cover
Contact Name
Kiki Yulianto
Contact Email
kikiyulianto@ae.unand.ac.id
Phone
+62811389994
Journal Mail Official
kikiyulianto@ae.unand.ac.id
Editorial Address
Limau Manis, Kec. Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat 25175 - Indonesia
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
GreenTech
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : 30640989     DOI : https://doi.org/10.25077/greentech.v1i1.1
reenTech is an Open Access, Peer-Review Journal published by the Department of Agro-Industrial Technology, Universitas Andalas. The journal aims to provide a platform for researchers and practitioners in the field of agro-industrial engineering to disseminate their research findings and knowledge related to sustainable agriculture practices. The journal focuses on the latest technological innovations and advancements in agro-industrial engineering that aim to promote sustainability and efficiency in agricultural production. GreenTech covers topics related to the development and implementation of sustainable agro-industrial engineering practices, green technologies, and strategies that can contribute to sustainable agriculture. GreenTech welcomes original research papers, reviews, case studies, and perspectives from researchers and practitioners working in the field of agro-industrial engineering. The journal promotes rigorous peer-review processes to ensure the quality and relevance of published articles. The journal is published biannually in June and December and only accepts manuscripts in Bahasa or English.
Articles 44 Documents
Analisis Permasalahan Penurunan Produksi Bengkuang di Kota Padang Menggunakan Fishbone Diagram dan Metode Simple Additive Weighting (SAW) Saputra, Aan; Yulianto, Kiki; Azrifirwan, Azrifirwan
GreenTech Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v1i2.43

Abstract

Penurunan produksi bengkuang di Kota Padang menjadi isu krusial dalam keberlanjutan agroindustri lokal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor utama yang menyebabkan menurunnya produksi bengkuang dan merumuskan alternatif solusi berdasarkan pendekatan logis dan terstruktur. Metode yang digunakan adalah studi literatur untuk mengidentifikasi permasalahan yang selanjutnya dipetakan menggunakan Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan) untuk mengungkap akar penyebab. Hasil identifikasi menunjukkan lima faktor utama yaitu: kurangnya inovasi produk, dukungan pemerintah yang terbatas, permintaan pasar yang rendah, rantai pasok yang tidak stabil, dan alih fungsi lahan. Dari kelima faktor tersebut, dirumuskan tiga alternatif solusi yaitu: pelatihan petani (A), promosi lokal & booth khusus (B), serta pembentukan pusat budidaya dan logistik bengkuang (C). Metode Multiple Attribute Decision Making (MADM) dengan pendekatan Simple Additive Weighting (SAW) digunakan untuk menentukan solusi terbaik berdasarkan bobot kriteria dan skoring alternatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa alternatif C (Pusat Budidaya & Logistik) merupakan solusi yang paling tepat dengan skor akhir tertinggi sebesar 0,825. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi kebijakan dalam penguatan agroindustri bengkuang secara berkelanjutan di Kota Padang.
Analisis Bibliometrik Green Supply Chain Aulia, Fauzan; Yulianto, Kiki
GreenTech Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i1.44

Abstract

Green Supply Chain (GSC) adalah pendekatan inovatif yang mengintegrasikan keberlanjutan lingkungan dalam pengelolaan rantai pasok. Penelitian ini menggunakan analisis bibliometrik untuk mengevaluasi tren, pola kolaborasi, dan tema utama penelitian GSC dalam lima tahun terakhir (2019–2024). Data diperoleh dari 200 artikel jurnal internasional bereputasi yang dianalisis menggunakan perangkat lunak VOSviewer. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam publikasi terkait GSC, dengan fokus pada pengurangan limbah, inovasi hijau, dan adopsi teknologi digital. Visualisasi jaringan kata kunci mengidentifikasi topik utama seperti circular economy, big data analytics, dan dampak sosial-ekonomi GSC. Namun, penelitian ini juga menemukan kesenjangan signifikan, termasuk kurangnya studi di negara berkembang dan minimnya eksplorasi dampak sosial GSC. Temuan ini memberikan wawasan penting untuk pengembangan teori dan praktik GSC yang lebih komprehensif, mendukung keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Pengaruh Penambahan Bubuk Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) terhadap Sifat Fisiko- Kimia dan Penerimaan Organoleptik Gula Semut Tebu (Saccharum officinarum, L.) Santosa, Santosa; Rahayu, Lisa; Pinem, Nadia Utami; Pebrianto, Saddam
GreenTech Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i1.47

Abstract

Gula semut tebu merupakan salah satu produk gula merah yang memiliki bentuk berupa serbuk atau butiran yang memiliki karakteristik berwarna coklat muda atau coklat tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk kayu manis terhadap sifat fisiko-kimia dan penerimaan organoleptik gula semut tebu, serta analisis titik impasnya. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan variasi penambahan bubuk kayu manis yaitu A (0 %), B (1,5 %), C (3 %), D (4,5 %), dan E (6 %). Data dianalisis secara statistik menggunakan Analysis of Varience (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5 % jika berbeda nyata, serta dihitung titik impas produk berdasarkan perlakuan terbaik pada uji sensori. Penambahan bubuk kayu manis berpengaruh nyata terhadap rendemen, derajat putih, bagian tidak larut air, kadar air, kadar abu, kadar gula pereduksi, antioksidan, sensori (warna, rasa, aroma, dan tekstur) gula semut tebu. Hasil uji sensori didapatkan bahwa perlakuan C merupakan perlakuan yang paling disukai panelis, yakni jika penambahan bubuk kayu manis sebanyak 3 % dengan tingkat kesukaan terhadap warna 4,17 (suka), rasa 4,03 (suka), aroma 3,70 (mengarah ke suka), tekstur 3,70 ( mengarah ke suka), dan penampakan 4,07 (suka). Produksi gula semut tebu dengan penambahan bubuk kayu manis 3 % (perlakuan C) akan mencapai titik impas ketika perusahaan dapat menjual produk sebanyak 2.796 unit dengan bobot per unitnya berisi 0,25 kg dan harga jual sebesar Rp 23.116/unit.
Sifat Kimia, Sifat Fisika dan Nilai Organoleptik Nasi Instan yang Dibuat dari 5 Varietas Beras Sumatera Barat Wiesa, Fujie Syukrillah; Kasim, Anwar; Wijayanti, Ruri
GreenTech Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i2.50

Abstract

Nasi instan dibuat dari beras di mana nantinya hanya membutuhkan 3 sampai 5 menit untuk siap santap. Karakteristik nasi instan antara lain dipengaruhi oleh bahan baku beras yang digunakan. Pada penelitian ini digunakan 5 varietas beras yang banyak diproduksi di Sumatera Barat yaitu beras sokan, beras anak daro, beras kuriak kusuik, beras IR42, dan beras batang piaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat fisika dan sifat kimia nasi instan dan penerimaan organoleptik serta menentukan varietas yang cocok dijadikan nasi instan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu varietas beras: A = beras batang piaman, B = beras IR 42, C = beras Kuruik Kusuik, D = beras Anak Daro, E = beras Sokan dengan 3 kali ulangan. Hasil pengamatan dianalisis dengan ANOVA. Jika berbeda nyata maka dilanjutkan menggunakan uji lanjut DNMRT pada taraf 5%. Hasil analisis kimia menunjukkan kadar air dan kadar protein berbeda nyata sedangkan kadar abu tidak berbeda nyata. Sifat fisika warna dan waktu rehidrasi juga berbeda nyata namun hasil uji organoleptic tidak berbeda nyata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa beras dari varieties IR 42 paling cocok untuk dijadikan nasi instan.
Karakteristik Fisikokimia Dadih Substitusi Susu Sapi dan Susu Kerbau Fadhal, Rakha Abyan; Dewi, Kurnia Harlina; Kasim, Fitriani
GreenTech Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i2.52

Abstract

Dadih merupakan salah satu makanan khas tradisional berasal dari Sumatra Barat dengan metode pembuatannya melalui fermentasi susu di dalam tabung bambu secara alami. Penggunaan susu sapi sebagai substitusi susu kerbau dapat menjadi alternatif dalam pembuatan dadih karena susu sapi mudah didapat dan terjangkau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  menganalisis bagaimana pengaruh variasi rasio susu yang digunakan dalam proses pembuatan dadih terhadap karakteristik fisikokimianya. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan A0 (susu sapi 0% : susu kerbau 100%), A1 (susu sapi 25% : susu kerbau 75%), A2 (susu sapi 50% : susu kerbau 50%), A3 (susu sapi 75% : susu kerbau 25%), A4 (susu sapi 100% : susu kerbau 0%). Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis statistik ANOVA (Analysis of Variance) dan dilanjutkan dengan uji lanjutan DNMRT (Duncan’s New Multiple Range Test). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi rasio susu berpengaruh nyata terhadap pH, total asam, kadar air, total padatan, kadar protein dan kadar lemak. Variasi rasio susu dapat meningkatkan kadar air dan total asam dadih serta dapat menurunkan nilai pH, total padatan, kadar protein dan kadar lemak seiring meningkatnya variasi rasio susu sapi yang ditambahkan.
Kajian Jenis dan Konsentrasi Perekat pada Pembuatan Briket dari Sabut Buah Nipah (Nypa fruticans, Wurmb) Detramadani, Detramadani; Neswati, Neswati; Permata, Deivy Andhika
GreenTech Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i2.54

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh interaksi jenis dan konsentrasi perekat, pengaruh jenis dan konsentrasi perekat terbaik berdasarkan karakteristik briket, dan menganalisis Break Event Point (BEP). Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor yang terdiri atas 9 perlakuan dan 3 kali ulangan. Data yang didapatkan dianalisis secara statistik menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) jika terdapat adanya interaksi maka dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5 %. Kajian jenis dan konsentrasi briket dari sabut buah nipah terdapat adanya interaksi terhadap kadar air, kadar abu, karbon terikat, nilai kalor, nyala api, dan kuat tekan, tetapi tidak ada interaksi terhadap kadar zat terbang dan densitas briket. Jenis perekat berbeda nyata terhadap kadar air, kadar abu, zat terbang, karbon terikat, nilai kalor, nyala api, densitas dan kuat tekan. Konsentrasi perekat berbeda nyata terhadap kadar air, kadar abu, karbon terikat, nilai kalor, nyala api, densitas dan kuat tekan, tetapi tidak berbeda nyata terhadap zat terbang briket. Formulasi perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan A2B1 perekat arpus dengan konsentrasi 9%. Analisis titik impas Briket (BEP) yaitu Rp 1.029,45 pcs/bulan.
Studi Aliran Energi dalam Memproduksi Crude Palm Oil (CPO) di PT Perkebunan Nusantara IV Regional IV Kebun Ophir, Sumatera Barat Santosa, Santosa; Hasan, Ashadi; Pebrianto, Saddam; Ladira, Maulana
GreenTech Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i2.55

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aliran energi dalam proses produksi Crude Palm Oil (CPO) di PT Perkebunan Nusantara IV Regional IV Kebun Ophir, Sumatera Barat. Penelitian dilakukan melalui studi aliran energi terhadap seluruh tahapan proses pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi CPO, meliputi input energi manusia, energi listrik, dan energi bahan bakar. Data diperoleh dari pengamatan langsung, pengukuran alat, serta penggunaan perangkat Garmin dan HRM untuk mengukur energi manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan energi tertinggi berasal dari energi bahan bakar (fiber dan cangkang sawit), dengan dominasi penggunaan fiber sebesar 78,26%. Energi output manusia tertinggi tercatat pada stasiun boiler/kamar mesin sebesar 31,52%, diikuti oleh stasiun sortasi dan rebusan. Konsumsi energi listrik relatif lebih kecil dibandingkan dua jenis energi lainnya, namun tetap penting dalam menunjang kinerja peralatan pabrik. Rendemen CPO yang dihasilkan mencapai 22,63%, dan energi spesifik rata-rata tercatat sebesar 14.782,25 kJ/kg. Temuan ini menunjukkan pentingnya manajemen energi dalam proses produksi CPO untuk mencapai efisiensi dan efektivitas produksi. Informasi ini, perusahaan dapat mengidentifikasi titik-titik konsumsi energi terbesar dan menyusun strategi efisiensi yang berkelanjutan.
Penentuan Daerah Sentra Produksi Jagung (Zea mays L.) di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat dengan Metode K-Means Clustering Santosa, Santosa; Andasuryani, Andasuryani; Pebrianto, Saddam; Prasmadika, Raihan M. Deri
GreenTech Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i2.56

Abstract

Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas pangan strategis yang berperan penting dalam ketahanan pangan dan industri. Provinsi Sumatera Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas ini, namun persebaran produksi yang tidak merata memerlukan identifikasi wilayah sentra produksi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daerah-daerah potensial sebagai sentra produksi jagung dengan menerapkan metode K-Means Clustering. Data yang digunakan merupakan data sekunder tahun 2017–2022 dari 19 kabupaten/kota, mencakup lima variabel: luas panen, produksi, produktivitas, ketinggian wilayah, dan curah hujan. Metode Elbow digunakan untuk menentukan jumlah klaster optimal. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa daerah secara konsisten berada dalam klaster dengan nilai di atas rata-rata, antara lain Kabupaten Pasaman Barat, Agam, Pesisir Selatan, Pasaman, dan Solok Selatan. Penelitian ini memberikan informasi berbasis data yang berguna dalam perencanaan pengembangan jagung secara spasial di Provinsi Sumatera Barat.
Identifikasi dan Analisis Faktor Penyebab Variabilitas Berat Janjang Rata-Rata (Bjr) Kelapa Sawit (Studi Kasus: PT. XYZ) Ningtyas, Intan Kusuma; Yulianto, Kiki
GreenTech Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i2.58

Abstract

Variabilitas Berat Janjang Rata-Rata (BJR) merupakan salah satu indikator penting dalam manajemen kebun kelapa sawit karena memengaruhi estimasi produksi, perencanaan panen, dan evaluasi kinerja kebun. Penelitian ini dilakukan di PT. XYZ , Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, dengan tujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi BJR. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer melalui observasi lapangan serta wawancara, dan data sekunder berupa catatan produksi, pemupukan, curah hujan, dan pembagian varietas tanaman. Analisis yang digunakan meliputi statistik deskriptif, regresi linear berganda, serta ANOVA untuk menguji perbedaan rata-rata BJR antar kelompok karakteristik. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari umur tanaman, varietas, dan curah hujan terhadap BJR berdasarkan analisis regresi linear berganda. Faktor umur dan varietas memiliki kontribusi dominan dalam menjelaskan variasi BJR, sedangkan curah hujan memberikan pengaruh positif namun relatif lebih kecil. Uji ANOVA memperlihatkan bahwa perbedaan umur tanaman menghasilkan nilai BJR yang nyata, khususnya pada kelompok umur 8–11 tahun yang menunjukkan nilai tertinggi, sementara kelompok umur muda maupun tua relatif lebih rendah. Varietas juga berpengaruh signifikan, di mana varietas Socfindo menghasilkan BJR lebih besar dibandingkan varietas lain. Perbedaan ini diduga dipengaruhi oleh potensi genetik varietas dan kondisi fisiologis tanaman pada umur produktif. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi faktor agronomis dan lingkungan berperan penting dalam menentukan variabilitas BJR, sehingga pengelolaan kebun perlu mempertimbangkan pendekatan terpadu untuk menjaga konsistensi produktivitas.
Pengembangan Produk Tepung Rakik Belut Instan dan Analisis Nilai Tambahnya Harlina Dewi, Kurnia; Santosa, Santosa; Harianja, Yul Apni; Pebrianto, Saddam
GreenTech Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i2.60

Abstract

Pengolahan beras di Nagari Kinari menjadi produk olahan beras masih minim karena sebagian besar beras yang dihasilkan hanya dijual dalam bentuk beras mentah. Rakik belut memiliki tekstur yang sangat renyah dan masa simpan yang relatif singkat sehingga muncullah ide untuk mengembangkan produk rakik belut ini ke dalam bentuk tepung instan. Penelitian ini menggunakan model Rancangan Acak Lengkap (RAL) tunggal 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah perbandingan rasio tepung beras dan kalio belut yaitu 1:1 (150:150), 2:1 (200:100), 3:1 (225:75), 4:1 (240:60). Data yang diperoleh, dianalisis secara statistik dengan Analysis Of Variance (ANOVA), jika hasil menunjukkan pengaruh dari perlakuan yang diberikan maka dilanjutkan dengan uji Duncant’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5 %. Pengaruh perbandingan rasio tepung beras dan kalio belut menunjukkan hasil yang berpengaruh nyata terhadap kadar abu, kadar protein, kadar lemak dan uji sensori aroma tepung rakik belut instan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, uji sensori (warna, tekstur) tepung rakik belut instan, dan uji sensori (warna, rasa, tekstur) rakik belut. Perlakuan 1:1 yang dipilih sebagai perlakuan yang paling disukai panelis. Perlakuan ini memiliki kadar air (8,54 %), kadar abu (1,82 %), kadar protein (9,86 %), kadar lemak (9,10 %), uji sensori tepung rakik belut instan dengan nilai rata-rata warna (4,20), aroma (4,32) dan tekstur (4,24), dan uji sensori rakik belut dengan nilai rata-rata warna (4,00), rasa (4,12), tekstur (4,00). Nilai tambah pada pembuatan tepung rakik belut instan untuk satu kali proses adalah sebesar Rp 181.287/kg tepung beras dan produksi dengan rasio nilai tambah sebesar 53,79 %.