cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2021)" : 30 Documents clear
Konsep Arsitektur sebagai Katalis dalam Mengatasi Degradasi Budaya: Sasana Budaya Ndalung Wardatut Toyyibah; Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69022

Abstract

Konsep arsitektur sebagai katalis kebudayaan merupakan sebuah manifestasi dari bagaimana arsitektur dapat mempercepat kesadaran berbudaya masyarakat, dimana dalam perancangan ini mengambil konteks budaya Pandalungan di Jember. Adanya fenomena degradasi nilai budaya, ketidaksadaran masyarakat akan fenomena Pandalungan, serta urgensi identitas yang perlu ditanamkan. Arsitektur sebagai katalis kebudayaan dihadirkan untuk menjadi stimulus percepatan kesadaran berbudaya melalui user movement yang terbentuk. Perancangan ini bermaksud untuk menghadirkan fasilitas publik berupa Sasana Budaya Ndalung sebagai katalis kebudayaan melalui ruang edukasi yang bersifat naratif. Efek katalis diwujudkan dengan membentuk persepsi visual user melalui pengalaman spasial tertentu. Pendekatan fenomenologi dengan metodologi arsitektur naratif digunakan untuk merespon permasalahan desainnya. Untuk mewujudkan konsep naratif, perancangan ini mencoba menghadirkan narasi Pandalungan dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan secara flashback. Sebagai tambahan, efek katalis kebudayaan juga ditinjau dari karakteristik Pandalungan, aspek lokalitas, serta perhatian terhadap konsep user movement, sebagai manifest function sebuah ruang kultural.
Eksplorasi Ruang Terapetik : Respon Kuratif terhadap Gangguan Mental pada Anak Ferdy Yohanes Panjaitan; Iwan Adi Indrawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69282

Abstract

Dalam mencapai kesembuhan diperlukan adanya input-input positif tertentu yang diterima oleh seseorang yang sedang mengalami penyakit terkait. Input positif yang paling lazim diterapkan adalah berupa perbuatan medis yang berkaitan secara eksplisit dengan seseorang dengan penyakit tersebut. Pemanfaatan input positif demi kesembuhan melalui translasi dan modifikasi elemen arsitektural yang digunakan secara konvensional nyatanya belum memanfaatkan potensi yang ada secara maksmial. Ruang Terapetik sebagai salahsatu wadah untuk mentranslasikan arsitektur kedalam persepsi para penggunanya dalam bentuk efek menyembuhkan. Oleh karena itu eksplorasi dari modifikasi elemen arsitektural untuk membentuk ruang terapetik ini perlu dilakukan. Untuk menemukan modifikasi elemen arsitektural yang tepat digunakan metode Studi Preseden pada rancangan-rancangan yang relevan untuk menemukan rangkaian inovasi berupa metode penghadiran elemen alami sebagai distraksi positif kepada para pasien sehingga suatu ruang dapat bersifat menyembuhkan. Kemudian digunakan Kerangka berfikir berbasis force untuk menentukan bagaimana bangunan bisa dikategorikan sensitif terhadap penyakit tertentu, dimana penyakit yang dimaksud adalah kelainan mental berupa trauma. Dengan menggunakan gejala trauma sebagai dasar dalam mengambil keputusan rancang didapatkanlah modifikasi substansi arsitektur yang tepat. Dengan konsep mengenai penghadiran distraksi melalui studi preseden serta respon gejala trauma yang telah dilakukan, didapat sebuah kriteria-kriteria mengenai modifikasi elemen- elemen arsitektural yang dapat diterapkan sehingga rancangan nanti dapat bersifat menyembuhkan. Penghadiran substansi massa yang bersifat dinamis dan jauh dari kesan mencekam, serta substansi material yang memiliki keterkaitan yang tinggi dengan elemen alami.
Pendekatan Healing Environment pada Fasilitas Pemulihan Anak Korban Kekerasan Felia Hutari Dwi Putri; Rabbani Kharismawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69219

Abstract

Meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia perlu penanganan lebih untuk anak korban kekerasan. Pendekatan desain yang digunakan yaitu healing environment dengan tujuan untuk membantu dalam pemulihan anak korban kekerasan yang mengalami gangguan kesehatan mental dan diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kekerasan pada anak. Metode yang dilakukan dengan menganalisis kawasan yang telah dipilih untuk mengetahui yang dapat mempengaruhi healing environment, mengetahui elemen-elemen yang perlu diterapkan dalam healing environment seperti pencahayaan, warna, pemandangan, suara, aroma, seni tekstur, dan keamanan, dan juga mempelajari studi preseden dengan bangunan fasilitas kesehatan mental untuk anak untuk diterapkan dalam objek yang akan dirancang. Sehingga dapat menhasilkan suatu objek arsitektur dengan pendekatan healing environment. Dalam objek arsitektur ini taman memiliki perang yang sangat penting untuk pengguna, terutama pasien.
Ruang Publik Sebagai Optimalisasi Pengembangan Diri Remaja dengan Pendekatan Psikologi Arsitektur: Surabaya Youthcenter Inayatur Arifiyani; Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69399

Abstract

Masa remaja adalah masa peralihan atau transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Tahap remaja merupakan tahap produktif dalam melakukan aktivitas pengembangan diri dan mencari jati diri remaja. Semangat dan kegigihan remaja kota Surabaya dapat dibuktikan dengan tingginya intensitas remaja Surabaya dalam berlatih pada fasilitas umum Kota Surabaya. Namun fasilitas yang disediakan pemerintah Surabaya belum semuanya optimal dalam pemenuhan kebutuhan untuk pengembangan minat bakat remaja. Beberapa faktor yang belum terpenuhi yaitu kebutuhan dari segi kenyamanan dan standar aktivitas pengembangan diri remaja. Perlunya wadah yang optimal bagi remaja dalam aktivitas pengembangan potensi diri yang sesuai dengan minat bakatnya, sebaiknya menjadi prioritas utama pemerintah kota Surabaya. Pengaturan ruang dan desain untuk aktivitas pengembangan diri remaja yang optimal dan berlandaskan pendekatan segi psikologi arsitektur dengan tujuan terciptanya suasana yang memicu semangat dalam memperoleh prestasi di bidang non akademik. Objek rancangan akan berupa ruang publik yang difungsikan sebagai wadah aktivitas remaja untuk memicu dan mengembangkan potensi diri pada minat bakat melalui ruang yang fleksibel dan adaptif.
Penerapan Threshold Theory dalam Perancangan Ruang Antara Hunian Masyarakat dan Pusat Perbelanjaan Mutia Sulistiastuti; Johanes Krisdianto
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69432

Abstract

Salah satu cara untuk mengembalikan keterikatan antara bangunan dengan konteksnya adalah dengan memunculkan sebuah ruang antara yang dapat menjadi penampung aktivitas baru sekaligus menjadi penggabung beberapa kebutuhan yang ada. Threshold space di sini akan menjadi sebuah respon yang dapat mengolah ruang antara kedua bangunan yang terlepas dari konteksnya, dalam kasus ini adalah bangunan tiplogi perumahan dan pusat perbelanjaan. Perbedaan Threshold space berbeda dengan ruang antara lainnya adalah memiliki kriteria spesifik yang disebutkan di dalam buku Till Boettger yang berjudul Threshold Space, diantaranya counterbalancing pair of opposites, phases and organization, dan essence and potential. Dari ketiga kriteria yang didapatkan dari pendekatan threshold tersebut akan dieksplorasi kembali elemen arsitektural apa saja yang akan dipengaruhi kriteria-kriteria tersebut. Lalu diaplikasikan ke dalam ruang antara yang sudah terpilih.
Penerapan Sosio-Ekonomi dalam Eksplorasi Perancangan Hunian Industri Tahu Recha Fryza Nur Anjani; Fardilla Rizqiyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69468

Abstract

Hunian yang awalnya sebagai tempat beristirahat kini berkembang untuk mewadahi aktivitas ekonomi sebagai bentuk dari usaha masyarakat dalam menunjang kesejahteraan ekonominya. Penambahan fungsi pada hunian yang juga digunakan sebagai tempat bekerja mengakibatkan perubahan ruang pada hunian tersebut. Kampung Tahu merupakan salah satu kampung di Kota Kediri yang penduduknya memiliki usaha tahu rumahan secara turun temurun. Penataan ruang pada sebuah hunian yang didalamnya terdapat fungsi sebagai industri tahu menjadi hal yang penting untuk keberlanjutan dari industri itu sendiri. Teori dasar sosio-ekonomi digunakan sebagai pendekatan dalam eksplorasi perancangan ini untuk membantu mengetahui aktivitas sosial dan aktivitas ekonomi yang terjadi pada Kampung Tahu. Tulisan ini diharapkan mampu memberikan gambaran alternatif eksplorasi pada tatanan ruang suatu hunian yang berimbang dengan industri tahu.
Pondok Pesantren dengan Konsep Home sebagai Respon dari Perilaku Remaja Hanifatul Maghfiroh; Sarah Cahyadini
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69504

Abstract

Setiap Kota memiliki tagline mereka masing–masing. Salah satunya adalah Kabupaten Jombang yang memiliki tagline “Kota Santri”. Sebagai Kabupaten yang memiliki tagline tersebut, keberadaan pondok pesantren di Jombang patut untuk disoroti. Pondok pesantren idealnya bertujuan untuk memperdalam ilmu agama dan juga menciptakan generasi berakhlak baik. Namun, kondisi ini bertolak belakang dengan fenomena yang ada. Terdapat permasalahan–permasalahan yang dihadapai santri selama tinggal di pesantren yang mendorongnya untuk melakukan perilaku buruk di tengah usia mereka. Alasan mengapa para santri melakukan pelanggaran dan perilaku buruk tersebut didominasi karena faktor kenyamanan dan dapat digolongkan pada aspek sosial, personal serta lingkungan fisik berdasarkan penyebabnya. Alasan lain adalah tidak adanya wadah bagi mereka untuk mengaktualisasi diri masing–masing. Teori konsep home dan pendekatan arsitektur perilaku digunakan sebagai indikator pemenuhan kebutuhan terkait personal, sosial, maupun kebutuhan secara fisik yang terkait dengan fungsi bangunan. Metode perancangan menggunakan tahapan pada force based framework dengan melihat konteks wilayah yang dihubungkan dengan konsep home serta pemberian aspek lokalitas dan Islami untuk menghasilkan kriteria desain yang sesuai. Kriteria tersebut bertujuan untuk menciptakan lingkungan pesantren yang memberikan kenyamanan fisik maupun psikologis dan dapat mendorong para santri yang berada di fase remaja untuk mengaktualisasikan diri mereka dengan baik serta meminimalisir perilaku buruk di lingkungan pesantren. Penataan lahan secara keseluruhan menggunakan hierarki rumah Jawa karena rumah Jawa memiliki pembagian ruang – ruang privat dan publik yang jelas. Selain itu tampilan massa juga menggunakan hierarki atap rumah Jawa untuk memberikan kesan familiar pada santri. Selain diterapkan pada lahan, aspek–aspek pada konsep home yang terdiri dari haven, order, identity, connectedness, warmth dan physical suitability juga diterapkan pada beberapa bagian dari massa bangunan untuk memberikan kualitas suasana yang nyaman layaknya “rumah” di lingkungan pesantren.
Eksplorasi Bentuk Bangunan Local Women’s Opportunity Center dengan Konsep Gender Sensitive Raras Sela; Fardilla Rizqiyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69603

Abstract

Pengarusutamaan gender telah menjadi salah satu gol pada Sustainable Development Goals (SDGs) oleh PBB. Akan tetapi wanita masih banyak menerima diskriminasi. Indonesia sendiri menghadapi tiga isu utama terkait dengan wanita, yaitu kesenjangan upah berdasarkan gender, kekerasan terhadap perempuan, dan rendahnya tingkat kepercayaan diri. Ketiga isu seringkali dihadapi bersamaan oleh wanita, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Dalam lingkup arsitektural, wanita juga menghadapi diskriminasi dari desain lingkungan perkotaan di sekitarnya yang tidak ramah terhadap kebutuhan mereka sehingga wanita menghindari untuk beraktivitas di fasilitas publik. Salah satu konsep desain yang menempatkan wanita sebagai sentral rancangan adalah gender sensitive urban planning. Sebuah local women’s opportunity center dirancang dengan pendekatan gender sensitive design untuk merumuskan eksplorasi bentuknya.
Translasi Positive Distraction pada Arsitektur: Eksplorasi Ruang melalui Suasana Nostalgia akan Memori Rumah Pohon Isyana Gita Prameswari; Iwan Adi Indrawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69695

Abstract

Penerapan positive distraction dalam arsitektur dilakukan sebagai sebuah strategi untuk mengalihkan individu dari emosi negatif yang dialami. Pada teorinya, penggunaan elemen alam ditekankan sebagai cara yang efektif digunakan untuk menghadirkan positive distraction. Sebuah hipotesa kemudian diturunkan bahwa elemen alam bukanlah satu-satunya cara untuk menghadirkan positive distraction. Dengan pembentukan atmosfer spasial dan sequencing yang digunakan sebagai metode desain, positive distraction dihadirkan melalui suasana yang tebentuk dalam suatu rangkaian pengalaman dalam ruang dan pergerakan yang menggambarkan suasana nostalgia akan memori masa kanak-kanak sebagai suatu bentuk positive distraction bagi para emerging adults. Eksplorasi terhadap karakteristik rumah pohon dan pembangkitan emosi positif dari memori masa kanak-kanak dilakukan pada pembentukan suasana nostalgia. Ketika emerging adults menjadi rentan terhadap quarter life crisis yang mendatangkan kecemasan, ketakutan, dan keraguan diri mengenai masa depan, nostalgia akan memori masa kanak-kanak dapat memberikan sebuah pelarian dengan kenyamanan dan kehangatan yang ditawarkan didalamnya. Pada penerapannya, positive distraction yang dihadirkan melalui pembentukan suasana didukung oleh penggunaan elemen alam yang diintegrasikan dengan konsep memori rumah pohon.
Karakter Hutan Hujan Tropis sebagai Sumber Analogi dalam Penciptaan Multisensory Space Experience Alyssa Jane Khadijah; Iwan Adi Indrawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69696

Abstract

Multisensory space experience yang diartikan sebagai pengalaman ruang melibatkan banyak indra, merupakan sebuah respon dari fenomena ocularcentrism – peristiwa pengistimewaan indra penglihatan dibandingkan indra lainnya – dalam arsitektur yang mengakibatkan arsitektur tidak lagi menjadi pengalaman yang menggugah kehidupan. Hutan hujan tropis memiliki atmosfir ruang yang dapat dirasakan melalui pengalaman sensoris, dimana hal tersebut menjadikan karakter lingkungan hutan hujan tropis kemudian diadaptasi sebagai karakter kualitas ruang dari multisensory space experience karena selaras dengan tujuan utama rancangan. Untuk mencapai proposisi tersebut, analogi sebagai metode desain digunakan untuk mencapai asosiasi antara karakter hutan hujan tropis (sumber) dan ranah arsitektur (target) yang memungkinkan melalui pembentukan relasi atau representasi. Analogi bekerja dengan mengambil elemen fundamental dari ide dasar konsep kualitas ruang yang ingin dikonstruksi, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa formal arsitektur (form making). Dalam rancangan pemandian air panas, keberhasilan translasi ide terletak pada kualitas kontras cahaya dalam ruang, pengalaman ragam aroma hutan, kualitas penghawaan serta pengalaman menyentuh ragam tekstur dalam ruang, medan dalam rancangan (ragam elevasi ruang) yang menyerupai pengalaman ketika menyusuri hutan.

Page 2 of 3 | Total Record : 30