cover
Contact Name
-
Contact Email
jkii@umj.ac.id
Phone
+6285711025419
Journal Mail Official
jkii@umj.ac.id
Editorial Address
Gedung Cendekia, lantai 3, ruang LPPAIK UMJ, Jalan K.H. Ahmad Dahlan, Cireunde, Ciputat Timur, Tangsel
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kemuhammadiyahan dan Integrasi Ilmu
ISSN : -     EISSN : 30249131     DOI : https://doi.org/10.24853/jkii.2.2.178-192
Jurnal Kemuhammadiyahan dan Intergrasi Ilmu LPP AIK UMJ adalah jurnal yang berkaitan dengan kajian Islam dan Kemuhammadiyahan. Jurnal ini diterbitkan oleh LPP AIK, Universitas Muhammadiyah Jakarta sejak tahun 2023 (versi cetak dan online). Tujuan penerbitan jurnal ilmiah ini adalah sebagai wadah aktualisasi pendapat, hasil penelitian yang berkaitan dengan AIK. Jurnal Kemuhammadiyahan dan Intergrasi Ilmu LPP AIK UMJ mengundang para dosen, peneliti, pengkaji, praktisi, pemerhati pendidikan, serta mahasiswa S1/S2/S3, untuk mengirimkan makalah atau artikel ilmiahnya. Makalah yang masuk akan di-review secara peer-review. Setelah proses review selesai, hasil review akan diinformasikan kepada penulis paper melalui sistem Open Journal System (OJS) Jurnal ini terbit 2 kali setahun pada bulan Juni dan Desember
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2023): Desember" : 6 Documents clear
Peran Pendidikan dalam Gerakan Kemuhammadiyahaan: Studi Pada Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri dan Informatika Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA Riyan Ariyansah; Irwansyah Irwansyah; Ade Davy Wiranata; Muhamad Fadilah Rafli; Ahamad Ahdani
JURNAL KEMUHAMMADIYAHAN DAN INTEGRASI ILMU Vol. 1 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPP AIK UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkii.1.2.66-71

Abstract

Penelitian ini membahas peran pendidikan dalam Gerakan Kemuhammadiyahan di kalangan Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri dan Informatika Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA. Di era modern yang dipenuhi kemajuan teknologi dan informasi, penelitian ini menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan. Gerakan Kemuhammadiyahan, sebagai inisiatif keagamaan di universitas tersebut, memiliki tugas besar dalam membentuk karakter dan keimanan melalui pendidikan. Latar belakang penelitian ini timbul dari kesadaran akan potensi pengabaian nilai-nilai agama dalam sorotan teknologi. Tujuan penelitian adalah menganalisis peran pendidikan dalam Gerakan Kemuhammadiyahan, khususnya pada Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri dan Informatika, serta memberikan kontribusi pemikiran terkait perencanaan pendidikan keagamaan di institusi Islam.Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Populasi penelitian meliputi Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri dan Informatika, dengan sampel dipilih secara purposif. Instrumen penelitiannya meliputi wawancara, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memahami Gerakan Kemuhammadiyahan, dengan tingkat keterlibatan yang bervariasi dalam kegiatan gerakan. Mayoritas menyatakan pentingnya peran pendidikan dalam mendukung Gerakan Kemuhammadiyahan, dengan indikasi keselarasan antara kurikulum pendidikan dan nilai-nilai gerakan. Penelitian ini memiliki dorongan untuk meningkatkan integrasi nilai-nilai Kemuhammadiyahan dalam kurikulum dan kegiatan akademis, dengan rekomendasi sebagai langkah perbaikan. Kesimpulannya, Mahasiswa Teknologi Industri dan Informatika di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA memiliki pemahaman yang baik tentang Gerakan Kemuhammadiyahan, dan peran pendidikan dianggap Fakultas krusial dalam mendukung gerakan tersebut.
Refleksi Orientalisme, Oksidentalisme, dan Oksidentalis: Kajian terhadap Hubungan Timur dan Barat dalam Studi Islam Indria Hartika Rukmana; Ihsan Kamaludin
JURNAL KEMUHAMMADIYAHAN DAN INTEGRASI ILMU Vol. 1 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPP AIK UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkii.1.2.72-83

Abstract

Occidentalism is a concept that emerged as a response to Orientalism in the West. Orientalism is a viewpoint, thought, and study conducted by the West towards the Eastern world, often creating an attitude of Western superiority towards the East. As a counter-discourse to Orientalism, Occidentalism emerged as an attempt from Eastern societies to respond to Orientalism and reassess the West as an object of study. Several Muslim thinkers, such as Hasan Hanafi, Mukti Ali, Burhanuddin Daya, Alef Theria Wasim, Muzaeri, Amin Abdullah, and Al Makin, have contributed to the concept of Occidentalism. They propose research and critical study of the West, as well as attempts to understand the role of the West in Eastern civilization. Hasan Hanafi introduced occidentalism as a tool to confront the West's profound influence on Eastern civilization. Other thinkers, such as Mukti Ali, Burhanuddin Daya, and Alef Theria Wasim, discussed the importance of studying Occidentalism as a response to Orientalism. Muzaeri highlighted conceptual and ideological issues in Occidentalism, while Amin Abdullah emphasized the integration between science and religion in Islamic academic circles. Occidentalism is essential in promoting dialogue and better understanding between the West and the East in the current era of globalization. The concept still requires further development and in-depth study to understand its implications in recent developments.
PARADIGMA WASATHIYAH DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH SERTA URGENSINYA BAGI ISLAM BERKEMAJUAN DI MASA MODERN Canra Krisna Jaya; Daud Lintang; Indah Lestari
JURNAL KEMUHAMMADIYAHAN DAN INTEGRASI ILMU Vol. 1 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPP AIK UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkii.1.2.110-117

Abstract

Islam, sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, memberikan kesempatan untuk saling menghormati dalam keberagaman bagi penganutnya. Namun, terkadang kita menemui ketidakharmonisan dalam cara menghadapi keberagaman ini, yang mengakibatkan sikap eksklusifitas di kalangan umat. Maka dari peran penting bagi setiap kita untuk mensyiarkan betapa pentingnya pemahaman wasathiyah tersebut di sampikan kepada masyarakat seluas-luasnya. Sehingga dengan syiar dakwah tersebut diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai wasathiyah dalam sikap keberagamaan, sehingga generasi Islam kedepannya mampu bersikap dewasa dalam menghadapi perbedaan. Penelitian ini memiliki dua tujuan utama, yang pertama adalah menguraikan nilai-nilai Islam wasathiyah yang ditanamkan, dan yang kedua adalah menjelaskan proses penanaman nilai-nilai wasathiyah dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode studi Pustaka, dengan menerapkan proses empat tahapan diawali dengan mengumpulkan leteratur dari berbagai sumber dari buku dan jurnal yang berkaitan dengan Islam Wasathiyah. Dapat disimpulkan bahwa praktek bermasyarakat diindonesia sebagian besar sudah menerapkan sikap wasathi dalam sikap keberagamaannya. Hanya segelintir orang yang masih terkontaminasi dengan pehaman-pemahaman eksklusif, inklusif dan ektrimisme.Kata kunci: Islam berkemajuan; paradigma; wasathiyah
HERMEUNETIKA DALAM KAJIAN AGAMA Didi Sunardi
JURNAL KEMUHAMMADIYAHAN DAN INTEGRASI ILMU Vol. 1 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPP AIK UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkii.1.2.100-109

Abstract

Di kalangan umat Islam sebenarnya telah banyak kitab kitab tafsir yang menyandarkan penafsirannya kepada pemahaman terhadap teks akqur'an, artinya al-qur'an difahami dengan menggunakan teks sebagai objek pengkajian. Masih jarang kita menemukan kitab kitab tafsir yang mendasarkan penafsirannya hingga aspek kontek (asbab al-nuzul) dan kurang diperhitungkan dalam mengambil makna dari teks, Kalaupun ada namun kurang mendapat porsi yang seimbang bila dibandingkan dengan pemahaman berdasarkan teks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji apakah hermeneutika bisa digunakan untuk memahami atau mentafsirkan al-qur'an, di samping metode penafsiran al-quran yang sudah baku yang melahirkan kitab kitab tafsir yang begitu banyak. Perkembangan zaman menuntut matode metode baru untuk memahami teks ayat al-qur'an. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian literatur baik dari buku referensi atau jurnal. Dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sangat memungkinkan metode hermeuneutika digunakan untuk memahami tek teks kitab suci al-qur'an. Setidaknya ada tiga metode penafsiran hermeneutika yaitu hermeneutika teoritis, folosofis dan kritis yang dapat digunakan untuk memahami teks kitab suci
Multimodal, Semiotika dan Terjemahan Slogan Pendidikan Sekolah Dasar: Visual dan Pesan Verbal dalam Pandangan Islam Wuriy Handayani
JURNAL KEMUHAMMADIYAHAN DAN INTEGRASI ILMU Vol. 1 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPP AIK UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkii.1.2.84-99

Abstract

Beberapa slogan pendidikan yang diterjemahkan tidak sesuai dengan mode visual yang ditampilkan. Karena slogan yang diterjemahkan tidak sesuai dengan mode visual yang ditampilkan, maka makna slogan tidak tersampaikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan berbagai mode (teks dan gambar) mempengaruhi proses penerjemahan slogan di SDN Pekayon Jaya 2. Analisis multimodal dapat membantu membuka apakah terjemahan dapat menjangkau dan berkomunikasi dengan audiens bahasa target. Dan analisis multimodal membantu sejauh mana terjemahan mencapai dampak emosional yang diinginkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari enam slogan yang ditampilkan, empat di antaranya memiliki mode visual yang sesuai dengan pesan yang ingin mereka sampaikan, sementara dua lainnya tidak konsisten. Analisis multimodal menunjukkan bahwa ketika mode visual cocok dengan slogan, simbol yang digunakan juga konsisten secara semiotik. Namun, ditemukan bahwa ada beberapa terjemahan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan maksud slogan. Slogan-slogan tersebut mencoba merefleksikan kaitan antara pendidikan dan pandangan Islam, penekanan pentingnya ilmu pengetahuan, moralitas, akhlak, kesuksesan dunia dan akhirat, serta nilai-nilai seperti toleransi, keadilan, dan kebajikan dalam konteks pendidikan yang berbasis Islam. 
HADHANAH AKIBAT PERCERAIAN PERSPEKTIF FIQIH DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM Andi mazzami; Khufazo Ilman Putra Khufazo Ilman Putra; Siti Rohmah Siti Rohmah; Fakhrurazi Fakhrurazi; Usman Usman; A. Farhan A. Farhan; M. Abdu Alfikri M. Abdu Alfikri
JURNAL KEMUHAMMADIYAHAN DAN INTEGRASI ILMU Vol. 1 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPP AIK UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkii.1.2.118-124

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hukum, persamaan dan perbedaan hadhanah dalam fiqih dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Terdapat persamaan antara fiqih dan kompilasi hukum islam dalam hal siapa yang lebih berhak mengasuh anak. Keduanya sama-sama menyatakan bahwa ibulah yang berhak mengasuh anak yang belum mumayyiz. Namun demikian terjadi perbedaan antara Fiqih dan KHI dalam menentukan usia anak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah Alqur'an, kitab/buku Fiqih Islam dan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Kemudian dianalisis secara mendalam menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadhanah dalam perspektif fiqih adalah mengasuh anak yang menjadi kewajiban kedua orang tua sampai anak mumayyiz atau mampu berdiri sendiri, meskipun ibu dan silsilah dari keluarga ibulah yang lebih mampu mengasuh anak sampai anak tersebut mummayiz atau berusia 7 tahun. Sedangkan hadhanah dalam perspektif Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang dimuat dalam pasal 105 huruf (a) “dalam hal terjadi perceraian, pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. Jadi terdapat perbedaan antara fiqih dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam hal menentukan usia mummayiz anak yang mana dalam fiqih disebutkan bahwa usia mumayyiz anak adalah 7 tahun sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) usia mumayyiz anak adalah 12 tahun

Page 1 of 1 | Total Record : 6