cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2019)" : 156 Documents clear
Analisis Konfigurasi Floating Breakwater Bentuk Hexagonal terhadap Peredaman Gelombang dengan Menggunakan Flow-3D Dinda Amalia Rahmawati; Muhammad Zikra; Haryo Dwito Armono
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1080.156 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45091

Abstract

Gelombang dan angin yang bergerak secara dinamis seringkali menyebabkan kerusakan di pesisir pantai sehingga diperlukan bangunan pelindung pantai. Breakwater merupakan bangunan pelindung pantai yang berfungsi untuk menghancurkan energi gelombang datang sebelum mencapai pantai. Salah satu jenis breakwater adalah floating breakwater, struktur ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan fixed breakwater. Penelitian mengenai floating breakwater sudah banyak dikembangkan dengan tujuan utama yaitu struktur yang paling efisien dan dapat meredam gelombang dengan baik. Pada tugas akhir ini dilakukan pemodelan struktur floating breakwater berbentuk hexagonal dengan 3 konfigurasi struktur untuk mendapatkan nilai koefisien transmisi (Kt). Model hexagonal floating breakwater dimodelkan dengan gelombang reguler Hs = 0.1125 m dan variasi periode antara 0.95-1.1415 detik. Dari 3 variasi konfigurasi didapatkan Kt pada konfigurasi A1 dengan rata-rata nilai Kt sebesar 0.547; konfigurasi A2 sebesar 0.648 dan konfigurasi A3 sebesar 0.659. Dari nilai tersebut menandakan bahwa pada konfigurasi A1 adalah konfigurasi yang paling optimal dalam meredam gelombang.
Analisis Kekuatan Konstruksi Alas Kapal Akibat Grounding Iqbal Permana; Dony Setyawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.873 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45135

Abstract

Jumlah kecelakaan kapal di dunia, sejak tahun 2007 hingga tahun 2016, sebanyak 1186 kasus dengan 249 kasus berada di Lautan China, Indonesia, dan Phillipines. Dari semua kasus kecelakaan yang terjadi, kecelakaan yang terjadi akibat  karam sebanyak 598 kasus dan akibat grounding sebanyak 244 kasus. Grounding merupakan salah satu penyebab kecelakaan yang sering terjadi pada kapal. Oleh karena itu penelitian ini akan menganalisis tegangan yang diterima konstruksi alas kapal akibat grounding. Analisis dilakukan menggunakan metode elemen hingga dengan studi kasus konstruksi alas kapal tanker 17500 tonnes deadweight. Pemodelan dilakukan dengan software Finite Element Method (FEM). Hasil yang didapatkan berupa nilai tegangan von mises dan deformasi. Simulasi dilakukan dengan 3 skenario yaitu saat karang menabrak solid floor, open floor, dan watertight floor. Lokasi tempat karang mengenai konstruksi alas saat terjadinya grounding memengaruhi besar tegangan yang dihasilkan. Maka respon setiap komponen utama konstruksi alas akan berbeda. Besar tegangan maksimum dan deformasi maksimum global, bottom plate, side girder, transverse construction pada waktu 0,02 detik untuk skenario 1; skenario 2; dan skenario 3 adalah 1050 MPa; 965 MPa; dan 645 MPa, 62,1 MPa; 696 MPa; dan 94,4 MPa, 268 MPa; 366 MPa; dan 337 Mpa, 1050 MPa; 965 MPa; dan 645 Mpa dan 16,2 mm; 15,3 mm; dan 13,5 mm, 9 mm; 11,7 mm; dan 13,3 mm, 7 mm; 9,15 mm dan 6,98 mm, 16,2 mm; 15,3 mm dan 11,6 mm. Konstruksi alas kapal tidak mampu menerima beban akibat grounding dikarenakan tegangan yang dihasilkan pada respon konstruksi alas melebihi ultimate tensile strength.
Analisis Tegangan Haluan Kapal Akibat Tubrukan Nur Ahmad Dzikron; Totok Yulianto
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.491 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45284

Abstract

Tubrukan dan karam merupakan salah satu penyebab kecelakaan yang sering terjadi pada kapal. Dampak yang terjadi akibat tubrukan kapal, yaitu dapat mengancam kehidupan manusia, lingkungan, dan investasi ekonomi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan haluan kapal serta mengetahui respon struktur konstruksinya akibat tubrukan dengan Finite Element Method (FEM). Simulasi kasus tubrukan kapal dilakukan dengan variasi kecepatan awal haluan 1 m/s, 2 m/s, dan 3 m/s selama waktu 0,05 detik. Haluan kapal mengalami deformasi plastis pada saat nilai tegangan melebihi yield strength dan mencapai ultimate strength, yaitu pada sekitar waktu 0,018 detik; 0,009 detik; dan 0,0056 untuk kecepatan awal 1 m/s; 2 m/s; dan 3 m/s. Internal Energy yang diserap oleh haluan kapal pada waktu 0,05 detik untuk kecepatan 1 m/s; 2 m/s; dan 3 m/ adalah 118,01 KJ; 672,39 KJ; dan 1501,3 KJ. Gaya maksimal yang dihasilkan pada waktu 0,05 detik untuk kecepatan awal 1 m/s adalah 10,597 MN dengan penetrasi yang terjadi adalah 39,574 mm. Untuk kecepatan awal 2 m/s, nilai gaya maksimal yang dihasilkan adalah 25,221 MN dengan penetrasi 86,998 mm. Kemudian untuk kecepatan awal 3 m/s, nilai gaya maksimal yang dihasilkan adalah 29,35 MN dengan penetrasi 134,42 mm. Nilai tegangan, internal energy, gaya, dan penetrasi yang dihasilkan semakin besar apabila kecepatan awal semakin tinggi.
Analisis Sour Corrosion pada Baja ASTM A36 Akibat Pengaruh Asam Sulfat dengan Variasi Temperatur dan Waktu Perendaman di Lingkungan Laut Ray Adam Baihaqi; Herman Pratikno; Yoyok Setyo Hadiwidodo
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.281 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45896

Abstract

Pada industri maritim masalah korosi merupakan masalah yang serius yang terjadi pada logam karena bisa mengurangi nilai ekonomis dari logam tersebut. Logam yang paling banyak digunakan pada industri maritim adalah Baja ASTM A36 yang merupakan baja karbon rendah dengan kandungan karbon 0,25% sampai 0,29%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui variasi medium perendaman, temperatur dan waktu perendaman terhadap laju korosi Baja ASTM A36. Pada medium perendaman menggunakan dua variasi yaitu medium NaCl 3,5% yang merupakan medium air laut buatan dan medium NaCl 3,5% + H2SO4 0,5 M. Kemudian untuk variasi temperatur adalah 20˚, 30˚, 40˚ C. Dan variasi waktu perendaman yang digunakan 24, 72, 120 dan 168 jam. Hasil dari uji immersion corrosion test menunjukkan nilai laju korosi tertinggi terjadi pada Baja ASTM A36 yang direndam pada medium NaCl 3,5% + H2SO4 0,5 M dengan temperatur perendaman 40˚ C yang menunjukkan nilai laju korosi 37,584 mmpy (24 jam), 31,965 mmpy (72 jam), 23,795 mmpy (120 jam), 19,375 mmpy (168 jam), kemudian pada material sampel uji tersebut terjadi korosi seragam dan korosi batas butir. Nilai laju korosi tertinggi pada medium perendaman NaCl 3,5% terjadi pada Baja ASTM A36 yang direndam pada temperatur 40˚ C yang menunjukkan nilai laju korosi 0,098 mmpy (24 jam), 0,105 mmpy (72 jam), 0,081 mmpy (120 jam), 0,063 mmpy (168 jam), kemudian pada material sampel uji tersebut terjadi korosi seragam dan korosi sumuran. Hasil penelitian ini didapatkan adanya senyawa H2SO4 dan temperatur yang tinggi dapat mempercepat laju korosi di lingkungan laut.
Pencemaran Meso- dan Mikroplastik di Kali Surabaya pada Segmen Driyorejo hingga Karang Pilang Bagas Ari Wijaya; Yulinah Trihadiningrum
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.203 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.46000

Abstract

Kali Surabaya memegang peranan penting sebagai sumber air baku air minum. Namun Kali Surabaya mengalami penurunan kualitas, akibat pembuangan sampah ke sungai. Jenis sampah yang paling sering ditemukan adalah plastik. Partikel plastik dari jenis meso dan mikroplastik memiliki dampak negatif bagi ekosistem sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kelimpahan meso- dan mikroplastik di Kali Surabaya pada segmen Driyorejo hingga Karang Pilang, serta menentukan dan mengkaji distribusinya. Sampling dilakukan secara grab pada tiga kedalaman sungai (atas, tengah, dasar) dari tiga titik menurut lebar sungai (sisi kanan, tengah, dan kiri). Sampling dilakukan dengan dua kali pengulangan. Pengambilan sampel pada permukaan menggunakan manta trawl dan pada setengah kedalaman serta dasar kedalaman menggunakan modified trawl. Pengambilan sampel air untuk pengukuran parameter suhu, pH, berat jenis air menggunakan Van Dorn sampler, dan pengukuran kecepatan arus menggunakan current meter. Ekstraksi meso- dan mikroplastik dilakukan menggunakan hidrogen peroksida dan larutan NaCl. Kemudian meso- dan mikroplastik diamati dan disortasi menggunakan stereomicroscope. Kelimpahan tertinggi mesoplastik berada di permukaan sungai pada titik Driyorejo (1,22 partikel/m3). Adapun, kelimpahan tertinggi mikroplastik berada di permukaan sungai pada titik Driyorejo (13,33 partikel/m3). Distribusi longitudinal mesoplastik dan mikroplastik pada tiga titik sampling menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Dari titik Driyorejo ke titik Bambe kelimpahan mikroplastik menurun, sedangkan dari titik Bambe ke titik Karang Pilang terjadi peningkatan. Kelimpahan mesoplastik pada tiga titik cenderung menurun dari permukaan hingga dasar. Sedangkan distribusi vertikal mikroplastik berfluktuasi: menurun dari permukaan hingga ke setengah kedalaman, kemudian meningkat di bagian dasar sungai.
Analisis Pengaruh Variasi Heat Input Pengelasan FCAW pada Sambungan Baja BKI Grade A terhadap Sifat Mekanik Muhammad Ichsan Rosidin Yuniarto; Herman Pratikno; Dirta Marina Chamelia
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.761 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.47184

Abstract

Kegiatan eksplorasi minyak dan gas di laut membutuhkan fasilitas anjungan lepas pantai khususnya berupa struktur terapung, karena dapat berpindah tempat sesuai kebutuhan. Salah satu rangkaian pekerjaan untuk memproduksi struktur lepas pantai tersebut adalah proses pengelasan. Flux Cored Arc Welding (FCAW) merupakan proses pengelasan yang cocok untuk kegiatan fabrikasi karena memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi heat input terhadap kekuatan tarik dan pengamatan struktur makro-mikro pada pengelasan baja BKI Grade A dengan metode pengelasan FCAW. Variasi heat input yang digunakan pada penelitian ini adalah 1,19 KJ/mm, 1,32 KJ/mm, dan 1,46 KJ/mm. Pada hasil pengujian tarik, pengelasan dengan heat input 1,46 KJ/mm memiliki nilai kekuatan tarik terbesar, ultimate strength 453,85 MPa dan yield strength 349,76 MPa. Lebar daerah HAZ tiap spesimen tidak jauh berbeda, adapun pengelasan dengan heat input 1,46 KJ/mm memiliki daerah HAZ terlebar yaitu 18 mm. Sedangkan pada hasil pengamatan struktur mikro, pengelasan dengan menggunakan heat input 1,46 KJ/mm pada bagian weld metal memiliki presentase struktur ferrite paling kecil yaitu 61,1%, kemudian struktur pearlite 38,9%.
Analisis Teknis dan Ekonomis Penerapan Pipe Piece Family Manufacturing (PPFM) pada Instalasi Sistem Perpipaan Kapal Tanker 17.500 DWT Ainun Kunti Zahra; Heri Supomo; Imam Baihaqi
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.855 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.47463

Abstract

Galangan di Indonesia sejauh ini masih menghadapi permasalahan yang sama yaitu keterlambatan pembangunan sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Salah satu faktor  yang menyebabkan hal itu terjadi yaitu pergantian mitra kerja yang kerap dilakukan. Salah satu sistem yang memiliki beban kerja cukup besar yaitu sistem pipa. Metode eksisting yang saat ini diterapkan yaitu berdasarkan setiap sistem pipa yang ada. Metode pembangunan eksisting tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap waktu penyelesaian pekerjaan dan tidak mempercepat proses produksi. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk  menganalisis secara teknis dan ekonomis penerapan metode Pipe Piece Family Manufacturing (PPFM) pada instalasi sistem perpipaan kapal tanker. Metode tersebut dilakukan dengan mengelompokkan pipa yang memiliki atribut desain dan manufaktur yang cukup mirip. Sistem perpipaan yang menjadi objek penelitian diantaranya cargo oil piping system, fresh water piping system, dan machinery cooling piping system. Teknis pengerjaan sistem perpipaan tersebut dikelompokkan berdasarkan klasifikasi pipa sesuai metode PPFM diantaranya PPFM No. 01 (Straight, ND ≤ 50 mm), PPFM No. 04 (Straight, ND ≥ 200 mm), PPFM No. 07 (Straight, ND ≥ 250 mm), PPFM No. 51 (Assembled, ND ≤ 50 mm), PPFM No. 54 (Assembled, ND ≥ 200 mm), PPFM No. 57 (Assembled, ND ≥ 250 mm), dan PPFM No. 95 (Unit Assembled). Tahap pembangunan (level manufacturing) dalam metode PPFM terdiri dari tujuh tingkat pengerjaan yaitu material receiving, pipe fabrication, pipe piece assembly, pipe piece joining, testing & coating, dan palletizing. Waktu pembanguan yang dibutuhkan dalam penerapan metode tersebut yaitu 32 hari kerja, berkurang hingga 20% apabila dibandingkan dengan kondisi eksisting. Biaya pekerja yang dibutuhkan dapat berkurang hingga 1.917% apabila dibandingkan dengan kondisi eksisting. Biaya investasi dalam penerapan metode PPFM sebesar Rp 111,330,000 (Seratus Sebelas Juta Tiga Ratus Tiga Puluh Ribu Rupiah).
Pemodelan Numerik Run Up dan Overtopping Struktur Seawall Buis Beton Pangestu Ari Wicaksono; Haryo Dwito Armono; Muhammad Zikra; Juventus Welly Ginting
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.118 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.47498

Abstract

Bangunan pelindung pantai banyak macam dan jenisnya, namun memiliki tujuan yaitu untuk melindungi kawasan pantai dari gelombang. Dikarenakan gelombang akan bersifat katastropik apabila terlalu besar. Penelitian terhadap bangunan pelindung pantai banyak dilakukan pada analisa transmisi, refleksi, limpasan dan rayapan. Pemilihan buis beton untuk penelitian dikarenakan masyarakat pesisir banyak menggunakannya sebagai bangunan pantai. Karena buis beton mudah dijumpai, murah dan mudah dalam pengaplikasiannya. Namun belum ada analisis secara ilmiah mengenai buis beton sebagai bangunan pantai. Pada penelitian ini akan dilakukan analisis run up dan overtopping dengan berdasarkan gelombang regular uji fisik buis beton Balai Pantai menggunakan pemodelan CFD Flow-3D. Penelitian ini memvariasikan tinggi freeboard buis beton yaitu 0,05 m dan 0,2 m, variasi kemiringan untuk masing-masing freeboard 45°, 26,56° dan 18,26° dengan mengubah perletakan buis beton secara vertikal. Untuk hasil variasi, model dengan freeboard 0,05 memiliki hasil run up sama 0,05 m atau tinggi maksimal struktur, sedangkan nilai run up pada struktur dengan freeboard 0,2 hasil run up terendah yaitu pada model B3.60 dengan kemiringan 18,26° sebesar 0,17 m. Untuk overtopping relatif struktur dengan freeboard 0,2 lebih kecil dari pada struktur dengan freeboard 0,05. Hasil dari run up dan overtopping dilakukan perbandingan dengan pengaruh kemiringan, tinggi freeboard dan irribaren parameter dari penelitian lain, namun perbandingan dilakukan hanya untuk melihat trend persebarannya karena struktur yang diteliti berbeda dengan yang dilakukan oleh peneliti lain.
Optimasi Berat Konstruksi Sekat Melintang Kapal dengan Variasi Penegar Sekat Alfath Lathiful Ikhwan; Mohammad Nurul Misbah
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.881 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.48071

Abstract

Sekat merupakan salah satu konstruksi di kapal yang secara umum berfungsi sebagai pemisah antara kompartemen atau ruangan di kapal. Menurut aturan konstruksi standar IACS, ada beberapa sekat yang wajib dipasang pada kapal, seperti sekat tubrukan, sekat kamar mesin, dan sekat buritan (stern tube). Dalam mendesain konstruksi sekat yang optimal, haruslah dilakukan analisis lebih lanjut menggunakan direct calculation untuk mengetahui kekuatan struktur sekat tersebut, untuk selanjutnya dapat diputuskan apakah optimasi masih dapat dilakukan dengan mengecilkan ukuran penegar sekat atau merubah susunan struktur sekat tersebut. Apabila konstruksi sekat optimal, maka berat sekat menjadi minimum, sehingga akan menurunkan biaya produksi juga. Hal ini dapat menguntungkan terutama bagi industri galangan kapal. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dilakukan optimasi berat konstruksi sekat melintang. Metode optimasi yang digunakan adalah “optimization by design trial and error”, yaitu dengan menentukan variasi dan batasan optimasi dari pertimbangan desainer sendiri. Dalam penentuan variasi dan batasan tersebut, akan berpedoman pada ilmu di bidang teknik perkapalan. Dan untuk direct calculation dalam proses optimasi, akan menggunakan metode elemen hingga (FEM) dibantu software. Dari hasil penelitian optimasi sekat melintang, didapatkan bahwa variasi struktur sekat melintang yang paling ringan adalah sekat dengan variasi jarak penegar 600 mm, 1 penumpu horizontal, dengan ukuran profil desain custom, yaitu seberat 9045,4 kg, dengan tegangan maksimum yang terjadi sebesar 174,6 MPa dan berat yang lebih ringan sebesar 1,47% (134,7 kg) dari konstruksi sekat melintang data asli. Adapun sekat tersebut menggunakan profil bulb yang dapat menurunkan berat konstruksi sekat hingga 3,26% lebih ringan jika dibandingkan profil unequal legs angles dan 5,96% jika dibandingkan profil equal legs angles dengan susunan struktur konstruksi sekat yang sama
Analisis Tegangan Lambung Kapal Tanker Akibat Tubrukan Sholichatul Ilmiah; Achmad Zubaydi
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.851 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.48810

Abstract

Ketika suatu kapal mengalami tubrukan, struktur lambung ganda dari kapal yang bertabrakan dapat mengalami deformasi plastik yang besar dan fraktur. Maka dari itu perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai tubrukan yaitu respon kapal terhadap beban tubrukan serta kemungkinan – kemungkinan jika tubrukan terjadi di titik yang berbeda. Analisis dilakukan dengan finite element method. Cakupan analisis yaitu konstruksi wing tank yang diberi beban eksternal oleh konstruksi haluan kapal yang menubruk dengan kecepatan dinas. Tubrukan disimulasikan terjadi di dua lokasi, yaitu di antara web frame (skenario 1) dan tubrukan pada web frame (skenario 2). Hasil yang didapatkan berupa tegangan von mises, deformasi, internal energy dan kinetic energy. Hasil analisis menunjukkan bahwa tegangan von mises maksimum global; pelat contact (side plate); web frames; longitudinal pada waktu 0,02 s untuk skenario 1 dan skenario 2 (tubrukan di web frame) adalah 653 MPa dan 2130 MPa; 653 MPa dan 591 MPa; 176 MPa dan 2130 MPa; 192 MPa dan 293 MPa. Nilai deformasi maksimum global; pelat contact (side plate); web frames; longitudinal pada waktu 0,02 s untuk skenario 1 dan skenario 2 adalah 105 mm dan 224 mm; 105 mm dan 46,9 mm; 4,77 mm dan 224 mm; 15,6 mm dan 18 mm. Energi yang diserap (internal energy) oleh konstruksi wing tank pada waktu analisis 0,02 detik untuk skenario 1 dan skenario 2 adalah 42,4 kJ dan 251 kJ. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tegangan von mises maksimum pada skenario 1 lebih besar dari skenario 2 untuk tinjauan pelat contact namun untuk tinjauan global, web frames dan longitudinal nilai pada skenario 1 lebih kecil dari skenario 2. Hal ini juga terjadi pada deformasi maksimum pada tiap – tiap tinjauan. Internal energy akibat tubrukan menunjukkan nilai yang lebih besar untuk skenario 2.

Page 8 of 16 | Total Record : 156