cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 472 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2016)" : 472 Documents clear
Faktor yang Mempengaruhi Kriteria Lokasi Berdagang Pedagang Kaki Lima Berdasarkan Preferensi Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasar Baru Gresik Fitri Dwi Agus Maulidiyah; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.765 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18564

Abstract

Permasalahan utama PKL di Kawasan Pasar Baru Gresik adalah banyaknya kegagalan relokasi yang disebabkan kurangnya keterlibatan PKL dalam  menentukan lokasi berdagang PKL. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor yang mempengaruhi kriteria lokasi pedagang kaki lima berdasarkan preferensi pedagang kaki lima itu sendiri di Kawasan Pasar Baru Gresik. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik pedagang kaki lima dengan menggunakan teknik analisa statistik desktiptif. Kemudian menentukan faktor yang mempengaruhi kriteria lokasi berdagang berdasarkan preferensi pedagang kaki lima dengan menggunakan content analysis. Maka dari itu hasil dari penelitian adalah faktor yang mempengaruhi kriteria lokasi berdagang pedagang kaki lima di Kawasan Pasar Baru Gresik yaitu sebagai berikut: (1) Lokasi berdagang yang strategis; (2) Harga sewa lahan/kios; (3) Dekat dengan kegiatan masyarakat; (4) Visibilitas; (5) Retribusi; (6) Dekat dengan permukiman penduduk; (7) Ketersediaan lahan parkir; (8) Dekat dengan terminal/stasiun; (9) Ketersediaan tempat pembuangan sampah; (10) Dekat dengan tempat tinggal; (11) Ketersediaan transportasi umum (12) Ketersdiaan jaringan air bersih; (13) Memiliki akses keluar dan masuk; (14) Penerimaan produk yang ditawarkan; (15) Ketersediaan drainase; (16) Ketersediaan pelayanan listrik; (17) Pengelompokkan jenis barang dagangan; (18) Luas tempat berdagang.
Arahan Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Kecamatan Kenjeran dengan Pendekatan Eco-Settlements Bayu Arifianto Muhammad; Haryo Sulistyarso
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.863 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18570

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk dari periode ke periode diikuti juga padatnya permukiman penduduk. Hal ini berpotensi memunculkan permukiman kumuh yang berpengaruh negatif terhadap kualitas lingkungan.Dalam perencanaannya, Kota Surabaya mennggiatkan pekembangan dengan konsep berkelanjutan. Penelitian ini betujuan untuk menentukan arahan yang tepat dalam penataan lingkungan permukiman kumuh dengan pendekatan Eco-Settlements yang berkembang dari konsep pembangunan berkelanjutan. Sasaran yang disusun adalah mengidentifikasi karakteristik permukiman kumuh di Kecamatan Kenjeran dengan deskriptif kualitatif, Analisa faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan permukiman kumuh menggunakan Delphi. Dan sasaran terakhir sekaligus output penelitian yang dihasilkan dari penelitian ini berupa arahan deskripitf dari setiap faktor-faktor yang mempengaruhi permukiman kumuh yang didasarkan pada kebijakan, base theory, dan penelitian yang telah dilakukan. Dari analisa tersebut didapat arahan secara garis besar berdasarkan faktor berpengaruh berupa penambahan dan peningkatan kualitas prasarana sanitasi, air bersih, drainase, dan rumah sehat, peningkatan daya dukung lingkungan dan sumber daya masyarakat, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta peningkatan kualitas institusi dan kesadaran akan kebijakan yang ada terkait pengelolaan permukiman kumuh.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Pola Perumahan Leapfrog di Kawasan Peri Urban Kota Malang VIDYA TRISANDINI AZZIZI; PUTU GDE ARIASTITA
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.011 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18611

Abstract

Salah satu jenis urban sprawl adalah leapfrog. Perambatan leapfrog merupakan jenis pengembangan yang melompat-lompat, tidak berpola dan tidak memiliki keterkaitan dengan lahan yang sudah terbangun sebelumnya, dan apabila dibiarkan, akan muncul konsekuensi-konsekuensi seperti menambahnya waktu perjalanan dan pencemaran lingkungan. Di Kota Malang, terdapat wilayah-wilayah dengan arahan kawasan pertanian yang memiliki indikasi terjadinya perkembangan leapfrog. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kawasan-kawasan yang mengalami pola perkembangan leapfrog di kawasan peri urban Kota Malang. Analisis yang digunakan dalam menentukan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembentukan pola perumahan leapfrog adalah confirmatory factor analysis, analytical hierarchy process, weighted overlay, dan buffer analysis. Diketahui bahwa terdapat tiga kriteria yang dapat digunakan untuk menjadi indikator terjadinya leapfrog yakni aksesibilitas, kepadatan penduduk, dan campuran penggunaan lahan (mix-used land) dan perumahan leapfrog di lokasi studi dibagi menjadi perumahan swadaya, yakni perumahan di Jalan Atletik, Jalan Bulu Tangkis, dan Jalan Ikan Tombro Barat, serta perumahan komersial yakni Green View Regency. Diketahui bahwa ada empat indikator yang berpengaruh, yakni ketersediaan infrastruktur pendukung, aksesibilitas, fasilitas umum, serta daya beli masyarakat. Terdapat perbedaan antara jenis rumah swadaya dan jenis rumah komersial, yakni tidak dipertimbangkannya ketersediaan kendaraan umum, biaya transportasi sehari-hari, serta kedekatan dengan fasilitas sekolah dasar bagi masyarakat yang tinggal di tipologi swadaya. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan dalam pembuatan peraturan pengendalian perkembangan leapfrog menurut faktor-faktor yang berpengaruh.
Aplikasi Filter Multivariate Empirical Mode Decomposition (MEMD) Untuk Mereduksi Noise Pada Data VLF-EM Muhammad Shafran Shofyan
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.184 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18618

Abstract

Alat VLF-EM menangkap gelombang elektromagnetik dari medium-medium disekitarnya. Sehingga, alat VLF-EM ini sangat sensitif terhadap benda-benda yang memiliki komponen listrik dan magnet yang besar. Benda-benda tersebut dapat dikatakan sebagai sumber noise. Selain itu, radiasi medan elektromagnetik akibat kilat dan petir juga merupakan sumber noise pada pengukuran VLF-EM. Noise-noise tersebut akan memengaruhi data dan mengakibatkan kesalahan interpretasi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian yang berjudul “Aplikasi Filter Multivariate Empirical Mode Decomposition (MEMD) Untuk Mereduksi Noise Pada Data VLF-EM” untuk menghilangkan noise-noise yang ada sehingga hasil akan lebih mudah untuk diinterpretasi. Penggunaan filter MEMD ini dikarenakan filter ini baik digunakan untuk mengolah sinyal secara multivariate. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan antara data yang di­-filter dengan filter moving average dengan data yang di-filter dengan filter MEMD. Dari hasil penelitian ini, diketahui bahwa filter MEMD dapat mereduksi noise-noise yang memiliki frekuensi yang tinggi, terlihat dari hasil penampang resistivitas yang dihasilkan dari proses inversi.
Pengaruh Penataan Bangunan dan Lingkungan Terhadap Resiko Bencana Kebakaran Di Kelurahan Nyamplungan Kota Surabay Arimudin Nurtata
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.58 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18876

Abstract

Kota Surabaya menjadi salah satu kawasan rawan kebakaran di Indonesia. Pada tahun 2014 kejadian kebakaran di kota Surabaya sebanyak 596 kejadian. Salah satu kawasan yang mengalami kebakaran tiap tahunnya berada di kelurahan Nyamplungan. Dalam menghadapi kebakaran dibutuhkan suatu alat yang efektif dan efisien yang sesuai dengan karakteristik bangunan dan lingkungannya. Oleh  karena  itu,  penelitian  ini  berusaha mengidentifikasi karakteristik penataan bangunan dan lingkungan di kelurahan Nyamplungan dalam mengurangi resiko kebakaran. identifikasi karakteristik penataan bangunan dan lingkungan pada kelurahan Nyamplungan menggunakan teknik Walkthrough Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik bangunan, lingkungan, dan sarana kebakaran pada kelurahan Nyamplungan meningkatkan resiko bencana kebakaran. Pada karakteristik pembentuk solid, void dan linkage pada kelurahan Nyamplungan dapat mengurangi resiko bencana kebakaran sehingga karakteristik tersebut bisa dioptimalkan dalam usaha – usaha mengurangi resiko kebakaran.
ANALISIS PERSEBARAN POLUTAN KARBON MONOKSIDA DAN PARTIKULAT DARI KEBAKARAN HUTAN DI SUMATERA SELATAN Aron Pangihutan Christian Tampubolon; Rachmat Boedisantoso
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.674 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18955

Abstract

Kebakaran hutan merupakan masalah serius yang dihadapi pada permasalahan pencemaran udara masa kini karena berperan sebagai sumber terbesar emisi CO.  Wujud polutan dari kebakaran hutan pada umumnya dalam bentuk asap yang mengandung banyak partikulat. Sumatera Selatan memiliki kawasan hutan sebesar 4.222.484,9 ha.  Besarnya luasan kawasan  hutan di Sumatera Selatan berbanding lurus dengan besarnya  potensi kebakaran hutan yang dapat terjadi. Jumlah titik api di Sumatera Selatan mengalami peningkatan sebesar 12% pada periode 2014-2015. Intesitas kebakaran  hutan di Sumatera Selatan yang cukup tinggi memberikan perkiraan bahwa banyak dampak besar yang akan ditimbulkan. Gangguan kesetimbangan ekosistem, permasalahan kesehatan, sampai lumpuhnya aktivitas masyarakat adalah dampak yang diperkirakan akan timbul akibat kebakaran hutan. Selain itu, kebakaran hutan dapat menyebabkan gangguan terhadap wilayah lain yang jauh jaraknya dari area terbakar. Besarnya  wilayah dan waktu  jangkauan dampak dari kebakaran hutan sering tidak dapat diperkirakan karena terbatasnya informasi prediksi persebaran polutan dari kebakaran hutan. Suatu analisis persebaran polutan sangat diperlukan sebagai penyedia informasi prediksi dari besaran dampak yang ditimbulkan dari suatu area kebakaran hutan. Model persebaran ini dapat dijadikan sebagai acuan peringatan dini bagi daerah sekitar yang akan terkena dampak kebakaran hutan. Digunakan 2 jenis variabel penelitian yakni kecepatan angin dan jenis hutan. Data kecepatan angin yang digunakan adalah nilai rata-rata, maksimum, minimum dan modus dari data kecepatan angin periode 21 juli 2015 – 12 november 2015. Periode ini adalah periode penurunan kualitas udara kota Palembang akibat peristiwa kebakaran hutan sampai memasuki musim hujan.  Jenis hutan yang dipakai sebagai variasi skenario, yaitu hutan alam primer dataran tinggi, hutan alam sekunder dataran rendah, hutan rakyat bambang lanang, hutan alam gambut sekunder. Pembagian jenis hutan ini berdasarkan data biomassa yang telah dihimpun sebelumnya pada tahun 2014. Jumlah total skenario yang disusun sebanyak 40 skenario sesuai variabel yang ditentukan. Analisis persebaran dan nilai konsentrasi dari polutan CO dan partikulat berdasarkan skenario yang disusun dengan menggunakan persamaan gauss plume. Validasi data menunjukkan bahwa hasil pemodelan dengan skenario kecepatan angin rata-rata yang paling mendekati nilai ISPU.  Konsentrasi polutan yang sampai ke kota palembang dari sejumlah titik api kebakaran hutan adalah  2322,21 μg/m3 CO dan 245,62 μg/m3 PM10. Konsentrasi polutan yang sampai ke kota Palembang dari  kebakaran hutan seluas 1 ha pada setiap titik api adalah 8,54 μg/m3 CO dan 0,9 μg/m3 PM10. Jarak terjaruh persebaran emisi CO dan PM10 sampai nilai ambang batas (10000  dan 150 ) telah terlewati adalah 120 km untuk emisi CO dan 200 km untuk emisi PM10.
Perancangan Aplikasi Komputer Berbasis Android Untuk Estimasi Biaya Reparasi Kapal Interaktif Dave Hansel; Triwilaswandio Wuruk Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.628 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16505

Abstract

Tujuan dari pengerjaan tugas akhir ini adalah untuk membuat suatu aplikasi komputer berbasis android yang berfungi sebagai media atau sarana dalam memperkirakan besarnya biaya reparasi kapal. Aplikasi ini berisikan item-item yang akan dikerjakan saat kapal akan melakukan docking. Item-item dan pekerjaan ini diambil berdasarkan repair list yang telah dibuat oleh galangan untuk pihak owner kapal. Tingginya permintaan reparasi kapal di galangan, membuat owner kapal harus menentukan anggaran biaya yang diperlukan ketika akan melakukan reparasi kapal pada saat kapal masih berada diatas laut. Software yang digunakan dalam pembuatan aplikasi ini adalah bahasa pemrograman PHP, Android Studio, dan MySQL. Aplikasi android interaktif ini mampu memberikan informasi berupa jenis jenis pekerjaan reparasi yang dilakukan. Semua kebutuhan akan reparasi di input oleh owner kapal sendiri menyesuaikan dengan besar satuan yang akan dilakukan reparasi, kebutuhan material apa saja yang diperlukan & berapa jumlahnya. Setelah input yang diberikan telah selesai aplikasi ini akan memberikan besaran harga yang diperlukan, sehingga mampu memberikan kesempatan terhadap owner kapal dalam menyiapkan anggaran biaya untuk melakukan reparasi kapal. Setelah dilakukan analisa perbandingan sistem dan uji verifikasi dengan menguji aplikasi kepada pihak user, didapatkan bahwa aplikasi ini jauh lebih baik dibandingkan sistem eksisting yang dilakukan pemilik kapal untuk melakukan estimasi biaya, dengan nilai rata-rata hasil kuisioner 4,04 dengan nilai maksimum 5,00.
Studi Implementasi Model House of Risk (HOR) Untuk Mitigasi Risiko Keterlambatan Material Dan Komponen Impor Pada Pembangunan Kapal Baru Zulia Dewi Cahyani; Sri Rejeki Wahyu Pribadi; Imam Baihaqi
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.212 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16526

Abstract

Galangan kapal dituntut dapat menyelesaikan pembangunan kapal sesuai dengan kontrak yang disepakati. Ketepatan penyelesaian pembangunan kapal erat hubungannya dengan ketepatan pengadaan material dan komponen. Galangan kapal dituntut untuk melakukan perhitungan dan pertimbangan yang baik dalam pengambilan keputusan setiap risiko, sehingga diperlukan manajemen risiko. Pada penelitian ini, digunakan model HOR untuk mengidentifikasi variabel risiko (risk event dan risk agent) dan mitigasi risiko. HOR digunakan pada proses bisnis umum pengadaan dan proses bisnis pengadaan setiap material dan komponen impor kategori high risk. HOR dibagi menjadi 2 fase: fase pertama yaitu identifikasi risiko untuk menghasilkan prioritas risk agent. Sedangkan fase kedua adalah penyusunan tindakan pencegahan untuk menghasilkan preventive action yang efektif. Proses bisnis pengadaan dibagi menjadi 5 proses bisnis yaitu perencanaan, pembelian, pengiriman, penerimaan dan pengembalian. Identifikasi risiko dilakukan dengan melakukan penyebaran kuesioner penilaian occurrence dan severity dari variabel risiko. Pada proses bisnis umum pengadaan, risk event kategori high risk adalah krisis kepercayaan vendor terhadap kemampuan membayar perusahaan, keterlambatan dan ketidaklengkapan dokumen impor, tertahannya material di pelabuhan dan kekurangan SDM yang memenuhi kompetensi yang dibutuhkan. Dari HOR fase 1, dihasilkan risk agent yaitu buruknya track record galangan dalam proses pembayaran. Sedangkan pada proses bisnis pengadaan setiap material dan komponen impor ada 6 komponen kategori high risk yaitu deck machinery, navigation and communication, harbour diesel generator, main diesel engine, shafting and z-peller dan main diesel engine. Salah satu risk event yaitu lamanya negosiasi pembelian. Dari HOR fase 1, dihasilkan prioritas risk agent yaitu evaluasi teknis yang berlarut. Sehingga dari HOR fase 2, dihasilkan tindakan preventif untuk proses bisnis umum pengadaan adalah training peningkatan manajerial dan kemampuan masing-masing kompetensi. Sedangkan untuk proses bisnis pengadaan setiap komponen adalah mempercepat pengurusan dokumen impor komponen.
Desain Trash Skimmer Amphibi-Boat di Sungai Ciliwung Jakarta Nurin Farras Adiba; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.478 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16571

Abstract

Abstrak—Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia memiliki masalah yang cukup serius yaitu banjir setiap tahun yang disebabkan timbunan sampah khususnya di sungai-sungai. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk melakukan analisis secara teknis mengenai desain kapal amfibi dengan jenis lambung katamaran yang digunakan untuk mengangkut sampah dengan conveyor di bagian haluan dan buritan kapal. Pemilihan kapal katamaran dikarenakan katamaran memliki geladak yang luas sehingga dapat mengangkut muatan lebih banyak. Selain itu kapal katamaran dapat digunakan di perairan yang cukup dangkal sehingga cocok untuk kondisi Sungai Ciliwung. Proses desain kapal dilakukan dengan menggunakan satu kapal sebagai kapal acuan dalam menentukan ukuran utama dengan data jumlah sampah yang ada di Sungai Ciliwung digunakan sebagai acuan dalam penentuan payload. Perhitungan teknis lainnya menggunakan rules untuk kapal katamaran dengan L<50 m. Hasil perhitungan teknis diperoleh ukuran utama sebesar Lpp = 10.6 m, B = 4 m, T = 1 m, H = 2 m, B1 = 1.2 m, CB = 0.579, dan Vs = 4 knots. Selanjutnya dari ukuran utama yang diperoleh dibuat Gambar Rencana Garis dan Gambar Rencana Umum. Terdapat roda yang terpasang pada sisi luar lambung kapal sehingga kapal amfibi dapat dioperasikan di sungai dan daratan. Pengoperasian di daratan sebatas untuk proses berpindahnya kapal amfibi ke sungai lain. Selain di Sungai Ciliwung, kapal ini dapat dioperasikan di Sungai Sunter dan Sungai Banjir Kanal Timur.
Desain Kapal Layanan Publik Di Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep Ahmad Rif&#039;an Nugraha Putra; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.535 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16675

Abstract

Kemajuan di bidang pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan adalah tolok ukur kemajuan satu bangsa. Di Negara Indonesia yang wilayahnya luas dan terdiri dari pulau-pulau cenderung terjadi ketidakseimbangan pembangunan. Terutama di pulau-pulau kecil yang pembangunannya dirasa kurang. Dari sini perlu adanya pemikiran atau strategi khusus untuk memajukan pembangunannya terutama dibidang pelayanan publik.Ide kami adalah sebuah perancangan kapal layanan publik yang diharapkan mampu memajukan pelayanan publik di pulau-pulau kecil. Pelayanan publik yang ada dalam kapal ini adalah pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM), pembayaran pajak kendaraan atau Satuan Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) dan puskesmas. Kepulauan Kangean yang secara geografis berada di timur pulau Madura, khususnya berada di wilayah kabupaten Sumenep. Sebagai wilayah kecamatan kepulauan, Kecamatan Arjasa dan Kecamatan Kangayan keduanya memiliki fasilitas pelayanan publik yang cukup terbatas. Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah untuk mendapatkan desain konseptual kapal layanan publik untuk daerah kepulauan Kangean, Madura. Proses desain kapal dimulai dari survei lapangan untuk mendapatkan luasan ruangan pelayanan, pengunjung layanan, dan jenis pelayanan. Dari data tersebut didapat desain awal. Ukuran yang didapat harus memenuhi batasan seperti freeboard, stabilitas, tonnage, dan memiliki harga yang minimum. Ukuran utama kapal  yang di dapatkan adalah, Lpp = 35.275 m, Bm = 8 m, H = 3.12 m, T = 2 m, dengan biaya pembangunan sebesar Rp. 11.704.435.604. Dari data kapal tersebu kemudian dibuat Lines Plan, General Arrangement, Safety Plan dan 3D kapal.