cover
Contact Name
Anugrahandini Nasir
Contact Email
anugrah-andini@uim-makassar.ac.id
Phone
+6285299481547
Journal Mail Official
ecoforest@uim-makassar.ac.id
Editorial Address
Eco Forest Journal merupakan jurnal ilmu kehutanan dan lingkungan yang diterbitkan oleh Program Studi Kehutanan Fakultas pertanian Universitas Islam Makassar. Jurnal ini akan menyajikan hasil-hasil penelitian dan pemikiran meliputi bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekowisata, Perencanaan dan Pengeloaan DAS, Hasil Hutan Bukan Kayu dan Kewirausahaan
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Eco Forest Journal
ISSN : 30484367     EISSN : 30484375     DOI : -
Jurnal Eco Forest menerbitkan artikel ilmiah yang berfokus pada semua aspek kehutanan dan lingkungan
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2025): Mei" : 4 Documents clear
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Dan Pemanfaatan Lahan Oleh Masyarakat Di DAS Pamukkulu nur, Rikhzan Ainun; Nurdin, Muhammad Rafly; Nasir, Anugrahandini; Sumange, La Sumange; Syafar, Abd Rahman
Jurnal Kehutanan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2025): Mei
Publisher : Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59638/ecoforest.v2i1.58

Abstract

Perubahan penggunaan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pamukkulu, Sulawesi Selatan, telah menyebabkan degradasi ekologis dan memengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan dalam kawasan hutan, pemanfaatan lahan oleh masyarakat, serta dampaknya terhadap pendapatan rumah tangga. Metode yang digunakan meliputi interpretasi citra Landsat 8 (2023) dengan uji akurasi confusion matrix (92,5%), wawancara masyarakat, dan analisis spasial. Hasil menunjukkan bahwa tutupan lahan didominasi oleh sawah (36,8%) dan pertanian lahan kering campur semak (30,4%), sementara hutan sekunder hanya tersisa 4,2%. Masyarakat memanfaatkan kawasan hutan untuk pertanian jagung, holtikultura, kedelai, dan sawah, dengan rata-rata pendapatan Rp3.069.512 per KK—lebih rendah dari Upah Minimum Provinsi (Rp3.434.298). Aktivitas pertanian paling tinggi terjadi di hutan lindung dan produksi, dengan pendapatan tertinggi dari holtikultura (Rp6.125.000) dan sawah irigasi (Rp3.780.000). Faktor pendidikan masyarakat yang rendah (SD-SMA) turut memengaruhi pola pemanfaatan lahan yang kurang berkelanjutan. Dampak ekologis berupa penurunan fungsi hidrologis DAS dan peningkatan limpasan permukaan telah teridentifikasi, memperparah risiko banjir di wilayah hilir. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tekanan ekonomi dan keterbatasan pengetahuan masyarakat mendorong alih fungsi lahan hutan secara masif, sehingga diperlukan kebijakan pengelolaan DAS berbasis ekosistem dan pemberdayaan ekonomi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada lahan hutan.
Potensi Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di Desa Benteng Gajah Kabupaten Maros Ismail, Ismail; Andraini, Dea Ekaputri; Herawaty, Herawaty; Asiz, Najma Ilmiawati; Alifiah, Putri; Syah, Muh Izzul Muslimin
Jurnal Kehutanan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2025): Mei
Publisher : Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59638/ecoforest.v2i1.63

Abstract

Desa Benteng Gajah, yang terletak di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, merupakan salah satu desa yang telah ditetapkan sebagai desa wisata rintisan sejak tahun 2021. Desa ini memiliki kekayaan bentang alam seperti perbukitan, sungai, air terjun musiman, serta lahan pertanian dan perkebunan yang menyatu dengan permukiman warga. Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal dalam pengembangan pariwisata berbasis alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis potensi Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di Desa Benteng Gajah berdasarkan enam kriteria: daya tarik, aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi sekitar kawasan, akomodasi, sarana dan prasarana, serta ketersediaan air bersih. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data primer melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta data sekunder melalui studi literatur. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dan accidental sampling untuk responden wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Benteng Gajah memiliki dua site wisata utama yakni Bulu Saukang dan Wisata Alam Bukit Bahagia. Keduanya memiliki karakteristik lanskap dan daya tarik yang berbeda namun saling melengkapi Bulu Saukang unggul dalam aspek petualangan dan pemandangan perbukitan, sedangkan Bukit Bahagia lebih bersifat rekreatif untuk keluarga. Secara umum, Desa Benteng Gajah memiliki potensi wisata alam yang tinggi dan layak dikembangkan secara berkelanjutan. Pengembangan ini perlu dilakukan dengan pendekatan berbasis komunitas dan dukungan perencanaan terpadu dari berbagai pemangku kepentingan.
PEMANFAATAN CITRA LANDSAT 8 UNTUK IDENTIFIKASI DAERAH RAWAN KEBAKARAN DI KECAMATAN BALOCCI KABUPATEN PANGKEP Mappiasse, Muh Faisal; Dzul Wal Iqram; Djafar, Muliana
Jurnal Kehutanan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2025): Mei
Publisher : Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59638/ecoforest.v2i1.67

Abstract

Salah satu kebakaran hutan di Provinsi Sulawesi Selatan terjadi di puncak Gunung Bulusaraung, di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Luas kebakaran hutan diperkirakan 2,5 hektar, disebabkan oleh aktivitas manusia saat mendaki Gunung. Untuk mengantisipasi kebakaran hutan, diperlukan teknologi untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan di Kecamatan Balocci, terutama di daerah rawan kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan daerah potensial berisiko kebakaran dan mengidentifikasi distribusi spasial dan jenis tutupan lahan yang paling rentan terhadap kebakaran di Kabupaten Balocci. Penelitian ini menggunakan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Temperature Condition Index (TCI), dan Vegetation Condition Index (VCI). Integrasi ketiga parameter ini (NDVI, VCI, dan TCI) membentuk kerangka kerja analisis holistik untuk memetakan daerah rawan kebakaran. Perkiraan daerah rawan kebakaran menghasilkan 132,41 ha daerah berisiko kebakaran di Kabupaten Balocci. Kawasan "sangat rentan" (15,29 ha) didominasi oleh semak belukar di Desa Balocci Baru (4,53 ha) dan pertanian lahan kering (3,56 ha) akibat kepadatan vegetasi yang rendah (NDVI min -0,06), kekeringan ekstrem (TCI ? 35), dan penurunan kesehatan vegetasi (VCI min 33). Sementara itu, kawasan "rentan" yang paling signifikan (117,12 ha) terdiri dari persawahan (34,19 ha; Desa Balleanging) dan pertanian lahan kering (32,68 ha), yang berpotensi menjadi koridor kebakaran di musim kemarau. Kerentanan tertinggi terdapat di Tonasa (19,20% kawasan rentan) dan Balocci Baru (3,42% sangat rentan). Sebaran ini dipicu oleh tekanan ekologis dan aktivitas manusia (pembukaan lahan di Tonasa). Upaya mitigasi prioritas harus difokuskan pada pengelolaan semak belukar (Balocci Baru), pengendalian pembakaran lahan kering (Tonasa), dan kewaspadaan terhadap lahan kering persawahan (Balleanging).
Klasifikasi Sistem Pola Agroforestry Kawasan Hutan Kemasyarakatan Desa Gantarang Kabupaten Sinjai arham, Arham
Jurnal Kehutanan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2025): Mei
Publisher : Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59638/ecoforest.v2i1.83

Abstract

Agroforestry represents a sustainable land management approach combining forestry andagricultural components to enhance rural livelihoods. This study examined agroforestry patternsimplemented by the Lestari Forest Farmer Group in Gantarang Village, Sinjai Regency, SouthSulawesi. Using descriptive qualitative methodology, data were collected through structuredinterviews and field observations involving 50 farmer respondents. Results revealed four distinctagroforestry systems: agrisilviculture dominated at 82%, followed by agrosilvopasture (12%),agrosilvofishery (4%), and silvopasture (2%). Three spatial arrangements were identified: randommixture (88%), tree along border (8%), and alternate rows (4%). Dominant forestry species includedteak (Tectona grandis), mahogany (Swietenia mahagoni), and nutmeg (Myristica fragrans), whileagricultural crops comprised cassava and pepper. Most farmers (88%) managed 0.5-1 hectare plotswith 2-3 years experience. Male participation predominated (88%) with basic education levels (64%primary school). The random mixture pattern prevailed due to traditional practices and economicdiversification benefits. Agrisilviculture's dominance reflected farmers' preference for familiaragricultural practices over complex integrated systems. Key challenges included limited technicalknowledge, capital constraints, and market access issues. The study demonstrates agroforestry'spotential for sustainable land use and income diversification, though targeted extension servicesand capacity building remain essential for optimal implementation and long-term sustainability.

Page 1 of 1 | Total Record : 4