MANUSKRIPTA
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta"
:
9 Documents
clear
Piwulang Estri sebagai Bentuk Reportase tentang Wanita Jawa
Wulandari, Arsanti
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v6i2.65
A reportage is an act of reporting. A reportage can be based either on investigation or a written source. The old document in the form of a manuscript can be regarded either as a work or as a document, which repporting an evidence in the past. This circumstance can be said to the manuscript containing Piwulang Estri. Written in 1856 CE, during the time when Javanese woman, as reflected in the text, getting a high position in the mind of author. Women are depicted in symbolic ways in three texts in Piwulang Estri, i.e. Batik Suluk, Suluk Tenun, and Suluk Tanen. Tanen is derivatife form from the word tani, here the author made allusion of preparing 'land'. Women interpreted as a ‘land’, means to prepare the next generation. Weaving symbolise the process of educating the next generation, and batik as the process of “coloring” or giving form the next generation. The concepts or philosophy regarding a women from the psychology point of view are depicted in three Suluk texts in the Piwulang Estri. === Sebuah reportase adalah sebuah pelaporan. Adanya reportase bermakna adanya informasi yang disampaikan dari satu pihak ke pihak lain. Sebuah reportase dapat didasarkan pada sebuah pengamatan ataupun sumber tertulis. Naskah dapat dikatakan sebagai sebuah karya yang dapat dimaknai juga sebagai sebuah dokumen, yang merekam kejadian pada masa lampau. Demikan pula naskah dengan judul Piwulang Estri. Naskah ini adalah naskah yang ditulis tahun 1856. Pada masa itu tampaknya wanita mendapatkan posisi yang bukan sembarangan. Wanita digambarkan dalam berbagai simbol yang termuat dalam tiga teks suluk di dalamnya, yaitu Suluk Batik, Suluk Tenun, dan Suluk Tanen. Tanen dari kata tani yang menggambarkan proses menyiapkan lahan. Wanita dimaknai sebagai lahan untuk menyiapkan generasi penerus, tenun untuk proses mendidik generasi penerus, dan batik sebagai proses mewarnai atau membentuk generasi penerus. Konsep-konsep ataupun filosofi dalam memandang wanita dari sisi psikologi banyak digambarkan dalam ketiga teks suluk yang terbungkus dalam teks Piwulang Estri ini.
Profil Kepemimpinan Raja-Raja Wajo (Sulawesi Selatan) dalam Lontaraq Akkarungeng Ri Wajo
Dafirah, Dafirah
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v6i2.66
Several types of manuscripts found in the Bugis community, one of which is the script that talks about the government and leader (king). That manuscripts is written using script Bugis called lontaraq. The lontaraq itself can be interpreted as a script belonging to the Bugis community and can also be interpreted as a text that uses script lontaraq. Lontaraq Akkarungeng is lontaraq containing about kings and their territory and engaged leadership concept. While Lontaraq Akkarungeng ri Wajo is lontaraq about the kings who once led in Wajo. Lontaraq Akkarungeng Wajo is not just discussing about the name of the king who had led in Wajo, but also accompanied by a note about concept of leadership conducted at that time. Therefore, it becomes important to uncover and interpret the concept of leadership in the past, especially that sourced from manuscripts to be used as comparison or reference in the present. === Berbagai macam jenis naskah kuno yang terdapat dalam masyarakat suku Bugis, salah satunya adalah naskah yang membahas tentang kerajaan dan pemimpin (rajanya). Naskah kuno tersebut ditulis dengan menggunakan aksara Bugis yang disebut denganlontaraq. Kata lontaraq itu sendiri dapat dimaknai sebagai aksara milik masyarakat suku Bugis dan dapat juga dimaknai sebagai teks yang menggunakan aksara Lontaraq. Lontaraq Akkarungeng adalah lontaraq yang berisi tentang raja dan wilayah yang dipimpinnya serta konsep kepemimpinan yang dijalankannya. Sementara Lontaraq Akkarungeng ri Wajo adalah lontaraq yang membahas tentang raja-raja yang pernah memimpin di Wajo pada masa lalu. Lontaraq Akkarungeng Wajo tersebut bukan hanya membahas nama raja yang pernah memimpin di Wajo, akan tetapi juga disertai dengan catatan tentang konsep kepemimpinan yang dijalankan pada masa tersebut. Oleh karena itu, menjadi hal yang penting untuk mengungkap dan menginterpretasi konsep kepemimpinan masa lalu, terutama yang bersumber dari manuskrip untuk dijadikan bahan bandingan ataupun rujukan pada masa sekarang.
Penafsiran Tanda-tanda Laut melalui Pemaknaan Hari dalam Naskah Melayu-Aceh Koleksi Teuku Nurdin Aceh Utara
Fakhriati, Fakhriati
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v6i2.67
Maritime Culture becomes an integral part of the culture of the people of Aceh, especially those who living at the coastal areas. The concern of the Acehese for their marine environment is also found in the Acehnese manuscript. One of the source that reflecting this maritime culture for the Acehnese people can be found in the Teuku Nurdin collection. The manuscript containing the sea signs and their interpretation, for the people who want to sail and earn a living by observing the good or bad days indicated in the text. The author makes an analysis with reference to the events experienced by some prophets in the past, such as the prophet Jonah and Moses. This paper attempts to describe the contents of manuscripts that provide an information about the good days in their relation to sea signs that should be observed more carefully by sailors and fishermen. The analysis will also describe the associated coastal cultural history that has developed in Acehnese society. Therefore, the philology-related approach to the study of textual texts and history became an important task to be done in this study. The author expected to reveal the meanings and functions of ocean signs, from the different points of view. === Budaya Bahari menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Aceh, khususnya yang hidup di pesisir. Perhatian masyarakat terhadap lingkungan mereka yang diwarnai dengan laut juga ditemukan dalam naskah Aceh. Salah satu bentuk kepedulian masyarakat Aceh yang ditemukan dalam naskah Aceh koleksi Teuku Nurdin adalah menafsirkan tanda-tanda laut yang diperkenankan untuk berlayar dan mencari nafkah di laut dengan menelaah hari-hari yang dianggap baik dan tidak baik. Penulis naskah membuat analisis dengan mengacu kepada kejadian-kejadian yang dialami oleh beberapa Nabi pada masa lampau, seperti Nabi Yunus dan Nabi Musa. Tulisan ini mencoba memaparkan isi naskah yang memberi informasi terkait hari-hari baik dan hubungannya dengan tanda-tanda laut yang patut dicermati lebih hati-hati oleh pelaut dan nelayan. Analisa juga akan menguraikan terkait sejarah budaya pesisir yang berkembang pada masyarakat Aceh. Karena itu, pendekatan Filologi terkait kajian teks naskah dan Sejarah untuk memahami sejarah budaya setempat menjadi hal yang penting dilakukan dalam studi ini. Studi ini diharapkan dapat mengungkap kebermanfaatan tanda-tanda di laut sebagai sumber daya dari berbagai sudut pandang.
Praktik Etnomedisin dalam Manuskrip Obat-Obatan Tradisional Melayu
Junaidi, Junaidi
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v6i2.68
The practice of ethnomedicine is one of Malay cultural heritage which is very valuable and need to be studied. Various herbs that come from the nature and environment are used in the practice of traditional medicine. One of way to know more about ethnomedicine practice is by studying the manuscript containing the traditional medicine. The practice of ethnomedicine in Malay community had been documented in the form of manuscripts by Raja Haji Ahmad ibni Raja Haji Hasan (Raja Haji Ahmad Physician) on the Bintan island. This study aims to describe herbs, remedies and belief in ethnomedicine practices in the manuscript. This study uses a qualitative method and textual criticism approach. The study found that a variety of herbs that comes from the element of animals and plants are used to cure certain diseases. Various techniques of ethnomedicine are also created in the treatment process. This study concludes that a variety of herbs combining with belief is deemed to have the power to cure any diseases. === Praktik etnomedisin merupakan warisan budaya tradisional Melayu yang sangat berharga dan perlu dipelajari. Berbagai ramuan yang berasal dari alam sekitar digunakan dalam praktek pengobatan tradisional. Salah satu cara untuk mengetahui praktik etno-medisin adalah melalui pengkajian manuskrip tentang obat-obatan tradisional Melayu. Berbagai praktik etnomedisin dalam masyarakat Melayu telah dituliskan oleh Raja Haji Ahmad ibni Raja Haji Hasan (Raja Haji Ahmad Tabib) di Pulau Penyengat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ramuan, cara pengobatan, dan kepercayaan dalam praktik etnomedisin yang terkandung dalam manuskrip tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kritik teks. Hasil penelitian menemukan berbagai ramuan yang berasal dari unsur flora dan fauna digunakan untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Berbagai teknik pengobatan juga diciptakan dalam proses pengobatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa berbagai ramuan yang dipadukan dengan kepercayaan dipandang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit.
Melacak Jaringan Raja-Raja Di Pulau Borneo, Sulawesi dan Sumatera (Studi Naskah Silsilah Raja-raja Mempawah)
Jabbar, Luqman Abdul
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v6i2.69
Generally, this article explains about; fistly, manuscript Silsilah Raja-raja Mempawah or called SRM is the only manuscript who explains about name of Kings Mempawah with their titles and families. Secondly, it explains about manuscript condition that is good, the text can be red well although several letters are damaged by physical destructions such as eaten by termites or ripped off. In another side, the pages of this manuscript is intact. Thirdly, text editing of this manuscript aims to correct words or letters that does not fit the context of sentences. Fourthly, this manuscript is a ancient manuscript not only caused by its age, but also this manuscript is codex unicus that describe genealogy of kings and history of Mempawah figures. === Secara umum artikel ini memuat tentang; pertama, naskah “Silsilah Raja-raja Mempawah” yang selanjutnya disebut SRM ini merupakan satu-satunya naskah yang memaparkan tentang nama beserta gelar leluhur dan turunan serta kerabat besar raja-raja Mempawah. Kedua, memaparkan kondisi naskah SRM yang relatif masih dalam keadaan baik, tulisannya masih dapat dibaca meski terdapat beberapa huruf yang mengalami kerusakan karena kerusakan fisik naskah yang diakibatkan termakan rayap atau robek ringan, sementara jumlah halaman pada naskah masih terlihat utuh. Ketiga, memaparkan bahwa suntingan teks dilakukan dengan mengadakan pembetulan pada kata atau huruf yang tidak sesuai dengan konteks kalimat. Keempat, memaparkan bahwa naskah ini adalah naskah yang luar biasa langka, tidak hanya dikarenakan usianya yang relatif telah sangat lama, namun adalah juga dikarenakan ia merupakan naskah tunggal serta yang terpenting lagi adalah ia mengandung paparan silsilah raja-raja, sejarah figur Mempawah di masa lalu.
Gambaran Umum Naskah Koleksi Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur - Kuningan
Damiasih, R. Emmy Ratna Gumilang;
Indrawardana, R. Dewi Kanti Setianingsih Ira;
Kurniasih, Euis
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v6i2.70
Karuhun Urang indigenous people community (AKUR) has a manuscript which is kept in National Culture Building, Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur-Kunigan. This article aims to describe the general description about how the manuscript is got and utilized, the problems in maintaining the manuscript and the identification of manuscript. Paseban Tri Panca Tunggal manuscript collection is a handwriting of Prince Madrais which contains a set of life guidance especially for the members of Karuhun Urang indigenous people community. The number of manuscript is estimated for more than 30.000 pages. It is written in Sundanese with cacarakan characters with some unique varitaion made by the writer. For the time being, the manuscript is the fragile condition. Therefore, it needs cooperation with the manuscript expert to save the manuscript. === Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) memiliki warisan naskah yang tersimpan di Cagar Budaya Nasional Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur-Kuningan. Makalah ini bertujuan untuk mendeksripsikan gambaran umum tentang naskah koleksi Paseban Tri Panca Tunggal yang meliputi cara pemerolehan, pemanfaatan, permasalahan yang dihadapi dalam perawatan naskah, dan identifikasi koleksi naskah. Naskah koleksi Paseban Tri Panca Tunggal merupakan tulisan tangan Pangeran Madrais yang mengandung ajaran tuntunan kehidupan yang menjadi pedoman hidup bagi masyarakat Adat Karuhun Urang pada khususnya. Jumlah naskah yang tersimpan diperkirakan lebih dari 30.000 halaman. Naskah tersebut berbahasa Sunda dan aksara yang digunakan adalah aksara cacarakan dengan beberapa variasi khas penulis. Kondisi koleksi naskah saat ini dalam keadaan rapuh, sehingga diperlukan kerjasama dengan ahli pernaskahan sehingga naskah tersebut dapat terselamatkan.
Proses Membatik dalam Naskah Bab Sinjang
Nugraha, Muhammad Rendrawan Setiya
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v6i2.71
Manuscript Bab Sinjang kept in National Indonesia Library and registered with number KBG 555 in Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara volume 4. This manuscript has been researched with descriptive and qualitative approach. Manuscripts gaves a lot of informations about knowledge with local wisdom and morality values, no exception like Bab Sinjang. Bab Sinjang describes processes about Batik production like choosing cloth called with ‘mori’, making patterns, producting Batik or called with nyanting, immersingcloths, mbironi, second coloring, and babaran process to produces best Batik quality, and this manuscript explains about coloring Batik. In the backside of this manuscript there are informations about patterns and colors of Batik, that is Batik Sekar Mas which amounts to 38 kinds of it and 9 kinds of pattern that called with Jarit Cindhe pattern. === Naskah Bab Sinjang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4 dengan nomor katalog KBG 555. Pada naskah Bab Sinjang telah dilakukan penelitian filologis dengan deskripsif kualitatif. Khazanah kearifan lokal dalam suatu naskah yang memberikan informasi yang beraneka ragam dalam dunia pengetahuan, tak terkecuali dalam naskah Bab Sinjang. Naskah Bab Sinjang mengungkapkan proses-proses dalam membatik seperti pemilihan kain (mori), membuat pola pada kain, membatik atau nyanting, proses medel atau pencelupan kain, mbironi, pewarnaan kedua, serta proses babaran untuk menghasilkan kain batik yang berkualitas baik serta informasi mengenai pewarnaan batik. Bagian belakang naskah Bab Sinjang terdapat informasi tentang motif serta warna yakni batik Sekar Mas yang berjumlah 38 macam serta 9 macam motif Jarit Cindhe.
Identifikasi Tiga Naskah Wasiat Madrais S. Allibasa Koleksi Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan
Permadi, Tedi
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33656/manuskripta.v6i2.72
Carakan is one kind of traditional Indonesian script. In the past, carakan used for various purposes in the archipelago written tradition, both for practical everyday purposes and meeting the needs of the administration of the local government; including testamentary with regard to the utilization of a wealth of indigenous peoples. Their testament manuscript text written using characters carakan, especially with the peculiarities in the form of letters generated by a playwright (idiograph), required a special technique to recognize the characters shape. The technique used is the technique of trace (tracing) directly above character by character so we get the script transliteration guidelines which refer directly to the text of the manuscript. Results from this study is (1) guide transliteration of three testamentary of Madrais S. Allibasa Manuscript; (2) certainty of the same authors on three testamentary manuscripts, namely Madrais S Allibasa, although there are only two manuscript text which states the name Madrais and an existing script text signature; and (3) certainty contents of a will stating that the lands of indigenous peoples should not be shared inheritance and sold, can only be used for the common. === Carakan adalah salah satu jenis aksara tradisional Indonesia yang digunakan untuk berbagai keperluan dalam tradisi tulis Nusantara, baik untuk keperluan praktis sehari-hari maupun pemenuhan kebutuhan administrasi di pemerintahan lokal; termasuk menuliskan surat wasiat yang berkenaan dengan pemanfaatan harta kekayaan suatu masyarakat adat. Adanya teks naskah surat wasiat yang ditulis dengan menggunakan aksara carakan, terlebih dengan adanya kekhasan dalam bentuk aksara yang dihasilkan oleh seorang penulis naskah (idiograph), diperlukan satu teknik khusus untuk mengenali bentuk aksaranya. Teknik yang digunakan adalah teknik jiplak (tracing) langsung atas karakter demi karakter aksara sehingga didapatkan panduan alih aksara yang mengacu secara langsung pada teks naskah yang dibaca. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat adanya (1) panduan alih aksara atas tiga surat wasiat Madrais S. Allibasa; (2) kepastian penulis yang sama atas tiga naskah surat wasiat, yaitu Madrais S Allibasa, walaupun hanya terdapat dua teks naskah yang menyatakan nama Madrais dan satu teks naskah yang ada tanda tangannya; dan (3) kepastian isi surat wasiat yang menyatakan bahwa tanah masyarakat adat tidak boleh dibagi waris dan diperjualbelikan, hanya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.