cover
Contact Name
Dita Arccinirmala
Contact Email
dorotea.arccinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281905203065
Journal Mail Official
CDK@kalbe.co.id
Editorial Address
Redaksi CDK Gedung Kalbe, gedung 2 lantai 2 Jl. Letjen Suprapto Kav. 4. Cempaka Putih - Jakarta 10510
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (CDK) is a Medical Journal published since 1974 and affiliated with PT Kalbe Farma Tbk. CDK is intended to help accommodate scientific publications and help increase and disseminate knowledge related to the development of medical science, pharmacy, and public health. CDK covers the disciplines of medicine, pharmacy, and health with several types of articles, namely: 1. Research 2. Literature review 3. Case report 4. Evidence-based case report (EBCR), systematic review 5. Other scientific articles Based on the SK Kemendikbudristek Nomor 152/E/KPT/2023, CDK has obtained Rank 4 (SINTA 4) for Scientific Journals.
Articles 1,288 Documents
Bakteri Anaerob Clostridium botulinum dan Toksin yang Dihasilkannya Conny Riana Tjampakasari; Rifdah Hanifah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i5.230

Abstract

C. botulinum adalah salah satu bakteri paling patogen karena dapat menghasilkan botulinum neurotoxin (BoNT) yang mematikan. Terdapat 3 jenis botulisme, yaitu botulisme keracunan makanan, botulisme inhalasi, dan botulisme luka. Meskipun kejadian botulisme jarang, namun harus diwaspadai karena cukup fatal. Sebagian besar kasus botulisme pada manusia disebabkan oleh makanan kaleng yang dipersiapkan di rumah. Isolasi dan identifikasi C. botulinum dapat dilakukan dengan pemeriksaan pewarnaan Gram, kultur, dan identifikasi, sedangkan deteksi toksin dapat menggunakan metode mouse lethality assay, non-lethal mouse assay, dan metode imunologi. Pendekatan molekuler dilakukan melalui uji polymerase chain reaction (PCR) untuk deteksi jenis toksin. Pencegahan botulisme dilakukan dengan teknik penanganan makanan yang tepat. Pemanasan yang memadai dapat membunuh spora bakteri, selain itu segera mengonsumsi makanan yang telah dimasak dapat mencegah C. botulinum bertumbuh. C. botulinum is one of the most pathogenic bacteria because it can produce deadly botulinum neutotoxin (BoNT). There are 3 types of botulism: botulism poisoning, inhalation botulism, and wound botulism. Although the incidence of botulism is rare, the impact is quite fatal. Most cases of botulism in human are caused by canned food prepared at home. Isolation and identification of C. botulinum can be done by Gram staining, culture, and identification, while the detection of toxins can use the mouse lethality assay, non-lethal mouse assay, and immunological methods. Molecular approach can be done through polymerase chain reaction (PCR) examination to detect the toxin type. Prevention can be applied with proper food handling techniques. Adequate heating can kill bacterial spores, and direct consumption can prevent proliferation of C. botulinum.
Diagnosis dan Tata Laksana Miksoma Jantung Karina Puspaseruni
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i5.231

Abstract

Miksoma jantung merupakan tumor jantung primer jinak yang paling umum. Meskipun secara histologis bersifat jinak, namun dapat berpotensi terjadinya emboli sistemik dan serebral, bahkan berpotensi menyebabkan kematian mendadak. Karena kasus miksoma jantung merupakan kasus langka dan jarang dikenali, diagnosis awalnya sering keliru. Cardiac myxoma is the most common benign primary cardiac tumor. Although cardiac myxomas are histologically benign, it can be very life-threatening owing to the potential of systemic and cerebral embolization, causing sudden cardiac death. Due to the rarity and consequent unfamiliarity, cardiac myxomas are sometimes misdiagnosed.
Diagnosis dan Tata Laksana Dermatitis Herpetiformis Prayogi Miura Susanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i5.232

Abstract

Dermatitis herpetiformis (DH) merupakan penyakit kulit autoimun kronik-residif akibat proses sekunder hipersensitivitas terhadap gluten. Kejadian DH tinggi pada populasi dengan predisposisi genetik HLA-DQ2 atau DQ8. Manifestasi klinis DH berupa lesi polimorfik ruam papulo-vesikular atau papul-eskoriasi didominasi rasa gatal. Baku emas diagnosis DH adalah pada pemeriksaan DIF didapatkan deposit imunoglobulin (Ig)-A granular di stratum papila dermis. Diet bebas gluten merupakan tata laksana utama. Dapson menjadi obat pilihan pertama. Prognosis baik dengan diagnosis dan tata laksana yang tepat. Dermatitis herpetiformis (DH) is a chronic-recurrent autoimmune skin disease caused by secondary hypersensitivity to gluten. The incidence of DH is high in population with genetic predisposition to HLA-DQ2 or DQ8. Clinical manifestations of DH are polymorphic lesions, papulo-vesicular rash or papules-excoriations, dominated by itching. The gold standard for diagnosis is the presence of granular immunoglobulin (Ig)-A deposits in the stratum papilla dermis on DIF examination. A gluten-free diet is the mainstay of treatment. Dapsone is the drug of choice. Prognosis is good with proper diagnosis and treatment.
Myocardial Bridging: Nyeri Dada Atipikal pada Pria Paruh Baya Thea Saphira Mugiarto; Dewi Ayu Paramita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i5.233

Abstract

Myocardial bridging merupakan anomali kongenital; prevalensinya 5-86%, rata-rata 25%. Beberapa data otopsi menunjukkan bahwa myocardial bridging didapatkan pada lebih dari 50% subjek, sehingga ada yang menganggap myocardial bridging merupakan variasi anatomi. Myocardial bridging dapat memiliki signifikansi kardiovaskular, tergantung kedalaman segmen arteri koroner yang tertanam di dalam miokardium. Gejala dapat berupa nyeri dada, berdebar-debar, mudah lelah, serta manifestasi kardiologis lainnya. Obat ß-blocker merupakan terapi lini pertama karena memiliki efek kronotropik dan inotropik negatif. Revaskularisasi sebaiknya dilakukan hanya pada pasien dengan gejala berat yang refrakter terhadap perawatan medis optimal. Pilihan tindakan bedah meliputi miotomi supraarterial dan/atau CABG. Laporan kasus ini mengenai pria 40 tahun dengan nyeri dada karena myocardial bridging, diagnosis ditegakkan setelah pemeriksaan angiografi. Myocardial bridging is a congenital anomaly, its prevalence ranged from 5-86% with a mean of 25%. Autopsy data show that myocardial bridging can occur in more than 50% subjects, so it can be considered myocardial bridging as an anatomical variation. Symptoms can include chest pain, palpitation, fatigue, and other cardiac manifestations. The first line therapy is ß-blockers with negative chronotropic and inotropic effects. Revascularization should be limited to patients with severe symptoms refractory to maximal medical care; the surgical options are supra-arterial myotomy and/or CABG. This case report is a 40 year-old male with chest pain caused by myocardial bridging, diagnosed after angiography.
Penyakit Graves pada Anak Perempuan Usia 10 Tahun Ni Putu Ayu Elistya Ning Purwani; Anak Agung Made Sucipta
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i5.234

Abstract

Penyakit Graves (PG) adalah penyakit autoimun akibat pembentukan antibodi TSH receptor-stimulating immunoglobulin (TSI) yang menyebabkan produksi hormon tiroid meningkat. Seorang anak perempuan, usia 10 tahun, dengan benjolan pada leher bagian kanan dan kiri depan yang baru disadari sejak 3 hari, tidak nyeri. Prestasi belajar seperti biasa. Tangannya bergetar ringan saat menulis. Penyakit Graves didiagnosis berdasarkan pemeriksaan fisik dan ultrasonografi tiroid, fungsi tiroid, dan pemeriksaan antibodi tiroid. Terapi dengan methimazole tablet 5 mg setiap 12 jam dan kontrol FT4 dan TSH setelah 1 bulan. Graves’ disease is an autoimmune disease with formation of TSH receptor-stimulating immunoglobulin (TSI) antibodies resulting in increased thyroid hormone production. A 10 year-old girl with a painless lump in the right and left side of her anterior neck, noticed since 3 days ago. Learning achievement is still good. Her hands were slightly trembling while writing. Graves’ disease was diagnosed based on physical examination and thyroid ultrasound, thyroid function, and thyroid antibody tests. The treatment was methimazole 5 mg tablets every 12 hours and laboratory check for FT4 and TSH after 1 month.
Penghambat CDK4/6 untuk Terapi Kanker Payudara Hastarita Lawrenti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i5.235

Abstract

Terapi endokrin masih menjadi terapi utama kanker payudara reseptor estrogen positif; tetapi sampai dengan 50% pasien akan mengalami kekambuhan yang umumnya dikenal dengan resistensi didapat. Salah satu terapi untuk mengatasi resistensi tersebut adalah penghambat CDK4/6. Penghambat CDK4/6 dalam kombinasi dengan terapi endokrin tidak hanya efektif untuk pasien kanker payudara reseptor hormon positif, HER2 negatif yang progresif setelah terapi endokrin, tetapi juga untuk terapi awal berbasis endokrin. Endocrine therapy is the mainstay treatment for patients with estrogen receptor positive breast cancer, however up to 50% patients will eventually experience relapse, known as acquired resistance. One of the treatment options to overcome resistance is CDK4/6 inhibitor. CDK4/6 inhibitor, in combination with endocrine therapy, is not only effective for patients with hormone receptor positive, HER2-negative breast cancer after progression with previous endocrine therapy, but also for initial endocrine-based therapy.
Resusitasi Neonatus: Algoritma Terkini Ashfahani Imanadhia; Grevy Yanika
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i5.236

Abstract

Sebagian besar bayi baru lahir akan melalui tahapan transisi dari intrauterin ke ekstrauterin dengan lancar atau tanpa distres, namun pada sebagian kecil bayi dibutuhkan bantuan resusitasi lanjutan. Keberhasilan resusitasi membutuhkan kemampuan dan kerjasama tim yang baik. Pemahaman yang baik tentang tahapan pada algoritma, mutlak dikuasai oleh setiap petugas resusitasi. In the majority of newborn, the transition from intrauterine to exrauterine environment goes smoothly without any distress; but in a few cases, further resuscitation is needed. Skills and good teamwork are needed to achieve successful resuscitation. Every personnel involved in resuscitation procedure must thoroughly mastered each step in the algorithm.
Pengaruh Kualitas Tidur terhadap Memori Jangka Pendek Mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Tanjungpura Hesti Ratna Pratiwi; Ery Hermawati; Umi Kalsum
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i6.237

Abstract

Latar Belakang. Memori jangka pendek sebagai salah satu proses awal penerimaan informasi dianggap berperan penting dalam fungsi kognitif seseorang. Tujuan.Mengetahui pengaruh kualitas tidur terhadap memori jangka pendek mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Tanjungpura. Metodologi. Penelitian dengan desain analitik menggunakan pendekatan potong lintang. Jumlah sampel 73 orang. Variabel bebas adalah kualitas tidur diukur dengan Pittsburgh sleep quality index (PSQI) dan variabel terikat adalah memori jangka pendek diukur dengan Digit Span. Analisis statistik menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan Mann-Whitney U Test Hasil. Sebanyak 74% subjek penelitian memiliki kualitas tidur buruk dan rata-rata skor memori jangka pendek adalah 8,96. Subjek penelitian yang memiliki kualitas tidur buruk memiliki rata-rata skor memori jangka pendek lebih tinggi (9,33) dibandingkan dengan subjek penelitian dengan kualitas tidur baik (7,89). Hasil uji komparatif Mann-Whitney U Test mendapatkan nilai signifikan p=0,015 (p<0,05). Simpulan. Skor memori jangka pendek lebih tinggi pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Tanjungpura yang memiliki kualitas tidur buruk dibandingkan mahasiswa yang memiliki kualitas tidur baik Background. Short-term memory as one of the initial stage of information storage is considered to have an important role in cognitive performance. Objective. To determine the impact of sleep quality on short-term memory among medical students at Tanjungpura University. Methods. An analytic study with cross-sectional design on 73 subjects. Sleep quality as an independent variable was measured by Pittsburgh sleep quality index (PSQI) and short-term memory as a dependent variable was measured by Digit Span. Analytical statistics used Kolmogorov-Smirnov and Mann-Whitney U Test. Results. Poor sleep quality was found in 74% subjects with mean score of short-term memory of 8.96. Subjects with poor sleep quality had a higher mean score of short-term memory (9.33) than subjects with good quality of sleep (7.89). The Mann-Whitney U Test result was p= 0.015 (p <0.05). Conclusion. Medical students in Tanjungpura University with poor sleep quality have significantly higher score of short-term memory test compared to students who had good sleep quality.
Spinal Muscular Atrophy: Diagnosis dan Tata Laksana Natasha Vinita Wardoyo; Elina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i6.238

Abstract

Spinal muscular atrophy (SMA) adalah kelainan autosomal resesif langka akibat mutasi atau hilangnya gen survival motor neuron 1 (SMN1) pada kromosom 5q13. Insiden global SMA diperkirakan 1:11.000 kelahiran hidup. Manifestasi klinis berupa kelemahan otot progresif dan penurunan tonus otot yang berhubungan dengan destruksi unit motorik alfa lower motor neuron. Gejala klinis dan prognosis lebih berat jika usia onset gejala semakin dini. Sampai saat ini, sebagian besar terapi bersifat suportif. Spektrum fenotipik yang kompleks pada SMA dapat menyebabkan gangguan fungsional serta disabilitas yang membutuhkan penanganan multidisiplin. Spinal muscular atrophy (SMA) is an inherited autosomal recessive disease caused by mutation or deletion of the survival motor neuron 1 gene (SMN1) on chromosome 5q13. The global incidence of SMA was estimated at 1:11.000 live births. SMA manifests clinically as progressive muscle weakness and decreasing muscle tone due to the destruction of alpha motor units on the lower motor neurons. Clinical symptoms and prognosis were worse for patients with earlier age of onset. To date, definitive treatments were limited, with most treatments are supportive. A complex phenotypic spectrum on SMA could lead to functional impairment and disability requiring multidisciplinary care.
Rejimen KDT-ARV Terbaru dengan Dolutegravir Maria Cecilia Gritce Widjaja
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i6.239

Abstract

Terapi HIV/AIDS terus mengalami perkembangan. Rejimen ARV terbaru saat ini menggunakan dolutegravir dalam rejimen KDT-ARV berupa KDT-TLD, yang berisi 2NRTI + INSTI. Rejimen baru ini diteliti mampu menekan jumlah virus lebih cepat, mengurangi efek neuropsikiatri, dan mengurangi resistensi pada rejimen sebelumnya yang menggunakan efavirenz. Inisiasi ARV juga disarankan sedini mungkin (jika belum ada infeksi oportunistik), agar dapat meningkatkan harapan hidup, menurunkan insiden infeksi oportunistik, dan mencegah transmisi virus HIV. HIV/AIDS therapy continues to develop over time. The current ARV regiment uses dolutegravir in ARV-FDC regiment in the form of a TLD-FDC containing 2NRTI + INSTI. This new regiment was intended to suppress viral load more rapidly, reduce neuropsychiatric effects and reduce resistance to previous regiments using efavirenz. ARV initiation is also recommended as early as possible (if there is no opportunistic infection) to increase life expectancy, reduce the incidence of opportunistic infections, and prevent transmission of HIV.

Page 21 of 129 | Total Record : 1288


Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 53 No 01 (2026): Kedokteran Umum Vol 52 No 12 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 11 (2025): Penyakit Dalam Vol 52 No 10 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 9 (2025): Pediatri Vol 52 No 8 (2025): Penyakit Dalam Vol 52 No 7 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 6 (2025): Kesehatan Jiwa Vol 52 No 5 (2025): Kardiologi Vol 52 No 4 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 3 (2025): Oftalmologi dan Dermatologi Vol 52 No 2 (2025): Pediatri Vol 52 No 1 (2025): Obstetri & Ginekologi Vol 51 No 12 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 11 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 10 (2024): Infeksi Vol 51 No 9 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 8 (2024): Penyakit Dalam Vol 51 No 7 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 6 (2024): Cardiology Vol 51 No 5 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 4 (2024): Oftalmologi Vol 51 No 3 (2024): Neurologi Vol 51 No 2 (2024): Dermatologi Vol 51 No 1 (2024): Kedokteran Umum Vol 50 No 12 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol 49 No 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol 49 No 9 (2022): Neurologi Vol 49 No 8 (2022): Dermatologi Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol 48 No 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol 48 No 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 47 No 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47 No 8 (2020): Oftalmologi Vol 47 No 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47 No 5 (2020): Bedah Vol 47 No 4 (2020): Interna Vol 47 No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 46 No 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46 No 11 (2019): Pediatri Vol 46 No 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46 No 8 (2019): Pediatri Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46 No 5 (2019): Pediatri Vol 46 No 4 (2019): Dermatologi Vol 46 No 3 (2019): Nutrisi Vol 46 No 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol 45 No 11 (2018): Neurologi Vol 45 No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 8 (2018): Dermatologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 6 (2018): Interna Vol 45 No 5 (2018): Nutrisi Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45 No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi More Issue