cover
Contact Name
Ivan Pangkerego
Contact Email
ivanpeemail@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
educatiochristi@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon Jalan Raya Tomohon, Kakaskasen, Kota Tomohon
Location
Kota tomohon,
Sulawesi utara
INDONESIA
Educatio Christi
ISSN : 08524882     EISSN : 2723472x     DOI : https://doi.org/10.70796/educatio-christi
Educatio Christi bertujuan untuk memajukan aktivitas akademik dan kreativitas karya tulis ilmiah melalui media penelitian serta pemikiran kritis dan analitis di bidang kajian Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Educatio Christi menerima artikel dari berbagai sub-disiplin yang terkait dengan Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Artikel yang dikirimkan harus merupakan karya asli yang belum pernah diterbitkan atau tidak sedang dalam proses penerbitan di jurnal lainnya. Setiap naskah yang dikirimkan wajib mengikuti panduan penulisan atau format yang telah ditetapkan oleh redaksi jurnal. Semua artikel yang masuk akan melalui proses peninjauan menggunakan metode blind review, dengan fokus pada kebaruan dan kontribusi terhadap ilmu Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Subjek kajian untuk Educatio Christi mencakup: Perkembangan Teologi dan Keagamaan Penafsiran Alkitab (Hermeneutik Perjanjian Lama & Perjanjian Baru) Kajian Pendidikan Agama Kristen Etika dan Praksis Kristen Teologi Sistematika Praktik dan Konseling Pastoral Misiologi dan Sejarah Gereja
Articles 141 Documents
Menolak Suara Profetik demi Stabilitas Jemaat: Refleksi Amos 7:10–17 bagi Gereja Masa Kini Adelya Kaligis
Educatio Christi Vol 7 No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : UPT Penelitian Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70796/educatio-christi.v7i1.369

Abstract

Artikel ini menelaah Amos 7:10–17 sebagai sebuah narasi konflik antara suara kenabian dan kepentingan religius-politik institusional, serta menyoroti relevansinya bagi kehidupan gereja masa kini. Perikop tersebut menggambarkan Amazia, imam Betel, yang menolak nubuat Amos untuk menjaga stabilitas kerajaan dan tatanan ibadah yang mapan. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis teks, penelitian ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap kritik kenabian sering dibenarkan melalui alasan tradisi, stabilitas komunitas, dan keamanan institusi. Dinamika serupa juga masih berlangsung dalam gereja modern, di mana kritik yang membangun dan seruan pembaruan kerap diabaikan karena kekhawatiran akan mengganggu praktik yang telah lama berjalan atau memicu keresahan jemaat. Dengan memakai konfrontasi Amos dan Amazia sebagai lensa hermeneutis, artikel ini menegaskan bahwa stabilitas institusi tidak boleh mengesampingkan kebenaran teologis dan integritas moral. Penelitian ini mengajak gereja untuk menumbuhkan keterbukaan terhadap koreksi kenabian sebagai unsur penting kedewasaan rohani dan pembaruan internal yang setia, bukan memandangnya sebagai ancaman bagi kesatuan gerejawi.