cover
Contact Name
Sahabuddin Latif
Contact Email
greenplexresearch@gmail.com
Phone
+6285257228519
Journal Mail Official
greenplexresearch@gmail.com
Editorial Address
Jl. Cak Doko No. 52, Oetete Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Journal of Green Complex Engineering
Published by CV. Gio Architect
ISSN : -     EISSN : 30259673     DOI : 10.59810/greenplexresearch
Greenplex Research Journal of Green Complex Engineering adalah jurnal akademik yang berfokus pada penelitian dan publikasi di bidang rekayasa kompleks hijau. Jurnal ini menekankan pada perkembangan dan aplikasi solusi teknis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dalam desain, konstruksi, dan pengelolaan kompleks bangunan. Greenplex Research Journal of Green Complex Engineering bertujuan untuk menyediakan wadah bagi para peneliti, ilmuwan, akademisi, praktisi, dan profesional di bidang rekayasa kompleks hijau untuk berbagi pengetahuan, temuan, dan inovasi terbaru. Jurnal ini mempromosikan pertukaran informasi yang luas dan kolaborasi di antara para ahli yang tertarik dalam menciptakan bangunan dan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan.
Articles 36 Documents
Aplikasi Konsep Arsitektur Organik Menurut David Pearson pada Perancangan Hotel Wisata di Danau Tempe Aprilia, Aprilia Dwi Anggri Astuty; Aris, Aris Sakkar Dollah; Syarif, Muhammad Syarif; Ashari, Ashari Abdullah; Amin, Siti Fuadillah Alhumairah; Syahruddin, Andi Syahriyunita
Journal of Green Complex Engineering Vol. 2 No. 2 (2025): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v2i2.147

Abstract

ABSTRAKDanau Tempe merupakan destinasi wisata alam yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, terutama dalam penyediaan fasilitas akomodasi yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan konsep arsitektur organik menurut David Pearson dalam perancangan hotel wisata di kawasan Danau Tempe, dengan menekankan keseimbangan antara bangunan, lingkungan, dan manusia. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur mengenai prinsip arsitektur organik, analisis tapak untuk memahami karakteristik lingkungan sekitar, serta eksplorasi penerapan prinsip tersebut dalam desain hotel wisata. Fokus utama perancangan adalah keberlanjutan, yang diwujudkan melalui pemanfaatan material alami, penerapan energi terbarukan, sistem pengelolaan limbah yang efisien, serta tata ruang yang mendorong interaksi harmonis antara wisatawan dan alam. Hasil penelitian ini menghasilkan konsep desain hotel wisata yang tidak hanya berfungsi sebagai akomodasi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem alami Danau Tempe. Dengan mengadopsi prinsip arsitektur organik, hotel ini diharapkan mampu memberikan pengalaman menginap yang lebih mendalam dan menyatu dengan lingkungan, sekaligus memperkuat konsep ekowisata berkelanjutan di wilayah tersebut. Implikasi penelitian ini adalah memberikan kontribusi terhadap pengembangan desain fasilitas wisata berbasis keberlanjutan, serta menjadi referensi bagi pengembangan arsitektur organik dalam sektor pariwisata di Indonesia. ABSTRACT Tempe Lake is a natural tourist destination with significant potential for development, particularly in providing environmentally friendly accommodation facilities. This study aims to apply the concept of organic architecture according to David Pearson in designing a tourist hotel in the Tempe Lake area, emphasizing the balance between buildings, the environment, and people. The research method includes a literature study on organic architecture principles, site analysis to understand the characteristics of the surrounding environment, and the exploration of applying these principles in hotel design. The primary focus of the design is sustainability, achieved through the use of natural materials, the implementation of renewable energy, an efficient waste management system, and spatial planning that promotes harmonious interactions between tourists and nature. The results of this study produce a tourist hotel design concept that functions not only as accommodation but also as an integral part of the natural ecosystem of Tempe Lake. By adopting the principles of organic architecture, the hotel is expected to provide a more immersive lodging experience that blends with the environment while strengthening the concept of sustainable ecotourism in the area. The implications of this study contribute to the development of sustainable tourism facility design and serve as a reference for the further implementation of organic architecture in the tourism sector in Indonesia.
Konsep Arsitektur Organik pada Perancangan Kawasan Wisata Permandian Air Panas Buatan di Tombolo Pao Muhamad Ilham Pasiori, Ilham; Syarif, Muhammad; Yusri, Andi; Abdullah, Ashari; Idrus, Irnawaty; Amal, Citra Amalia
Journal of Green Complex Engineering Vol. 2 No. 2 (2025): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v2i2.149

Abstract

ABSTRAK Arsitektur organik adalah pendekatan desain yang berasal dari keterhubungan mendalam dengan kehidupan, menekankan kesatuan, kebebasan, harmoni, keindahan, kegembiraan, dan cinta. Pendekatan ini diterapkan secara parsial atau keseluruhan pada bangunan, berakar pada bentuk dan prinsip alam untuk memastikan integrasi dengan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip arsitektur organik dapat diterapkan dan diadaptasi dalam desain kawasan wisata buatan agar selaras dengan ekosistem sekitarnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui pengumpulan data dan analisis studi kasus pada kawasan wisata pemandian air panas buatan di Tombolo Pao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip arsitektur organik memberikan dampak positif terhadap lingkungan dengan mempertahankan bentuk alami serta menggunakan material yang berkelanjutan. Prinsip utama, seperti building as nature dan of the materials, memastikan bahwa struktur bangunan menyatu dengan lanskap serta memanfaatkan material alami dari sumber lokal. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan berkelanjutan kawasan wisata buatan, memberikan wawasan tentang desain arsitektur yang sejalan dengan pelestarian ekologi. Implikasinya menunjukkan bahwa integrasi prinsip arsitektur organik dapat meningkatkan kualitas estetika, lingkungan, dan fungsional fasilitas wisata, sekaligus mendorong keberlanjutan ekonomi dan ekologi. ABSTRACT Organic architecture is a design approach that originates from a deep connection to life, emphasizing unity, freedom, harmony, beauty, joy, and love. It is applied partially or entirely to buildings, rooted in natural forms and principles, ensuring integration with the environment. This study aims to explore how the principles of organic architecture can be applied and adapted in the design of artificial tourist areas to achieve harmony with the surrounding ecosystem. The research employs a qualitative approach through data collection and case study analysis of the artificial hot spring tourist area in Tombolo Pao. The findings indicate that applying organic architecture principles positively impacts the environment by maintaining natural forms and using sustainable materials. Key principles, such as "building as nature" and "of the materials," ensure that structures blend seamlessly with the landscape and utilize locally sourced natural materials. This study contributes to the sustainable development of artificial tourist destinations, providing insights into architectural designs that align with ecological preservation. The implications suggest that integrating organic architecture principles enhances the aesthetic, environmental, and functional quality of tourism facilities, promoting both economic and ecological sustainability.
Daur Ulang Cangkang Keong Tutut (Bellamiya Javanica) Sebagai Bahan Tambah Campuran Beton Gaffar Bakri, Imriyanti; Husna, Andi Ufiya; Hartawan, Hartawan
Journal of Green Complex Engineering Vol. 2 No. 2 (2025): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v2i2.152

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya permintaan beton dalam konstruksi membutuhkan material dalam jumlah besar, sehingga membutuhkan inovasi untuk mempertahankan ketersediaannya. Beton tersusun dari pasir, semen, air, dan batu pecah, bahan-bahan yang semakin menipis akibat pembangunan infrastruktur yang pesat. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan material alternatif, salah satunya adalah limbah Cangkang Keong Tutut (Bellamiya Javanica). Spesies ini merupakan ancaman yang signifikan bagi tanaman padi sebagai herbivora polifag, tumbuh dengan cepat dan beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Penelitian ini menyelidiki potensi penggunaan cangkang keong tutut yang didaur ulang sebagai bahan tambahan pada campuran beton. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan menggunakan curing basah, dimana Cangkang Keong Tutut diolah menjadi serbuk dan digunakan sebagai pengganti sebagian agregat halus dengan tingkat penggantian 0%, 5%, 10%, dan 15%. Kuat tekan diuji pada umur 7, 14, dan 28 hari untuk mengetahui kinerja optimum dari beton yang telah dimodifikasi. Hasil pada umur 28 hari menunjukkan kuat tekan sebesar 27,65 MPa, 30,09 MPa, 26,96 MPa, dan 25,03 MPa, dengan kekuatan tertinggi pada substitusi 5% (30,09 MPa). Kekuatan optimum mencapai 30,26 MPa, memenuhi standar beton struktural K225 (SNI 03-2834-2000). Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah Cangkang Keong Tutut dapat menjadi bahan tambahan yang berkelanjutan dan efektif dalam produksi beton, mengurangi limbah lingkungan dan ketergantungan pada agregat alami. ABSTRACT The increasing demand for concrete in construction requires large amounts of materials, necessitating innovation to sustain its availability. Concrete is composed of sand, cement, water, and crushed stone, materials that are depleting due to rapid infrastructure development. To address this issue, alternative materials are required, one of which is Tutut Snail Shell (Bellamiya Javanica) waste. This species poses a significant threat to rice crops as a polyphagous herbivore, rapidly growing and adapting to various environments. This study investigates the potential use of recycled Tutut Snail Shells as an additive in concrete mixtures. The research adopts an experimental method using wet curing, where Tutut Snail Shells are processed into powder and incorporated as a partial fine aggregate substitute at 0%, 5%, 10%, and 15% replacement levels. Compressive strength was assessed at 7, 14, and 28 days to determine the optimum performance of the modified concrete. The results at 28 days show compressive strengths of 27.65 MPa, 30.09 MPa, 26.96 MPa, and 25.03 MPa, respectively, with the highest strength at 5% substitution (30.09 MPa). The optimum strength reached 30.26 MPa, meeting the K225 structural concrete standard (SNI 03-2834-2000). This study demonstrates that Tutut Snail Shell waste can serve as a sustainable and effective additive in concrete production, reducing environmental waste and dependence on natural aggregates.
Penerapan Konsep Eco-Tech Pada Perancangan Pusat Industri Mebel di Kabupaten Muna Dayat, Sapril Hidayat; Syarif, Muhammad; Yusri, Andi; Idrus, Irnawaty; Syahruddin, Andi Syahriyunita; Amin, Siti Fuadillah Alhumairah; Paddiyatu , Nurhikmah
Journal of Green Complex Engineering Vol. 2 No. 2 (2025): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v2i2.154

Abstract

ABSTRAKIndustri mebel berbahan kayu jati di Kabupaten Muna memiliki potensi besar dalam perekonomian lokal dan nasional. Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, efisiensi produksi yang rendah, serta kurangnya penerapan teknologi berkelanjutan masih menjadi kendala dalam meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang Pusat Industri Mebel di Kabupaten Muna dengan pendekatan arsitektur Eco-Tech guna menciptakan kawasan industri yang ramah lingkungan dan efisien secara energi. Metode penelitian yang digunakan mencakup observasi lapangan, studi literatur, dan analisis desain. Analisis dilakukan terhadap aspek iklim, potensi sumber daya, dan kebutuhan industri untuk mengembangkan desain yang adaptif dan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip Eco-Tech, seperti penggunaan energi terbarukan (panel surya), pemanfaatan material lokal, serta sistem pengelolaan limbah yang efisien, dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Kesimpulannya, desain industri berbasis Eco-Tech mampu menjadi model pengembangan kawasan industri berkelanjutan. Implikasinya, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pengembangan industri hijau di Indonesia serta meningkatkan daya saing produk mebel lokal di pasar internasional. ABSTRACT The teak wood furniture industry in Muna Regency holds significant potential in both local and national economies. However, challenges such as limited infrastructure, low production efficiency, and a lack of sustainable technology implementation continue to hinder the competitiveness of local products in the global market. Therefore, this study aims to design a Furniture Industry Center in Muna Regency using the Eco-Tech architectural approach to create an environmentally friendly and energy-efficient industrial area. The research methodology includes field observations, literature studies, and design analysis. The analysis focuses on climate conditions, resource potential, and industry needs to develop an adaptive and sustainable design. The findings indicate that applying Eco-Tech principles, such as renewable energy utilization (solar panels), the use of local materials, and efficient waste management systems, can enhance production efficiency while minimizing environmental impact. In conclusion, an Eco-Tech-based industrial design can serve as a model for sustainable industrial area development. The study's implications suggest that this approach can be a reference for green industrial development in Indonesia and enhance the competitiveness of local furniture products in the international market.
Perancangan Museum Gempa Bumi Berbasis Mitigasi Bencana dengan Pendekatan Smart Building di Kota Palu Ramadhan, Moh. Faried; Latif, Sahabuddin; Amal, Citra Amalia
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.196

Abstract

ABSTRAKKota Palu merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana geologis tinggi, seperti gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi. Peristiwa tragis gempa pada 28 September 2018 mengakibatkan ribuan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur secara masif. Menanggapi hal ini, diperlukan sarana edukatif sekaligus evakuatif yang mampu meningkatkan kesadaran mitigasi bencana masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang Museum Gempa Bumi berbasis mitigasi bencana dengan pendekatan arsitektur smart building di Kota Palu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui tahapan analisis data lapangan, studi literatur, serta simulasi desain digital. Lokasi museum ditentukan berdasarkan zonasi rawan bencana, dengan mempertimbangkan aksesibilitas dan keamanan tapak. Hasil desain menunjukkan integrasi teknologi struktur isolasi seismik untuk meningkatkan ketahanan gempa serta penerapan prinsip smart building seperti efisiensi energi, kenyamanan termal, fleksibilitas ruang, dan sistem evakuasi darurat otomatis. Kesimpulannya, pendekatan ini menghasilkan bangunan tangguh, adaptif, dan edukatif yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai pusat evakuasi dan edukasi kebencanaan. Implikasi dari penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan arsitektur tanggap bencana yang relevan diterapkan di wilayah rawan gempa lainnya. ABSTRACTPalu City is highly vulnerable to geological disasters such as earthquakes, tsunamis, and liquefaction. The devastating earthquake on September 28, 2018, caused thousands of fatalities and massive infrastructure damage. In response, there is an urgent need for educational and evacuation facilities that promote public disaster mitigation awareness. This study aims to design an Earthquake Museum based on disaster mitigation using a smart building architectural approach in Palu. A qualitative descriptive method was employed, involving field data analysis, literature studies, and digital design simulations. The museum site was selected based on disaster zoning maps, emphasizing accessibility and site safety. The design integrates seismic isolation structural technology to enhance earthquake resistance, alongside smart building principles such as energy efficiency, thermal comfort, space flexibility, and automated emergency systems. The results demonstrate a resilient, adaptive, and educational facility that functions not only as an exhibition space but also as a disaster education and temporary evacuation center. This research implies significant contributions to disaster-responsive architecture development, particularly applicable to other earthquake-prone regions.
Integrasi Arsitektur Terapeutik dalam Desain Rumah Sakit Jiwa: Studi Kasus di Makassar, Indonesia Nabilah Arbia; Citra Amalia Amal; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.200

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya prevalensi gangguan kesehatan mental di Kota Makassar, Indonesia, menandakan perlunya peningkatan fasilitas layanan kesehatan jiwa yang memadai. Studi ini mengusulkan desain Rumah Sakit Psikiatri di Makassar dengan pendekatan arsitektur terapeutik, yang menekankan pada lingkungan penyembuhan (healing environment), keterhubungan dengan alam (natural connection), dan kenyamanan psikologis (psychological comfort). Metodologi yang digunakan mencakup observasi lapangan, analisis spasial, serta penerapan kerangka deskriptif-analitik untuk mengintegrasikan data empiris dan kebutuhan pengguna. Tapak seluas 4,23 hektar ini ditata secara strategis dalam zona publik, semi-publik, privat, dan servis. Hasil utama menunjukkan integrasi elemen biofilik seperti taman terapeutik, ventilasi alami, dan material sensorik yang mendukung pemulihan mental. Bentuk modular heksagonal serta adaptasi budaya lokal memperkuat penerimaan masyarakat dan keharmonisan spasial. Temuan ini menunjukkan bahwa arsitektur terapeutik dapat secara signifikan mengurangi stres, meningkatkan kepuasan pasien, dan mempercepat proses pemulihan. Studi ini memberikan model replikatif untuk pengembangan fasilitas psikiatri yang berkelanjutan dan berpusat pada manusia di kawasan Indonesia Timur. ABSTRACTThe increasing prevalence of mental health disorders in Makassar, Indonesia, underscores the urgent need for improved psychiatric healthcare facilities. This study proposes a design for a Psychiatric Hospital in Makassar using a therapeutic architecture approach, emphasizing healing environments, natural connection, and psychological comfort. The methodology includes field observation, spatial analysis, and application of descriptive-analytic frameworks to integrate empirical data and user needs. The site spans 4.23 hectares and is strategically zoned into public, semi-public, private, and service areas. Key results demonstrate the integration of biophilic elements such as therapeutic gardens, natural ventilation, and sensory materials that support mental recovery. Hexagonal modular forms and cultural adaptation reinforce community acceptance and spatial harmony. The findings show that therapeutic architecture can significantly reduce stress, enhance patient satisfaction, and improve recovery outcomes. The study contributes a replicable model for sustainable, human-centered psychiatric facilities in Eastern Indonesia.
Arsitektur sebagai Katalis Budaya: Desain Eco-Cultural untuk Pusat Warisan Bugis-Makassar Suaib, Muhammad; Syarif, Muhammad; Paddiyatu, Nurhikmah; Rohana; Yusri, Andi; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.201

Abstract

ABSTRAKKabupaten Gowa merupakan wilayah di Sulawesi Selatan yang kaya akan budaya Bugis-Makassar, namun belum memiliki fasilitas representatif untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal secara berkelanjutan. Studi ini merancang sebuah Pusat Kebudayaan dan Seni Lokal dengan pendekatan eco-cultural yang menggabungkan prinsip keberlanjutan lingkungan dengan pelestarian nilai budaya lokal. Metode yang digunakan meliputi observasi tapak, wawancara, studi literatur, serta analisis sosial dan ekologis sebagai dasar perancangan. Hasil desain menunjukkan integrasi lima prinsip eco-cultural—image of space, environmental knowledge, building image, technologies, dan idealized concept of place—ke dalam bentuk arsitektur yang adaptif terhadap iklim tropis serta simbolik terhadap budaya Bugis-Makassar. Zona fungsional disusun secara fleksibel untuk menunjang aktivitas edukasi, pertunjukan, dan interaksi sosial, sementara bentuk bangunan terinspirasi dari topi Patonro dan kipas tradisional. Desain ini tidak hanya menghasilkan fasilitas budaya yang fungsional dan kontekstual, tetapi juga berfungsi sebagai ruang edukasi dan refleksi ekologis. Dengan demikian, pusat kebudayaan ini berperan penting dalam mendukung kontinuitas budaya dan kesadaran lingkungan masyarakat Gowa, serta menjadi model arsitektur berkelanjutan berbasis lokal di Indonesia. ABSTRACTGowa Regency in South Sulawesi is rich in Bugis-Makassar cultural heritage but lacks a representative facility for the sustainable preservation and development of local culture. This study designs a Local Cultural and Arts Center using an eco-cultural approach that combines environmental sustainability principles with the preservation of local cultural values. The methods used include site observation, interviews, literature studies, and socio-ecological analysis as the foundation for design development. The design results demonstrate the integration of five eco-cultural principles—image of space, environmental knowledge, building image, technologies, and idealized concept of place—into architectural forms that are adaptive to the tropical climate and symbolically reflective of Bugis-Makassar culture. Functional zones are organized flexibly to support educational, performance, and social interaction activities, while the building form is inspired by the traditional Patonro headgear and cultural fan motifs.This design not only provides a functional and contextually relevant cultural facility but also serves as an educational space and ecological reflection. Therefore, the cultural center plays a vital role in supporting cultural continuity and environmental awareness in the Gowa community and serves as a model for locally based sustainable architecture in Indonesia.      
Arsitektur Kolaboratif Biophilic untuk Generasi Z di Kota Tropis: Studi Kasus Kota Makassar Cinta Dwi Andayu; Amalia Amal, Citra; Abdullah, Ashari; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.202

Abstract

ABSTRAKGenerasi Z menghadapi tantangan psikologis dan sosial yang signifikan di lingkungan perkotaan, khususnya yang berkaitan dengan tekanan kesehatan mental yang diperparah oleh saturasi digital dan keterbatasan interaksi sosial yang otentik. Sebagai respons terhadap kondisi ini, studi ini mengusulkan desain Gen-Z Collaboration Center di Kota Makassar, Indonesia, dengan menggunakan prinsip-prinsip arsitektur biophilic. Melalui metode deskriptif kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan analisis tapak, kajian pustaka, dan studi kasus komparatif untuk merumuskan desain yang menyatukan fungsionalitas spasial dengan elemen alam. Desain yang dihasilkan terdiri dari tiga zona inti—kesehatan mental, kreativitas, dan kewirausahaan—yang disusun dalam tata ruang radial dan terinspirasi secara simbolik dari tanda baca semicolon. Fitur utama meliputi pencahayaan alami, taman vertikal, fitur air, material organik, serta ruang fleksibel dan adaptif yang mendorong ketahanan emosional, koneksi sosial, dan kehidupan kota yang berkelanjutan. Dengan menerapkan pola desain biophilic dari Terrapin Bright Green, pusat ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang kolaboratif, tetapi juga sebagai ekosistem penyembuhan dalam konteks urban. Penelitian ini berkontribusi terhadap praktik desain perkotaan dengan menawarkan model arsitektur publik yang berpusat pada generasi muda, berkelanjutan, dan responsif secara psikologis di kota-kota tropis. ABSTRACTGeneration Z faces significant psychological and social challenges in urban environments, particularly related to mental health stressors exacerbated by digital saturation and limited authentic social interaction. In response, this study proposes the design of a Gen-Z Collaboration Center in Makassar, Indonesia, using biophilic architectural principles. Employing a qualitative descriptive methodology, the study integrates site analysis, literature review, and comparative case studies to formulate a design that merges spatial functionality with natural elements. The resulting design consists of three core zones—mental wellness, creativity, and entrepreneurship—structured through a radial layout and symbolically inspired by the semicolon. Key features include natural lighting, vertical gardens, water features, organic materials, and flexible, adaptive spaces that promote emotional resilience, social connection, and sustainable urban living. By applying Terrapin Bright Green's biophilic design patterns, the center serves not only as a collaborative environment but also as a healing urban ecosystem. This research contributes to urban design practices by offering a youth-centered, sustainable, and psychologically responsive public architecture model for tropical cities.
Integrasi Alam dalam Desain Pesisir: Pendekatan Biomimikri pada Oceanarium Hamid, Hamza; Amalia Amal, Citra; Abdullah, Ashari; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.203

Abstract

ABSTRAKStudi ini mengeksplorasi penerapan pendekatan biomimikri dalam desain arsitektur Oceanarium di Kota Makassar, sebuah kota pesisir dengan keanekaragaman hayati laut yang signifikan. Terletak pada pertemuan antara pariwisata, pendidikan, dan konservasi, Oceanarium ini bertujuan merespons degradasi ekologi dan minimnya fasilitas edukasi kelautan yang terintegrasi. Dengan mengambil inspirasi dari bentuk-bentuk alami seperti terumbu karang dan gelombang laut, desain ini menggabungkan geometris yang mengalir, material transparan, dan program spasial adaptif untuk mendorong integrasi lingkungan dan pengalaman imersif bagi pengguna. Secara metodologis, penelitian ini menggabungkan analisis tapak, kajian literatur, studi banding kasus internasional, dan sketsa konseptual untuk merumuskan strategi desain yang kontekstual. Bangunan dirancang dengan zona-zona fungsional seperti area publik, edukasi, rekreasi, dan konservasi, yang dihubungkan melalui sirkulasi pengunjung menyerupai arus laut. Prinsip biomimikri diterapkan untuk meningkatkan kenyamanan termal, ventilasi alami, dan ketahanan lingkungan. Hasil menunjukkan bahwa biomimikri meningkatkan kinerja arsitektur baik secara estetika maupun fungsional. Pendekatan ini memfasilitasi praktik bangunan berkelanjutan, mendorong keterlibatan publik, dan selaras dengan konteks budaya serta ekologi lokal. Oceanarium ini tampil bukan hanya sebagai landmark arsitektur ikonik, tetapi juga sebagai laboratorium hidup untuk edukasi kelautan dan pelestarian lingkungan. ABSTRACTThis study explores the application of biomimicry in the architectural design of an Oceanarium in Makassar City, a coastal metropolis with significant marine biodiversity. Positioned at the intersection of tourism, education, and conservation, the Oceanarium aims to respond to ecological degradation and the lack of integrated marine educational facilities. Drawing inspiration from natural forms such as coral reefs and ocean waves, the design incorporates fluid geometries, transparent materials, and adaptive spatial programming to promote environmental integration and user immersion. Methodologically, the research integrates site analysis, literature review, comparative international case studies, and conceptual sketching to formulate a contextual design strategy. The building features multiple zones, including public, educational, recreational, and conservation areas, connected through a visitor circulation system that mimics ocean currents. Biomimetic principles are applied to enhance thermal comfort, natural ventilation, and environmental resilience. The results indicate that biomimicry enhances architectural performance both aesthetically and functionally. It facilitates sustainable building practices, fosters public engagement, and aligns with local cultural and ecological contexts. The Oceanarium emerges as not only an iconic architectural landmark but also a living laboratory for marine education and environmental stewardship.      
Integrasi Alam, Budaya, dan Ekonomi Kreatif: Studi Perancangan Creative Hub Biofilik di Wilayah Semi-Perkotaan Ayuda, Andi Rezky; Latif, Sahabuddin; Amal, Citra Amalia
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.204

Abstract

ABSTRAKCreative Hub yang dirancang dengan pendekatan arsitektur biofilik di Kabupaten Luwu menjawab kebutuhan mendesak akan ruang kolaboratif untuk mendukung ekonomi kreatif lokal. Proyek ini merespons kurangnya infrastruktur yang memadai untuk kegiatan edukasi, produksi, dan interaksi budaya, khususnya bagi pelaku UMKM dan komunitas kreatif. Lokasi yang dipilih secara strategis di Kota Belopa memungkinkan integrasi optimal dengan fungsi-fungsi perkotaan yang sudah ada. Metodologi desain menggabungkan analisis spasial, partisipasi komunitas, dan prinsip-prinsip biofilik, sehingga menghasilkan konsep yang menekankan pada pencahayaan alami, ventilasi, vegetasi, dan identitas budaya. Fasilitas utama mencakup ruang kerja bersama (co-working space), galeri seni, amfiteater, bengkel kreatif (workshop), dan taman edukasi, yang tersebar dalam zona-zona fungsional yang jelas. Massa bangunan mengadopsi bentuk organik yang mencerminkan topografi lokal serta mendukung praktik berkelanjutan seperti pemanenan air hujan dan atap hijau. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Creative Hub biofilik ini meningkatkan kesejahteraan pengguna, mendorong kreativitas, dan mempromosikan inklusi sosial. Ia tidak hanya menjadi wadah fisik bagi pengembangan seni dan kewirausahaan, tetapi juga menjadi landmark ekologis dan kultural yang memperkuat identitas kawasan Luwu. Rancangan ini menawarkan model yang dapat direplikasi dalam mengintegrasikan keberlanjutan, warisan budaya, dan keterlibatan komunitas dalam perencanaan infrastruktur kreatif. ABSTRACTThe Creative Hub designed using a biophilic architectural approach in Luwu Regency addresses the urgent need for collaborative spaces to support the local creative economy. The project responds to the lack of adequate infrastructure for education, production, and cultural interaction, especially for small businesses and creative communities. The selected site, strategically located in Belopa, allows optimal integration with existing urban functions. The design methodology integrates spatial analysis, community participation, and biophilic principles, resulting in a concept that emphasizes natural light, ventilation, greenery, and cultural identity. Key facilities include co-working spaces, art galleries, an amphitheater, workshops, and educational gardens, distributed across clearly defined functional zones. The massing adopts organic forms that reflect the region’s topography and support sustainable practices such as rainwater harvesting and green roofs. Results show that the biophilic Creative Hub enhances user well-being, fosters creativity, and promotes social inclusion. It serves not only as a physical platform for artistic and entrepreneurial development but also as an ecological and cultural landmark that strengthens the regional identity of Luwu. The design offers a replicable model for integrating sustainability, cultural heritage, and community engagement into creative infrastructure planning.      

Page 3 of 4 | Total Record : 36