cover
Contact Name
Vivi Pusvitasary
Contact Email
vivi.pusvitasary@budiluhur.ac.id
Phone
+6221-5853753
Journal Mail Official
journal_sgs@budiluhur.ac.id
Editorial Address
Jl. Ciledug Raya, RT.10/RW.2, Petukangan Utara, Kec. Pesanggrahan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12260.
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Budi Luhur Journal of Strategic and Global Studies
ISSN : 29876958     EISSN : -     DOI : -
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies, published by International Relations Study Program, Faculty of Social Science and Global Studies, Universitas Budi Luhur. Strategic Global Studies publish twice a year (June and December). In each edition, it received article that will be reviewed by internal and external editors. Afterwards, article reviewed by at least two reviewers, who had related expertise. Article will be reviewed with double-blind peer review. Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies explores critical and constructive inquiries with emphasis on international studies, that include: International Politics, International Economy, Security, Diplomacy, Conflict, Humanitarian, Transnationalism, Development, Peace and War, Globalization, Foreign Policy, and any related issues.
Articles 36 Documents
From Surge to Stability: Trade Growth and Investment Limits in the Visegrád Four Reskiyah, Emy Sri; Meganingratna, Andi
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 4 No. 1 (2026): January
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v4i1.63

Abstract

Abstract: The Visegrád Group (V4), comprising the Czech Republic, Hungary, Poland, and Slovakia, has evolved from a political alliance into a significant subregional economic actor within the European Union (EU). While much research emphasizes post-2004 dynamics, the pre-accession trajectory and intra-V4 economic relations remain less systematically explored. This paper addresses this gap by comparing trade and foreign direct investment (FDI) across two phases, namely the pre-accession period (1995–2004) and the post-accession period (2005–2022). The study adopts a qualitative research design based on documentary analysis, thematic interpretation, and a strengths, weaknesses, opportunities, and threats (SWOT) framework, with descriptive indicators such as CAGR used only for contextual support. The findings indicate that intra-V4 trade is characterized by rapid pre-accession expansion followed by a more stable post-accession trajectory, while intra-V4 FDI integration remained limited and continued to be dominated by EU-15 economies. Interpreted through regionalism and spillover theory, the results suggest that functional spillover fostered lasting trade integration, whereas investment integration was constrained by structural asymmetries and competitive dynamics, thereby revealing the limits of subregional spillover within the EU framework. The study concludes that the V4’s long-term relevance depends on strengthening intra-regional investment, diversifying beyond manufacturing, and enhancing institutional coordination. Abstrak: Kelompok Visegrád (V4), yang terdiri dari Republik Ceko, Hongaria, Polandia, dan Slovakia, telah berevolusi dari aliansi politik menjadi aktor ekonomi subregional yang signifikan di dalam Uni Eropa (UE). Meskipun banyak penelitian menekankan dinamika pasca-2004, lintasan pra-aksesi dan hubungan ekonomi intra-V4 masih kurang dieksplorasi secara sistematis. Artikel ini membahas kesenjangan dengan membandingkan perdagangan dan investasi langsung asing (FDI) dalam dua fase, yaitu periode pra-aksesi (1995–2004) dan periode pasca-aksesi (2005–2022). Studi ini mengadopsi desain penelitian kualitatif berdasarkan analisis dokumen, interpretasi tematik, dan kerangka kerja kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT), dengan indikator deskriptif seperti CAGR hanya digunakan untuk dukungan kontekstual. Temuan menunjukkan bahwa perdagangan intra-V4 ditandai dengan ekspansi pra-aksesi yang cepat diikuti oleh lintasan pasca-aksesi yang lebih stabil, sementara integrasi FDI intra-V4 tetap terbatas dan terus didominasi oleh ekonomi UE-15. Diinterpretasikan melalui teori regionalisme dan spillover, hasilnya menunjukkan bahwa spillover fungsional mendorong integrase perdagangan yang berkelanjutan, sedangkan integrasi investasi dibatasi oleh asimetri struktural dan dinamika persaingan, sehingga mengungkapkan batasan limpahan subregional dalam kerangka Uni Eropa. Studi ini menyimpulkan bahwa relevansi jangka panjang V4 bergantung pada penguatan investasi intra-regional, diversifikasi di luar sektor manufaktur, dan peningkatan koordinasi kelembagaan.    
Impact of the 2019 Revision of China's Food Safety Law on the Indonesian Porang Industry Imel Rosandy Wibi Pangestu
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 4 No. 1 (2026): January
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v4i1.65

Abstract

Abstract: This article analyzes the implications of the 2019 revision of China’s Food Safety Law for Indonesia’s konjac exports. The FSL was initially enforced in 2009 and later revised in 2015 before undergoing another major change in 2019. In 2019 China introduced 86 additional implementing regulations that imposed stricter requirements on imported food, such as certification, labeling, inspection, and the possibility of rejecting or suspending products that fail to comply with Chinese standards. For Indonesia, where konjac has emerged as a potential agricultural export commodity, these changes pose serious challenges because the country relies heavily on the Chinese market. Using a qualitative, literature-based approach with descriptive-comparative analysis, this paper finds that the 2019 revision of China’s Food Safety Law acts as a non-tariff barrier that indirectly lowers Indonesia’s konjac export performance and creates instability in the domestic industry.   Abstak: Penelitian ini mengkaji dampak revisi Undang-Undang Keamanan Pangan Tiongkok tahun 2019 terhadap ekspor porang dari Indonesia. FSL pertama kali diberlakukan pada tahun 2009, direvisi pada 2015, dan mengalami revisi kembali pada tahun 2019. Revisi tahun 2019 menambahkan 86 peraturan pelaksana baru yang memperketat aturan impor pangan, seperti kewajiban sertifikasi, pelabelan, inspeksi, serta penolakan atau penangguhan terhadap produk yang tidak sesuai dengan standar Tiongkok. Bagi Indonesia, porang menjadi salah satu komoditas ekspor yang berkembang pesat dengan Tiongkok sebagai pasar utamanya. Namun, kebijakan impor yang semakin ketat telah menimbulkan tantangan serius, berupa terganggunya aliran ekspor, meningkatnya biaya kepatuhan, serta kebutuhan penyesuaian standar produksi dan sistem sertifikasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis deskriptif-komparatif, penelitian ini menyimpulkan bahwa revisi FSL 2019 berfungsi sebagai hambatan non-tarif. Meskipun bertujuan untuk melindungi konsumen Tiongkok, kebijakan ini secara tidak langsung menekan kinerja ekspor porang Indonesia serta menciptakan ketidakstabilan dalam industri porang nasional.
The Potential Threat of U.S. Intervention in Indonesia as a Consequence of the South China Sea Conflict: A Case Study of Indonesia’s Maritime Security Sudiro, Pratondo Ario Seno; Attabiq, Ahmad Syairofi
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 4 No. 1 (2026): January
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v4i1.66

Abstract

Abstract: The South China Sea conflict implies the return of the Cold War era with the upheaval between two major powers, there are the United States (US) and China. Unlike the Cold War, which was driven by ideological battles, the South China Sea Conflict is driven by geopolitical and economic battles. China is experiencing rapid economic growth with its ability to control trade routes in the South China Sea. This disturbed the US as an old power in the Asia Pacific region. Then, the conflict escalated with the construction of military bases along the South China Sea region to Indonesia. China itself has dared to submit the Nine Dash Line claim over 90% of the South China Sea area followed by the construction of military bases, two of them in Subi Reef and Fiery Cross Reef.The impact is the US feels threatened because international shipping lanes in the South China Sea will be fully controlled by China. This article aims to discuss US retention of China's increasing power in the South China Sea which has the potential to become a trigger for US intervention in Indonesia as an effort to counteract the pace of development of China's power. In preparing this article, a descriptive qualitative method based on literature studies was used. The data used in the preparation of this article is literature data derived from three kinds of sources, there are scientific articles, textbooks, and news articles or mass media. This study identifies indications and potential pathways of US strategic penetration which in the future has the potential to invite Chinese resistance so as to make Indonesia a new conflict field between the US and China. Abstrak: Konflik Laut China Selatan menyiratkan akan kembalinya era Perang Dingin dengan adanya pergolakan antara dua kekuatan besar yakni Amerika Serikat (AS) dan China. Berbeda dengan Perang Dingin yang dimotori oleh pertarungan ideologi, Konflik Laut China Selatan dimotori oleh pertarungan geopolitik dan pertarungan ekonomi. China mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dengan kemampuannya menguasai jalur perdagangan di Laut China Selatan. Hal itu mengusik AS sebagai kekuatan lama di kawasan Asia Pasifik. Akibatnya konflik meningkat dengan pembangunan pangkalan-pangkalan militer di sepanjang kawasan Laut China Selatan hingga mengarah ke wilayah Indonesia. China sendiri telah berani mengajukan klaim Nine Dash Line atas 90% wilayah Laut China Selatan yang diikuti dengan pembangunan pangkalan militer di Subi Reef dan Fiery Cross Reef. Akibatnya AS merasa terancam karena jalur pelayaran internasional di Laut China Selatan dapat dikuasai China sepenuhnya. Adapun artikel ini bertujuan membahas retensi AS terhadap peningkatan kekuatan China di Laut China Selatan yang berpotensi menjadi trigger bagi intervensi AS di Indonesia sebagai upaya menangkal laju perkembangan kekuatan China. Dalam penyusunan artikel ini digunakan metode kualitatif deskriptif yang berbasis studi literatur. Data yang digunakan dalam penyusunan artikel ini merupakan data literatur yang berasal dari tiga macam sumber yakni artikel ilmiah, buku teks, dan artikel berita atau media massa. Kemudian dilakukan koding dari data-data yang telah dikumpulkan dan disimpan, hingga diperoleh hasil bahwa terdapat ancaman intervensi AS di Indonesia yang dikemudian hari berpotensi mengundang resistensi China sehingga menjadikan Indonesia sebagai medan konflik baru antara AS dengan China.
Post-Pandemic Inflationary Pressure and Global Commodity Price Shocks in Indonesia: An ARDL Estimation Aslam, Zainab; Ansari, Saba
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 4 No. 1 (2026): January
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v4i1.67

Abstract

Abstract: The volatility of world commodity prices has emerged as a major force of macroeconomic stability in the developing economies, especially those with food and energy as the main components in the spending of households. Being among the biggest economies that largely rely on commodity imports, Indonesia is extremely vulnerable to price shocks caused by externalities, particularly in the aftermath of the pandemic when inflationary pressures were at their height. In this analysis, the focus is on the transmission of global food and crude oil price shocks into the domestic inflation processes in Indonesia. The study used the annual data from 1988 to 2023, from the World Bank World Development Indicators (WDI) and the World Bank Pink Sheet to explain inflationary behaviour. The Autoregressive Distributed Lag (ARDL) model using the bounds test has been employed to check the long-run as well as short-run effects. The findings indicate that global oil price shocks have a major impact on increasing inflation in the short run, but food prices and exchange rate depreciation have a lesser but positive impact. Interest rates and growth of GDP have minimal short-run effects, and this indicates that the current episode of inflation in Indonesia is mainly caused by external cost-push and not by domestic demand. In the long run, the global food process shows a deflationary effect on inflation. The implication of these results is the necessity of better measures of food and energy price stabilization, exchange-rate management, diversification of imports, and enhancement of domestic productivity. The study adds a novel piece of evidence regarding the inflation behaviour in the post-pandemic period in Indonesia and the significance of resilience-oriented policy in dealing with the risks of inflation caused by commodities. Abstrak: Volatilitas harga komoditas dunia telah muncul sebagaikekuatan utama stabilitas makroekonomi di negara-negara berkembang, terutama yang memiliki makanan dan energi sebagai komponen utama dalam pengeluaran rumah tangga. Sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar yang sangat  impor komoditas, Indonesia sangat rentan terhadap guncangan harga yang disebabkan oleh eksternalitas, terutama setelah pandemi ketika tekanan inflasi berada pada puncaknya. Dalam analisis ini, fokusnya adalah pada transmisi guncangan harga pangan global dan minyak mentah ke dalam proses inflasi domestik di Indonesia. Studi ini menggunakan data tahunan dari tahun 1988 hingga 2023, dari World Bank World Development Indicators (WDI) dan World Bank Pink Sheet untuk menjelaskan perilaku inflasi. ModelAutoregressive Distributed Lag (ARDL) menggunakan uji batas telah digunakan untuk memeriksa efek jangka panjang maupun jangka pendek. Temuan menunjukkan bahwa guncangan harga minyak global berdampak besar pada peningkatan inflasi dalam jangka pendek, tetapi harga pangan dan depresiasi nilai tukar memiliki dampak yang lebih kecil namun positif. Suku bunga dan pertumbuhan PDB memiliki dampak minimal dalam jangka pendek, dan ini menunjukkan bahwa episode inflasi saat ini di Indonesia terutama disebabkan oleh dorongan biaya eksternal, bukan oleh permintaan domestik. Dalam jangka panjang, proses pangan global menunjukkan efek deflasi terhadap inflasi. Implikasi dari hasil ini adalah perlunya langkah-langkah yang lebih baik untuk stabilisasi harga pangan dan energi, pengelolaan nilai tukar, diversifikasi impor, dan peningkatan produktivitas domestik. Studi ini menambahkan bukti baru mengenai perilaku inflasi pada periode pasca-pandemi di Indonesia dan pentingnya kebijakan berorientasi ketahanan dalam menghadapi risiko inflasi yang disebabkan oleh komoditas.
Coastal Women's Community Resilience Model as a Disaster Mitigation Effort; inspired by the Motherschool's Program from Women without Borders Aprillia, Bunga
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 4 No. 1 (2026): January
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v4i1.68

Abstract

Abstract: Indonesia's coastal areas are highly vulnerable to tsunamis, which disproportionately impact women. Coastal women play multiple roles in the domestic, economic, and social spheres of the community, thus holding a strategic position in strengthening family resilience. This study aims to formulate a model for strengthening the capacity of coastal women based on a women's community approach, derived from the Motherschool’s learning model developed by Women without Borders, an Austrian NGO. This model can support tsunami disaster risk reduction in coastal areas through women's movements. The study employed a qualitative approach, with data collection techniques including literature review and interviews. The results indicate that strengthening the capacity of coastal women through group learning can improve risk understanding, family preparedness, and community social networks. The resulting model is structured at three learning levels: micro, meso, and macro. This research contributes to the development of gender-based disaster studies and provides practical implications for the formulation of community-based disaster risk reduction policies. Abstrak: Kawasan pesisir Indonesia sangat rentan terhadap tsunami, yang memberikan dampak secara tidak proporsional terhadap perempuan. Perempuan pesisir memainkan berbagai peran dalam ranah domestik, ekonomi, dan sosial masyarakat, sehingga memiliki posisi strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga. ​Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model penguatan kapasitas perempuan pesisir berdasarkan pendekatan komunitas perempuan, yang diadaptasi dari model pembelajaran Motherschool hasil pengembangan Women without Borders, sebuah LSM asal Austria. Model ini dapat mendukung pengurangan risiko bencana tsunami di wilayah pesisir melalui gerakan perempuan. ​Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data meliputi tinjauan pustaka dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan kapasitas perempuan pesisir melalui pembelajaran kelompok dapat meningkatkan pemahaman risiko, kesiapsiagaan keluarga, dan jejaring sosial masyarakat. Model yang dihasilkan disusun dalam tiga tingkatan pembelajaran: mikro, meso, dan makro. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan studi bencana berbasis gender dan memberikan implikasi praktis bagi penyusunan kebijakan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas.
Indonesia–United States Military Cooperation in Capacity Building through the Garuda Shield Exercise Nadeak, Natalia; Hanita, Raihan Tara
Budi Luhur Journal of Strategic & Global Studies Vol. 4 No. 1 (2026): January
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/jsgs.v4i1.71

Abstract

Abstract: This article examines Indonesia–United States military cooperation in the context of capacity building through the Garuda Shield joint military exercise conducted between 2019 and 2022. Situated within the evolving Indo-Pacific security environment, the study explores how defence cooperation functions not only as a military training mechanism but also as an instrument of defence diplomacy and confidence building. Employing a qualitative descriptive research design, this study draws on secondary data sources including official government documents, defence policy papers, academic literature, and credible international media reports. The analysis is guided by realism, national interest theory, defence diplomacy, and confidence-building measures. The findings demonstrate that Garuda Shield significantly enhances military interoperability, operational readiness, and professional competence within the Indonesian Army, while simultaneously strengthening strategic trust between Indonesia and the United States. Moreover, the transformation of Garuda Shield into a multinational exercise in 2022 reflects increasing regional and international confidence in Indonesia’s role as a stabilizing middle power in the Indo-Pacific. This article argues that Garuda Shield constitutes a strategic instrument of defence diplomacy that reinforces Indonesia’s free and active foreign policy, enabling Indonesia to navigate intensifying great-power competition while maintaining strategic autonomy and contributing to a more inclusive regional security architecture. Abstrak: Abstrak: Artikel ini mengkaji kerja sama militer Indonesia–Amerika Serikat dalam konteks pembangunan kapasitas melalui latihan militer bersama Garuda Shield yang dilaksanakan antara tahun 2019 dan 2022. Terletak dalam lingkungan keamanan Indo-Pasifik yang terus berkembang, studi ini mengeksplorasi bagaimana kerja sama pertahanan tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pelatihan militer tetapi juga sebagai instrumen diplomasi pertahanan dan pembangunan kepercayaan. Menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif, penelitian ini mengandalkan sumber data sekunder termasuk dokumen resmi pemerintah, makalah kebijakan pertahanan, literatur akademis, dan laporan media internasional yang kredibel. Analisis ini dipandu oleh realisme, teori kepentingan nasional, diplomasi pertahanan, dan langkah-langkah membangun kepercayaan. Temuan ini menunjukkan bahwa Garuda Shield secara signifikan meningkatkan interoperabilitas militer, kesiapan operasional, dan kompetensi profesional dalam Angkatan Darat Indonesia, sekaligus memperkuat kepercayaan strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat. Selain itu, transformasi Garuda Shield menjadi latihan multinasional pada tahun 2022 mencerminkan meningkatnya kepercayaan regional dan internasional terhadap peran Indonesia sebagai kekuatan menengah yang menstabilkan di Indo-Pasifik. Artikel ini berpendapat bahwa Garuda Shield berfungsi sebagai instrumen strategis diplomasi pertahanan, memperkuat kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Hal ini memungkinkan Indonesia untuk menavigasi persaingan kekuatan besar yang semakin intensif sambil mempertahankan otonomi strategis dan berkontribusi pada arsitektur keamanan regional yang lebih inklusif.

Page 4 of 4 | Total Record : 36