cover
Contact Name
Khamsil Laili
Contact Email
khamsillaili@gmail.com
Phone
+6287866203050
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Articles 215 Documents
Pengembangan Kreativitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs An Najah Matanair Rubaru Sumenep Kulsum, Ummi
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 1 (2020): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan kreativitas pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan oleh setiap elemen Pendidikan, khususnya bagi tenaga pendidik atau guru untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran secara materiil atau pun secara metodologi dan substansinya. Secara materiil salah satunya adalah dari aspek bahan ajar yang disesuaikan dengan pengembangan pengetahuan, bahwa kreativitas pembelajaran pendidikan agama Islam merupakan suatu proses dimana guru dapat menunjukkan kepada siswa tentang aturan atau struktur yang mendasarinya, kemudian membiarkannya sendiri dan membuat kalimat baru. Metode pembelajaran PAI di MTS An-Najah Matanair yang dapat digunakan untuk menyampaikan materi kepada siswa-siswi sebagai berikut: Metode ceramah, metode demonstrasi, dan metode diskusi. Sedangkan media atau alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran Pendidikan agama Islam di MTS An-Najah Matanair di antaranya sebagai berikut; papan tulis, poster, dan LCD. Pengembangan metode pembelajaran merupakan suatu bentuk kreativitas dalam proses belajar mengajar, karena peserta didik tidak hanya dituntut untuk menyimak materi yang disampaikan oleh guru, tetapi mereka diberikan kesempatan untuk bertanya, bahkan mereka juga diberikan waktu untuk mendiskusikan materi yang akan dipelajari di kelas. The development of learning creativity is an effort made by every element of education, especially for educators or teachers to improve the quality of the learning process in material or methodologyand its substance. Materially, one of them isfrom the aspect of teaching materials which is adapted to the development of knowledge. The creativity of learning Islamic religious education is a process where Islamic religious education teachers can show students about the underlying rules or structures, then let them do it themselves and creating new sentences. In the PAI learning method at MTS an Najah Matanair that can be used by teachers in delivering material to students, namely the lecture method, the method of demonstration, and the method of discussion. While the visual media used in Islamic Education learning at MTS an Najah are blackboards, posters, LCD. Meanwhile, developing learning methods is a from of creativity in the teaching and learning process, because student are not only required to listen to the material presented by the teacher, but they are given the opportunity to ask questions, even discuss the material to be learned in class.
Literasi Al-Qur’an Dalam Mempertahankan Survivalitas Spritulitas Umat Aisyah, Siti
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 1 (2020): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur’an adalah salah satu kitab suci agama islam . al-qur’an di dalamnya berisi pelajaran dalam memberikan pedoman bagi seluruh umat muslim baik laki-laki atau perempuan. Mempelajari,memahami serta mengamalkan tentang isinya Al-Qur’an adalah merupakan suatu kewajiban bagi semua umat islam. Kita kalah dengan bagi penyandang tunanetra yang memiliki semangat yang luar biasa dalam mempelajari Al-Qur’an sehingga mereka bisa hafal Al-Qur’an luar biasa. Alquran diturunkan secara berangsur-angsur. Tujuannya agar lebih mudah dipahami, dihafal, serta diamalkan. Cara seperti ini, maka Nabi Muhammad SAW akan memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang diajukan oleh umatnya maupun orang-orang kafir. Tidak ada bacaan yang lebih hebat di sisi Allah, Malaikat, dan Rasul-Nya selain al-Quran. Marilah memperbanyak membaca Alquran, meresapi setiap maknanya, kemudian dihafalkan dan selanjutnya diamalkan. Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar dalam sejarah ke Rasulan telah terbukti mampu menampakan sisi kemukjizatannya luar biasa, bukan hanya eksistensinya yang tidak pernah rapuh dan kalah oleh tantangan zaman, tetapi Al-Qur’an juga mampu membaca setiap detik perkembangan zaman, sehingga memuat kitab suci yang diturunkan kepada nabi muhammad ini selalu relevan dan sangat absah menjadi refrensi kehidupan umat manusia. Dengan begitu, kita akan menjadi manusia yang paling beruntung. Meski membacanya dianggap sebagai sebuah bentuk ibadah, kita masih sering membaca yang lain ketimbang Alquran. Al-Quran is one of the holy books of Islam. Al-quran contains lessons in providing guidelines for Muslims. Therefore, studying, understanding and practicing Al-Qur'an is an obligation for muslim. Al-Qur'an was revealed gradually. The goal is to make it easier to understand, memorize, and practice. In this way, Muhammad SAW will make it easier to provide answers to various questions raised by both his followers and non-believers. There is no greater than the Angels and His Messenger than the holy Al-Qur'an. Therefore, let us read more of the holy Al-Qur'an, absorb each meaning, then memorize it and then practice it. Al-Qur'an as the greatest miracle in the history of the Apostle has proven to be able to show its extraordinary miracles, not only its existence is never fragile and defeated by the challenges of the times, but the Qur'an is also able to read every second of the times, so that containing the holy book that was revealed to Muhammad is always relevant and very valid as a reference for human life. That way, we will be the luckiest humans. Unfortunately, even though reading it is considered a form of worship, we still often read something different than the holy Al-Qur'an
Kyai Feminis (Studi Peran Kh. Husein Muhammad dalam Perjuangan Islam Ramah Perempuan) ., Fathorrahman
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 1 (2020): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wacana kesetaraan laki-laki dan perempuan selalu aktual untuk dibahas dan dikaji ulang.Banyaknya pelanggaran Hak Asasi Manusia terutama menyangkut perempuan seperti kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan perempuan dan perbudakan terselubung pada masa modern ini, ternyata masih banyak merundung kehidupan perempuan.Islam sebagai agama perdamaian dan berkat bagi seluruh alam dan makhluk pada prinsipnya sangat menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan, keadilan, dan kemaslahatan bagi semua umat manusia, baik laki-laki dan perempuan.Teks-teks agama seperti Qur’an secara eksplisit menegaskan ajaran egaliter tersebut.Jika kemudian terjadi ketidakadilan terhadap perempuan, itu semata-mata akibat tafsiran terhadap teks yang cenderung melegitimasi penindasan terhadap perempuan. Tafsiran yang bias tersebut kemudian dengan kuat mewarnai cakrawala pemikiran Islam sebagai contoh di pesantren. Pesantren dengan kyai dan nyai sebagai transformer utama, mempunyai peran yang signifikan dalam meredam ketidakadilan dan ketimpangan terhadap eksistensi perempuan.KH.Husein Muhammad adalah salah satu tokoh dari kalangan pesantren yang selalu gigih dalam aksi nyata dan ijtihad serius menafsir kembali teks-teks agama.Dengan usahanya yang konsisten tersebut, maka layaklah di disebut sebagai kyai feminis yang memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan, tanpa melepaskan pijakannya pada teks-teks keagamaan klasik. Sehingga, lewat aksi dan ijtihadnya tampillah Islam sebagai agama yang ramah perempuan. The discourse of equality of men and women are always actual to be discussed and examined again. The number of violations of Rights Human Human especially concerning women such as violence in the home ladder, trafficking of women and slavery veiled at thismodern times, it turns out is still a lot to afflict the lives of women. Islam as a religion of peace and blessing for the entire universe and the creatures in principle very upholds the values of humanity. Islam upholds high values of equality, justice, and the benefit for all humans beings, both male and female . The texts of the religion such as the Koran is explicitily confirms the teachings of it egalitarian. If then there is injustice against women, it is solely due to interpretation of the text which tends to legitimize the oppression of women. The bias interpretation coloring the horizon of thought of Islam strongly as an example in boarding schools. Pesantren with Kyai and Nyai as a transformer primary, has a role that is significant in the muffle injustice and inequality against the existence of women. KH. Husein Muhammad is one of the leaders of the schools are always persistent inreal action and serious ijtihad;reinterpret the texts of religion. With his efforts were consistently mentioned , it is worth in the known as Kyai feminists who fight for the equality of men and women , without releasing his footing on the texts of classics religious.Thus, through his actions and ijtihad, Islam has emerged as a woman- friendly religion.
Ulama dan Politik di Indonesia Pasca Reformasi ., Safradji
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 1 (2020): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Partai politik merupakan elemen penting dalam negara demokrasi. Salah satu fungsi dari dibentuknya partai politik Sejak runtuhnya rezim Orde baru (ORBA) dibawah kepemimpinan H. M. Soeharto dan bergulirnya era reformasi sebuah gerakan yang menuntut era reformasi disegala bidang baik reformasi politik, ekonomi, hukum, sosial dan budaya bermunculan partai politik. Ulama dan politik kadang tak bisa dipisahkan. Sejarah membuktikan keterlibatan mereka dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Saat pemilu sudah diambang pintu, ulama kembali menjadi sorotan bahkan direbutkan masing-masing ORSOSPOL yang akan bertarung dalam pemilu. Mereka saling berupaya untuk menyeret tokoh informal dan kharismatik ini kedalam kanca politik praktis. Maka bertaburkanlah sejumlah nama ulama, kiayi, ajengan sampai muballigh dalam calon legislative setiap ORSOSPOL.sebagai institusi politik yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan politik kepada kader partai politik maupun kepada masyarakat luas. Sistem politik yang demokrasi partai politik menjadi pilihan sebagaialat untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan negara. Pendidikan politik merupakan usaha untuk mewujudkan demokrasi Indonesia yang sehat dan berkualitas. Selain itu, berakibat rendahnya tingkat kualitas kader partai politik dalam mendorong perbaikan kehidupan masyarakat. Implikasi peran partai politik dalam pendidikan politik generasi muda terhadap ketahanan politik wilayah berdampak pada rendahnya partisipasi politik masyarakat dan rendahnya tingkat peran serta masyarakat dalam pembuatan serta pengawasan kebijakan publik. Ulama and politics are sometimes inseparable. History proves their involvement in the struggle for independence. When the election was approaching, the clerics were back in the spotlight and were even won over by each of the ORSOSPOLs that were going to contest the election. They mutually endeavor to drag these informal and charismatic figures into practical politics. So the names of ulama, kiayi, ajengan and muballigh are scattered in the legislative candidates of each ORSOSPOL. as a political institution that is responsible for providing political education to cadres of political parties and to the wider community. A political system with a democratic political party is the choice as a tool to realize the ideals of the nation and state. Political education is an effort to create a healthy and quality Indonesian democracy.In addition, it results in low quality levels of political party cadres in encouraging the improvement of people's lives. The implications of the role of political parties in the political education of the younger generation on regional political resilience have an impact on the low level of community political participation and the low level of community participation in the making and supervision of public policies
Nilai-Nilai Pendidikan Anti Kekerasan dalam Buku Ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas X dan XI SMA Pradana, Fahrizal Ibnu
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 2 (2020): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang penelitian ini berawal dari banyaknya tindak kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan terutama di sekolah. Pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menanamkan akhlak dan budi pekerti yang baik justru menjadi tempat menjamurnya tindak kekerasan. Pendidikan anti kekerasan merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meminimalisir adanya tindak kekerasan di dunia pendidikan. Pendidikan anti kekerasan tersebut dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, sehingga penelitian ini difokuskan pada kandungan nilai pendidikan anti kekerasan dalam buku ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas X dan XI SMA. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan. Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan dokumentasi. Penelitian ini mengggunakan pendekatan psikologi pendidikan, dan analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik Analisis isi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan nilai Pendidikan Anti Kekerasan dalam Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA Kelas X dan XI mencakup lima nilai/aspek yaitu saling percaya, kerja sama, tenggang rasa, penerimaan terhadap perbedaan, serta penghargaan terhadap kelestarian lingkungan. Nilai-nilai ini terdapat dalam 9 bab pada buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas X, serta 8 bab dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XI. The background of this research originated from the many acts of violence that occurred in the education world, especially in schools. Schools that should be a place to instill good characters is becoming a place for violence to growing rapidly. Non-violence education is an alternative that can be used to minimize violence behavior in the education world. Non-violence education can be integrated in student’s subjects especially in Islamic Religious Education subject, so this research is focused on the content of non-violence education in Islamic Religious Education subject for Class X and XI Senior High Schools. Type of this research is library research with data collection is using documentation. This study uses an educational psychology approach, and data analysis is performed using content analysis techniques. The results of this study indicate that the value of Non-Violence Education in Islamic Religious Education subject for Class X and XI Senior High Schools includes five values​/aspects : mutual trust, cooperation, tolerance, acceptance of differences, and respect for environmental sustainability. These values ​​are contained in 9 chapters in the textbook of Islamic Religious Education for Class X, and 8 chapters in the book of Islamic Religious Education and Class XI Characteristics.
Dialogisasi Pesantren, Politik, dan Perempuan (Analisis terhadap Gaya Politik dan Resolusi Konflik ala Gus Dur) Hasanah, Ulfatun
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 2 (2020): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini menekankan pada penyelesain konflik yang terjadi di pesantren melalui kiprah Gus Dur dalam diplomasi politiknya yang cenderung fun. Pola politik Gus Dur yang menggunakan ‘arus-balik’ dengan beberapa kebijakan yang menekankan pada diplomasi-bilateral berbuah output yang khas. Pertama, menekan resiko kegagalan dari distorsi implementasi yang melenceng. Kedua, terhindarnya penciptaan ‘musuh indonesia’ pada asumsi awal. Ketiga, manuver praktis jadi lebih lugas karena format negosiasi bilateral berlandaskan prinsip one-by-one. Gaya penyelesain konflik ini dinilai sangat pas apabila dihadapkan pada persoalan pesantren, baik konflik di internal pesantren sendiri, maupun eksternal yang apabila dihadapkan pada politik dan perempuan sering mengalami deadlock. Diplomasi ala Gus Dur merangkum empat tahapan yang ditawarkan dalam resolusi konflik pesantren; silaturrahim, bahtsul masail, tabayun, dan Islah. Dengan demikian, resolusi konflik pesantren ini pada dasarnya adalah penerimaan terhadap Gus Dur sebagai representatif presiden- santri dalam melakukan dialog dan kerjasama yang lebih intens dan transparan untuk menghindari dan menyelesaikan sebuah konflik. This study emphasizes resolving conflicts that occur in pesantren through Gus Dur's work in political diplomacy which tends to be fun. Gus Dur's political pattern uses backflow with a number of policies that emphasize bilateral diplomacy bearing fruitful output. First, reduce the risk of failure from distorted implementation distortions. Secondly, the avoidance of the creation of Indonesian enemies in the initial assumptions. Third, practical maneuvers are more straightforward because the bilateral negotiation format is based on the one-by-one principle. This style of conflict resolution is considered to be very appropriate when faced with pesantren issues, both internal conflicts within the pesantren itself, and externally which when confronted with politics and women often being deadlocks. Gus Dur's diplomacy summarizes the four stages offered in pesantren conflict resolution; silaturrahim, bahtsul masail, tabayun, and Islah. This pesantren conflict resolution is basically acceptance of Abdurrahman as the president-santri representative in conducting more intense and transparent dialogue and cooperation to avoid and resolve a conflict.
Studi Komparasi Prestasi Belajar Bahasa Arab Antara Peserta Didik Dengan Motivasi Agama Dan Motivasi Karir Di Lembaga Kursus Jogja Course Center Yogyakarta Setiawan, Ikhsan
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 2 (2020): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prestasi belajar bahasa Arab Peserta didik dengan motivasi agama dan peserta didik dengan motivasi karir, serta perbedaan prestasi bahasa Arab antara keduanya.Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, di Lembaga Kursus Jogja Course Center (JCC) Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Rata-rata Prestasi belajar bahasa Arab peserta didik dengan motivasi agama mempunyai nilai rata-rata 69,7. 2) Prestasi belajar bahasa Arab yang dicapai peserta didik dengan motivasi karir mempunyai nilai rata-rata 72,8. 3) Berdasarkan hasil uji tes yang peneliti lakukan, menunjukan bahwa besarnya t0 adalah 1,312 sedangkan besarnya tt.ts5% dan tt.ts1% yakni 2,05 dan 2,76, maka dapat diketahui t0 lebih kecil daripada tt, yaitu : 2,05>1,312<2,76 karena t0 lebih kecil daripada tt, maka hipotesis nihi (Ho) diterima. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar bahasa Arab antara peserta didik yang mempunyai motivasi agama dengan peserta didik yang mempunyai motivasi karir tidak terdapat perbedaan yang signifikan. This is a field research in the form of methode research type. The methode to find data’s is observation, interview, documentation and questioner. Then the technic to croos check about validity of data’s is validity, reability, normality and homogeneity test. Technic of analyze data’s is sample t test. The results of this study show that: 1) Average Arabic learning achievement of students with religious motivation has an average value of 69.7. 2) Arabic learning achievement achieved by students with career motivation has an average score of 72.8. 3) Based on the results of test tests that the researchers conducted, it shows that the magnitude of t0 is 1.312 while the magnitude of tt.ts5% and tt.ts1% is 2.05 and 2.76, so it can be seen that t0 is smaller than tt, namely: 2.05 > 1.312 <2.76 because t0 is smaller than tt, so the null hypothesis (Ho) is accepted. So it can be concluded that the learning achievement of Arabic among students who have religious motivation with students who have career motivation has no significant difference.
Program Pembelajaran Al Qur’an dalam Rangka Mencetak Mahasiswa Generasi Qur’ani ditengah Persaingan Global (Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly ) Al Faruq, Umar
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 2 (2020): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pembelajaran al Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terbilang baik. Meskipun tidak seluruh alumninya memiliki kemampuan yang baik dalam membaca dan menulis al Qur’an (BTQ). Hal ini terbukti dengan prestasi yang diraih oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai kampus dengan indeks baca tulis al Qur’an terbaik diantara seluruh UIN yang ada di Indonesia. Tulisan ini akan mengkaji dan menganalisa bagaimana juhud MSAA dalam mencetak mahasiswa generasi Qur’ani yang mampu membaca dan menulis al Qur’an dengan baik dan benar. Penelitian ini adalah studi kasus di lapangan dengan sumber data dari mudir ma’had, staff ma’had dan para mu’allim al Qur’an serta mahasantri. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi lalu dianalisa secara mendalam. Hasil penelitian adalah bahwa pembelajaran al Qur’an di MSAA berlangsung sistematis dan terstruktur, masif dan terkontrol dengan baik. MSAA memiliki program tashih sebagai upaya evaluasi bacaan al Qur’an mahasantri yang sangat implementatif, efektif dan riil hasilnya. Hasilnya pada tahun 2019 mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menduduki indeks teratas dari segi kemampuan BTQ dibandingkan UIN di Indonesia. Selain itu semua stakeholder MSAA juga terlibat aktif dalam program kegiatan tersebut. The learning system of Qur'an in Ma'had Sunan Ampel Al-'Aly (MSAA) of Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang is good enough. Although not all graduates of this institution have a good ability to read and write the Qur'an (BTQ). This is evidenced by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University of Malang as a campus with the best index in reading and writing of Qur’an among all State Islamic University (UIN) in Indonesia. This article will examine and analyse how MSAA's efforts in creating Qur'anic generation students which have ability to read and write the Qur'an well and correctly. This research is a case study in the field with data sources from Directure of Ma'had, Staff of Ma'had and Mu'allim of Qur'an and Mahasantri (students). Data obtained through observations, interviews and documentation studies and then analyzed deeply. The results of the study are that the study of the Qur'an in MSAA lasts systematically and is structured, massive and well controlled. MSAA has a tashih program as an effort to evaluate the Qur'an recitation of Mahasantri is very implemented, effective and real results. As a result, in 2019 students UIN Maulana Malik Ibrahim Malang occupied the top index in terms of BTQ capability compared to UIN in Indonesia. In addition, all MSAA stakeholders are also actively involved in the program.
Strategi Pendidikan Dan Dakwah Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari ., Fathorrahman
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 4 No. 2 (2020): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesultanan Banjar telah berdiri dengan Islam sebagai agama resminya sejak abad ke-15, namunpemeluk Islam hanyalah minoritas di tengah di kalangan penduduk.Mereka hanyalah terbatas orang-orang Melayu Islam dan belum mampu masuk secara cepat ke kalangan suku Dayak. Pun di kalangan kaum Melayu kepatuhan hanya terbatas pada pengucapan syahadat belaka. Tidak ada usaha yang serius dari para penguasa pada saat itu untuk memajukan kehidupan Islam. Namun ternyata mereka telah menggunakan tulisan Arab dalam berkorespondensi dengan penguasa-penguasa lain di Nusantara, pun juga dengan Inggris dan Belanda. Usaha-usaha yang intens hanya di lakukan oleh para da’i keliling dalam melakukan islamisasi di wilayah ini, namun mengalami kemajuan yang sedikit. Adalah seorang ulama yang paling terkenal dari tanah Borneo yang berusaha melancarkan islamisasi secara kuat yaitu Muhammmad Arsyad al- Banjari. Syekh keturunan Alawiyyin ini adalah tipikal seorang ulama yang berhasil ‘mengislamkan’ masyarakat Banjar dengan gigih sehingga Islam mampu menjadi agama mayoritas di tanah Borneo tersebut. Salah kecermelangan strategi dakwahnya adalah dengan selalu menggandeng tangan penguasa dalam menghidupkan Islam di hati masyarakat. The Sultanate of Banjar has stood with Islam as its official religion since the 15th century, but Muslims are only a minority in the middle among the population. They are only limited to Muslim Malays and have not been able to quickly enter the Dayak tribe. Even among the Malays, obedience is limited to the recitation of the shahada. There was no serious attempt by the rulers at that time to advance the life of Islam. However, it turned out that they had used Arabic script in their correspondence with other rulers in the archipelago, also with England and the Netherlands. There are only intense efforts made by itinerant da'is in carrying out the Islamization of the region, but there has been little progress. Is the most famous scholar from the land of Borneo who tried to carry out a strong Islamization, namely Muhammmad Arsyad al-Banjari. This Shaykh of Alawiyyin descent is a typical scholar who has succeeded in 'Islamizing' the Banjar people so persistently so that Islam is able to become the majority religion in the land of Borneo. One of the cleverness of his preaching strategy is to always take the hands of the authorities in reviving Islam in the hearts of the people.
Analisis Pemilihan Plat Form Pembelajaran IPS MI/SD Ditengah Pandemi Bagi Mahasiswa PGMI IAIN Madura ., Suhantoro
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 5 No. 1 (2021): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif pembelajaran IPS di MI/SD ditengah pandemi saat ini. Pendidikan IPS adalah mata pelajaran yang mengkaji kehidupan sosial yang bahannya didasarkan pada kajian sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi dan tata negara. Melalui pembelajaran ilmu pengetahuan sosial dapat di masukkan nilai-nilai pendidikan karakter dengen mengintegrasikan materi dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial tersebut.Dalam rancangan pembelajaran guru hendaknya diarahkan dan difokuskan sesuai dengan kondisi dan perkembangan potensi siswa agar pembelajaran yang dilakukan benar-benar berguna dan bermanfaat bagi siswa, sehingga mereka mampu menjadikan apa yang dipelajarinya sebagai bekal dalam memahami dan ikut serta dalam melakoni kehidupan masyarakat di lingkungannya. Apalagi ditengah pandemi saat ini yang tidak memungkinkan pembelajaran tatap muka. Sehingga dilakukan pembelajaran melalui daring. Tetapi didalam diberlakukan sesuatu tersebut pasti ada kendala yang dihadapi. This study aims to determine how effective social studies learning in MI / SD on in the midst of the current pandemic. Social studies education is a subject that examines social life whose material is based on historical studies, geography, economics, sociology, anthropology and state administration. Through social science learning, the values ​​of character education can be entered by integrating the material in social science learning. In the learning design the teacher should be directed and focused according to the conditions and potential development of students so that the learning carried out is truly useful and beneficial for students. , so that they are be able to make what they learn as provisions in understanding and participating in living the life of the community in their environment. Especially in the midst of the current pandemic which does not is allow face-to-face learning. So that learning is carried out online. But in being put into effect, there must be obstacles to be faced.

Page 7 of 22 | Total Record : 215