Articles
93 Documents
IDENTIFIKASI DAN INVENTARISASI POTENSI LAHAN TAMBAK DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN LUMAJANG
Agus Purnomo;
Rudi Hartono;
Bagus Setiabudi Wiwoho
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (638.086 KB)
|
DOI: 10.17977/pg.v16i1.5546
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah karakteristik lahan pesisir yang berpotensi untuk lahan tambak di Kabupaten Lumajang dan bagaimanakah persebaran lahan yang berpotensi untuk lahan tambak di Kabupaten Lumajang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey. Parameter yang digunakan dalam mengidentifikasi potensi lahan tambak adalah tipe pantai, kemiringan lereng,kualitas fisik tanah/ tekstur tanah, jenis tanah, kualitas air, kondisi hidrologi, jalur hijau/ wilayah konservasi, dan jumlah curah hujan rata-rata tahunan dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Pengambilan sampel menggunakan unit analisis peta satuan medan yang merupakan hasil ”overlay”dari peta jenis tanah dengan peta kemiringan lereng. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan komparatif.Kata kunci : pesisir, potensi lahan tambak, persebaran potensi
Perubahan Sosial Penglaju Di Desa Arjowinangun Kotamadya Malang
Soetjipto T.H.
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/pg.v4i1.1935
Arus urbanisasi yang melanda daerah perkotaan merupakan salah satu sebab makin padatnya penduduk di kotakota besar. Kepadatan itu dapat menimbulkan berbagai masalah bila tidak diimbangi dengan penyediaan fasilitas yang memadai. Faktor penyebab meningkatnya kepadatan penduduk kota adalah laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Dalam kurun waktu 23 tahun jumlah penduduk Kotamadya Malang berkembang dari 412.698 jiwa menjadi 737.598 jiwa (terjadi peningkatan sebesar 324.900 jiwa atau lebih kurang 78,73 prosen). Bila dicermati, laju pertambahan penduduk Kotamadya Malang bukan semata-mata disebabkan oleh kelahiran, melainkan juga karena faktor urbanisasi yaitu arus perpindahan penduduk dari desa ke kota. Terkait dengan ha1 tersebut di atas, maka dilakukan penelitian tentang motivasi penduduk, Desa Aljowinangun dalam melakukan migrasi harian di Kotamadya Malang. Tujuan penelitian ini ada1ah memahami faktor-faktor dari dalam diri, dari dalam maupun dari luar desa, perubahan taraf hidup penglaju, dan peran penglaju asli maupun pendatang dalam melakukan migrasi harian, peran penglaju dalam perubahan sosial di Kotamadya Malang. Metode yang digunakan adalah metode observasi dan wawancara dengan menggunakan pendekatan kualitatif jenis etnometodologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anggapan umum dari ketiga desa itu dalam melakukan migrasi ke kota adalah penghasilan dari usaha tani tidak mencukupi, kurangnya kesempatan ketja di sektor pertanian dan non pertanian, rendahnya tingkat upah di desa di samping lahan pertanian yang semakin sempit, status sosial dan gengsi penglaju meningkat, dan meningkatnya perno (ketrima dan ketengen) penglaju dalam perubahan sosial.
Kualitas Lingkungan Permukiman Penduduk Miskin Daerah Pedesaan di Kabupaten Tulungagung
Sugeng Utaya
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 6, No 1 (1999)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/pg.v6i1.2036
Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi kualitas permukiman penduduk miskin di daerah pedesaan di Kabupaten Tulungangung dan kaitan kualitas lingkungan permukiman tersebut dengan kondisi sosial ekonomi penduduknya. Populasi penelitian adalah seluruh wilayah dan penduduk miskin di daerah pedesaan di Kabupaten Tulungagung. Sampel wilayah ditetapkan secara sengaja (pourposife sampling) dan terpilih desa Kiping mewakili daerah belum berkembang dan desa Tanggung mewakili daerah yang sudah berkembang. Sampel responden dipilih secara random dengan responden 100 kk. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi lapangan, dengan instrumen daftar pertanyaan dan label kriteria kualitas lingkungan permukiman. Penetapan kualitas lingkungan rumah dan permukiman di kerjakan dengan cara pemberian skor (scoring) menggunakan model Risyanto (modifikasi model Departemen Pekerjaan Umum). Korelasi kualitas lingkungan permukiman dengan kondisi sosial ekonomi penduduk dianalisis dengan label silang dan regresi ganda. Penelitian ini memperoleh basil: (1) kualitas lingkungan rumah dan lingkungan permukiman penduduk miskin di Kabupaten Tulungagung masih tergolong kurang baik hingga buruk; hal ini menunjukkan bahwa faktor kemiskinan masih menjadi kendala bagi upaya pemeliharaan pemeliharaan rumah dan lingkungan permukiman; (2) kualitas lingkungan rumah dan lingkungan permukiman di daerah pedesaan miskin di Tulungagung sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi penduduknya, dan faktor yang menonjol adalah jumlah anggota keluarga dan tingkat pendapatan.
BEBERAPA FAKTOR YANG MENENTUKAN TKI DALAM MEMILIH NEGARA TUJUAN SEBAGAI TEMPAT BEKERJA, STUDI DI DESA ARYOJEDING KABUPATEN TULUNGAGUNG
Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 21, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (188.899 KB)
|
DOI: 10.17977/jpg.v21i2.5905
Abstrak: Ketimpangan pasar tenaga kerja di Indonesia menyebabkan sebagian angkatan kerja bekerja di luar negeri menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa alasan TKI memilih Negara tujuan tertentu sebagai tempat bekerja. Desain penelitian ini kualitatif dengan analisisa data menggunakan model Miles dan Haberman yakni reduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil penelitian bahwa subyek memilih atau menentukan negara tujuan memiliki alasan terentu. Subyek memilihNegara Malaysia karena faktor dekat, bahasa komunikasi, dan bisa illegal. Subyek memutuskan bekerja di Negara Taiwan dan Hongkong lebih tertarik faktorada perlindungan terhadap Tenaga kerja asing, Jaminan libur setiap hari sabtu Subyek yang memilih negara Korea Selatan dikarenakan faktor upah yang sangat tinggi dan disiplin dalam bekerja.Kata Kunci : Penyebaran Negara Tujuan, Pendapatan, TKI.
Mekanisme Pelaksanaan Pembangunan Desa Terpadu
Sumarmi Sumarmi
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 3, No 1 (1996)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/pg.v3i1.1907
Pembangunan di Indonesia dilaksanakan secara menyeluruh di semua propinsi. baik itu di duerah perkotaan maupun di daerah pedesaan. Dalam membangun desa harus memperhatikan dan menggali potensi-potensi yang ada di desa, baik itu potensi sumber daya alam maupun potensi sumber daya manusianya. Semua itu dilaksanakan untuk mengembangkan desa demi mencapai kesejahteraan dan kemakmuran yang merata. Supaya pembangunan yang ada di desa bisa tercapai dengan baik se1ain memperhatikan potensi yang ada juga harus dilaksanakan secara terpadu antara kebijaksanaan dari atas dan dari bawah.
Tingkat Pengangguran di Perkotaan
I Nyoman Raja
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 5, No 1 (1998)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/pg.v5i1.1997
Tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi merupakan penyebab besarnya jumlah tenaga kerja atau penduduk yang. berumur 10 tahun ke atas. Masalah ketenagakerjaan lndonesia selain diharapkan pada kualitas yang relatif masih rendah, juga dihadapkan pada masalah masih relatif tingginya tingkat pengangguran terbuka. Pada tahun 1971 tingkat pengangguran sebesar 1,7 %, naik menjadi 3,2 % pada tahun 1990. Pada tahun 1994 tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 %. Tampaknya terdapat kecenderugan tingkat pengangguran meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan. Kecenderugan tersebut semakin jelas di daerah perkotaan. Memasuki tahun 1998, sektor ketenagakerjaan menghadapi tantangan berat, akibat krisis moneter yang berubah menjadi krisis ekonomi telah memukul sebagian besar sektor dunia usaha di perkotaan. Akibat dari krisis ekonomi tersebut beberapa perusahaan di perkotaan mengadakan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Hal tersebut akan mempertinggi tingkat pengangguran di perkotaan pada awal tahun 1998.
APLIKASI PETA JENIS TANAH DALAM MENGIDENTIFIKASI LAHAN BERPOTENSI UNTUK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KECAMATAN CENDANA KABUPATEN ENREKANG
Hasriyanti Hasriyanti;
Ibrahim Abbas;
M. Nur Zakariah Leo
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 21, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (283.677 KB)
|
DOI: 10.17977/pg.v21i1.5419
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi menyeluruh kepada masyarakat di Kecamatan Cendana mengenai potensi lahan setempat untuk perkebunan kelapa sawit. Masyarakat diharapkan mampu mengidentifikasi wilayah-wilayah mana yang cocok dijadikan perkebunan sawit. Wilayah-wilayah mana yang cocok dijadikan perkebunan sawit berdasarkan interpretasi peta jenis tanah. Langkah yang ditempuh dalam memecahkan masalah pada kegiatan ini adalah sebagai berikut: a) melakukan kerjasama dengan Instansi terkait di Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang, yakni Kepala Kecamatan serta tokoh masyarakat dan para warga setempat dalam pengenalan penggunaan lahan yang ada di Kecamatan Cendana, b) melakukan kegiatan pendataan dan pengenalan dalam mengidentifikasi beberapa permasalahan penggunaan lahan yang terdapat di sekitar wilayah penelitian, agar mampu disinergiskan dengan tujuan atau sasaran dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, c) melakukan praktik aplikasi peta tematik, dalam hal ini peta jenis tanah, untuk keperluan identifikasi wilayah berpotensi untuk perkebunan kelapa sawit. Hasil yang diperoleh dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa ada sebagian besar lahan berpotensi cocok untuk budidaya kelapa sawit di Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang. Lanjut pada beberapa data yang menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat masih sangat kurang mengenai potensi lahan terhadap perkebunan kelapa sawit. Hal tersebut ditunjukkan dengan jumlah dan luasan lahan perkebunan kelapa sawit yang sedikit terdapat di Kecamatan Cendana, kondisi lahan yang tidak terawat baik meskipun sudah ditanami kelapa sawit. Masyarakat melalui pemerintah setempat, diberikan pengetahuan melalui aplikasi peta tematik jenis tanah dalam mengidentifikasi lahan berpotensi untuk perkebunan kelapa sawit. Meskipun kegiatan ini hanya sebatas pada identifikasi sebagai tahap awal, diharapkan selanjutnya dilakukan penelitian melalui parameter fisik, kimia, dan biologinya secara mendalam.Kata-kata kunci: Aplikasi Peta Jenis Tanah, Identifikasi Lahan, Kelapa Sawit
Penurunan Angka Material Melalui Program Keluarga Berencana
Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 2, No 2 (1995)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/pg.v2i2.1860
Program Keluarga Berencana di Indonesia, sejak awalnya telah bertujuan salah satunya untuk meningkatkan kesehatan anak dan kesehatan ibu. Tujuan tersebut bisa dicapai antara lain melalui pengaturan jarak kelahiran, dan mengidealkan jumlah anak tertentu. Untuk mengetahui kesehatan ibu salah satunya tolok ukur adalah angka maternal atau angka kematian ibu. Maternal merupakan kematian ibu pada saat hamil atau dalam waktu 42 hari setelah persalinan. Maternal (kematian ibu) secara langsung lebih banyak disebabkan oleh komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas, maka program KB dapat memberikan kontribusi yang cukup besar dalam penurunan angka maternal. Sebab dengan pengaturan jarak kelahiran dan mengidealkan jumlah anak tertentu, secara langsung dapat menekan dari terhindarnya komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas.
STUDI KOMPARATIF FERTILITAS PENDUDUK ANTARA DAERAH INDUSTRI DAN PERTANIAN (SUATU EVALUASI TERHADAP KEBERHASILAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA PASCA TAHUN 1998 PADA MASYARAKAT INDUSTRI DI KABUPATEN/KOTA MALANG)
Budijanto Budijanto
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (247.907 KB)
|
DOI: 10.17977/pg.v16i1.5539
Abstrak. Penurunan fertilitas dan perbaikan kesehatan masyarakat menjadi tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat fertilitas di daerah industri yang dibandingkan dengan fertilitas di daerah pertanian, dan untuk mengevaluasi keberhasilan program KB pada masyarakat industri. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan populasi pasangan usia subur pada masyarakat industri dan masyarakat pertanian. Teknik pengambilan sampel daerah dan responden secara purposive, dan wawancara sebagai teknikutama dalam pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fertilitas pada masyarakat industri lebih rendah daripada masyarakat pertanian. Terdapat perbedaan yang signifikan, antara fertilitas pada masyarakat industri dengan pertanian berdasarkan umur kawin pertama, lama periode reproduksi, pendidikan istri, pendapatan keluarga dan mortalitas bayi, dan ada perbedaan yang tidak signifikan perbedaan fertilitas berdasarkan pemakaian alat kontrasepsi. Namun secara simultan keenam variabel bebas mempunyai hubungan yang signifikan dengan fertilitas untuk daerah industri dan pertanian. Bobot sumbangan terbesar diberikan oleh variabel mortalitas bayi dan terkecil oleh pemakaian alat kontrasepsi.Kata Kunci : Fertilitas, sosial, ekonomi, budaya dan demografi
ANALISIS FUNGSI KAWASAN BUDIDAYA DI KABUPATEN BONDOWOSO
Nevy Farista Aristin
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 20, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (218.353 KB)
|
DOI: 10.17977/pg.v20i2.5066
Abstrak: Pertumbuhan wilayah suatu wilayah sangat bergantung pada sektor internal dan ekstrenal. Kebijakan struktur ruang dalam RTRW yang selama ini diterapkan di Kabupaten Bondowoso masih belum mampu untuk mengatasi disparitas wilayah yang terjadi. Atas dasar itu maka perlu adanya analisis fungsi kawasan budidaya di Kabupaten Bondowoso guna mencari keunggulan dari masing-masing wilayah yang ada. Metode yang digunakan adalah survey institusional. Teknik yang digunakan dalam pemilihan lokasi penelitian ini adalah purposive yaitu metode pemilihan lokasi berdasarkan pada tujuan penelitian. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bondowoso dengan unit analisis berdasarkan unit populasi, yaitu seluruh kecamatan yang didominasi oleh kawasan budidaya di Kabupaten Bondowoso. Fungsi kawasan di Kabupaten Bondowoso didominasi dengan kawasan budidaya yang terdiri dari 17 kecamatan dari 23 kecamatan. Kawasan-kawasan tersebut memiliki fungsi yang didominasi oleh lahan sawah dan ladang. Pengelolaan kawasan budidaya yang ada di 17 Kecamatan di Kabupaten Bondowoso tersebut ditujukan dengan mendorong segala kegiatan perekonomian yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperkuat perekonomian daerah berdasarkan potensi yang ada. Ini nantinya dalam kawasan budidaya tiap kecamatan didasarkan pada potensi wilayah yang ada tanpa mengurangi ataupun merusak kawasan lindung yang ada di Kabupaten Bondowoso.Kata kunci: Kawasan budidaya dan keunggulan wilayah