cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Pendidikan Geografi (Berkala)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 93 Documents
PEMBELAJARAN GEOGRAFI MELALUI PENDEKATAN JAS UNTUK MENGEMBANGKAN KECAKAPAN HIDUP Soetjipto Soetjipto
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.353 KB) | DOI: 10.17977/pg.v16i1.5547

Abstract

Abstrak: Pendidikan kecakapan hidup merupakan salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan. Esensi pendidikan kecakapan hidup adalah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata, baik preservatif maupun progresif. Relevansi antara keduanya mengarahkan pada pendidikan yang lebih bersifat realistis dan kontekstual. Bentuk pembelajaran geografi JAS berpotensi dan ber kontribusi untuk mengembangan kecakapan hidup peserta didik. Hal ini dikarenakan karakteristik dan komponen pendekatan JAS dapat mendukung pengembangan domain utama dalam kecakapan hidup, baik domain kecakapan hidup umum (general) maupun kecakapan hidup khusus (spesifik). Keberhasilan pengembangan kedua domain kecakapan hidup peserta didik melalui pembelajaran di kelas sangat tergantung pada kreativitas guru dalam mendesain bentuk pembelajaran bagi peserta didik.Kata Kunci: Pembelajaran, Pendekatan JAS, Pendidikan Kecakapan Hidup
Modus Penggunaan Metode Kontrasepsi Keluarga Berencana Pada Pola Permukiman Penduduk Di Daerah Pedesaan Kabupaten Malang Djoko Soelistijo
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v4i1.1941

Abstract

Akseptor KB di daerah pedesaan memiliki metode kontrasepsi yang tidak selalu proporsional yang seimbang. Hal ini dapat di1ihat adanya daerah IUD, daerah PQ., daerah SUNTIK, yang berarti telah terjadi penyadapan inovasi dan informasi KB pada tingkat yang seragam atau hampir seragam. Atas dasar kenyataan yang ada, metode kontrasepsi KB di daerab pedesaan akan banyak dipengaruhi oleh pola pemukiman penduduk.
Pemimpin Masyarakat dan Program Aksi di Pedesaan Achmad Fatchan
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 6, No 1 (1999)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v6i1.2040

Abstract

Membahas dan mengungkap tentang kepemimpinan yang ada dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan, lebih khusus petani (peasant society) sangat perlu, karena berkaitan dengan strategi dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat atau pembangunan pedesaan. Pengetahuan tentang struktur kekuatan dan pimpinan sosial dalam kehidupan masyarakat, secara garis besar berkait dengan personal yang peduli terhadap program-program pembangunan clan pengembangan yang ada di dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Pemimpin masyarakat mempunyai legitimasi terhadap program-program pembangunan. Tanpa bantuan mereka sangat sulit atau bahkan tidak mungkin melakukan penggerakan masyarakat. Dalam konsep kekuatan sosial, pemimpin masyarakat merupakan dimensi yang sangat penting.
MORFOLOGI PROFIL TANAH VERTISOL DI KECAMATAN KRATON, KABUPATEN PASURUAN Dwiyono Hari Utomo
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 21, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.977 KB) | DOI: 10.17977/jpg.v21i2.5906

Abstract

Abstrak: Tanah vertisol mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Pada saat musim kemarau tanah retak bahkan pecah, tetapi pada saat musim penghujan tanah mengembang dan menggelombang. Sifat kembang kerut ini dipengaruhi oleh pembasahan dan pengeringan, terutama iklim yang tegas antara musim kemarau dan penghujan. Pada saat tanah retak dan pecah, materi tanah permukaan dapat mengisi masuk ke dalam retakan. Pada saat musim penghujan retakan terisi oleh larutan dan kemudian menutup rapat, bahkan mengembang. Perilaku liat yang demikian menyebabkan kekacauan horison. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui sifat-sifat tanah melalui morfologi profilnya. Profil tanah dibuat dengan ukuran 1 x 1 x 1-2 meter sebanyak 4 profil pada elevasi yang berbeda. Setiap profil diambil sampel pada kedalaman 30 cm, 60 cm, dan 90 cm dengan 4 kali ulangan, sehingga jumlah sampel 4 x 3 x 4 = 48 sampel. Hasil penelitian menunjukkan struktur gumpal pada setiap kedalaman, tanah sulit diolah karena keras bila kering dan lengket bila basah. Berat jenis antara 2,41-2,81g/cm3,  berat volume antara 1,01-1,21 g/cm3, porositas antara 54,39-61,25%,  dan konsistensi sangat teguh. Warna tanah didominasi warna hitam dengan gradasinya, yaitu 10YR 2/1 (black) dan 10YR 2/2 (very dark brown). Hitam kelam (10 YR 2/1) di horison permukaan dan hitam kecoklatan (10 YR 2/2) di horison sub permukaan. Perubahan warna dapat terjadi karena bahan organik yang lebih banyak di horison permukaan, sedangkan semakin dalam banyak mengandung kapur. Tumbuhan penutup tanah berupa rumput liar, atau tanpa tanaman budidaya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa tanah ini memiliki sifat-sifat fisik yang jelek untuk budidaya pertanian.Kata kunci: profil, vertisol, kraton
Prognosis Bentang Lahan Daerah yang Terkena Bencana Letusan Gunung Merapi Jangka Waktu 5-10 Tahun Rudi Hartono
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 3, No 1 (1996)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v3i1.1910

Abstract

Letusan gunung Merapi pada tangga1 22 November 1994, menurut seksi Penyelidikan Gunung Merapi (POM) tidak terjadi secara mendadak. Tanda-tandanya sudah terbaca sejak 7 bulan sebelumnya. Awan panas atau nuee ardente telah mengakibatkan jatuhnya korban sebanyak 50 orang lebih. Letusan Gunung Merapi mempunyai ciri khas yaitu ditandai dengan longsoran kubah lava yang diikuti pertumbuhan kubah lava berikutnya. Keadaan ini telah berlangsung sejak 200 hihgga 300 tahun yang lalu. Lava Merapi bersifat liat sehingga dapat mengakibatkan terbentuknya sumbat lava. Seperi sifat bencana alam pada umumnya, letusan Merapi telah mengakibatkan perubahan pada bentang lahan. Untuk mengetahui bagaimanakah keadaan dan perkiraan ekosistem bentang lahan daerah bencana itu di masa yang akan datang, maka pedulah dilakukan prognosis. Prognosis berarti peramalan senega bentang lahan dan basil di masa depan, serta akibat dari dampak alami yang terjadi pada bentang lahan tertentu. Unsur-unsur ekosistem bentang lahan yang dibahas dalam prognosis ini ialah: (1) iklim, (2) geologi, (3) geomorfologi, (4) tanah, (5) air, (6) vegetasi dan (7) pengaruh manusia. Dari hasil prognosis diperkirakan keadaan ekosistem bentang lahan daerah bencana akan kembali seperti semula setelah 15 tahun kemudian dihitung dari saat terjadinya letusan. Bencana letusan telah mengubah ekesistem bentang lahan. Untuk tumbuhan tingkat rendah, seperti jamur, lumut dan rumput-rumputan dalam waktu 6 bulan diperkirakan sudah akan tumbuh.
Ruang Terbuka Hijau di Kota I Komang Astina
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 5, No 1 (1998)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v5i1.1999

Abstract

Dalam perencanaan dan pembangunan kota, aspek kelayakan ekologis sering terabaikan, sehingga menimbulkan berbagai masalah lingkungan. Salah satu aspek ekologi yang terabaikan adalah keberadaan ruang terbuka hijau yang merupakan komponen penting lingkungan kota. Ruang­ terbuka hijau mempunyai fungsi fisis, sosial dan estetis, se­hingga keberadaanya sangat penting bagi masyarakat kota. Pada kota yang sudah jadi, keberadaan ruang ini semakin ter­desak oleh berbagai kebutuhan pembangunan fisik, sedangkan pada wilayah perkotaan yang baru sering kurang memperhatikan ruang terbuka hijau.
HUBUNGAN MINAT DAN KEBIASAAN MEMBACA DENGAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA SMA UNGGULAN PONDOK PESANTREN ZAINUL HASAN GENGGONG PROBOLINGGO Kurnia Maulidi Noviantoro; Achmad Amirudin; Budijanto Budijanto
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 21, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.173 KB) | DOI: 10.17977/pg.v21i1.5421

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengungkap hubungan antara minat membaca dengan hasil belajar geografi, (2) mengungkap hubungan antara kebiasaan membaca dengan hasil belajar geografi, (3) mengungkap hubungan antara minat dan kebiasaan membaca dengan hasil belajar geografi, dan (4) mengungkap hubungan yang paling dominan antara minat dan kebiasaan membaca dengan hasil belajar geografi. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA Unggulan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo yang terbagi dalam empat kelas. Sampel penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling dengan menunjuk dua kelas yang memiliki nilai rata-rata tertinggi dan terendah yaitu siswa kelas X-3 untuk kelas nilai tertinggi dan siswa kelas X-4 untuk kelas terendah. Pengumpulan data dilakukan dengan instrument angket. Hasil belajar diukur dengan keberadaan nilai UAS semester ganjil siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan negatif antara minat membaca dan hasil belajar geografi dengan kontribusi min-at membaca sebesar 8,8%, (2) terdapat hubungan positif antara kebiasaan mem-baca dan hasil belajar geografi dengan kontribusi kebiasaan membaca sebesar 21,8%, (3) terdapat hubungan yang positif secara simultan antara minat dan ke-biasaan membaca dengan hasil belajar geografi, (4) Kebiasaan membaca mem-iliki hubungan yang paling dominan di antara minat membaca dengan hasil belajar geografi.Keywords: minat membaca, kebiasaan membaca, hasil belajar
Geografi Pariwisata Sebagai Materi Program Muatan Lokal Pada SMU di Wilayah Daerah Tujuan Wisata: Suatu Gagasan Pengembangan Kurikulum SMU Timotius Suwarna
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 2, No 2 (1995)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v2i2.1862

Abstract

Salah satu tujuan pengajaran Geografi adalah mengembangkan kemampuan berfikir analisis geografi dalam memahami gejala geosfir. Keindahan alam dan keberadaan budaya daerah di beberapa wilayah negeri kita merupakan salah satu wujud gejala geosfir yang akhir-akhir ini menjadi dambaan bagi pendapatan daerah dan devisa negara. Oleh karena itu semua pihak yang berada di sekitar wilayah daerah tujuan wisata perlu memahami gejala geosfir tersebut dan mampu mengantisipasi baik dalam mempertahankan kelestariannya maupun upaya memperoleh manfaat dari keadaan tersebut. Untuk itu anggota masyarakat lewat para siswa SMU diharapkan dapat memperoleh gambaran/informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan kepariwisataan. Penambahan materi program muatan lokal tentang Geografi Pariwisata diharapkan dapat membekali para siswa guna menyampaikan informasi kepada masyarakat sekitarnya dan berguna bagi para siswa sendiri untuk memanfaatkan peluang dalam mendapatkan/menciptakan lapangan kerja. Dapat juga menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan dalam menentukan studi lanjut setelah tamat SMU.
URGENSI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR GEOGRAFI BERBASIS KEARIFAN LOKAL Ardyanto Tanjung; Muhammad Fahmi
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 20, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.651 KB) | DOI: 10.17977/pg.v20i1.5006

Abstract

Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk memberi gambaran peran Pengembangan bahan ajar Geografi. Salah satu permasalahan pembelajaran geografi dewasa ini adalah ketika materi cenderung hafalan tanpa menyadari fakta kearifan local yang bisa menjadi materi yang penting dipahami peserta didik. Implementasi Kurikulum 2013 mengisyaratkan pembelajaran yang mengangkat kearifan lokal sebagai materi yang perlu dikembangkan khususnya pada pembelajaran Geografi.Terdapat beberapa langkah belajar yang bisa diterapkan dalam pembelajaran Geografi, langkah belajar tersebut diharapkan dapat merangsang peserta didik dalam melatih kepekaan mengidentifikasi lingkungan dan kewilayahan dimana peserta didik tinggal. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan identifikasi masalah,  sejumlah langkah kerja sehingga materi ajar dapat menjadi jawaban permasalahan  di sekitar peserta didik.Kata kunci: Pengembangan bahan ajar, Geografi, kearifan local, kurikulum 2013
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TREFFINGER TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KREATIF MAHASISWA UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG Yuli Ifana Sari; Dwi Fauzia Putra
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 20, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.04 KB) | DOI: 10.17977/pg.v20i2.5065

Abstract

Abstrak: Model pembelajaran Treffinger digunakan untuk membelajarkan mahasiswa berpikir kritis dan kreatif melalui teknik divergen, analogi, hingga melalui pemecahan masalah kreatif.Keunggulan utama model ini terletak pada bagaimana model ini memadukan antara proses berpikir konvergen (kritis) dan divergen (kreatif). Adanya perpaduan kedua tipe berpikir tersebut membuat model ini efektif dalam membuat kemampuan berpikir kritis dan kreatif berkembang. Tujuan penelitian ini yaitu menguji pengaruh model pembelajaran Treffinger terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semudengan desain Non Equivalent Control Group Design. Subjek penelitian ditentukan berdasarkan kemiripan nilai rata-rata ujian tengah semester mahasiswa dan instrumen pengukurannya menggunakan tes essay. Hasil pengukuran berpikir kritis dan kreatif berupa data yang selanjutnya dianalisis menggunakan t-test dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows.Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh rata-rata gain score kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen yaitu sebesar 30,9 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 15,2. Rata-rata gain score kemampuan berpikir kreatif kelas eksperimen sebesar 30,3 sedangkan kelas kontrol sebesar 17,2. Selanjutnya hasil analisis uji t independen sample t test menunjukkan bahwa pada model pembelajaran Treffinger diperoleh p-level 0,00 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti Ho ditolak dan H1 diterima sehingga ada pengaruh model pembelajaran Treffinger terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif.Kata Kunci: Model Pembelajaran Treffinger, Berpikir Kritis dan Kreatif

Page 6 of 10 | Total Record : 93