cover
Contact Name
Muhammad Naoval Haris
Contact Email
cantingunikal@gmail.com
Phone
+62816776328
Journal Mail Official
cantingunikal@gmail.com
Editorial Address
Jalan Jendral Sudirman No 163 Kota Pekalongan
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
Canting : Jurnal Batik Indonesia
Published by Universitas Pekalongan
ISSN : -     EISSN : 3063539X     DOI : https://doi.org/10.31941/canting.v2i1
Canting Jurnal Batik Indonesia is an open access national journal with the frequency of 2 (two) times a year (February & August), published by Universitas Pekalongan (Pekalongan University). Submitted manuscripts should be original Research Articles and Literature Reviews that aims for contribution and continuous dissemination of updates in relation to batik. Canting editors welcome manuscripts in the form of research articles, literature review, or case reports that have not been accepted for publication or even published in other scientific journals. Journal articles published in the CANTING Jurnal Batik Indonesia are articles that are free of plagiarism and have never been published by other journals. The focus and scope of this journal are as follows: Culture and batik philosophy Fine art Raw materials for batik technology engineering Batik production process Prevention and treatment of batik waste Craft and batik designs Batik fashion Smart textile and batik
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 24 Documents
Pemanfaatan ekstrak kulit manggis (Garcinia Mangostana L.) dengan penambahan nanoemulsi kitosan sebagai pewarna alami pada kain batik katun Kuntjoro, Jason Gabrielle; Mustikarini, Christina Setyadewi
Canting : Jurnal Batik Indonesia Vol 3 No 1 (2026): Canting: Jurnal Batik Indonesia
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pekalongan bekerjasama dengan Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik (APPBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/cjbi.v3i1.766

Abstract

Pencemaran limbah industri batik akibat penggunaan pewarna sintetis yang bersifat toksik dan sulit terurai menjadi tantangan lingkungan serius di Indonesia. Pewarna alami berbasis bahan hayati merupakan alternatif ramah lingkungan, namun memiliki keterbatasan pada ketahanan luntur warna sehingga memerlukan mordan yang efektif. Penelitian ini bertujuan menentukan formulasi biomordan nanoemulsi kitosan terbaik serta menganalisis pengaruh ukuran partikel nanoemulsi terhadap ketahanan luntur warna pada kain katun. Metode penelitian bersifat eksperimental dengan variasi lama sonikasi untuk menghasilkan ukuran nanoemulsi kitosan berbeda, yaitu F1 (30 menit; 42,24 nm), F2 (60 menit; 26,48 nm), dan F3 (90 menit; 11,55 nm), serta kontrol tanpa nanoemulsi. Proses pewarnaan dilakukan dengan metode pre-mordanting dan post-mordanting, kemudian diuji ketahanan luntur warnanya berdasarkan standar ISO 105-C06:2003. Hasil menunjukkan bahwa formulasi F3 memberikan ketahanan luntur warna terbaik dengan nilai ΔE 1,19 dan grayscale 4–5, jauh lebih baik dibandingkan F2, F1, dan kontrol. Analisis regresi linear menunjukkan pengaruh signifikan ukuran nanoemulsi terhadap ketahanan luntur warna dengan nilai R² sebesar 96%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa semakin kecil ukuran nanoemulsi kitosan, semakin tinggi ketahanan luntur warna, sehingga berpotensi mendukung pengembangan pewarna alami berkelanjutan pada industri batik.
SAGARA URIP: Transformasi nilai budaya pesisir pekalongan dalam desain batik digital kontemporer Apriliza, Bilqis Zalfa; Adriana, Alya; Shofi, Azarine Meara; Khamida, Mighfar
Canting : Jurnal Batik Indonesia Vol 3 No 1 (2026): Canting: Jurnal Batik Indonesia
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pekalongan bekerjasama dengan Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik (APPBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/cjbi.v3i1.793

Abstract

Kota Pekalongan merupakan salah satu sentra batik pesisir terbesar di Indonesia yang memiliki kekayaan nilai budaya dan visual. Namun, perkembangan tren modern menyebabkan menurunnya minat generasi muda terhadap batik tradisional yang dianggap kurang relevan. Penelitian ini bertujuan merancang motif batik digital kontemporer yang mengintegrasikan nilai budaya pesisir Pekalongan melalui penciptaan motif “Sagara Urip”. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi literatur, observasi lapangan, penyebaran angket kepada generasi muda, serta wawancara dengan pengrajin dan kurator batik. Proses perancangan dilakukan secara digital menggunakan aplikasi Ibis Paint X melalui tahapan sketsa, digitalisasi, pewarnaan, penyusunan pola repetisi, dan evaluasi visual. Motif “Sagara Urip” menggabungkan elemen laut, ombak, matahari, dan palet warna khas batik pesisir sebagai simbol kehidupan masyarakat pantai yang harmonis dengan alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif yang dihasilkan mampu memadukan nilai tradisional dan visual modern secara seimbang. Berdasarkan angket terhadap 204 responden, mayoritas generasi muda menilai motif ini menarik, relevan, dan mudah dipahami. Digitalisasi motif batik dinilai efektif sebagai strategi pelestarian budaya sekaligus adaptasi batik terhadap perkembangan zaman.
Pelatihan canting cap kertas sebagai ruang pembelajaran ornamentasi batik: Studi kreativitas peserta di BBSPJIKB Setyawan, Ony; Irawan, Andi
Canting : Jurnal Batik Indonesia Vol 3 No 1 (2026): Canting: Jurnal Batik Indonesia
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pekalongan bekerjasama dengan Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik (APPBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/cjbi.v3i1.796

Abstract

Daya kreativitas pembatik dalam meramu motif cukup menarik untuk diamati. Pengalaman, budaya, dan kemahiran dalam membuat canting cap kertas menjadi fokus kajian utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan analisis kreativitas peserta bimbingan teknis pembuatan canting cap berbahan dasar kertas di BBSPJIKB Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang diperoleh dari observasi, wawancara sambil lalu, dan studi pustaka. Penulis disini berposisi sebagai partisipasi observasi. Analisis data dilakukan dengan memilah data, menginterpretasikan data, dan menentukan relasi antar data. Motif umum jenis flora dan fauna menjadi kreasi motif yang pupoler digunakan. Motif flora berupa bunga dan lung-lungan, sedangkan fauna berupa burung menjadi karya sebagian besar yang yang berlatar belakang pembatik. Selain itu sebagian kecil peserta yang berlatar belakang akademisi seni cenderung menggunakan motif kedaerahan yang lebih eksploratif serta menginisiasi sifat ikonik daerah asalnya. Pengaruh latar belakang pembatik seperti gender, usia, pendidikan, dan pengalaman dalam teknik cap batik menjadi indikasi kecakapan dalam menuangkan hasil bimbingan teknis.
Threads of Heritage: A Comparative Analysis of Nias Batik/Nokanibira and Garot Hanbok Preservation in the Globalization Era Mulyaman, Darynaufal; Purba, Bobyano Dolyamano Blessing
Canting : Jurnal Batik Indonesia Vol 3 No 1 (2026): Canting: Jurnal Batik Indonesia
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pekalongan bekerjasama dengan Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik (APPBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/cjbi.v3i1.883

Abstract

Globalization has created significant pressures on the preservation of traditional textile heritage in Indonesia and South Korea. This study examines the preservation strategies of Nokanibira (Nias batik worn in Hombo Batu traditions) and Garot (persimmon-dyed Jeju specialized hanbok), two textile heritages representing local cultural identity amid modernization currents. Using a qualitative approach with the Most Similar System Design (MSSD) comparative method, this research analyzes fundamental differences in preservation approaches between these two textile traditions. Findings reveal that Nokanibira persists through community-based efforts with limited institutional support, while Garot benefits from structured state policies, infrastructure investment, and integration into Jeju's regional development strategies. Although both traditions face similar challenges from global cultural homogenization, differences in institutionalization levels, state roles, and creative economy strategies result in varying degrees of preservation success. This research provides important insights into how comprehensive cultural policies can strengthen the resilience of traditional textile heritage in the globalization era.

Page 3 of 3 | Total Record : 24