cover
Contact Name
Sahabuddin Latif
Contact Email
greenplexresearch@gmail.com
Phone
+6285257228519
Journal Mail Official
greenplexresearch@gmail.com
Editorial Address
Jl. Cak Doko No. 52, Oetete Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Journal of Green Complex Engineering
Published by CV. Gio Architect
ISSN : -     EISSN : 30259673     DOI : 10.59810/greenplexresearch
Greenplex Research Journal of Green Complex Engineering adalah jurnal akademik yang berfokus pada penelitian dan publikasi di bidang rekayasa kompleks hijau. Jurnal ini menekankan pada perkembangan dan aplikasi solusi teknis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dalam desain, konstruksi, dan pengelolaan kompleks bangunan. Greenplex Research Journal of Green Complex Engineering bertujuan untuk menyediakan wadah bagi para peneliti, ilmuwan, akademisi, praktisi, dan profesional di bidang rekayasa kompleks hijau untuk berbagi pengetahuan, temuan, dan inovasi terbaru. Jurnal ini mempromosikan pertukaran informasi yang luas dan kolaborasi di antara para ahli yang tertarik dalam menciptakan bangunan dan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan.
Articles 24 Documents
Aplikasi Konsep Arsitektur Organik Menurut David Pearson pada Perancangan Hotel Wisata di Danau Tempe Aprilia, Aprilia Dwi Anggri Astuty; Aris, Aris Sakkar Dollah; Syarif, Muhammad Syarif; Ashari, Ashari Abdullah; Amin, Siti Fuadillah Alhumairah; Syahruddin, Andi Syahriyunita
Journal of Green Complex Engineering Vol. 2 No. 2 (2025): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v2i2.147

Abstract

ABSTRAKDanau Tempe merupakan destinasi wisata alam yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, terutama dalam penyediaan fasilitas akomodasi yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan konsep arsitektur organik menurut David Pearson dalam perancangan hotel wisata di kawasan Danau Tempe, dengan menekankan keseimbangan antara bangunan, lingkungan, dan manusia. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur mengenai prinsip arsitektur organik, analisis tapak untuk memahami karakteristik lingkungan sekitar, serta eksplorasi penerapan prinsip tersebut dalam desain hotel wisata. Fokus utama perancangan adalah keberlanjutan, yang diwujudkan melalui pemanfaatan material alami, penerapan energi terbarukan, sistem pengelolaan limbah yang efisien, serta tata ruang yang mendorong interaksi harmonis antara wisatawan dan alam. Hasil penelitian ini menghasilkan konsep desain hotel wisata yang tidak hanya berfungsi sebagai akomodasi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem alami Danau Tempe. Dengan mengadopsi prinsip arsitektur organik, hotel ini diharapkan mampu memberikan pengalaman menginap yang lebih mendalam dan menyatu dengan lingkungan, sekaligus memperkuat konsep ekowisata berkelanjutan di wilayah tersebut. Implikasi penelitian ini adalah memberikan kontribusi terhadap pengembangan desain fasilitas wisata berbasis keberlanjutan, serta menjadi referensi bagi pengembangan arsitektur organik dalam sektor pariwisata di Indonesia. ABSTRACT Tempe Lake is a natural tourist destination with significant potential for development, particularly in providing environmentally friendly accommodation facilities. This study aims to apply the concept of organic architecture according to David Pearson in designing a tourist hotel in the Tempe Lake area, emphasizing the balance between buildings, the environment, and people. The research method includes a literature study on organic architecture principles, site analysis to understand the characteristics of the surrounding environment, and the exploration of applying these principles in hotel design. The primary focus of the design is sustainability, achieved through the use of natural materials, the implementation of renewable energy, an efficient waste management system, and spatial planning that promotes harmonious interactions between tourists and nature. The results of this study produce a tourist hotel design concept that functions not only as accommodation but also as an integral part of the natural ecosystem of Tempe Lake. By adopting the principles of organic architecture, the hotel is expected to provide a more immersive lodging experience that blends with the environment while strengthening the concept of sustainable ecotourism in the area. The implications of this study contribute to the development of sustainable tourism facility design and serve as a reference for the further implementation of organic architecture in the tourism sector in Indonesia.
Konsep Arsitektur Organik pada Perancangan Kawasan Wisata Permandian Air Panas Buatan di Tombolo Pao Muhamad Ilham Pasiori, Ilham; Syarif, Muhammad; Yusri, Andi; Abdullah, Ashari; Idrus, Irnawaty; Amal, Citra Amalia
Journal of Green Complex Engineering Vol. 2 No. 2 (2025): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v2i2.149

Abstract

ABSTRAK Arsitektur organik adalah pendekatan desain yang berasal dari keterhubungan mendalam dengan kehidupan, menekankan kesatuan, kebebasan, harmoni, keindahan, kegembiraan, dan cinta. Pendekatan ini diterapkan secara parsial atau keseluruhan pada bangunan, berakar pada bentuk dan prinsip alam untuk memastikan integrasi dengan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip arsitektur organik dapat diterapkan dan diadaptasi dalam desain kawasan wisata buatan agar selaras dengan ekosistem sekitarnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui pengumpulan data dan analisis studi kasus pada kawasan wisata pemandian air panas buatan di Tombolo Pao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip arsitektur organik memberikan dampak positif terhadap lingkungan dengan mempertahankan bentuk alami serta menggunakan material yang berkelanjutan. Prinsip utama, seperti building as nature dan of the materials, memastikan bahwa struktur bangunan menyatu dengan lanskap serta memanfaatkan material alami dari sumber lokal. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan berkelanjutan kawasan wisata buatan, memberikan wawasan tentang desain arsitektur yang sejalan dengan pelestarian ekologi. Implikasinya menunjukkan bahwa integrasi prinsip arsitektur organik dapat meningkatkan kualitas estetika, lingkungan, dan fungsional fasilitas wisata, sekaligus mendorong keberlanjutan ekonomi dan ekologi. ABSTRACT Organic architecture is a design approach that originates from a deep connection to life, emphasizing unity, freedom, harmony, beauty, joy, and love. It is applied partially or entirely to buildings, rooted in natural forms and principles, ensuring integration with the environment. This study aims to explore how the principles of organic architecture can be applied and adapted in the design of artificial tourist areas to achieve harmony with the surrounding ecosystem. The research employs a qualitative approach through data collection and case study analysis of the artificial hot spring tourist area in Tombolo Pao. The findings indicate that applying organic architecture principles positively impacts the environment by maintaining natural forms and using sustainable materials. Key principles, such as "building as nature" and "of the materials," ensure that structures blend seamlessly with the landscape and utilize locally sourced natural materials. This study contributes to the sustainable development of artificial tourist destinations, providing insights into architectural designs that align with ecological preservation. The implications suggest that integrating organic architecture principles enhances the aesthetic, environmental, and functional quality of tourism facilities, promoting both economic and ecological sustainability.
Daur Ulang Cangkang Keong Tutut (Bellamiya Javanica) Sebagai Bahan Tambah Campuran Beton Gaffar Bakri, Imriyanti; Husna, Andi Ufiya; Hartawan, Hartawan
Journal of Green Complex Engineering Vol. 2 No. 2 (2025): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v2i2.152

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya permintaan beton dalam konstruksi membutuhkan material dalam jumlah besar, sehingga membutuhkan inovasi untuk mempertahankan ketersediaannya. Beton tersusun dari pasir, semen, air, dan batu pecah, bahan-bahan yang semakin menipis akibat pembangunan infrastruktur yang pesat. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan material alternatif, salah satunya adalah limbah Cangkang Keong Tutut (Bellamiya Javanica). Spesies ini merupakan ancaman yang signifikan bagi tanaman padi sebagai herbivora polifag, tumbuh dengan cepat dan beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Penelitian ini menyelidiki potensi penggunaan cangkang keong tutut yang didaur ulang sebagai bahan tambahan pada campuran beton. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan menggunakan curing basah, dimana Cangkang Keong Tutut diolah menjadi serbuk dan digunakan sebagai pengganti sebagian agregat halus dengan tingkat penggantian 0%, 5%, 10%, dan 15%. Kuat tekan diuji pada umur 7, 14, dan 28 hari untuk mengetahui kinerja optimum dari beton yang telah dimodifikasi. Hasil pada umur 28 hari menunjukkan kuat tekan sebesar 27,65 MPa, 30,09 MPa, 26,96 MPa, dan 25,03 MPa, dengan kekuatan tertinggi pada substitusi 5% (30,09 MPa). Kekuatan optimum mencapai 30,26 MPa, memenuhi standar beton struktural K225 (SNI 03-2834-2000). Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah Cangkang Keong Tutut dapat menjadi bahan tambahan yang berkelanjutan dan efektif dalam produksi beton, mengurangi limbah lingkungan dan ketergantungan pada agregat alami. ABSTRACT The increasing demand for concrete in construction requires large amounts of materials, necessitating innovation to sustain its availability. Concrete is composed of sand, cement, water, and crushed stone, materials that are depleting due to rapid infrastructure development. To address this issue, alternative materials are required, one of which is Tutut Snail Shell (Bellamiya Javanica) waste. This species poses a significant threat to rice crops as a polyphagous herbivore, rapidly growing and adapting to various environments. This study investigates the potential use of recycled Tutut Snail Shells as an additive in concrete mixtures. The research adopts an experimental method using wet curing, where Tutut Snail Shells are processed into powder and incorporated as a partial fine aggregate substitute at 0%, 5%, 10%, and 15% replacement levels. Compressive strength was assessed at 7, 14, and 28 days to determine the optimum performance of the modified concrete. The results at 28 days show compressive strengths of 27.65 MPa, 30.09 MPa, 26.96 MPa, and 25.03 MPa, respectively, with the highest strength at 5% substitution (30.09 MPa). The optimum strength reached 30.26 MPa, meeting the K225 structural concrete standard (SNI 03-2834-2000). This study demonstrates that Tutut Snail Shell waste can serve as a sustainable and effective additive in concrete production, reducing environmental waste and dependence on natural aggregates.
Penerapan Konsep Eco-Tech Pada Perancangan Pusat Industri Mebel di Kabupaten Muna Dayat, Sapril Hidayat; Syarif, Muhammad; Yusri, Andi; Idrus, Irnawaty; Syahruddin, Andi Syahriyunita; Amin, Siti Fuadillah Alhumairah; Paddiyatu , Nurhikmah
Journal of Green Complex Engineering Vol. 2 No. 2 (2025): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v2i2.154

Abstract

ABSTRAKIndustri mebel berbahan kayu jati di Kabupaten Muna memiliki potensi besar dalam perekonomian lokal dan nasional. Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, efisiensi produksi yang rendah, serta kurangnya penerapan teknologi berkelanjutan masih menjadi kendala dalam meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang Pusat Industri Mebel di Kabupaten Muna dengan pendekatan arsitektur Eco-Tech guna menciptakan kawasan industri yang ramah lingkungan dan efisien secara energi. Metode penelitian yang digunakan mencakup observasi lapangan, studi literatur, dan analisis desain. Analisis dilakukan terhadap aspek iklim, potensi sumber daya, dan kebutuhan industri untuk mengembangkan desain yang adaptif dan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip Eco-Tech, seperti penggunaan energi terbarukan (panel surya), pemanfaatan material lokal, serta sistem pengelolaan limbah yang efisien, dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Kesimpulannya, desain industri berbasis Eco-Tech mampu menjadi model pengembangan kawasan industri berkelanjutan. Implikasinya, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pengembangan industri hijau di Indonesia serta meningkatkan daya saing produk mebel lokal di pasar internasional. ABSTRACT The teak wood furniture industry in Muna Regency holds significant potential in both local and national economies. However, challenges such as limited infrastructure, low production efficiency, and a lack of sustainable technology implementation continue to hinder the competitiveness of local products in the global market. Therefore, this study aims to design a Furniture Industry Center in Muna Regency using the Eco-Tech architectural approach to create an environmentally friendly and energy-efficient industrial area. The research methodology includes field observations, literature studies, and design analysis. The analysis focuses on climate conditions, resource potential, and industry needs to develop an adaptive and sustainable design. The findings indicate that applying Eco-Tech principles, such as renewable energy utilization (solar panels), the use of local materials, and efficient waste management systems, can enhance production efficiency while minimizing environmental impact. In conclusion, an Eco-Tech-based industrial design can serve as a model for sustainable industrial area development. The study's implications suggest that this approach can be a reference for green industrial development in Indonesia and enhance the competitiveness of local furniture products in the international market.

Page 3 of 3 | Total Record : 24