cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta" : 9 Documents clear
Studi Naskah Batak: Masalah dan Prosedurnya Monaco, Giuseppina
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.74

Abstract

This paper will provide an overview about the study of the Batak manuscript. The first objective of this paper is to underline the importance of giving new impetus to the study of manuscripts, which is a large part of the culture of the one country. This paper will also provide an overview of the materials and procedures used to make the pustaha, the language used, and the contents of one manuscript that the author has worked on for her MA thesis. The purpose of this paper is also to illustrate the difficulties encountered in attempting to study the Batak script and to propose a description of the specific language used in pustaha, the Poda language. The material in this paper is expected to incite awareness to all of us in keeping the ancient texts in order to preserve their wholeness and authenticity. The texts are indeed the fragile part of one culture. That is why the old texts are very valuable to us: they survived the destruction of time, and now they contain and reflect an ancient culture, which no longer exists, but this ancient culture is tied directly with the ancestors and it is a part of the national cultural heritage. === Makalah ini akan memberikan gambaran tentang studi naskah Batak. Tujuan pertama dari makalah ini adalah menekankan pentingnya memberikan dorongan baru pada studi naskah Batak, yang merupakan satu dari sebagian banyak dari kebudayaan Nusantara ini. Lalu, makalah ini akan memberikan gambaran tentang materi dan prosedur yang digunakan untuk membuat pustaha, tentang bahasa yang digunakan, dan tentang isi dari salah satu naskah yang sudah penulis kerjakan untuk tesis. Selain itu, makalah ini akan juga memberikan gambaran tentang kesulitan yang dihadapi dalam upaya untuk belajar naskah Batak dan mengusulkan deskripsi bahasa khusus yang digunakan dalam pustaha, yaitu bahasa Poda. Materi dalam makalah ini hendaknya menumbuhkan kesadaran kepada kita semua untuk menjaga naskah-naskah kuno agar tetap terjaga keutuhan dan keasliannya. Naskah-naskah memang hal yang rapuh. Itulah sebabnya naskah-naskah yang tua sangat berharga bagi kita: mereka selamat dari kerusakan waktu,dan sekarang mereka mengandung dan mencermikan sebuah budaya yang kuno, yang memang tidak ada lagi.
Indeksasi Digital Aksara Sunda Kuno: Studi Kasus pada Naskah Koleksi Skriptorium Kabuyutan Ciburuy Garut Sopian, Rahmat; Pradana, Aditya; Ruhimat, Mamat
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.75

Abstract

The research of script on manuscripts (Sundanese manuscript) has long been done. One reason is because in philological work, the step of script description used for the study object is a mandatory. In almost every philological research, the section of script comparison used in the manuscript (which is used as the study object) with similar script that have been studied previously, must be found. The activity results in the revelation of the script uniqueness exists in the researched manuscript. Although these studies have contributed considerably to ease the reading of Sundanese script in other Old Sundanese manuscripts, there has not been much information on the causes of variations in Old Sundanese script. One cause is the disorganized data (the data is separated). In this paper, we will describe an application that we designed to do the indexing of Old Sundanese script. In this first stage, we use data from Old Sundanese manuscripts from Kabuyutan Ciburuy Garut. It is expected that the good and accessible digital indexation of the Old Sundanese script could be the first step to uncover the mystery of the variations of the characters in Old Sundanese manuscripts. === Penelitian aksara pada naskah (naskah Sunda) sudah sejak lama dilakukan. Hal ini dikarenakan dalam langkah kerja filologi pendeskripsian aksara yang digunakan pada objek kajian merupakan sebuah keharusan. Hampir di setiap penelitian filologi pasti ditemukan subbab perbandingan aksara yang digunakan pada naskah (yang menjadi objek kajian) dengan aksara sejenis yang telah diteliti sebelumnya. Hasil dari kegiatan tersebut di antaranya terungkap hal-hal yang unik yang berkaitan dengan aksara yang hanya terdapat naskah tersebut. Meskipun Penelitian-penelitian tersebut telah banyak menyumbang dalam mempermudah pembacaan aksara Sunda Kuno pada naskah-naskah lainnya, namun masih belum banyak memberi keterangan terhadap penyebab terjadinya variasi pada aksara Sunda Kuno. Hal tersebut dikarenakan data tersebut masih belum diorganisir dengan baik (masih terpisah-pisah). Dalam makalah ini kami paparkan sebuah aplikasi yang kami rancang dapat melakukan indeksasi aksara Sunda Kuno. Pada tahap pertama ini kami menggunakan data dari naskah-naskah Sunda Kuno dari Kabuyutan Ciburuy Garut. Diharapkan setelah adanya indeksasi digital aksara Sunda Kuno yang baik dan mudah diakses, dapat menjadi langkah awal untuk mengungkap misteri dari variasi-variasi aksara yang ada pada naskah-naskah Sunda Kuno.
Hukum dalam Naskah Sunda Kuna Sanghyang Siksa Kandang Karesian Nurwansah, Ilham
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.76

Abstract

Sanghyang Siksa Kandang Karesian is the oldest Sundanese manuscript which recorded its year of writing around 1440 Saka (1518 AD). Therefore, the manuscript was estimated to be written in the reign of Sri Baduga Maharaja, the ruler of Pakuan Pajajaran (1482-1521 AD). The manuscript contains the overview of general moral guidelines for community in that era, including a variety of knowledge one should master as tool in daily practical life. The rules contained in Sanghyang Siksa Kandang Karesian consist of three main section, which are 1) the opening which explains ten rules (dasa kreta and dasa prebakti), 2) the attitude of hulun (karma ing hulun) toward the king in the country, 3) the complement of deeds (pangimbuh ing twah). So, this article aims to describe the outline of the rules contained in Sanghyang Siksa Kandang Karesian manuscript. === Sanghyang Siksa Kandang Karesian adalah naskah Sunda kuna tertua yang mencantumkan tahun penulisannya yaitu 1440 Saka (1518 Masehi), sehingga naskah ini diperkirakan ditulis dalam masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja penguasa Pakuan Pajajaran (1482-1521 M). Isinya memberikan gambaran tentang pedoman moral umum untuk kehidupan bermasyarakat pada masa itu, termasuk berbagai ilmu yang harus dikuasai sebagai bekal kehidupan praktis sehari-hari. Penuturannya berpijak pada kehidupan di dunia dalam negara. Aturan yang terdapat dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian teridiri atas tiga bagian utama, yaitu 1) pembuka yang menjelaskan sepuluh aturan (dasa kreta dan dasa prebakti), 2) perilaku hulun (karma ning hulun) terhadap raja di dalam negara, 3) pelengkap perbuatan (pangimbuh ning twah). Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan garis besar hukum-hukum yang terdapat naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian.
Naskah Ulu MNB 07.55: Wacana dan Praktik Sosial Begadisan pada Kelompok Etnik Serawai di Bengkulu Sarwono, Sarwit
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.77

Abstract

This research aims to disscuss about Ulu MNB 07.55 manuscript related to social practice of begadisan in Serawai ethnic group of Bengkulu. The research based on text as discourse, that is knowledge about social practices, of how things are or must be done, together with specific evaluations and legitimations of, and purposes for, these practices. Based on codex data, known that MNB 07.55 manuscript derived from Serawai ethnic group of Bengkulu, written approximately in the mid-twentieth century. At that time (even until today), the social practice of begadisan still carried out intensively by the ethnic. Furthermore, this manuscript containts a dialogue between unmarriage bachelors and girls. In this connection, the writing of this manuscript is not intended as a record of events begadisan objectively, but is intended as the construction of knowledge about the practice of begadisan that it contains a certain value and legitimacy of identity and social functions of the author of the text. In the context of writing, the manuscript can be seen as a re-contextualization begadisan practice. === Penelitian ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang Ulu MNB 07.55 yang berkaitan dengan paktik-praktik sosial begadisan di Serawak, salah satu etnis Bengkulu. riset ini berdasarkan diskursus teks naskah tersebut yang memuat pengetahuan tentang hal itu, bagaimana sesuatu yang harus diselesaikan beserta evaluasi yang spesifik, legitimasi, dan tujuan ritual tersebut dilakukan. Berdasarkan naskah tersebut, diketahui bahwa MNB 07.55 berasal dari etnis Serawai, Bengkulu, ditulis kira-kira pertengahan abad ke-20. pada masa itu sampai hari ini, praktik-praktik sosial begadisan tetap dilestarikan dengan baik oleh etnis tersebut. Lebih lanjut, naskah ini memuat dialog antara lelaki perjaka dengan gadis yang hendak disuntingnya. Dalam relasinya, penulisan manuskrip ini tidak hanya merekam aktivitas begadisan semata, melainkan juga membangun pemahaman tentang nilai-nilai legitimasi identitas dan fungsi sosial yang terdapat pada ritual begadisan yang terdapat pada teks naskah ini. Dalam konteks penulisan, naskah ini juga dapat ditinjau sebagai pengembalian konteks ritual begadisan.
Replika Naskah Nusantara sebagai Pengembangan Seni, Budaya, dan Sastra Putra, Dwi Mahendra
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.78

Abstract

The reconstruction of the manuscript in the form of a replica is a process of copying the manuscript to the exact extent possible in its original form, in terms of size, distance margin, distance of script, initial and final script, lontar size and typology script. The replica of the manuscript is made to preserve the manuscript which is a relic of the past with infinite value content. Through manuscripts, people can know how art, literature, and culture of the past. Writing system script using syllabic system writing system as the Nusantara script in general. Reconstruction of the Nusantara manuscripts, especially manuscripts made from lontar done with the aim to restore the tradition that has been lost to the community. Nusantara writing tradition is a process of appreciation of the arts in terms of writing skills, literature, and most important is the practice, and preservation of cultural values ​​of the past is very valuable. In addition to materials, techniques, and stationery became a decisive factor in trace the art, literature, and culture of the past. Stationery in every tradition needs to be reconstructed, to be developed in their own traditions. === Rekonstruksi naskah berupa replika merupakan suatu proses penyalinan naskah sedapat mungkin persis dengan bentuk aslinya, baik dari segi ukuran, jarak margin, jarak aksara, aksara awal dan akhir, ukuran lontar maupun tipologi aksara. Replika naskah dibuat guna melestarikan naskah yang merupakan peninggalan masa lampau dengan kandungan nilai tak terhingga. Melalui naskah, masyarakat dapat mengetahui bagaimana seni, sastra, dan budaya masa lampau. Sistem penulisan aksara menggunakan sistem penulisan yang bersifat silabik sistem sebagaimana layaknya aksara nusantara pada umumnya. Rekonstruksi naskah nusantara khususnya naskah-naskah yang berbahan lontar dilakukan dengan tujuan mengembalikan tradisi yang telah hilang kepada masyarakatnya. Tradisi tulis Nusantara merupakan suatu proses penghayatan terhadap seni dalam artian keterampilan menulis, olah sastra, dan yang terpenting adalah pengamalan, serta pelestarian nilai-nilai budaya masa lampau yang sangat bernilai. Selain bahan, teknik, dan alat tulis pun menjadi faktor penentu dalam menelusuri jejak seni, sastra, dan budaya masa lampau. Alat tulis dalam setiap tradisi perlu direkonstruksi kembali, untuk dapat dikembangkan dalam tradisi masing-masing.
Kontribusi Naskah Sasak bagi Pembentukan Karakter Bangsa Jamaluddin, Jamaluddin
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.79

Abstract

Lombok is one of areas of rich old manuscripts. The content includes various important information in various fields, such as literature, religion, history, law, politics, customs and character values. The manuscripts do not only use local languages but also use various languages, such as Sasak, Malay, Sanskrit, Javanese, Arabic, Balinese and Bugis. These manuscripts are portraits of Sasak civilization that are rich in intellectual treasures. Some of the Sasak manuscripts contain important character values to build the nation’s civilization. Some examples are Dajal, Babad Selaparang, Kotaragama, and Dewi Rengganis manuscripts. The Babad Selaparang contains the character value of hard-working, passionate, sincere, and tawakal. Moreover, in the Dajal manuscript it is stated that the society will prosper if the people have religious value in which people do not envy with each other, must be noble, while the leader himself should be fair and affectionate to his people. === Lombok merupakan salah satu daerah yang kaya dengan naskah-naskah kuno. Naskah-naskah tersebut di dalamnya mencakup berbagai informasi penting, dan bermacam bidang kehidupan, seperti sastra, agama, sejarah, hukum, politik, adat-istiadat, nilai-nilai karakter. naskah-naskahnya bukan hanya menggunakan bahasa lokal, melainkan menggunakan berbagai macam bahasa, seperti bahasa Sasak, bahasa Melayu, Sansekerta, Bahasa Jawa Madya, bahasa Arab, bahasa Bali, dan sedikit menggunakan bahasa Bugis. Naskah-naskah tersebut menjadi potret dari peradaban masyarakat Sasak yang kaya akan khazanah intelelektual. Beberapa naskah Sasak mengandung nilai karakter yang penting untuk membangun peradaban bangsa. Naskah-naskah tersebut seperti Naskah Dajal, Naskah Babad Selaparang, Naskah Kotaragama, dan Naskah Dewi Rengganis. Misalnya dalam Babad Selaparang, mengandung nilai karakter bekerja keras, semangat, ikhlas, dan tawakal; dalam Naskah Dajal disbeutkan bahwa masyarakat akan sejahtera apabila rakyat mimiliki nilai religius, di dalamnya orang-orang tidak berhati dengki, harus berhati mulia. Sementara pemimpin sendiri harus bersifat adil dan kasih sayang kepada rakyatnya.
Pola Perjalanan Spiritual dalam Karya Sastra Jawa Abad XVIII melalui Naskah Jaka Slewah Rahayu, Wiwien Widyawati
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.80

Abstract

Modern Javanese literature has taken a great deal of influence from colonial literature, and one genre that was widely written is journey tale. This genre was popularly written as novels. While the genre might seem new, journey tales exist in Classic Javanese literature. However, there are slight differences between journey tales of Modern Javanese literature and that of the Classics. This paper discusses the patterns of journey tales in Classic and Modern Javanese literature. The subject of this paper is the Jaka Slewah Corpus. By studying the corpus, it can be assumed that the patterns of Classic Javanese journey tales will be discovered. The paper will implement philology and translation theories in the early stages of the research due to the Jaka Slewah corpus’s nature as a manuscript, which calls for philological study before further actions. After the text have been transliterated and translated, it is then studied using semiotics to discover the patterns within. === Salah satu genre cerita dalam kesustraan Jawa Modern, yang benyak mendapat pengaruh dari bangsa kolonial, yang banyak ditulis adalah kisah perjalanan. Genre ini cukup populer ditulis dalam bentuk novel. Namun sebenarnya, dalam sastra Jawa Klasik, juga sudah terdapat genre kisah perjalanan. Akan tetapi terdapat perbedaan antara kisah perjalanan dalam sastra Jawa Klasik dengan sastra Jawa Modern. Penelitian ini akan menguraikan pola perjalanan yang terdapat dalam karya sastra Jawa Klasik. Adapun yang menjadi obyek penelitian adalah Korpus Jaka Slewah. Melalui penelitian terhadap korpus Jaka Slewah diasumsikan akan diketahui pola perjalanan yang ada di dalam sastra Jawa Klasik. Untuk membedahnya akan digunakan teori filologi dan teori terjemahan pada tahap awal, hal ini disebabkan korpus Jaka Slewah yang menjadi obyek penelitian merupakan manuskrip sehingga memerlukan tindakan filologis sebelum dikaji lebih lanjut. Setelah teks ditransliterasi dan diterjemahkan, kemudian teks dikaji dengan menggunakan teori semiotik untuk mengetahui bentuk atau pola kisah perjalanan yang ada di dalamnya.
Hikayat Purasara: Komunikasi Visual Ilustrasi Wayang pada Naskah Sastra Betawi Abad ke-19 Raden, Agung Zainal Muttakin; Andrijanto, Mohamad Sjafei
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.81

Abstract

This paper discusses about one of collection National Library of Republic Indonesia, Hikayat Purasara. Its a part of Betawi literature in the end 19th century which contains wayang story in prose form and this manuscript is codex unicus. It has a code with number ML178 in a microfilm roll 660.04. The illustration is very unique because it aims to construct an communication with the plot. In another side, this manuscript indicates culture combinations which bind up in one opus. It uses Jawi script with narrative form and Malay language. But also found Javanese-Sundanese languages with Malay-Betawi dialect. Wayang illustrations in this manuscript is an communication concept which describes social and moral messages. Further more, it has to get more attention like make comics, animations, or films which makes it more attractive and compatible with young generation. It aims to make the opus understood easily and learned the contents by today and future generations. === Penelitian ini membahas salah satu naskah koleksi Perpustakaan Nasional, yaitu Hikayat Purasara. Naskah ini termasuk dalam sastra Betawi akhir abad 19. Naskah ini memuat kisah wayang yang berbentuk prosa, dan merupakan naskah tunggal. Kode naskah adalah ML178 dan dialihmediakan dalam bentuk mikrofilm dengan nomor rol 660.04. Penyajian ilustrasi wayang yang terdapat dalam naskah ini memiliki keunikan tersendiri, yakni sebuah bentuk komunikasi yang dibangun untuk memperkuat isi cerita. Selain itu, naskah ini menunjukkan adanya akulturasi kebudayaan yang terjalin sehingga menghasilkan sebuah karya yang harmonis. Aksara yang digunakan adalah aksara Jawi dengan penyampaian cerita bersifat naratif menggunakan bahasa Melayu namun ada pula bahasa Jawa-Sunda yang menggunakan dialek Melayu Betawi. Ilustrasi wayang yang terdapat dalam naskah ini merupakan sebuah bentuk konsep komunikasi yang dituangkan melalui gambar yang mengandung pesan sosial. Karya sastra ini perlu mendapat perhatianantara lain mengubahnya ke dalam bentuk media lain seperti komik atau film animasi, yang menarik bagi generasi muda dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Hal ini perlu dilakukan agar karya tersebut lebih mudah dipahami dan dipelajari isi dan pesannya oleh generasi saat ini maupun yang akan datang.
Menziarahi Masa Lalu untuk Masa Kini melalui Naskah Pakualaman II Christomy, Tommy
Manuskripta Vol 7 No 1 (2017): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v7i1.82

Abstract

Naskah-Naskah Skriptorium Pakualaman Periode Paku Alam II (1830—1858)

Page 1 of 1 | Total Record : 9