cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 279 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2016)" : 279 Documents clear
Median Vertical Dwelling dan Horizontal Dwelling untuk Masyarakat Penggusuran Lidya Kartika; Andy Mappajaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.445 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18857

Abstract

Meninggalkan tempat tinggal lama dan bermukim di tempat yang baru merupakan hal yang lumrah untuk manusia namun ada kalanya seorang manusia terpaksa berpindah dan harus bermukim di tempat yang jauh berbeda. Seperti halnya pada fenomena penggusuran dimana warga kampung yang terbiasa dengan kehidupan horizontal harus menjajaki rasanya bermukim secara vertikal. Tak jarang para korban penggusuran memilih untuk kembali bermukim di kampung halamannya atau bahkan membuat koloni kumuh yang baru. Rekonstruksi bermukim vertikal adalah sebuah bangunan transisi yang menjembatani perubahan dari permukiman horizontal dengan permukiman vertikal.
Kampung Singgah Produktif : Pemicu Peningkatan Ekonomi Masyarakat Permukiman Kumuh Riama Pamukka Anna Vinilia Sagala; Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.656 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18865

Abstract

Permukiman menjadi kebutuhan yang menampung manusia dalam kehidupan berkeluarga, sosial masyarakat, keberlangsungan hidup sebagai manusia dengan sehat dan dengan segala perilakunya. Gagasan ide objek permukiman yang menjadi milik masyarakat kumuh Bantaran Kali Jagir ini berawal dari persoalan masih adanya permukiman kumuh di kota Surabaya. Kualitas hidup masyarakat yang hidup miskin dapat meningkat dengan pengubahan gaya hidup, tanpa mengurangi jiwa sosial yang sangat positif dalam kehidupan bermasyarakat kampung. Juga menambah peluang masyarakat untuk menambah sumber pemasukan untuk perekonomian mereka. Sebagaimana arsitektur, respon yang diberikan pada fenomena tersebut adalah serangkaian proses penggalian informasi dan penjabaran masalah, yang menghasilkan kesimpulan bahwa penyediaan objek arsitektur dapat menjadi solusi, dengan tetap mengedepankan kebutuhan dan mengabadikan karakter positif masyarakat kumuh Bantaran Kali Jagir dalam penerapan metode. Objek arsitektur muncul dengan segala sistem di dalamnya yang dapat menjadi objek percontohan untuk kasus permukiman-permukiman kumuh Bantaran Kali di kota Surabaya maupun di kota lain yang tidak seharusnya menjadi masalah berlarut di negara Indonesia.
Memoar : Ada - Tiada ( Trans-Programming Fasilitas Pemakaman dan Museum pada Lahan Pemakaman Ngagel ) Haris Widi Pratama; Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.201 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18931

Abstract

Memoar : Ada-tiada; untuk membentuk sebuah arsitektur yang mampu membangkitkan jiwa dari sebuah tempat, perancang perlu mempertimbangkan bagaimana sebuah cerita dapat di sampaikan melalui bahasa – bahasa arsitektural. Rangkaian pesan tersublimasi ke dalam gubahan ruang yang dimanifestasikan oleh material – konstruksi ke dalam rangkaian sekuen ruang - ruang. Desain ini mengangkat cerita mengenai artifak sebuah kota, dimana muara semua akhir yang kini terancam akibat perkembangan sebuah kota. Keberadaannya mulai terisolir di tengah lingkungan padat penduduk akibat tiadanya aktivitas selain membumikan sanak kerabat. Taman Makam Pahlawan Ngagel didesak dari berbagai arah, semakin ia terdesak, semakin dijejali batu – batu berukirkan nama – nama tak bertuan. Semakin terdesak, semakin terisolir dari sekitar. Letaknya yang sangat strategis membuat fasilitas pemakaman tersebut membutuhkan sebuah... untuk dapat beradaptasi terhadap kondisi yang semakin menghimpitnya. Jika tidak, ia akan mulai disuksesi oleh kegiatan lain yang sangat mungkin terjadi dan mengakibatkannya terbengkalai sebagaimana fasilitas pemakaman lain di tengah kota Surabaya. Selain itu, pemakaman tersebut juga merupakan artefak kota Surabaya dimana beberapa pahlawan dimakamkan, yang salah satunya adalah pahlawan revolusioner Bung Tomo.  Memoar : Ada – tiada mencoba menjadi pionir dalam memecahkan keadaan tersebut dengan memadukan aktivvitas pemakaman dengan aktivitas rekreasi-edukasi yang akan menghadirkan ruang – ruang kontemplatif pada pengunjung dengan menitik beratkan kepada desain yang mampu menggugah jiwa pengunjungnya untuk berkontemplasi.
Konsep Defamiliarisasi pada Desain Museum Tambang Pasir Sungai Brantas Septi Triana; I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.852 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18945

Abstract

Aktivitas penambangan pasir tradisional di Sungai Brantas telah menjadi bagian dari budaya yang dikenal oleh masyarakat sekitar. Meski sempat tergeser  oleh adanya modernisasi peralatan penambangan pasir, teknik tradisional ini kembali digalakkan sebagai respon permasalahan hilangnya karakteristik kawasan tersebut akibat kegiatan penambangan pasir modern. Arsitektur merupakan cara untuk membentuk identitas pada suatu kawasan, salah satunya dengan menerapkan pendekatan Regionalisme Kritis yang mengacu pada masa depan perkembangan suatu kawasan. Hal-hal terkait dengan budaya tambang pasir yang telah ada dihidupkan kembali secara aktif dan dijadikan bagian dari kebudayaan universal dalam bentuk yang baru dan berbeda. Artikel ini bertujuan untuk menginterpretasi ulang nilai-nilai dalam proses penambangan pasir tradisional di Sungai Brantas. Metoda desain Precedent digunakan untuk memperoleh abstraksi dari nilai-nilai tersebut kemudian menerapkannya ke dalam obyek arsitektur. Perwujudkan konsep Defamiliarisasi telah mampu dihadirkan dalam tatanan massa dan pola sirkulasi dalam ruang pada obyek desain Museum Tambang Pasir.
Wayang House – Rumah Wayang Teuku Hanif Zayadi; Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.134 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18971

Abstract

Wayang merupakan salah satu kesenian tradisional Indonesia yang berkembang di pulau Jawa dan Bali. Awalnya seni pertunjukan wayang ini sebagai media penyebaran agama Hindu di Indonesia melalui cerita Ramayana dan Mahabharata. Saat ini minat anak muda akan kesenian wayang mulai berkurang seiring dengan globalisasi dan kemajuan teknologi yang membuat mudahnya budaya luar masuk. Metode Inquiry by Design oleh John Zeisel digunakan dalam merancang objek ini. Respon arsitektural berupa ruang publik yang dapat mengedukasi masyarakat akan nilai-nilai wayang. Arsitektur yang dapat menstimulasi kreatifitas anak muda dan mengubah pandangan tentang kesenian wayang.
Wisata Air Kota Lama Surabaya Cahyo Narendro; Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.815 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18982

Abstract

Sejarah  dari  sebuah sungai  yang  dulunya menjadi sumber elixir of life (sumber Amerta), menjadi tulang punggung perekonomian dan perdagangan, namun fungsi-fungsi tersebut  terus  berdegradasi  sehingga  menjadi  tempat pembuangan limbah dan tidak lagi dianggap sebagai sumber kehidupan.  Sungai  yang  akan perancang  bahas  adalah sungai Kalimas Surabaya. Terdapat 9 titik kawasan di sungai Kalimas yang menjadi rencana Pemerintah Kota Surabaya    untuk merevitalisasi. Faktanya, hanya 3 titik yang masih ter-revitalisasi. Maka dari itu, perancang memilih salahsatu kawasan yang masih belum ter-revitalisasi, yaitu kawasan Jembatan Merah dan sekitarnya.  Berdasarkan data yang didapat berupa hasil survey yang  dilakukan oleh Wakil  Rektor  UNTAG,  bahwa  Surabaya berpotensi memiliki wisata air yang juga akan mendukung program revitalisasi Pemerintah Kota nantinya. Maka dari itu, perancang akan mendesain wisata air yang terletak di kawasan Jembatan Merah dan sekitarnya. Desain dari wisata air nantinya desain yang merefleksi bangunan-bangunan konservasi di Surabaya untuk meningkatkan eksistensi dari kawasan kota lama Surabaya. Kata Kunci : sungai Kalimas Surabaya, waterfront city, kota lama Surabaya.
Penerapan Metode Hybrid Architecture dalam Perancangan Pasar Hugo Cantona; I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.483 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19019

Abstract

Eksistensi kaum marginal di perkotaan sering kali terabaikan sehingga kebutuhan dasar mereka cenderung dinomorduakan, padahal sebagian dari penduduk kota besar di Indonesia adalah kaum marginal. Salah satu kebutuhan tersebut adalah tempat tinggal dan tempat untuk bekerja setiap harinya. Untuk itu, diperlukan suatu sarana yang khusus dirancang dan diperuntukkan bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah dengan segala rutinitas keseharian dan aktivitas yang mereka miliki. Sebuah pasar tradisional dengan hunian bagi para penjual di dalamnya dirasa mampu merepresentasikan potrait kehidupan kaum marginal yang hidup di perkotaan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Selain itu, pengalihfungsian lahan menjadi pasar malam di lain waktu dirasa dapat menjadi salah satu solusi untuk memfasilitasi kebutuhan hiburan bagi masyarakat marginal yang tinggal di dalamnya. Dengan pendekatan perilaku, penerapan metode hibrid pada sirkulasi berbentuk ramps yang mengelilingi badan bangunan dan program ruang dalam sebuah perancangan pasar merupakan salah satu contoh sarana yang dapat memfasilitasi kebutuhan aktivitas sosial ekonomi masyarakat marginal yang hidup di dalamnya.
Bangunan Portabel Sebagai Solusi Kebutuhan Hunian Temporer yang Layak Huni Muchammad Irwan; Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi; Kirami Bararatin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.75 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19043

Abstract

Jumlah pengungsi di seluruh dunia mencapai angka 60 juta orang [1]. Pengungsi tersebut membutuhkan bantuan salahsatunya mengenai hunian atau tempat tinggal. Namun bedanya, para pengungsi tersebut hanya tinggal disuatu wilayah hanya untuk sementara. Membangun fasilitas khusus untuk pengungsi secara permanen bukan pilihan yang tepat mengingat suatu saat mereka akan pergi dari tempat tersebut dan bangunan tersebut akan terbengkalai. Bangunan portabel merupakan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. Bangunan portabel dapat mengurangi biaya konstruksi dan fungsi lahan dapat dikembalikan seperti semula.
Elemen Arsitektur sebagai Perantara Komunikasi antar Manusia Fithrotul Mumtaz; Wahyu Setyawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.561 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19071

Abstract

Dalam suatu keluarga yang beranggotakan orang tua dan anak, komunikasi menjadi hal yang penting dalam mengaplikasikan kontrol orang tua terhadap anak demi masa depannya yang lebih baik. Arsitektur sebagai ruang bagi seseorang dalam berkomunikasi, memiliki pengaruh terhadap komunikasinya. Komunikasi yang kurang harmonis dalam suatu keluarga bisa jadi disebabkan atas faktor arsitektur di lingkungannya, baik atas pola ruang maupun suasananya. Penulis merespon ketidakharmonisan komunikasi orang tua-anak tersebut dengan merancang sarana edukasi pola asuh orang tua terhadap anak, yang dapat menjadi ruang baru bagi keduanya dalam berkomunikasi. Dalam obyek rancang ini, penulis menghadirkan beberapa elemen arsitektur yang ditentukan dengan melakukan studi terlebih dahulu atas literatur yang telah ada. Sehingga dengan adanya elemen tersebut, arsitektur dapat menjadi media maupun perantara bagi orang tua-anak dalam berkomunikasi yang baik.
Aktif Desain sebagai Alternatif Rekreasi Taman Kota Sandra Adilla Haeruddin; Collinthia Erwindi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.104 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19072

Abstract

Balikpapan sebagai pintu gerbang perekonomian Kalimantan Timur akan mengembangkan wilayahnya dibibir pantai berbetasan Selat Makassar. Proyek pengembangan ini akan membangun coastal road sepanjang 7,5 km yang nantinya akan menjadi kawasan bisnis dan jasa. Proyek ini dibagi menjadi segmen I- VIII. Berdekatan dengan kawasan yang akan dikembangkan tersebut, terdapat Lapangan Merdeka. Lapangan Merdeka merupakan tempat rekreasi masyarakat Kota Balikpapan, yang ramai dikunjungi sampai saat ini. Lapangan Merdeka, sebagai representasi rekreatif, saat ini berpotensi tersaingi karena adanya pulau yang akan dikembangkan di segmen VIII. Fasilitas lengkap pada pulau akan membuat masyarakat lebih tertarik mengunjunginya daripada Lapangan Merdeka. Akibatnya, Lapangan Merdeka akan menurun pengunjungnya dan menjadi tempat yang terabaikan. Sehingga, agar keduanya saling berintegrasi, fungsi tiap tempat didesain berbeda-beda untuk saling melengkapi. Dengan melihat potensi aktivitas pada pulau, yang kemungkinan menjadi rekreasi pasif maka Lapangan Merdeka di kembangkan dengan desain rekreasi aktif melalui pendekatan perilaku dan metode aktif desain.