cover
Contact Name
Abdul Qawwiy Nasrun
Contact Email
anabdulqawwiy@gmail.com
Phone
+6281241972604
Journal Mail Official
anabdulqawwiy@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta, 55821
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Moderasi
ISSN : 28092376     EISSN : 2809221X     DOI : 10.14421
Jurnal Moderasi: The Journal of Ushuluddin, Islamic Thought, and Muslim Societies merupakan jurnal akademik yang didedikasikan untuk menerbitkan artikel-artikel akademik berkualitas peneliti muda (mahasiswa S1, S2, dan S3). Jurnal ini dikeluarkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Redaksi menerima tulisan di bidang ilmu-ilmu Ushuluddin, meliputi Akidah dan Filsafat Islam, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Hadis, Sosiologi Agama, Antropologi Agama, Studi Agama-agama, dan Politik Islam dan Muslim Societies.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 40 Documents
DINAMIKA TAFSIR DARI SEKTARIAN KE MODERAT: Studi Historis Tafsir-Tafsir Syi’ah Hafis, Misbah
Jurnal Moderasi Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2023.31.05

Abstract

Abstrak Kitab-kitab tafsir dalam skala global, selalu menunjukkan adanya perubahan gejolak pemikiran. Salah satu yang kentara adalah sikap moderasi dalam tafsir. Seorang mufassir pasti memiliki wacana yang sesuai dengan latar belakang yang ia pegang teguh dalam penulisan tafsirnya, dan keniscayaan ini dibarengi dengan kemunculan berbagai wacana-wacana lain di luar background mufassir sendiri. Hal ini memicu perbedaan pilihan sikap mufassir menyikapi polivalensi wacana tafsir, antara membela dirinya atau memoderasi pemikirannya. Maka dalam tulisan ini penulis akan membahas Dinamika Tafsir dari Sektarian ke Moderat. Sumber primer penulis mengunakan  al-Ijttihajat al-Munharifat fi Tafsir al-Qur’an karya Hussein ad-Zahabi dan Muhammad Hadi Ma’rifat al Tafsir wa al Mufassirun fi Tsaubihi al Qasyib. Kitab-kitab tafsir Syiah menjadi potret yang jelas tentang perjalanan moderasi tafsir. Khazanah klasik Syiah memiliki kecenderungan berbeda dengan kontemporer, dari yang sangat menjunjung apologetik menuju sikap moderat. Kata Kunci : Tafsir Syi’ah, Studi Historis, Tafsir Moderat, Apologetik
MODEL REPRESENTASI KONTEMPORER: Studi Pemikiran Oemar Bakry Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Anisa Nilam Cahya
Jurnal Moderasi Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2023.32.03

Abstract

Pengabaian terhadap tafsir nusantara berdampak pada minimnya sumbangsi khazanah ilmu pengetahuan khususnya karya tafsir lainnya. Tafsir Rahmat karya Oemar Bakry dari aspek penerjemahan ataupun penafsiran dapat dikategorikan sebagai tafsir yang dikenal disebut oleh peneliti, namun kajian terhadap tafsir ini cenderung terbatas. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan menunjukkan bagaimana Oemar Bakry sebagai tokoh reformasi sekaligus mengintegrasikan keilmuan kontemporer dan teknologi dalam penafsirannya. Hal ini merupakan upaya produktif dari Oemar Bakry dalam meningkatkan terjemah dan tafsir al-Qur’an dari segi realitas perkembangan sosial budaya, ilmu dan teknologi. Penelitian ini menunjukkan sumber pengetahuan yang terdapat dalam gagasan tafsir Rahmat terkait argumennya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga aspek, Pertama, sumber informasi dari al-Qur’an dan hadis. Kedua, sumber informasi dari hasil riset peneliti modern. Ketiga, eksplorasi lingkungan berdasarkan hasil pengalaman pribadi. Penelusuran atas aspek sumber pengetahuan Oemar Bakry dalam penafsirannya dapat memberikan tambahan bagi para pengkaji untuk didiskusikan agar dapat berimplikasi kepada perkembangan masyarakat yang relevan dengan peningkatan ilmu dan teknologi. Melalui metode kualitatif dengan sifat library research atau kajian pustaka. Adapun dalam mengolah data, penulis menggunakan metode deskriptif dan interpretatif.
DIALOG ANTARAGAMA PERSPEKTIF AL-QUR’AN: Aktualisasi Islam Kosmopolitan Dalam Meredam Konflik Agama Di Indonesia Wildana Rahmah
Jurnal Moderasi Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2023.32.05

Abstract

Konflik agama di Indonesia merupakan ujian yang berat bagi negara dengan keanekaragaman yang tinggi, baik alam, budaya, agama, maupun bahasa. Penelitian ini menggali lebih dalam konflik antaragama dari berbagai latar belakang. Sebab tidak jarang konflik tersebut merambah kepada kericuhan, yang menjadikan kekerasan, pembunuhan dan perusakan rumah ibadah, rumah warga dan fasilitas umum. Konflik agama dipicu oleh fanatisme agama yang berlebihan, kesenjangan hukum dan ekonomi, generalisasi pandangan antar umat, dan polarisasi bernuansa keagamaan. Sehinga, solusi yang ditawarkan oleh Alqur’an adalah membangun dialog antaragama sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Alqur’an surah Al-Baqarah ayat 256 dan surah Yunus ayat 99. Hal tersebut terwujud dalam berbagai macam dialog reflektif, dialog kehidupan, dan dialog teologis. Hal tersebut juga sesuai dengan nilai-nilai Islam Kosmopolitan yang selalu mengedepankan toleransi, pluralisme, dan humanisme. Agama tidak sebatas hitam dan putih, halal dan haram ataupun surga dan neraka. Sehingga, hadirnya pendekatan agama dalam dialog antaragama menjadikan agama sebagai solusi, bukan sumber konflik. Kata Kunci: Konflik Agama, Dialog Agama Perspektif Alqur’an, Islam Kosmopolitan
MEMBENDUNG FENOMENA ISLAMOPHOBIA DENGAN KONSEP RAHMATAN LIL ‘ALAMIN aulya, Tsaqifa
Jurnal Moderasi Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2023.32.04

Abstract

Di zaman globalisasi saat ini, banyak kajian penelitian yang membahas seputar keiislaman bukan sebagai pandangan hidup, melainkan hanya sebatas agama formal (normatif) saja. Sehingga Islam sebagai agama yang kaafah (sempurna), yang mengatur tata kehidupan manusia, malah hanya dijadikan sebagai aspek ritual ibadah saja. Hal ini terjadi karena banyak masyarakat yang salah dalam memahami Islam, dan kebanyakan dari mereka tidak menerapkan pada kehidupan kesehariannya. Darisitulah justru yang berkembang adalah fenomena Islamophobia. Fenomena Islamophobia muncul karena pola pikir yang salah dalam memahami agama Islam. Sehingga perlu penjelasan bahwa Islam adalah agama yang damai dan penuh rahmat. Bukan agama yang hanya mengandalkan kekerasan dalam menyelesaikan masalah atau dalam berdakwah sekalipun. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan perilaku dan sikap muslimin di Indonesia yang sesuai dengan syariat Islam yang tidak dibumbui dengan ekstremisme. Itulah yang dinamakan dengan ajaran wasathiyah. Dengan menggunakan jenis penelitian kepustakaan, kajian ini berfokus pada dua bentuk data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diambil dari QS. Al-Anbiya :107, sedangkan data sekundernya adalah teori tentang Islamophobia dan Islam Wasathiyah. Dua data tersebut diintegrasikan untuk membendung fenomena Islamophobia di Indonesia. Ditulisan ini kami akan menjelaskan bagaimana gambaran islamophobia dan bagaimana menanggulanginya dengan menggunakan konsep Islam Wasathiyah. Kata Kunci:Wasathiyah, Islam, Islamophobia, Al-Qur’an.
KONSEP MANUSIA SEMPURNA : Studi Pemikiran Abdul Karim Al-Jili yaumi, sayyidil
Jurnal Moderasi Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2023.31.06

Abstract

Abstrak Istilah "Insan Kamil" secara teknis muncul dalam literatur Islam sekitar awal abad ke-7 M/13 M, terutama didorong oleh gagasan Ibnu Arabi, yang menggunakannya untuk menunjukkan konsep manusia ideal sebagai tempat tinggal kehadiran Tuhan. Konsep ini kemudian mendapatkan perhatian yang signifikan dan dielaborasi lebih lanjut oleh al-Jîlî. Artikel ini mengeksplorasi perspektif al-Jili tentang gagasan manusia sempurna. Pertanyaan yang di ajukan dalam artikel ini, Bagaimana biografi al-Jili, dan apa konsepnya tentang Insan Kamil? Dan Apakah perspektif al-Jili tentang Insan al-Kamil selaras atau berbeda dengan perspektif Ibn 'Arabi, pendukung utama konsep ini? Pertanyaan ini memiliki arti penting karena, dengan mempertimbangkan konteks historis kedua individu ini, kesenjangan temporal antara Ibnu Arabi dan al-Jili terbentang lebih dari satu abad atau hampir dua abad, yang ditandai dengan kondisi sosial yang berbeda. Untuk mencapai tujuan ini, metodologi penelitian yang digunakan adalah tinjauan literatur yang komprehensif. Penelitian ini pada akhirnya menyimpulkan bahwa al-Jili memperkenalkan konsep insan kamil, yang terinspirasi dari Ibnu Arabi, sekaligus menawarkan kritik terhadap aspek-aspek tertentu dari gagasan Ibnu Arabi tentang insan kamil. Menurut sudut pandang al-Jili, insan kamil berfungsi sebagai cerminan atau wadah Tuhan, dengan Nur Muhammad dianggap sebagai wadah yang paling tepat untuk manifestasi Tuhan karena pencapaian kesempurnaannya dalam hidup. Keywords: Al-Jili, Insan Kamil, Nur Muhammad dan Ibn ‘Arabi.
MODERASI KEBERAGAMAAN MUHAMMADIYAH DALAM MENJAWAB ETIKA GLOBAL, ETIKA SOSIAL, DAN PERSAUDARAAN UMAT MANUSIA M. Islahuddin
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.41.04

Abstract

Fenomena global telah membawa perubahan besar terutama bagi keberagamaan. Agama menjadi sasaran empuk bagi beragam kekacauan yang timbul dari serangan dunia global. Seorang teolog yang juga pegiat kritik modernitas, Hans Kung menggagas kesatuan ide etis yang dianggap menjadi konsep ideal untuk menjawab kekacauan dunia saat ini dengan landasan dari nilai agama. Penulis berusaha mendudukan kembali gagasan ini melalui sudut pandang Muhammadiyah sebagai organisasi yang kerap menyuarakan moderatisme sebagai jawaban atas problematika keumatan global, sekaligus menjawab sumbangan ideology Hans Kung dalam diskursus keilmuan keagamaan. Penulisan ini menggunakan metode kajian pustaka yang bersifat deskkriptif-analitis dengan hasil penelitian bahwa konsep etika global oleh Hans Kung telah menyumbang respon bagi kalangan agamawan untuk kembali mengaktifkan nilai-nilai toleransi dalam beragama. Namun, beberapa kajian pokok dalam etika global dinilai tidak cocok bagi idealisme Muhammadiyah karena perbedaan tolak ukur kebenaran yang berorientasi pada penilaian manusia, yang menurut Muhammadiyah tidak bersifat mutlak. Rumusan etika global maupun social yang digagas oleh Kung telah membuka celah plural dan sikap pesimistik dalam beragama yang jauh dengan cita-cita Muhammadiyah.
THE CONCEPT OF AL-'ILM AL-USHULIY: THE SIGNIFICANCE OF USHUL FIQH IN THE UNITY OF SCIENCE PARADIGM Majid, ILHAM MAJID; Zukhruf , Ahmad Zukhruf Nafis K
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.41.01

Abstract

Abstract This research aims to explore the significance of Ushul Fiqh within the paradigm of the unity of knowledge (Unity of Science), focusing on the integration between Islamic law and other sciences. The main concern is how Ushul Fiqh can provide a holistic theoretical foundation for religious values such as wisdom, justice, and public welfare in everyday life. This study employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach, utilizing a literature review to explore the meaning, perception, and complex context within a research framework. Key findings indicate that Ushul Fiqh plays a crucial role in understanding the fundamentals of Islamic law and integrating religious aspects, reason, and practical experience in life. This research aims to identify and analyze the principles of Ushul Fiqh that can support the integration of various scientific disciplines and assess their relevance in the context of contemporary knowledge. The unity of knowledge in this research refers to efforts to amalgamate various disciplines into an interconnected entity. This involves integrating Islamic law (Ushul Fiqh) with other sciences, such as logic, Arabic grammar, theology, jurisprudence, and Qur'anic and Hadith studies. In this context, the unity of knowledge aims to create coherence among various branches of knowledge to provide a holistic understanding of religious values such as wisdom, justice, and public welfare in everyday life. Keywords:  Ushul Fiqh, Significance,  Paradigm, Unity of Science
MELIHAT JIN PERPSEKTIF AT-TAHRIR WA AT-TANWIR DAN RUH AL-BAYAN FI TAFSIR AL-QUR'AN : Studi Atas Penafsiran Ibn Asyur dan Ismail Haqqi terhadap al-A'raf ayat ayat 27 Al Zhafir, Turkey
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.41.06

Abstract

Abstract This article tries to discuss the views of two contemporary mufassirs, Muhammad Thahir Ibn Ashur and Ismail Haqqi through two different manhaj (adaby and isyari) in their major works, at-Tahrir wa at-Tanwir and Ruh al-Bayan as a form of response to the phenomenon of indigo children who are considered capable of seeing invisible creatures (jinn). The conclusion that results from both interpretations is the same, namely that humans cannot see jinn or subtle beings with the naked eye although there are differences in illat or reasons for the inability of human vision to achieve it. Keywords: Indigo, Jinn, Ibnu Ashur, Ismail Haqqi
Rekonstruksi Pendidikan Agama Formal Bagi Penghayat Kepercayaan Di Indonesia Islam, anaul
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.41.05

Abstract

Abstrak Pendidikan agama formal bagi penghayat kepercayaan dalam kurikulum pembelajaran di Indonesia menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan globalisasi dan kompleksitas sosial-budaya. Penelitian ini mengkaji urgensi, pendekatan, dan tantangan dalam pemberlakuan pendidikan formal untuk penghayat kepercayaan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat upaya yang dilakukan dengan mengeluarkan Permendikbud Nomor 27 Tahun 2016 Sebagai Bentuk Solusi Atas Diskriminasi Pada Siswa Penghayat Kepercayaan. Hanya saja yang perlu digarisbawahi adalah, adanya perbedaan yang cukup banyak antar aliran penghayat yang ada di Indonesia. Ketika berbicara perihal nilai-nilai religius untuk pendidikannya maka tidak cocok ketika harus disatukan secara global. Masing-masing aliran penghayat kepercayaan memiliki entitas dan nilai-nilainya tersendiri yang akan berbeda satu sama lainnya. Terdapat alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk mengatasinya, yaitu dengan cara merangkul sekolah adat untuk bekerjasama dengan sekolah formal. Sekolah adat merupakan bentuk sekolah informal yang didirikan pada suatu daerah tertentu oleh masyarakatnya. Basis dari sekolah ini adalah kearifan lokal yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan agar dapat dikenalkan kepada anak-anak maupun masyarakat luas. Kata Kunci: Pendidikan Agama, Penghayat Kepercayaan, Rekonstruksi, Indonesia
Kritik Matan Hadis atas Hukuman bagi Orang Murtadin: Kontekstualitas Hermeneutika Fazlur Rahman Adinda Fatimah Rahmawati
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.42.01

Abstract

There is a notable difference between the consequences for apostates as stated in the Qur’an and the Hadith. The Qur’an mentions that apostates will be replaced by people who are better and will face eternal punishment in the afterlife. In contrast, the Hadith prescribes the death penalty for apostates in this world. For Muslims, it is essential to study the application of apostasy laws in the current context. This study employs a descriptive analysis using Fazlur Rahman’s hermeneutic approach to Hadith. Rahman’s principle emphasizes that Islamic law should be understood according to the context of the times. His approach applies a situational interpretation of Hadith, encouraging Muslims to reevaluate the elements of Hadith and their relevance today. Rahman suggests several strategic steps: first, understanding the literal meaning of the Prophet’s Hadith; second, examining the historical and social context during the Prophet’s time, including the reasons for the Hadith’s revelation (asbab al-wurud); and third, considering relevant instructions in the Qur’an. This approach allows scholars to distinguish the underlying legal objectives (ratio legis) from specific legal rulings and to formulate the ideal moral principles of the Hadith. The study finds two main points. First, while the wording in the Qur’an and Hadith differs, Qur’anic consequences apply when apostates do not cause harm, whereas Hadith consequences apply when apostates create disorder or damage. Second, the Hadith prescribing the death penalty is authentic, but its application is not universal; it is context-dependent and relevant only under certain circumstances.   Abstrak Terdapat perbedaan antara konsekuensi bagi orang murtad antara redaksi Al-Quran dan redaksi hadis. Dalam Al-Quran disebutkan bahwasanya orang yang murtad akan digantikan dengan kaum yang jauh lebih baik dan orang yang murtad dimasukkan ke dalam neraka dan kekal di dalamnya (hukuman akhirat). Sementara hadis menyebutkan bahwa bagi pelaku murtad akan dikenai hukuman mati (hukuman duniawi). Sebagai seorang muslim, perlu untuk mengkaji lebih dalam terhadap pemberlakuan hukuman bagi pelaku murtad pada konteks saat ini. Penelian ini menggunakan  analisis deskriptifdengan pendekatan hermeneutika  Fazlur Rahman terhadap hadis. Hermeneutika Fazlur Rahman menerapkan penafsiran situasional terhadap hadis dan menegaskan bahwa umat Islam perlu untuk melakukan revaluasi terhadap unsur yang terkandung dalam hadis dan penafsirannya sesuai dengan kondisi saat ini. Ia mengisyaratkan adanya beberapa langkah strategis. Pertama, memahami makna teks hadis Nabi, kemudian memahami latar belakang situasionalnya, yakni menyangkut situasi Nabi dan masyarakat pada periode Nabi secara umum, termasuk dalam ini adalah asbab al-wurud. Di samping itu juga memahami petunjuk-petunjuk Al-Qur’an yang relevan. Dari sini akan dapat dipahami dan dibedakan nilai-nilai nyata atau sasaran hukumnya dari ketetapan legal spesifiknya, dan dapat dirumuskan prinsip ideal moral dari hadis tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dua point utama yakni : pertama, Redaksi yang disebutkan dalam Al-Quran dan redaksi dalam hadis memang berbeda. Namun pada penggunaannya, konsekuensi bagi orang murtad sebagaimana yang tertulis dalam Al-Quran diberlakukan apabila orang yang murtad tersebut tidak membuat kerusakan ataupun kekacauan bagi kelompok lainnya. Sementara konsekuensi yang disebutkan dalam hadis diberlakukan apabila orang yang murtad tersebut menimbulkan kekacauan dan kerusakan. Kedua, hadis hukuman mati bagi pelaku murtad dibuktikan shahih. Namun dalam penggunaannya redaksi hadis ini tidak bisa digunakan pada semua zaman, melainkan hanya pada konteks-konteks tertentu saja.

Page 4 of 4 | Total Record : 40