Articles
2,279 Documents
Uji Efektifitas Bioetanol Menggunakan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Sebagai Bahan Bakar Campuran Bensin Terhadap Unjuk Kerja Mesin Generator
Lucky Anzelina Wijaya;
Nurhatika Nurhatika;
Sudarmanta Sudarmanta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.29921
Pertumbuhan industri dan peningkatan jumlah penduduk berdampak pada peningkatan kebutuhan energi serta peningkatan pencemaran air. Eceng gondok merupakan salah satu gulma yang banyak dijumpai di perairan yang mengalami eutrofikasi. Eceng gondok (Eichhornia crassipes) memiliki kandungan selulosa 64,51% berat kering. Pretreatment dan hidrolisis 13 Kg eceng gondok kering dapat menghasilkan kadar gula 18%. Hasil dari kadar gula tersebut dapat difermentasi menggunakan mikroorganisme (Saccharomyces cerevisiae) sehingga mampu menghasilkan kadar etanol sebesar 5% sebanyak 10 L dan menjadi 95% sebanyak 200 ml setelah destilasi. Hasil uji properties viskositas pertalite 1.42 cSt lebih tinggi dari bioethanol 0.38 cSt sehingga mempengaruhi daya. Hasil unjuk kerja mesin, Daya efektif , Torsi, dan Tekanan efektif rata-rata tertinggi menggunakan E50 bioetanol (50 % bioetanol : 50 % pertalite). Pemakaian bahan bakar spesifik dengan pembebanan 200 watt menunjukkan hasil tertinggi pada E0 pertalite (100% pertalite).
Uji in Vitro Senyawa Antikanker SA 2014 terhadap Aktivitas Fagositosis Sel Makrofag (Mus musculus)
Akhlaqul Karimaa
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.30846
Abstrak—Kanker merupakan kelainan dengan karakteristik mutasi yang mengganggu mekanisme kontrol normal dan berpotensi menghasilkan sel-sel yang berbahaya. Pengobatan yang diterapkan di Indonesia masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan serta menimbulkan efek samping. Senyawa SA 2014 yang diisolasi dari spons laut Cinachyrella anomala dapat berperan sebagai imunomodulator dan berpotensi menjadi alternatif pengobatan kanker. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi senyawa SA 2014 yang paling optimal dalam meningkatkan aktivitas fagositosis sel makrofag. Uji aktivitas fagositosis dilakukan secara in vitro dengan menambahkan senyawa SA 2014 dan doxorubicin sebagai pembanding dengan konsentrasi 10µg/mL, 5µg/mL, 2,5µg/mL, 1,25µg/mL serta 0µg/mL (kontrol) pada sel makrofag mencit, selanjutnya ditambahkan latex beads. Aktivitas fagositosis dinyatakan dalam kapasitas fagositosis dan indeks fagositosis. Hasil penelitian ini yakni senyawa SA 2014 dapat meningkatkan aktivitas fagostosis pada konsentrasi 2,5 µg/mL dengan kapasitas fagositosis serta indeks fagositosis 2 kali lebih besar dibanding kontrol, sedangkan perlakuan doxorubicin dapat meningkatkan kapasitas fagositosis pada konsentrasi 5 µg/mL 1,06 kali lebih besar dibanding kontrol namun tidak dapat meningkatkan indeks fagositosis.
Pola Pertumbuhan Bakteri Ureolitik pada Medium Calcium Carbonat Precipitation (CCP)
Rindan Novanti;
Enny Zulaika
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (273.096 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.36187
Abstrak—Bakteri ureolitik merupakan bakteri yang dapat menghasilkan urease untuk menghidrolisis urea. Bakteri ureolitik menggunakan urea sebagai sumber energi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pola pertumbuhan bakteri ureolitik pada medium CCP. Subkultur isolat bakteri ureolitik dilakukan pada medium CCP agar miring, pengamatan pola pertumbuhan isolat bakteri ureolitik dilakukan pada medium CCP cair selama 18 jam. Semua isolat menunjukkan fase adaptasi pada 0-2 jam, fase eksponensial terjadi pada 4-10 jam, fase stasioner terjadi mulai dari 14 jam dan fase kematian terjadi pada 14-18 jam. Pola pertumbuhan isolat JA1, JB2 dan JA4 menunjukkan pola yang hampir sama, isolat SU1 pola pertumbuhannya hampir sama dengan AK4, dan isolat JB3 menunjukkan pola pertumbuhan yang berbeda dengan isolat lainnya.
Perbandingan Pertumbuhan Bakteri Selulolitik pada Media Nutrient Broth dan Carboxy Methyl Cellulose
Nitra Wahyuningsih;
Enny Zulaika
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (233.909 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.36283
Abstrak—Kurva pertumbuhan merepresentasikan keseluruhan siklus pertumbuhan bakteri, termasuk fase lag, eksponensial, stasioner dan kematian. Kultivasi mikroba untuk mengetahui pola pertumbuhan bakteri dilakukan dengan berbagai media pertumbuhan yaitu media umum dan media selektif. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pola pertumbuhan isolat bakteri indigenous gambut Kalimantan pada media Nutrient Broth (NB) dan media Carboxy Methyl Cellulose (CMC). Kepadatan sel atau optical density (OD) diukur dengan spektrofotometer UV-Vis (600 nm). Pola pertumbuhan isolat bakteri pada media NB lebih baik dibandingkan pada media CMC. Fase log pada media NB optimal pada jam ke - 10 dan 12, sedangkan pada media CMC pada jam ke - 8 dan 9. Pada media NB fase kematian belum nampak hingga jam ke - 24, sedangkan pada media CMC fase kematian nampak pada jam ke - 9.
Aklimatisasi pH dan Pola Pertumbuhan Bacillus cereus S1 pada Medium MSM Modifikasi
Avip Nur Fitria;
Enny Zulaika
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3444.206 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.36788
Abstrak—Pertumbuhan mikrooganisme dipengaruhi oleh sumber karbon, nitrogen, dan faktor lingkungan seperti suhu dan pH. Karbon dan nitrogen digunakan oleh bakteri untuk membentuk material sel dan DNA. Setiap mikroorganisme memiliki pH optimal untuk pertumbuhannya. MSM (Mineral salt medium) merupakan medium minimal sumber karbon dengan komposisi garam – garam mineral esensial bagi mikroorganisme. MSM dapat digunakan sebagai medium yang potensial pada bidang bioremediasi dan bioakumulasi logam berat. Bacillus cereus S1 merupakan isolat bakteri yang diisolasi dari sedimen sungai Kali Mas Surabaya. Penelitian aklimatisasi pH dilakukan dengan empat kondisi pH berbeda yaitu pH 3; 4; 5 dan 6. Pola pertumbuhan pada medium MSM modifikasi dilakukan dengan 6 konsentrasi MSM yang berbeda. Pengukuran kepadatan sel menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan χ = 600 nm. Hasil penelitian menjukkan pH optimum bagi pertumbuhan B. cereus S1 adalah pada pH 6. Hasil inkubasi 96 jam menunjukkan MSM modifikasi pada konsentrasi MSM;NB 1:3 memiliki pola pertumbuhan paling tinggi dibandingkan dengan konsentrasi lain. Kandungan pepton pada MSM;NB akan mempengaruhi akumulasi logam berat jika digunakan dalam penelitian bioremediasi. Sebagai alternatif lain MSM dengan penambahan Glukosa 2% memiliki pola pertumbuhan lebih baik dari 100% MSM dan hampir menyerupai pola pertumbuhan MSM;NB. MSM+Glukosa 2% dapat digunakan sebagai medium pertumbuhan dan akumulasi pada bidang bioremediasi.
Pengaruh Konsentrasi Pupuk P Terhadap Tinggi dan Panjang Akar Tagetes erecta L. (Marigold) Terinfeksi Mikoriza Yang Ditanam Secara Hidroponik
Irma Dwi Rahmawati;
Kristanti Indah Purwani;
Anton Muhibuddin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (483.027 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.37048
Abstrak— Mikoriza adalah sistem perakaran yang bersimbiosis mutualisme dengan jamur. Penanaman dengan sistem hidroponik mampu membuat mikoriza melakukan kolonisasi lebih cepat sehingga dapat memaksimalkan penyerapan nutrisi P untuk membantu pertumbuhan tanaman. Penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi optimum pemberian pupuk P cair terhadap pertumbuhan marigold (Tagetes erecta L.) yang telah terinfeksi oleh mikoriza dengan mengukur tinggi tanaman dan panjang akar. Perlakuan yang digunakan adalah dengan memberikan konsentrasi pupuk P (fosfat) cair yang berbeda-beda pada tanaman Tagetes erecta yang telah diinfeksikan ke mikoriza dengan beberapa konsentrasi yaitu 0 ppm, 5 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm dan 40 ppm secara hidroponik. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Hasil analisis ANOVA one-way menunjukkan bahwa adanya pengaruh perlakuan P cair terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman Tagetes erecta. Perlakuan 5 ppm memberikan pengaruh optimum terhadap tinggi tanaman dan panjang akar tanaman.
Peran VAM (Vesicular Arbuscular Mycorrhiza) terhadap Aktivitas Fotosintetik dan Produksi Osmoprotektan pada Tanaman Kedelai (Glycine Max L.) di Tanah Kering
Lailatus Saidah;
Sri Nurhatika;
Anton Muhibuddin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (288.032 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.37056
Kedelai (Glycine max) merupakan tanaman yang membutuhkan air cukup banyak terutama pada stadium awal pertumbuhan, masa berbunga dan pembentukan serta pengisian polong. Pada umumnya kedelai di Indonesia ditanam pada lahan yang berpotensi mengalami keterbatasan air yang dapat menyebabkan terhambatnya pertumbahan tanaman karena selain menghambat proses fotosintesis juga dapat menghambat proses penyerapan hara dari dalam tanah oleh akar tanaman. Oleh karena itu dibutuhkan agen biologi untuk dapat membantu penyerapan hara yang dibutuhkan tanaman dalam kondisi tercekam dengan menggunakan mikoriza. Tujuan dari penelitian ini adalah dapat mengetahui pengaruh pemberian mikoriza vesikular arbuskular dengan dosis mikoriza sebanyak 2 gram, 4 gram, 6 gram, 8 gram, 10 gram, dan juga kontrol pada tanaman kedelai yang tercekam kekeringan dengan melakukan pengujian pada aktivitas fotosintetik, dan produksi osmoprotektan pada tanaman kedelai di tanah dengan kadar air rendah.Hasil yang didapat yakni pemberian mikoriza memberikan dampak terhadap beberapa parameter yang diuji seperti pada tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun dan juga kadar prolin yakni memiliki p value <0,05.
Potensi Bakteri Koleksi sebagai Biofertilizer
Rizki Nurul Safitri;
Maya Shovitri;
Hidayat Hidayat
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (959.573 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.37137
Biofertilizer mengandung mikroorganisme hidup dengan kemampuan melarutkan unsur makronutrien dan memproduksi fitohormon. Konsorsium bakteri merupakan kumpulan dari 2 atau lebih bakteri yang membentuk suatu komunitas dari genus yang berbeda. Agar mendukung aplikasi biofertilizer diperlukan adanya sinergisme antar bakteri. Pada penelitian ini akan dilakukan uji sinergisme dan uji potensi biofertilizer secara kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sinergisme dan potensi bakteri sebagai biofertilizer. Hasil menunjukkan bahwa dengan deteksi kualitatif keenam isolat bakteri tersebut tidak mampu menambat nitrogen, melarutkan fosfat dan kalium serta tidak dapat memproduksi fitohormon IAA namun dapat bersinergi secara positif.
Aktivitas Enzim Endoglukanase (EG) dan Lignin Peroksidase dari Penicillium sp. Pada Media Pertumbuhan Bekatul dan Tongkol Jagung
Arzulinda Maulidar Rahmasyitha;
Enny Zulaika;
Kuswytasari Kuswytasari
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1084.116 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.37197
Bekatul dan tongkol jagung memiliki kandungan lignin dan selulosa yang tersusun oleh unsur nitrogen dan karbon. Sehingga bekatul dan tongkol jagung dapat digunakan sebagai media pertumbuhan fungi. Beberapa spesies jamur menghasilkan enzim endoglukanase (EG) dan lignin peroksidase (LiP). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas enzim endoglucanase (EG) dan lignin peroksidase (LiP) pada Penicillium sp. dengan media pertumbuhan bekatul dan tongkol jagung. Aktivitas enzim endoglukanase (EG) diukur menggunakan metode DNS, sedangkan aktivitas enzim lignin peroksidase (LiP) diukur dengan metode oksidasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas enzim endoglukanase (EG) dan LiP pada Penicillium sp. yang tertinggi pada media bekatul adalah sebesar 0,135 U/ml dan 32,131 U/ml. Pada media tongkol jagung aktivitas enzim endoglukanase (EG) dan LiP tertinggi adalah sebesar 0,104 U/ml dan 26,695 U/ml.
Degradasi Plastik Oleh Jamur Aspergillus terreus (LM 1021) Pada pH 5 dan pH 6; Serta Suhu 25 dan 35 Celcius
Ulin Maulidatul Rohmah;
Maya Shovitri;
Kuswytasari Kuswytasari
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (551.257 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.37207
Polietilen merupakan polimer penyusun plastik yang sulit didegradasi secara alami, dan berpotensi menjadi limbah lingkungan. Jamur dapat menjadi alternatif dalam mendegradasi plastik. Jamur Aspergillus terreus diketahui memiliki kemampuan dalam mendegradasi plastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH 5 dan 6 serta suhu 250C dan 350C terhadap degradasi plastik oleh jamur A. terreus (LM 1021) selama 20 hari pada Minimal Salt Medium (MSM) dengan potongan plastik. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah berat kering biomassa, persentase degradasi (ED) dan analisis fourier transform infrared (FTIR). Hasil dari penelitian setelah 20 hari inkubasi menunjukkan bahwa biomassa tertinggi didapat pada pH 5 suhu 250C yang mencapai 65 mg. Sedangkan nilai ED mencapai 3,25% pada pH 6 suhu 250C. Analisis FTIR menunjukkan telah terjadi perubahan persentase transmisi peak untuk gugus CH, CH2, dan C=C yang merupakan indikasi adanya perubahan gugus fungsional atau molekul kimia