cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Pendidikan Geografi (Berkala)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2011)" : 8 Documents clear
PENGGUNAAN TEKNOLOGI & MEDIA MASSA DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI Ardiyanto Tanjung
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.79 KB) | DOI: 10.17977/pg.v16i1.5545

Abstract

Abstrak. Artikel ini berisi pemaparan tentang penerapan teknlogi dan penggunaan media massa dalam pembelajaran geografi. Melalui teknologi, diharapkan tujuan pembelajaran geografi lebih mudah tercapai dan bermakna. Pada bagian selanjutnya dipaparkan salah satu contoh aplikasi teknologi berupa animasi sebagai media pembelajaran geografi. Teknologi animasi, memudahkan pemahaman akan keterjadian gunung api dan gempa bumi yang dibuat dengan menggunakan komputer memakai program tertentu, serta diberikan contoh penggunaan media massa seperti liputan khusus koran dan program televisi sebagai alternatif belajar geografi. Pada bagian akhir dijelaskan secara singkat bagaimana guru dalam menyusun skenario pembelajaran geografi menggunakan teknologi.Kata Kunci: Teknologi, Media Massa, Pembelajaran
WILAYAH DAN PENERAPANNYA DALAM STUDI GEOGRAFI Marhadi Slamet Kistiyanto
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.003 KB) | DOI: 10.17977/pg.v16i1.5541

Abstract

Abstrak: Peranan wilayah dalam studi geografi menempati posisi sentral, karena merupakan salah satu konsep esensial geografi. Oleh sebab itu pemahaman terhadap konsep wilayah dalam bidang geografi sangatlah penting. Pada dasarnya pengertian wilayah dalam geografi didasarkan pada kriteria keruangan. Wilayah meupakan alat bagi ahli geografi, karena dalam membagi bumi menjadi wilayah-wilayah yang lebih kecil lagi digunakan satuan wilayah, satuan wilayah yang paling luas adalah realm geografik. Berdasarkan keruangan dan kepentingannya wilayah dapat dibagi menurut tipenya yaitu wilayah formal, wilayah fungsional dan wilayah Vernicular. Basin Amazon, Polandia, dan Corn Belt merupakan contoh dalam kasus wilayah yang dipelajari dalam geografi.Kata Kunci: Konsep wilayah, tipe wilayah, penerapan kasus wilayah
IDENTIFIKASI DAN INVENTARISASI POTENSI LAHAN TAMBAK DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN LUMAJANG Agus Purnomo; Rudi Hartono; Bagus Setiabudi Wiwoho
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.086 KB) | DOI: 10.17977/pg.v16i1.5546

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah karakteristik lahan pesisir yang berpotensi untuk lahan tambak di Kabupaten Lumajang dan bagaimanakah persebaran lahan yang berpotensi untuk lahan tambak di Kabupaten Lumajang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey. Parameter yang digunakan dalam mengidentifikasi potensi lahan tambak adalah tipe pantai, kemiringan lereng,kualitas fisik tanah/ tekstur tanah, jenis tanah, kualitas air, kondisi hidrologi, jalur hijau/ wilayah konservasi, dan jumlah curah hujan rata-rata tahunan dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Pengambilan sampel menggunakan unit analisis peta satuan medan yang merupakan hasil ”overlay”dari peta jenis tanah dengan peta kemiringan lereng. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan komparatif.Kata kunci : pesisir, potensi lahan tambak, persebaran potensi
STUDI KOMPARATIF FERTILITAS PENDUDUK ANTARA DAERAH INDUSTRI DAN PERTANIAN (SUATU EVALUASI TERHADAP KEBERHASILAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA PASCA TAHUN 1998 PADA MASYARAKAT INDUSTRI DI KABUPATEN/KOTA MALANG) Budijanto Budijanto
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.907 KB) | DOI: 10.17977/pg.v16i1.5539

Abstract

Abstrak. Penurunan fertilitas dan perbaikan kesehatan masyarakat menjadi tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat fertilitas di daerah industri yang dibandingkan dengan fertilitas di daerah pertanian, dan untuk mengevaluasi keberhasilan program KB pada masyarakat industri. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan populasi pasangan usia subur pada masyarakat industri dan masyarakat pertanian. Teknik pengambilan sampel daerah dan responden secara purposive, dan wawancara sebagai teknikutama dalam pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fertilitas pada masyarakat industri lebih rendah daripada masyarakat pertanian. Terdapat perbedaan yang signifikan, antara fertilitas pada masyarakat industri dengan pertanian berdasarkan umur kawin pertama, lama periode reproduksi, pendidikan istri, pendapatan keluarga dan mortalitas bayi, dan ada perbedaan yang tidak signifikan perbedaan fertilitas berdasarkan pemakaian alat kontrasepsi. Namun secara simultan keenam variabel bebas mempunyai hubungan yang signifikan dengan fertilitas untuk daerah industri dan pertanian. Bobot sumbangan terbesar diberikan oleh variabel mortalitas bayi dan terkecil oleh pemakaian alat kontrasepsi.Kata Kunci : Fertilitas, sosial, ekonomi, budaya dan demografi
PEMBELAJARAN GEOGRAFI MELALUI PENDEKATAN JAS UNTUK MENGEMBANGKAN KECAKAPAN HIDUP Soetjipto Soetjipto
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.353 KB) | DOI: 10.17977/pg.v16i1.5547

Abstract

Abstrak: Pendidikan kecakapan hidup merupakan salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan. Esensi pendidikan kecakapan hidup adalah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata, baik preservatif maupun progresif. Relevansi antara keduanya mengarahkan pada pendidikan yang lebih bersifat realistis dan kontekstual. Bentuk pembelajaran geografi JAS berpotensi dan ber kontribusi untuk mengembangan kecakapan hidup peserta didik. Hal ini dikarenakan karakteristik dan komponen pendekatan JAS dapat mendukung pengembangan domain utama dalam kecakapan hidup, baik domain kecakapan hidup umum (general) maupun kecakapan hidup khusus (spesifik). Keberhasilan pengembangan kedua domain kecakapan hidup peserta didik melalui pembelajaran di kelas sangat tergantung pada kreativitas guru dalam mendesain bentuk pembelajaran bagi peserta didik.Kata Kunci: Pembelajaran, Pendekatan JAS, Pendidikan Kecakapan Hidup
ANALISIS DAERAH RAWAN LONGSOR UNTUK PENATAAN PENGGUNAAN LAHAN Syamsul Bachri
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.434 KB) | DOI: 10.17977/pg.v16i1.5542

Abstract

Abstrak: Longsor merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia terutama pada wilayah-wilayah yang mempunyai curah hujan tinggi dan kondisi lereng yang kurang stabil. Pemetaan daerah rawan terhadap bencana merupakan hal yang mutlak dilakukan dalam pengelolaan suatu wilayah di daerah bencana. Pembuatan peta zone rawan longsor dalam penelitian ini merupakan langkah awal dalam rangka penataan penggunaan lahan di Kecamatan Kaligesing. Kombinasi Sistem Informasi Geografi (SIG) dan Analisis Hierarki Proses (AHP) merupakan teknik yang digunakan dalam pemetaan. Faktor-faktor seperti bentuklahan, tekstur tanah, batuan, relief/lereng, dan penggunaan lahan menjadi faktor pertimbangan dalam penentuan daerah rawan longsor. Hasil dari pemetaan divalidasi dengan distribusi kejadian longsor di daerah penelitian Penataan penggunaan lahan diperoleh dari hasil analisis kombinasi peta daerah rawan longsor dan kemampuan lahan. Hasil penelitian menunjukan lebih dari 40% wilayah Kecamatan Kaligesing merupakan daerah rawan longsordengan kategori sedang, 30.05% merupakan daerah rawan dengan kategori sangat rawan dan hanya 20.78 % dengan kategori kurang rawan. Kemampuan lahan di Kecamatan Kaligesing bervariasi antara kelas II- VIII. Daerah kerawanan tinggi dengan kelas kemampuan lahan Vw, VIIe dan VIIIghanya dapat dipergunakan untuk wilayah hutan, penggembalaan, tempat rekreasi dan tempat hidup satwa liar. Daerah tingkat kerawanan sedang dengan kelas kemampuan III l dan IVw dapat digunakan untuk perkebunan dan pertanian dengan konservasi lahan yang intensif. Daerah kerawanan rendah dengan kelas kemampuan lahan IIw dan IVw dapat digunakan untuk wilyah pertanian dan permukiman dengan syarat-syarat tertentu.Kata kunci : Longsor, SIG, AHP, kemampuan lahan, tata guna lahan, Kaligesing
ANALISIS PEWILAYAHAN POTENSI SUMBERDAYA KAWASAN GUNUNG BATUR, BANGLI Ida Bagus Made Astawa
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1483.761 KB) | DOI: 10.17977/pg.v16i1.5544

Abstract

Abstrak. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkajipotensi sumberdaya alam dan pengelolaannya untuk mendukung kehidupan sosial masyarakat adat di Kawasan Gunung Batur Kabupaten Bangli. Penelitian ini terbagi dalam dua tahap selama dua tahun. Untuk mencapai tujuan tersebut dirancang penelitian dengan menggunakan rancangan survei. Sampel dan titik pengukuran di lapangan ditentukan secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi sumberdaya alam di Kawasan Gunung Batur ketersediannya memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan penduduk, kecuali potensi sumberdaya pariwisata. Daya dukung wilayah sudah tergolong optimal.Kata Kunci : Kawasan, potensi, sumberdaya alam, daya dukung wilayah.
IDENTIFICATION OF POTENTIAL SITES FOR HOOP PINE PLANTATIONS IN THE ATHERTON TABLELANDS, NORTH QUEENSLAND, USING GIS AND EXPERT KNOWLEDGE Ike Sari Astuti
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.128 KB) | DOI: 10.17977/pg.v16i1.5543

Abstract

Abstract: This study modeled the suitability of sites to establish hoop pine plantations in the Atherton Tablelands, North Queensland (NQ). The study was conducted to provide information regarding potential sites resulted from a broad level site assessment. Potential sites for hoop pine were identified using GIS which the criteria were derived from literature search and expert opinion which then were used to construct suitability criteria. Mean annual rainfall and soil types were used to assess the ecological suitability for hoop pine growth. These suitabilitycriteria were then combined with availability criteria for determining possible expansions of hoop pine plantations on private lands, which comprise the land size, land status, land cover, land use and slope limit. The model was then validated using hoop pine site index records as a surrogate for hoop pine potential growth. From the results, the region was found to be edaphically and climatically suitable encompassing around 35,567 ha of land was identified as highly suitable and 4,680 ha as moderately suitable. It was also revealed that suitability classes derived from spatial modeling can only produce indicative locations of lands suitable for supporting hoop pine growth. While datasets came from various scales and precision, the results of the study have limited applicability for planning at individual farm but are useful to gain initial consideration at the regional level to target areas for plantation expansion.Keywords: Hoop pine, land suitability, land-availability, GISbased modeling

Page 1 of 1 | Total Record : 8