cover
Contact Name
Dwi Indah Iswanti
Contact Email
dwi.indah.iswanti@unkaha.ac.id
Phone
+62813-2575-8841
Journal Mail Official
ljhs.linkep@gmail.com
Editorial Address
Golden Wood Blok D32 Citragrand, Sambiroto, Kec. Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah 50276, Indonesia, Email: link.educationpublication@gmail.com
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Health Science
ISSN : 3089896X     EISSN : 30898943     DOI : https://doi.org/10.63425
Core Subject : Health,
Journal of Health Science is the dissemination of information related to all health science area including: medicine, nursing, midwifery, psychologists, pharmacy, nutrition, and other health sciences. Letters and commentaries of our published articles are welcome. All submitted contributions will undergo a peer-review process according to standardized criteria.
Articles 36 Documents
Hubungan frekuensi halusinasi dengan kemampuan fungsi sosial pada pasien skizofrenia Fadri Pradiyati
Link Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2027): March : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v4i1.191

Abstract

Latar belakang: Skizofrenia dengan gejala halusinasi dapat mengganggu konsentrasi, komunikasi, hubungan interpersonal, dan keterlibatan pasien dalam aktivitas sosial. Frekuensi halusinasi yang berulang diduga berkaitan dengan rendahnya kemampuan fungsi sosial pasien skizofrenia. Tujuan: mengetahui hubungan frekuensi halusinasi dengan kemampuan fungsi sosial pada pasien skizofrenia di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 32 pasien skizofrenia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan Skala Frekuensi Halusinasi (SFH) dan Skala Kemampuan Fungsi Sosial (SKFS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square serta korelasi Spearman. Hasil: Mayoritas responden memiliki frekuensi halusinasi sedang sebanyak 13 responden (40,6%). Kemampuan fungsi sosial paling banyak berada pada kategori tinggi sebanyak 13 responden (40,6%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan p value = 0,000 (<0,05), dan uji Spearman menunjukkan r = -0,928 dengan p value = 0,000. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara frekuensi halusinasi dengan kemampuan fungsi sosial pasien skizofrenia di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Hubungan bersifat negatif sangat kuat, sehingga semakin tinggi frekuensi halusinasi maka kemampuan fungsi sosial pasien cenderung semakin rendah. Perawat perlu melakukan pengkajian frekuensi halusinasi secara rutin dan mengoptimalkan intervensi keperawatan jiwa serta rehabilitasi psikososial untuk mempertahankan fungsi sosial pasien.
Penerapan intervensi menghardik terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran Dian Angeline Luhukay
Link Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2027): March : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v4i1.196

Abstract

Latar Belakang: Halusinasi pendengaran merupakan suatu kondisi ketika seseorang mendengar suara yang sebenarnya tidak berasal dari rangsangan atau sumber nyata di lingkungan sekitarnya. Penatalaksanaan halusinasi pendengaran, salah satunya terapi latihan menghardik yang bertujuan membantu individu meningkatkan kemampuan mengendalikan gejala halusinasi. Tujuan: Menganalisis peneran intervensi menghardik terhadap kemampuan pasien skizofrenia dalam mengendalikan halusinasi. Metode: studi deskriptif dengan pendekatan studi kasus, berfokus pada masalah keperawatan skizofrenia. Intervensi strategi pelaksanaan (SP 1-4) dilakukan selama tiga hari. Hasil pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara yamg digunakan sebagai dasar pelaksanaan, maka peneliti memfokuskan pada intervensi untuk melakukan aktivitas mengontrol halusiansi pada pasien skizofrenia. Analisa data secara deskriptif narasi dengan membandingkan intervensi yang belum dilakukan dan setelah dilakukan kepada pasien. Hasil: Adanya penurun frekuensi halusinasi pendengaran dengan menggunakan teknik menghardik, minum obat, becakap-cakap dan melakukan aktivitas. Intervensi menghardik dapat menstabilkan kemampuan mengontrol halusinasi stimulus panca indra. Menghadrik dapat membantu seseorang untuk dapat mengontrol halusinasi. Kesimpulan: Intervensi menghardik yang dikombinasikan dengan stategi pelaksanaan (SP 1-4) efektif membantu pasien mengontrol halusinasi pendengaran dengan mengenali tanda munculnya halusinasi, mengurangi bisikan, dan meningkatkan kemampuan mengendalikan halusinasi. Intervensi menghardik secara konsisten dapat diterapkan kepada pasien yang mengalami halusinasi pendengaran dengan perlunya keterlibatan keluarga sebagai sistem pendukung.
Hubungan tingkat stres dengan beban kerja tenaga kesehatan di ruang instalasi gawat darurat Pipit Kurnia Wijayanti
Link Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2027): March : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v4i1.216

Abstract

Pendahuluan: Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan lingkungan klinis bertekanan tinggi yang membutuhkan penilaian cepat, pengambilan keputusan kritis, dan tindakan penyelamatan jiwa dalam waktu yang terbatas. Hal ini menjadikan IGD sebagai salah satu unit rumah sakit yang paling rentan terhadap stres kerja. Tenaga kesehatan lain di IGD seperti dokter, bidan, dan apoteker menghadapi tuntutan dan risiko stres yang sepadan. Tujuan: mengetahui serta melakukan analisa apakah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan beban kerja tenaga kesehatan di Ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Adhyatma, MPH. Metode: desain kuantitatif non-eksperimental jenis korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Teknik menggunakan teknik total sampling dimana diterapkan pada seluruh 37 tenaga kesehatan di IGD yang memenuhi kriteria inklusi. Tingkat stres di ukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-10), serta beban kerja di ukur menggunakan NASA Task Load Index (NASA-TLX). Data dianalisis dengan uji korelasi Rank Spearman. Hasil: sebagian besar responden mengalami beban kerja sedang (67,6%) serta tingkat stres sedang (59,5%). Uji korelasi Rank Spearman menunjukkan nilai koefisien ???? = 0,381 dengan nilai signifikansi ???? = 0,020 (???? < 0,05), dari hal tersebut dapat dinilai adanya hubungan positif yang signifikan secara statistik, meskipun tergolong lemah antara beban kerja dengan tingkat stres. Kesimpulan: Terdapat hubungan positif yang signifikan antara beban kerja dan tingkat stres pada tenaga kesehatan di Instalasi Gawat Darurat. Manajemen rumah sakit disarankan untuk mengevaluasi beban kerja dan kesejahteraan psikologis staf IGD secara berkala sebagai bagian dari pemantauan kesehatan kerja.
Hubungan kemampuan perawatan diri dengan kualitas hidup pada penderita congestive heart failure Agus Triyanti
Link Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2027): March : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v4i1.218

Abstract

Latar Belakang: Congestive Heart Failure (CHF) merupakan penyakit kronis dengan angka kejadian dan mortalitas tinggi yang berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien serta membutuhkan penanganan komprehensif. Kondisi ini ditandai oleh gangguan fungsi jantung yang menimbulkan gejala fisik, psikologis, dan keterbatasan aktivitas, sehingga perawatan diri menjadi aspek penting dalam pengelolaannya. Tujuan: mengetahui hubungan kemampuan perawatan diri dengan kualitas hidup pada penderita Congestive Heart Failure. Metode: kuantitatif hubunganonal dengan pendekatan cross sectional dengan populasi 47 pasien CHF dengan jumlah sampel 42 pasien yang diambil dengan teknik purposive sampling. Alat pengambilan data dengan kuesioner SCHFI (self-care of heart failure index) dan MLHFQ (minnesota living with heart failure questionnaire). Analisis data bivariate menggunakan uji chi square. Hasil: Perawatan diri penderita congestive heart failure sebagian besar dalam kategori baik sebanyak 26 responden (61,9%), kualitas hidup penderita congestive heart failure sebagian besar dalam kategori tinggi sebanyak 24 responden (57.1%). Berdasarkan uji chi square didapatkan nilai p value 0.090 (p < 0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara perawatan diri dengan kualitas hidup pada penderita congestive heart failure (CHF) di ruang rawat inap RSUD dr. Gondo Suwarno. Kesimpulan: tidak ada hubungan kemampuan perawatan diri dengan kualitas hidup pada penderita congestive heart failure di rawat inap RSUD dr. Gondo Suwarno. Peneliti selanjutnya untuk mengkaji faktor lain yang memengaruhi kualitas hidup pasien CHF, seperti aspek psikologis (kecemasan, depresi, stress) dan dukungan sosial
Implementasi program terapi dzikir terhadap tingkat depresi pada lansia yang menjalani perawatan Linda Irwanti
Link Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2027): March : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v4i1.219

Abstract

Latar Belakang: Indonesia telah memasuki fase aging population yang diikuti meningkatnya depresi pada lansia, dengan prevalensi global mencapai 28,4%. Terapi dzikir merupakan intervensi spiritual yang berpotensi menjadi alternatif nonfarmakologis, didukung oleh bukti studi meta-analisis terhadap 79.918 lansia yang menunjukkan bahwa spiritualitas berasosiasi dengan penurunan gejala depresi dan peningkatan kualitas hidup. Oleh karena itu, terapi dzikir perlu dikaji sebagai intervensi keperawatan dalam upaya mengatasi depresi pada lansia. Tujuan: Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh Terapi Dzikir terhadap Tingkat Depresi pada Lansia di RSUD dr. Gondo Suwarno. Metode: Penelitian yang digunakan kuantitatif eksperimental dengan rancangan pre eksperiment one group pre test post test. Populasi penelitian adalah lansia dengan jumlah sampel 32 lansia dengan teknik total sampling. Alat pengambilan data menggunakan geriatric depression scale. Analisa data menggunakan uji wilcoxon signed rank test. Hasil: tingkat depresi sebelum diberikan terapi dzikir sebagian besar lansia mengalami tingkat depresi sedang sebanyak 14 responden (43.8%). Tingkat depresi sesudah diberikan terapi dzikir sebagian besar lansia mengalami tingkat depresi ringan sebanyak 13 responden (40.6%). Hasil uji wilcoxon signed rank test memiliki nilai p-value 0,000 <(α = 0,05) yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara tingkat depresi sebelum dan sesudah diberikan terapi dzikir pada lansia di RSUD dr. Gondo Suwarno. Kesimpulan: Terapi dzikir terbukti efektif dalam menurunkan tingkat depresi pada lansia. Rumah sakit disarankan untuk mendukung pelaksanaan program terapi dzikir dengan menyediakan fasilitas, kebijakan, serta lingkungan yang mendukung kegiatan spiritual pasien.
Implementasi program latihan fisik sederhana balance exercise berjalan terhadap kekuatan otot pada lansia dengan hemiparese Ulfayatun Chasanah
Link Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2027): March : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63425/ljhs.v4i1.222

Abstract

  Latar Belakang: Indonesia saat ini memasuki fase penuaan penduduk yang ditandai dengan meningkatnya jumlah populasi lansia. Kondisi tersebut diikuti oleh berbagai permasalahan kesehatan, salah satunya penurunan kekuatan otot dan tingkat kemandirian. Perubahan tersebut dapat menyebabkan lansia mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Balance exercise berjalan dapat menjadi salah satu cara dalam meningkatkan kekuatan otot dan kemandirian lansia. Tujuan: mengetahui pengaruh latihan fisik sederhana balance exercice berjalan terhadap kekuatan otot lansia. Metode:  kuantitatif eksperimental dengan rancangan pre eksperiment one group prepost test. Populasi penelitian adalah lansia dengan hemiparese sebanyak 12 responden yang diambil dengan teknik purposive sampling. Alat pengambilan data menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). Analisa data bivariate menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Terdapat perbedaan antara kekuatan otot pada ekstremitas kanan sebelum dan sesudah diberikan latihan fisik sederhana balance exercise berjalan pada lansia p-value 0,002 < (α = 0.05). Terdapat perbedaan antara kekuatan otot pada ekstremitas kiri sebelum dan sesudah diberikan latihan fisik sederhana balance exercise berjalan pada lansia di RSUD dr. Gondo Suwarno p value 0,005 < (α = 0.05). Kesimpulan: Terapi latihan fisik sederhana balance exercise berjalan terbukti efektif dalam meningkatkan kekuatan otot pada lansia. Lansia disarankan untuk melakukan latihan balance exercise berjalan secara rutin dan terjadwal dengan memperhatikan keamanan serta kemampuan fisik masing-masing, sehingga dapat meningkatkan kekuatan otot, keseimbangan, dan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari

Page 4 of 4 | Total Record : 36