cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Reduksi Waste pada Proses Produksi Kacang Garing Medium Grade dengan Pendekatan Lean Six Sigma Ikha Sriutami; Moses Laksono Singgih
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.916 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26882

Abstract

Kacang Garing merupakan produk pertama dan menjadi salah satu produk unggulan dari sebuah Perusahaan Kacang (PK). Kacang garing memiliki tiga jenis varian produk, yaitu Kacang Garing, Garlic, dan Sangrai. Masing-masing varian tersebut terbagi menjadi dua tingkatan kualitas, yaitu kualitas first grade dan kualitas medium grade. Dalam proses produksi Kacang Garing medium grade, masih sering ditemukan beberapa produk yang defect. Terdapat lima jenis defect, yaitu berat gramatur yang tidak sesuai, kemasan terlipat, end seal bermasalah, long seal bermasalah, dan kemasan bocor. Adanya defect mengindikasikan adanya waste dalam proses produksi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan pendekatan Lean Six Sigma. Value Stream Mapping digunakan untuk menggambarkan aliran fisik dan informasi yang terjadi pada proses produksi. Berdasarkan identfikasi waste yang telah dilakukan, didapatkan waste kritis adalah waste defect. Hasil dari kapabilitas proses menunjukkan nilai level sigma untuk defect gramatur tidak sesuai, kemasan terlipat, dan end seal bermasalah masih sangat rendah, yaitu 2,69; 2,21; dan 2,24. Sedangkan nilai level sigma untuk defect long seal bermasalah dan kemasan bocor adalah 3,02 dan 3,45. Kemudian dilakukan analisis akar penyebab waste untuk kelima defect tersebut dengan menggunakan 5 whys. Dari semua akar penyebab waste, dipilih akar penyebab yang paling kritis dengan menggunakan matriks penilaian risiko. Rekomendasi perbaikan diberikan untuk mengurangi terjadinya akar permasalahan tersebut. Apabila rekomendasi tersebut diterapkan maka akan terjadi peningkatan level sigma.
Reduksi Cacat pada Produk Kaca Lembaran Dengan Metode Six Sigma Milatul Afiah; Moses Laksono Singgih
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.107 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26885

Abstract

Perusahaan Flat Glass (PFG) merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi kaca lembaran dengan proses pengambangan (floating process). Perusahaan ini memiliki tiga jenis produk kaca lembaran (indo clear, panasap dan stopsol). Perusahaan Flat Glass (PFG) berupaya untuk menghasilkan produk bermutu tinggi. Dalam memenuhi permintaan, perusahaan ini memproduksi kaca lembaran di line produksi A1 dan line produksi A2. Namun, proses produksi tersebut masih menghasilkan produk defect yang tinggi. Perusahaan ini telah menetapkan Key Performance Indicator (KPI) mengenai tingkat kecacatan yaitu maksimal sebesar 4.48% dari jumlah produksi perusahaan. Akan tetapi, tingkat kecacatan masih melebihi target tersebut khususnya di line produksi A1. Jenis kaca Light Green Flat Glass (LNFL) merupakan produk yang dihasilkan dari line produksi A1 dengan tingkat kecacatan melebihi batas KPI. Setelah dilakukan perhitungan sigma level, didapatkan nilai hanya sebesar 3.63 sigma. Dari analisis pareto chart didapatkan tiga jenis defect kritis yaitu cullet defect, chipping defect dan bubble defect. Masing-masing jenis defect kritis tersebut dicari akar permasalahannya menggunakan Root Cause Analysis (RCA) dan dicari akar permasalahan kritis menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Kemudian, dilakukan usulan-usulan perbaikan terhadap akar permasalahan kritis. Lalu, dilakukan penentuan target perbaikan serta membandingkan sigma level antara kondisi eksisting dan target perbaikan.
Reduksi Produk Cacat pada Produksi Benang dengan Pendekatan Metode Lean Six Sigma Amelia Munawaroh; Moses Laksono Singgih
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.767 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26967

Abstract

Perusahaan amatan adalah perusahaan yang memproduksi benang dan kain berlokasi di Pandaan. Penelitian pada Tugas Akhir ini hanya difokuskan pada Departemen Spinning pembuatan benang. Terdapat permasalahan yang terjadi pada departemen tersebut, yaitu adanya pemborosan (waste) dilantai produksi dan adanya complain dari internal customer yaitu Departemen Weaving. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai sigma dari kondisi eksisting dan mengurangi jumlah defect yang berada di lantai produksi. Langkah yang dilakukan dalam penelitian ini disesuaikan dengan framework DMAIC. Fase Define dimulai dari identifikasi kondisi eksisting melalui penggambaran Value Stream Mapping (VSM), activity Classification Diagram, dan penyebaran kuisioner menggunakan AHP untuk identifikasi waste kritis, serta identifikasi dari macam-macam Critical To Quality (CTQ). Pemborosan yang paling sering terjadi pada lantai produksi adalah adanya defect. Fase Measure yaitu dimulai dengan penghitungan nilai sigma dan pemilihan defect yang kritis menggunakan pareto diagram. Dari hasil penelitian rata-rata nilai sigma pada proses produksi benang yaitu sebesar 3,5 sigma. Fase Analyze yaitu dengan dilakukan analisis akar permasalahan adanya defect dengan menggunakan tools Root Cause Analysis (RCA). Setelah itu, dirancang kuesioner Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) yang diisi oleh salah satu orang ahli di perusahaan untuk menilai tingkat severity, occurrence, dan detection dari masing-masing akar permasalahan hingga didapatkan nilai Risk Priority Number (RPN). Dari hasil penelitian didapatkan tiga akar permasalahan yang memiliki nilai RPN tertinggi yaitu proses perawatan dan pengecekan komponen mesin produksi benang kurang baik, operator kurang memperhatikan standardisasi dalam peraturan (setting) mesin, dan komponen mesin pada proses produksi mengalami aus. Pada fase Improve dibangun rekomendasi perbaikan sesuai dengan akar permasalahan tersebut. Rekomendasi perbaikan yang diusulkan adalah adanya pembuatan SOP yang baik dan benar serta ditempel pada setiap mesin produksi, pembuatan form pengontrolan kondisi mesin, dan adanya pengadaan pengawas lapangan serta pemberia training secara rutin kepada operator dengan interval 3 bulan sekali. Dengan adanya improvement tersebut, defect dapat direduksi sebesar 45,72% dan nilai sigma meningkat menjadi 3,77 sigma.
Analisa Pengaruh Perubahan Rapat Arus Terhadap Pembentukan Passive Layer Al2O3 pada Proses Hard Anodizing Material QQA-250/4, AMS 4037 Muhammad Alief Rizal Romadhoni; Agussalim Agussalim; Doty Dewi Risanti
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.804 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.27075

Abstract

Hard anodizing merupakan salah satu perlakuan permukaan yang diberikan pada logam aluminium dengan memanfaatkan prinsip elektrolisis untuk membentuk lapisan pasif di atas permukaan logam dasar. Pada penelitian ini digunakan paduan aluminium 2024 T3, dimana material ini memiliki sifat mekanik material yang lebih kuat jika dibandingkan dengan aluminium murni, namun memiliki ketahanan korosi yang buruk diakibatkan kandungan unsur tembaga (Cu) pada campuran ini. Salah satu variabel yang mempengaruhi proses ini adalah rapat arus yang digunakan. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan 3 rapat arus, yaitu 2 A/dm2, 4 A/dm2, dan 6 A/dm2. Dari hasil penelitian yang didapatkan, nilai ketebalan, kekerasan, coating weight, dan ketahanan abrasi memiliki kecenderungan semakin tinggi pada setiap kenaikan rapat arus. Untuk sifat elektrokimia nilai Vcorr pada rapat arus 6 A/dm2 yang memiliki kecenderungan tahan terhadap terjadinya korosi yaitu sebesar -0,537 V dikarenakan kualitas oksida yang terbentuk memiliki porositas yang paling rendah. Kemudian untuk nilai Icorr didapatkan nilai paling kecil adalah pada rapat arus 4 A/dm2 dengan 7,82 x 10-9 A/cm2, hal tersebut mempengaruhi nilai laju korosi pada rapat arus ini menjadi yang paling rendah juga dengan nilai laju korosi sebesar 1,42 x 10-10 mm/yr. Berdasarkan penelitian ini, rapat arus 4 A/dm2 merupakan rapat arus yang paling optimum.
Studi Eksperimen Pengaruh Variasi Kecepatan Putar terhadap Temperatur dan Tensile Strength pada Friction Welding dengan Material High Density Polyethylene Miftahul Ahzabuddin; Yusuf Kaelani
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.534 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.27192

Abstract

Pengelasan gesek atau disebut dengan friction welding adalah sebuah proses pengelasan solid-state dimana penyambungan terjadi oleh panas akibat perputaran permukaan bahan yang akan dilas terhadap permukaan lainnya di bawah pengaruh tekanan aksial (tekanan gesek dan tekanan tempa). Proses pengelasan ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan putar, durasi gesekan, tekanan aksial, sifat material dan kondisi permukaan benda kerja. Penelitian ini memvariasikan kecepatan putar sebesar 300 rpm, 520 rpm dan 750 rpm dalam durasi gesekan 15 detik dengan diberikan tekanan gesek sebesar 37,51 kgf/cm2 sampai mencapai temperatur tertentu, kemudian diberikan tekanan tempa sebesar 75,02 kgf/cm2. Material yang digunakan yaitu High density Polyethylene-300 (HDPE) Pengujian mekanik yang dilakukan adalah uji tarik dengan membandingkan HDPE yang disambung menggunakan lem perekat. Hasil penelitian ini kekuatan tarik terbaik didapatkan pada kecepatan 520 rpm sebesar 35,21 MPa dengan temperatur interface sebesar 70 °C. Hasil ini lebih baik dibandingkan dengan penyambungan lem. Temperatur pada jarak 7 mm merupakan daerah transisi antara terpengaruhi panas dengan temperatur lingkungan yang berpengaruh pada upset tertinggi sebesar 6 mm.
Studi Eksperimental Kedalaman Aus dan Koefisien Gesek Akibat Stick-Slip pada Reciprocating Wear Rahmat Raja Barita Siregar; Yusuf Kaelani
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.011 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.27208

Abstract

Dalam dunia industri sering ditemukan suku cadang yang mengalami gaya gesek statis dan kinetis. Perubahan gaya gesek dari statis ke kinetis disebut stick-slip friction. Pada daerah terjadinya stick-slip friction, dampak gaya gesek yang terjadi mempunyai nilai yang paling besar, sehingga fenomena stick-slip friction ini cukup berpengaruh terhadap umur pakai dari suatu material. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan variasi pembebanan terhadap keausan material dan nilai koefisien gesek saat terjadi fenomena stick-slip friction dengan menggunakan material pin baja ST-41 yang secara umum lebih mudah ditemukan di pasaran agar dapat bermanfaat secara lebih luas. Metode yang dilakukan adalah pengujian eksperimantal menggunakan tribometer tipe pin-on plate. Dari hasil penelitian ini didapatkan semakin besar pembebanan maka semakin besar keausan yang ditimbulkan oleh gesekan stick-slip. Selisih kedalaman titik gesekan stick-slip dan titik gesekan sliding pada pembebanan 20 N sebesar 39,5 μm  lebih kecil daripada pembebanan 30 N sebesar 40,5 μm, 30 N lebih kecil daripada 40 N sebesar 73 μm. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar pembebanan maka semakin besar keausan yang ditimbulkan oleh gesekan stick-slip. Nilai koefisien gesek pada area stick-slip dengan pembebanan 20 N sebesar 3.064677686, 30 N sebesar 2.624380797 dan 40 N sebesar 1.552499331 cenderung menurun seiring dengan meningkatnya besar pembebanan.
Simulasi dan Analisis Electrodynamic Shaker untuk Pengujian Dinamis A-Arm pada Sapuangin Speed Devi Maharani Kosa; Harus Laksana Guntur
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.448 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.27412

Abstract

A-arm merupakan salah satu komponen suspensi yang berperan penting saat mobil balap melaju. Pada kompetisi mobil balap Student Formula Japan, a-arm dari mobil Sapuangin Speed perlu dilakukan modal testing sebagai bagian dari ketentuan awal lomba. Pemilihan shaker yang spesifik sangat krusial untuk mendapatkan data modal testing dengan akurasi tinggi. Electrodynamic shaker (ES) merupakan salah satu sistem yang dirancang untuk mengetahui karakteristik dinamis suatu elemen setelah dikenai beban. ES dapat menganalisis karakteristik dinamis dari sebuah a-arm sebelum kompetisi dimulai, sehingga kegagalan pada a-arm, seperti terjadinya bending yang berlebihan atau patah, dapat dihindari. Oleh karena itu, untuk memperoleh desain ES yang sesuai untuk pengujian a-arm dari Sapuangin Speed, perlu dilakukan simulasi dan analisis terhadap ES. ES dirancang berdasarkan acuan shaker yang sudah ada di pasaran dan memiliki sistem translasi sederhana. Pada rancangan ini, parameter dinamis dari shaker dicari dan disesuaikan dengan karakteristik dari a-arm. Simulasi, dengan bantuan perangkat lunak Simulink MATLAB R2013, dilakukan dengan input sinusoidal untuk mendapatkan parameter redaman dari shaker. Input arus yang digunakan adalah sebesar 12.5 A dengan frekuensi listrik 50 Hz. Untuk mengetahui respon sistem saat terkena perubahan input arus dilakukan variasi nilai yang berbeda yaitu sebesar 12.5 A, 10.5 A, dan 14.5 A. Selain itu, dua material objek uji dipilih (steel dan carbon fiber) untuk mengetahui respon sistem terhadap  material komponen uji yang berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan besar arus berbanding lurus dengan besarnya nilai respon perpindahan, kecepatan, dan percepatan ES dan a-arm. Sedangkan perbedaan respon dinamis perpindahan pada carbon fiber lebih kecil daripada steel karena carbon fiber memiliki kekakuan yang lebih tinggi. Selain itu, dari simulasi didapatkan parameter redaman shaker yang ideal sebesar 5000 Ns/m.
Redesain overhead crane dengan analisa kegagalan di PLTU PAITON berbasis metode elemen hingga Alfian Aziz Sahadewa; Alief Wikarta
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.964 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.27654

Abstract

Crane adalah alat bantu yang digunakan untuk mempermudah dalam memindahkan suatu obyek atau barang dengan ukuran yang relatif besar dan berat dari satu posisi ke posisi lainnya. Pada PLTU PAITON crane digunakan untuk proses maintenace mesin grinding mill. Hoist Grider Crane Mill terkendala ruang gerak yang terbatas. Terbatasnya ruang gerak menyebabkan tidak sejajarnya sumbu antara kawat penarik dengan sepesial tool yang menyebabkan beban pengangkatan menjadi 2x dari beban awal. Akibat tidak sejajarnya kawat overhead crane mengakibatkan terjadinya patahan pada housing motor crane yang bertugas untuk menggerakan grider kearah vertical. Oleh karena itu perlu adanya modifikasi overhead girder dengan menggunakan perangkat lunak SolidWorks. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisa pada girder origin dimana hasil dari sumulasi digunakan sebagai acuan pada modifikasi 1 dan 2. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu berdasarkan hasil pengujian, tegangan (stress), displacement, dan angka keamanan. Modifikasi 1 memiliki hasil simulasi yang hampir sama dengan hasil dari simulasi awal dengan nilai stress sebesar 36,19 mpa, Displacement sebear 0,98 mm, dan angka keamanan sebesar 5,7. Pada modifikasi 2 perbedaan hasil simulasi yang paling besar terletak pada simulasi tegangan (stress) sebesar 158,3 mpa. sedangkan hasil simulasi defleksi dan angka keamanan tidak berbeda jauh dengan simulai awal dimana defleksi sebesar 0,93 dan angka keamanan sebesar 3,1.
Simulasi Proses Pemotongan Bubut Baja Karbon Rendah Aisi 1018 dengan Mesin Bubut Menggunakan Metode Elemen Hingga Mustafid Amna Rambey; Mas Irfan Hidayat; Wikan Jatimurti
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.28441

Abstract

Tegangan dan gaya pada permukaan material dan perkakas potong dihasilkan oleh sudut dan kedalaman potong yang berbeda. Secara khusus dua analisis berbeda dilakukan untuk membandingkan pengukuran gaya potong dan tegangan geser yaitu dengan kedalaman, sudut potong, dan tipe pemotongan tertentu. Proses simulasi permesinan dilakukan dengan menggunakan alat potong single point High Speed Steel (HSS). Selama proses machining deformasi sangat terkonsentrasi di zona yang sangat kecil dan tegangan yang dihasilkan di zona deformasi mempengaruhi benda kerja dan alat. Telah cukup banyak penelitian yang ditujukan untuk mengembangkan model analitis dan model numerik untuk mensimulasikan proses pemotongan logam untuk memprediksi efek dari variabel machining seperti kecepatan, feed, kedalaman pemotongan dan juga geometri alat dalam deformasi. Analisa dilakukan pada material benda kerja AISI 1018 mild steel dengan menggunakan perkakas potong AISI T15 High Speed Steel. Variabel yang digunakan pada penelitian ini antara lain adalah sudut serpih (rake angle) -15o, 0o, dan 15o, kemudian kedalaman potong yaitu 1 mm dan 1.5 mm, dan yang terakhir adalah membandingkan dua tipe pemotongan yaitu orthogonal (tegak lurus) dan oblique (miring). Pada penelitian ini telah diteliti bagaimana gaya potong dan tegangan geser pada perkakas potong dan material uji pada saat proses pemotongan dan menggunakan metode smooth particle hydrodinamics. Dari hasil simulasi menunjukkan penurunan gaya potong terjadi ketika sudut serpih perkakas mengalami penurunan dari 15o ke -15o, Nilai tegangan maksimum diamati memiliki nilai tertinggi pada sudut 15o dengan kedalaman potong 1.5 mm. Proses simulasi juga telah dilakukan untuk mengamati pengaruh dari kedalaman potong dan tipe pemotongan.
Simulasi Springback pada Laser Beam Bending dan Rotary Draw Bending untuk Pipa AISI 304L Adnan Syadidan; Mas Irfan P. Hidayat; Wikan Jatimurti
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.908 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.28047

Abstract

Proses bending tube pada dewasa ini telah mengalami banyak perkembangan. Dua metode diantaranya adalah rotary draw bending yang bersifat konvensional serta laser beam bending yang lebih modern. Selain itu, untuk mengoptimalkan proses tube bending diperlukan pengertian lebih mendalam terhadap fenomena springback, agar hasil yang didapatkan lebih presisi. Pada penelitian ini dilakukan analisis springback menggunakan Finite Element Method dengan bantuan software ANSYS 17.1. Simulasi dilakukan untuk mendapatkan hasil springback dari kedua metode yang nantinya akan dibandingkan. Penelitian pertama dilakukan dengan mensimulasikan proses laser beam bending hingga mencapai batas maksimum sudut bending yang dapat diterima. Selain itu, simulasi juga dilakukan pada metode rotary draw bending dengan parameter diameter dan ketebalan tube yang sama seperti sebelumnya namun, dengan sudut bending yang berbeda yaitu sebesar 60, 120, dan 180 yang akan digunakan sebagai data pendukung nilai springback. Dari simulasi didapatkan bahwa semakin tinggi laser power dan pass number pada laser beam bending, maka akan semakin tinggi springback yang dihasilkan namun, masih sangat kecil bila dibangdingkan dengan rotary draw bending.