cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Keanekaragaman Burung di Beberapa Tipe Habitat di Bentang Alam Mbeliling Bagian Barat, Flores Nur Sita Hamzati; Aunurohim Aunurohim
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1154.695 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3856

Abstract

Kondisi kepulauan di kawasan Wallacea yang terisolasi oleh laut menyebabkan banyaknya burung dikategorikan endemik dan sebaran terbatas. Flores merupakan salah satu pulau yang menyumbang burung endemik terbanyak, dimana empat jenis diantaranya ditemukan di bentang alam Mbeliling. Penelitian di bentang alam Mbeliling bagian barat bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman burung pada empat tipe habitat yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah transek, yaitu menjelajahi semua tipe habitat berdasarkan jalur yang terdapat di Desa Golomori. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tingkat keanekaragaman burung di habitat mangrove, savana dan kebun campuran termasuk tinggi dengan nilai indeks keanekaragaman 3,497; 3,324 dan 3,262. Sedangkan keanekaragaman burung di hutan hujan termasuk sedang dengan nilai indeks keanekaragaman 2,664, karena adanya Kakatua-kecil Jambul-kuning (Cacatua sulphurea) dengan  jumlah yang mendominasi dibandingkan jenis yang lain
Pengaruh Habitat Termodifikasi Lahan Padi Sawah (Oryza Sativa) Menggunakan Trap Crop terhadap Komposisi dan Tingkat Keanekaragaman Arthropoda Herbivora Najwa Najwa; Indah Trisnawati Dwi Tjahjaningrum
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.459 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v2i3.5168

Abstract

Arthropoda herbivora banyak ditemukan di berbagai habitat, termasuk ekosistem padi sawah. Arthropoda herbivora yang berpotensi hama dapat menimbulkan kerugian bagi para petani. Oleh karena itu digunakan modifikasi habitat pada ekosistem sawah dengan penggunaan trap crop berupa padi varietas ciherang membentuk perimeter mengelilingi main crop tanaman padi varietas IR-64 dan akan dibandingkan dengan lahan padi tanpa menggunakan modifikasi habitat. Kedua lahan pertanian tersebut memiliki perbedaan, oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengetahui  pengaruh habitat termodifikasi lahan padi sawah (oryza sativa) menggunakan trap crop terhadap perbedaan komposisi dan tingkat keanekaragaman arthropoda herbivora. Pengambilan sampel Arthropoda herbivora dilakukan menggunakan sweep net setiap 10 HST (Hari Setelah Tanam) sampai dengan panen disesuaikan dengan fase pertumbuhan padi. Komposisi taksa dari kedua lahan baik main crop maupun lahan dengan modifikasi habitat memiliki kehadiran beberapa taksa yang berbeda, dan dominansi peran yang berbeda setiap fase pertumbuhan padi. Berdasarkan indeks Shannon-wiener nilai keanekaragaman di kedua lahan pada setiap fase pertumbuhan padi adalah tergolong sedang. Indeks kesamaan komunitas Morishita Horn antara kedua lahan didapatkan nilai 0,75
Pengaruh Habitat Termodifikasi Menggunakan Serai Terhadap Serangga Herbivora dan Produktivitas Padi Varietas IR-64 di Desa Purwosari, Pasuruan Siti Arofah; Indah Trisnawati Dwi Tjahjaningrum
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.755 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v2i3.5169

Abstract

Jika fragmentasi terjadi pada ekosistem pertanian, yaitu monokultur yang luas menjadi pertanaman polikultur, fragmentasi dapat meningkatkan keanekaragaman serangga, terutama kelompok musuh alami. Oleh karena itu upaya konservasi seperti manajemen habitat lahan pertanian, menjadi sangat penting dilakukan untuk mempertahankan keberadaan musuh alami tersebut, sehingga keberadaan serangga herbivora yang berpotensi menjadi hama yang dapat menurunkan produktivitas padi dapat dikendalikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh habitat termodifikasi menggunakan serai terhadap serangga herbivora dan produktivitas padi varietas IR-64 di desa Purwosari, Pasuruan. Pengambilan sampel serangga dan pengukuran pertumbuhan padi dilakukan setiap 10 hari sekali. Kesimpulan dari penelitian ini adalah modifikasi habitat menggunakan serai hanya berpengaruh terhadap serangga herbivora famili Alydidae (P=0.04) namun tidak berpengaruh nyata terhadap famili yang lainnya yang ditunjukkan dengan nilai P>0.05, serta tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produktivitas padi varietas IR-64 yaitu pada parameter tinggi tanaman, lebar daun, jumlah anakan, jumlah bulir berisi dan jumlah bulir kosong memliki nilai P>0.05
Pengaruh Modifikasi Habitat Padi Varietas IR 64 dengan Aplikasi Trap Crop Menggunakan Serai Wangi (Andropogon nardus) Teerhadap Komposisi, Kelimpahan, dan Keanekaragaman Arthropoda Erna Rofidah; Indah Trisnawati Dwi Tjahjaningrum
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1168.205 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v2i3.5170

Abstract

Trap crop merupakan teknik yang digunakan untuk menarik serangga berpotensi hama agar tidak menyerang tanaman utama. Aplikasi menggunakan sereh wangi untuk modifikasi habitat pada lahan padi dapat mempengaruhi komposisi, kelimpahan dan keanekaragaman Arthropoda. Serai wangi ditanam 20 hari sebelum tanaman utama (padi varietas IR 64). Penelitian ini dilakukan di Pasuruan, Jawa Timur. Sampel diambil menggunakan sweep net pada fase padi vegetatif, reproduktif dan pemasakan dan menggunakan yellowpan trap pada fase padi reproduktif dan pemasakan. Sampling dilakukan dari Desember 2012 hingga Maret 2013. Tiap sampel diidentifikasi di laboratorium zoologi jurusan Biologi ITS.  Penelitian tentang keanekaragaman Arthropoda pada habitat yang berbeda dengan membandingkan kekayaan spesies berguna untuk mendeterminasikan indikator ekologi dari tiap habitat. Arthropoda yang tertangkap kemudian dibagi menjadi herbivor, dan musuh alami (parasitoid dan predator) dan detritivor Kemudian menghitung Indeks keanekaragaman menggunakan indeks Shannon Wiener (H’), Evenness (E) dan kesamaan speies (Imh). Komposisi taksa terutama Ordo Hymenoptera pada lahan trap crop dan Ordo Diptera pada lahan kontrol. Jika dilihat dari tiap fase pertumbuhan padi komposisi spesies terutama herbivora terpengaruh oleh adanya trap crop yaitu pada fase vegetatif dan reproduktif. Komposisi berdasarkan peran fungsional Arthropoda tidak berpengaruh terhadap aplikasi trap crop. Kelimpahan herbivora berpengaruh pada lahan trap crop dibandingkan lahan kontrol. Lahan dengan aplikasi trap crop menggunakan tanaman sereh wangi (Andropogon nardus) tidak terpengaruh terhadap nilai keanekaragaman jenis (H’) namun berpengaruh pada nilai kemerataan jenis (E) nilai Imh pada kedua lahan menunjukkan nilai kesamaan komunitas yang tinggi
Konsentrasi dan Lama Pemaparan Senyawa Organik dan Inorganik pada Jaringan Insang Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) pada Kondisi Sub Lethal Rennika Rennika; Aunurohim Aunurohim; Nurlita Abdulgani
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.703 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3931

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan lama pemaparan senyawa organik dan inorganik pada jaringan insang ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) di kondisi sub lethal. Penelitian ini meliputi uji pendahuluan penentuan konsentrasi PbCl2 dan Diazinon 600 EC serta uji toksisitas sub lethal. Hasil dari uji pendahuluan penentuan konsentrasi PbCl2 dan Diazinon 600 EC adalah LC50 dari Diazinon sebesar 2,491  mg/L dan LC50 dari PbCl2 sebesar 313,232 mg/L. Variasi konsentrasi yang digunakan kedua zat adalah 0%; 2,5%; 5%; dan 10% dari LC50. Sehingga variasi konsentrasi Diazinon yang digunakan toksisitas sub lethal adalah 0 mg/L, 0,0625 mg/L, 0,125 mg/L, dan 0,25 mg/L. Dan variasi konsentrasi PbCl2 yang digunakan toksisitas sub lethal adalah 0 mg/L, 7,83 mg/L, 15,66 mg/L, dan 31,32 mg/L. Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) didedahkan pada akuarium selama 30 hari. Insang diambil pada hari ke 10, 20, dan 30. Insang dijadikan preparat histologi dan preparat insang diamati dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran lensa okuler 40x. Pengamatan preparat dilakukan secara semikuantitatif skoring. Hasil skoring dianalisa dengan menggunakan Anova Two-way untuk mengetahui interaksi antara konsentrasi dan lama pemaparan terhadap kerusakan insang. Hasil Anova Two-way menunjukkan bahwa interaksi antara konsentrasi dan lama pemaparan tidak berpengaruh terhadap semua jenis kerusakan insang. Konsentrasi Diazinon yang berpengaruh terhadap kerusakan edema, hiperplasia dan nekrosis berturut-turut adalah 0,125 mg/L, 0,25 mg/L, dan 0,25 mg/L. Sedangkan konsentrasi PbCl2 yang berpengaruh terhadap kerusakan hiperplasia, fusi, dan nekrosis adalah 31,32 mg/L. Sedangkan lama pemaparan kedua zat yang berpengaruh terhadap hyperplasia adalah hari ke 20
Respon Kalus Beberapa Varietas Padi (Oryza sativa L.) pada Kondisi Cekaman Salinitas (NaCl) secara In Vitro Ida Wilujeng Abidah Ubudiyah; Tutik Nurhidayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.053 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3936

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon kalus padi (varietas Ciherang, Sembada 168, dan Banyuasin) pada tahap induksi kalus terhadap masing-masing faktor seleksi. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial 2 faktor. Faktor pertama adalah 3 varietas terdiri dari Varietas Ciherang, Sembada 168, dan Banyuasin. Faktor kedua adalah 4 konsentrasi NaCl, yaitu 0 mM, 50 mM, 150 mM, dan 250 mM. Hasil Uji ANOVA menunjukkan bahwa Interaksi antara varietas dan konsentrasi NaCl memberikan pengaruh terhadap respon kalus beberapa varietas Padi (Oryza sativa L.) pada tahap induksi kalus, meliputi pertambahan diameter dan massa kalus. Kalus bertahan hidup hingga konsentrasi NaCl paling tinggi (250 mM) dengan skoring morfologi yang semakin kecil pada konsentrasi NaCl yang semakin tinggi
Efektifitas Pertumbuhan Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) dengan Variasi Media Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria) dan Sabut Kelapa (Cocos nucifera) Hanum Kusuma Astuti; Nengah Dwianita Kuswytasari
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.548 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3955

Abstract

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis jamur kayu yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Nutrisi utama yang diperlukan oleh jamur tiram putih antara lain karbohidrat (Selulosa, Hemiselulosa dan Lignin), protein, lemak, mineral dan Vitamin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah sabut kelapa kering (Cocos nucifera) dapat menjadi media pertumbuhan jamur tiram putih dan jumlah sabut kelapa kering (Cocos nucifera) yang paling efektif untuk pertumbuhan jamur tiram putih. Perlakuan media jamur tiram putih yang diberikan merupakan perbandingan serbuk kayu Sengon : sabut kelapa, jumlahnya yaitu (100%), (90%:10%), (80%:20%), (70%:30%), (60%:40%), (50%:50%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan miselium terbaik pada kultur F1 terjadi pada kadar sabut kelapa 50% selama 24 hari sebesar 9,75 cm.  Pertumbuhan miselium pada kultur F2, yang paling mendekati kontrol adalah 20% sabut kelapa dengan hasil 9,875 pada waktu inkubasi 18 hari. Pada kultur F3, pertumbuhan miselium yang paling mendekati kontrol adalah perlakuan 50% sabut kelapa yaitu 16,75 cm dalam waktu inkubasi 30 hari. Umur panen terbaik ditunjukkan pada kadar media 100% serbuk kayu Sengon dengan umur 65,75 hari, disusul dengan perlakuan 50% sabut kelapa dengan umur 70,25 hari. Berat panen terbaik ditunjukkan pada perlakuan 50% sabut kelapa dengan berat panen 128,75 gram
Kecepatan Filtrasi Kerang Hijau Perna viridis terhadap chaetoceros sp dalam Media Logam Tercemar Kadmium Putri Liliandari; Aunurohim Aunurohim
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.69 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3957

Abstract

Kerang Hijau mendapatkan makanannya dengan cara menyaring partikel plankton dari perairan. Dengan cara mendapatkan makanan yang demikian memungkinkan logam berat yang terlarut didalamnya ikut masuk kedalam tubuh kerang hijau. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh logam berat Cd terhadap kecepatan filtrasi kerang hijau terhadap Chaetoceros sp. sebagai pakan kerang hijau. Perlakuan dosis konsentrasi logam berat kadmium yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0 ppm (kontrol), 1 ppm, dan 2 ppm.  Kecepatan filtrasi kerang hijau terlihat dari pengamatan kepadatan sel Chaetoceros sp. tiap 4 jam selama penelitian. Penelitian berskala laboratorium ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan dan masing masing konsentrasi dilakukan 3 kali ulangan. Untuk mengetahui adanya perbedaan kecepatan filtrasi terhadap konsentrasi kadmium yang berbeda maka diuji dengan Anova one way. Didapatkan hasil semakin tinggi konsentrasi kadmium maka semakin tinggi kecepatan filtrasi dengan nilai kecepatan filtrasi untuk tiap konsentrasi kontrol (0 ppm), 1 ppm, dan 2 ppm berturut-turut sebesar 64,90 L/jam; 105,23 L/jam; dan 299,05 L/jam. Namun, berdasarkan uji Anova menunjukkan p=0.694 yang berarti konsentrasi kadmium tidak berpengaruh terhadap peningkatan kecepatan filtrasi kerang hijau
Respon Pertumbuhan Embrio Somatik Kedelai (Glycine max) Varietas Argomulyo dan Wilis Terhadap Cekaman NaCl Secara In-vitro Rafika Lailiyatul Kurnia Sari; Dini Ermavitalini
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.392 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3961

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan embrio somatik kedelai varietas Argomulyo dan Wilis sebagai respon interaksi antara varietas dan konsentrasi cekaman NaCl. Parameternya adalah jumlah embrio somatik yang terbentuk pada akhir induksi pembentukan embrio somatik setelah satu bulan masa subkultur. Data dianalisis dengan uji Anova Two-Way kemudian dilanjutkan uji Tukey tingkat kepercayaan 95%. Varietas yang digunakan adalah varietas Argomulyo dan varietas Wilis. Konsentrasi NaCl yang digunakan adalah 0 mM, 50 mM, 100 mM, dan 200 mM dengan penambahan ZPT 2,4-D dan NAA 5 mg/L.Hasil penelitian ini adalah interaksi antara varietas dan konsentrasi NaCl tidak berpengaruh nyata terhadap pembentukan embrio somatik kedelai
Struktur Komunitas Spons Laut (Porifera) di Pantai Pasir Putih, Situbondo Iwenda Bella Subagio; Aunurohim Aunurohim
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.88 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3962

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komunitas spons laut (Porifera) yang terdapat di perairan Pantai Pasir Putih, Situbondo pada kedalaman 7 dan 14 meter. Data diambil bersama dengan parameter fisik perairan yang mendukung yaitu suhu, salinitas, kecerahan dan tipe substrat. Data spons laut diambil menggunakan metode transek kuadran dengan panjang transek 100 meter di setiap stasiun pengambilan sampel. Hasil dari data yang didapatkan dianalisis menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon - Wienner, Dominansi, Kemerataan Pielou, serta kesamaan komunitas Morisita – Horn. Distribusi spons laut dilihat menggunakan metode multivarian yang digambarkan dengan diagram ordinasi.  Hasil dari observasi yang dilakukan diketahui bahwa terdapat 11 spesies porifera dengan nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 1,17 – 2, 33 dan dominansi berkisar antara 0,15 – 0,35, sedangkan untuk kemerataan spesies berkisar antara 0,24 – 0,67. Spesies yang mendominasi di kedalaman 7 meter adalah Aaptos suberitoides sedangkan pada kedalaman 14 meter adalah Xestospongia testudinaria dan spesies yang tersebar merata di semua transek adalah Petrosia (strongylophora) corticata

Page 89 of 228 | Total Record : 2279