Articles
2,279 Documents
Penerapan Arsitektur Ekologis pada Bangunan Resort Tepi Pantai Karimunjawa
Kurniawati Fadhilah;
Muhammad Faqih
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (788.317 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.32761
Kepulauan Karimunjawa merupakan salah satu kecamatan yang terletak di wilayah Kabupaten Jepara. Pariwisata di Kepulauan Karimunjawa mempunyai prospek yang baik dan masih dapat dikembangkan secara lebih optimal. Objek wisata yang beragam menjadi salah satu potensi dalam sektor pariwisata di Kepulauan Karimunjawa sehingga tergolong sebagai daya tarik dalam menghasilkan devisa negara. Keindahan yang menakjubkan dari pulau-pulau dan pantai-pantai yang terdapat di Karimunjawa diprediksi akan semakin diminati wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain objek wisata yang beragam, Kepulauan Karimunjawa menawarkan keindahan alam salah satu diantaranya adalah Terumbu Karang. Pengembangan potensi daya guna lahan yang ada saat ini belum maksimal, hal ini terkait dengan belum terpenuhinya fasilitas akomodasi bagi wisatawan. Namun seiring meningkatnya kegiatan pariwisata dengan aktivitas yang tidak bertanggung jawab akan kelestarian lingkungan, secara langsung dapat memberi dampak buruk terhadap kerusakan terumbu karang.Pendekatan desain pada resort adalah arsitektur biomorfik yang mengambil ide-ide bentukan dari makhluk hidup di alam yang kemudian diterapkan pada rencana tapak. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian dan hal-hal mendasar mengenai resort, tipe dan syarat hotel, sejarah dan perkembangan hotel, pedoman perencanaan hotel resort dan tinjauan arsitektur biomorfik. Berdasarkan keseluruhan aspek-aspek tersebut dapat saling mempengaruhi dalam menghasilkan perancangan resort dengan konsep arsitektur ekologis. Konsep Ekologis diwujudkan dengan perancangan resort yang memperhatikan lingkungan, melalui pola tatanan massa bangunan, konsep penghawaan dan pencahayaan bangunan, pemilihan material yang ekologis serta sistem sanitasi pada resort. Resort difasilitasi dengan laboratorium terumbu karang sebagai sarana penelitian bagi para peneliti dan pecinta alam.
Konsep Blue Design dengan Sistem Rainwater Collects pada Apartemen High End
Putri Wulan Suci;
Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (650.685 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.32780
Dalam kurun waktu terakhir, Surabaya telah melakukan berbagai pengembangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seiring dengan meningkatnya jumlah populasi penduduk. Pengembangan kawasan properti, terutama kelas menengah atas, di kota Surabaya bergeser ke wilayah barat. Hal ini terlihat dari makin banyaknya pengembang besar yang membangun di Surabaya Barat dan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan premium. Di sisi lain, dengan semakin terus bertambahnya jumlah penduduk, daya dukung lingkungan (air dan lahan) yang ada tetap sama atau bahkan lebih buruk. Kita sebagai manusia harus mampu mengikuti daya dukung lingkungan (air dan lahan) atau bahkan bisa membuatnya lebih baik untuk memenuhi kebutuhan dan keberlangsungan hidup. Dengan pendekatan Blue Design diharapkan memberikan solusi sistem pemakaian air hujan untuk memenuhi kebutuhan air yang saat ini semakin menipis yaitu dengan menangkap air hujan lalu disaring dan kemudian dimanfaatkan kembali untuk keperluan air sehari-hari. Desain apartemen mengusulkan dan mengolah air hujan secara maksimal sehingga berdampak positif pada bangunan dan lingkungan, konsep ekologi yang dicetuskan oleh Ken Yeang diterapkan pada apartemen dianggap sesuai menjadi solusi kebutuhan air tawar.
Penerapan Vertical Harvesting dan Rainwater Harvesting Pada Apartemen Untuk Mengurangi Fenomena Urban Heat Island di Jakarta
Farizan Putri Andini;
Muhammad Faqih
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (975.974 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.32811
Kota Jakarta merupakan kota terbesar di Indonesia dengan luas sekitar 661, 52 km². Sehingga sampai saat ini, Jakarta sangat marak akan urbanisasi yang menyebabkan masalah kepadatan penduduk. Dengan letaknya yang berada di daerah tropis serta memiliki angka kepadatan penduduk yang tinggi terciptalah masalah yang serius yaitu urban heat island (UHI). Salah satu penyebab terjadinya urban heat island ini adalah berkurangnya lahan hijau yang dijadikan bangunan yang dapat meningkatkan temperatur perkotaan karena tuntutan bertambanya penduduk di Jakarta, khususnya kawasan Kelapa Gading. Sehingga, pada artikel ini akan dibahas mengenai perancangan apartemen dengan pendekatan biophilic yang ramah lingkungan agar tercipta keterkaitan antara alam, manusia dan bangunan itu sendiri, serta dapat memberikan jawaban dalam mengurangi tingginya temperatur (fenomena urban heat island) pada pusat perkantoran dan daerah perumahan di kota Jakarta.Selain dapat mengurangi fenomena urban heat island, sebagaimana konsep dari perancangan apartemen tersebut yaitu sebagai hutan Jakarta, rancangan juga berguna untuk mengurangi beban kebutuhan air, menghasilkan pangan, sebagai tempat tinggal untuk berlindung (papan) dan sumber penghidupan lainnya bagi penghuni. Sehingga, untuk memenuhi konsep tersebut, apartemen dengan ketinggian ±20 lantai ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang meningkatkan kualitas lingkungan. Beberapa diantaranya seperti, balkon yang tersebar di fasad bangunan sebagai media penanaman pohon-pohon penghasil O2, organic market untuk distribusi sumber pangan, ruang terbuka hijau yang cukup luas untuk menyerap dan menampung air hujan, dsb.
Hunian Vertikal dengan Konsep Waterfront Architecture
Isnaeni Nur Chasanah;
Dewi Septanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.32916
Bidang ekonomi menjadi salah satu faktor adanya urbanisasi. Akibatnya kaum urban harus menetap di sekitar tempat mereka bekerja dan membuat daerah perkotaan menjadi kawasan padat. Tingginya permintaan lahan untuk permukiman tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan sehingga masyarakat mencari alternatif lahan kosong untuk tinggal misalnya bantaran rel, bantaran sungai, dan pinggiran kota. Bantaran sungai yang merupakan lahan ilegal menjadi salah satu berkembangnya kawasan kumuh karena dijadikan halaman belakang dari suatu kawasan. Hal ini seperti Sungai Kalimas yang dahulu kala menjadi pusat peradaban namun berangsur mengalami kemunduran dan penurunan citra kualitas sungai. Permasalahan diatas membutuhkan respon yaitu sebuah hunian vertikal di tepi sungai untuk menyiasati sempitnya lahan yang memiliki fasilitas untuk mengembangkan keterampilan penghuninya. Menggunakan pendekatan arsitektur perilaku, gagasan ini berusaha memindahkan masyarakat dari hunian horizontal menjadi hunian vertikal. Sebagai bangunan yang berada di tepi Sungai Kalimas, konsep waterfront architecture digunakan agar dapat selaras dengan lingkungan dan menjadikan sungai sebagai muka depan suatu kawasan. Perwujudan muka depan dari kawasan ini dengan adanya water-enjoyable-space yaitu zona transisi yang menjadikan tepian sungai menjadi ruang bersama dengan harapan menjadi muka depan bagi kawasan tersebut.
Ekoturisme: Arsitektur Dalam Konservasi Satwa
Naufal Aditya;
Wahyu Setyawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (633.49 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33007
Indonesia adalah wilayah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Salah satunya adalah faunanya. Terdapat 300 jenis satwa liar dan berbagai satwa endemik yang hanya ada di Indonesia. Namun Indonesia juga menjadi negara dengan daftar satwa yang terancam punah. Terdapat 184 jenis mamalia, 119 jenis burung, 32 jenis reptil, 140 jenis ampibi yang terancam punah di Indonesia. Jika dibiarkan maka bukan tidak mungkin satwa satwa ini manjadi benar benar punah. Untuk menyelamatkan satwa liar salah satunya adalah dengan menyelamatkan tempat tempat liar. Ini sering disebut dengan pelestarian In – Situ. Pelestarian ini ditekankan agar suatu jenis satwa di habitat aslinya tetap terjaga dan terpelihara. Bentuk dari pelestarian ini dapat berupa hutan lindung, taman nasional, dan suaka margasatwa atau yang dapat disebut pusat penangkaran satwa. Pusat Penangkaran yang baik dapat membuat kita jatuh cinta pada satwa dan habitatnya. Mereka menghibur, mendidik, menginspirasi dan bisa menimbulkan percikan konservasi. Mereka membawa kita ke dalam dunia satwa dan habitatnya. Laporan ini menganalisis apa peran dari Arsitektur agar dapat mendorong percikan konservasi ini pada manusia agar dapat menjaga keanekaragaman hayati satwa. Pada makalah kali ini studi kasus yang diambil adalah fasilitas penangkaran Sumatran Rhino Sanctuary yang terdapat di Sumatera fasilitas ini merupakan pusat perkembangbiakan untuk spesies Badak Sumatera.
Pendekatan Theory of Affordances pada Oblique Coworking Space
Anisa Claudina;
Endy Yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (309.254 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33144
Posisi stasioner horizontal dan vertikal tidak lagi sesuai dengan dinamika umat manusia. Melihat hal ini Claude Parent dan Paul Virilio kemudian mengkonseptualisasikan tatanan arsitektural baru dalam apa yang mereka sebut dengan the function of the oblique. Gagasan bidang miring ini diharapkan dapat men-trigger pergerakan manusia sehingga merangsang manusia untuk beradaptasi dan merasakan hubungannya dengan lingkungan. Hubungan ini dapat terwujud dengan pendekatan Theory of Affordances. Theory of Affordances akan mencari proses persepsi terhadap objek dengan memperhatikan sifat relatif lingkungan terhadap manusia, termasuk di dalamnya kemungkinan kemiringan bidang yang sesuai. Hal ini bertujuan untuk memunculkan keterkaitan dinamis antara persepsi manusia dan karakteristik desain lingkungan yang spesifik. Pendekatan ini dilaksanakan pada metode desain yang terdiri dari blurring sebagai conceptual tools; kajian preseden, pembacaan aktivitas terhadap bidang dan alur pengguna sebagai programatic tools; dan integrasi kebutuhan ruang dan besaran, persyaratan terkait ruang, dan zona pengguna sebagai formal tools.
Perancangan Ruang Kerja dengan Konsep Nature Blend
Margiana Belinda Amaliya;
Collinthia Erwindi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (387.879 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33145
Masyarakat pekerja di kota besar selalu disibukkan dengan deadline penyelesaian tugas dan tuntutan peran di tempat kerja sehingga membuat stres menjadi suatu faktor yang hampir tidak mungkin untuk dihindari. Stres kerja tidak hanya ditimbulkan karena beban kerja yang berat, namun juga pengaruh lingkungan kerja. Namun, kondisi dan suasana lingkungan kerja pada saat ini kurang memperhatikan kondisi kenyamanan dan psikologis pekerja. Keterikatan manusia dengan alam yang dijelaskan dalam ilmu biofilia memiliki manfaat, salah satunya dapat merespon stres. Oleh karena itu perancangan ini menawarkan lingkungan kerja yang membaur dengan alam (nature blend), yaitu dengan menghadirkan dan mendekatkan alam pada lingkungan kerja sehingga diharapkan nuansa alam dapat terasa saat bekerja. Konsep nature blend ini diharapkan dapat merespon masalah stres yang terjadi di tempat kerja.
Perancangan Permukiman pada Lahan Terbatas
Anggun Fresiani;
Muhammad Faqih
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (261.453 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33298
Kota yang inklusif merupakan kota dengan segala macam yang ada di dalamnya dapat dijangkau dan dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Hal tersebut menjadi penting karena fasilitas kota seharusnya dapat dirasakan oleh segala golongan. Namun faktanya, mengenai inklusifitas masih harus diciptakan di banyak bidang, salah satunya mengenai permukiman yang berada di bantaran rel kereta api Sidotopo. Penelitian yang merupakan bagian dari penyelesaian masalah ini mengacu pada tujuan SGDs nomor 11 yang mengusung tentang kota dan hunian inklusif. Masalah yang muncul utamanya mengenai lahan terbatas, privasi, kebutuhan ruang dan pemenuhan lingkungan sehat. Di dalamnya, terdapat lima tahapan design framework [1] dengan menggunakan pendekatan perilaku. Pattern-based design method digunakan sebagai alat eksplorasi desain untuk mencapai efektivitas dalam penerapan pada hunian dan lingkungan yang inklusif. Tujuan dari perancangan ini yaitu untuk mewujudkan permukiman inklusif yang dapat mewadahi fasilitas dan kebutuhan, baik ruang maupun fisik pada lahan terbatas untuk kalangan masyarakat yang tidak dapat menjangkau secara individu. Dengan masalah dan tujuan tersebut, penyelesaian yang dihasilkan yaitu terpenuhinya standar fasilitas lingkungan hunian dengan efisiensinya; terakomodasinya program aktivitas pada ruang hunian, dengan terbentuknya empat tipe hunian yang ukuran luasannya berbeda pada setiap tipe.
Placemaking dalam Perancangan Rumah Susun Sewa
Kurnia Manis Rumaningsih;
Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.182 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33313
Rumah menjadi kebutuhan dasar seluruh manusia untuk membina keluarga dalam rangka menjaga kelangsungan hidup. Kebutuhan perumahan di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang belum memiliki tempat tinggal akibat dari kurang tersedianya pasokan rumah. Dari permasalahan tersebut, muncul sebuah fenomena sosial yang disebut Backlog. Backlog merupakan sebuah kondisi yang terjadi ketika jumlah rumah tidak dapat mencukupi kebutuhan rumah per kepala keluarga. Backlog di perkotaan salah satunya dipengaruhi oleh laju urbanisme yang tidak dapat dikendalikan secara penuh. Akibatnya, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang melakukan kegiatan urbanisasi sulit mendapatkan tempat berhuni di lahan perkotaan. Atas permasalahan ini, diperlukan sebuah solusi hunian yang dapat memecahkan permasalahan tersebut. Hunian sewa hadir sebagai salah satu solusi untuk mengurangi dampak negatif yang tumbuh di masyarakat akibat kurangnya kemampuan masyarakat secara ekonomi. Hunian sewa dianggap sesuai untuk menyelesaikan masalah ini karena sistem dalam penyewaan hunian dapat disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. Permasalahan lain yang dijumpai adalah kurangnya lahan perumahan di tanah kota. Oleh karena itu untuk memecahkan dua permasalahan ini, usulan yang diberikan adalah menciptakan hunian susun sewa. Dengan menggunakan metode Architecture Programming oleh Donna P. Duerk, tahapan pada perancangan ini adalah melalui pengumpulan fakta, mencari permasalahan, penentuan tujuan, penentuan syarat yang diperlukan dalam perancangan, serta menciptakan konsep. Pendekatan perilaku dipilih karena perancangan menitikberatkan pada pola perilaku yang terjadi pada Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Desain merupakan hunian yang mampu memberikan aksesibilitas yang mudah cepat. Selain itu, untuk menunjang terciptanya kehidupan sosial yang harmonis, desain menyediakan ruang-ruang yang dapat diakses oleh pengguna bangunan sebagai sarana bertemu, berkumpul dan bersosialisasi serta lokasi-lokasi yang mampu memberikan sarana rekreatif.
Kompleks Pengembangan Garam Terpadu Surabaya
Irfan Falih Mahdi;
Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5414.268 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33360
Surabaya merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia yang berada di daerah pesisir. Sehingga Surabaya berpotensi untuk menjadi daerah penghasil garam yang besar. Namun berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia dan khusunya Surabaya sekarang yang sedang mangalami krisis garam. Arsitektur bioklimatik mengajarkan kita akan pentingnya merespon iklim agar arsitektur yang kita rancang dapat sesuai dengan kebutuhan. Diperlukannya metode yang menerapkan prinsip-prinsip arsitektur bioklimatik yaitu dapat memanfaatkan potensi-potensi sekitar site dengan memperhatikan konfigurasi bentuk massa bangunan dan perencanaan tapak, orientasi bangunan, ruang transisional, desain pada dinding, hubungan terhadap lansekap. Program pada rancangan ini memliki program utama yakni Industri, Hunian, serta Edukasi. Seluruh program tersebut akan disatukan dan memiliki integrasi satu sama lain. Program-program tersebut di rancang untuk dapat menjawab permasalahan yang sedang terjadi dan diharapkan kepedulian dan partisipatif dari berbagai pihak dapat menjaga eksistensi garam di Surabaya.