Articles
139 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7, No 2 (2018)"
:
139 Documents
clear
Redesain Alun-alun Kota Batu dengan Pendekatan Biophilic Design
Delinda Araminta;
Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (547.432 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33811
Kota Batu dengan julukannya “kota pariwisata” merupakan salah satu destinasi favorit masyarakat untuk berlibur dan mencari kesejukan. Salah satu dampak dari meningkatnya pengunjung Alun-alun Batu adalah keterbatasannya lahan dan ketidaknyamanan dalam mengakses dan menggunakan alun-alun. Dengan menggunakan metoda desain architectural programming dan elemen Biophilic Design, konsep besar rancangan adalah dengan menghadirkan basement sebagai upaya untuk menciptakan ruang publik yang dapat meghadirkan kenyamanan bagi seluruh penggunanya, dengan menyelesaikan masalah terkait sirkulasi dan keterbatasan lahan yang ditemukan di desain saat ini
Kampung Wisata Adat Batak Toba
Ayubbi Oentoro;
Vincentius Totok Noerwasito
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33984
Di era perkembangan zaman yang semakin maju kita sebagai warga negara Indonesia seakan-akan kita lupa dengan seni dan budaya yang kita miliki. Bahkan dalam dunia arsitektur. Arsitektur Nusantara lebih dikenal dengan bangunan primitif bagi manusia modern. Dengan adanya perbedaan primitif dan modern maka arsitektur Nusantara semakin tidak terlihat keberadaannya, dan teknologi arsitekturalnya akan semakin hilang ilmunya. Seharusnya kita, warga negara Indonesia bangga dengan seni dan budaya kita yang sangat kaya, dengan memperkenalkan seni dan budaya kita di era perkembangan zaman modern ini. Berdasarkan dari berbagai permasalahan di atas antara mengkini dan primitif munculah sebuah ide respon mengkombinasikan kedua jenis bangunan tersebut. Kampung Wisata Adat Batak Toba akan menghadirkan kampung asli Batak Toba dengan bangunan primitif dan bangunan yang mengkinikan arsitektur Nusantara sesuai dengan kebutuhan manusia modern sekarang, dan tidak lupa tetap menghadirkan bangunan asli Batak Toba (Ruma Bolon) sebagai tempat tinggal dan rumah penduduk sekitar. Perancangan desain menggunakan metode charles jencks, dimana pengkombinasian antara arsitektur tradisional dengan arsitektur modern yang harus memenuhi beberapa unsur, seperti aspek warna, aspek dekorasi, dan aspek masa lalu. Konsep dari kampung wisata ini adalah mempertahankan keaslian, mengkombinasikan teknologi lama dengan yang baru, dan adanya kebutuhan zoning pada lahan.
Kesetaraan Program Arsitektur berdasarkan Aktivitas Manusia
Multazam Akbar Junaedi;
Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (126.742 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33869
Arsitektur dalam sebuah sistem fungsi sosial seharusnya memikirkan setiap irisan dari segala sistem yang ada dalam lingkungan. Sehingga seharusnya dalam ilmu arsitektur tidak ada hierarki desain dalam rancangan bangunan arsitektur. Dengan pembacaan tersebut permasalahan yang diangkat adalah diferensial lingkungan sosial dalam aspek fisik dan non-fisik pada koridor Tunjungan, Surabaya. Pendekatan Arsitektur dan Perilaku Manusia, menjadi kacamata analisa masalah pada konteks lingkungan dan sosial. Variabel waktu dan kepemilikan ruang di definisikan sebagai acuan dalam menentukan program yang akan dirancang. Sehingga pergerakan penduduk dan non-penduduk Tunjungan dirasa cukup mewakili masalah fisik maupun non-fisik pada konteks, yang kemudian digunakan sebagai dasar olahan formal dan teknis pada rancangan arsitektur. Konsep Equality and No-Segmentation menjadi konsep besar yang digunakan dalam rancangan arsitektur. Memberikan kesetaraan pada subjek penduduk dan non-penduduk Tunjungan dalam kepemilikan ruang di konteks rancang. Sehingga tidak ada lagi kesenjangan desain dalam program arsitektur antara manusia, yaitu penduduk dan non-penduduk di Koridor Tunjungan, Surabaya.
Re-interpreting Memory of History by Fragmented Continuum Concept in Museum Design
Nisita Hapsari;
Nur Endah Nuffida
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33942
Architecture has always been considered as a carrier of messages. Stories and buildings have been tied up together since the beginning of the conscious formation of space and the first attempts to understand the world around us. Architecture that has been ruined or abandoned is also has the same condition. The 'death' could be a new beginning for buildings. An example that still exists in the present is Kedung Cowek Fort. Kedung Cowek Fort is a witness of history that still exists. The design problem which will be proposed in this final project is how the ruins of architecture could be 'revived'. Architect also responsible to how the space could be an instrument which people could experience the memory of history from the event of the past with universal language which people in the present could understand. By using historicism approach, what already happened in the past become a background for the design and by using meaning in architecture approach, those past events are interpreted to story. The tool to transfer the story into architectural design is narrative method. The building type proposed in this final project is historical museum. By giving the interpretation of historical background, people could try to understand the history from the perspective and story architect creates. In this case, history is defined as a fragmented continuum story.
Pemanfaatan Vacant Space dan Optimalisasi RTH pada Bundaran Waru
Suci Wahyu Rahmadani;
Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (148.873 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.34020
Vacant space atau lahan kosong cenderung tidak terawat. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan lingkungan yang tidak terkontrol sehingga aktivitas yang terjadi pada lahan ini juga tertutupi dan berpotensi untuk membentuk ruang-ruang negatif. Selain itu, vacant space dapat berupa RTH atau berpotensi untuk menjadi RTH, sehingga memanfaatkan vacant space, agar ruang ini lebih terpantau, juga berpotensi untuk mengurangi RTH. Lahan yang memiliki kriteria dilematis ini contohnya Bundaran Waru. Perancangan pada Bundaran Waru harus menyasar pada aspek sosial dan lingkungan, serta ekonomi agar ruang ini dapat berkelanjutan. Adapun metode yang digunakan adalah metode analogi dan metode arsitektur sebagai lansekap. Alasan pemilihan metode tersebut diharapkan dapat memberikan solusi desain yang spesifik pada lahan Bundaran Waru.
Penerapan Pendekatan "Human Behavior" pada Gedung Pusat Kerajinan Tangan Anak Jalanan
Nurmaya Aini;
Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.34076
Didalam proses perancangan arsitektur merancang terdapat berbagai macam pendekatan perancangan. Adapun pendekatan yang dipilih adalah menggunakan pendekatan Human Behavior (perilaku manusia), untuk Gedung Pusat Kerajinan Anak Jalanan. Pemilihan tersebut dikhususkan untuk anak jalanan yang memiliki karakter berbeda dengan anak pada umumnya. Gedung Pusat Kerajinan yang dimaksud adalah tempat untuk mewadahi kreatifitas anak jalanan yang berlangsung kegiatan bisnis kerajinan tangan mulai dari produksi sampai ke pemasarannya secara online yang bertujuan untuk mempertahankan pola kehidupan sehari – hari yang melibatkan interaksi dengan anak nonjalanan. Adapun metode perancangan yang digunakan yaitu metode Behavior Mapping dalam menyelaraskan konsep desain yang sesuai dengan karakter anak jalanan. Isu yang dipilih akan diwujudkan melalui bentuk dan penataan ruang dalam. Hasil rancangan berupa bangunan yang mengambil karakter dari anak jalanan aktif dan kreatif, mandiri dan bebas, serta adaptif dengan lingkungan.
Arsitektur Produksi Bahan Pangan Pertanian Dengan Konsep Vertical Green House
Deny Indra Prasetyo;
Asri Dinapradipta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (107.994 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.34101
Kepadatan penduduk diprediksi dimasa depan akan semakin meningkat. Kepadatan penduduk memiliki hubungan yang erat dengan kebutuhan akan pangan. Ketika kebutuhan pangan tidak dapat mengimbangi kepadatan penduduk tersebut akan berdampak terjadinya krisis ketahanan pangan. Banyak wilayah yang semakin tahun mengalami pembangunan sangat pesat dan menjadi sebuah perkotaan padat. Bidang pertanian merupakan bidang yang terkena dampaknya. Permasalahan pertanian yang diangkat adalah lahan yang semakin sempit, iklim yang semakin tidak stabil, dan ketertarikan profesi yang semakin menurun. Penulis mencoba menyelesaikan permasalahan tersebut dengan sebuah desain arsitektur yang memiliki fungsi ruang untuk mencukupi ketersediaan pangan pada lingkup yang ditentukan dan berdampingan dengan fungsi ruang publik dan ruang wisata di kehidupan perkotaan pada umumnya. Pendekatan desain yang digunakan adalah green building untuk menjadikan bangunan yang berusaha menuju ramah lingkungan sebagai batasan sudut pandang mendesain dan metode desain hybrid architecture untuk mengolah konsep mengenai program secara makro, metode desain context analysis untuk mengolah konsep transformasi bentuk bangunan, dan metode ecological architecture untuk mengolah konsep elemen desain mengenai green technology yang digunakan menjadi bagian detail dari bangunan.
Arsitektur Regionalisme: Jelajah Nusantara Melalui Desain Bandar Udara
Falahy Mohamad;
Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (85.614 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.34552
Bandara pada saat ini menjadi pusat perhatian di negara belahan dunia. Bandara merupakan gerbang daerah yang juga sebagai bangunan publik dengan resiko tinggi tentunya wajib memenuhi persyaratan teknis yang berkaitan dengan keamanan dan keselamatan. Perlu adanya pertimbangan prinsip-prinsip utama mengenai terminal moda transportasi ini. Terkadang banyak sekali salah dalam menentukan atau memutuskan segala sesuatu dalam merancang. Seperti konsep desain bangunan, bahan bangunan, pola-pola ruang, dsb. Mereka hidup dalam kotak-kotak dari beton dengan atas nama modern, efisiensi dan lain-lain yang akhirnya mencoba mendefinisikan kembali arti makna ide ruang, bentuk dan sebagainya dalam paham arsitektur regionalisme melalui semiotika pengenalan tanda-tanda dan ekplorasi metafora lokalitas yang ada di Pekalongan. Permasalahan minimnya lokalitas sudah banyak ditemui dibeberapa daerah di Indonesia. Seringkali aspek desain dari bandara lebih kearah internalisasi dengan mengusung teknologi muktahir namun kesan yang timbul hanya unsur modern saja, tetapi nilai kelokalan justru tidak diperhatikan. Dalam perencanangannya, bagaimana caranya identitas-identitas yang melekat pada Pekalongan bisa dimasukkan kedalam arsitektur.
3-Dimensional Approach on Downtown Area to Improve Urban Space Qualities
Fauzan Permana Noor;
Endy Yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (896.317 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.34199
Acting as a Capital of Indonesia, Jakarta has become a core of government, economy, commerce, also cultural hustle of the country. Occupied by 14,464 habitants per km2, its density is twice more than Tokyo, creating a bustling metropolis. The needs of living, commuting and productivity spaces slowly degrading the Green Open Spaces of the city, thus lowering the quality of the city space itself from 32% in 1965 to 9,8% in 2017. Ironically, the active & dense area of downtown Jakarta where the necessity of green spaces are the highest, are the one where such spaces cannot be found. An intervention therefore needed to refine the city spaces. Implementing 3-dimensional approach on one of the core of Jakarta’s downtown area, harmonious with government encouraging a development of walkable city and transit-oriented development, architecture should be able to escalate the quality of space in Jakarta. The design resulted in a simple intervention in the city, that if placed accurately would not only improve the space quality but also integrating areas fractured by other elements of the city.
Tumbuh dan Berkembang dalam Arsitektur
Faiz Widyastama;
Endy Yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (197.914 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.37004
Secara umum arsitektur merupakan sebuah wadah untuk menaungi berbagai aktivitas. Aktivitas tersebut dilakukan oleh pengguna yang berada di dalamnya, Akan tetapi beberapa pengguna didalamnya beranggapan bahwa arsitektur hanyalah sebuah benda mati yang tidak dapat berubah. Seiring berjalanya waktu penghuni yang berada didalamnya juga akan mengalami pertumbuhan dan perkembagan dan hal itu mempengaruhi kebutuhan aktivitas yang ingin diwadahi. Menanggapi hal tersebut fleksibilitas dalam arsitektur sangat penting karena dapat beradaptasi terhadap perubahan aktivitas yang dilakukan oleh pengguna. Fleksibilitas tersebut akan membuat anggapan bahwa arsitektur sebagai benda hidup yang dapat berubah mengikuti pertumbuhan dan perkembangan pengguna didalamnya.