cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 279 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2016)" : 279 Documents clear
Kampung Ekologis Bantaran Sungai Semampir Putu Krisna Yudani; Sri Nastiti N. E; Kirami Bararati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.671 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18392

Abstract

Studi perancangan ini bertujuan sebagai penataan kampung bantaran sungai kawasan Semampir yang menjadi bagian komunitas Paguyuban Warga Strenkali Surabaya (PWSS) untuk mengubah anggapan negatif pemukiman stren kali yang kumuh dan mencemari lingkungan. Solusi berupa penggusuran dan relokasi justru menimbulkan pemasalahan baru bagi kota. Penataan kampung  pada bantaran sungai berupa resettlement diperlukan agar kawasan dapat menyediakan pemukiman yang layak dan ekologis. Potensi yang terdapat pada bantaran sungai sebagai ruang publik serta adanya karakteristik pemukim menjadi aspek perancangan dalam proses penataan kampung bantaran sungai. Diperlukan pula keterlibatan komunitas pemukim sebagai partisipator untuk perbaikan fungsi dan ekosistem bantaran sungai sehingga tercipta hubungan yang mutualisme antar elemen pemukim, bantaran sungai dan juga kota. Dengan adanya penataan ini, kualitas hidup pemukim meningkat serta selaras dengan alam.  
Wisata Agrikultur Modern Kota Gresik Anugerah Widya Hutama; Hari Purnomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.308 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18426

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati nomor tiga terbesar di dunia. Demikian pula dengan kondisi tanah dan iklim yang beragam, peluang untuk mengembangkan berbagai komoditas pertanian pun semakin besar dengan menerapkan sistem pengelolaan lahan yang sesuai. Hal ini tercemin pada berbagai teknologi pertanian lokal yang berkembang di masyarakat dengan menyesuaikannya dengan tipologi lahan. Keunikan - keunikan tersebut merupakan aset yang dapat menarik bangsa lain untuk berkunjung/berwisata ke Indonesia. Wisata agrikultur merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, kita bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya. Di Indonesia, agroturisme didefinisikan sebagai sebuah bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis) sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian.
Ruang Aktif Sebagai Solusi terhadap Pengaruh Negatif Teknologi pada Anak Larasasri Ratnaningtyas; Collinthia Erwindi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.673 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18478

Abstract

Pada zaman sekarang, anak-anak yang tinggal pada lingkungan perkotaan yang padat terlihat cenderung lebih malas, cepat lelah, cepat sakit dan terlihat seperti tertekan. Sedangkan pada anak-anak yang tinggal didaerah pedesaan mereka terlihat sangat lincah, sehat, tidak mudah lelah dan sangat ceria. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya sebuah sarana bermain yang menarik perhatian anak-anak pada perkotaan baik dilihat dari aspek udara maupun keselamatan yang terdapat pada kota surabaya sangat susah untuk anak-anak dapat bermain pada siang hari. Hal ini menyababkan orang tua menjadi pasrah dengan memberikan gadget kepada anak-anak dan mengakibatkan ketergantungan pada anak-anak. Oleh karena itu di perlukan sebuah wadah arsitektur berupa ruang aktif untuk mencegah ketergantungan terhadap gadget tersebut terjadi. Oleh karena itu metode merancang, dalam menciptakan sebuah obyek ini diperlukan sebuah pemahaman terhadap psikologi yaitu sebuah pemahaman yang terkait dengan kebutuhan anak. Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah menciptakan sebuah obyek untuk mewadahi aktivitas anak-anak agar anak- anak dapat menjadi produktif dalam masa perkembangannya serta memberikan pencegahan agar anak-anak tidak menjadi ketergantungan pada gadget.
Ruang Publik untuk Kesehatan Mental Masyarakat Perkotaan Ula Izdihar Azizah; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.412 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18513

Abstract

WHO menyatakan bahwa “tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental”. Kondisi gangguan kesehatan mental ringan merupakan salah satu tantangan kesehatan yang paling utama di abad ke-21. Penduduk kota lebih beresiko terkena gangguan kesehatan mental yang dikarenakan berbagai macam faktor. Baik gaya hidup maupun kondisi perkotaan memberikan dampak yang kurang baik pada kondisi mental masyarakat urban sehingga dibutuhkan wadah yang mampu mencegah dan mengurangi gangguan kesehatan mental pada penduduk perkotaan. Pendekatan dan metode yang digunakan adalah Biophilic Architecture, yang menjelaskan bahwa biologis manusia memiliki kecenderungan terhadap alam yang berperan dalam meningkatkan kebugaran fisik, emosional, dan intelektual manusia. Kesejahteraan mental maupun fisik masyarakat masih sangat bergantung pada kontak dengan lingkungan alam. Biophilic adalah cara yang inovatif untuk merancang tempat dimana kita hidup, bekerja dan belajar yang bertujuan untuk menciptakan ruang hidup yang sehat dan berpengaruh baik bagi masyarakat. Objek rancang berupa Mental Health Center yang terintegrasi dengan ruang publik, menyatukan program yang bersifat privat yaitu sebuah area konsultasi informal dan program yang bersifat publik seperti roof garden dan area bermain dalam satu kesatuan objek rancang sebagai wadah untuk mencegah dan mengurangi tingkat gangguan kesehatan mental ringan sehingga memberikan manfaat bagi kondisi kesehatan mental masyarakat dan berpengaruh pada kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Optimasi Bangunan Mixed-Use untuk Mengantisipasi Kemacetan di Jakarta Puti Tyas Ambunsari; Rullan Nirwansyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1025.411 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18541

Abstract

Sebagian besar komuter di Jabodetabek melakukan perjalanan ulang-alik dari hunian ke tempat kerja. Lokasi hunian yang jauh dari tempat kerja, sekolah, serta lokasi pemenuhan kebutuhan lainnya menyebabkan tingginya tingkat komuter di Jabodetabek. Kemacetan lalu lintas yang luar biasa di Jakarta sangat merugikan, baik dari aspek psikologis, ekonomis, maupun ekologis. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan konsep mixed use building. Pembahasan masalah dibatasi pada optimasi rancangan mixed use building. Optimasi difokuskan pada faktor bangunan secara fisik dan bagaimana bangunan dapat mempengaruhi psikologis user. Objek desain yang diusulkan adalah sebuah mixed use building yang mengintegrasikan fungsi kantor dan hunian bagi karyawannya. Kasus yang diambil pada usulan objek desain adalah kantor perusahaan Kaskus dengan asumsi bahwa perusahaan ini didominasi oleh karyawan muda yang kebutuhan akan huniannya tinggi. Rancangan diharapkan dapat mengurangi terjadinya komuter yang menggunakan kendaraan bermotor sehingga akan dapat membantu mengurangi masalah kepadatan dan kemacetan lalu lintas di Jakarta. Metode desain yang akan diterapkan pada usulan objek rancangan adalah metode Architectural Programming yang berfokus pada pemrograman arsitektur berbasis isu.
Meningkatkan Level Stadion Nasional menjadi Level Stadion Internasional Muhammad Luthfi; V Totok Noerwasito
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.525 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18542

Abstract

Saat ini sepak bola telah berkembang menjadi olahraga yang populer serta menjadi sebuah hiburan/entertainment yang bisa dinikmati oleh siapa saja di dunia. Perkembangan sepak bola di dunia tak lepas dari dukungan klub–klub yang ada, melalui kompetisi yang selalu diselenggarakan tiap tahunnya. Melalui kompetisi inilah klub–klub tersebut terus mengasah kemampuan timnya agar dapat terus berprestasi. Tidak hanya melalui pertandingan kompetisi saja yang diperlukan dalam peningkatan mutu tim, namun juga keberadaan sebuah fasilitas sepak bola dalam hal ini adalah stadion menjadi mutlak diperlukan. Keberadaan sebuah stadion sebagai wadah berkegiatan sepak bola semestinya didukung dengan fasilitas yang layak sesuai standar yang disyaratkan sebuah bangunan stadion baik nasional bahkan internasional. Stadion ini nantinya diharapkan mampu memenuhi tuntutan sepak bola modern yang memerlukan fasilitas penunjang yang sesuai standar kelayakan dan keberadaan fasilitas pelengkap, juga sebagai daya tarik lain bagi stadion nantinya. Desain arsitektur terhadap perencanaan dan perancangan stadion sepak bola yang menarik didasari pada penekanan aspek strukturnya. Dalam perancangan stadion sepak bola yang terpenting adalah aspek struktur yang digunakan, perkembangan sistem struktur terutama dalam perancangan stadion di dunia telah mengalami kemajuan dari segi teknologi bahan, kini telah berkembang seperti sistem kabel, membran, busur lengkung ataupun space frame. Stadion ini diharapkan mampu memunculkan unsur keindahan bangunan melalui ekspose aspek struktur yang ada, sehingga stadion ini memiliki tampilan bangunan yang estetis selain tetap memiliki konstruksi yang kokoh
Perancangan Pusat Komunitas Tunanetra Indonesia dengan Pendekatan Indera Yustisia Sekar Pratiwi; Murni Rachmawati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.011 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18603

Abstract

Tunanetra adalah suatu kondisi dimana seseorang kehilangan kemampuan pengelihatan. Jumlah penyandang tunanetra di Indonesia saat ini mencapai 3 juta jiwa. Jumlah tersebut tentu saja terbilang cukup banyak. Namun perhatian pemerintah terhadap tunanetra masih sangat kecil. Pandangan masyarakat terhadap tunanetra pun tidak terlalu baik. Hal ini tercermin dari sedikitnya fasilitas khusus tunanetra serta keterbatasan profesi bagi tunanetra. Tidak sedikit penyandang tunanetra yang berprofesi sebagai tukang pijit dan pengemis yang tergolong sebagai masyarakat marjinal. Kondisi tersebut membuat penyandang tunanetra tidak memiliki kesempatan untuk berkembang. Banyak penyandang yang sebenarnya memiliki kemampuan yang sama atau bahkan melebihi kemampuan yang dimiliki non-tunanetra. Namun potensi tersebut kurang terasah akibat kurangnya fasilitas dari pemerintah dan pandangan dari masyarakat yang menanggap penyandang tunanetra tidak mampu melakukan apapun. Pada perancangan ini akan membahas mengenai fasilitas untuk mewadahi pengembangan potensi bakat dan minat yang dimiliki oleh tunanetra sekaligus sebagai area publik yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mengenalkan potensi bakat dan minat tunanetra kepada khalayak umum. Sehingga nantinya rancangan dapat menyadarkan masyarakat terhadap kemampuan tunanetra, serta membuka peluang bagi penyandang tunanetra untuk memperoleh profesi yang lebih baik di masa depan.
Penerapan Konsep Exchanging Experience untuk Menghapus Pelabelan terhadap Difabel Henni Henni; Nur Endah Nuffida
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.66 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18691

Abstract

Lebih dari satu milyar manusia di dunia hidup dengan keterbatasan fisik atau mental yang menghambatnya untuk beraktivitas, atau yang disebut dengan difabel. Difabel di Indonesia belum memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri, terbukti dengan rendahnya tingkat pendidikan, kemampuan ekonomi, dan partisipasi sosial difabel. Salah satu faktor penyebabnya adalah stigma yang berkembang di masyarakat yang cenderung meremehkan difabel. Respon secara arsitektural untuk menghapus pelabelan pada difabel adalah dengan menghadirkan arsitektur berkonsep pertukaran pengalaman (exchanging experience), khususnya pengalaman indra, antara difabel dan non-difabel. Permasalahan desain yang muncul adalah bagaimana penerapan konsep tersebut dalam arsitektur, baik pada program ruang, interior, fasad, hingga ruang luar. Untuk menghadirkan konsep tersebut digunakan metode Rationalist Approaches yang membutuhkan pengetahuan di bidang lain sebagai dasar, dalam hal ini terkait indra dan psikologi pengguna. Dengan metode tersebut, arsitektur yang hadir mengundang penggunanya lebih peka dalam mengeksplorasi indra. Elemen-elemen arsitektur seperti dinding, lantai, hingga ramp memberikan pengalaman pada indra manusia melalui pemilihan dan pengaplikasian material dengan karakteristik tertentu.  
Fleksibilitas Ruang dalam Mengoptimalkan Proses Edukasi di Sekolah Menengah Atas Ade Imelda W Br Purba; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.372 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18726

Abstract

Lanskap pendidikan telah berubah secara signifikan dalam lima belas tahun terakhir. Proses belajar di sekolah kini telah jauh berbeda dengan keadaan perkembangan sekolah mula-mula. Dewasa ini, Anak-anak cenderung lebih bebas dan kreatif dalam mengekspresikan dirinya. Hal ini pun terjadi di sekolah ketika generasi pelajar tersebut melakukan proses edukasi. Mereka cenderung untuk mengeksplorasi proses belajar dengan cara apapun dan dimanapun. Ketika murid memiliki perasaan yang bebas, dan tidak dikekang maka mereka dapat secara optimal menyerap ilmu pengetahuan yang ada. Dengan demikian, maka pola ruang sekolah akan disusun secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan kegiatan ruang (Teori Konfigurasi Ruang Sekolah oleh Dr. Kenn Fisher.) Ruang ruang yang terdapat pada sekolah tersebut akan didesain dengan memiliki fungsi ganda juga sebagai ruang belajar, baik ruang dalam maupun ruang luar. Dengan kesimpulan bahwa ruang belajar (Learning Class Room) dapat dilakukan di setiap tempat di sekolah.
Pendekatan Arsitektur Bioklimatik Pada Bangunan Pesisir Faiz Dewangga Binar Diwari; Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.644 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18832

Abstract

Pada sebuah perancangan diperlukan adanya sebuah pendekatan desain untuk mempermudah melakukan eksplorasi bentuk. Hal ini juga berguna untuk dapat mempersempit konteks permasalahan desain dan juga memberikan batasan desain. Dalam perancangan Pusat Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan Permukiman, Jawa Timur ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan bioklimatik dan pendekatan perilaku, namun pada jurnal ini hanya akan dibahas mengenai pendekatan bioklimatik saja. Pendekatan arsitektur bioklimatik dipillih karena berkaitan dengan konteks lahan di daerah pesisir, tepatnya di daerah kenjeran. Kenjeran berada di kota Surabaya, Jawa Timur yang juga beriklim tropis, sehingga pendekatan yang dipilih juga menyangkut konteks iklim.