cover
Contact Name
Dwi Indah Iswanti
Contact Email
dwi.indah.iswanti@unkaha.ac.id
Phone
+62813-2575-8841
Journal Mail Official
ljhs.linkep@gmail.com
Editorial Address
Golden Wood Blok D32 Citragrand, Sambiroto, Kec. Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah 50276, Indonesia, Email: link.educationpublication@gmail.com
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Health Science
ISSN : 3089896X     EISSN : 30898943     DOI : https://doi.org/10.63425
Core Subject : Health,
Journal of Health Science is the dissemination of information related to all health science area including: medicine, nursing, midwifery, psychologists, pharmacy, nutrition, and other health sciences. Letters and commentaries of our published articles are welcome. All submitted contributions will undergo a peer-review process according to standardized criteria.
Articles 26 Documents
Pengaruh Moda Transportasi Pre-Hospital terhadap Risiko Perburukan Cedera Kepala Santoso, Eko Budi; Wahyono, Agus; Waladani, Barkah; Suwaryo, Putra Agina Widyaswara
Link Journal of Health Science Vol 3 No 1 (2026): March : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v3i1.154

Abstract

Pendahuluan: Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas, terutama di negara berkembang. Fase pre-hospital memiliki peran penting dalam mencegah cedera otak sekunder. Namun, penggunaan transportasi non-medis tanpa stabilisasi yang adekuat berpotensi meningkatkan risiko perburukan kondisi pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh moda transportasi pre-hospital terhadap risiko perburukan pada pasien cedera kepala. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Instalasi Gawat Darurat RS PKU Muhammadiyah Gombong pada periode November 2025 hingga Februari 2026. Sebanyak 55 pasien cedera kepala dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Variabel independen adalah moda transportasi pre-hospital (medis dan non-medis), sedangkan variabel dependen adalah risiko perburukan yang diukur menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) saat tiba di IGD. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Sebagian besar pasien menggunakan transportasi non-medis (67,3%), sedangkan 32,7% menggunakan ambulans. Lebih dari separuh pasien (52,7%) berada pada risiko perburukan saat tiba di IGD. Terdapat hubungan yang signifikan antara moda transportasi dengan risiko perburukan (p = 0,008). Pasien yang menggunakan transportasi non-medis memiliki risiko perburukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ambulans (OR = 4,80; p = 0,015). Kesimpulan: Moda transportasi pre-hospital berpengaruh signifikan terhadap risiko perburukan pada pasien cedera kepala. Peningkatan akses dan pemanfaatan transportasi medis menjadi penting untuk memperbaiki outcome pasien dan menurunkan komplikasi yang dapat dicegah.
Penerapan terapi musik klasik terhadap nyeri akut pada ibu post-partum sectio caesarea Nurdiana; Vitanilisia Wikeningsih; Tulasih; Fransisca Andina Suci Wardani; Moh. Surya Rizki Saputra; Wahyuningsih
Link Journal of Health Science Vol 3 No 1 (2026): March : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v3i1.155

Abstract

Pendahuluan: Nyeri akut pasca sectio caesarea merupakan masalah umum yang memengaruhi kenyamanan, mobilisasi, dan pemulihan ibu post-partum. Terapi non-farmakologis seperti musik klasik dapat menjadi pendekatan komplementer untuk menurunkan nyeri dengan mekanisme relaksasi dan distraksi. Tujuan: Menganalisis efektivitas penerapan terapi musik klasik dalam menurunkan nyeri akut pada ibu post-partum sectio caesarea. Metode: Studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada lima pasien post-SC yang mengalami nyeri akut (skala NRS ≥4). Intervensi terapi musik klasik diberikan selama 10–15 menit dengan pemantauan skala nyeri menggunakan NRS sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil: Terdapat penurunan skala nyeri yang signifikan pada seluruh pasien: Ny. W (8→4), Ny. EI (6→2-3), Ny. A (5→4), Ny. S (7→4), dan Ny. Y (7→3). Pasien melaporkan peningkatan kenyamanan, kemampuan mobilisasi, dan kualitas istirahat setelah intervensi. Kesimpulan: Terapi musik klasik efektif sebagai intervensi non-farmakologis untuk menurunkan nyeri akut pasca sectio caesarea. Implementasinya mudah, aman, dan dapat diintegrasikan dalam protokol manajemen nyeri di layanan maternitas.
Faktor Risiko, Perlindungan, dan Strategi Pencegahan Masalah Psikososial pada Remaja: Tinjauan Sistematis Dwi Indah Iswanti; Kandar
Link Journal of Health Science Vol 3 No 1 (2026): March : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v3i1.157

Abstract

Pendahuluan: Masa remaja merupakan periode rentan terhadap timbulnya masalah psikososial seperti depresi, kecemasan, dan perilaku berisiko, yang dapat berdampak jangka panjang pada kesejahteraan individu dan masyarakat. Pendekatan pencegahan yang komprehensif dan berbasis bukti diperlukan untuk mengatasi isu kesehatan masyarakat yang mendesak ini. Tujuan: Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko dan faktor perlindungan yang signifikan, serta mengevaluasi efektivitas strategi pencegahan masalah psikososial pada remaja. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada empat database (PubMed, Scopus, PsycINFO, Cochrane) menggunakan istilah kunci terkait remaja, masalah psikososial, faktor risiko/protektif, dan intervensi. Studi observasional dan uji klinis acak (RCT) yang relevan dengan kriteria inklusi diseleksi secara independen oleh dua peneliti. Kualitas studi dinilai menggunakan alat standar (Cochrane RoB 2, NOS), dan sintesis data dilakukan secara naratif. Hasil: Dari 2.350 artikel yang diidentifikasi, 25 studi memenuhi kriteria inklusi. Faktor risiko paling konsisten adalah perundungan, disfungsi keluarga, penggunaan media sosial bermasalah, tekanan akademik, dan tingkat sosioekonomi rendah. Faktor protektif utama meliputi dukungan sosial, keterikatan sekolah, keterampilan regulasi emosi, serta optimisme. Intervensi pencegahan paling efektif bersifat multimodal dan berbasis sekolah, menggabungkan pelatihan keterampilan sosial-emosional (SEL), edukasi kesehatan mental, dan pelibatan orang tua. Kesimpulan: Masalah psikososial remaja dipengaruhi oleh interaksi kompleks faktor risiko dan proteksi. Investasi dalam program pencegahan berbasis sekolah yang evidence-based dan melibatkan berbagai sistem pendukung remaja merupakan langkah krusial untuk mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan populasi remaja.
Stimulasi persepsi: terapi musik relaksasi dalam meningkatkan kontrol halusinasi pendengaran pada pasien gangguan jiwa Ara Patiany
Link Journal of Health Science Vol 3 No 2 (2026): September : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v3i2.164

Abstract

Pendahuluan: Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gangguan persepsi sensori yang sering dialami pasien dengan gangguan jiwa, khususnya skizofrenia. Kondisi ini dapat menyebabkan kecemasan, gangguan proses pikir, serta perilaku maladaptif. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis seperti terapi musik relaksasi untuk membantu pasien dalam mengontrol halusinasi secara efektif. Tujuan: mengetahui efektivitas stimulasi persepsi: terapi musik relaksasi dalam meningkatkan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien dengan gangguan persepsi sensori. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada satu pasien rawat inap dengan halusinasi pendengaran di RSKB Columbia Asia Pulomas. Intervensi dilakukan selama tiga hari berturut-turut, sebanyak 2–3 kali per hari selama 10–15 menit, dengan kombinasi strategi pelaksanaan keperawatan (SP 1–4) dan terapi musik relaksasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi menggunakan pendekatan SOAP, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: adanya penurunan frekuensi halusinasi pendengaran, penurunan tingkat ansietas, serta peningkatan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi. Pasien mampu menerapkan teknik menghardik, bercakap-cakap, dan melakukan aktivitas terjadwal. Selain itu, pasien tampak lebih tenang dan menunjukkan peningkatan dalam interaksi sosial. Kesimpulan: Terapi musik relaksasi efektif sebagai intervensi keperawatan dalam meningkatkan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran, menurunkan ansietas, serta meningkatkan interaksi sosial pada pasien dengan gangguan persepsi sensori. Diharapkan perawat dapat mengintegrasikan terapi musik relaksasi sebagai intervensi nonfarmakologis dalam praktik keperawatan jiwa, serta institusi pelayanan kesehatan dapat mendukung penerapan terapi komplementer guna meningkatkan kualitas asuhan keperawatan secara holistik.
Hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas hidup pada pasien hipertensi Adjeng Juniar Nur Sandy; Dwi Retnaningsih; Dyah Restuning Prihati
Link Journal of Health Science Vol 3 No 2 (2026): September : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v3i2.165

Abstract

Latar belakang: Hipertensi ditandai dengan kenaikan tekanan darah yang melampaui batas normal dan berisiko memicu komplikasi organ yang fatal serta menurunkan derajat kualitas hidup penderitanya. Kondisi kesejahteraan hidup pasien hipertensi kerap kali terganggu oleh gangguan fisik maupun tekanan psikis, khususnya kecemasan. Jika tidak dikelola dengan tepat, kecemasan tersebut akan menghambat aktivitas harian serta interaksi sosial. Tujuan: mengidentifikasi keterkaitan antara tingkat kecemasan dan kualitas hidup pada penderita hipertensi di RS Permata Medika Semarang. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional. Sebanyak 45 responden dilibatkan dalam penelitian ini, yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SRAS) untuk mengukur tingkat kecemasan dan kuesioner WHOQOL-BREF untuk mengukur kualitas hidup. Analisis data menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil: Temuan di lapangan mengindikasikan bahwa kelompok lansia awal (44,5%) dan gender perempuan (66,7%) mendominasi karakteristik responden. Sebanyak 21 orang (46,7%) mengalami kecemasan dalam kategori berat, sementara 25 orang (55,6%) memiliki kualitas hidup yang buruk. Berdasarkan uji korelasi Rank Spearman, ditemukan nilai p-value sebesar 0,023 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan kualitas hidup pada pasien hipertensi di RS Permata Medika Semarang. Semakin berat tingkat kecemasan, maka semakin buruk kualitas hidup pasien, dan sebaliknya. Pasien hipertensi diharpkan untuk meningkatkan kualitas hidupnya dan mampu meminimalisir terjadinya kecemasan ketika mengalami hipertensi.
Penerapan intervensi minum obat teratur terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia Windy Florensia Risit
Link Journal of Health Science Vol 3 No 2 (2026): September : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v3i2.167

Abstract

Latar Belakang: Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala positif yang sering dialami pasien skizofrenia dan dapat memengaruhi kontrol diri, fungsi sosial, serta meningkatkan risiko kekambuhan. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap persistensi gejala halusinasi adalah ketidakpatuhan minum obat antipsikotik. Intervensi minum obat teratur digunakan sebagai pendekatan keperawatan untuk mendukung stabilisasi gejala psikotik dan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi. Tujuan: menganalisis penerapan intervensi minum obat teratur terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada satu pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Intervensi dilakukan selama tiga hari mencakup edukasi, supervisi obat, dan strategi pelaksanaan keperawatan (SP1–SP4). Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi SOAP menggunakan instrumen pengkajian jiwa, lembar observasi halusinasi, serta monitoring obat. Analisis data dilakukan secara deskriptif naratif dengan membandingkan kondisi pasien sebelum dan sesudah intervensi melalui triangulasi sumber. Hasil: adanya penurunan frekuensi halusinasi, peningkatan kepatuhan minum obat, serta peningkatan kemampuan pasien dalam menggunakan teknik kontrol halusinasi seperti menghardik, distraksi melalui interaksi, dan aktivitas terjadwal. Intervensi minum obat teratur juga berkontribusi terhadap peningkatan stabilitas perilaku dan kemampuan pasien dalam mengontrol respons terhadap stimulus internal. Kesimpulan: Intervensi minum obat teratur efektif meningkatkan kemampuan kontrol mandiri dan menurunkan frekuensi halusinasi. Saran: Perawat perlu mengintegrasikan edukasi obat ke dalam setiap tahap SP halusinasi, dan fasilitas kesehatan disarankan melibatkan keluarga dalam monitoring obat untuk mencegah kekambuhan.

Page 3 of 3 | Total Record : 26