cover
Contact Name
Muhammad Aldila Syariz
Contact Email
aldilasyariz@its.ac.id
Phone
+6282131726693
Journal Mail Official
aldilasyariz@its.ac.id
Editorial Address
Geomatics Engineering's Building, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Geoid - Journal of Geodesy and Geomatics
ISSN : 18582281     EISSN : 24423998     DOI : https://doi.org/10.12962/geoid.v20i1
General topics of interest include: - Geodesy and geomatics development theory - Geodesy and geomatics applications - Natural Disaster - Land and Ocean Development - Natural Resources - Environment - Science and technology in Mapping and Surveying - Earth Sciences A further issue related to geodesy and geomatics engineering such as: - Optical Remote Sensing and Radar Remote Sensing - Cadastre and 3D Modeling - Geodynamics theory and application - Geospatial - Land Surveying - Geomarine - Photogrammetry
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 1 (2013)" : 14 Documents clear
STUDI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAS CILIWUNG DENGAN METODE KLASIFIKASI TERBIMBING CITRA LANDSAT 7 ETM+ MULTITEMPORAL TAHUN 2001 & 2008 (STUDI KASUS : BOGOR) Suryo, Anindityo Budi; Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1384

Abstract

Meningkatnya pembangunan di perkotaan seringkali menimbulkan dampak tidak baik terhadap lingkungan. Salah satu contohnya adalah pembangunan yang terjadi di Daerah Aliran Sungai Ciliwung.Akibat dampak pembangunan yang tidak terencana di daerah aliran sungai menyebabkan perubahan tutupan lahan. Perubahan tutupan lahan ini berpengaruh terhadap timbulnya masalah pada daerah aliran sungai misalnya banjir, produktivitas tanah menurun, pengendapan pada waduk, saluran irigasi, proyek tenaga air, penggunaan tanah yang tidak tepat (perladangan berpindah, pertanian lahan kering dan konservasi yang tidak tepat), yang menimbulkan dampak negatif terhadap sosial ekonomi lingkungan di daerah aliran sungai.Perubahan tutupan lahan yang terjadi dapat diidentifikasi dengan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra satelit LANDSAT 7 ETM+. Dengan menggunakan citra satelit LANDSAT 7 ETM+tahun 2001, dan LANDSAT 7 ETM+ tahun 2008, dilakukan analisa perubahan tutupan lahan di daerah aliran sungai Ciliwung.
PENGGUNAAN ALGORITMA NDVI DAN EVI PADA CITRA MULTISPEKTRAL UNTUK ANALISA PERTUMBUHAN PADI (STUDI KASUS : KABUPATEN INDRAMAYU, JAWA BARAT) S, Aulia Hafizh; Cahyono, Agung Budi; Wibowo, Agus
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1385

Abstract

Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kabupaten yang merupakan daerah sentra pertanian dimana sektor ini menyumbang 43% dari total PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Strategi yang tepat dan cepat harus dicanangkan untuk selalu memenuhi kebutuhan akan bahan pokok tersebut. Teknologi penginderaan jauh dapat mengakomodir informasi suatu objek secara cepat dan akurat tanpa harus berinteraksi langsung dengan objek dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi yang diinginkan. Pembangunan model - model estimasi produktivitas pada beberapa komoditas vegetasi pertanian seperti padi telah digunakan sejak dua dekade lalu. Dari berbagai macam permodelan vegetasi, indeks vegetasi yang paling umum digunakan adalah NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan EVI (Enhanced Vegetation Index). Hasil dari penelitian ini adalah penentuan fase pertumbuhan , masa tanam, dan masa panen tumbuhan padi pada citra MODIS L1B. Masa tanam padi di kabupaten Indramayu berada pada bulan Juni dan Desember 2011, masa panen berada pada bulan Mei dan September 2011. Citra Aster digunakan sebagai data pendukung untuk menentukan korelasi linear terhadap data lapangan (fieldspectometer). Korelasi yang dihasilkan Antara Modis - Aster sebesar 0.9576 pada EVI dan 0.9654 pada NDVI; Modis - Fieldspectometer sebesar 0.8798 pada EVI dan 0.9077 pada NDVI; dan pada Aster - Fieldspectometer sebesar 0.9220 pada EVI dan 0.9460 pada NDVI. Korelasi dari ketiga data tersebut memiliki hubungan yang cukup kuat dikarenakan nilai yang dihasilkan mendekati nilai 1.
ANALISIS PERBEDAAN PERHITUNGAN ARAH KIBLAT PADA BIDANG SPHEROID DAN ELLIPSOID DENGAN MENGGUNAKAN DATA KOORDINAT GPS Nugroho, Andhika Prastyadi; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1386

Abstract

Kiblat merupakan salah satu hal yang penting bagi umat muslim di seluruh dunia, khususnya di dalam pelakasanaan ibadah salat. Perhitungan arah kiblat di suatu tempat dapat dilakukan dengan memanfaatkan koordinat lintang dan bujur geografis yang didapatkan dari hasil pengukuran GPS (Global Positioning System). Dewasa ini, perhitungan arah kiblat masih menggunakan rumusan segitiga bola sebagai dasar perhitungannya. Namun, bentuk bumi tidaklah bulat sempurna seperti bola (spheroid) melainkan berbentuk ellips yang diputar pada sumbu pendeknya (ellipsoid). Oleh karena itu, seharusnya dilakukan perhitungan yang sesuai dengan bentuk bumi tersebut, yakni dengan menggunakan prinsip persoalan pokok geodesi. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel koordinat titik di lapangan dengan menggunakan GPS tipe geodetik dan GPS tipe navigasi. Perhitungan arah kiblat dilakukan dengan menggunakan rumus segitiga bola dan Soal Pokok Geodesi II (SPG II) untuk kemudian dianalisis perbedaannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan antara arah kiblat dengan menggunakan rumus segitiga bola dan SPG II berkisar antara 1’ 8,7949” - 1’ 21,5281”. Sedangkan perbedaan antara arah kiblat dengan menggunakan rumus segitiga bola (yang koordinat sampelnya tidak ditransformasikan ke bidang bola) dan SPG II berkisar antara 7’ 17,3049” - 7’ 18,9383”. Sementara itu, hasil perhitungan arah kiblat dengan menggunakan koordinat dari GPS tipe Geodetik dan GPS tipe Navigasi tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
PENGGUNAAN SECONDARY SURVEILLANCE RADAR UNTUK PENENTUAN POSISI PESAWAT UDARA Irfandi , Akhmad Hafidz; Taufik, Muhammad
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1387

Abstract

Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan pertumbuhan demografi yang sangat pesat, hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar ke-empat di dunia. Pesawat udara merupakan alat transportasi yang paling efektif dalam mendukung mobilitas penduduk.Navigasi atau pandu arah adalah penentuan kedudukan (position) dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya atau di peta. Navigasi ini dilakukan pada pesawat udara yang dipandu dari darat melalui sinyal yang dipancarkan oleh instrumen terpasang pada menara (ground base) maupun sinyal dari satelit (satellite base).Dalam navigasi ada beberapa macam radar yang umum digunakan yaitu Primary Surveillance Radar (PSR) dan Secondary Surveillance Radar (SSR).Kedua jenis radar baik PSR maupun SSR mempunyai cara kerja berbeda. Pada PSR sifatnya aktif dan pesawat yang ditargetkan sifatnya pasif.Karena PSR hanya menerima pantulan gelombang radio dari refleksi pesawat tersebut (echo).Sedangkan pesawat itu sendiri tidak ikut aktif dengan pancaran sinyal radar di bawah. Pada SSR, baik radar maupun pesawat kedua-duanya aktif. Hal ini dapat dilakukan karena pesawat terbang telah dilengkapi dengan transponder. Pesawat-pesawat yang tidak dilengkapi transponder tidak akan dapat dilihat pada radar scope seperti identifikasi pesawat, ketinggiannya, dan lain-lain.SSR merupakan peralatan untuk mendeteksi dan mengetahui posisi dan data target yang ada di sekelilingnya secara aktif, dimana pesawat ikut aktif jika menerima pancaran sinyal Radio Frequency (RF) radar sekunder. Pancaran radar ini berupa pulsa-pulsa mode, pesawat yang dipasangi transponder, akan menerima pulsa-pulsa tersebut dan akan menjawab berupa pulsa-pulsa code ke sistem penerima radar.
ANALISA PENGGUNAAN LAHAN DAERAH PENGEMBANGAN POTENSI PANAS BUMI DI KECAMATAN SEMPOL, BONDOWOSO Mahardianti , Melisa Amalia; Taufik, Muhammad; Utama, Widya
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1388

Abstract

Kawasan Gunung Ijen, Kecamatan Sempol, Bondowoso memiliki potensi panas bumi yang cukup besar. Dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi panas bumi sangat berdampak pada keadaan lingkungan karena lokasi panas bumi berada di kawasan hutan produksi, kawasan hutan lindung, dan kawasan hutan konservasi. Untuk itu, diperlukan analisa penggunaan lahan di lokasi potensi panas bumi sebelum dilakukan pembangunan PLTP dan fasilitas penunjangnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga area yang berpotensi untuk pemanfaatan energi panas bumi. Potensi sumber daya panas bumi yang dapat membangkitkan energi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dengan kapasitas 2 x 55 MW. Penggunaan lahan pada area tersebut sebagian besar terdiri dari semak belukar (42.53%), dan jarak terdekat dengan pemukiman lebih dari 600 m. Kegiatan eksplorasi diharapkan tidak berdampak negatif pada lingkungan sekitar.
ANALISA KELAYAKAN PENGGUNAAN CITRA SATELIT WORLDVIEW-2 UNTUK UPDATING PETA SKALA 1:1.000 (STUDI KASUS : SURABAYA PUSAT) A’yun, Qurrata; Cahyono, Agung Budi; Deviantari , Udiana Wahyu
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1389

Abstract

Proses updating peta garis skala 1:1.000 membutuhkan data, misalnya citra satelit yang memiliki resolusi tinggi. Beberapa bahasan yang dikaji dalam proses updating peta menggunakan data dasar yang berupa citra satelit adalah metode koreksi geometrik dan ketelitian planimetris. Ketelitian planimetris citra satelit didapatkan dengan caramenghitung RMSEperbedaan pengukuran beberapa jarak hasil digitasi pada citra dengan beberapa jarak yang sama yang diukur di lapangan.Nilai RMSE tersebut akan dibandingkan dengan ketelitian planimetris peta skala 1:1.000 yang bernilai 0,3 mm pada skala peta (BPN, 1997).Koreksi geometrik metode polinomial orde-1 memiliki RMS sebesar 0,071, koreksi geometrik metode affine memiliki RMS sebesar 0,031.Sedangkan untuk koreksi geometrik metode konform menghasilkan nilai RMS sebesar 0.552.Untuk hasil analisa ketelitian planimetris citra didapatkan rata-rata RMSE sebesar 0,131 meter yang memenuhi nilai ketelitian planimetris peta skala 1:1.000 sebesar 0,3 meter.Uji statistik t-test berpasangan yang dilakukan pada sample pengukuran lapangan menunjukkan bahwa semua hasil pengukuran diterima dengan rentangx1 <= m <= x2dengan level of significance a sebesar 5%.
UPDATING PETA TUTUPAN LAHAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI (STUDI KASUS : KECAMATAN PAKAL, KOTA SURABAYA) Noraini, Alifah; Handayani, Hepi Hapsari
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1391

Abstract

Lingkungan merupakan suatu hal yang bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu – waktu.Sehingga dibutuhkan metode yang cepat dan akurat dalam meng-update data spasial untuk memonitoring perubahan lingkungan tersebut.Penelitian ini menggunakan teknologi penginderaan jauh. Data penginderaan jauh yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit WorldView 2 tahun 2012 dan Peta Garis Surabaya skala 1:5000 tahun 2002 hasil pemotretan foto udara. Daerah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kecamatan Pakal, Kota Surabaya. Dalam pengolahan citra WorldView 2 didapatkan hasil identifikasi tutupan lahan di wilayah Kecamatan Pakal, Kota Surabaya yang didominasi oleh kelas tutupan lahan tambak, yakni seluas 756,476 Ha (40,62%),dan kelas tutupan lahan terendah adalah kelas tutupan lahan waduk, yakni seluas 3,556 Ha (0,17%).Dilakukan analisa perubahan tutupan lahan dari tahun 2002 hingga 2012.Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan terjadinya perubahan luas yang paling signifikan di wilayah Kecamatan Pakal adalah meningkatnya kelas tutupan lahan permukiman, yakni sebesar 132,019 Ha (27,32%). Serta menurunnya kelas tutupan lahan pertanian, semak belukar, dan tambak, yaitu seluas 145,559 Ha (30,12%) pada kelas tutupan lahan pertanian, 60,628 Ha (12,55%) pada kelas tutupan lahan semak belukar, dan 35,441 Ha (7,33%) pada kelas tutupan lahan tambak. Hasil akhir dari penelitian ini adalah peta tutupan lahan tahun 2012 yang di-update menggunakan citra satelit WorldView 2 di wilayah Kecamatan Pakal, Kota Surabaya.
PEMANFAATAN CITRA RESOLUSI TINGGI UNTUK IDENTIFIKASI PERUBAHAN OBYEK BANGUNAN (STUDI KASUS UPDATING RENCANA DETIL TATA RUANG KOTA UNIT PENGEMBANGAN RUNGKUT SURABAYA) Sari, Dewi Nur Indah; Hariyanto, Teguh; Kurniawan, Akbar
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1392

Abstract

Perkembangan teknologi penginderaan jauh terutama citra WorldView-2 memudahkan dalam mengkaji perencanaan tata ruang kota dan monitoring penggunaan lahan, contohnya perubahan obyek bangunan. Kota Surabaya yang terletak antara 07°12’-07°21’ Lintang Selatan dan 112°36’-112°54’ Bujur Timur yang aktivitas kotanya sangat bervariasi dengan jumlah penduduk lebih dari tiga milyar (Hasyim, Hariyanto, dkk. 2011). Kegiatan pembangunan fisik dan prasarana perkotaan di Surabaya tentunya menimbulkan konsekuensi terhadap perubahan obyek bangunan. Untuk mengatasi permasalahan ini salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah dijelaskan dalam tema pengembangan UP Rungkut yaitu sinergitas pengembangan kawasan permukiman perbatasan kota sebagai penyangga kegiatan industri dan pendidikan dengan pendekatan sustainable development. Dalam penelitian ini, identifikasi perubahan obyek bangunan pada tahun 2002 sampai dengan 2012 dilakukan dengan memanfaatkan data peta garis digital tahun 2002 dan citra WorldView-2 dengan menggunakan metode klasifikasi terselia berdasarkan maximum likelihood (kemiripan maksimum) untuk mengidentifikasi perubahan obyek bangunan pada UP Rungkut pada Tahun 2002 sampai dengan 2012. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa luas perubahan obyek bangunan di UP Rungkut pada tahun 2002-2012 seluas 220.333 Ha. Untuk hasil kesesuaian perubahan obyek bangunan dengan RDTRK UP Rungkut tahun 2010 yaitu bangunan yang sesuai 209.025 Ha, tidak sesuai 11.308 Ha dan yang belum dimanfaatkan seluas 1096.171 Ha. Hal ini menandakan perlu adanya langkah-langkah dari semua pihak terkait untuk mengaplikasikan rencana tata ruang agar pembangunan kota bisa berjalan secara serasi dan terpadu antara masing-masing komponennya dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam pola dasar pembangunan daerah.
ANALISIS RONA AWAL LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN CITRA LANDSAT 7 ETM+ (STUDI KASUS :DAERAH EKSPLORASI GEOTHERMAL KECAMATAN SEMPOL, BONDOWOSO) Firdaus , Hana Sugiastu; Taufik , Muhammad; Utama, Widya
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1393

Abstract

Rona awal lingkungan merupakan kondisi lingkungan yang berupa kondisi alam atau komponen-komponen lingkungan awal sebelum perencanaan dan pembangunan fisik dimulai . Sebelum melakukan kegiatan eksplorasi geothermal, penguraian rona awal lingkungan sangatlah diperlukan sebagai dasar dari upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan (UKL&UPL) dalam meniminamalisir dampak yang ditimbulkan. Penguraian rona awal lingkungan pada penelitian ini didapat dari pengolahan citra Landsat 7 ETM+ untuk mendapatkan gambaran kondisi tutupan lahan dan kerapatan vegetasi di area studi, serta data sekunder sebagai pelengkap komponen lingkungan lainnya. Penentuan nilai kerapatan vegetasi didasarkan dari tutupan lahan yang dominan yaitu perkebunan, hutan dan semak belukar. NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index) merupakan algoritma yang digunakan dalam penentuan kerapatan vegetasi. Dua algoritma yang digunakan dikorelasikan dengan suhu permukaan tanah (SPT) untuk mendapatkan algoritma yang terbaik dalam penentuan kerapatan vegetasi . Korelasi terbaik untuk area perkebunan dan hutan didapatkan dari algoritma NDVI sedangkan SAVI untuk semak belukar. Area studi yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Kecamatan Sempol, Bondowoso, Jawa Timur.
PERBANDINGAN AKURASI PREDIKSI PASANG SURUT ANTARA METODE ADMIRALTY DAN METODE LEAST SQUARE Ulum , Miftakhul; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1394

Abstract

Analisis maupun peramalan pasut pada daerah survei dapat dipakai untuk berbagai keperluan rekayasa, antara lain perencanaan alur pelabuhan, navigasi, pengembangan wilayah pantai, penentuan batas wilayah dan sebagainya. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan konstanta harmonik pasang surut selama periode tertentu diantaranya adalah metode admiralty dan metode least square. Dalam penelitian  ini dilakukan analisa prediksi pasang surut di stasiun Surabaya dengan menggunakan data pasut 29 hari. Metode yang digunakan adalah metode admiralty dan metode least square dengan panjang data 15 dan 29 hari. Dari ke-empat metode tersebut dilakukan perhitungan tiap komponen pasutnya sehingga dapat dilakukan prediksi pasut dan dibandingkan hasilnya. Selisih nilai amplitudo terbesar terdapat pada komponen P1 untuk perbandingan antara admiralty dan least square 15 hari yakni sebesar -36,49 cm. Sedangkan untuk selisih beda fase terbesar terdapat pada komponen S2 pada perbandingan antara least square dengan panjang data 15 dan 29 hari yakni sebesar -332,89°.  Nilai RMS error yang dihasilkan oleh metode least square lebih kecil daripada yang dihasilkan oleh metode admiralty yakni sebesar 12,360 cm untuk panjang data 15 hari dan 5,972 cm untuk panjang data 29 hari pada prediksi pasut bulan pertama.

Page 1 of 2 | Total Record : 14