Articles
100 Documents
Search results for
, issue
"Vol 9, No 2 (2020)"
:
100 Documents
clear
Jukstaposisi Kantor Pemerintahan dan Ruang Publik: Kuala Kapuas Command Center Berdasarkan Arsitektur Simbiosis
Ghina Alifia Nabilah;
Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57272
Di era kemajuan teknologi saat ini, Indonesia sedang mengalami periode pembaruan di semua bidang dengan mulai menggunakan berbagai jenis teknologi yang diperbarui. Sebuah kota dapat dikatakan sebagai Smart City jika dilengkapi dengan infrastruktur dasar, juga memiliki sistem transportasi yang lebih efisien dan terintegrasi yang meningkatkan mobilitas masyarakat. Salah satu langkah yang umumnya dibutuhkan oleh sebuah kota di Indonesia dalam mengembangkan Smart City adalah dengan membangun Command Center. Command Center adalah bangunan yang dirancang khusus untuk layanan publik yang terpusat dan terintegrasi. Lahan yang berlokasi di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, memunculkan dua permasalahan. Lahan terletak di area taman kota, tetapi kantor-kantor pemerintah khususnya Command Center itu sendiri memiliki sifat tertutup yang membutuhkan tingkat keamanan tertentu. Karena itu, bagaimana cara menggabungkan kedua jenis ruang yang berlawanan ini sambil tetap mempertimbangkan sisi keamanan? Menerapkan jukstaposisi dalam desain, menggabungkan antara ruang pemerintah dan ruang publik adalah konsep yang akan diusulkan sekaligus mempertimbangkan transparansi dari Command Center untuk membuat satu kesatuan antara dua jenis fungsi yang berbeda.Untuk mencapai tujuan ini, arsitektur simbiosis dipilih untuk menggabungkan ruang publik dengan Command Center mempertimbangkan hubungan aktivitas dan perilaku manusia di dalamnya.
Pengaruh Musik terhadap Arsitektur Berbasis Isu Kesehatan Mental
Baiq Nadhira Kamilia;
Collinthia Erwindi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57274
Di masa sekarang ini, gangguan emosional pada kesehatan mental masih kurang dipandang sebagai hal yang serius oleh beberapa kalangan masyarakat. Orang-orang yang merasakan gangguan tersebut cenderung memilih untuk tidak berbicara dan mengabaikannya, dimana jika hal tersebut terus berlanjut, dapat berakibat fatal. Sementara itu musik, suatu hal yang tidak asing didengar dalam kehidupan, merupakan sebuah “Bahasa” universal yang dapat dinikmati oleh seluruh manusia di dunia. Sayangnya, masyarakat Indonesia hanya melihat musik sebatas hiburan dan tidak lebih dari itu. Dengan menggunakan musik sebagai pendekatan dalam merancang bangunan, arsitektur dapat berperan tidak hanya sebagai seni yang menaungi, namun juga sebagai medium yang dapat menghubungkan elemen-elemen yang kontras.
Aplikasi Konsep Machine Aesthetic dan Placemaking pada Kualitas Spasial Ruang Kerja
Aisyah Akhsania Taqwim;
Sarah Cahyadini
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57389
Pesatnya perkembangan teknologi di bidang manufaktur, transportasi, produksi, dll. berdampak pada kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, budaya, dan lainnya di dunia. Salah satunya adalah laju pengembangan dan penggunaan mesin di berbagai bidang. Teknologi di era modern sekarang memiliki dampak pada aktivitas manusia di ruang kerja. Peningkatan jumlah mesin diproyeksikan mencapai titik ketika mesin akan mendominasi ruang kerja. Bersamaan dengan ini, manusia dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kondisi ruang kerja yang didominasi oleh mesin. Mesin yang memiliki fungsi dan bentuk tertentu juga memiliki nilai estetika yang bisa disebut machine aesthetic. Penerapan konsep machine aesthetic di ruang kerja dapat digunakan sebagai elemen untuk menciptakan kualitas spasial ruang yang berbeda. Konsep ini kemudian akan dikombinasikan dengan placemaking yang digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan ruang pengguna yang terus berkembang. Aktivitas baru yang muncul tersebut akan diakomodasi dengan membuat area fleksibel, seperti : atap, dek observasi, dan jalan pejalan kaki. Kualitas spasial ruang dapat disajikan dengan memilih skala dan bahan yang sesuai pada atap dan struktur untuk memberikan identitas pada bangunan. Aplikasi kedua konsep tersebut menjadikan proyek desain sebagai peluang untuk memperluas konteks lokal sambil membentuk tujuan dan kontemplasi pada visi progresif perusahaan.
Tendensi Cetak Biru Desain Stadion
Faris Salman Ely;
Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57951
Olimpiade Modern, Negara-negara maju saat itu melihat Olimpiade sebagai sebuah ajang yang dapat merepresentasikan kekuatan Negara mereka, tidak sebatas pada berapa medali yang diraih, lebih dari itu ada sebuah ‘tendensi’ untuk membangun infrastruktur fasilitas penyelenggaraan Olimpiade dengan masif, Tipologi stadion pun merambah ke-seluruh dunia. ‘Tendensi’ seperti itu kemudian menjadi hal yang biasa dalam proses sebuah negara menjadi Tuan Rumah ajang olahraga hingga saat ini. Kini di abad 21, tipologi stadion terus mengalami perkembangan. Namun imaji stadion yang masif, tertutup, serta bersifat eventual masih sangat umum diterapkan pada desain stadion baru, dalam a ini berfokus pada stadion berskala menengah. Pada akhirnya akan timbul pertanyaan serta isu terkait fungsi dan keberadaanya baik sebelum konstruksi dimulai hingga pasca konstruksi. Desain yang dikembangkan adalah alternatif desain stadion berskala menengah, dengan tujuan untuk menjadikan stadion sebagai Urban Catalyst, hal tersebut dicapai dengan menciptakan ‘ruang’ stadion yang dapat digunakan untuk aktifitas yang bersifat repetitif yang berlandas pada tiga aspek utama yaitu visual, konektivitas dan programming.
Healing Environment dalam Perancangan Community Health Hub
Khansa Salma Aisyah;
Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57966
Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan menjadi penting mengingat kesehatan merupakan kebutuhan dalam melakukan aktivitas sehari – hari. Sehingga optimalisasi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai layanan kesehatan tingkat pertama sangat penting dalam mempromosikan kesehatan dan menyediakan layanan preventif terhadap penyakit. Merespons pada kebutuhan tersebut, desain Community Health Hub berupaya menghubungkan masyarakat sekitar yang meliputi komunitas remaja, ibu dan anak, serta lansia dengan aktivitas promosi kesehatan yang pada kenyataannya saat ini kurang tersampaikan secara optimal kepada masyarakat. Healing environment merupakan pendekatan desain yang memberi efek healing melalui kecenderungan manusia terhadap alam (biophilia). Salah satu efek tersebut berupa peningkatan produktivitas dan mengurangi stres, sehingga memberi efek fokus namun rileks. Dalam aplikasinya, diterapkan beberapa elemen biophilic sebagai strategi healing yang diintegrasikan dengan konsep sirkulasi, konfigurasi ruang dan fasad bangunan. Efek tersebut menjadikan hasil desain yang merupakan layanan kesehatan masyarakat dapat menjadi hub atau penghubung komunitas masyarakat dengan aktivitas promosi kesehatan melalui efek dari healing environment. Sehingga tumbuh awareness masyarakat terhadap kesehatan dan promosi kesehatan menjadi lebih optimal.
Hot Spring Resort Hotel sebagai Sarana Relaksasi di Kawasan Kota Wisata Batu
Krisna Tata Maharani;
Rabbani Kharismawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.58071
Pariwisata adalah kegaiatan yang biasa dilakukan pada waktu luang. Perjalanan wisata umumnya dilakukan pada saat seseorang bebas dari pekerjaan yang rutin dilakukan atau pada saat libur. Akibat rutinitas yang dilakukan sehari-hari seringkali membuat jenuh dan stress. Kurangnya waktu bersama keluarga juga menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya stress sehingga perlu adanya tempat yang menyediakan fasilitas untuk relaksasi yang jauh dari area perkotaan, sekaligus dapat sebagai tempat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Fasilitas yang dimaksud yaitu resort hotel dengan pendekatan Arsitektur organik yang memiliki fasilitas tambahan berupa hot spring yang cocok dijadikan sebagai destinasi untuk relaksasi. Konsep Arsitektur organik berakar pada bentuk-bentuk atau prinsip-prinsip alam.
Depresiasi Skala Pola Desain Urban 2040 pada Arsitektur Hub-Komunal
Alya Putri Nabila Zahra;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.58546
Kepadatan penduduk yang kian bertambah seiring berjalannya waktu akan berdampak pada kepadatan bangunan dalam sebuah kota, hal ini menyebabkan sebuah bangunan selalu menyelesaikan permasalahnya sendiri (self-contained) dan terdapat ruang-ruang boros yang hanya digunakan pada waktu tertentu (wasted space). Melalui pendekatan desain Typological Urbanism oleh Sam Jacoby dan CM Lee diarahkan menggunakan metode tipologi untuk mengamati pola fungsi ruang dari tipologi yang berbeda, maka munculah sebuah objek rancang berisi fungsi ruang yang paling mendasar dari beragam bangunan. Konteks desain dengan adanya kemajuan teknologi mereduksi ruang menjadi lebih efisien dan sintesa ruang yang muncul bersifat komunal dimana manusia dapat melakukan aktivitas secara bersama. Dengan proyeksi di masa depan pada tahun 2040, Hub-Komunal mempunyai konsep pemusatan keterhubungan ruang komunal antar bangunan yang hanya mempunyai fungsi spesifiknya saja. Analisa pola dalam skala urban di masa kini dan mendatang menjadi penting untuk mengamati perbandingan pola transportasi, peruntukkan lahan maupun sirkulasi pada kawasan. Konsep transformasi bentuk lahan dan massa bangunan menerapkan metode superimposisi ketiga layer (pola) untuk menemukan bidang pemusatan dan menghubungkan akses objek rancang dengan fungsi spesifik di sekitar lahan. Perencanaan denah yang efektif dengan memusatkan alur sirkulasi ke satu titik untuk memfasilitasi mobilitas manusia yang tinggi. Kondisi ini dapat menghemat ruangan karena ruang komunal bisa saling berbagi antar fungsi spesifik.
Pembentukan Persepsi dalam Arsitektur Melalui Dasar-Dasar Penciptaan Sinema
Muhammad Imam Adly;
Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.58426
Arsitektur telah memiliki keterhubungan secara tidak langsung dengan sinema sejak pertama kali film diciptakan. Dari kedua bentuk keilmuan ini, terdapat banyak persinggungan tentang bagaimana mereka tercipta. Dalam sinema ada istilah montase yang menjadi teknik paling dasar dalam proses pembentukan film, yaitu bagaimana adegan-adegan dirangkai untuk mencapai sebuah narasi yang diinginkan. Montase adalah gagasan tentang sinekdoke, tentang bagaimana fragmen-fragmen kecil yang akan mengkonstruksi persepsi yang utuh dalam pikiran penikmatnya. Melalui irisan tersebut, proyek ini berusaha mengkonstruksi sebuah rancangan arsitektural melalui cara yang sama dengan bagaimana sinema membentuk dirinya. Karenanya, dilakukan sebuah pendekatan sinematik dalam proses merancangnya. Mulai dari bagaimana memposisikan diri sebagai seorang pengguna melalui penggalan-penggalan adegan sampai merumuskan gubahan bentuk arsitektural yang kemudian disusun untuk dapat memantik persepsi tertentu. Fungsi rancangan sendiri berupa bathing house yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin melarikan diri dari tekanan urban di Kota Surabaya. Dengan nilai-nilai sinematik yang disematkan dalam rancangan, tempat ini akan menjadi sebuah tempat melepas diri dengan penyuntikan realitas yang terbelokan (altered reality) melalui fragmen-fragmen yang akan membentuk persepsi dalam pikiran.
Pengembangan Area Hiburan dan Edukasi di Area Paralayang Batu
Nur Indah Sari;
Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.59163
Kota Batu adalah kota yang berada di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak 15 km sebelah barat laut Malang dan sebelah barat daya Kota Surabaya. Kota Batu dahulu adalah bagian dari Kabupaten Malang, namun kemudian pada tanggal 17 Oktober 2001 batu ditetapkan menjadi kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang. Batu dikenal sebagai salah satu kota wisata yang terbilang baik di Indonesia karena potensi keindahan alamnya yang indah dipandang. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, terdapat salah satu tempat wisata minat khusus yang akhir-akhir diminati oleh banyak orang, yaitu Gunung Banyak yang terdapat pada Batu Malang, olahraga yang terdapat pada Gunung Banyak ini yaitu paralayang. Kawasan Paralayang Gunung Banyak memiliki fasilitas olahraga paralayang untuk para wisatawan yang penasaran dan ingin mencoba bermain paralayang ini berbasis masyarakat. Rancangan menggunakan pendekatan green architecture. Pendekatan green architecture dipilih agar desain yang tercipta tidak merusak alam dan kondisi lingkungan disekitar lokasi serta memberikan dampak positif pada penduduk setempat.
Membongkar Hierarki Ruang Penjual-Pembeli pada Tempat Perbelanjaan
Anggit Nurhandhika Ramadhan;
Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.59179
Dalam paradigma dekonstruksi terdapat konsep différance atau secara sederhana dipahami sebagai permainan batas. Secara arsitektural, permainan batas tersebut akan dilakukan dalam mengeksplorasi tatanan ruang yang telah ada dari sebuah objek. Objek yang diambil sebagai tempat pendemonstrasian konsep adalah Mal Malioboro. Ruang yang dibahas adalah ketika ia berkaitan dengan interaksi penjual dan pembeli. Ruang-ruang tersebut akan diekstraksi ke dalam medium arsitektural secara utuh, dilakukan evaluasi, dan dicari alternatif yang diperlukan dalam kaitannya dengan peleburan batas hierarki antara ruang belanja dan ruang non-belanja pada tempat perbelanjaan tersebut. Ketika batas antar ruang telah dilebur menjadi bentuk medium arsitektural, maka penyusunan kembali pada tatanan ruang akan dilakukan. Akhirnya, hierarki antara penjual dan pembeli diharapkan menjadi lebih lebur dengan tatanan ruang alternatif pada desain tempat perbelanjaan yang baru.