cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
Jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kedinding Lor 30 Surabaya 60129
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal KACA
ISSN : 23525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus. Redaksi mengundang para akademisi, dosen, maupun peneliti untuk berkontribusi memasukkan artikel ilmiahnya yang belum pernah diterbitkan oleh jurnal lain. Naskah diketik dengan spasi 1 (satu) spasi pada kertas ukuran B5 dengan panjang tulisan antara 15-25 halaman, 5000-7000 kata. Naskah yang masuk dievaluasi oleh dewan redaksi. Redaktur dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah substansinya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus" : 7 Documents clear
Makna Al-Najwa dalam Al-Qur'an: Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Misbah Maziyatul Hikmah; Teguh Teguh; Salamah Noorhidayati
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.235

Abstract

Al-Najwa merupakan pembicaraan secara rahasia yang dilarang oleh syari’at agama sebab mengandung unsur keburukan. Penelitian ini memiliki titik pusat pembahasan pada makna Al-Najwa yang menjadi kebiasaan masyarakat. Tujuan artikel ini untuk menganalisis makna Al-Najwa dalam al-Qur’an yang memfokuskan pada Q.S an-Nisa ayat 114, Q.S al-Tawbah ayat 78, dan Q.S al-Isra’ ayat 47 dengan mengkomparasikan antara pandangan tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research) yang mengacu pada beberapa bahan pustaka yang relevan dengan tema penelitian, serta tergolong dalam penelitian deskriptif komparatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik penelaahan terhadap beberapa literatur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah menunjukkan makna Al-Najwa dalam Q.S al-Nisa’ ayat 114, Q.S al-Tawbah ayat 78, dan Q.S al-Isra’ ayat 47 menurut tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah. Dari ayat-ayat tersebut penulis menyimpulkan diantara tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah yang memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Kedua tafsir memiliki persamaan dalam menjelaskan makna Al-Najwa sebagai perilaku berbisik-bisik. Pada ayat pertama tafsir al-Azhar cenderung menggambarkan penafsirannya dengan kasus nyata, sedangkan tafsir al-Misbah lebih condong pada sisi kebahasaan. Ayat kedua tafsir al-Azhar memberikan kutipan peribahasa sebagai penjelas penafsirannya, sedangkan tafsir al-Misbah menyajikan sisi kebahasan Al-Najwa. Kemudian ayat ketiga tafsir al-Azhar dan tafsir al-Misbah memiliki pendapat yang sama, tetapi tafsir al-Misbah lebih menonjolkan pada sisi kebahasaan.
Pembacaan Ilmiah Al-Qur'an: Kritik Nidhal Guessoum Atas Teori I'jaz Abdulloh Hanif
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.265

Abstract

Al-Qur’an yang diyakini oleh umat Islam sebagai panduan dan solusi setiap permasalahan kehidupan, akhir-akhir ini mendapatkan perhatian lebih dari berbagai akademisi. Tidak hanya berkaitan dengan penggalian makna-makna dalam konteks perkembangan hukum Islam, tetapi sampai pada keyakinan bahwa Al-Qur’an memuat semua jawaban sains dewasa ini, Al-Qur’an lebih dahulu mengetahui informasi ilmiah dibandingkan penemuan para ilmuwan. Klaim-klaim demikian itu lantas dianggap sebagai bagian dari kemukjizatan Al-Qur’an, yang disebut kemudian sebagai teori i’jaz. Nidhal Guessoum, alih-alih mendukung perkembangan penafsiran ke arah i’jaz, justru mengkritiknya karena kesalahan-kesalahan baik metodologis maupun epistemologis di dalamnya. Bahwa teori sains yang bersifat sementara berdasarkan temuan pengamatan tidak bisa disejajarkan dengan kebenaran Al-Qur’an. Al-Qur’an dibuktikan dengan serangkaian argumen rasional dan bukti sejarah. Sebaliknya, sains tidak harus dibuktikan, ia hanya perlu diuji. Inilah prinsip falsiabilitas dari Popper yang diikuti oleh Guessoum untuk menetapkan bagaimana sains dalam Islam harus diperlakukan. Sehingga untuk merevisi teori i’jaz, ia mengemukakan pendekatan pembacaan bertingkat (multilevel) terhadap Al-Qur’an. Bahwa pemahaman seseorang terhadap berbagai ayat Al-Qur’an tergantung ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan zaman seseorang. Suatu penafsiran hanya dapat dikatakan meyakinkan bagi sebagian orang dari pada penafsiran yang lain, dan seiring berkembangnya pengetahuan seseorang, pemahamannya terhadap sesuatu pun akan berubah.
Sikap Terhadap Penista Nabi Muhammad Perspektif Hadratussyaikh M. Hasyim Asy’ari M. Rizki Syahrul Ramadhan
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.268

Abstract

Terdapat dilema bagi umat Islam dalam menyikapi penista Nabi Muhammad. Di satu sisi, sanksi yang terkonsep dalam fikih jinayah berupa hukuman mati akan membuat islamophobia semakin parah jika diterapkan. Di sisi lain, marwah Islam akan terkoyak jika tidak ada sanksi tegas. Tawaran yang ada untuk mengatasinya masih terbatas pada upaya preventif. Ketika penistaan Nabi benar-benar terjadi, dibutuhkan rumusan sikap yang bisa mengatasi dilema umat Islam. Perspektif Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari layak menjadi alternatif rumusan itu. Melalui telaah karya Hadratussyaikh serta pengayaan data konteks sosio-historis, penelitian ini melakukan analisa komponensial yang memunculkan rumusan sikap terhadap penista Nabi perspektif Hadratussyaikh. Kunci rumusan itu adalah adanya kekuatan sipil yang turut berperan penting memoderasi semangat membela agama dan semangat menjunjung hak asasi manusia.
Islam dan Society 5.0: Pembacaan Ulang Teologi Islam Perspektif Mohammed Arkoun di Era Digital Anugerah Zakya Rafsanjani; Yoga Irama
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.271

Abstract

Artikel ini berisi tentang pembacaan teologi Islam di era society 5.0. Di mana seiring berkembangnya zaman, teknologi canggih pun terus muncul dan hadir di hampir seluruh lini kehidupan manusia, sehingga kehidupan manusia menjadi bebas dan tak terkendali, maka diperlukan kajian ulang posisi teologi Islam di tengah era society 5.0 agar Islam mampu senantiasa tampil eksis dan relevan dalam setiap perkembangan zaman. Berbicara mengenai aspek religiusitas atau spiritualitas, maka peran Islam dirasa sangat vital dalam pembentukan aspek tersebut dalam era society 5.0. Namun sayangnya, banyak yang menilai Islam terutama pihak-pihak yang masih berpegang teguh pada ajaran dan penafsiran Islam klasik menjadi ujian terberat Islam dalam menghadapi era society 5.0. Sehingga perlu adanya sebuah pemikiran baru guna membangun relevansi teologi Islam dengan society 5.0, pemikiran Arkoun yang mendekonstruksi pemikiran dan teologi Islam klasik menjadi awal terbentuknya teologi Islam di era society 5.0. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Sumber data meliputi artikel-artikel mengenai pemikiran Arkoun dan society 5.0 dengan menggunakan teknik analisis interpretatif sehingga diperoleh kajian yang relevan dengan tema artikel ini. Dari hasil analisis dari data-data yang telah diperoleh, adapun hasil dari penelitian ini adalah: pertama, Arkoun berpendapat bahwa ketiadaan kritik dalam tubuh Islam menjadikan Islam mengalami ketertinggalan, sehingga diperlukan kritik terhadap tafsiran dan dogma-dogma yang telah ada. Selain itu Arkoun juga menekankan untuk memaksimalkan nalar Islam untuk menerima segala perubahan budaya, pemikiran dan zaman. Kedua, konsep humanisme Arkoun membagi memberikan kebebasan individu untuk mengoptimalkan nalar kritisnya untuk mengaplikasikan Islam daya teoritis dan daya praktis, sehingga kebebasan individu menggunakan nalar kritisnya tetap dalam koridor keagaman.
Koneksitas Ilmu Tasawuf dan Ilmu Nahw: Telaah atas Kitab Nahw Al-Qulub Karya Al-Qushayri Rosidi Rosidi
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.272

Abstract

Terdapat koneksi yang sangat erat dalam cabang-cabang ilmu bahasa Arab, bahkan bisa dikatakan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Lebih spesifik lagi terdapat interkoneksi antara ilmu nahw  dengan semua ilmu dalam agama Islam seperti fikih, hadis, tafsir dan lain-lain. Sebab ilmu nahw menjadi instrumen yang fundamental dalam mengungkap makna yang bersifat eksoteris yang terdapat dalam teks-teks cabang ilmu-ilmu tersebut. Tulisan ini selain dalam rangka menggali aspek historis faktor lahirnya nahw bergenre tasawuf, sekaligus juga bermaksud menyanggah stigma yang mengatakan bahwa nahw  sufi adalah ilmu yang tidak memiliki epistemologi yang kuat dan mendasar. Pertanyaan yang didiskusikan dalam tulisan ini adalah, 1) Bagaimana ontologi nahw sufi al-Qushayri?, dan 2) Bagaimana epistemologi nahw sufi al-Qushayri? Teori yang digunakan dalam penulisan ini adalah konsep epistemologi al-Jabiri, mengingat dalam nahw sufi terdapat dua nalar, yaitu nalar bayani dan nalar ‘irfani. Sedangkan objek yang dikaji adalah kitab Nahw al-Qulub karya al-Qushayri sebagai kitab yang pertama kali disusun dengan genre nahw sufi. Tulisan ini menemukan bahwa, 1) Kitab Nahw al-Qulub terdiri dari dua kitab, yaitu Nahw al-Qulub al-Saghir dan Nahw al-Qulub al-Kabir. Yang membedakan antara dua karya ini adalah ringkas dan tidaknya penjelasan, Nahw al-Qulub al-Kabir lebih luas penjelasannya sedangkan Nahw al-Qulub al-Saghir lebih ringkas. Adapun yang merupakan karya Al-Qushayri adalah Nahw al-Qulub al-Saghir. Sistematika pembahasan kitab Nahw al-Qulub al-Saghir cenderung acak. Tidak tersistematis seperti adanya kitab nahu konvensional. 2) Kitab Nahw al-Qulub menggunakan konsep epistemologi nalar ‘irfani saat mengungkap makna esoteris kaidah nahu, sedangkan untuk penulisan sistematikanya Al-Qushayri  menggunakan nalar bayani. Terdapat temuan juga Al-Qushayri  bahwa antara syari’at dan hakikat itu saling berhubungan, berkesinambungan dan tidak mungkin dipisahkan.
Ideologi Radikal dalam Islam: Doktrin Khawarij dalam Gerakan Islam Kontemporer Achmad Muhibin Zuhri
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.470

Abstract

Semenjak abad pertama sejarah Islam hingga saat ini, seringkali terjadi konflik dan pertikaian antar pemeluknya. Akar konflik tersebut tak hanya berasal dari perbedaan cara pandang keagamaan, namun juga berakar dari ketidakadilan sosial dan perbedaan pandangan politik. Di antara kelompok Islam era awal yang sering diklaim sebagai tunas radikalisme Islam adalah kelompok khawarij. Kelompok ini yang berhasil mendesain perbedaan politik menjadi perbedaan yang bernuansa konflik keagamaan. Artikel ini mendiskusikan tentang ketersambungan ideologi Khawarij dengan Gerakan Islam kontemporer yang jamak menjadikan aksi intoleransi, radikalisme dan terorisme sebagai “cara berislam yang benar”. Dengan menggunakan pendekatan sejarah kritis yang berupaya mengulik ideologi kelompok radikal yang eksis hari ini, riset ini menyimpulkan bahwa kelompok teroris dan gerakan radikal di Indonesia memiliki kesamaan ideologi dengan kelompok khawarij. Doktrin kelompok khawarij yang diwarisi oleh jaringan kelompok teroris, antara lain: takfirisme, jihadisme dan khilafah. Tridoktrin inilah yang menjadi lokomotif ajaran Islam pada beberapa kelompok yang dengan sengaja diajarkan dan diidoktrinasikan oleh ideolog masing-masing kelompok. Sebagaimana paradigma khawarij, kelompok radikal beranggapan bahwa tidak ada konstitusi di dunia yang sah dan legal untuk ditegakkan kecuali yang bersumber dari hukum Tuhan.
Dakwah Islam Sufistik di Nusantara Abd. Syakur
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.497

Abstract

Tulisan ini mengambil tema tarekat sebagai pranata dakwah Islam sufistik yang secara general ingin melacak siasat tarekat dalam menanamkan nilai-nilai moral keislaman pada masyarakat Nusantara terkait dengan pergumulan dan persaingan antartarekat tersebut dengan praktik-praktik mistik lokal-Kejawen. Untuk itu, permasalahan difokuskan pada strategi para da’i sufi dalam menyikapi realitas tradisi dan praktik ritual lokal Jawa; tentang cara mereka mempertahankan ortodoksi ajaran tarekat; serta tentang hasil dakwah dan pendidikan Islam sufistik-inklusif bagi pembentukan mental keberagamaan masyarakat Islam Jawa pada khsususnya? Kajian ini bersifat literer dengan mengambil data dari bahan-bahan kepustakaan yang diolah dengan teknik analisis diskursif. Hasilnya sebagai berkut; Pertama, bahwa Islam, disimping mengandung muatan ajaran eksoterik, adalah sangat lekat dengan nilai-nilai esoteris. Ajaran esoterisme Islam tersebut membekali Islam ketika berada di wilayah dakwah untuk dapat bersapaan dan berdialog dengan budaya lokal dengan damai. Kedua, tarekat-tarekat Islam di Jawa karena bersentuhan dengan tradisi dan budaya lokal yang intensnya, maka konsekuensinya adalah timbulnya variasi tarekat, yaitu, ada tarekat yang berupaya untuk mempertahankan ortodoksi baik dalam tataran teosofik maupun dalam teknik zikir, seperti Tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah; Namun demikian, ada juga tartekat yang kurang memperhatikan sisi ortodoksi tersebut, bahkan berpinjaman teknik dan terminologi dalam olah spiritualnya dengan teknik mistik Kejawen, misalnya, Tarekat Shiddiqiyyah; Ketiga, bahwa hasil dakwah dan pendidikan Islam sufistik-inklusif seperti di atas adalah tertanamnya sikap mental dan moralitas keberagamaan yang toleran bagi muslim Nusantara, pada umumnya, dan Muslim Jawa pada khususnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 7