cover
Contact Name
Dita Arccinirmala
Contact Email
dorotea.arccinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281905203065
Journal Mail Official
CDK@kalbe.co.id
Editorial Address
Redaksi CDK Gedung Kalbe, gedung 2 lantai 2 Jl. Letjen Suprapto Kav. 4. Cempaka Putih - Jakarta 10510
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (CDK) is a Medical Journal published since 1974 and affiliated with PT Kalbe Farma Tbk. CDK is intended to help accommodate scientific publications and help increase and disseminate knowledge related to the development of medical science, pharmacy, and public health. CDK covers the disciplines of medicine, pharmacy, and health with several types of articles, namely: 1. Research 2. Literature review 3. Case report 4. Evidence-based case report (EBCR), systematic review 5. Other scientific articles Based on the SK Kemendikbudristek Nomor 152/E/KPT/2023, CDK has obtained Rank 4 (SINTA 4) for Scientific Journals.
Articles 1,276 Documents
Tata Laksana Anemia pada Anak dengan Penyakit Ginjal Kronik Lina Purnamasari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i5.640

Abstract

Anemia merupakan salah satu masalah yang banyak dialami anak dengan penyakit ginjal kronik. Banyak faktor yang berperan dalam timbulnya anemia pada penyakit ginjal kronik. Dampak anemia pada anak dengan penyakit ginjal kronik adalah menurunnya kualitas hidup, gangguan fungsi organ, dan meningkatnya mortalitas. Ada beberapa modalitas tata laksana anemia pada anak penyakit ginjal kronik.   Anemia is the most common problem in children with chronic kidney disease. Many factors contribute for anemia risk in chronic kidney disease. The impact of anemia on children with chronic kidney disease are decreased quality of life, impaired organ function, and increased mortality. There are several modalities for the management of anemia in children with chronic kidney disease.
Albendazole Oral sebagai Alternatif Pengobatan Skabies: Marinda Nur Triyanti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i8.641

Abstract

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Skabies umumnya menyebabkan gatal intens yang berhubungan dengan garukan, mengganggu tidur yang berdampak pada performa di sekolah ataupun pekerjaan, dan akhirnya berdampak pada produktivitas. Beberapa penelitian menggunakan albendazole oral sebagai alternatif terapi skabies karena penggunaan topikal dinilai kurang praktis.   Scabies is a skin condition caused by infestation of Sarcoptes scabiei var. hominis. Scabies especially causes intense pruritus and relates with itching, sleep disturbance that may impact school and work activities, and economic productivity. Recent studies use albendazole oral as an alternative treatment for scabies as topical treatment is considered impractical.
Gangguan Gerak Pada Stroke Yannuar Rifani Mandani; Gilang Nispu Saputra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i7.642

Abstract

Gangguan gerak merupakan kondisi kelainan neurologis yang memengaruhi kecepatan, kelancaran, kualitas, dan kemudahan bergerak. Gejala gangguan gerak pada pasien stroke dapat terjadi pada fase akut ataupun setelahnya. Gangguan gerak dapat khas sesuai lokasi lesi.   Movement disorder is a condition of neurological disorder that affects speed, smoothness, quality, and ease of movement. Symptoms of movement disorders in stroke patients can occur during and after the acute phase. Variations in movement disorders can be typical based on the location of the stroke lesion.
Manfaat Diet Ketogenik pada Tata Laksana Obesitas ibadityan Nugraha; WIRA GOTERA; KOMANG SISKA LESTARI SUGITHA
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i8.651

Abstract

Obesitas merupakan faktor risiko kuat untuk penyakit kardiovaskular dan metabolik, seperti diabetes melitus tipe 2, dislipidemia, aterosklerosis, dan beberapa jenis kanker. Diet adalah salah satu strategi manajemen obesitas. Diet ketogenik adalah diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat, memanfaatkan badan keton sebagai sumber energi alternatif. Dalam jangka pendek, jenis diet ini terbukti efektif menurunkan berat badan individu obesitas. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan efikasi, keamanan, dan efek samping jangka panjangnya.   Obesity is a strong risk factor for cardiovascular and metabolic diseases, such as type 2 diabetes mellitus, dyslipidemia, atherosclerosis, and certain types of cancer. Diet is one of many strategies in obesity management. Ketogenic diet is a high fat and low carbohydrate diet, utilizing ketone bodies as an alternative energy source. In short term, this diet has proven to be effective for weight loss in obese individuals. Further researches are needed to determine its efficacy, safety, and long term side effects.  
Tata Laksana Gagal Jantung Pediatrik Eric Ferdinand; Ni Made Candra Widyantari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.655

Abstract

Gagal jantung pediatrik merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas anak-anak. Terdapat hubungan antara gagal jantung pediatrik, penyakit jantung bawaan, dan kardiomiopati. Tujuan pengobatan gagal jantung pediatrik untuk mencegah perburukan dan agar perkembangan anak optimal. Tata laksana gagal jantung pada anak-anak diekstrapolasi dari pendekatan tata laksana dewasa. Pediatric heart failure is a leading cause of mortality and morbidity in children. There is an association between pediatric heart failure, congenital heart disease, and cardiomyopathy. The treatment goal for heart failure in children is to prevent worsening and to provide optimal development. Management of heart failure in children is extrapolated from management in adults.
Defek Septum Ventrikel: Diagnosis dan Tata Laksana Jason Theola; Nurul Mutmainna Yakub; Valentino Ryu Yudianto; Bunga Cecilia Sinaga
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.656

Abstract

Defek septum ventrikel (VSD) adalah kelainan jantung kongenital yang ditandai dengan adanya hubungan abnormal antara ventrikel kiri dan kanan jantung, sehingga menimbulkan gangguan hemodinamik. VSD merupakan kelainan jantung bawaan yang paling sering ditemui pada anak-anak, serta merupakan kelainan kedua paling sering ditemui pada orang dewasa setelah katup aorta bikuspid. Sebagian besar VSD menutup spontan, namun VSD yang gagal menutup dapat menimbulkan komplikasi seperti hipertensi arteri pulmoner, disfungsi ventrikel, dan risiko aritmia. Diagnosis VSD komprehensif melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk menentukan tata laksana dan prognosisnya. Ventricular septal defect is a congenital heart disorder characterized by an abnormal connection between the left and the right ventricle of the heart, causing hemodynamic disturbances. VSD is the most common congenital heart defect in children, and is the second most common abnormality in adults after the bicuspid aortic valve. Most VSDs close spontaneously, but failure to close can lead to complications such as pulmonary arterial hypertension, ventricular dysfunction, and the risk of arrhythmias. Diagnosis needs to be comprehensive through history, physical examination, and other supporting examinations for treatment planning and prognosis.
Manajemen Asma dalam Kehamilan: Apa yang Harus Dipahami oleh Dokter Umum Muhammad Habiburrahman; Muhammad Ilham D Rakasiwi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.657

Abstract

Eksaserbasi asma dalam kehamilan dapat mempersulit proses persalinan dan berisiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dan ibu berisiko mengalami persalinan preterm, preeklampsia, dan sectio caessaria. Penyebab eksaserbasi asma dalam kehamilan dapat akibat terapi kurang optimal selama kehamilan akibat kekhawatiran personal pasien dan dokter yang kurang didukung bukti terkait keamanan agen farmakologis asma dalam kehamilan, dan rendahnya kepatuhan pasien untuk kontrol rutin, terutama selama masa pandemi COVID-19. Hingga kini, manajemen asma antenatal menjadi tugas besar dokter umum di layanan primer, dan dokter spesialis obstetrik dan ginekologi, serta dokter spesialis paru di layanan sekunder, sedangkan panduan khusus komprehensif asma dalam kehamilan di Indonesia masih terbatas. Telaah literatur ini bertujuan untuk memberikan pemahaman esensial perubahan klinis dan mekanisme yang berkontribusi terhadap tidak terkontrolnya asma selama kehamilan, pendekatan diagnosis komprehensif asma dalam kehamilan, dan menyediakan informasi obat-obatan yang aman untuk manajemen asma dalam kehamilan. Asthma exacerbations in pregnancy can complicate the delivery process and risk low birth weight in the baby, as well as preterm labor, preeclampsia, and a cesarean section in mothers. Asthma exacerbations during pregnancy can be caused by ineffective treatment due to patient and physician concerns about the safety of asthma medications during pregnancy that are not supported by reliable data, as well as poor patient compliance for routine control, particularly during the COVID-19 pandemic. Asthma management during antenatal care falls primarily on general practitioners in primary care, and obstetricians and gynecologists, and pulmonologists in secondary-level services. While specific guidelines in Indonesia are still limited, this review aims to present a fundamental understanding of clinical changes and mechanisms that contribute to the uncontrolled status of asthma during pregnancy, a comprehensive diagnostic approach to asthma in pregnancy, and provide a safety drug profile during pregnancy
Manajemen Psoriasis Pustulosa Yefta; Dwi Retno Adi Winarni; Yohanes Widodo Wirohadidjojo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.658

Abstract

Psoriasis merupakan penyakit radang kulit kronis dengan dasar genetik yang kuat. Berdasarkan tipenya, psoriasis dibagi menjadi psoriasis plak (psoriasis vulgaris), psoriasis gutata, psoriasis pustulosa generalisata/lokalisata, psoriasis inversa, dan eritroderma psoriatika. Manajemen psoriasis pustulosa mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit. Acitretin, cyclosporine, methotrexate, dan infliximab merupakan terapi lini pertama untuk psoriasis pustular generalisata. Adalimumab, etanercept, dan psoralen plus ultraviolet A (PUVA) adalah modalitas lini kedua. Berbagai modalitas terapi lain yang sedang dikembangkan adalah agen biologis dan terapi berdasar sel punca. Manajemen psoriasis pustulosa dapat menggunakan berbagai modalitas dengan memperhatikan kondisi pasien dan keterjangkauan terapi Psoriasis is a chronic skin inflammation with a strong genetic basis. Based on its type, psoriasis is divided into plaque psoriasis (psoriasis vulgaris), guttate psoriasis, generalized/localized pustular psoriasis, inverse psoriasis, and psoriatic erythroderma. The management of pustular psoriasis depends on the disease severity. Acitretin, cyclosporine, methotrexate, and infliximab are first-line therapies for generalized pustular psoriasis. Adalimumab, etanercept, and psoralen plus ultraviolet A (PUVA) are second-line modalities. Other therapeutic modalities being developed are biologic agents and stem cell-based therapies. Management of pustular psoriasis can use various modalities, depending on the patient’s condition and its affordability
Non-ST Elevation Acute Coronary Syndrome (NSTEACS) as Hypertension-Mediated Organ Damage (HMOD) in Hypertensive Emergencies Karina Puspaseruni; Edmond Da Rizka; Wisnu Sakulat
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.659

Abstract

Hypertensive emergencies are characterized by severe increases in blood pressure with evidence of hypertension-mediated organ damage (HMOD) and are associated with an increased risk of cardiovascular events, i.e. coronary heart disease (CHD) and mortality. Case: A 75-year-old man with typical chest pain with nausea and vomiting 1 hour before admission. Blood pressure was 200/100 mmHg, ECG showed T inversion in leads II, III, AVF, V1-V6 and prolonged QT interval, cardiomegaly on chest x-ray, and leukocytosis, hyperglycemia, and hypokalemia. The diagnoses were non-ST elevation acute coronary syndrome (NSTE-ACS), hypertensive emergency, and T2DM. Treatment in the ICCU consists of intravenous antihypertensive, antiplatelet, anticoagulant, statin, nitrate, insulin, and potassium chloride for electrolyte correction. The patient was admitted to the ICCU for further observation and management. Hipertensi emergensi ditandai dengan kenaikan tekanan darah yang sangat disertai bukti kerusakan organ yang progresif (hypertension-mediated organ damage - HMOD). Keadaan ini berkaitan dengan peningkatan risiko kejadian penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner bahkan kematian. Kasus: Seorang laki-laki usia 75 tahun dengan nyeri dada tipikal sejak 1 jam sebelum datang ke rumah sakit disertai mual dan muntah. Tekanan darah 200/100 mmHg, pada EKG didapatkan inversi T pada lead II, III, AVF, V1-V6, dan pemanjangan interval QT. Pada pemeriksaan X-ray dada didapatkan kardiomegali, hasil laboratorium menunjukkan leukositosis, hiperglikemi, dan hipokalemi. Pasien didiagnosis non-ST elevation acute coronary syndrome (NSTE-ACS), hipertensi emergensi, dan diabetes melitus tipe 2. Tata laksana di ICCU menggunakan anti-hipertensi intravena, anti-platelet, anti-koagulan, statin, nitrat, insulin, dan kalium klorida untuk koreksi elektrolit. Pasien dirawat di ICCU untuk observasi dan tata laksana lebih lanjut.
Carvedilol untuk Tata Laksana Clinically Significant Portal Hypertension pada Sirosis Kompensata Achmad Faiz Sulaiman
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.660

Abstract

Hipertensi portal merupakan konsekuensi klinis dari sirosis hati. Angka kematian karena hipertensi portal masih tinggi di Indonesia. Pada kondisi sirosis kompensata munculnya hipertensi portal yang signifikan secara klinis (clinically significant portal hypertension/CSPH) dapat memprediksi kejadian dekompensasi dan merupakan penanda prognosis penyakit yang lebih buruk. Diagnosis CSPH dapat dengan cara invasif ataupun non-invasif. Tata laksana CSPH pada kondisi sirosis kompensata diutamakan untuk mencegah timbulnya dekompensasi sirosis. Pemberian penghambat beta non-selektif (non-selective beta blocker/NSBB) pada kondisi sirosis kompensata efektif menurunkan hipertensi portal dan mampu mencegah dekompensasi. Portal hypertension is a major consequences of liver cirrhosis. Mortality rate from portal hypertension is quite high in Indonesia. In patients with liver cirrhosis, the development of clinically significant portal hypertension (CSPH) is predictive for decompensation and worse prognosis. Diagnosis of CSPH can be carried out by either invasive or non-invasive methods. The aim of CSPH management in compensated cirrhosis is to prevent the incidence of decompensation. Management of compensated cirrhosis with non-selective beta blocker (NSBB) has been shown to reduce portal hypertension and the incidence of first decompensation.

Page 58 of 128 | Total Record : 1276


Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 52 No 12 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 11 (2025): Penyakit Dalam Vol 52 No 10 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 9 (2025): Pediatri Vol 52 No 8 (2025): Penyakit Dalam Vol 52 No 7 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 6 (2025): Kesehatan Jiwa Vol 52 No 5 (2025): Kardiologi Vol 52 No 4 (2025): Kedokteran Umum Vol 52 No 3 (2025): Oftalmologi dan Dermatologi Vol 52 No 2 (2025): Pediatri Vol 52 No 1 (2025): Obstetri & Ginekologi Vol 51 No 12 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 11 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 10 (2024): Infeksi Vol 51 No 9 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 8 (2024): Penyakit Dalam Vol 51 No 7 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 6 (2024): Cardiology Vol 51 No 5 (2024): Kedokteran Umum Vol 51 No 4 (2024): Oftalmologi Vol 51 No 3 (2024): Neurologi Vol 51 No 2 (2024): Dermatologi Vol 51 No 1 (2024): Kedokteran Umum Vol 50 No 12 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol 49 No 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol 49 No 9 (2022): Neurologi Vol 49 No 8 (2022): Dermatologi Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol 48 No 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol 48 No 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 47 No 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47 No 8 (2020): Oftalmologi Vol 47 No 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47 No 5 (2020): Bedah Vol 47 No 4 (2020): Interna Vol 47 No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 46 No 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46 No 11 (2019): Pediatri Vol 46 No 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46 No 8 (2019): Pediatri Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46 No 5 (2019): Pediatri Vol 46 No 4 (2019): Dermatologi Vol 46 No 3 (2019): Nutrisi Vol 46 No 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol 45 No 11 (2018): Neurologi Vol 45 No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 8 (2018): Dermatologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 6 (2018): Interna Vol 45 No 5 (2018): Nutrisi Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45 No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi More Issue