cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Modifikasi Perencanaan Apertemen Grand Kamala Lagoon Menggunakan Struktur Baja Komposit dengan Sistem Rangka Berpengaku Eksentris Ahmad Zaky; Endah Wahyuni; Isdarmanu Judowijono
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.518 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25397

Abstract

Salah satu sistem alternatif penahan gempa yaitu menggunakan material baja komposit dengan Sistem Rangka Berpengaku Eksentris. Sistem Rangka Berpengaku Eksentris merupakan sistem dimana pengaku tidak terhubung ke perpotongan balok dan kolom melainkan terhubung ke balok dengan jarak “e” ke titik perpotongan balok dan kolom. Segmen balok pendek atau link ini memiliki daktilitas yang tinggi yang memastikan struktur memiliki perilaku inelastis serta penyerapan energi yang baik. Kinerja dari balok link tersebut akan lebih maksimal jika elemen-elemen diluar balok link tersebut direncanakan lebih kuat. Modifikasi perencanaan yang dilakukan pada Apartemen Grand Kamala Lagoon ini yaitu menggunakan struktur baja komposit dengan sistem rangka berpengaku eksentris. Perhitungan struktur yang dilakukan pada perencanaan tersebut mengacu kepada SNI-03-1729-2015 “Spesifikasi untuk Bangunan Gedung Baja Struktural”, SNI-03-1729-2015 “Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Gedung dan Non Gedung”, SNI-03-1727-2013 “Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain”, PPIUG 1983, dan SNI-03-2847-2013 “Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung”. Permodelan dan analisa struktur menggunakan program bantu ETABS 2016. Dari hasil analisa yang telah dilakukan, diperoleh tebal pelat atap dan lantai 11 cm, dimensi balok induk arah X dan Y yaitu WF600.300.12.17 dan WF600.300.14.23, dimensi kolom yaitu HSS700.700.28, dimensi bresing yaitu WF300.300.15.15, dimensi link yaitu WF700.300.13.24 dengan panjang link 120 cm, baseplate menggunakan fixed plate 900.900.60, dari Continental Steel. Sambungan struktur utama direncanakan sambungan kaku menggunakan baut mutu tinggi A490. Pondasi menggunakan tiang pancang berdiameter 60 cm dengan kedalaman 22 m. Balok Tie Beam dimensi 450x650 mm dipasang tulangan utama 5D16 dan tulangan geser Ø10-300.
Modifikasi Jembatan Buol Sulawesi Tengah Menggunakan Jembatan Busur Menerus Rangka Baja Raden Dary Wira Mahadika; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.093 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25413

Abstract

Jembatan Buol termasuk jembatan kelas nasional yang menghubungkan jalan lintas provinsi antara provinsi Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Jembatan ini terletak diatas sungai Buol Kabupaten Buol Sulawesi Tengah dan menggunakan konstruksi rangka batang baja sederhana sebagai struktur utamanya. Jembatan Buol memiliki estetika yang kurang baik. Hal ini yang melatarbelakangi pembangunan Jembatan Buol yang baru, sebagai solusi dalam pembangunan jembatan yang memiliki estetika yang baik, kuat dan dapat menjadi landmark bagi kabupaten Buol. Tugas akhir ini memodifikasi Jembatan Buol menjadi Jembatan Busur Menerus Rangka Baja. Jembatan didesain dengan bentang pelengkung menerus rangka baja sepanjang 223.5m dengan lebar 9 meter dan tinggi 20.5 meter. Tugas akhir ini berpedoman pada beberapa standar peraturan yang ada. Untuk pembebanan jembatan beserta kombinasi pembebanan mengacu pada SNI 1725:2016, perencanaan struktur baja disesuaikan pada RSNI T-03-2005. Untuk desain pelat kendaraan menggunakan SNI 2847-2013, serta untuk perencanaan ketahanan gempa menggunakan SNI 2833:2008. Dengan menggunakan progam bantu SAP2000, kombinasi KUAT 1 (SNI-1725-2016) menghasilkan output gaya yang lebih besar daripada kombinasi lainnya sehingga kombinasi tersebut digunakan untuk menentukan profil rangka jembatan. Analisis perletakan menggunakan progam bantu SAP2000 dengan kombinasi beban yang menentukan dalam perencanaan POT Bearing adalah kombinasi EKSTREM I (SNI-1725-2016) dan KUAT 1 (SNI-1725-2016). Hasil dari analisa dengan progam bantu SAP2000 profil utama yang terbesar pada jembatan busur menggunakan BOX 650 x 650 x 36. Dalam merencanakan bangunan bawah jembatan, dilakukan analisis menggunakan program bantu spcolumn untuk mendapatkan jumlah tulangan longitudinal pada abutment dan pilar jembatan, serta untuk tiang pancang jembatan dilakukan kontrol berdasarkan daya dukung tanah dan tipe material yang digunakan. Dari perencanaan tersebut, didapatkan dimensi abutmen 11.1 x 2.1 x 7.3 meter dan pilar 11.4 x 2.1 x 1.4 meter serta kebutuhan tiang pancang untuk abutment sebanyak 21 buah dan pilar sebanyak 60 buah.
Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proyek Spazio Tower II Surabaya Mengunakan Metode Bowtie Winda Bintang Veroza; Cahyono Bintang Nurcahyo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.8 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25473

Abstract

Risiko didefinisikan sebagai suatu kemungkinan dari suatu kejadian yang akan mempengaruhi suatu tujuan. Proyek konstruksi Spazio Tower II merupakan bangunan tingkat tinggi yang memiliki potensi risiko dalam hal kecelakaan kerja. Penulisan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko dominan, dan mengetahui faktor penyebab dan dampak dari risiko dominan. Data eksisting yang diperoleh untuk mengetahui risiko kecelakaan kerja yang paling dominan dimulai dengan penilaian risiko yaitu perhitungan probability dan impact, menggunakan Risk Management Standard AS/NZ 4360:1999. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi sumber penyebab dan dampak terhadap risiko kecelakaan kerja menggunakan Metode Bowtie. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui risiko kecelakaan kerja yang paling dominan yaitu, alat berat tergelincir ke lubang galian pada pekerjaan galian tanah, pekerja jatuh dari ketinggian akibat saling gondola putus pada pekerjaan pengecatan di ketinggian, dan pekerja tertimpa konstruksi baja akibat sling Tower Crane(TC) putus pada pekerjaan struktur atap baja. Penyebab dari risiko kecelakaan kerja yang dominan berdasarkan Metode Bowtie adalah kondisi fisik operator kurang baik, metode penggalian, hujan/gerimis, keadaan mesin/alat berat kurang baik, keausan pada kawat sling gondola, cuaca ekstrem, kondisi kesehatan operator gondola, metode pengoperasian gondola, keausan dan korosi pada kawat sling TC, cuaca ekstrem, kondisi kesehatan operator TC, metode pengoperasian TC, dan berat beban konstruksi baja. Dampak dari risiko kecelakaan kerja yang dominan berdasarkan Metode Bowtie adalah operator mengalami luka memar akibat benturan saat tergelincir, pekerja mengalami kematian akibat jatuh dari ketinggian, gondola mengalami kerusakan akibat jatuh dari ketinggian, dan pekerja mengalami kematian akibat tertimpa konstruksi atap baja. Faktor eskalasi dari risiko kecelakaan kerja yang dominan adalah lupa/menolak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), tidak adanya penambahan Safety Rope, dan kurangnya komunikasi.
Analisis Risiko Rantai Pasok Dinding Beton Pracetak Pada Proyek Pembangunan Apartemen Puncak Dharmahusada Surabaya Marlinda Dewi Puspita; Cahyono Bintang Nurcahyo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.529 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25529

Abstract

Arus urbanisasi dan angka kelahiran yang terus meningkat di wilayah perkotaan seperti Surabaya, menyebabkan ketersediaan lahan untuk tempat tinggal semakin terbatas. Sehingga para investor berupaya untuk menciptakan hunian secara vertikal yang diperuntukkan bagi kalangan dengan ekonomi menengah ke atas. Salah satu komponen yang penting dalam pembangunan ini adalah dinding beton pracetak pada dinding luar. Komponen ini sering mengalami ketidakpastian khususnya pada rantai pasok yang dapat menyebabkan keterlambatan jadwal yang telah disepakati sehingga berimbas pada pembengkakan biaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko dari sisi rantai pasok dan memberikan upaya penanggulangan risiko yang terjadi di sisi rantai pasok pada pembangunan Apartemen Puncak Dharmahusada Surabaya. Penelitian ini dimulai dengan melakukan survei pendahuluan kepada pihak – pihak yang terkait, yaitu kontraktor dan pemasok dinding beton pracetak. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi risiko dalam lima aliran, yaitu aliran material atau fisik, aliran finansial, aliran informasi, aliran relasional, dan aliran inovasi. Survei pendahuluan menghasilkan variabel yang relevan, sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan survei utama untuk mendapatkan nilai persepsi probabilitas dan dampak dari variabel risiko. Dari hasil survei utama, data ini akan diolah dengan matriks probabilitas risiko serta dampak risiko, sehingga dapat diketahui variabel yang termasuk dalam kategori tinggi. Dari hasil analisis data, maka dapat diketahui bahwa dari persepsi kontraktor terhadap stabilitasrantai pasok dinding beton pracetak terdapat 5 variabel dengan risiko tinggi yang terdapat aliran material/fisik, aliran finansial Untuk persepsi pemasok dinding beton pracetak terdapat 4 variabel dengan risiko tinggi yang terdapat aliran material/fisik, aliran finansial, aliran informasi dan aliran relasional. Dari beberapa variabel yang berisiko tinggi, pihak-pihak yang terkait dalam aktivitas rantai pasok proyek memilih opsi respon risiko secara preventif dan kuratif.
Perbandingan Berat Material Baja pada Perencanaan Struktur Baja Sistem Rangka Pengaku Eksentris (SRPE) dengan Sistem Staggered Truss Frames (STF) pada Apartemen Purimas Surabaya Ilham Pratama Budiono; Endah Wahyuni; Isdarmanu Judowijono
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.586 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25535

Abstract

Pemilihan suatu sistem struktur baja penahan gempa tentunya memerhatikan bagaimana cara membuat struktur bangunan baja menjadi ringan dan kuat. Sistem rangka pengaku eksentris (SRPE) dan staggered truss frames (STF) merupakan beberapa contoh dari sistem penahan gempa pada struktur baja. Apartemen Purimas Surabaya merupakan bangunan 14 lantai yang dimodifikasi dengan menggunakan SRPE dan STF untuk dibandingkan berat material struktur utamanya pada kedua sistem tersebut. Dalam Studi ini, dilakukan perencanaan struktur baja dengan SRPE meliputi perencanaan struktur sekunder, primer dan pondasi yang mengacu pada PPIUG 1983, SNI 03-1729-2002, SNI 1729:2015, SNI 1726:2012, SNI 2847:2013 dan lain-lain. Berat material sturktur hasil dari perencanaan tersebut dibandingkan dengan hasil perencanaan STF pada studi “Studi Perilaku Staggered Truss Framing Systems pada Gedung Apartemen Purimas Surabaya”. Berdasarkan analisis dan hasil perhitungan diperoleh hasil, yaitu: pelat atap dan lantai HCS 15 cm, balok link WF400.200.8.13, bresing WF200.200.9.14, kolom CFT 400.400.14, balok induk WF300.200.7.10. Sambungan struktur utama direncanakan sebagai sambungan mutu tinggi dengan baut yang telah disesuaikan. Perencanaan pondasi menggunakan tiang pancang beton pracetak diameter 60 cm dengan kedalaman 30 m dengan 3 tipe pilecap. Berat material struktur utama pada SRPE sebesar 1105 ton, sedangkan pada STF didapatkan 763 ton.
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Ibis Styles Hotel Tanah Abang Jakarta Pusat Dengan Metode Beton Pracetak Kusuma Indra Klana; Mudji Irmawan; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.289 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25625

Abstract

Sistem pracetak adalah suatu proses produksi suatu elemen struktur bangunan yang dicetak di pabrikasi dimana tempat elemen struktur tersebut akan digunakan satu kesatuan dalam sebuah bangunan di tempat berbeda. Sistem ini memiliki keunggulan berupa mutu yang dapat dipantau, lebih presisi, serta pengerjaannya tidak terpengaruh cuaca karena dipabrikasi dalam pabrik. Tak hanya itu, bentuk struktur gedung yang tipikal juga menjadi keunggulan untuk penggunaan sistem pracetak ini. Agar dapat ditransportasikan, maka perlu diperhatikan kebutuhan tulangan saat pengangkatan. Dan juga agar elemen pracetak dapat terintegrasi dengan baik, maka sambungan haruslah dibuat semonolit mungkin. Sambungan yang tahan terhadap gempa (seismic resistant) dapat menggunakan sambungan basah pada balok dan kolom pracetak dapat menggantikan sambungan monolit biasa [6] sedangkan grouted steel sleeves cocok digunakan untuk sambungan kolom – kolom pada bangunan yang berada di zona gempa [7].cDari hasil analisa yang dilakukan, elemen-elemen pracetak sesuai ketentuan SNI 2847:2013[5]. Kolom digunakan dimensi 80 x 80 cm, balok induk 50/75 cm, dan tebal plat 12 cm dengan overtopping 5 cm. Dengan mempertimbangkan metode agar mudah dikerjakan maka digunakan sambungan dengan campuran antar sambungan mekanik dan basah. Pada sambungan mekanik menggunakan bantuan NMB Splice Sleeve dan BECO Beam shoe yang termasuk mechanical splices tipe 2 menurut peraturan ACI 318-11[1].
Modifikasi Perencanaan Gedung Apartemen Grand Dhika City Jatiwarna Bekasi – Tower Emerald Menggunakan Sistem Rangka Bresing Konsentris Khusus Arif Rijal; Heppy Kristijanto; Budi Suswanto
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.573 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25653

Abstract

Gedung Apartemen Grandhika City Jatiwarna Bekasi – Tower Emerald merupakan sebuah gedung apartemen yang terdiri dari 22 lantai yang didesain menggunakan struktur beton bertulang. Gedung ini terletak didaerah Jabodetabek dimana merupakan daerah yang rawan gempa. Dalam studi ini dilakukan perencanaan ulang dengan memodifikasi strukturnya menjadi struktur baja komposit dengan sistem rangka bresing konsentris khusus jenis inverted – V. Sistem rangka bresing konsentris khusus berfungsi sebagai penahan gaya lateral yang memiliki tingkat kekakuan yang cukup baik dibanding sistem Moment Resisting Frame (MRF) dan proses pelaksanaan dan perawatan yang mudah.Dalam penyelesaiannya, akan dilakukan analisis struktur utama yang terdiri dari balok, kolom, dan bresing yang akan dimodelkan dengan alat bantu ETABS. Telah dilakukan perhitungan modifikasi perencanaan struktur Gedung Apartemen Grand Dhika City Jatiwarna menggunakan Sistem Rangka Bresing Konsentris Khusus (SRBKK). Perhitungan struktur yang dilakukan mengacu pada SNI 1729-2015, SNI 1726-2012, SNI 1727-2013 dan PPIUG 1983. Dari analisis dan hasil perhitungan diperoleh hasil, yaitu: tebal pelat atap dan lantai 11 cm, dimensi balok induk ada 2 macam yaitu WF500.300.11.15 dan WF450.200.9.14, dimensi kolom lantai 1-7 CFT 600.600.32.32, dimensi kolom lantai 8-14 CFT 550.550.22.22, dimensi bresing menggunakan WF 600.300.12.20, dan base plate menggunakan fixed plate dari katalog Continental Steel. Sambungan struktur utama direncanakan sebagai sambungan kaku dengan baut fub 825 Mpa. Perencanaan pondasi menggunakan tiang pancang beton pracetak diameter 60 cm dengan kedalaman 22 m. Kolom pedestal direncanakan dengan ukuran 1200 mm x 1200 mm dengan tulangan utama 32D25 dan sloof ukuran 40 cm x 90 cm dengan tulangan utama 4D20 dan tulangan geser Ø10-150.
Perencanaan Ulang Jembatan Lemah Ireng II pada Jalan Tol Semarang-Bawen Menggunakan Jembatan Busur Rangka Baja Prasetyo Nur Hakikie; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.201 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25682

Abstract

Jembatan Lemah Ireng II terletak pada STA 21+912 ~ STA 22+410 jalan tol Semarang-Bawen. Jenis jembatan Multi Span Continuous I-Girder dengan panjang bentang 298,15 dan lebar 2x12 m. Pada struktur bawah jembatan terdapat enam pilar dan dua abutmen. Perencanaan ulang dilakukan dengan menggunakan jembatan busur rangka baja menerus dengan lebar 12 m dan tinggi busur 20 m. Desain jembatan busur menerus terbagi menjadi dua bagian yaitu, bentang tengah 100 m dan dua bentang tepi 50 m.Perencanaan bangunan atas jembatan Lemah Ireng II menghitung antara lain, struktur lantai kendaraan, struktur baja ikatan angin, struktur baja rangka utama, struktur sambungan, dan desain perletakan. Dalam perencanaan ini harus memenuhi peraturan terbaru, antara lain SNI 1725:2016, RRSNI T-03-2005, SNI 2833:2008, SNI 2847:2013 serta peraturan lain yang berkaitan dengan perencanaan jembatan baja. Perencanaan rangka utama menggunakan kombinasi KUAT 1 (SNI 1725:2016), sedangkan perencanaan ikatan angin menggunakan kombinasi KUAT 3 (SNI 1725:2016). Perencanaan bangunan bawahpada tugas akhir ini menghitung struktur abutment, struktur pilar, dan pondasi bored pile. Abutment dan pilar menggunakan struktur beton bertulang sesuai dengan SNI 2847:2013. Hasil dari analisa struktur diperoleh: tebal pelat lantai kendaraan 20 cm, dimensi ikatan angin terbesar CHS 267,4x7, dimensi struktur rangka utama terbesar BOX 600x600x25, dimensi struktur rangka diagonal terbesar BOX 400x400x25, dimensi portal akhir BOX 600x600x25, diameter kabel penggantung 45 mm, perletakan menggunaan tipe POT bearing. Pondasi yang digunakan berupa pondasi bored pile dengan jumlah tiang pada abutment sebanyak 21 buah dan jumlah tiang pada pilar sebanyak 60 buah.
Pemetaan Zona Korosivitas Tanah Berdasarkan Nilai Chargeability Menggunakan Metode Time Domain Induced Polarization Konfigurasi Dipole-Dipole Studi Kasus PT. IPMOMI Kiki Kartika Dewi; Widya Utama; Juan Pandu Gya Nur Rochman
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.66 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25778

Abstract

Pipa bawah tanah menjadi elemen yang sangat penting dalam dunia industri salah satunya untuk mengalirkan fluida. Masalah serius yang sering dihadapi adalah kontak antara pipa dengan tanah dan lingkungan yang dapat menimbulkan korosi. Maka dari itu, dibutuhkan penanganan khusus agar tidak terjadi kerusakan dan ketidakstabilan tanah. Salah satu upaya awal untuk menangani hal tersebut adalah dengan melakukan pemetaan zona korosi bawah permukaan yang pada penelitian Tugas Akhir kali ini dilakukan dengan metode Time Domain Induced Polarization dengan konfigurasi dipole-dipole sebanyak 5 lintasan.  Respon chargeability terhadap korosivitas tanah pada lokasi penelitian secara rata-rata menunjukkan hubungan yang berbanding lurus, semakin tinggi nilai chargeability maka semakin tinggi tingkat korosivitas tanah. Zona korosivitas tanah  sangat ringan hingga sedang menyebar pada kedalaman 0-4.72 meter sedangkan zona korosivitas tanah tinggi hingga sangat tinggi berada pada kedalaman 2.72-4.72 meter.
Alternatif Perkuatan Timbunan Existing Railway Track Sta 141+100 - 141+600 "Bojonegoro - Surabaya Pasar Turi" Yudha Pratama Narra Putra; Yudhi Lastiasih; Putu Tantri Kumala Sari
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.292 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25873

Abstract

Padatnya lalu lintas kereta api di utara pulau jawa menyebabkan Pemerintah memrintahkan PT. KAI untuk membangun jalur rel ganda. Setelah beberapa hari pemasangan perkuatan di samping timbunan rel baru, terjadi tanda-tanda pergerakan tanah pada timbunan rel lama berupa tiang yang miring dan kelongsoran. Melihat kondisi lapangan maka PT. KAI juga meminta adanya uji stabilitas lereng pada timbunan rel lama. Dari hasil analisis tersebut diketahui bahwa SF di beberapa lokasi kurang dari 1, dimana kondisi ini menyebabkan terjadinya kelongsoran. Oleh karena itu, untuk mencegah kelongsoran dan mencegah kerusakan rel maka perlu direncanakan perkuatan timbunan rel lama tanpa membongkar rel yang sudah ada. Alternatif perkuatan yang direncanakan tidak boleh membongkar rel lama. Maka ditawarkan 4 alternatif yang pertama menggunakan perkuatan dengan cerucuk (micropile), timbunan tambahan (counterweight), dan turap beton (free standing dan berjangkar) di sisi timbunan rel lama. Pada tahap akhir dilakukan analisis perbandingan biaya material antara 4 alternatif untuk system perkuatan timbunan. Dari hasil analisis keempat perkuatan, diketahui alternatif pertama yaitu menggunakan cerucuk Prestressed Concrete Spun Pile diameter 300 mm dari PT Wijaya Karya Beton. Untuk zona 1 kedalaman cerucuk 10 m dengan jarak 1 m dan berjumlah 603 buah. Untuk zona 2 dan zona 3 kedalaman cerucuk 10 m, jarak 1 m dan jumlah 300 buah. Alternatif kedua menggunakan counterweight sebanyak 4256 m3 pada zona 1, 2430 m3 pada zona 2 dan 2162 m3 pada zona 3. Alternatif perkuatan ketiga menggunakan turap beton freestanding Corrugated Type W600 A1000 sedalam 21m untuk ketiga zona. Alternatif keempat turap berjangkar dengan teknik grouting menggunakan turap beton Corrugated Type W400 A1000 sedalam 10 m, diameter baja angker berukuran 6 cm panjang 7.5 m, dan beton grouting fc’ 50 Mpa diameter 0.3 m tinggi 1 m di ketiga zona. Dilihat dari biaya material yang ekonomis maka dipilih perkuatan cerucuk (micro pile) dengan total biaya material yang dibutuhkan pada zona 1 adalah Rp 223.688.434, untuk zona 2 adalah Rp 111.287.778, dan untuk zona 3 Rp 111.287.778. Jumlah semua biaya material cerucuk adalah Rp 446.263.990.