cover
Contact Name
Muhammad Aldila Syariz
Contact Email
aldilasyariz@its.ac.id
Phone
+6282131726693
Journal Mail Official
aldilasyariz@its.ac.id
Editorial Address
Geomatics Engineering's Building, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Geoid - Journal of Geodesy and Geomatics
ISSN : 18582281     EISSN : 24423998     DOI : https://doi.org/10.12962/geoid.v20i1
General topics of interest include: - Geodesy and geomatics development theory - Geodesy and geomatics applications - Natural Disaster - Land and Ocean Development - Natural Resources - Environment - Science and technology in Mapping and Surveying - Earth Sciences A further issue related to geodesy and geomatics engineering such as: - Optical Remote Sensing and Radar Remote Sensing - Cadastre and 3D Modeling - Geodynamics theory and application - Geospatial - Land Surveying - Geomarine - Photogrammetry
Articles 504 Documents
PERBANDINGAN PERUBAHAN TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) IONOSFER AKIBAT GEMPA BUMI DAN LETUSAN GUNUNG API (STUDI KASUS : GEMPA BUMI 2 MARET 2016 DAN GUNUNG MERAPI 2010) Cahyadi , Mokhamad Nur; Saputra, Febrian Adi
GEOID Vol. 12 No. 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v12i2.1537

Abstract

Pada saat gempa bumi atau letusan gunung api terjadi, ada tiga jenis gelombang yang dihasilkan, yaitu : (1) Gelombang Acoustic (kecepatan 1 km/s) yang dihasilkan dekat dari pusat gempa bumi, gelombang tersebut bergerak naik ke arah vertikal hingga ketinggian lapisan F di ionosfer dalam waktu 10 menit atau lebih. (2) Gelombang gravity (kecepatan 0.3 km/s) yang dihasilkan dari gelombang tsunami akibat dari gempa bumi, dan (3) Gelombang Rayleigh (kecepatan 4 km/s) yang dihasilkan dari epicenter dan bergerak secara bersamaan baik horisontal-vertikal, gelombang ini merambat menjauh mengelilingi bumi dari pusat gempa bumi. Gelombang-gelombang ini membuat gangguan di lapisan ionosfer yaitu pada kerapatan elektron. Kerapatan elektron pada lapisan ionosfer ini disebut dengan Total Elektron Content (TEC). Fenomena ini terdeteksi sebagai CIDs (Coseismic Ionosphere Disturbances), yaitu fluktuasi TEC yang terjadi 15 menit hingga 30 menit setelah gempa terjadi. Di sisi lain, satelit GNSS beredar pada ketinggian 20.000 km dari permukaan bumi dengan memancarkan sinyal melewati lapisan ionosfer pada ketinggian 350 km. Sinyal tersebut mengalami delay ketika melewati lapisan ionosfer, berupa arah, kecepatan, dan kekuatan. Di sisi lain, dengan mengamati delay ini maka gangguan ionosfer yang disebabkan oleh gelombang acoustic dapat dianalisa dan diamati. Gangguan TEC yang disebabkan oleh gunung api dan gempa bumi mempunyai karakter yang berbeda, perbedaan karakteristik gangguan ionosfer terletak pada besaran amplitude, frekwensi gelombang dan lama gangguan setelah terjadinya letusan gunung merapi maupun gempa bumi. Amplitude pada letusan gunung api sebesar ....dan gempa bumi sebesar...., demikian pula durasi terjadinya gangguan pada letusan gunung api terjadi pada....menit setelah meletus, sedangkan pada gempa bumi terjadi pada ...menit setelah terjadinya gempa bumi. Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perubahan menggunakan data GNSS dari stasiun CORS milik Badan Informasi Geospasial (BIG) yang berada di daerah Sumatra, yaitu stasiun CAIR, CBKT, CPAR, CPDG, dan CSEL. Dan di daerah jawa tengah yaitu....., juga beberapa stasiun Sumatra GPS Array yang dimiliki oleh LIPI dan ...Hasil dari pengolahan data menunjukkan anomali TEC muncul pada waktu 11 – 15 menit setelah gempa dengan besar anomali 1,5 – 3,5 TECU yang direkam oleh satelit GPS nomor 17 dan 0,5 – 1,7 TECU yang direkam oleh satelit Glonass nomor 14.
ANALISIS KECEPATAN ARUS UNTUK PENENTUAN LOKASI PEMBANGUNAN MARINE CURRENT TURBINE DI PANTAI SELATAN JAWA Pratomo, Danar Guruh; Widiastuti, Lilik
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1539

Abstract

Energi pembangkit fosil merupakan faktor terbesar terjadinya kerusakan lingkungan yang menyebabkan terjadinya pemanasan global, hujan asam, dan perubahan iklim. Selain itu, energi fosil yang semakin menipis dan tidak dapat diperbarui kembali mendorong penggunaan energi terbarukan yang dirasa lebih efisien dan tidak merusak lingkungan. Salah satu energi terbarukan yang sedang dikembangkan oleh beberapa negara maju yakni energi kelautan yang berasal dari pengaruh fenomena pasang surut air laut. Keuntungannya adalah dapat diprediksikan berdasarkan waktu dan karakter pasang surut yang terjadi di suatu tempat. Lokasi penelitian berada di Pantai Selatan Jawa yang memiliki kecepatan arus yang cukup tinggi karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Pada penelitian ini dilakukan dengan melakukan pemodelan numerik terhadap aliran fluida 3D yang menghasilkan kecepatan arus dan digunakan untuk penentuan lokasi pembangunan MCT. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan beberapa parameter seperti data batimetri, data garis pantai, data pasang, serta data kecepatan arus geostropik dari satelit altimetri. Waktu pemodelan didasarkan pada data curah hujan tahun 2016. Untuk perhitungan estimasi energi yang dihasilkan menggunakan parameter MCT yang memiliki diameter 16 m, 18 m dan 20 m, kedalaman 30 sampai dengan 40 m serta kecepatan arus minimum 1,5 m/s. Dari hasil pemodelan didapatkan, terdapat 124 titik lokasi pembangunan MCT yang memiliki estimasi energi per bulan sebesar 166,900 MWh pada bulan Maret yang mewakili curah hujan teredah dan 159,416 MWh pada bulan Oktober yang mewakili curah hujan tertinggi.
ANALISIS DAERAH PENANGKAPAN IKAN PADA MASA PERALIHAN I DAN II MENGGUNAKAN DATA ALTIMETRI (STUDI KASUS: SELAT BALI) Yuwono, Yuwono; Su'udi, Firdaus Amirullah
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1540

Abstract

Potensi perikanan di Indonesia sangat besar karena hal ini didukung oleh wilayah Indonesia yang hampir dua pertiganya berupa laut. Salah satu wilayah yang kaya akan perikanannya adalah di Selat Bali. Oleh karena itu, diperlukan metode yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mengidentifikasi persebaran dan Daerah Penangkapan Ikan (ZPPI). Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode pemodelan numerikal menggunakan data altimetri yaitu data arus geostropik dan data tinggi muka laut absolut yang ditumpang susun sehingga identifikasi daerah penangkapan ikan dapat dilakukan. Selain itu juga diperlukan data tambahan dari parameter oseanografi lainnya untuk meningkatkan keakuratan Daerah Penangkapan Ikan di wilayah Selat Bali. Dari hasil penelitian didapatkan kecepatan arus geostropik Tanggal 11 April 2012 memiliki kecepatan minimum 0,001 m/s dan kecepatan maksimum 1,122 m/s sedangkan Kecepatan arus geostropik Tanggal 09 Oktober 2012 memiliki kecepatan minimum 0,004 m/s dan kecepatan maksimum 0,670 m/s. Tinggi muka laut pada Tanggal 11 April 2012 minimum 0,852 m dan maksimum 1,094 m sedangkan tinggi muka laut pada Tanggal 09 Oktober 2012 minimum 0,737 m dan maksimum 0,840 m. Anomali tinggi muka laut pada Tanggal 11 April 2012 mempunyai nilai tinggi minimum -0,082 m dan tinggi maksimum 0,160 m, sedangkan anomali tinggi muka laut pada Tanggal 09 Oktober 2012 nilai tinggi minimum -0,038 m dan tinggi maksimum 0,065 m. Korelasi antara Kecepatan arus geosptropik dan anomali tinggi muka laut pada Tanggal 11 April 2012 mempunyai nilai sebesar 0,664 m, sedangkan pada Tanggal 09 Oktober 2012 mempunyai nilai 0,697 m.Terdapat pergeseran antara Daerah Penangkapan ikan pada masa peralihan I dan II. Hal ini dikarenakan tinggi muka laut yang semakin menurun dari bulan April hingga Oktober 2012. Oleh karena itu, diperlukan survei primer ke Selat Bali untuk mendapatkan validasi data jenis ikan yang berada di Zona yang dianggap sebagai ZPPI.
ANALISA PETA DESA SKALA 1:5000 BERDASARKAN PERATURAN KEPALA BIG NOMOR 3 TAHUN 2016 (Studi Kasus: Desa Beran Kabupaten Ngawi) Cahyono, Agung Budi; Zulkarnain, Nizar
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1541

Abstract

Dalam rangka mewujudkan amanat nawacita dibutuhkan Peta Desa sebagai rujukan bagi Kementrian/Lembaga serta Pemerintah Daerah dalam program pembangunan. Peta desa adalah peta tematik bersifat dasar yang berisi unsur dan informasi batas wilayah, infrastruktur transportasi, toponim, perairan, sarana prasarana, penutup lahan dan penggunaan lahan yang disajikan dalam peta citra, peta sarana dan prasarana, serta peta penutup lahan dan penggunaan lahan. Hal tersebut sesuai dengan UU Nomor 6 Tahun 2016 tentang Desa, yang menjelaskan bahwa Desa merupakan subjek dari pembangunan. Peraturan Kepala BIG Nomor 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa merupakan peraturan yang diterbitkan oleh Badan Informasi Geospasial untuk mengatur pembuatan sebuah Peta Desa. Dengan terbitnya aturan tersebut maka dilakukan analisa terhadap Peta Desa Beran yang digunakan sebagai media peningkatan status dari desa menjadi kelurahan. Analisa dilakukan terhadap ukuran muka peta, interval grid peta, spesifikasi tata letak, pewarnaan simbol peta, spesifikasi penulisan informasi peta, dan keefektifan simbol yang digunakan pada Peta Desa Beran, Kabupaten Ngawi. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai ukuran muka peta dan susunan/spesifikasi tata letak informasi peta desa yang digunakan oleh Peta Desa Beran masih belum sesuai dengan Peraturan Kepala BIG Nomor 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa. Terdapat pula tiga objek di lapangan yang simbolnya tidak diatur dalam Peraturan Kepala BIG Nomor 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa, yaitu Yayasan, Panti, dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Selain itu simbol yang ditampilkan pada Peta Desa Beran sebagai pengganti objek yang ada di lapangan terlalu banyak, dikarenakan tidak semua objek pada simbol tersebut dimiliki oleh Desa Beran.
VALIDASI KONDISI PERAIRAN BERDASARKAN NILAI TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT LANDSAT 8 DAN DATA INSITU (STUDI KASUS : PANTAI TIMUR SURABAYA) Hariyanto, Teguh; Pribadi, Cherie Bhekti; Elya, Herfina
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1542

Abstract

Perairan Pantai Timur Surabaya termasuk perairan yang tercemar berat oleh limbah domestik, limbah industri, limbah pertanian, dan limbah. Kondisi ini menyebabkan terganggunya kelangsungan hidup biota yang ada disekitarnya, seperti pada perikanan, ekosistem pesisir, dan laut, yang berdampak lebih luas terhadap penurunan pendapatan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya pada produktivitas hayati di wilayah pesisir dan pantai. TSS (Total Suspended Solid) merupakan  salah satu parameter penentu kualitas air. Metode penginderaan jauh dengan citra satelit dapat menjadi solusi untuk melakukan penelitian TSS. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer berupa data insitu pada tanggal 17 Maret 2017 dan data sekunder berupa citra satelit Landsat-8 tahun 2013, 2014, 2015, 2016, 2017. Metode yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada pengolahan citra satelit Landsat 8 menggunakan 3 algoritma yaitu, algoritma Budima,  algoritma Parwati, algoritma Laili. Dilakukan korelasi linier antara data citra dan insitu. Data hasil korelasi terbaik yaitu algoritma Budiman dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0,853. Hasil pengolahan data didapatkan nilai  TSS bervariasi antara 1-192 mg/L. Status mutu air perairan Pantai Timur Surabaya berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 tahun 2003 pada Pantai Timur Surabaya rata-rata berada pada nilai 0 <= indeks pencemaran <= 1  yang berarti memenuhi baku mutu (kondisi baik).
PEMBUATAN SISTEM INFORMASI PENDAFTARAN KADASTER 3D BERBASIS WEB (STUDI KASUS: RUMAH SUSUN GRUDO, SURABAYA) Lestari , Isna Dwi; Budisusanto, Yanto
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1543

Abstract

Pada saat ini tingkat kebutuhan akan ruang sangat tinggi, sehingga dirasakan konsep ruang, baik hunian maupun komersial pada umumnya bangunan fisik yang berdiri di atas permukaan tanah (landed house) menjadi kurang efisien. Selain itu, pertumbuhan populasi manusia yang cukup tinggi menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan lahan. Untuk mengatasi kebutuhan tersebut sejak tahun 1985 di Indonesia diperkenalkan konsep hunian secara vertikal. Salah satu contoh hunian vertikal yaitu Rumah Susun. Untuk bangunan rumah susun penerapan sistem kadaster dua dimensi (2D) menjadi kurang tepat, karena tidak dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Keterbatasan persil 2D ini mendorong lahirnya konsep kadaster tiga dimensi (3D) yang diharapkan dapat memberikan kepastian hukum bagi kepemilikan atas bagian properti rumah susun. Pada pembuatan sistem informasi kadaster 3D, perlu dilakukan pembuatan model 3D dan basis datanya. Pembuatan model 3D dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SketchUp Make, sedangkan untuk pembuatan basis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak PostgreSQL. Setelah kedua komponen tersebut terbentuk, kemudian komponen tersebut dihubungkan dan divisualisasikan pada website. Dalam pembuatan website dilakukan dengan bahasa pemrograman HTML, CSS dan PHP. Pada penelitian ini berhasil dilakukan pembuatan model 3D dari Rumah Susun Grudo Surabaya dengan tingkat kedetailan dari model 3D yang dibuat didasarkan pada LOD1 (Level of Detail 1), dan pembuatan sistem basis data kadaster 3D. Selain itu, model 3D dari Rumah Susun Grudo berhasil divisualisasikan pada website Sistem Informasi Pendaftaran Kadaster 3D yang telah dibuat. Website tersebut dapat diakses secara online dengan domain www.tridisun-grudo.com. Dari website yang telah dibuat dilakukan pengujian dengan cara pemberian penilaian dari pengguna melalui kuesioner uji kebergunaan atau usability yang terdapat pada website. Berdasarkan hasil rekapitulasi uji kebergunaan total 94 responden dengan presentase hasil sebesar 84,56%, artinya website Sistem Informasi Pendaftaran Kadaster 3D dikategorikan sangat layak.
IDENTIFIKASI FITUR DASAR LAUT DENGAN MENGGUNAKAN DATA SONAR Khomsin, Khomsin; Talif, Musdiyana
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1544

Abstract

Peta laut (nautical chart) merupakan representasi gambar objek permukaan dan bawah permukaan di wilayah laut dan pesisir yang berisi informasi tentang kedalaman laut, topografi pantai, garis pantai, detil alami dan buatan (pelabuhan, bangunan pantai), pasang surut air laut, arus laut, bahaya navigasi dan fitur dasar laut. Fitur dasar laut (seabed features) merupakan salah satu informasi yang sangat penting yang harus disajikan dalam peta laut untuk keselamatan navigasi di laut. Ada beberapa teknik dan metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi fitur dasar laut yaitu dengan menggunakan single beam echosounder, multi beam echosounder, side scan sonar, fotografi dan videografi dasar laut. Penggunaan gelombang suara (sonar) dalam hal pendeteksian fitur dasar laut direkomendasikan oleh International Hydrographic Organizations yang dituangkan dalam Special Publication No. 44 Edisi Kelima Tahun 2008 (IHO, 2008). Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi fitur dasar laut di Perairan Kepulauan Riau dengan menggunakan data Sonar yaitu multibeam echosounder, single beam echosounder dan side scan sonar. Identifikasi dengan kedua data tersebut menunjukkan bahwa fitur dasar di Perairan Kepulauan Riau meliputi batuan dasar (84,7%), galian (3,1%) dan gelombang pasir (12,2%). Objek buatan dasar laut yang teridentifikasi adalah pipa bawah laut dengan total panjang pipa 1636,7 m.
PEMANFAATAN CITRA MODIS LEVEL 1B DALAM PEMBUATAN PETA PRAKIRAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN (Studi Kasus : Pantai Selatan Blitar) Sukojo, Bangun Muljo; Febriani , Eva Resti; Febriani, Eva Resti
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1545

Abstract

The potential of marine resources in Blitar quite large but utilization is not optimal, so it requires a Regional Forecast Map Fishing in order to exploit the potential of fishery resources there is more optimal. Determination of the area forecast use of the fish can be predicted from the parameters of sea surface temperature and chlorophyll-a. Modis image level 1b can be used in the manufacture of the forecast utilization of fish pennagkapan area. Used algorithm ATBD (Theoretical Basic Document Encryption Modis) 25 to determine sea surface temperature and Algorithms Morel 4 is used to determine the chlorophyll-a. The results obtained from this study is the RMSE test conducted between field data with the data Modis image of RMSE 1b level of 0.706568, with forecasts of fishing areas and potentially potent enough.
ANALISA PENENTUAN BATAS LAUT ANTARA PROVINSI DKI JAKARTA DAN PROVINSI BANTEN BERDASARKAN UU NOMOR 23 TAHUN 2014 (Studi Kasus : 22 Pulau di Kepulauan Seribu) Yuwono, Yuwono; Rahmayunita, Deasy Rosyida
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1546

Abstract

Batas wilayah definitif sesuai dengan ketetapan hukum berperan penting dalam suatu pemerintahan daerah untuk tata kelola pemerintahan, pertahanan, keamanan, perijinan, pengelolaan sumberdaya alam, dan lain-lain. Dikenal ada dua batas untuk wilayah, yaitu darat dan laut. Penetapan batas laut daerah diperlukan agar tidak terjadi sengketa antar dua daerah atau lebih akibat terjadinya tumpang tindih kewenangan daerah. Terdapat beberapa perubahan dalam peraturan penentuan batas wilayah pengelolaan laut daerah yaitu mengenai penentuan garis pantai sebagai acuan dasar penentuan batas wilayah pengelolaan laut daerah. Dalam undang-undang sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dijelaskan acuan garis pantai yang digunakan, sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dijelaskan bahwa garis pantai yang digunakan adalah garis pantai berdasarkan pasang tertinggi air laut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan batas wilayah pengelolaan laut daerah antara Provinsi DKI Jakarta dengan Provinsi Banten terkait klaim Provinsi Banten terhadap 22 pulau di Kepulauan Seribu. Hasil penelitian ini adalah analisis pengelolaan laut daerah antara Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten dengan berbagai alternatif penarikan batas sesuai dengan pedoman penegasan batas secara kartometrik dengan menggunakan prinsip equidistance dan median line. Hasil penelitian ini terdapat empat alternatif penarikan batas, yaitu penarikan batas laut jika 22 pulau dianggap tidak ada, penarikan batas laut jika 22 pulau dianggap masuk Provinsi DKI Jakarta, penarikan batas laut jika pulau dianggap masuk Provinsi Banten, dan penarikan batas laut jika 22 pulau dibagi menjadi dua bagian. Sehingga kejelasan kepemilikan 22 pulau di Kepulauan Seribu dan kejelasan batas administrasi laut sangat dibutuhkan karena berpengaruh terhadap pengelolaan laut daerah antara Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Banten.
ANALISIS PERUBAHAN NILAI TANAH DI AREA LERENG GUNUNG KELUD PASCA ERUPSI 2014 (Studi Kasus: Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri) Deviantari, Udiana Wahyu; Budisusanto, Yanto; Aqil, Mohammad Ibnu
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1547

Abstract

Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api aktif di Pulau Jawa. Gunung ini terakhir erupsi pada tahun 2014. Erupsi gunung ini mengakibatkan kerusakan pemukiman, kerusakan fasilitas umum, serta kerusakan lading-landang masyarakat sekitar Gunung Kelud yang menyebabkan gagal panen. Terjadinya perubahan kondisi fisik suatu wilayah dapat memicu perubahan nilai tanah di tersebut. Melihat status gunung yang aktif, keadaan seperti ini bisa dipastikan akan terulang di kemudian hari. Sehingga perlu adanya penelitan tentang perubahan nilai tanah di area lereng Gunung Kelud untuk mengetahui seberapa pengaruh erupsi gunung terhadap nilai tanah. Penelitian ini dilakukan dengan menumpang susunkan peta zona nilai tanah Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri tahun 2013, 2014, dan 2015 menggunakan perangkat lunak pengolah data spasial. Untuk mengetahui besar nilai tanah yang terjadi di lokasi penelitian. Data perubahan nilai tanah tersebut kemudian dilakukan uji korelasi dan regresi linear berganda dengan variabel bebas yang sudah ditentukan yaitu jarak zona terhadap pusat letusan, jarak zona dari CBD, dan jarak zona dari jalan kolektor. Tujuannya ialah mengetahui seberapa besar pengaruh erupsi Gunung Kelud dan variabel lainnya terhadap perubahan nilai tanah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terjadi perubahan nilai tanah di Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri. Menurut hasil uji korelasi, erupsi Gunung Kelud 2014 tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan nilai tanah. Dari hasil analisa regresi linear berganda yang dilakukan variabel yang dipilih hanya mampu menggambarkan 11,9% pada tahun 2013-2014 dan 47,7% pada tahun 2014-2015. Sehingga masih banyak faktor lain yang belum diketahui sebagai penyebab perubahan nilai tanah di Kecamatan Ngancar.