cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Pengembangan Stasiun Pusat Regional di Manggarai – Jakarta selatan Muhamad Agra Adhiprasasta; Vincentius Totok Noerwasito
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.511 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i1.29233

Abstract

Pemerintah DKI Jakarta berencana untuk merevitalisasi Transportasi umum di Jakarta, dan salah satunya ialah pembangunan jalur-jalur kereta baru. Diperlukan sebuah stasiun yang mampu mengakomodir jalur-jalur baru tersebut, dan salah satunya ialah dengan penetapan kawasan Manggarai sebagai Stasiun sentral regional. Yaitu stasiun yang melayani sarana transit antar jalur, dan sebagai titik pemberhentian kereta antar regional. Diperlukan sebuah metoda rancang yang mampu memenuhi kebutuhan pada stasiun dan pada lingkungan tersebut. Konsep yang terdapat pada stasiun adalah mengutamakan Waktu, Keamanan dan Kenyamanan bagi pengguna, dengan menciptakan sirkulasi yang efisien serta terintegrasi baik secara sistem dan fungsi bagi lingkungan, serta ruang yang memaksimalisasi fasilitas bagi seluruh penggunanya, dengan menciptakan sebuah stasiun yang mampu memaksimalkan efisiensi energi pada lingkungan, mengutamakan kenyamanan bagi setiap penggunanya, dan menjadi sebuah “Pintu Gerbang” Jakarta bagi orang-orang daerah yang menuju Jakarta menggunakan kereta api.
Arsitektur sebagi Media Interaksi Manusia dan Hewan Sayid Rasyid Ridha; Endy Yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.943 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i1.29267

Abstract

Keinginan untuk terhubung dengan alam merupakan salah satu sifat alami yang dimiliki oleh manusia. Namun, seiring dengan berkembangnya wilayah urban, alam yang berada di sekitar manusia mulai tergantikan oleh pemukiman manusia. Hal ini menyebabkan semakin berkurangnya habitat bagi makhluk hidup lainnya, salah satunya adalah hewan. Akibatnya, munculah suatu fenomena yang disebut dengan synanthropization, yaitu masuknya hewan ke dalam lingkungan manusia untuk beradaptasi dengan habitat manusia tersebut. Keberadaan hewan-hewan tersebut ada yang dapat ditolerir oleh manusia, namun ada juga yang justru menjadi masalah bagi manusia. Dalam menanggapi fenomena ini, diperlukan adanya desain suatu kawasan di mana manusia dan hewan tadi dapat hidup bersama tanpa adanya rasa ketidaknyamanan diantaran kedua spesies. Kawasan ini didesain untuk menyediakan habitat bersama bagi hewan dan manusia di mana kedua spesies dapat saling berinteraksi, namun di satu sisi tetap memiliki batas-batas tertentu untuk menjaga area privasi masing-masing spesies
Behaviour Setting dalam Sistem Keamanan Bangunan Sekolah Dasar Yostia Muhaimi; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.857 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i1.30051

Abstract

Unsur keamanan merupakan salah satu element penting dalam suatu perancangan suatu bangunan. Terlebih dalam bangunan publik yakni sekolah. Dalam sistem keamanan yang ada pertimbangan yang diambil kebanyakan memakai cara teknis, seperti teknologi CCTV, dll. Namun ternyata cara ini masih tergolong kurang dalam menanggulangi terjadinya tindak kriminal maupun memberikan perasaan nyaman kepada pengguna. Oleh karenanya diperlukan pertimbangan lain yang menunjang sistem keamanan yang ada. Seperti memasukkan unsur behavior setting dalam sistem yang ada. Behaviour setting merupakan konsep dimana sebuah ruangan terbentuk atas perilaku manusia. Behaviour setting digunakan sebagai alat analisis untuk sebuah desain agar desain tersebut sesuai dengan penggunanya. Dengan adanya behavior setting sistem keamanan yang ada lebih memberikan rasa aman dan juga nyaman bagi penggunanya. Karena sistem yang ada telah sesuai dengan kebutuhan pengguna tanpa memberikan rasa tidak nyaman.
Pengembangan Bandar Udara Harun Thohir Bawean dengan Konsep Termoakustik Chandra Miraz Angkoso Putro; F.X. Tedy Badai Samodra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.033 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i1.29772

Abstract

Semenjak adanya Bandar Udara Harun Thohir, Bawean menjadi lebih mudah untuk dijangkau. Akibatnya, moda transportasi udara akan berkembang.  Sehingga perlu adanya pengembangan Bandar Udara Perintis Harun Thohir, Bawean. Dalam pengembangan desain objek bandar udara ini, fokus terhadap kenyamanan termal dan kenyamanan akustik pengguna. Hal tersebut difokuskan dalam integrasi antara termal dan akustik (termoakusik). Selain itu, dalam desain objek kali ini perlu memperlihatan arsitektur asli bawean sehingga perlu adanya bentuk arsitektur bawean dalam bentuk yang mengkini dengan menggunakan strategi paradigma re-interpreting tradition. Hasil dari desain ini merupakan bandar udara yang nyaman akan aspek termal dan akustik sehingga tercipta integrasi antara kedua aspek tersebut. Selain itu, hasil dari desain bandar udara ini dapat memperlihatkan lokalitasnya dari bentuk, ruang dalam, dan zonifikasi
Desain Hotel Lumbung Cottages 1 Gili Trawangan dengan Konsep Eksplorasi Kebudayaan Suku Sasak Anggrita Yusanti; Anggri Indraprasti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v7i1.29837

Abstract

Indonesia adalah negara yang sangat indah di Asia. Ia dikenal sebagai negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau yang indah. Berdasarkan situs web lonely planet, salah satu pulau yang paling banyak dikunjungi di Inodesia setelah Bali dan Flores adalah Pulau Lombok. Pemerintah Indonesia telah memperbesar rute internasional ke Bandara Internasional Lombok pada tahun 2017, berdasarkan halaman instagram resmi mereka pada bulan Juli 2017. Ketika pengunjung ke Pulau Lombok berkembang, sektor bisnis akomodasi juga tumbuh lebih cepat. Salah satu pelaku bisnis akomodasi adalah hotel Lumbung Cottages 1 yang terletak di Gili Trawangan. Hotel ini memiliki 15 kamar unik yang terinspirasi oleh arsitektur tradisional di Pulau Lombok yang disebut unit lumbung. Hotel ini juga memiliki 2 unit vila untuk pengunjung keluarga. Fasilitas tambahan hotel terdiri dari kolam renang dan area lounge mini bernama beruga .. Visi hotel ini kembali ke alam dan memiliki misi untuk melayani akomodasi yang cocok untuk setiap jenis wisatawan. Peralatan dari metode desain didasarkan pada obvvasi di hotel yang ada, wawancara dengan manajer hotel, dan studi literatur. Berdasarkan data wawancara dan observasi, sebagian besar wisatawan di Gili Trawangan berasal dari remaja backpacker, pasangan yang sudah menikah, dan keluarga. Dan segmentasi pengunjung hotel kebanyakan berasal dari backpacker muda dan pasangan yang sudah menikah. Sebagian besar dari mereka menyukai unit kamar lumbung, dari itu gaya yang unik dan bahan arsitektur alami. Konsep desain yang dipilih adalah "eksplorasi warisan Suku Sasak" karena hotel ini terletak pada interpretasi dari visi hotel. Berdasarkan segmentasi visitir yang kebanyakan datang, hotel harus melayani tipe kamar mewah di unit vila mereka untuk mewujudkan misi hotel. Konsep desain sekunder untuk memfasilitasi tamu hotel merancang lobby hotel dan area lounge.
Parameterisasi dalam Penggabungan Program Arsitektur Markus Parcoyo; Endy Yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.31217

Abstract

Pada saat ini kebutuhan manusia dalam beraktivitas dalam suatu konteks telah menjadi semakin kompleks dan dinamis (gambar 1). Kompleks dan dinamis yang dimaksud adalah, aktivitas manusia semakin beragam dan berubah-ubah seiring waktu. Hal ini memicu perubahan dalam arsitektur yang mana merupakan respon manusia akan pemenuhan kebutuhannya dalam beraktivitas[1], untuk berkembang menjadi kompleks dan dinamis. Perkembangan ini selanjutnya ditandai dengan adanya fenomena menggabungnya dua atau lebih program dalam sebuah arsitektur, crossprograming, transprograming, disprograming [2]. Dalam menggabungkan dua atau lebih program dalam sebuah arsitektur dibutuhkan suatu cara yang efektif sekaligus memberikan hasil yang optimal. Oleh sebab itu, teknik parameterisasi dipilih karena kemampuannya dalam memetakan karakteristik program arsitektur secara terperinci. Teknik ini memetakan setiap karakteristik program arsitektur dengan menggunakan beberapa parameter. Hasil pemetaan data selanjutnya akan digunakan sebagai acuan dasar dalam melakukan perancangan. Pemetaan ini bertujuan untuk memudahkan perancang dalam memberikan respon yang tepat dalam menggabungkan program arsitektur. Sehingga menghasilkan sebuah arsitektur yang kompleks dan dinamis.
Architecture Design Proposal as a Syntax for Elderly Rejuvenation Grace Novita Silalahi; FX.Teddy Badai Samodra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.961 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.34314

Abstract

Every year there are an additional number of elderly. Old age is the phase of human life cycle where the elderly feel it as the life phase with the longest journey. In this phase elderly mostly feel lost part of themselves and cause depression because elderly feeling lost part of themselves.The elderly as an independent person doesn’t want to depend on their child or their family both physically and economically. Architectural object design for productive elderly that still can fulfil their daily needs and they has desire to work again to spent the rest of their life time for aging productively in a community to work and for life.The proposed architectural object is SOHO (Small Office Home Office) for productive elderly and youth can both learning from each other and working together in one community.Biomimetic from beehive ecosystem level to approach behavior setting syntax for elderly rejuvenation. Beehive ecosystem level inspired how to create a sustainable ecosystem that can lead elderly rejuvenation by using space syntax that suitable with elderly behaviour setting.
Underground Museum: Penyelesaian Perilaku Menyimpang di Kawasan Alun - alun dengan Arsitektur Perilaku Mukhammad Haniv Vairuz; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.933 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.32401

Abstract

Manusia adalah objek yang menarik jika dihubungkan dengan arsitektur. Pasalnya setiap individu memiliki keinginan dan kebutuhan yang berbeda - beda , hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti perkembangan zaman, gender, usia, hingga kebangsaannya. Sedangkan arsitektur dituntut untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang tak lain adalah manusia, oleh karena itu hal tersebut menarik untuk dibahas melalui sudut pandang arsitektur. Dalam konteks kawasan alun - alun terdapat individu maupun beberapa kelompok pengguna yang memanfaatkan alun - alun sebagai sarana bersantai bersama keluarga, berolahraga sampai mengadakan event. hal tersebut terus berubah seiring perkembangan zaman dengan memperhatikan norma - norma yang ada. Mulai dari alun - alun sebagai tempat untuk ritual keagamaan, simbol kekuasaan sampai menjadi ruang publik yang bebas diakses dan digunakan oleh siapa saja. Perubahan sifat dan fungsi alun - alun tak luput dari campur tangan penggunanya dan lingkungan sekitar dimana pola perilaku pengguna dan image sakral bangunan sekitar dalam menggunakan alun - alun yang mampu merubah sifat dan fungsi alun - alun menjadi sebuah tempat yang bisa dinikmati semua kalangan. Tidak memandang sebelah mata juga kepada pengguna yang keliru dalam mengartikan perkembangan zaman dan fungsi alun - alun, seperti memanfaatkan alun - alun sebagai sarana untuk berprilaku asusila di tempat umum. Perilaku menyimpang pada alun - alun tersebut menimbulkan berbagai respon termasuk yang sangat terlihat adalah peran lingkungan sekitar dalam hal ini ke-sakral-an dari kawasan alun - alun yang sudah luntur sehingga mendorong pengguna melakukan perbuatan tersebut. Arsitektur perilaku dirasa mampu mengatasi permasalahan tersebut karena dalam perancangannya yan gmenitikberatkan pada pola perilaku manusia dengan arsitektur dan lingkungannya baik dalam hal bertentangan maupun bersanding.
Pendekatan Behavior Setting pada Penataan Lingkungan Kampung Akuarium dalam Desain Rumah Susun Dhisa Yustiara; Rullan Nirwansjah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7590.882 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33112

Abstract

Behavior Setting atau pola perilaku adalah sistem sosial berskala kecil, dibatasi oleh waktu dan tempat, terdiri dari users dan benda – benda fisik dimana ruang dan waktu sebagai batas identifikasi pola perilaku dan user dan objek merupakan komponen utama karena user-lah yang membuat perilaku itu ada.[2] Perubahan lingkungan yang terjadi pada kondisi fisik yang baru merupakan salah satu persoalan yang harus diselesaikan, lingkungan baru berarti kebiasaan baru juga. Mendengar kata perilaku menunjuk pada manusia dengan aksinya, aktivitas secara fisik, berupa interaksi antar sesama manusia ataupun dengan lingkungan fisiknya. Lingkungan rumah susun akan menjadi hal yang berbeda dan perlu diperhatikan sebagai pembandingnya dengan lingkungan kampung yang terbiasa dengan kondisi rumah tapak. Konteks rumah susun disini walau secara bentuk akan berbeda tetapi bagaimana perilaku warga kampung Akuarium tetap sama. Lingkungan sama tetapi objek huniannya berbeda.
Human Behavior Terhadap Objek Arsitektural Bagi Anak Autistik Gabyawan Arioseno; Collinthia Erwindi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1621.089 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.32449

Abstract

Setiap tahun di seluruh dunia, tingkat autisme mengalami peningkatan. Awal tahun1990-an, kasus autisme masih berkisar pada perbandingan 1 : 2.000 kelahiran. Adapun permasalahan-permasalahan yang timbul saat meningkatnya jumlah anak pengidap autis. Objek rancang yang dibuat bertujuan untuk mewadahi anak pengidap autis yang akan diperbaiki atau dilatih perilakunya sehingga dituntuk anak pengidap autis tidak takut dengan dunia luar. Metodologi yang dipakai untuk menyelesaikan permasalahan anak pengidap autis yaitu dengan cara human behavior dikarenakan untuk merancang diperlukan ilmu dari apa saja perilaku yang tidak disukai oleh anak pengidap autis dan apa saja perilaku yang disukai oleh anak pengidap autis tersebut. Awalnya anak pengidap autis harus diperkenalkan image dunia luar supaya mereka mengenalnya lebih dekat dan tidak cenderung mengucilkan diri. Sehingga objek yang diperuntukkan untuk anak autis dituntut untuk melatih mereka agar mereka tidak lagi mengucilkan diri atau malu terhadap lingkungan sekitarnya.