cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2014)" : 149 Documents clear
Rumusan Insentif dan Disinsentif Pengendalian Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Gianyar Ngakan Gede Ananda Prawira; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.982 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7295

Abstract

Pemerintah Kabupaten Gianyar menerapkan pemberian instrumen insentif dan disinsentf untuk mengendalikan konversi lahan pertanian. Namun pemberian instrumen masih belum berhasil untuk menahan konversi lahan pertanian. Hal ini disebabkan karena belum dilibatkannya pemilik lahan secara aktif dalam penentuan insentif dan disinsentif tersebut. Maka dari itu tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan insentif dan disinsentif lahan pertanian berdasarkan preferensi pemilik lahan dan pemerintah untuk mempertahankan lahan pertanian di Kabupaten Gianyar. Pada penelitian ini dilakukan analisis jenis dan nilai insentif disinsentif yang sesuai untuk diterapkan pada lahan pertanian dengan analisis Probability Unit. Pemberian insentif dan disinsentif dibedakan berdasarkan jenis lahan pertanian berkelanjutan (LP2B) dan lahan pertanian bukan lahan pertanian berkelanjutan. Dari hasil penelitian dengan menggunakan Probability Unit, diperoleh nilai insentif dan disinsentif pada masing-masing jenis insentif dan disinsentif yang sesuai untuk mempertahankan lahan pertanian di Kabupaten Gianyar. Insentif dan disinsentif untuk lahan pertanian berkelanjutan terdiri dari pengurangan PBB maksimal sebesar 85%, pemenuhan infrastruktur irigasi dan pasar, biaya sarana prasarana maksimal sebesar 84%, subsidi pemeliharaan maksimal sebesar 86%, biaya pendidikan maksimal sebesar 78%, peningkatan PBB minimal 58%, pembatasan infrastruktur listrik dan jalan, peningkatan pajak balik nama minimal 58%, pengaturan perizinan dengan kewajiban penggantian lahan, dan biaya kompensasi minimal sebesar 63%. Sedangkan insentif dan disinsentif untuk lahan pertanian non berkelanjutan adalah pengurangan biaya PBB maksimal 58%, pemenuhan infrastruktur irigasi dan pasar, biaya sarana prasarana maksimal sebesar 59%, subsidi pemeliharaan maksimal sebesar 68%, peningkatan PBB minimal sebesar 58%, pembatasan infrastruktur listrik dan jalan, peningkatan pajak balik nama minimal sebesar 40%, dan pengaturan perizinan dengan kewajiban penggantian lahan.
Penentuan Pusat-Pusat Pertumbuhan dalam Pengembangan Wilayah di Kabupaten Gunungkidul Eta Rahayu; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.796 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7296

Abstract

Adanya kesenjangan wilayah antar kecamatan di Kabupaten Gunungkidul terlihat dari tingginya perbedaan angka kemiskinan dan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta terkonsentrasinya kegiatan pada wilayah ibukota kabupaten. Untuk itu penentuan pusat-pusat pertumbuhan secara tersebar diperlukan di Kabupaten Gunungkidul untuk meminimalisir kesenjangan yang terjadi. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kecamatan yang layak menjadi lokasi pusat-pusat pertumbuhan. Adapun tahapan analisis yaitu menganalisa calon lokasi berdasarkan sarana-prasarana dengan analisis scalogram dan menganalisa calon lokasi berdasarkan struktur pertumbuhan ekonomi dengan analisis tipologi klassen. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat kecamatan yang layak dan tidak layak berdasarkan sarana prasarana dan juga berdasarkan struktur pertumbuhan ekonomi di masing-masing kecamatan. Adapun lokasi pusat-pusat pertumbuhan adalah Kecamatan Wonosari, Kecamatan Playen Kecamatan Semanu dan Kecamatan Karangmojo.
Konsep Optimalisasi Distribusi Sekolah Tingkat Dasar (SD/MI) Berdasarkan Pola Persebaran Permukiman di Kabupaten Ngawi Solving Subekti; Rimadewi Suprihardjo
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.076 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7297

Abstract

Permasalahan mendasar fasilitas pendidikan di Kabupaten Ngawi khususnya sekolah tingkat dasar (SD/MI) terletak pada penyediaan dan distribusi yang belum merata antar wilayah serta belum sesuai dengan kebutuhan karakteristik permukimannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengotimalkan distribusi sekolah tingkat dasar (SD/MI) dalam rumusan konsep optimalisasi yang didasarkan pada karakteristik pola persebaran permukiman. Metode analisis yang digunakan adalah analisis tetangga terdekat untuk mengetahui karakteristik pola persebaran permukiman, analisis regresi linier berganda untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap distribusi sekolah, analisis deskriptif kuantitatif untuk mengetahui keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan sekolah dasar, serta analisis deskriptif kualitatif dengan teknik triangulasi untuk merumuskan konsep optimalisasi distribusi SD/MI. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 2 pola persebaran permukiman di Kabupaten Ngawi, beberapa wilayah mengalami kondisi berlebih fasilitas pendidikan SD/MI, faktor yang berpengaruh dalam distribusi adalah panjang jalan kawasan permukiman (tingkat aksesibilitas) dan kepadatan penduduk (demografi) permukiman, sedangkan dirumuskan 2 konsep secara umam dan khusus untuk optimalisasi distribusi sekolah tingkat dasar (SD/MI) di Kabupaten Ngawi yang didasarkan pada pola persebaran permukiman.
Pemodelan Spasial Beban Sumber Emisi Gas Rumah Kaca di Kecamatan Driyorejo Dimas Fikry Syah Putra; Joni Hermana
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.153 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7401

Abstract

Kecamatan Driyorejo merupakan salah satu kecamatan yang mengalami proses urbanisasi hinterland dari Kota Surabaya yang menyebabkan pencemaran udara dari berbagai kegiatan. Selama ini aspek keruangan di bidang udara tidak dimasukkan dalam pembahasan rencana tata ruang dan ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Gresik dan di Indonesia. Metode perhitungan beban emisi menggunakan rumus default IPCC tahun 2006 pada tier-1. Memodelkan spasial menggunakan software ArcGIS 10.1 yang ditampilkan secara visual. Besarnya total perkiraan emisi gas rumah kaca di Kecamatan Driyorejo adalah untuk beban sumber emisi CO2 dari kegiatan industri sebesar 18766405,94 kg CO2/tahun, kegiatan transportasi 37070628 kg CO2/tahun, kegiatan pertanian 123588,40 kg CO2/tahun, kegiatan permukiman 9514595,13 kg CO2/tahun. Untuk beban sumber emisi CH4 dari kegiatan pertanian sebesar 101925 kg CH4/tahun, kegiatan peternakan 19718 kg CH4/tahun, kegiatan transportasi 21929 kg CH4/tahun. Untuk beban sumber emisi N2O dari kegiatan pertanian sebesar 6336,80 kg N2O/tahun, kegiatan transportasi 861,55 N2O/tahun. Hasil pemodelan spasial beban sumber emisi menunjukan kelurahan Karangandong mempunyai tingkat emisi besar. Arahan penataan ruang untuk wilayah dengan tingkat emisi besar agar dibuat ruang terbuka hijau publik.
Arahan Pengendalian Penggunaan Lahan Berdasarkan Kemampuan Penampungan Air di Kawasan Pantai Timur Surabaya Putra Jaya Pradana; Heru Purwadio
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.901 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7497

Abstract

Perubahan penggunaan lahan dari ruang terbuka hijau (RTH), tambak, rawa dan kawasan lain yang mampu menampung air menjadi permukiman akan meningkatkan air limpasanyang ditampung kawasan Pantai Timur Surabaya. Jika penggunaan lahan tidak dikendalikan, konsekuensinya adalah semakin berkurangnya kemampuan penampungan air di kawasan konservasi. Untuk mencapai tujuan daripenelitianini, maka dilakukan tiga tahap analisis. Tahap pertama, faktor-faktor yang mempengaruhi dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Tahap kedua, faktor-faktor digunakan untuk menentukan mintakat berdasarkan kemampuan penampungan air dengan analisis weighted overlay. Tahap terakhir, arahan pengendalian dirumuskan dengan analisis Delphi berdasarkan mintakat kemampuan penampungan air. Arahan pengendalian penggunaan lahan dirumuskan berdasarkan mintakat zona kemampuan penampungan air tinggi dan rendah. Hasil arahan pengendalian zona penampungan air tinggi fokus pada menambah hutan mangrove di kawasan konservasi dan normalisasi sungai yang mengalami penyempitan akibat okupansi masyarakat. Sedangkan pada zona penampungan air rendah, arahan pengendalian fokus pada melarang reklamasi ilegal dan melarang perubahan lahan tambak. Arahan ini dimaksudkan agar fungsi kawasan PantaiTimur Surabaya sebagai kawasan penampungan air tetap terjaga
Arahan Pengembangan Komoditas Unggulan di Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan Ika Permata Hati; Sardjito Sardjito
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.384 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.8321

Abstract

Dalam pengembangan wilayah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu konsep pengembangan dan komoditas unggulan. Komoditas unggulan yang ada di Kabupaten Muara Enim salah satunya adalah subsektor perkebunan yang menyumbang setengah untuk sektor pertanian. Karena sektor utama pertambangan dan penggalian yang tidak akan bertahan lama untuk kedepannya. Untuk itu diperlukan arahan pengembangan komoditas unggulan subsektor perkebunan di Kabupaten Muara Enim dengan menggunakan konsep agroindustri. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan arahan pengembangan komoditas unggulan subsektor perkebunan di Kabupaten Muara Enim. Untuk mencapai tujuan tersebut, hal yang dilakukan adalah mengidentifikasi komoditas unggulan dengan analisis location quetient (LQ) dan shift share (SS), menentukan faktor-faktor pengembangan komoditas unggulan dengan analisis delphi dan expert judgement, merumuskan arahan pengembangan komoditas unggulan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil analisis menunjukkan arahan pengembangan komoditas unggulan subsektor perkebunan yaitu Karet, Kelapa Sawit, Kopi terhadap faktor Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), Teknologi, Modal, Infrastruktur.
Pemilihan Supplier dan Penjadwalan Distribusi CNG dengan Pemodelan Matematis Ludfi Pratiwi Bowo; AAB Dinariyana; RO Saut Gurning
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.588 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.6837

Abstract

Pemilihan supplier yang optimal merupakan salah satu strategi bagi suatu perusahaan guna meningkatkan profit yang dimiliki perusahaan dan juga berperan dalam penentuan operasional pendistribusian CNG menuju konsumen. Dalam melakukan pemilihan dipengaruhi oleh faktor kuantitaf yang terdiri atas harga gas, kualitas gas, ketepatan waktu pengiriman dan biaya distribusi, serta dipengaruhi oleh faktor kualitatif yang terdiri atas factor-faktor subjektif perusahaan dalam melakukan pemilihan supplier. Dari setiap kriteria akan dilakukan pembobotan untuk mendapatkan indeks dari tiap kriteria. Berdasarkan metode yang digunakan terpilih dua supplier untuk membantu distribusi, adalah PT. CNG Plant, Gresik dengan 0,5 MMSCFD dan PT. CNG Plant, Pasuruan dengan 0,45 MMSCFD. Setelah melakukan pemilihan supplier tahapan selanjutnya adalah menyusun penjadwalan distribusi dengan menggunakan metode Vendor-Managed Inventory (VMI), dimana dengan menggunakan metode ini, perusahaan memiliki peran untuk mengatur jadwal distribusi gas menuju perusahaan. Dilakukan dua jenis skenario dan dua model untuk melakukan penjadwalan, dimana skenario 1 PT. Mini CNG plant, Blora mampu mendistribusikan sendiri dan skenario kedua supplier lain ikut membantu. Hasil yang didapatkan dengan menggunakan metode VMI lebih optimal dibandingkan dengan replikasi penjadwalan yang didapatkan dari hasil optimasi jangka waktu yang lebih pendek.
Analisa Pemasangan Loop Ekspansi Akibat Terjadinya Upheaval Buckling pada Onshore Pipeline Hariono Hariono; Handayanu Handayanu; Yoyok Setyo Hadiwidodo
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.332 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7102

Abstract

Pada pipa yang dipendam didalam tanah sering terjadi kegagalan deformasi. Kegagalan deformasi global yang menyebabkan pipa menekuk vertikal ke atas yang disebut sebagai upheaval buckling. Lengkungan awal pada pipa penyalur yang terpasang bisa terjadi akibat kombinasi dari kenaikan temperatur saat operasional dan gaya friksi tanah akan menghasilkan gaya tekan aksial efektif pada pipa. Salah satu cara yang akan dibahas pada penelitian ini jika terjadi upheaval buckling adalah pemasangan loop ekspansi pada daerah yang mengalami upheaval buckling. Loop ekspansi akan divariasikan dengan 2 tipe yaitu tipe loop horizontal dan tipe loop vertical. Pada penelitian ini terlebih dahulu pipa dimodelkan dengan panjang pipa tertentu kemudian ujung-ujungnya diberi tumpuan sehingga didapatkan besar tegangan longitudinal sebesar 41366,563 Psi. Tegangan tersebut melebihi tegangan ijin sehingga pipa mengalami ekspansi termal atau elongasi yang membentuk lengkungan keatas dengan tinggi 0.259 meter. Maka dilakukan pemodelan loop ekspansi untuk meredam elongasi tersebut dengan panjang loop 5.3 meter. Kedua loop tersebut mampu meredam tegangan aksial menjadi 3662 Psi untuk tipe loop horizontal dan 3670 Psi untuk tipe loop vertikal. Dari kedua tipe loop tersebut kemudian juga dilakukan perbandingan besar tegangan yang terjadi pada bagian elbow. Maka didapatkan bahwa tipe loop horizontal mengalami tegangan relatif lebih kecil dari pada tipe loop vertikal sehingga sebagai bahan rekomendasi maka pemasangan loop horizontal lebih diutamakan.
Studi Pemilihan Sistem Supply Listrik Dengan Pendekatan Topsis Dan Desain Sistem Kelistrikan Pada Onshore Receiving Facility LNG Di Celukan Bawang, Buleleng, Bali. Fadilla Indrayuni Prastyasari; Ketut Buda Artana
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.268 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7489

Abstract

Liqueafied Natural Gas (LNG) merupakan gas alam yang sudah dikonversi menjadi fase cair pada kisaran temperatur -161°C pada tekanan atmosfer. Konversi ini mereduksi volume 600 kali lebih kecil dari volume gas alam sehingga LNG lebih bernilai ekonomis untuk disimpan dan ditransportasikan. LNG dapat menjadi solusi alternatif bahan bakar bagi pembangkit listrik di Indonesia. Disamping kelebihan dari LNG, hanya sedikit gas yang dimanfaatkan langsung oleh Indonesia karena kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung. Salah satu sarana yang dapat mendukung pendistribusian LNG adalah terminal penerima LNG dan sistem pendukungnya, kapal LNG dan dermaga, unit regasifikasi, dan yang lainnya. Studi ini bertujuan untuk memilih sistem supply listrik menggunakan metode TOPSIS dan selanjutnya mendesain sistem kelistrikan untuk ORF di Celukan Bawang – Buleleng. LNG didistribusikan menuju ke tiga pembangkit listrik yang ada di Bali: Pesanggaran, Gilimanuk, dan Pemaron. Beberapa peralatan utama dari ORF yang dipertimbangkan adalah tangki penyimpanan, kompresor BOG, recondenser, pompa kriogenik, loading arm dan lainnya, dengan total kebutuhan daya sebesar 214,6 kW. Peralatan tersebut membutuhkan sistem supply listrik yang dapat memenuhi kebutuhan listrik dari seluruh peralatan di ORF. Terdapat tiga alternatif dari sumber listrik, yaitu diesel engine generator, gas engine generator, dan supply listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara). Alternatif terbaik kemudian akan dipilih menggunakan metode TOPSIS dengan dua metode pembobotan yang berbeda. Studi ini menunjukkan bahwa alternatif terbaik adalah supply listrik dari PLN. Dengan menggunakan hasil seleksi, akan dibuat desain sistem kelistrikan untuk ORF dan setiap terminal penerima LNG mini di setiap pembangkit listrik yang terdiri dari wiring diagram dan oneline diagram.
Analisis Perilaku FPSO (Floating Production Storage and Offloading) Terhadap Internal Turret Mooring System Berbasis Simulasi Time Domain Rizki Amalia Prasiwi; Imam Rochani
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.738 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7551

Abstract

FPSO (Floating Storage Production and Offloading) merupakan salah satu struktur terapung yang dapat digunakan sebagai tempat produksi, storasi/ penyimpanan maupun offloading minyak dan gas bumi lepas pantai. Oleh sebab itu, FPSO memiliki peranan penting dalam eksplorasi ladang   minyak di perairan dalam. Pada tempatnya beroperasi, FPSO akan dikenai beban lingkungan yang dapat menyebabkan ia berperilaku dinamis. Untuk mengurangi gerakan dan menjaga supaya FPSO tetap berada pada tempatnya beroperasi, maka dibutuhkan suatu sistem tambat. Dalam Tugas Akhir ini, dilakukan analisis perilaku gerak FPSO pada saat terapung bebas maupun tertambat dengan internal turret mooring dalam 6 derajat kebebasan. FPSO beroperasi di Teluk Meksiko dengan kedalaman perairan 1865 m. Tugas Akhir ini juga menganalisis nilai tension maksimum pada tali tambat yang diprediksi berdasarkan simulasi time-domain untuk kondisi ULS (all lines intact) dan ALS (one line damaged). Dari hasil analisis perilaku gerak, FPSO diilustrasikan dalam 3 kondisi muatan (muatan penuh, muatan 25% dan muatan ballast). Dari ketiga muatan tersebut, dalam kondisi terapung bebas maupun tertambat didapatkan hasil bahwa kondisi muatan ballast lah yang memiliki gerakan paling besar. Pada kondisi terapung bebas kondisi muatan ballast dihasilkan RAO surge tertinggi sebesar 0.918 m/m (pada arah 0o), RAO sway tertinggi sebesar 0.962 m/m (pada arah 90o), RAO heave tertinggi sebesar 2.771 m/m (pada arah 45o), RAO roll tertinggi sebesar 7.78 deg/m (pada arah 90o), RAO pitch tertinggi sebesar 1.007 deg/m (pada arah 180o) dan RAO yaw tertinggi sebesar 0.415 deg/m (pada arah 45o). Apabila hasil RAO kondisi terapung bebas tersebut dibandingkan secara prosentase terhadap hasil RAO kondisi tertambat maka selisihnya adalah untuk surge sebesar -4.9%, sway sebesar 0.21%, heave sebesar 56.08%, roll sebesar 82.43%, pitch sebesar 49.65% dan yaw sebesar 40%. Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan tali tambat untuk FPSO dalam analisis ini cukup signifikan pengaruhnya terhadap perilaku gerak. Untuk analisis tension dilakukan simulasi perhitungan time-domain selama 3jam. Pada kondisi ULS, SF yang diijinkan oleh  API RP 2SK 2nd edition dapat dipenuhi dengan tension maksimum terjadi pada line 3 pada arah 45o, yakni sebesar 263632.6 N untuk fibre rope dan 640504.75 N untuk chain. Dan untuk kondisi ALS juga memenuhi SF yang diijinkan oleh  API RP 2SK 2nd edition yakni dengan satu tali tambat diputus (line 2) menghasilkan tension maksimum yang terjadi pada line 3, yakni sebesar 255159.344 N untuk fibre rope dan 633727.75 N untuk chain.

Page 8 of 15 | Total Record : 149