokasi para aktor untuk belajar mengajar, bertapa dan menyampaikan rasa syukur, serta menjadi begawan setelah mengakhiri kekuasaan. Ketiganya merupakan budaya gunung yang direpresentasikan oleh teks karena kedudukan gunung dalam pemahaman aktor merupakan ruang sirkulasi pengetahuan, ruang suci, dan ruang untuk mencapai asketisme. Ketiganya menunjukkan oposisi sekaligus integrasi antara gunung dan negeri (kerajaan), yang menempatkan gunung sebagai lokasi untuk mengakumulasi modal kekuasaan dan mengakhirinya. Kehadiran gunung-gunung dalam hikayat ini paralel dengan teks-teks setradisi dan tradisi lain serta lingkungan Jawa. Pengarang juga menghadirkan gunung-gunung baru sebagai bentuk kreativitas abad ke-19. Dengan demikian, gunung bukan hanya ruang alam, melainkan juga ruang kultural yang memiliki kedudukan diskursif dalam teks sebagai konteks geografis terselenggaranya berbagai aktivitas budaya.
Praktik Kekuasaan antara Inggris dan Aceh dalam Naskah Cerita Asal Sultan Hidayat, Mega Adilla Septiyani; Limbong, Priscila Fitriasih
Manuskripta Vol 14 No 1 (2024): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i1.18

Abstract

The Aceh Sultanate is one of the prosperous kingdoms in Nusantara which was very strategically located. They had many contacts with other nations, including England. This research will use one of the manuscripts, namely Aceh, Cerita Asal Sultan, to find out the power relationship between Aceh and England. The manuscript, coded as ML.221 is one of the manuscripts that collected by National Library of Indonesia. From the description inside the catalog, this manuscript discusses about the relations between the Sultanate of Aceh and the English colonial government. Therefore, this research aims to reveal the power relations between both using a postcolonial approach and Foucault’s power theory. This research utilizes a descriptive qualitative method and philological study approach. The conclusion of this research is the manuscript indicates England’s strong influence over Aceh, emphasizing minor domination rather than repression or violence. === Kesultanan Aceh adalah salah satu kerajaan makmur di Nusantara yang berlokasi sangat strategis. Mereka banyak berhubungan dengan bangsa-bangsa lainnya, termasuk Inggris. Penelitian ini akan menggunakan salah satu naskah klasik, yakni Aceh, Cerita Asal Sultan, untuk mengetahui bagaimana hubungan kekuasaan antara Aceh dengan Inggris. Naskah dengan kode ML. 221 ini merupakan salah satu naskah koleksi Perpustakaan Nasional RI. Dari deskripsi yang terdapat di dalam katalog, naskah ini menceritakan hubungan antara Kesultanan Aceh dan Pemerintah Kolonial Inggris. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana hubungan kekuasaan di antara keduanya pada masa itu dengan menggunakan pendekatan poskolonial dan teori kekuasaan Foucault. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan metode kajian filologi. Hasil penelitian ini adalah naskah tersebut menunjukkan kekuasaan Inggris atas Aceh sangatlah kuat. Inggris menguasai Aceh melalui penguasaan minor, tidak melalui penindasan atau kekerasan.
Karakteristik Naskah Kamus Semantik Bahasa Arab Karya Syekh Abdul Latif Syakur Wahidi, Ridhoul
Manuskripta Vol 14 No 1 (2024): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i1.53

Abstract

This article aims to describe the characteristics of the manuscript of the Arabic Semantic Dictionary by Sheikh Abdul Latif Syakur from the philological and historicity aspects of the author. The important points that will be discussed in this article are aspects of manuscripts and texts, systematics of manuscript preparation, manuscript reference sources, use of Arabic and Malay Arabic script, lexical meaning, use of Arabic grammar and development of meaning. The entire picture can be obtained by using qualitative methods that are library research. The approach used in this article is philological and historical. Aspects of philology as describing manuscripts, translation and criticism of texts. Historical aspect to reveal the author's background which presents the author's intellectual elements. From there you can get a complete picture of the characteristics of an ancient manuscript, namely the Arabic Semantic Dictionary written by Sheikh Abdul Latif Syakur. === Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik naskah Kamus Semantik Bahasa Arab Karya Syekh Abdul Latif Syakur dari aspek filologi dan historisitas pengarangya. Poin-poin penting yang akan dibahas dalam artikel ini adalah aspek naskah dan teks, sistematika penyusunan naskah, intertekstual naskah, penggunaan aksara Arab dan Arab melayu, makna leksikal, penggunaan gramatika Arab dan pengembangan makna. Seluruh gambaran tersebut diperoleh dengan menggunaka metode kualitatif bersifat library research. Pendekatan yang digunakan dalam artikel ini adalah filologi dan linguistik. Aspek filologi untuk mendeskripsikan manuskrip, alih bahasa dan kritik atas teks. Aspek linguistik mengungkap aspek kebahasaan manuskrip ini. Dari sanalah dapat diperoleh gambaran utuh mengenai karakteristik sebuah naskah kuno, yakni naskah Kamus Semantik Bahasa Arab yang ditulis oleh Syekh Abdul Latif Syakur.

Page 1 of 1 | Total Record : 5