cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Pengaruh Kombinasi Media Pembawa Pupuk Hayati Bakteri Penambat Nitrogen Tehadap pH dan Unsur Hara Nitrogen dalam Tanah Nuzulul Rohmah; Wirdhatul Muslihatin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.91 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20629

Abstract

Pupuk hayati merupakan inokulum berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu. Media pembawa diperlukan dalam pupuk hayati untuk menumbuhkan dan menyimpan suatu mikrobia hasil isolasi dari habitat asli dan memudahkan inokulum tersebut untuk digunakan kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi media pembawa bakteri penambat nitrogen terhadap pH tanah dan unsur hara nitrogen dalam tanah. Metode yang digunakan dalam penelitian meliputi peremajaan isolat Azotobacter sp, pembuatan pupuk hayati, perhitungan TPC (Total Plate Count), penanaman kacang tanah, dan  pengukuran  pH dan unsur hara nitrogen dalam tanah. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kombinasi media pembawa pupuk hayati  dapat meningkatkan unsur hara nitrogen dalam tanah dan mampu menetralkan pH sehingga sesuai dengan pertumbuhan optimum bakteri dan ketrsedian nitrogen dalam tanah.
Uji Potensi Fermentasi Etanol Beberapa Yeast yang Diisolasi dari Daerah Malang, Jawa Timur dengan Metode SDN (Soil Drive Nutrient) Sabrina Firrar Rahmana; Sri Nurhatika; Anton Muhibuddin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.485 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20630

Abstract

Eksplorasi yeast sebagai agen biofermentor masih sangat kurang padahal yeast memiliki potensi yang amat baik dalam mengubah glukosa menjadi etanol. Yeast tanah merupakan salah satu jenis yeast yang berpotensi tinggi sebagai agen biofermentor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi isolat yeast tanah yang telah diisolasi menggunakan metode SDN (Soil Drive Nutrient) dari Malang, Jawa Timur dan untuk mengetahui konsentrasi glukosa terbaik dalam memproduksi etanol. Konsentrasi glukosa yang digunakan ialah 10%, 15% dan 20%. Terdapat 5 isolat yeast yang akan digunakan yaitu Candida sp. 1., Candida sp.2., Lindnera, Kloeckera sp dan Debaryomyces sp. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isolat yang berpotensi dalam memproduksi etanol ialah Kloeckera sp. dan Debaryomyces sp.. Pada isolat Kloeckera sp. optimum dalam menghasilkan etanol pada konsentrasi glukosa 20% yakni sebesar 30,75% pada jam ke-72. Sedangkan isolat Debaryomyces sp. mampu menghasilkan etanol secara optimum pada konsentrasi glukosa 15% yakni sebesar 22,95% pada jam ke 24-48.
Pengaruh Kombinasi Media Pembawa Pupuk Hayati Bakteri Pelarut Fosfat Tehadap pH dan Unsur Hara Fosfor dalam Tanah Nailul Firdausi; Wirdhatul Muslihatin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.148 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20634

Abstract

Kandungan fosfor di dalam tanah sangat rendah tersedia untuk tanaman karena terikat oleh koloid tanah. Pemberian pupuk hayati mampu melarutkan fosfat dalam tanah sehingga tersedia untuk tanaman. Pembuatan pupuk hayati memerlukan media pembawa untuk meningkatkan viabilitas bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi media pembawa bakteri pelarut fosfat terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah. Metode yang digunakan dalam penelitian meliputi peremajaan isolat Bacillus sp, pembuatan pupuk hayati, perhitungan TPC (Total Plate Count), penanaman kacang tanah, dan  pengukuran  pH dan unsur hara P dalam tanah. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan unsur hara Fosfor (P) tersedia untuk tanaman. Perlakuan B1, B2, dan B5 terjadi peningkatan secara signifikan unsur hara P dibandingkan sebelum tanam. Perlakuan B3, B4, dan B6 terjadi peningkatan unsur hara P sangat rendah. Sedangkan pH menunjukkan kisaran netral antara 6,5-7,2. Kisaran pH ini termasuk sesuai dengan pertumbuhan optimum bakteri dan ketersediaan P dalam tanah
Respon Tanaman Jagung (Zea mays L.) Verietas Manding terhadap Cekaman Salinitas (NaCl) secara In Vitro Nur Fadlilatus Sholihah; Triono Bagus Saputro
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.036 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20678

Abstract

Kebutuhan Zea mays setiap tahunnya mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut akan sulit dipenuhi mengingat semakin berkurangnya lahan pertanian akibat konversi lahan pertanian menjadi area perumahan. Saat ini, hal tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan lahan salin. Salah satu masalah dalam penggunaan lahan salin adalah adanya kandungan salinitas yang tinggi yang berdampak buruk bagi pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Sehingga, perlu dilakukan uji ketahanan Z. mays varietas lokal Indonesia terhadap cekaman salinitas secara in vitro. Pada penelitian ini, menggunakan varietas Manding. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon dan tingkat ketahanan kalus Z. mays varietas Manding terhadap cekaman salinitas (NaCl). Kalus diinduksi pada medium MS0 + 2,4-D 3 ppm selama 28 hari. Setelah itu, kalus diberi perlakuan dengan menambahkan NaCl (0, 2500, 5000, 7500 ppm) pada medium MS0 + 2,4-D 3 ppm dan diinkubasi selama 28 hari. Selanjutnya, dilakukan pengamatan morfologi kalus, perhitungan persentase kalus hidup serta pertambahan berat kalus yang mampu bertahan. Hasil yang diperoleh yakni terjadi perubahan morfologi terhadap warna kalus, semakin tinggi konsentrasi NaCl menunjukkan terjadinya browning. Persentase kalus hidup menunjukkan bahwa kalus varietas Manding mampu bertahan di setiap tingkat konsentrasi. Dan pada pertambahan berat kalus menunjukkan bahwa terjadi penurunan berat kalus seiring dengan meningkatnya konsentrasi NaCl pada medium
Pengomposan Daun Menggunakan Konsorsium Azotobacter Rosidah Kumalasari; Enny Zulaika
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.424 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20679

Abstract

Kompos adalah salah satu pupuk organik yang dibuat dari degradasi bahan organik. Sampah daun adalah sampah organik sehingga dapat dikomposkan oleh mikroorganisme termasuk bakteri. Salah satu mikroorganisme tersebut adalah Azotobacter. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah konsorsium Azotobacter dapat digunakan sebagai pengomposan sampah daun. Konsorsium yang digunakan untuk pengomposan adalah isolat Azotobacter A1b, A3, A6, A9 dan A10. Pengomposan dilakukan dengan mencampur konsorsium dan sampah daun, kemudian diinkubasi sampai ± 8 minggu. Pengamatan maturasi kompos terdiri dari tekstur, warna, bau, dan suhu. Kompos terbentuk setelah 4 minggu inkubasi dengan tekstur remah, warna coklat kehitaman, dan berbau tanah dengan suhu ± 32ºC
Prevalensi dan Intensitas Endoparasit pada Ikan Gabus (Channa striata) dari Budidaya dan Alam Sabila Ghassani; Dewi Hidayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.774 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20683

Abstract

Penelitian bertujuan untuk membandingkan prevalensi dan intensitas endoparasit pada usus ikan Gabus (Channa striata) budidaya air tawar dan tangkapan alam. Usus didapatkan dari 20 ekor Ikan Gabus budidaya air tawar dan 20 ekor dari alam (panjang total 25±3 cm) yang diambil dan diawetkan dengan buffer formalin 0,5%, kemudian diamati menggunakan mikroskop stereo dan compound yang terhubung dengan kamera fotomikroskop OptiLab. Identifikasi endoparasit mengacu pada studi referensi. Prevalensi (prev.), dan intensitas (I) endoparasit dihitung berdasarkan jumlah endoparasit yang ditemukan di dalam usus ikan. Hasil menunjukkan bahwa jumlah endoparasit, prevalensi, dan intensitas pada ikan Gabus dari alam memiliki nilai yang lebih tinggi, yaitu Pallisentis sp. (prev=65%; I= 34.3 ind. per ikan dan Camallanus sp. (prev=35%; I=6.1 ind. per ikan) dibandingkan dengan ikan Gabus budidaya air tawar yang terinfeksi Pallisentis sp. saja (prev=30%; I=10. ind. per ikan).
Sinergisme Antar Isolat Azotobacter Yang Dikonsorsiumkan Anindya Citra Asri; Enny Zulaika
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.223 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20693

Abstract

Konsorsium mikroorganisme merupakan campuran populasi mikroba dalam bentuk komunitas yang mempunyai hubungan kooperatif,  komensal, dan mutualistik. Secara alamiah, bakteri mampu berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Hubungan antar bakteri dapat mempunyai hubungan sinergis jika substrat cukup dan antara bakteri tidak saling menghambat pertumbuhan. Pada penelitian ini akan dikonsorsiumkan isolat Azotobacter A1b, A3, A6, A9, dan A10 yang diisolasi dari Lahan Eco Urban Farming ITS. Apakah kelima isolat tersebut dapat bersinergi satu dengan yang lainnya. Uji sinergisme menggunakan teknik streak plate pada media Azotobacter agar. Masing-masing isolat digoreskan secara bersinggungan. Diinkubasi 24 jam dan diamati pertumbuhannya. Semua isolat yang diuji sinergisme terhadap isolat yang lain tidak menunjukkan adanya zona hambat pada persinggungan antar isolat. Artinya masing-masing isolat dapat bersinergi satu dengan yang lainnya.
Respon Karakter Fisiologis Kedelai (Glycine max L.) Verietas Grobogan terhadap Cekaman Genangan Vita Siti Fatimah; Triono Bagus Saputro
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.882 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20709

Abstract

Kedelai (Glycine max L.) mempunyai arti penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam rangka perbaikan gizi masyarakat, karena  kandungan nutrisinya yang banyak dan merupakan sumber protein nabati yang ekonomis. Kendala dalam produksi kedelai adalah faktor lingkungan, salah satunya adalah curah hujan. Curah hujan dapat mengakibatkan genangan (waterlogging). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui respon karakter fisiologis kedelai varietas Grobogan dan toleransinya terhadap genangan. Penelitian cekaman genangan dilakukan pada stadia vegetatif dengan taraf genangan 100%, 150%, 200% dan kontrol sebagai pembanding. Berdasarkan data didapatkan hasil bahwa nitrogen daun tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol dengan 2,45% dan menurun seiring dengan peningkatan taraf genangan. Kadar klorofil, berat basah dan berat kering juga mengalami penurunan. Penurunan berat kering mencapai 60,41%. Tanaman kontrol dan perlakuan genangan mengalami perbedaan dalam alokasi fotosintat. Perlakuan genangan lebih tinggi rasio akarnya dibandingkan dengan tajuk, sebaliknya pada perlakuan genangan rasio tajuk lebih tinggi dibandingkan dengan akar. Konsentrasi etilen akar  mengalami peningkatan pada konsentrasi genangan 200% yaitu mencapai 14,878 ppm
Pelarutan Fosfat oleh Konsorsium Azotobacter Riska Irawan; Enny Zulaika
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.985 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20716

Abstract

Fosfat merupakan makronutrien yang dibutuhkan oleh tanaman dan berperanan penting dalam metabolisme tanaman. Fosfat di tanah cukup melimpah tetapi sulit diserap tanaman karena dalam bentuk tidak terlarut. Bakteri pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk mengubah fosfat tidak larut menjadi bentuk terlarut. Isolat Azotobacter dari lahan Eco Urban Farming ITS secara individual dapat melarutkan fosfat, tetapi penelitian pelarutan fosfat menggunakan konsorsium Azotobacter belum dilakukan. Konsorsium menggunakan isolat A1b, A3, A6, A9 dan A10. Umur perlakuan ditentukan dengan kurva pertumbuhan. Uji pelarutan fosfat menggunakan medium Pikovskaya dengan sumber fosfat Ca3[PO4]. Fosfat terlarut diukur setelah 7 hari inkubasi dengan metode spektrofotometri dengan panjang gelombang (λ) 690 nm. Setelah 7 hari inkubasi, fosfat terlarut  yang dihasilkan konsorsium relatif tidak berbeda dengan isolat tunggal A1b yaitu 67,59 dan 67,52 ppm, namun keduanya lebih tinggi dibandingkan dengan isolat A3, A6, A9, dan A10.
Isolasi Bakteri Resisten Antibiotik dari Kawasan Mangrove Wonorejo Surabaya Lericka Mei Permadi; Enny Zulaika
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.275 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20792

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem peralihan antara darat dan laut. Keanekaragaman bakteri pada ekosistem mangrove sangat bervariasi termasuk resisten terhadap antibiotik. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah isolat bakteri yang diisolasi dari kawasan mangrove Wonorejo Surabaya resisten terhadap antibiotik. Isolasi bakteri menggunakan metode komposit tanah daerah pasang surut, isolat ditumbuhkan pada medium nutrient agar dengan metode pour plate. Uji resistensi antibiotik menggunakan antibiotik kloramfenikol, tetrasiklin, dan ampisilin (30 µg). Berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran koloni didapatkan 11 isolat bakteri. Seluruh isolat bakteri resisten terhadap 30 µg antibiotik kloramfenikol, tetrasiklin, dan ampisilin, kecuali pada isolat BW 10 bersifat susceptible terhadap tetrasiklin.  

Page 97 of 228 | Total Record : 2279