cover
Contact Name
Muhammad Aldila Syariz
Contact Email
aldilasyariz@its.ac.id
Phone
+6282131726693
Journal Mail Official
aldilasyariz@its.ac.id
Editorial Address
Geomatics Engineering's Building, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Geoid - Journal of Geodesy and Geomatics
ISSN : 18582281     EISSN : 24423998     DOI : https://doi.org/10.12962/geoid.v20i1
General topics of interest include: - Geodesy and geomatics development theory - Geodesy and geomatics applications - Natural Disaster - Land and Ocean Development - Natural Resources - Environment - Science and technology in Mapping and Surveying - Earth Sciences A further issue related to geodesy and geomatics engineering such as: - Optical Remote Sensing and Radar Remote Sensing - Cadastre and 3D Modeling - Geodynamics theory and application - Geospatial - Land Surveying - Geomarine - Photogrammetry
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol. 14 No. 1 (2018)" : 16 Documents clear
ANALISA POTENSI DAERAH BENCANA TANAH LONGSOR PADA CURAH HUJAN RENDAH DAN CURAH HUJAN TINGGI DI KAWASAN GUNUNG WILIS Kurniawan, Akbar; Budisusanto, Yanto; RJ, Ainur Rofiq
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1590

Abstract

Kawasan Gunung Wilis merupakan wilayah yang cukup sering terjadi bencana tanah longsor. Salah satu bencana tanah longsor yang terjadi di kawasan Gunung Wilis yaitu pada hari kamis 6 april 2017 Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan overlay metode intersection, Setiap parameter yang telah dilakukan reclassify dan skoring akan di overlay. Hasil dari penelitian ini adalah terbentuknya peta tingkat kerawanan bencana tanah longsor di Kawasan Gunung Wilis yang dibagi kedalam 3 kelas yaitu : rendah, sedang, dan tinggi. Dari pengolahan data pada kondisi Curah Hujan Rendah dihasilkan identifikasi bahwa wilayah Kabupaten Kediri disekitar Kawasan Gunung Wilis masuk kedalam kategori kerawanan tinggi dengan area kerawanan paling luas dibandingkan kabupaten lainnya sebesar 0,45% , Kabupaten Nganjuk masuk kedalam kategori kerawanan sedang terluas sebesar 6,26% , dan Kabupaten Madiun masuk kedalam kategori kerawanan rendah terluas sebesar 18,53% dari total wilayah penelitian. Sedangkan pengolahan data pada kondisi Curah Hujan TInggi dihasilkan identifikasi bahwa wilayah Kabupaten Kediri disekitar Kawasan Gunung Wilis masuk kedalam kategori kerawanan tinggi dengan area kerawanan paling luas dibandingkan kabupaten lainnya sebesar 0,55% , Kabupaten Ponorogo masuk kedalam kategori kerawanan sedang terluas sebesar 10,75% dan Kabupaten Nganjuk masuk kedalam kategori kerawanan rendah terluas sebesar 16,10% dari total wilayah penelitian.
METODE HYDRO ENFORCEMENT DATA LIDAR UNTUK PEMBUATAN DIGITAL TERRAIN MODEL OBYEK PERAIRAN PADA PETA RUPA BUMI INDONESIA SKALA 1:5000 Febriana, Elisya; Cahyono, Agung Budi
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1591

Abstract

Dalam membuat obyek perairan dari hasil akuisisi LiDAR diperlukan metode untuk membuat permukaan air lebih baik. Salah satu metode pembuatan DTM pada daerah perairan pada pengolahan data LiDAR adalah hydro enforcement. LiDAR (Light Detection and Ranging) merupakan sistem dari Airborne Laser Scanning (ALS). Di Indonesia masih jarang yang menggunakan gelombang hijau dalam pengambilan data LiDAR, sehingga gelombang infra merah menghasilkan nilai elevasi yang terbiaskan karena tidak dapat menembus kedalaman perairan. Dalam pembuatan DTM dibutuhkan kualitas DTM sesuai kontrol kualitas di petunjuk pelaksanaan pembuatan DTM hydro enforcement dari Badan Informasi Geospasial. Pengolahan DTM menggunakan metode hydro enforcement dimulai dari draping terrain badan perairan, menghilangkan mass point dalam perairan hingga pembentukkan breakline untuk badan perairan sesuai hasil draping yang mempunyai interval antar point cloud di badan perairan adalah 0.5 meter. Kemudian melakukan proses macro hydro enforcement pada software pengolahan LiDAR. Hasil penelitian ini menunjukkan kualitas DTM dengan metode hydro enforcement memberikan visualisasi yang baik untuk perencanaan infrakstruktur dalam pembuatan irigasi, pintu air dan memberikan detail yang baik untuk pembuatan unsur hipsografi dalam Peta RBI skala 1:5000. Namun demikian, metode hydro enforcement ini masih terdapat kekurangan dari segi akurasi, sehingga perlu dilakukan pengambilan data lapangan
STUDI ANALISIS KETELITIAN GEOMETRIK CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI SEBAGAI PETA DASAR RENCANA DETAIL TATA RUANG PERINDUSTRIAN (STUDI KASUS : KAWASAN PT SIER SURABAYA) Sukojo, Bangun Muljo; Mahmudi, Alfan Rozy
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1592

Abstract

PT SIER region has an area of 245 ha. In addition, PT SIER region is divided into three sub-districts, namely Rungkut District, Tenggilis Mejoyo District, and Gunung Anyar Disrict. In the industrial area in the mapping of the region that have used a detailed map of a large scale is a scale of 1: 5000 or more. The remote sensing technology is needed for making the maps. Remote sensing technology is now used and applied in geoscience Indonesia for geospatial information on a local, regional, and globalThis research conducted data used for geometric correction is WorldView 2 satellite imagery with a spatial resolution of 2012 which is 0.46 meters and the Pleiades 1B in 2015 with a spatial resolution of 0.5 meters. In addition, the necessary data in this study are the coordinates of ground control points or so-called the Ground Control Point (GCP). The GCP coordinate data obtained from measurements in the field using geodetic GPS device. Measurements were performed using the static method for approximately 40 minutes. In doing geometric correction in this study using two methods, namely the transformation affine transformation and polynomial order 2 The results of this study indicate that the design of nets made to the GPS measurements have strength webs of 0.116274. The net strength has entered tolerance is <= 1. For the geometric correction to both images using two methods. In the method of affine value Root Mean Square Error (RMSE) for WorldView 2 is 0.306359 while the RMSE for the Pleiades 1B amounted to 0.319769. In order polynomial method 2, RMSE for WorldView 2 is 0.163263 while the RMSE for the Pleiades 1B amounted to 0.218205. The RMSE obtained both images can be used as a basis for making a map with a scale of 1: 5000
WET TROPOSPHERIC CORRECTION’S IMPACT ON SEA LEVEL ANOMALY AROUND THE INDONESIAN SEAS Handoko, Eko Yuli
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1593

Abstract

Global sea level rise in the satellite altimetry era is about 3 mm/yr. The one of main source of uncertainty of global sea level is the wet tropospheric from onboard microwave radiometer which is up to 0.3 mm/yr.  The focus of this study is to assess of various wet tropospheric correction impact on sea level anomaly in the Indonesian seas. The result of sea level anomaly linear trend difference between Global Navigation Satellite System and Microwave Radio Meter or ECMWF Re-Analysis Interim is 0.18 mm/yr in agreement with the global wet tropospheric uncertainty.
Analisis Deformasi Pulau Madura dari Pengolahan Data SAR Menggunakan Metode DInSAR Anjasmara, Ira Mutiara; Muthmainnah, Nisaa Ul
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1594

Abstract

Sesar aktif yang terdapat di sebagian wilayah Pulau Madura menjadi salah satu faktor terjadinya gempa bumi dalam beberapa waktu terakhir. Ditambah lagi dengan adanya abrasi yang terjadi secara terus menerus di wilayah pesisir Pulau Madura yang menjadi faktor utama terjadinya banjir rob. Selain itu, menurut peta indeks bencana pergerakan tanah (landslide) oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010, wilayah Pulau Madura memiliki resiko sedang hingga tinggi terhadap bencana pergerakan tanah. Beberapa hal tersebut dapat memicu terjadinya deformasi di Pulau Madura. Deformasi merupakan perubahan bentuk batuan yang diakibatkan oleh adanya gaya dari luar batuan tersebut. Nilai deformasi di suatu wilayah dapat diketahui dengan penagamatan secara berkala. Pada penelitian ini digunakan metode DInSAR untuk mengamati nilai deformasi di Pulau Madura. DInSAR merupakan metode pengamatan deformasi menggunakan data citra satelit. Citra satelit yang digunakan pada penelitian ini adalah citra satelit Sentinel-1A dari European Space Agency. Dari pengolahan data diperoleh nilai subsidence tertinggi antara bulan Maret 2016 – September 2016 adalah sebesar -70,136 mm sedangkan uplift terbesar adalah sebesar 109,056 mm. Pada bulan September 2016 – Maret 2017 diperoleh nilai subsidence terbesar adalah -95,011 mm dan uplift terbesar adalah 98,059 mm. Pada rentang bulan Maret 2017 – September 2017, nilai subsidence tertinggi adalah -65,550 mm dan nilai uplift tertinggi adalah 63,884 mm. Pada rentang bulan September 2017 – Maret 2018, nilai subsidence tertinggi adalah -57.245 mm dan nilai uplift tertinggi adalah 74,811 mm. Nilai deformasi muka tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor geologi berupa jenis tanah dan batuan serta adanya bencana alam di area penelitian.
Analisa Perbandingan Volume 3'S (TS, GNSS, &TLS) Khomsin, Khomsin; Pratomo, Danar Guruh; Akbar , Achmad Faizuddin
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1595

Abstract

Teknologi survei dan pemetaan semakin hari semakin berkembang. Saat ini untuk survei topografi, alat yang digunakan adalah Total Station, GNSS, drone, dan Terrestrial Laser Scanner. Pada penelitian ini akan mengukur 2 stockpile dan membandingkan hasil perhitungan volume dari data TS, TLS, dan GPS. Sebagai acuan, hasil pengukuran TLS. Uji ketelitian menggunakan RMSE (Root Mean Square Error) di beberapa titik ICP (Independent Check Point). Pada penelitian ini nilai RMSE volume antara TS dan TLS memiliki selisih kecil. Sedangkan hasil perhitungan volume dengan GPS RTK dan TLS memiliki nilai deviasi yang lebih besar pada area studi. hasil uji RMSE dari (ICP) didapatkan RMSE dari hasil koordinat Total Station terhadap TLS pada area studi yang berada di gudang sebesar 0,001 m pada absis, 0,002m pada ordinat, dan 0,001 m pada ketinggian. Dan pada GPS RTK (0,007)M pada absis, (0,006) m pada ordinat , dan (0,005)m pada ketinggiannya. Jika pada studi area timbunan didapatkan nilai RMSE pada Total Station (0,002) m, (0,001) m, (0,002) m dan pada GPS RTK (0,008) m, (0,008) m, (0,004) m.

Page 2 of 2 | Total Record : 16