Articles
504 Documents
ANALISA KESEHATAN TANAMAN PADI BERDASARKAN NILAI NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) MENGGUNAKAN CITRA ASTER (STUDI KASUS : KABUPATEN INDRAMAYU - JAWA BARAT)
Rahaldi , Prasetyo;
Handayani , Hepi Hapsari;
Wibowo, Agus
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1370
Padi merupakan salah satu tanaman budidaya yang terpenting karena merupakan makanan pokok bagi 90% penduduk Indonesia. Oleh sebab itu dibutuhkan analisa yang cepat dan akurat mengenai kesehatan tanaman padi. Dalam Penelitian ini NDVI atau Normalized Difference Vegetation Index merupakan metode yang digunakan dalam membandingkan tingkat kehijauan vegetasi yang berasal dari citra ASTER. Dari nilai NDVI tersebut dapat diketahui klasifikasi kesehatan tanaman padi. Dalam penelitian ini klasifikasi kesehatan tanaman padi dibagi menjadi 4 kelas. Kesehatan sangat baik terdapat pada rentang nilai NDVI 0.721-0.92, untuk kesehatan baik rentang nilai NDVI antara 0.421-0.72, dan nilai NDVI kesehatan normal terdapat pada rentang 0.221-0.42, sedangkan kesehatan buruk nilai NDVI 0.11-0.22. Selain itu juga menggunakan data Field Spectrometer sebanyak 14 titik sebagai data lapangan yang digunakan untuk proses validasi. Validasi ini mempunyai koefisien korelasi (R) sebesar 0.829. Sehingga dapat dikatakan antara nilai hasil prediksi dan hasil pengukuran lapangan berkolerasi sebesar 82,9 %. Dengan data citra ASTER juga dihasilkan pustaka spektral dan peta kesehatan tanaman padi, dalam pustaka spektral semakin sehat tanaman nilai Digital Number pada band 2 semakin kecil. Sedangkan band 3 banyak dipantulkan atau tidak digunakan sehingga nilai Digital Number pada tanaman padi yang semakin sehat, nilainya semakin tinggi. Sedangkan dalam peta kesehatan tanaman padi klasifikasi kesehatan buruk luas areanya 3.949.560 Ha. Pada klasifikasi kesehatan normal luas areanya 14.877.315 Ha. Sedangkan pada klasifikasi kesehatan baik luas areanya 9.846.833 Ha dan pada klasifikasi kesehatan sangat baik luas areanya 8.922.892.
ANALISA ZONASI LAHAN KOSONG PADA KAWASAN PEMUKIMAN DAN INDUSTRI DITINJAU DARI ASPEK FISIK MENGGUNAKAN CITRA SATELIT ALOS TAHUN 2010 (Studi Kasus : Unit Pengembangan X Wiyung Surabaya)
Wijaya , Rahadian Kartika;
Taufik, Muhammad
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1371
Lahan kosong di perkotaan merupakan fenomena yang menarik untuk diperhatikan. Keberadaan lahan kosong ternyata menimbulkan persoalan-persoalan yang serius diperkotaan. Lahan kosong dapat mendorong peningkatan harga lahan secara cepat karena kesediaan lahan menjadi berkurang sedangkan permintaan akan lahan terus bertambah. Wilayah Unit Pengembangan X Wiyung yang terdiri dari Kecamatan Wiyung, Kecamatan Lakarsantri dan Kecamatan Karang Pilang, Surabaya yang menjadi arahan pengembangan kawasan permukiman, dan industri menurut Rencana Detil Tata Ruang Kota (RDTRK) Unit Pengembangan X Wiyung Surabaya.Analisa lahan kosong pada wilayah tersebut untuk memaksimalkan potensi lahan kosong sesuai dengan kebutuhan, arahan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Unit Pengembangan X Wiyung Surabaya, dengan memanfaatkan data citra satelit ALOS tahun 2010. Hasil analisa tutupan lahan diperoleh 4 kelas yaitu badan air, ladang, pemukiman, dan sawah. Pada Unit Pengembangan X Wiyung memiliki lahan kosong yang terdiri dari sawah dan ladang yang terdapat di kawasan tersebut yang belum dimanfaatkan sesuai arahan RDTRK sebesar 1631.486 Ha. Sedangkan pada kawasan industri, Lahan kosong yang terdapat di kawasan tersebut yang belum dimanfaatkan sesuai arahan RDTRK sebesar 77.052 Ha.
KALIBRASI KAMERA NON-METRIK DIGITAL DENGAN METODE SELF CALIBRATION
Saktia, Bayu Angkusprana;
Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1372
Penggunaan kamera dijital non metrik untuk aplikasi fotogrametri makin berkembang, dengan didukung oleh perkembangan perangkat lunak yang tersedia dan harga kamera dijital non metrik yang relatif murah dengan spesifikasi yang bagus. Hal ini membuat penggunaan teknologi fotogramteri rentang dekat untuk pekerjaan pemetaan semakin diminati karena memiliki keuntungan dapat menjangkau daerah yang sulit dijangkau atau memiliki dimensi yang kecil. Namun kekurangannya kamera jenis ini memiliki kualitas geometrik yang kurang baik sehingga mengakibatkan posisi pada foto yang dihasilkan kurang akurat. (Afriyanti, 2005)Dalam penelitian ini akan dilakukan proses kalibrasi pada kamera yang akan digunakan yaitu Canon IXUS 115HS dengan resolusi 12megapixel dan panjang fokus yang digunakan 11mm. Metode kalibrasi yang digunakan yaitu Self Calibration. Perbandingan akurasi yang dihasilkan diketahui berdasar pergeseran titik hasil proyeksi terhadap Ground Control Point (GCP) yang terukur di lapangan.Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses kalibrasi menghasilkan parameter eksternal yang stabil, karena dalam proses iterasi yang keempat hingga seterusnya nilai yang dihasilkan tidak berubah. Distorsi hasil proyeksi arah pergeserannya mendekati posisi ideal serta nilai reprojection error tidak melebihi 0.5mm dari bacaan maksimal mistar 1mm. Parameter internal tidak menghasilkan nilai yang stabil karena dalam setiap proses iterasinya nilainya selalu berubah, panjang fokus terkalibrasi mengalami perubahan signifikan sebesar -99mm dari nilai acuan 11mm, dan nilai parameter external terkalibrasi berbeda jauh dari nilai awal yang diberikan.Meskipun demikian, dapat digambarkan pola distorsi dan arah pergeseran titik-titik hasil proyeksi pada proses penentuan Exterior Orientation Parameter (EOP) serta dapat dilihat bahwa titik yang mengalami pergeseran terbesar yaitu titik 7 dengan nilai kesalahan 0.019mm ke arah X dan -0.0672mm ke arah Y. Titik yang mengalami pergeseran terkecil yaitu titik 8 yang berada di pusat foto dengan nilai kesalahan -0.0026mm ke arah X dan 0.0071mm ke arah Y.
ANALISA PERUBAHAN POLA HIDROLOGI DI DAERAH MUARA KALI PORONG PASCA PERISTIWA LAPINDO DENGAN CITRA SATELIT SPOT 4 DAN ALOS
Machfud, Mochamad;
Cahyono, Agung Budi
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1373
Pesisir merupakan salah satu tempat untuk muara sungai dimana hilir dari suatu sungai itu berakhir sebelum menuju lepas laut. Di kabupaten Sidoarjo tedapat kali yaitu Kali Porong yang merupakan ujung dari sungai Brantas yang semenjak tahun 2006 digunakan sebagai tempat untuk mengalirkan lumpur Lapindo ke laut. Hal ini menyebabkan perubahan dari ekologi dari Kali Porong. Salah satunya adalah mengganggu pola hidrologi yang ada di Kali Porong. Oleh karena itu diperlukan analisa untuk penentuan pola hidrologi secara multitemporal setelah Kali Porong digunakan sebagai tempat mengalirkannya lumpur untuk menuju laut timur Jawa yang dimana akan mempercepat terbentuk sedimentasi yang dapat menggagu pola hidrologi Kali Porong. Pengamatan dilakukan dengan metode penginderaan jauh dengan menganalisa citra ALOS dan SPOT 4 dari tahun 2010 sampai 2011. Klasifikasi yang digunakan dalam analisa ini adalah klasifikasi Terselia atau klasifikasi beracuan yang menggunakan Maximum Likehood Standard dan menganalisa DEM SRTM dengan menggunakan menu spatial analyst tools untuk menentukan arah aliran sungai (flow direction) dan akumulasi aliran sungai (flow accumulation).Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa dalam peta aliran sungai terlihat gradasi warna dari biru tua menuju ke biru muda menjelaskan bahwa arah aliran sungai yang menunjukan semakin besar akumulasi pencampuran antara air sungai dengan lumpur dititik tersebut. Daerah pesisir Sidoarjo lebih di dominasi oleh pola aliran sungai dendritik. Pola aliran sungai daerah muara Kali Porong relatif tetap.
STUDI KELAYAKAN LOKASI RENCANA PELETAKAN JACK-UP DRILLING RIG MENGGUNAKAN HASIL PENCITRAAN SIDE SCAN SONAR
Mandasari, Sindi;
Yuwono, Yuwono
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1374
Sumber daya minyak bumi yang tersebar di beberapa wilayah perairan di negara kita ini mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Dibutuhkan sebuah perencanaan detil untuk meletakkan media eksplorasi (jack-up drilling rig) untuk memanfaatkan sumber daya minyak bumi. Oleh sebab itu, untuk mengetahui kelayakan lokasi peletakan jack-up drilling rig diperlukan suatu survai agar tidak membahayakan rig tersebut ketika memasuki lokasi pengeboran. Dalam hal ini dibutuhkan suatu gambaran dari dasar laut sehingga perlu dilakukan survai perencanaan yang mencakup pemetaan kedalaman laut serta kenampakan permukaan dasar laut. Penelitian ini menggunakan hasil pencitraan side scan sonar yang didukung oleh data batimetri, data pasut dan data GPS untuk mengetahui kondisi dari permukaan dasar laut. Dari hasil survai tersebut didapatkan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui kelayakan lokasi rencana peletakkan jack-up drilling rig agar tidak membahayakan rig tersebut ketika masuk dan dioperasikan.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lokasi rencana peletakan jack-up drilling rig masih dapat dikatakan layak dimana permukaan dasar laut daerah penelitian tersebut sebagian besar didominasi dengan tanah lempung atau lanau. Pada daerah penelitian terdapat cukup banyak jack-up footprint dan ditemukan banyak goresan pada permukaan dasar laut, pipa bawah laut, serta sedimen yang cukup keras (coarse sediment). Jack-up drilling rig hendaknya masuk melalui sisi timur dari platform.
EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN PARIWISATA DENGAN MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT
Yoga, Felik Dwi;
Khomsin , Khomsin
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1375
Kabupaten Jember memiliki potensi pariwisata yang cukup banyak, seperti wisata pegunungan ataupun wisata pantainya. Hal ini mengakibatkan banyaknya objek-objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Salah satu wisata yang akan dikembangkan dalam kepariwisataannya saat ini oleh pemerintah daerah yaitu Desa Kemuninglor. Desa ini terletak di daerah perbukitan dan memiliki panorama alam yang cukup menarik. Dalam perkembangannya, diperlukan evaluasi kemampuan lahan untuk mengetahui upaya pemanfaatan sumberdaya lahan sesuai dengan potensinya.Dalam penelitian ini digunakan parameter fisik lahan yaitu tutupan lahan, kemiringan lereng,kenampakan erosi, jenis tanah, dan drainase untuk mengetahui kemampuan lahan dalam mendukung pengembangan pariwisata di Desa Kemuninglor. Data yang digunakan adalah data citra ASTER tahun 2008 dan peta tematik DAS Bedadung tahun 2009, khususnya peta erosi, peta jenis tanah, peta kemiringan lereng dan peta curah hujan. Metode yang digunakan dengan menginterpretasi citra satelit dan pengamatan lapangan yang didasarkan pada analisis keruangan beserta penggabungan tumpang susun peta (overlay). Unit lahan digunakan sebagai satuan pemetaan untuk mengetahui kemampuan lahan untuk pariwisata dengan Metode skoring.Dari hasil penelitian didapatkan gambaran wilayah yang akan dilakukan pengembangan pariwisata. Kelas kemampuan lahan untuk daerah penelitian ini : kelas II dengan luas area 45,98 Ha, kelas III dengan luas area 992,47 Ha dan kelas IV dengan luas area 64,91 Ha. Untuk hasil evaluasi kemampuan lahan yang mendukung untuk pengembangan pariwisata terdapat di sebagian besar dusun Rayap karena memiliki daya dukung baik serta terdapat area tutupan lahan yang sebagian besar berupa perkebunan dan lahan kosong.
ANALISA SEA LEVEL ANOMALY MENGGUNAKAN RETRACKING WAVEFORMS DARI DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-2 (STUDI KASUS : PESISIR PULAU BALI)
Kusumawardhana , Dwipayana;
Sukojo, Bangun Muljo
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1376
Sea Level Anomaly (SLA) adalah perubahan sebenarnya dari topografi laut yang berhubungan dengan arus laut. Teknologi satelit altimetri yang sudah dikembangkan sejak tahun 1975 menjadi salah satu alternatif dalam memperoleh informasi tentang dinamika lautan. Salah satu misi dari satelit ini adalah dengan diluncurkannya satelit altimetri Jason-2 pada tahun 2008.Retracking waveforms merupakan pemodelan kembali bentuk gelombang yang dihantarkan oleh satelit altimetri ke daratan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Pada dasarnnya satelit altimetri memiliki ketelitian yang baik di lautan lepas, tetapi untuk di daerah pesisir mengalami gangguan dalam penerimaan gelombang di akibatkan oleh ombak, vegetasi dan bentuk pesisir pantai tersebut.Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa proses retracking waveforms di wilayah pesisir Pulau Bali didapatkan nilai SLA tertinggi pada tahun 2011 adalah 1.1242 m pada bulan Desember dan nilai SLA terendahnya adalah -2.0084 m pada bulan yang sama dan untuk proses tanpa retracking waveforms didapatkan nilai SLA tertinggi pada tahun 2011 adalah 1.6436 m yaitu pada bulan Desember dan nilai SLA terendahnya adalah -1.5690 m pada bulan November dan Desember. Dengan melalui proses retracking waveforms didapatkan nilai SLA yang lebih teliti dan akurat dibandingkan tanpa melalui proses retracking waveforms terlebih dahulu.
EVALUASI PENGGUNAAN KAMERA NON METRIK PADA FOTOGRAMETRI JARAK DEKAT
Pratama, Dimas Ricky;
Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1377
Citra yang ideal adalah citra yang merepresentasikan obyek secara sempurna tanpa terjadi degradasi kualitas. Namun tidak ada lensa yang dapat memnuhi hal tersebut. Kemampuan lensa dikatakan maksimum apabila sebuah lensa mereproduksi citra dari sebuah obyek hingga mencapai titik di mana detail citra sudah tidak dapat lagi direproduksi dari obyek. MTF (modulation transfer function) diukur sebagai patokan kemampuan lensa untuk membedakan antara daerah gelap dan terang pada obyek. Standar optik untuk pengukuran MTF menggunakan unit frekuensi spasial disebut ”line pair per millimeter” atau lp/mm. Dengan mengetahui nilai MTF, sebuah citra dengan degradasi kualitas dapat ditingkatkan kualitasnya. Kecerahan merupakan salah satu faktor penting dalam hasil MTF. Peningkatan kontras dengan meningkatkan perbedaan kecerahan antara obyek dan latar belakang benda dapat memberikan perbedaan informasi yang didapat. Manipulasi kontras dilakukan sebagai peregangan kontras dengan meningkatkan perbedaan kecerahan yang seragam di seluruh dynamic range dari citra. Dari informasi MTF suatu lensa dan perubahan nilai kontras dengan teknik contrast stretching akan menghasilkan sebuah citra dengan peningkatan kualitas sehingga interpretasi citra tersebut lebih fleksibel untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan.Sebuah citra digital harusnya memiliki tingkat kecerahan yang optimum yaitu mulai dari gelap sampai terang. Hal tersebut ditandai dengan nilai digital number citra yang memiliki range 0 – 225. Dari hasil penelitian penggunaan kamera Canon Powershot A2200 menunjukkan perubahan digital number pada citra hasil perekaman yang sebelumnya memiliki rentang 10 - 255 untuk band merah dan biru menjadi 0 – 255 pada semua band dengan peningkatan nilai mean untuk tiap – tiap band : Red(115.2 menjadi 127.1), Green(111.4 menjadi 126.9) dan Blue(93.9 menjadi 129.5). Peningkatan nilai digital number tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan kecerahan dari citra sebelumnya sehingga daerah yang sebelumnya gelap menjadi relatif terang.
ANALISA PERBANDINGAN TINGGI PERMUKAAN LAUT DARI DATA SGDR RETRACKING DAN GDR SATELIT ALTIMETRI JASON-2 TAHUN 2011 (STUDI KASUS : PESISIR PANTAI SELATAN JAWA)
Mahardian , Dewangga Eka;
Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1378
Indonesia adalah negara maritim dimana memiliki wilayah laut sekitar 70% sehingga segala aktifitas sangat dipengaruhi oleh kondisi laut. Sea surface high (SSH) merupakan tinggi permukaan air laut di atas ellipsoid. Pengkajian tentang sea surface high (SSH) sangat penting dilakukan di Indonesia untuk memperoleh informasi spasial tentang kondisi perairannya. Saat ini telah dikembangkan suatu sistem satelit yang mempunyai obyek penelitian mengamati kondisi perairan yakni satelit altimetri Jason-2.Metode analisa perbandingan tinggi permukaan laut retracking dari data SGDR dengan tinggi permukaan laut non retracking dari data GDR menggunakan metode Center of gravity. Metode ini digunakan untuk mendapatkan sea surface high retracking. Pengolahan data netcdf satelit altimetri jason-2 menggunakan software radar altimetry toolbox (BRAT) dan matrix laboratory. Pengolahan data tinggi permukaan laut dilakukan tiap pass perbulan pada tahun 2011.Hasil penelitian SSH pada 2011 didapatkan nilai SSH onboard 6,0430 m – 28,1084 m. Banyak faktor yang menyebabkan tinggi rendah SSH pada daerah pesisir yakni Ketinggian air laut , morfologi pantai , Iklim dan cuaca. Dari beberapa faktor tersebut , ketinggian air laut dapat langsung di olah dari satelit altimetri, didapatkan Ketinggian air laut onboard berkisar 5,7611 m – 28,2212 m.Hasil penelitian dari proses retracking SSH OCOG menujukan bahwa nilai SSH pada lintasan satelit dari daratan ke lautan (pass genap) lebih besar daripada lautan ke daratan (pass ganjil). Yang disebabkan oleh pantulan dan noise dari daratan yang relatif besar. Selain itu hasil ploting SSH OCOG masih sangat noise dibandingkan SSH onboard / SSH non retracking tetapi SSH memiliki keuntungan data lebih luas mencakup wilayah pesisir daripada SSH onboard.
ANALISA POTENSI GENANGAN BERDASARKAN DATA CURAH HUJAN GLOBAL TRMM (TROPICAL RAINFALL MEASURING MISSION) (STUDI KASUS : KABUPATEN SAMPANG)
Bioresit, Filsa;
Taufik, Muhammad
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1379
Indonesia memiliki suatu problematika yang terjadi tiap tahun yaitu bencana banjir. Salah satu penyebab terjadinya banjir adalah adanya genangan air yang terjadi pada suatu tempat dalam kurun waktu tertentu. Salah satu cara untuk dapat mengelola resiko terjadinya genangan adalah dengan memperkirakan kapan suatu daerah akan berpotensi terkena genangan. Analisa ini dapat dilakukan dengan memperkirakan potensi terjadinya hujan lebat (curah hujan tinggi) yang diturunkan dari data curah hujan global yaitu data TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) dan diintegrasikan dengan peta penggunaan lahan, peta jenis tanah, serta Digital Elevation Model (DEM). Wilayah yang dikaji pada penelitian adalah Kabupaten Sampang yang terletak di 113o 08’ - 113o 39’ Bujur Timur dan 6o 05’ - 7o 13’ Lintang Selatan. Pengolahan data dimulai dengan ekstraksi data TRMM menjadi data curah hujan dan koordinat pengukuran hujan. Data curah hujan hasil ekstraksi dari citra TRMM divalidasi dengan data curah hujan di lapangan kemudian digunakan untuk pembuatan peta curah hujan. Peta curah hujan tersebut ditampalkan dengan peta ketinggian wilayah dan peta kelerengan hasil dari pengolahan Digital Elevation Model, serta peta jenis tanah dan peta penggunaan lahan. Menggunakan metode skoring, hasil pertampalan menghasilkan data spasial baru berupa daerah potensi genangan.Dari hasil analisa didapat nilai korelasi yang tinggi antara data curah hujan TRMM dengan data curah hujan di lapangan. Daerah potensi genangan tinggi hasil analisa memiliki kecocokan dengan data kejadian banjir. Namun terdapat daerah potensi genangan tingkat tinggi yang berada di sebelah utara Kabupaten Sampang yang belum terbukti kebenaranya. Oleh karena itu perlu adanya penelitian tentang daerah potensi genangan di utara Kabupaten Sampang. Analisa hubungan antara data curah hujan TRMM dengan potensi genangan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara intensitas curah hujan dengan tingkat potensi genangan.