cover
Contact Name
Abdul Qawwiy Nasrun
Contact Email
anabdulqawwiy@gmail.com
Phone
+6281241972604
Journal Mail Official
anabdulqawwiy@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta, 55821
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Moderasi
ISSN : 28092376     EISSN : 2809221X     DOI : 10.14421
Jurnal Moderasi: The Journal of Ushuluddin, Islamic Thought, and Muslim Societies merupakan jurnal akademik yang didedikasikan untuk menerbitkan artikel-artikel akademik berkualitas peneliti muda (mahasiswa S1, S2, dan S3). Jurnal ini dikeluarkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Redaksi menerima tulisan di bidang ilmu-ilmu Ushuluddin, meliputi Akidah dan Filsafat Islam, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Hadis, Sosiologi Agama, Antropologi Agama, Studi Agama-agama, dan Politik Islam dan Muslim Societies.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "vol. 6 no. 2 (2026)" : 5 Documents clear
Resepsi Al-Qur'an dalam Konstruksi Ruang dan Waktu Sakral : Studi Etnografi Khataman Jumat Legi di Makam Desa Tobai Timur, Sampang Moh. Alfarizi Putra
Jurnal Moderasi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2026.62.02

Abstract

The tradition of completing the recitation of the Qur’an every Friday Legi at the cemetery in Tobai Timur Village, Sokobanah, Sampang, is a religious practice known as “Khataman Jumat Manisan.” It has developed organically without formal coordination, yet takes place simultaneously across hamlets. This phenomenon has not yet been studied in depth from the perspective of the Living Qur’an, particularly regarding its dimensions of reception, symbolism, and social function. This study aims to analyze the practice, symbolic meanings, and functions of this tradition for the lives of the local community. The method employed is ethnography from James Spradley’s perspective, utilizing participant observation, in-depth interviews, and documentation at the research site. The findings reveal that this tradition originated from the transmission and transformation of the khataman practice from domestic spaces to the cemetery area around 2015, spearheaded by local figures. Symbolically, time (Friday Legi as sayyidul jumat) and space (the grave as ḥablun mina al-qubūr) are interpreted as a single spiritual unity that strengthens the community’s transcendental orientation by seeking blessings, reinforcing social solidarity, and serving as a means of transmitting spiritual and moral values. This study contributes to expanding the study of the Living Qur'an by demonstrating that the reception of the Qur'an is not merely textual but is also manifested in the construction of space, time, and social solidarity. Tradisi khataman Al-Qur’an setiap Jumat Legi di makam Desa Tobai Timur, Sokobanah, Sampang, merupakan praktik keagamaan yang dikenal sebutan “Khataman Jumat Manisan” dan berkembang organik tanpa koordinasi formal, namun berlangsung serempak lintas dusun. Fenomena ini belum dikaji secara mendalam dari perspektif Living Qur'an, khususnya menyangkut dimensi resepsi, simbolisme, dan fungsi sosialnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik, pemaknaan simbolik, dan fungsi tradisi tersebut bagi kehidupan masyarakat setempat. Metode yang digunakan adalah etnografi perspektif James Spradley, melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi di lokasi penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini bermula dari transmisi dan transformasi praktik khataman dari ruang domestik ke area pemakaman sekitar tahun 2015, yang dipelopori tokoh-tokoh lokal. Secara simbolik, waktu (Jumat Legi sebagai sayyidul jumat) dan ruang (makam sebagai ḥablun mina al-qubūr) dimaknai sebagai satu kesatuan spiritual yang memperkuat orientasi transendental komunitas dengan mengharap keberkahan, memperkuat solidaritas sosial, dan berperan sebagai sarana transmisi nilai spiritual dan moral. Penelitian ini berkontribusi dalam memperluas kajian Living Qur'an dengan menunjukkan bahwa resepsi Al-Qur'an tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga terwujud dalam konstruksi ruang, waktu, dan solidaritas sosial.
Dari Teks ke Layar: Pergeseran Media Penafsiran M. Quraish Shihab atas Makna Kafir dalam Tafsīr Al-Mishbāh dan Kajian Tafsir Digital di Youtube Dilla Azhara; Imas Lu'ul Jannah
Jurnal Moderasi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.%x

Abstract

This article aims to examine how the shift from text-based to digitally mediated oral exegesis shapes the construction and contextual emphasis of the term kafir in M. Quraish Shihab's interpretation. Employing a qualitative comparative method, the study analyzes Shihab's interpretation of kafir in Tafsīr Al-Mishbāh alongside his exegetical remarks delivered as a resource person in YouTube-based tafsir sessions, focusing on Q.S. Āli 'Imrān: 28, Al-Baqarah: 6–7, Al-Kahfi: 29, Ibrāhīm: 7, and Al-Kāfirūn: 1–6, read through Walter Ong's concept of secondary orality and Stig Hjarvard's theory of media mediatization. The findings reveal a clear contrast in interpretive style: Tafsīr Al-Mishbāh presents meaning systematically and argumentatively through dense scholarly apparatus, whereas the YouTube sessions favor repetition, localized illustrations, and a dialogical structure shaped by the presence of an interviewer and an anticipated audience, consistently stripped of the technical scholarly elaboration found in the text. By tracing a single mufassir's interpretation across textual and digital media, this study offers a closer view of how medium characteristics construct and emphasize religious meaning without altering its underlying theological substance.Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pergeseran dari penafsiran berbasis teks menuju penafsiran lisan yang termediasi digital membentuk konstruksi dan penekanan kontekstual atas istilah kafir dalam penafsiran M. Quraish Shihab. Dengan menggunakan metode kualitatif komparatif, penelitian ini menganalisis penafsiran Shihab atas kafirdalam Tafsīr Al-Mishbāh serta pernyataan-pernyataan penafsirannya sebagai narasumber dalam kajian tafsir berbasis YouTube, dengan fokus pada Q.S. Āli 'Imrān: 28, Al-Baqarah: 6–7, Al-Kahfi: 29, Ibrāhīm: 7, dan Al-Kāfirūn: 1–6, dibaca melalui konsep oralitas sekunder Walter Ong dan teori mediatisasi agama Stig Hjarvard. Temuan penelitian menunjukkan kontras yang jelas dalam gaya penafsiran: Tafsīr Al-Mishbāh menyajikan makna secara sistematis dan argumentatif melalui aparatus keilmuan yang padat, sementara kajian di YouTube lebih menonjolkan repetisi, ilustrasi yang dilokalkan, dan struktur dialogis yang dibentuk oleh kehadiran pewawancara serta antisipasi terhadap audiens, yang secara konsisten melepaskan elaborasi keilmuan teknis yang terdapat dalam teks. Dengan menelusuri penafsiran seorang mufasir tunggal melintasi media tekstual dan digital, penelitian ini menawarkan gambaran yang lebih dekat tentang bagaimana karakteristik medium mengonstruksi dan menekankan makna keagamaan tanpa mengubah substansi teologisnya.
Hermeneutika Hayāh: Fusi Horizon Makna Kehidupan dalam Tafsir Ibn Kathīr dan Prinsip Hak Hidup Universal Ahmad Najih Nabhan ‘Amar
Jurnal Moderasi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2026.62.02

Abstract

Abstract This study examines the conceptual tension between the understanding of qiṣāṣ in classical exegesis, which is often positioned as a legitimization of capital punishment for the sake of preserving life, and the modern human rights paradigm that places the right to life as a non-derogable principle. Using the philosophical hermeneutics of Hans-Georg Gadamer, this study  dialogues the horizon of Ibn Kathīr's interpretation with the context of penal code reform in Indonesia. The findings show that the meaning of ḥayāh in QS. al-Baqarah: 179 should not be narrowed down solely to physical survival. Through the process of fusion of horizons, the principle of ḥifẓ al-nafs in Ibn Kathīr's exegesis meets the spirit of contemporary national law, which places capital punishment as a last resort with a probationary period. Ibn Kathīr's emphasis on forgiveness and ḍiyyah (blood money) also finds actual relevance in the restorative justice approach. This study concludes that qiṣāṣ can be constructively reinterpreted as an instrument for social restoration and offender rehabilitation, without itself being detached from universal human values.   Abstrak Penelitian ini mengkaji ketegangan konsep antara pemahaman qiṣāṣ dalam tafsir klasik yang kerap diposisikan sebagai legitimasi hukuman mati demi menjaga keberlangsungan hidup, dan paradigma Hak Asasi Manusia (HAM) modern yang menempatkan hak hidup sebagai prinsip yang tidak dapat dikurangi. Dengan pendekatan hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer, kajian ini mendialogkan cakrawala penafsiran Ibnu Katsir dengan konteks pembaruan hukum pidana di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa makna ḥayāh dalam QS. Al-Baqarah: 179 tidak seharusnya dipersempit pada perekaman fisik semata. Melalui proses peleburan cakrawala , organisasi ḥifẓ al-nafs dalam tafsir Ibnu Katsir bertemu dengan semangat hukum nasional kontemporer yang menempatkan hukuman mati sebagai alternatif terakhir dengan masa percobaan. Penekanan Ibnu Katsir pada nilai pemaafan dan qiṣāṣ  juga menemukan relevansi aktual dalam pendekatan restorative justice . Penelitian ini menyimpulkan bahwa qiṣāṣ dapat memperbarui ulang secara konstruktif sebagai instrumen pemulihan sosial dan rehabilitasi pelaku, tanpa melepaskan diri dari nilai-nilai kemanusiaan universal
Diversitas Agama dan Implikasinya Terhadap Demokrasi: Studi Komparatif Aceh dan Yogyakarta Elicia Eprianda
Jurnal Moderasi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.%x

Abstract

This article examines the relationship between religious diversity and local democratic practice in Indonesia through a comparative study of Aceh and Yogyakarta. In a religious society, democracy is shaped by formal institutions but also by moral configurations and power relations at the local level. The study explains how variation in religious governance produces different forms of democracy while yielding similar democratic consequences. Using a comparative qualitative case-study approach, the article combines policy analysis, literature review, and secondary data on civil liberties and minority experiences. The theoretical framework of local political settlement explains how political actors, religious authorities, and civil society construct moral-political compromises that sustain the legitimacy of local power. The results show that although Aceh formalizes religion through sharia regulations while Yogyakarta relies on cultural mechanisms and informal social pressure, both regions produce a pattern of moralistic democracy marked by limited civil liberties and moral pressure on minority groups. These findings confirm that religious diversity does not automatically strengthen substantive democracy but is negotiated within boundaries set by local political settlements. The article contributes to the study of Indonesian democracy by showing the importance of reading democracy as a mosaic of local variations rather than a homogeneous national experience. Abstrak Artikel ini menganalisis hubungan antara diversitas agama dan praktik demokrasi lokal di Indonesia melalui studi komparatif Aceh dan Yogyakarta. Dalam masyarakat religius, demokrasi tidak hanya ditentukan oleh institusi formal, tetapi juga oleh konfigurasi moral dan relasi kekuasaan yang berkembang di tingkat lokal. Penelitian ini menjelaskan bagaimana variasi pengelolaan agama menghasilkan bentuk demokrasi yang berbeda namun memperlihatkan konsekuensi demokratis yang serupa. Dengan pendekatan kualitatif komparatif berbasis studi kasus, artikel ini menggabungkan analisis kebijakan, kajian literatur, serta data sekunder mengenai kebebasan sipil dan pengalaman kelompok minoritas. Kerangka teoritik kesepakatan politik lokal digunakan untuk memahami bagaimana aktor politik, otoritas keagamaan, dan masyarakat sipil membangun kompromi moral-politik guna mempertahankan legitimasi kekuasaan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Aceh menempuh jalur formalisasi agama melalui regulasi syariah, sementara Yogyakarta mengandalkan mekanisme kultural dan tekanan sosial informal, kedua daerah menghasilkan pola demokrasi moralistik yang serupa, ditandai oleh terbatasnya kebebasan sipil dan munculnya tekanan moral terhadap kelompok minoritas. Temuan ini menegaskan bahwa diversitas agama tidak secara otomatis memperkuat demokrasi substantif, melainkan dinegosiasikan dalam batas-batas yang ditentukan oleh kesepakatan politik lokal. Artikel ini berkontribusi pada kajian demokrasi Indonesia dengan menunjukkan pentingnya membaca demokrasi sebagai mosaik variasi lokal, bukan sebagai pengalaman nasional yang homogen.
Menggapai Peradaban Inklusif : Interpretasi atas Q.S. Al-Fatihah dalam Tafsir Al-Jawāhir Perspektif Karl Mannheim Naufal Mubarok; Ahmad Farihul Umam
Jurnal Moderasi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2026.62.05

Abstract

This study examines the construction of meaning in Q.S. al-Fatihah in al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm by Tantawi Jauhari and its relevance to the idea of an inclusive civilization. It aims to explain the scientific character of Tantawi Jauhari’s interpretation of Q.S. al-Fatihah and analyze its relationship with the social and intellectual context in which his interpretation emerged. This study employs a qualitative library research method with a descriptive-analytical approach and Karl Mannheim’s sociology of knowledge perspective. The findings show that Jauhari’s interpretation of Q.S. al-Fatihah goes beyond theological and normative meanings by connecting the Qur’anic text with natural phenomena, empirical knowledge, and human life. Its scientific character is evident in his interpretation of al-Raḥmān, al-Raḥīm, and Rabb al-‘ālamīn through reflections on macrocosmic and microcosmic phenomena. This interpretive framework is further directed toward the construction of a civilization that integrates religious and empirical knowledge, promotes intellectual openness, and reduces social and religious fragmentation. From Mannheim’s perspective, this orientation is closely related to the socio-intellectual context of colonial Egypt, the intellectual stagnation of Muslim societies, and the challenge posed by European scientific advancement. Therefore, al-Jawāhir represents an intellectual project that brings together faith, knowledge, and civilizational reform. Abstrak Penelitian ini mengkaji konstruksi makna Q.S. al-Fatihah dalam al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm karya Tantawi Jauhari serta relevansinya terhadap gagasan peradaban inklusif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan karakter penafsiran ilmiah Jauhari dalam membaca Q.S. al-Fatihah sekaligus menganalisis keterkaitan konstruksi penafsirannya dengan kondisi sosial dan intelektual yang melingkupinya. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis dan perspektif sosiologi pengetahuan Karl Mannheim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Tantawi Jauhari terhadap Q.S. al-Fatihah tidak berhenti pada pemaknaan teologis dan normatif, tetapi menghubungkan teks Al-Qur’an dengan fenomena alam, pengetahuan empiris, dan persoalan kehidupan manusia. Karakter saintifik tersebut tampak dalam upayanya memperluas makna al-Raḥmān, al-Raḥīm, dan Rabb al-‘ālamīn melalui refleksi terhadap fenomena makrokosmos dan mikrokosmos. Penafsiran tersebut kemudian diarahkan pada gagasan peradaban yang mengintegrasikan ilmu keagamaan dan ilmu empiris, mendorong keterbukaan intelektual, serta mengurangi fragmentasi sosial-keagamaan. Perspektif Mannheim menunjukkan bahwa orientasi tersebut berkaitan dengan konteks sosial-intelektual Mesir pada masa kolonial, stagnasi intelektual umat Islam, serta tantangan kemajuan sains Eropa. Dengan demikian, al-Jawāhir merepresentasikan proyek intelektual yang mempertemukan iman, ilmu, dan agenda pembaruan peradaban.

Page 1 of 1 | Total Record : 5