cover
Contact Name
Irawan Wibisono
Contact Email
irawan.wibisono@uwhs.ac.id
Phone
+62895395190079
Journal Mail Official
jurnal.jipmk@uwhs.ac.id
Editorial Address
UNIVERSITAS WIDYA HUSADA SEMARANG Jln Subali Raya No 12, Kraprak, Semarang Barat Telepon (024) 7612988, Fax (024) 7612944 Email : jurnal.jipmk@uwhs.ac.id
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan
ISSN : 26568640     EISSN : 26847272     DOI : https://doi.org/10.33660/jipmk.v6i2
Core Subject : Health,
merupakan wadah atau sarana yang menerbitkan tulisan ilmiah hasil-hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang ilmu dan teknologi kesehatan yang belum pernah diterbitkan atau sedang dalam proses penerbitan di jurnal-jurnal ilmiah lain. Redaksi berhak merubah tulisan tanpa mengubah maksud atau subtansi dari naskah yang dikirimkan. Naskah yang belum layak diterbitkan dalam JIPMK (Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan) Universitas Widya Husada Semarang, tidak dikembalikan kepada pengirimnya, kecuali atas permintaan penulis yang bersangkutan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2019)" : 6 Documents clear
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN LANSIA MENURUNKAN HIPERTENSI Dwi Retnaningsih
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v1i2.14

Abstract

Abstrak Pada saat ini ada pergeseran penyebab terjadinya kematian, yaitu yang sebelumnya penyakit menular berubah menjadi penyakit yang tidak menular. Penyakit Hipertensi adalah penyakit, gangguan pada pembuluh darah, sehingga mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan seluruh tubuh. Risiko penyakit darah tinggi meningkat antara lain karena faktor usia, keturunan, kebiasaan merokok, konsumsi garam berlebih, kolesterol, stres dan berat badan berlebih atau obesitas. Suatu praktik memijat titik-titik tertentu pada tangan dan kaki atau disebut dengan pijat reflesi,  bermanfaat mengurangi rasa sakit pada tubuh, dapat meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan rasa nyaman dan mengurangi stres. Tujuan pengabdian masyarakat adalah untuk meningkatkan dan memberdayakan lansia dalam melakukan terapi pijat refleksi kaki untuk menurunkan hipertensi dan meningkatkan keharmonisan lansia. Metode ceramah tentang konsep hipertensi. Melakukan pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan pijat refleksi. Menggunakan metode demonstrasi praktik pijat refleksi. Metode berikutnya dengan cara memberdayakan lansia untuk melakukan pijat refleksi. Melakukan  observasi pelaksanaan kegiatan pijat refleksi, dan evaluasi pengukuran tekanan darah. Peserta antusis mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Hasil pengabdian: lansia antusias mengikuti kegiatan dan dapat mengikuti kegiatan mulai dari awal sampai selesai. Lansia mampu mengikuti pelatihan pijat refleksi dengan mempraktikan ke sesama lansia. Terjalin hubungan harmonis anatara lansia. Sebagian besar peserta adalah lansia dengan hipertensi berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 32 orang (86.5%), berusia 56-65 tahun yaitu sebanyak 32 orang (86.5%) dan sebagian besar peserta riwayat pekerjaannya adalah tidak bekerja atau pengangguran sebesar 19 (51.4%). Kesimpulan: kegiatan pengabdian berjalan dengan lancar dan terjalin keharmonisan antar lansia. Gambaran tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan pijat kaki, rata-rata tekanan darah sistolik sebelum adalah 145.41 mg/dl dan rata-rata sesudah dilakukan pijat kaki adalah 134.32 mg/dl. Hasil tekanan darah diastolik sebelum dilakukan pijat refleksi rata-rata 91.22 mg/dl dan setelah dilakukan pijat kaki adalah 82.70mg/dl. Kata Kunci: Lanjut usia, Hipertensi, Therapy Pijat Kaki Abstrack At this time there was a shift in the cause of death that previously transmitted diseases turn into non-communicable diseases. Hypertension was a disease, a disruption in blood vessels, so that the supply of oxygen and nutrients carried by the blood was blocked to the tissues throughout the body. The risk of high blood pressure increases partly because of age, heredity, smoking habits, excessive salt consumption, cholesterol, stress and excess weight or obesity. A practice of massaging certain points on the hands and feet or called reflexion massage, was useful to reduce pain in the body, can increase endurance, increase comfort and reduce stress. The aim of community service was to increase and empower the elderly in performing reflexology foot massage therapy to reduce hypertension and improve the harmony of the elderly. The lecture method about the concept of hypertension. Measuring blood pressure before and after a reflexology massage. Using the demonstration method of reflexology practice. The next method was by empowering the elderly to do reflexology. Observing the implementation of reflexology, and evaluating blood pressure measurements. Antusis participants follow the activities from beginning to finish. Results of dedication: elderly people were enthusiastic about participating in activities and can participate in activities starting from the beginning to the end. The elderly are able to attend reflexology training by practicing to fellow seniors. A harmonious relationship exists between the elderly. Most of the participants were elderly with hypertension of female sex as many as 32 people (86.5%), aged 56-65 years as many as 32 people (86.5%) and the majority of work history participants were unemployed or unemployed by 19 (51.4%). Conclusion: service activities run smoothly and harmony exists among the elderly. The description of blood pressure before and after foot massage, the average systolic blood pressure before was 145.41 mg / dl and the average after foot massage was 134.32 mg / dl. The results of diastolic blood pressure before reflexology were on average 91.22 mg / dl and after foot massage was 82.70mg / dl. Keywords: Elderly, Hypertension, Foot Massage Therapy
PKM SOSIALISASI DAN SIMULASI BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) BAGI FUNGSIONARIS WARGA RW VII PERUMAHAN GRAHA MANDIRI RESIDEN KELURAHAN PATEMON KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG Arifianto Arifianto; Dwi Nur Aini; Menik Kustriyani
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v1i2.13

Abstract

Abstrak Keterlambatan penanganan kegawat daruratan dapat menyebabkan kecacatan dan kematian pada korban. Kurangnya pengetahuan pada warga RW VII Perumahan Graha Mandiri Residen Patemon, diketahui dari membawa korban yang tidak sadarkan diri ke rumah sakit, setelah diperiksa oleh dokter dan dinyatakan korban sudah meninggal. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dengan meberikan sosialisasi dan simulasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada masyarakat. Kegiatan dilaksanakan dalam dua kali pertemuan yaitu pertemuan pertama dengan memberikan penyuluhan BHD, dan pertemuan kedua dengan memberikan simulasi/pelatihan penanganan kegawat daruratan dengan melakukan BHD.Hasil dari kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan respon yang sangat positif pada peserta, sehingga peserta dapat melakukan simulasi menolong korban yang mengalami kegawat daruratan dengan tepat dan benar. Kata Kunci: Sosialisasi, Simulasi, Bantuan Hidup Dasar Abstract Delay in handling emergency emergencies can cause disability and death for the victim. Lack of knowledge in residents of RW VII Residential Patemon Graha Mandiri Resident, known from bringing victims who were unconscious to the hospital, after being examined by a doctor and declared the victim had died. The purpose of community service activities is to increase community knowledge and skills by giving outreach and simulation of Basic Life Support (BLS) to the community. The activity was carried out in two meetings, namely the first meeting by providing BLS counseling, and the second meeting by providing a simulation / training on emergency management by conducting BLS. The results of the community service activities showed that there was an increase in knowledge, skills and responses that were very positive for the participants, so that participants could carry out simulations to help victims who experienced emergency emergencies correctly and correctly Keywords: Socialization, Simulation, Basic Life Support
PKM PENDAMPINGAN POSYANDU LANSIA DI RW I KELURAHAN TAMBAKHARJO KECAMATAN SEMARANG BARAT KOTA SEMARANG oktaviani cahyaningsih; Indah Sulistyowati; Novita Alfiani
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v1i2.15

Abstract

 Abstak Pertambahan usia dan peningkatan prevalensi penyakit tidak menular, merupakan faktor utama penyebab penurunan fungsi kognitif yang kelak akan meningkatkan penyakit pada kelompok Lansia. Berbagai upaya kesehatan yang komprehensif harus dilaksanakan  yang  tujuan untuk menurunkan angka kesakitan pada lansia. Di wilayah Kelurahan Tambakharjo Wilayah Kerja Puskesmas Lebdosari terutama diwilayah RW I terdapat berbagai penyakit yang rata-rata diderita oleh para lansia seperti Jantung, Hipertensi, Diabetes Militus, Stroke bahkan ada beberapa diantaranya meninggal mendadak tanpa mengetahui penyakit yang ternyata sudah diderita. Maka perlu dilakukan deteksi dini untuk menyiapkan para lansia terhadap keluhan atau penyakit yang sudah mulai muncul maupun yang belum muncul melalui kegiatan yang bisa dilakukan dan dilaksanakan secara mandiri dimasyarakat melalui kegiatan posyandu lansia.Upaya pembentukan posyandu lansia yaitu terdiri dari pelaksana kegiatan dan pengelola Posyandu. Dalam  merealisasikan pembentukan posyandu lansia diperlukan langka-langkah  yaitu : Ceramah yang terkait dengan konsep dan teori posyandu lansia, Praktek yang terkait dengan peningkatan ketrampilan  kader, Vidio dan Foto untuk menggambarkan kadaan  kesehatan kesehatan lansia, Role Play yaitu latihan bergantian diantara peserta pelatihan, Studi Kasus dan diskusi yang terkait kesehatan lansia, evaluasi untuk memahami pemahaman peserta pelatihan mengenai materi pelatihan, serta Pendampingan pelaksanaan posyandu  lansia.Terbentuknya  kader kesehatan dari masing-masing RT di RW I yang ditunjuk oleh masyarakat dimana kader yang sudah dibentuk akan dapat mengaktifkan kegiatan lansia, terutama dalam melakukan deteksi dini status kesehatan lansia. Terbentuknya kader posyandu lansia dan meningkatnya ketrampilan kader dalam melakukan deteksi kesehatan pada lansia. Harapannya setelah terbentuknya kader posyandu lansia terjadi peningkatan keperdulian dan partipasi dari para masyarakat lansia setiap bulannya pada saat penyelenggaraan kegiatan posyandu lansia. Kata Kunci : Kader, Lansia, Posyandu Lansia Abstract          Age and increase in the prevalence of non-communicable diseases, are the main factors causing a decrease in cognitive function which will increase the disease in the elderly group. Various comprehensive health efforts must be carried out with the aim of reducing morbidity in the elderly. In the Tambakharjo sub-district, the Lebdosari Community Health Center, especially in the RW I area, has a variety of diseases that are mostly suffered by the elderly, such as heart disease, hypertension, diabetes mellitus, stroke, and even some of them died suddenly without knowing the disease that was already suffered. So early detection to prepare the elderly for complaints or diseases that have started to emerge or those that have not yet emerged through activities that can be carried out and carried out independently in the community through the activities of the elderly posyandu.         Efforts to establish an elderly Posyandu, which consists of implementing activities and managers of Posyandu. In realizing the formation of the elderly posyandu required rare steps, namely: Lectures related to the concepts and theories of the elderly posyandu, practices related to improving cadre skills, video and photos to describe the health condition of elderly health, Role Play is alternating training among trainees, Case Studies and discussions related to elderly health, evaluations to understand trainees, understanding of the training material, as well as the assistance of the implementation of the elderly posyandu.         The formation of health cadres from each RT in RW I appointed by the community where cadres that have been formed will be able to activate the activities of the elderly, especially in conducting early detection of the health status of the elderly. The formation of elderly posyandu cadres and the increased cadre skills in conducting health detection in the elderly. It is hoped that after the formation of the elderly Posyandu cadres there will be an increase in the care and participation of the elderly community each month during the holding of the elderly Posyandu activities. Keywords: Cadre, Elderly, Elderly Posyandu
PELATIHAN DETEKSI DINI KELAINAN TUMBUH KEMBANG ANAK BAGI GURU TK DAN KB ISLAM HIDAYATUL MUBTADI-IEN DI KECAMATAN SEMARANG BARAT Masfufatun Jamil; Cempaka Kumala Sari
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v1i2.10

Abstract

     Kelurahan Tambak Harjo kecamatan Semarang Barat ditemukan keluarga yang mempunyai bayi dan balita cukup banyak dengan tingkat pendidikan orang tua yang masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat melaui data di TK dan KB Islam Hidayatul Mubtadi-Ien terdapat sekitar 72 balita. Keadaan di atas disertai juga dengan keadaan sosial ekonomi keluarga yang masih kurang, sehingga akses untuk mendapatkan layanan pemeriksaan tumbuh kembang anak masih kurang.DDST adalah salah satu metode skrining terhadap kelainan penyimpangan atau gangguan perkembangan anak. Alat ini perlu disosialisasikan agar pemanfaatannya oleh masyarakat umum yang langsung berhubungan secara dekat dengan anak bisa lebih baik kususnya Guru TK dan KB yang hampir setiap hari berinteraksi. Untuk pemantauan tumbuh bias dilaksanakan pengukuran tinggi badan , berat  badan, lingkar lengan. Sehingga pemantauan tumbuh kembang anak dapat dilaksanakan secara optimal dan diharapkan dapat menunjang keberhasilan masa depan anak dan kebahagiaan keluarga. Setelah dilaksanakan Pengabdian Masyarakat, guru mendapatkan ilmu dan dapat mengaplikasikan cara deteksi dini tumbuh kembang atau pemantauan tumbuh kembang balita pada murid atau anak didiknya Kata Kunci : Deteksi Dini Kelainan, Tumbuh Kembang.
PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU LANSIA DALAM UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN GIZI PADA LANSIA DI RW 09 KELURAHAN GONDORIYO Chusnul Zulaika; Dewi Sari Rochmayani; Hargianti Dini Iswandari
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v1i2.11

Abstract

Lansia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu : aspek biologis, aspek ekonomi dan aspek sosial.Upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan gizi pada lansia diantaranya dengan meningkatkan pengetahuan lansia itu sendiri tentang pentingnya asupan gizi yang cukup, melakukan periksa pada lansia, segera memeriksakan diri jika ada keluhan. Namun, pada kenyataannya masih banyak lansia yang tidak dapat melakukan hal tersebut karena berbagai keterbatasan, sehingga dibutuhkan pendampingan oleh petugas kesehatan. Di samping itu terbatasnya jumlah petugas kesehatan juga menjadi masalah yang tidak pernah teratasi, sehingga peran serta masyarakat dalam hal ini kader kesehatan sebagai kepanjangan tangan dari petugas kesehatan sangat dibutuhkan.Solusi dalam upaya pencegahan gangguan gizi pada lansia antara lain dengan melatih kader tentang gizi lansia, mendampingi kader dalam kegiatan posyandu lansia,membantu mendeteksi adanya masalah gizi lansia. Hasil kegiatan akan dipublikasikan pada jurnal nasional ber ISSN Kata Kunci : Pemberdayaan, Kader, Posyandu Lansia
PKM PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA DALAM GAWAT DARURAT PADA ORANG AWAM Dwi Nur Aini
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v1i2.12

Abstract

Bantuan hidup dasar merupakan kombinasi berbagai manuver dan ketrampilan dengan atau tanpa peralatan tertentu untuk membantu mengenali orang yang mengalami henti napas dan jantung serta menggunakan waktu yang ada sampai pasien mendapatkan tatalaksana lebih lanjut. Tatalaksana harus dilakukan secara berkesinambungan meliputi RJP dan aktivasi sistem EMS terutama jika ada lebih dari 1 penolong di tempat kejadian Bantuan hidup dasar pada anak atau sering disebut Pediatric Basic Life Support (BLS) merupakan hal yang penting untuk kelangsungan dan kualitas hidup anak. Tujuan dari kegiatan PKM ini Meningkatan pengetahuan guru dan siswa dalam pentingnya pertolongan pertama dalam gawat darurat khususnya bagi orang awam.  Melakukan demostrasi tentang pertolongan pertama dalam gawat darurat. Bekerja sama dengan petugas kesehatan demostrasi pertolongan pertama dalam gawat darurat. Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ini adalah Sebelumnya pelaksanaan berkoordinasi dengan mitra untuk bentuk pengabdian yang dilakukan. Setelah disepakati bahwa bentuk pengabdian dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan dan demonstrasi tentang pentingnya pertolongan pertama dalam gawat darurat. Pengabdian masyarakat yang laksanakan menggunakan metode ceramah dan demonstrasi. Hasil dari Kegiatan Pengabdian yang telah dilaksanakan di SMA Setia Budi Semarang adalah adanya peningkatan pengetahuan baik dari siswa ataupun guru yang mengikuti kegiatan PKM ini. Selain itu siswa dan guru mampu mendemonstrasikan tentang pertolongan pertama dalam gawat darurat, seperti memposisikan pasien untuk menjaga kepatenan jalan nafas, melakukan RJP dan mengidentifikasi pasien. Selain itu selama kegiatan pengabdian berlangsung, antusiasme baik dari guru maupun siswa sangat tinggi, hal ini dibuktikan banyaknya siswa yang bertanya tentang materi yang disampaikan dan pada saat kegiatan demonstrasi, siswa dan guru antusias untuk mencoba. Sesi akhir dari kegiatan pengabdian atau tahap evaluasi, dari pertanyaan yang diberikan, 80 % siswa mampu menjawab dengan benar.

Page 1 of 1 | Total Record : 6