cover
Contact Name
Yesaya Bangun Ekoliesanto
Contact Email
yesayaekoliesanto@stbi.ac.id
Phone
+6282324525354
Journal Mail Official
journal@stbi.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia Jl. Simongan No. 1 Semarang, Jawa Tengah - Indonesia 50141
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies
ISSN : -     EISSN : 29622387     DOI : -
Jurnal GRAFTA is a peer-review journal, publishes scholarly articles of high quality on Religious Studies, theology, and related fields and particularly focuses on the metatheoretical conception of the relation between theology and theory of religion. Jurnal GRAFTA encourages dialogue between divergent theoretical, conceptual and disciplinary languages, with a view to reconceptualising theology (in theory and praxis) in the light of contemporary theory of religion, especially more recent social and rhetorical theories of religion. Jurnal GRAFTA promotes interdisciplinary approaches Religious Studies, theology, and related fields, and invites contributions from scholars in various fields, notably: - Christian Religion Education - Biblical Studies - Old and New Testament Studies - Applied Theology
Articles 58 Documents
Pengembangan Kurikulum Gereja Berbasis kontekstual: Tantangan dan Peluang di Era Modern Gia, Petrus; Siringo Ringo, Samuel
GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies Vol. 5 No. 2 (2026): GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies - Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of the modern era, marked by technological advancement, social change, and shifts in people’s mindsets, requires the church to renew its faith-formation ministry. One important aspect that needs attention is the church curriculum so that it is not merely doctrinal but also relevant to the context of the congregation’s life. This article aims to examine the development of a contextual-based church curriculum by highlighting the challenges and opportunities that arise in the modern era. The method used is a theological and Christian education literature study, analyzing the concept of the church curriculum, the contextual approach, and the spiritual needs of today’s congregation. The study shows that the main challenges faced by the church include secularization, digital culture, pluralism, and the low involvement of younger generations in faith learning. However, the modern era also presents opportunities through the use of technology, participatory learning methods, and contextual approaches that connect God’s Word with the realities of daily life. The development of a contextual curriculum requires the church to understand the social, cultural, and psychological backgrounds of the congregation so that the faith-formation process becomes transformational rather than merely informational. Therefore, the church curriculum is expected to shape a mature, relevant, and applicable faith in everyday life. Abstrak Perkembangan zaman modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi, perubahan sosial, serta pergeseran pola pikir masyarakat menuntut gereja untuk melakukan pembaruan dalam pelayanan pendidikan iman. Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan adalah kurikulum gereja, agar tidak hanya bersifat doktrinal tetapi juga relevan dengan konteks kehidupan jemaat. Artikel ini bertujuan mengkaji pengembangan kurikulum gereja berbasis kontekstual dengan menyoroti tantangan dan peluang yang muncul di era modern. Metode yang digunakan adalah studi literatur teologis dan pendidikan Kristen, dengan menganalisis konsep kurikulum gereja, pendekatan kontekstual, serta kebutuhan spiritual jemaat masa kini. Hasil kajian menunjukkan bahwa tantangan utama gereja meliputi pengaruh sekularisasi, budaya digital, pluralisme, serta rendahnya keterlibatan generasi muda dalam pembelajaran iman. Namun, era modern juga menghadirkan peluang berupa pemanfaatan teknologi, metode pembelajaran partisipatif, serta pendekatan kontekstual yang mampu menghubungkan firman Tuhan dengan realitas hidup jemaat. Pengembangan kurikulum kontekstual menuntut gereja untuk memahami latar belakang sosial, budaya, dan psikologis jemaat sehingga proses pendidikan iman menjadi transformasional, bukan sekadar informasional. Dengan demikian, kurikulum gereja diharapkan mampu membentuk iman yang dewasa, relevan, dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Agama Kristen sebagai Instrumen Pencegahan Phubbing pada Remaja Tambunan, Ruhut Parningotan; Arifianto, Yonatan Alex
GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies Vol. 5 No. 2 (2026): GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies - Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid development of digital technology in the 21st century has presented both opportunities and challenges for young people. Social media and mobile devices have become an integral part of their daily lives, but on the other hand, they have the potential to degrade the quality of face-to-face interactions. Education in the digital age needs to respond to these changes with relevant strategies so that the character building of young people is not neglected. The phenomenon of phubbing, which is the behaviour of ignoring others in direct interaction because of a greater focus on mobile phones, has an impact on the mental health, social relationships, and spirituality of adolescents. The purpose of this study is to examine the role of Christian Religious Education as an instrument for preventing phubbing behaviour through the instilling of values of love, empathy, and digital ethical awareness. The research method used a descriptive-analytical approach, concluding that phubbing is a behaviour of ignoring social interaction due to focus on digital devices, which can be prevented through the application of moral education. Moral education is an important foundation in shaping adolescents' awareness to avoid the negative impacts of phubbing on mental and spiritual health. In addition, Christian Religious Education teachers play a strategic role in instilling digital ethics, so that awareness and control of phubbing behaviour can be achieved. The novelty of this research lies in the integration of the concept of digital ethics with theological values in Christian Religious Education as a preventive approach to phubbing behaviour, which not only emphasises general morality but also the formation of spiritual and relational awareness in the use of digital technology. Abstrak Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat pada abad ke-21 telah menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi kehidupan remaja. Media sosial dan perangkat gawai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian mereka, namun di sisi lain memunculkan potensi degradasi kualitas interaksi tatap muka. Pendidikan di era digital perlu merespons perubahan ini dengan strategi yang relevan agar pembentukan karakter remaja tidak terabaikan. Fenomena  phubbing sebagai perilaku mengabaikan orang lain dalam interaksi langsung karena lebih fokus pada ponsel, yang berdampak pada kesehatan mental dan relasi sosial serta spiritualitas remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji peran Pendidikan Agama Kristen sebagai instrumen pencegahan perilaku phubbing melalui penanaman nilai-nilai kasih, empati, dan kesadaran etis digital. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-analitis maka dapat disimpulkan bahwa phubbing merupakan perilaku mengabaikan interaksi sosial akibat fokus pada perangkat digital yang dapat dicegah melalui penerapan pendidikan moral. Pendidikan moral menjadi dasar penting dalam membentuk kesadaran remaja agar terhindar dari dampak negatif phubbing terhadap kesehatan mental dan spiritual. Selain itu, guru Pendidikan Agama Kristen memegang peran strategis dalam menanamkan etika digital, sehingga kesadaran dan pengendalian perilaku phubbing dapat tercapai. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi konsep etika digital dengan nilai-nilai teologis dalam Pendidikan Agama Kristen sebagai pendekatan preventif terhadap perilaku phubbing, yang tidak hanya menekankan aspek moralitas umum tetapi juga pembentukan kesadaran spiritual dan relasional dalam penggunaan teknologi digital.
Strategi Pendidikan Agama Kristen untuk Menguatkan Nilai Iman Anak di Tengah Tantangan Pergaulan Modern Liani, Lika; Triposa, Reni
GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies Vol. 5 No. 2 (2026): GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies - Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Christian Religious Education (CRE) plays a central role in shaping children's faith identity amid the rapid pace of globalisation and digitalisation. Rapid social change has led children to learn more from digital media than from their families or schools, often neglecting the values of faith that should form the basis of their lives. This reality creates a gap between the formal teaching of faith and the actualisation of faith in daily behaviour. A particularly striking phenomenon is the tendency for children to seek recognition through likes or comments on social media rather than demonstrating sincerity in consistently living out their faith values. This study aims to formulate effective and relevant PAK strategies to strengthen children's faith values amid the challenges of modern social interaction. The method used is qualitative research with a literature study approach, which concludes that Christian religious education is an integral process that not only transfers knowledge but also shapes children's faith through cognitive, affective, and practical dimensions. This involves the role of schools, families, and churches in guiding children to live according to God's word. Furthermore, the theological foundation of PAK is rooted in the Bible, which emphasises the importance of guiding children in the path of faith from an early age. Therefore, there must be a contextual implementation strategy that combines creative methods, digital media, spiritual experiences, and cross-environmental collaboration so that children's faith grows strong in the face of the challenges of modern social interaction. Abstrak Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peran sentral dalam membentuk identitas iman anak di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Perubahan sosial yang begitu cepat membuat anak-anak lebih banyak belajar dari media digital dibandingkan dari keluarga atau sekolah, sehingga nilai iman yang seharusnya menjadi dasar hidup kerap terabaikan. Realitas ini menimbulkan kesenjangan antara pengetahuan iman yang diajarkan secara formal dengan penghayatan iman yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Fenomena yang semakin mencolok adalah kecenderungan anak untuk lebih mencari pengakuan melalui likes atau komentar di media sosial daripada menampilkan kesungguhan dalam menjalani nilai iman secara konsisten. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi PAK yang efektif dan relevan untuk memperkuat nilai iman anak di tengah tantangan pergaulan modern. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dapat disimpulkan bahwa pendidikan Agama Kristen memiliki hakikat sebagai proses integral yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, melainkan membentuk iman anak melalui dimensi kognitif, afektif, dan tindakan nyata. Dimana, peran sekolah, keluarga, dan gereja dalam mendampingi anak hidup sesuai firman Tuhan. Selanjutnya, bahwa landasan teologis PAK berakar pada Alkitab yang menegaskan pentingnya menuntun anak dalam jalan iman sejak dini. Sehingga, memiliki strategi dalam mengimplementasikan yang kontekstual yang memadukan metode kreatif, media digital, pengalaman rohani, serta kolaborasi lintas lingkungan agar iman anak bertumbuh kokoh menghadapi tantangan pergaulan modern.
Unio Mystica Calvin dalam Perjamuan Kudus bagi Pembaruan Iman di Gereja Toraja Wiranto Bongga Paillin
GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies Vol. 6 No. 1 (2026): GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies - July 202
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/grafta.v6i1.35

Abstract

This paper wants to explore the concept and the Unio Mystica Johannes Calvin in the Holy Communion and its impact on the renewal of faith in the Toraja Church, which is one of the Calvinist churches in Indonesia. By using a qualitative approach and literature study from several kinds of literature, the research results are that Unio Mystica Calvin at the table of Holy Communion states a human union with Christ which Calvin calls a union with Christ or Union with Christ. And because of that, Union with Christ Calvin provides advantages and benefits for human life today, where these benefits aim to renew and become a guide for life in faith in Christ. And finally, it is hoped that this paper can contribute to the faithful life of the Toraja Church community. Abstrak Tulisan ini mau menelusuri konsep dan Unio Mystica Johannes Calvin dalam Perjamuan Kudus serta dampaknya bagi  pembaharuan iman di dalam Gereja Toraja yang merupakan salah satu gereja Calvinis di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi pustaka dari beberapa literatur memberikan hasil penelitian yaitu bahwa Unio Mystica Calvin dalam meja Perjamuan Kudus menyatakan sebuah kesatuan manusia dengan Kristus dimana Calvin menyebutnya sebagai persatuan dengan Kristus atau Union with Christ. Dan oleh karena itu, Union with Christ Calvin memberikan keuntungan dan manfaat bagi kehidupan manusia sekarang, dimana keuntungan tersebut bertujuan untuk membaharui dan menjadi penuntun kehidupan dalam iman kepada Kristus. Dan akhirnya, diharapkan tulisan ini dapat memberikan sumbangsih bagi kehidupan beriman warga Gereja Toraja.
The Peran PAK terhadap Pengaruh Influencer Sosial Media dalam Pembentukkan Karakter Remaja Gereja Baptis Indonesia Depok Naulia Julitandari Sembiring
GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies Vol. 6 No. 1 (2026): GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies - July 202
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/grafta.v6i1.37

Abstract

Teenagers nowadays are true digital native generation who grow and develop along with technological development. Technological development allows people to socialize digitally and social media made to fulfill the necessary. However, the presence of social media provides a new phenomenon called influencer. Influencers can influent people with their lifestyle, thoughts, interests, and hobbies for all social users, including teenagers. In fact, adolescence is the period for teenagers to search their own character and social media facilitate them to access influencer’s life that unconciously affect their self-concept. Christian Religion Education should be a control over the bad impact of influencers and to remind that they are God’s image and likeness. Researcher use descriptive qualitative method with literature study and interviewed teenagers at Gereja Baptis Indonesia Depok regarding their relationship to influencers which result is teenagers had connection with influencers in terms of social interaction and diversion. Abstrak Remaja masa kini merupakan generasi true digital native yang bertumbuh dan berkembang bersama perkembangan teknologi. kemajuan teknologi memungkinkan manusia bersosialisasi secara digital sehingga sosial media dibuat untuk memenuhi tersebut. Namun, kehadiran sosial media memberikan fenomena profesi baru bernama influencer. Influencer memberikan panutan dalam hal gaya hidup, pemikiran, minat, serta hobi kepada seluruh pengguna sosial, termasuk remaja. Sejatinya remaja dalam proses pencarian karakter diri dan sosial media memberikan fasilitas bagi remaja untuk mengakses hidup influencer yang tanpa disadari membentuk konsep diri remaja. Peran PAK dalam pembentukan karakter remaja masa kini seharusnya sebagai kontrol pengaruh influencer yang buruk dan menyadarkan remaja sebagai gambar dan rupa Allah. Tulisan ilmiah dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dimana peneliti melakukan tinjauan pustaka dan mewawancarai remaja di Gereja Baptis Indonesia Depok mengenai keterkaitan mereka terhadap influencer dimana hasil yang diperoleh adalah remaja memiliki keterkaitan dengan influencer dalam hal social interaction dan diversion.
Peran PAK Dewasa dalam Mempengaruhi Perilaku Konsumtif Generasi Milenial di Era Digital Jemmy Susanto
GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies Vol. 6 No. 1 (2026): GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies - July 202
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/grafta.v6i1.38

Abstract

The digital era is characterized by the rapid development of technology, which has two sides, the side that provides benefits and the side that can harm. Changes in purchasing behavior are seen among millennials, a generation that grew up with the development of technology and communication. Their buying behavior is not just about fulfilling needs, tends to be excessive, not a priority scale, but motives, emotions, and challenges related to achieving happiness. Millennials are considered the most willing to spend money, especially when shopping online, and they prioritize short-term needs over long-term needs. The group is vulnerable to financial fraud in the practice of online loans with high-interest rates.  Christian education plays a role in influencing the millennial generation through the Christian Awareness Triangle, self-awareness, vision awareness, and mission awareness, namely with an andragogic approach that presents solutions to the needs of the millennial generation by changing styles towards biblical truth.  Abstrak Era digital ditandai perkembangan teknologi yang cepat, yang mempunyai dua sisi, sisi yang memberi manfaat dan sisi yang merugikan. Perubahan perilaku pembelian terlihat di kalangan milenial, generasi yang tumbuh dengan perkembagan teknologi dan komunikasi. Perilaku pembeliaannya bukan sekedar pemenuhan kebutuhan, cenderung berlebihan, bukan skala prioritas, melainkan motif, emosi, tantangan yang berkaitan dengan pencapaian kebahagiaan. Milenial dianggap paling rela mengeluarkan uang, terutama saat berbelanja online, dan mereka memprioritaskan kebutuhan jangka pendek daripada kebutuhan jangka panjang. Kelompok rentan terhadap penipuan keuangan dalam praktek pinjaman online dengan bunga tinggi.  Pendidikan Kristen berperan dalam mempengaruhi generasi milenial melalui Christian Awareness Triangle, kesadaran diri, kesadaran visi dan kesadaran misi yaitu dengan pendekatan andragogik yang menghadirkan solusi atas kebutuhan generasi milenial dengan mengubah gaya menuju kebenaran Alkitab.  
Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Membina Moral Siswa dari Latar Belakang Keluarga Fatherless Ruhut Parningotan Tambunan; Theresa Dian Christi; Yonatan Alex Arifianto
GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies Vol. 6 No. 1 (2026): GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies - July 202
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/grafta.v6i1.117

Abstract

The increasing number of students from fatherless families affects students’ moral formation, character, and spiritual development. The absence of a father figure reduces role modeling, supervision, and guidance, thereby increasing vulnerability to identity crises, deviant behavior, and weak Christian moral development. Christian Religious Education teachers play a strategic role in fostering students’ morality through exemplary behavior, spiritual guidance, and restorative educational relationships. This study aims to analyze the role of Christian Religious Education teachers in holistically fostering the morality of students from fatherless families. The study employs a descriptive qualitative approach using literature review and content analysis of relevant scientific literature. The results indicate that teachers serve as moral guides, spiritual mentors, and role models of Christian character through pastoral guidance, reflective learning, and educational relationships that strengthen students’ identity, integrity, and moral resilience. This study proposes the Restorative Christian Moral Formation (RCMF) Model, which integrates relational acceptance, spiritual mentoring, biblical character formation, collaborative care, and transformative moral practice as a framework for restorative moral formation. This model contributes both conceptually and practically to strengthening the moral formation of students from fatherless families within the context of contemporary Christian Religious Education. Abstrak Meningkatnya jumlah siswa dari keluarga fatherless memengaruhi pembentukan moral, karakter, dan perkembangan spiritual peserta didik. Ketiadaan figur ayah mengurangi keteladanan, pengawasan, serta pendampingan sehingga meningkatkan kerentanan terhadap krisis identitas, perilaku menyimpang, dan lemahnya perkembangan moral Kristiani. Guru Pendidikan Agama Kristen memiliki peran strategis membina moral siswa melalui keteladanan, pendampingan spiritual, dan relasi edukatif yang restoratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam membina moral siswa berlatar belakang keluarga fatherless secara holistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka dan analisis isi terhadap berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai pembimbing moral, mentor spiritual, dan teladan karakter Kristiani melalui pendampingan pastoral, pembelajaran reflektif, serta relasi edukatif yang memperkuat identitas, integritas, dan ketahanan moral siswa. Penelitian menawarkan Model Restorative Christian Moral Formation (RCMF) yang mengintegrasikan relational acceptance, spiritual mentoring, biblical character formation, collaborative care, dan transformative moral practice sebagai kerangka pembinaan moral restoratif. Model ini berkontribusi secara konseptual dan praktis dalam memperkuat pembinaan moral siswa fatherless pada konteks Pendidikan Agama Kristen kontemporer.
Kepemimpinan Kristen dan Peran Gereja dalam Membentuk Identitas Remaja pada Era Globalisasi Berbasis Iman Yedija Injili Damanik; Reni Triposa; Jeremia Joshua Christawan
GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies Vol. 6 No. 1 (2026): GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies - July 202
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/grafta.v6i1.118

Abstract

Globalization is reshaping adolescent identity formation through digital culture, pluralism, and contemporary social relations. Adolescents face a tension between Christian faith values and the dominant global popular culture. The church needs transformative leadership to shape adolescents’ Christ-centered identity, character, and life orientation. The phenomenon of digitalization exacerbates the identity crisis through social validation, moral relativism, and adolescent consumerism. This study aims to analyze the relationship between Christian leadership and the Church’s role in shaping faith-based adolescent identity. The study employs a qualitative literature review with descriptive-interpretive analysis of theological and social literature. The results indicate that relational leadership strengthens faith formation through exemplary behavior, dialogue, and mentoring of adolescents. The church, as a formative community, fosters character, spirituality, participation, and social responsibility among adolescents. This study proposes a Transformative Church Leadership Model for the formation of a contemporary faith-based adolescent identity. The model integrates Christ-Centered Identity, Relational Leadership, Participatory Community, Contextual Discipleship, and Digital-Cultural Engagement. Transformative church leadership strengthens Christian identity in the face of globalization, pluralism, and contemporary digital culture. Further research is recommended to test the model’s effectiveness through field studies and ongoing empirical approaches. Abstrak Globalisasi mengubah pembentukan identitas remaja melalui budaya digital, pluralitas, dan relasi sosial kontemporer. Remaja menghadapi ketegangan antara nilai iman Kristen dan budaya populer global yang dominan. Gereja membutuhkan kepemimpinan transformatif membentuk identitas, karakter, dan orientasi hidup remaja berbasis Kristus. Fenomena digitalisasi memperkuat krisis identitas melalui validasi sosial, relativisme moral, dan konsumerisme remaja. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan kepemimpinan Kristen dan peran gereja membentuk identitas remaja berbasis iman. Penelitian menggunakan studi pustaka kualitatif dengan analisis deskriptif-interpretatif terhadap literatur teologis dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan kepemimpinan relasional memperkuat formasi iman melalui keteladanan, dialog, dan pendampingan remaja. Gereja sebagai komunitas formatif menumbuhkan karakter, spiritualitas, partisipasi, dan tanggung jawab sosial remaja. Penelitian menawarkan Model Kepemimpinan Gereja Transformatif bagi pembentukan identitas remaja berbasis iman kontemporer. Model mengintegrasikan Christ-Centered Identity, Relational Leadership, Participatory Community, Contextual Discipleship, dan Digital-Cultural Engagement. Kepemimpinan gereja transformatif memperkuat identitas Kristiani menghadapi globalisasi, pluralitas, dan budaya digital kontemporer.