cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jks@unsyiah.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala
ISSN : 14421026     EISSN : 25500112     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
HUBUNGAN PEMBERIAN SUSU SAPI DENGAN KEJADIAN MENGI PADA ANAK DI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) ISLAM TERPADU AL-AZHAR Mulya Safri; Kulsum Kulsum; Sulaiman Yusuf; Novita Andayani; Jufitriany Ismy; Mala Hayati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v18i1.11211

Abstract

Abstrak: Mengi adalah gejala asma yang paling umum pada anak.Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya mengi adalah pemberian susu sapi pada anak.Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian susu sapi dengan kejadian mengi pada anak di PAUD Islam Terpadu AL-AZHAR. Jenis studi ini adalah analitik observasional dengan desain cross-sectional. Responden studi ini adalah 60 orang tua dari anak dengan rentang usia 6 bulan – 5 tahun. Hasil studi didapatkan dengan menggunakan kuisioner yang telah valid dan reliabel yaitu kuisioner ISAAC dan kuisioner pemberian susu sapi. Hasil analisis data dengan menggunakan uji Chi Square didapatkan p value 0,045 (α0,05) sehingga terdapat adanya hubungan pemberian susu sapi dengan kejadian mengi pada anak. Kesimpulan dari studi ini adalah anak yang diberi susu sapi dapat meningkatkan risiko mengi dibandingkan anak yang tidak diberi susu sapi.Kata kunci: susu sapi, mengi, anak 6 bulan-5 tahun.Abstract:Wheezingis the main symptom of asthma in children. One of the factors predisposing this symptom is cow's milk consumption.The objective of this study is to identify the association between cow's milk consumption and wheezing incidence in children at PAUD Islam Terpadu AL-AZHAR.This is an analytic observational study with cross-sectional design. The sample of this study include 60 parents of children aged from 6 months to 5 years old. The result is obtained using valid and reliable questionnaires, ISAAC and cow's milk consumption questionnaire. Analyzed using Chi Square test, the result revealed p value of 0.045 (α0,05), indicating an association between cow's milk consumption and wheezing incidence in children. The conclusion of this study is that children consuming cow's milk have higher risk for experiencing wheezing.Keywords: cow's milk, wheezing, 6-month to 5-year-old children
ASPEK ETIOLOGI DAN KLINIS PADA URTIKARIA DAN ANGIOEDEMA Fitria Fitria
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Urtikaria adalah penyakit kulit yang ditandai dengan rasa gatal disertai eritema dan edema pada dermis superfisial. Lesi urtika cepat timbul dan hilang perlahan dalam 1-24 jam. Angioedema merupakan urtikaria yang terjadi  pada dermis bagian bawah atau subkutis, ditandai dengan rasa nyeri, sering mengenai wajah dan membran mukosa, serta lesi hilang perlahan dalam 72 jam. Banyak faktor penyebab dan variasi gejala klinis pada urtikaria dan angioedema sehingga untuk memudahkannya dibuat klasifikasi berdasarkan aspek etiologi dan klinisnya. Klasifikasi ini juga sangat bermanfaat dalam penatalaksanaan urtikaria dan angioedema. Abstract. Urticaria is a skin disease which characterized by a wheal-and-flare reaction in the superficial dermis that is tipically pruritic. The lesions of urticaria arise suddenly and slowly disappear within 1-24 hours. Angioedema is urticaria that occurs in the deep dermis or subcutaneous tissue, commonly affects on the face and mucous membranes, may be painful, and the lesions gradually disappeared within 72 hours. Classification based on etiology and clinical aspects of urticaria and angioedema are made to facilitate the management of this diseases.
Interventional management for chronic pain Dessy R Em.ril
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract.  Chronic  pain is  a common clinical  condition affecting the quality of life  of the population.  This article aims  to review the interventional   options for chronic  pain based on literature researches.   Multiple searches   using Medline   were carried  out  and additional   searches  were  made using   reference lists  of published papers and book chapters.   The article discussed  procedures ranging from selective nerve root or zygapophyseal   (facet)  joint   block   with   local   anaesthetics     to   irreversible   neurodestruction   with radiofrequency energy or neurolytic   agents and  epidural   injection.   Other techniques   include  intraspinal delivery  of  analgesics.   ·  There  is  evidence  that   these  interventional    procedures    are  valuable    both                                           diagnostically   and therapeutically.   (JKS 2009; 3:139-144)Key words: spinal pain, neurophathicpain, intervention Abstrak.    Nyeri   kronik  adalah  kondisi    yang  sering  dijumpai     ciao   mempengaruhi  kualitas    hidup penderitanya.   Artikel  ini bertujuan untuk rnembahas  secara  umum tentang penatalaksanaan intervensi yang bersifat  minimal invasive   pada  nyeri  kronik  berdasarkan review  terhadap  berbagai   literature.   Dalam makalah ini didiskusikan  tentang berbagai prosedur mulai dari prosedur dasar hingga yang lanjut. Sebagian penelitian membuktikan bahwa tindakan intervensi pada  nyeri kronik memberikan manfaat baik secara terapetik maupun diagnostic.   (JKS 2009; 3: 139-144) Kata kunci: nyerispinal, nyeri neuropatik, tindakan intervensi
GAMBARAN PENGGUNAAN LENSA KONTAK (SOFT LENS) PADA MAHASISWA UNIVERSITAS SYIAH KUALA DITINJAU DARI JENIS LENSA, POLA PEMAKAIAN, JANGKA WAKTU DAN IRITASI YANG DITIMBULKAN Ratna Idayati; Firdalena Mutia
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Lensa kontak merupakan alat bantu penglihatan agar kita dapat melihat tanpa menggunakan kacamata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan lensa kontak pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala ditinjau dari jenis lensa, pola pemakaian, waktu dan iritasi yang ditimbulkan. Sebuah studi deskriptif cross sectional telah dilakukan terhadap mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Sebanyak 193 mahasiswa yang menggunakan lensa kontak telah diwawancara dan mengisi kuisioner. Mahasiswa Unsyiah paling banyak menggunakan lensa jenis soft lens (99,48%) dengan pola pemakaian harian (97,93%). Jangka waktu pemakaian terbesar pada kategori 1-6 bulan (53,4%) dengan lama waktu telah menggunakan lensa kontak terbanyak yaitu 6 bulan-1 tahun. Penggunaan cairan tetes mata lebih dari 1 x perhari. Kebersihan responden dalam menggunakan lensa kontak cukup bersih (49,74%). Kejadian mata merah pada responden akibat penggunaan lensa kontak mencapai 65%  dan lama keluhan akan hilang kurang dari 1 hari (63,73%). Kejadian mata merah yang disertai adanya keluhan mata lain sekitar 57% dan 83,42% responden yang mengalami iritasi mata tidak pernah berkonsultasi ke dokter. (JKS 2016; 3: 129- 134) Kata kunci : lensa kontak, iritasi, lensa kontak lunak, pola pemakaian harian Abstract. The aim of this study was to know the use of the contact lenses by students in Syiah Kuala University based on lense types, the pattern of use, time and the irritation resulted. A cross sectional study was carried out among students in Syiah Kuala University, banda Aceh. The number of students participated was 193 which had been interviewed using questioner. The lense type used most frequently was soft lense (99,48%) and used daily (97,93%).  The duration of contact lense use 1-6 month (53,4%) dan most student had used the lense from 6 month to 1 years. The frequency of application ear drop solution was more than once in the dy. the hygiene of using can be categorized in to sufficient (49,74%). The incident of red eye caused by the use of contact lense was about 65% and the effect would disappear in less than 1 day (63,73%). The irritation experienced with other unpleasant effects was 57% and 83,42% respondents never consulted with health professionals. The utilization of contact lenses by students was classified as sufficients. Hopefully, this study could inform the use of contact lenses so that the use could be damage to eyes would not happen. (JKS 2016; 3: 129- 134) Keywords: contact lens, irritation, soft contact lens, disposable cantact lens
Pengaruh gaya belajar, lama waktu belajar, dan mitra belajar terhadap nilai ujian utama mata kuliah ilmu kesehatan anak pada program studi S1 pendidikan dokter fakultas kedokteran Universitas Airlangga Candra Dwantara Ramadhan; Maftuchah Rochmanti; Nancy Margarita Rehatta
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v19i3.12504

Abstract

Abstrak. Pediatri adalah spesialisasi ilmu kedokteran yang berkaitan dengan bayi dan anak-anak. Ada beberapa materi yang perlu dipelajari termasuk 14 bab di mana ada total 48 topik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya belajar, lama waktu belajar, dan mitra belajar terhadap nilai ujian utama Ilmu Kesehatan Anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan cross-sectional. Menganalisis pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat dengan menggunakan kuesioner. Sebagian besar gaya belajar mahasiswa semester 7 yang mengikuti ujian utama Ilmu Kesehatan Anak adalah gaya Visual (62,4%), Auditori dan Kinestetik memiliki persentase yang sama (18,8%). Mayoritas mahasiswa belajar lebih dari 2 jam (68%) sisanya kurang dari 2 jam (32%). Mayoritas mahasiswa belajar mandiri (58,4%) sisanya belajar dengan tutor teman sebaya (41,6%). Tidak ada pengaruh yang signifikan antara gaya belajar dan nilai ujian utama Ilmu Kesehatan Anak. Tetapi, ada pengaruh antara lama waktu belajar (p=0,033) dan mitra belajar (p=0,003) terhadap nilai ujian utama Ilmu Kesehatan Anak. Tidak ada pengaruh antara gaya belajar dan nilai ujian Ilmu Kesehatan Anak. Terdapat pengaruh antara lama waktu belajar, mitra belajar, terhadap nilai ujian Ilmu Kesehatan Anak. Kata kunci: gaya belajar, lama waktu belajar, mitra belajar. Abstract. Pediatrics is a medical science specialization related to babies and children. There are some material that needs to be studied including 14 chapters in which there are a total of 48 topics. This study aims to determine the influence of learning styles, length of study time, and learning partners on result of the main pediatric exam. The method used in this study is a cross-sectional approach. Analyzing the influence of independent variables with dependent variables using a questionnaire. Most of 7th semester student who attend the pediatric main exam in 2017 learning styles is visual (62,4%), Auditory and Kinesthetic have the same percentage (18,8%). Most of students study more than 2 hours (68%) the rest are below 2 hours (32%). Most of students study by themselves (58,4%) the rest are study with their friend as a tutor (41,6%). There are no correlation between learning style and the result of pediatric main exam. But there are a correlation between length study time (p=0,033) and learning partners (p=0,003) towards the result of pediatric main exam. There are no correlation between learning style and the result of pediatric main exam. But there are a correlation between length study time and learning partners towards the result of pediatric main exam. Keywords: learning styles, length of study time, learning partners.
UJI SITOTOKSIK METFORMIN HIDROKLORIDA TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA T47D irma yanti rangkuti
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v19i3.10568

Abstract

Abstrak. Latar Belakang. Kanker payudara merupakan penyakit berlebihnya pertumbuhan atau tidak terkendalinya perkembangan sel kanker payudara. Kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan kelainan genetik berupa mutasi DNA yang menyebakan hilangnya kontrol pertumbuhan. Gangguan genetik ini menyebabkan terganggunya siklus sel dan apoptosis. Metformin merupakan suatu antihiperglikemik yang digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penurunan risiko kanker terjadi pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang menggunakan metformin. Uji sitotoksik untuk agen anti kanker merupakan uji skrining awal untuk menilai potensi efek anti kanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek sitotoksik metformin hidroklorida terhadap pertumbuhan sel kanker payudara T47D. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental uji invitro terhadap sel kanker payudara T47D yang dipaparkan metformin HCl konsentrasi 5000; 2500; 1250; 312.5 dan 156,25 μM selama 24 jam. Sebagai pembanding digunakan paclitaxel konsentrasi 1000; 500; 250; 31,25 dan 15,625 nM. Uji sitotoksik menggunakan metode MTT untuk menentukan IC50.Data dianalaisis menggunakan analisa probit. Hasil : IC50  metformin HCl adalah 13457.3 ± 1096,5 μM. IC50 paclitaxel adalah 1577.2 ± 115.3 nM. Efek anti kanker metformin lebih kecil dibanding paclitaxel. Kata Kunci: Metformin HCl, T47D, uji sitotoksik, IC50 Abstract. Breast cancer is a disease in which there is excessive growth or uncontrolled development of breast tissue cells. Cancer is a disease caused by genetic disorders caused by DNA mutations that cause loss of growth control. This genetic disorder affects the cell cycle and cell apoptosis and causes the formation of cancer. Metformin is an antihyperglycemic in type 2 diabetes mellitus patient. The decrease in cancer risk occured in patients with type 2 diabetes mellitus who used metformin. Cytotoxic test for agent anti cancer  is screening test to investigate the potency cancer effect of substance. The goal of this study was determining the cytotoxic effect of metformin hydrochloride to T47D breast cancer cell. The method : This sudy was experimental study, invitro test to T47D breast cancer cell using metformin HCl 5000; 2500; 1250; 312.5; and 156.25 μM for 24 hours. Paclitaxel used as postiive control with concentration were 1000; 500; 250; 31,25 and 15,625 nM. Cytotoxic test using MTT method to determine IC50. Data were analyzed using probit analysis using SPSS 22 version. The result of cytotoxic test showed that IC50 metformin HCl was 13457.3 ± 1096,5 μM. While IC50 paclitaxel as control was 1577.2 ± 115.3 nM. The effect of cancer metformin HCl was lower than paclitaxel. Keywords: Metformin HCl, T47D, cytotoxic test, IC50
Gejala Klinis dan Diagnosis Dermatitis Atopik Sitti Hajar
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.   Dermatitis   Atopik   adalah   kelainan   kulit  kronis   intlamasi.    Seperti   penyakit   alergi   lain,   prevalensi dermatitis   atopik  tampaknya   meningkat.   Pada   anak-anak,   prevalensi   dermatitis   atopik  telah  meningkat  dari  3  -4% pada  tahun  1960 untuk  l 0-15%  di tahun  1980-an.   Na mun  tidak  seperti  ban yak penyakit  lainnya,   Dermatitis atopik  tidak  memiliki   lesi   kulit  primer  atau  tes  pathognomenic.    Oleh  karena  itu,  Diagnosis    dermatitis   atopik ditegakkan   berdasarkan   gejala  fisik.   Gejala/kriteria   mayor  termasuk  pruritis,  morfologi   khas  dan  distribusi  lesi. Distribusi   lesi  bervariasi  sesuai  usia.  Pada  bayi,  permukaan   wajah  dan  ekstensor   lengan  dan  kaki  yang  paling sering   terkena.   Dermatitis   atopik   pada  infandapat   menghilang   secara   spontan   atau  berlanjut   ke  tahap  masa kanak-kanak,  yang  ditandai  dengan  papula,gatal,  xerosis,   dan  likenifikasi.  Pada  anak  yang  lebih  tua dan orang dewasa,  dermatitis   berkuama   dan likenifikasi   pada  permukaan   tleksor  leher,  kaki,  dan  badan  bagian  atas.  Lebih dari  85%  dari  dermatitis   atopik  timbul  pada  lima  tahun  pertama   kehidupan,  jarang   terjadi   setelah  45  tahun. (JKS  2007;3:  175-180) Kata   kunci:  dermatitis   atopik.  kriteria  mayor,  kriteria  minor,  SCORAD Abstract.  Atopic  dermatitis  is a chronic  inflammatory   skin disorder.   Like  other  allergic  diseases,   the prevalence of atopic  dermatitis   appears  to be rising.   In children,  the prevalence   of Atopic  dermatitis   has increased  from 3 -4%  in the  1960's   to  10-15%  in the  1980's.   But  unlike  many  other  diseases,   Atopic  dermatitis   has  no primary skin  lesions  or pathognomenic   test. Therefore,   the diagnosis   of a topic  dermatitis   has  to be made  by constellation of physical  findings.   The  major  features  include  pruritis,  typical  morphology   and distribution   of the lesions.  The skin  distribution    varies   with  age.   In infancy,   the  face  and  extensor   surfaces   of  the  arms  and  legs  are  most commonly   affected.  Infantile  Atopic  dermatitis  may resolve   spontaneously   or continue  into the childhood  phase, which  is  characterized   by pruritic  papules,  xerosis,  and  lichenification.   In the older  child  and adults,  a scaly and lichenified   dermatitis   on the flexor  surfaces  of the extremities,   neck,  and  upper  trunk  is observed.   Over  85% of Atopic   dermatitis    presents    during   the   first   five  years   of   life,   and   rarely   occurs   after   45   years   of  age. (JKS  2007;3:  175-180) Keywords:  A topic  dermatitis.  major features,  minor features,  SCORAD
HUBUNGAN KELUARGA PASIEN TERHADAP KEKAMBUHAN SKIZOFRENIA DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD) RUMAH SAKIT JIWA ACEH Yudi Pratama; Syahrial Syahrial; saifuddin ishak
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang paling banyak terjadi. Kekambuhan pasien skizofrenia masih tinggi dan memerlukan biaya tinggi, yang ditanggung oleh keluarga dan pemerintah. Seharusnya pasien skizofrenia yang sudah sembuh tidak mengalami kekambuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluarga terhadap kekambuhan pasien skizofrenia di BLUD RSJ Aceh yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2012 sampai Maret 2013. Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain potong lintang. Data kuesioner yang diperoleh dari 40 responden dianalisis secara deskriptif, kemudian untuk mencari hubungan tiap variabel terhadap kekambuhan pasien skizofrenia akan dilakukan analisa dengan uji Chi-Square. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan keluarga (p=0,011), dukungan keluarga (p=0,000), kepatuhan pasien minum obat (p=0,000) dan aktivitas keagamaan pasien (p=0,022), dengan kekambuhan pasien skizofrenia.Abstract. Schizophrenia is a most common mental disorder. The possibility of relapse cases are still high with expensive cost on management, which is borne by the family and government. Ideally, schizophrenia patients who had recovered should not suffer a relapse. This study aimed to determine the factors associated with the families from a relapse schizophrenia patients in Aceh Local Mental Hospital conducted from June 2012 to March 2013. This research is an analytical study with cross-sectional approach. Questionnaire data obtained from 40 respondents were analyzed descriptively, and the relationship of each variable will be analyzed by Chi-Square test. The results indicated that there was a significant assossiation between knowledge of patient’s families (p = 0.011), patient’s family support (p = 0.000), medication compliance (p = 0.000) and religious activities of the patients (p = 0.022) with schizophrenia relapse cases.
Community Acquired Pneumonia pada Usia Lanjut Mulyadi Mulyadi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Pada kelompok usia lanjut Community Acquired Pneumonia merupakan salah satu infeksi yang rcntan terjadi  pada saluran nafas bawah, hal ini dikaitkan dengan mekanisme pertahanan tubuh diantaranya gangguan mukosilier,   gangguan  reflek,     gangguan  sistim    irnunologi,     gangguan  neurologi   dan  gangguan  sistim kardiopulmoner. Manifestasi Pneumonia pada usia lanjut  tidak khas,  dan sering disertai  dengan perubahan status mental. Pada umumnya etiologi komuniti  Peneumonia pada usia  lanjut  disebabkan oleh Streptococcus pneumonia, serta H.  Influenza. Selain  penanganan supportif, pemberian antibiotika diberikan secara empirik dengan mcmpertimbangkan usia, ko-morbid, severity. Pemberian antibiotika dilakukan  dengan memperhatikan peta kuman setempat dan pola sensitivity setempat serta  antibiotika  yang peka terhadap Pneumokokkus dan H Influenza. (JKS2010;2:87-92)Kata kund  :  pneumonia komuniti, usia lanjut.Abstract.  Community Acquired Pneumonia in elderly is one of the most vulnerable infections occurred in lower respiratory tract, it  is associated with defense mechanisms including mucosilier  disorders, impaired reflexes, impaired immunological system, neurological disorders and   cardiopulmonary system disorders. Pneumonia manifestations in the elderly are atypical, and often accompanied by the changes of mental status.  The etiology of community pneumonia in  the elderly majority caused by Streptococcus pneumoniae, and H.  Influenza. Administration of antibiotics are given empirically  by considering age, co-morbid, and severity. The provision of antibiotics is done by considering the local  germs maps and local sensitivity pattern and also  antibiotics which are sensitive to Pneumococcus and H. Influenza. (JKS 2010,·2:87-92)Keywords: Community acquired pneumonia, erderly.
AKTIVITAS OTONOM Imai Indra
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Sistem saraf motorik terbagi atas sistem otonom dan somatik. Sistem saraf otonom (SSO) sesuai dengan namanya bersifat otonom (independen) dimana aktifitas tidak dibawah kontrol kesadaran secara langsung. Aktifasi SSO secara prinsip terjadi di pusat di hypothalamus, batang otak dan spinalis. Impuls akan diteruskan melalui sistem simpatis dan parasimpatis. Sistem saraf simpatis dan parasimpatis biasanya bekerja secara antagonis. Pemahaman tentang tentang anatomi dan fisiologi dari SSO sangat berguna untuk memperkirakan efek farmakologi obat yang bekerja pada sistem saraf otonom tersebut. Dengan menggunakan obat-obat yang mirip atau menghambat kerja transmitter kimia, kita dapat memilih dan mempengaruhi fungsi otonom. Abstract. Motor nervous system is divided into somatic and autonomic systems. The autonomic nervous system (SSO) as the name suggests is autonomous (independent) in which the activity is not under direct conscious control. Activation of SSO is prisnsip teijadi in the center in the hypothalamus, brain stem and spinal cord. Impulse will be transmitted through the sympathetic and parasympathetic systems. Sympathetic and parasympathetic nervous systems typically work antagonists. An understanding of the anatomy and physiology of the SSO is very useful for estimating the effect of pharmacological drugs acting on the autonomic nervous system. By using drugs that are similar or inhibit the work of the chemical transmitter, we can select and affect autonomic function.

Filter by Year

2005 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 1: April 2023 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22 Nomor 1 Maret 2022 JKS Edisi Khusus Oktober 2022 Vol 21, No 3 (2021): Volume 21 Nomor 3 Desember 2021 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21 Nomor 2 Agustus 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21 Nomor 1 April 2021 Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20 Nomor 2 Agustus 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020 Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19 Nomor 2 Agustus 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19 Nomor 1 April 2019 Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18 Nomor 2 Agustus 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018 Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017 Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016 Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015 Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014 Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013 Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012 Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011 Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010 Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009 Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008 Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007 Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006 Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006 Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005 More Issue