cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 549 Documents
Analisis Model Fisik Revetment Buis Beton Dendy Nurrochim; Yessi Nirwana Kurniadi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 1: Maret 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i1.106

Abstract

ABSTRAKRevetment adalah salah satu struktur pelindung pantai yang berfungsi pelindung dari abrasi. Saat ini perkembangan material penyusun revetment sangat beragam salah satunya buis beton. Kekuatan buis beton sebagai saluran drainase sudah teruji dalam bidang pengelolaan sumber daya air tetapi untuk bahan penyusun revetment belum pernah diuji. Berdasarkan hal itu Balai Teknologi Pantai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan melakukan analisis model fisik guna menyusun pedoman pelaksanaan konstruksi untuk menjamin kekuatan konstruksi revetment buis beton. Penelitian ini melanjutkan ide dari Balai Teknologi Pantai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan melakukan penelitian analisis model fisik revetment buis beton. Penelitian melakukan uji model fisik yang dibentukdari pipa PVC berdiameter 10 cm dan tinggi 5 cm dengan kemiringan pantai 28,61°. Analisis model fisik dilakukan untuk mengetahui kemampuan buis beton dalam merefleksikan gelombang dan run up terjadi dengan 3 variasi kedalaman. Hasil dari pengujian model fisik diperoleh koefisien refleksi pada kedalaman 30 cm sebesar 0,3 ― 0,42 dengan persentase gelombang tereduksi 50%―65 % dan koefisien refleksi untuk kedalaman 40 cm sebesar 0,8 ― 0,98 dengan persentase gelombang tereduksi 2% ―14 %.Kata kunci: revetment,koefisien refleksi,run-up,buis beton ABSTRACTRevetment is one of the coastal protection structure use as a shore protection from abrasion. Nowdays, development of revetment material was currently many variation one of them are concrete pipe. The strength of concrete pipe as a drainage channel had been tested in the field of water resources management but for the revetment this material has never been investigated. Based on this, Ministry of Public Works and Housing would conduct a physical model analysis to prepare guidelines for the construction to ensure the strength of the construction of the concrete pipe revetment. This research will continue the idea using concrete pipe as revetment with physical model study. In physical study, the concrete pipe model was made from PVC pipe with 10 cm diameter and 5 cm height on a 28,61° slope. Physical model analysis was carried out to determine the ability of concrete pipe in reflecting waves and run-up occurs with 3 depth variations. The results of physical model testing obtained reflection coefficient at a depth of 30 cm of 0.3 ― 0.42 with a percentage of reduction 50% ― 65% and reflection coefficient for a depth of 40 cm of 0.8 ― 0.98 with a reduced percentage of 2%― 14%.Keywords: revetment, coefficient of reflection, run-up,concrete pipe
Efek Tipe Superplasticizer terhadap Sifat Beton Segar dan Beton Keras pada Beton Geopolimer Berbasis Fly Ash Ria Utami; Bernardinus Herbudiman; Rulli Ranastra Irawan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 1: Maret 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i1.59

Abstract

ABSTRAKBeton geopolimer adalah beton tanpa semen portland dengan bahan pengikat material yang mengandung silika dan alumunium yang tinggi seperti fly ash. Silika dan alumunium pada fly ash diaktifkan oleh aktivator yaitu sodium hidroksida (NaOH) dan katalisator yaitu sodium silikat (). fly ash yang digunakan pada penelitian adalah campuran fly ash PLTU Suralaya 1 dan PLTU Suralaya 2. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh tipe superplasticizer terhadap beton segar dan keras beton geopolimer yaitu slump flow, setting time dan kuat tekan. Superplasticizer yang digunakan adalah naphthalene, sodium glukonat dan polycarboxylate. Benda uji kuat tekan adalah kubus berukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm sebanyak 3 buah, pengujian dilakukan pada umur beton 1, 3, 7 dan 28 hari. Hasil dari penelitian diketahui bahwa superplasticizer sodium glukonat adalah superplasticizer terbaik untuk beton geopolimer karena beton mendapatkan flow dan setting time yang lama, dengan kuat tekan yang tidak jauh berbeda dengan beton geopolimer.Kata kunci: beton geopolimer, fly ash, superplasticizer, beton segar, beton keras ABSTRACTGeopolymer concrete is a concrete without portland cement with high component silica and aluminium as the binding material such as fly ash. Silica and aluminum in fly ash is activated by sodium hydroxide (NaOH) and sodium silicate (). fly ash used in the study was mix  two steam power plant, fly ash PLTU Suralaya 1 and PLTU Suralaya 2. The study was conducted to determine the effect of type superplasticizer on fresh concrete and hardened of geopolymer concrete which is Slump flow, setting time and compressive strength. Superplasticizer used is naphthalene, sodium gluconate and polycarboxylate. Compressive strength test specimen is a cube measuring 5 cm x 5 cm x 5 cm as much as 3 pieces, testing is done on the concrete 1, 3, 7 and 28 days. The results of the study note that sodium gluconate is the best admixture for geopolymer concrete because concrete has highest flow characteristic and longer setting time, with difference of compressive strength was not significantly.Keywords: geopolimer concrete, fly ash, superplasticizer, fresh concrete, hardened concrete
Analisis Perkuatan Fondasi Sumuran Jembatan Krueng Seulekat pada Ruas Jalan Nasional Tapaktuan-Subulussalam Kabupaten Aceh Selatan Nabila Naqya Nazda; Yuki Achmad Yakin
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 4: Desember 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i4.53

Abstract

ABSTRAK Struktur bawah Jembatan Krueng Seulekat terdiri dari 2 abutment dengan fondasi yang digunakan adalah fondasi sumuran diameter 3 m. Kedalaman fondasi sumuran pada abutment 1 yaitu 5,5 m dan pada abutment 2 yaitu 6,5 m. Jembatan tersebut perlu dilakukan pelebaran, dengan adanya pelebaran maka akan berpengaruh terhadap kapasitas daya dukung fondasi jembatan. Setelah jembatan dilebarkan, fondasi yang ada tidak lagi mampu menyalurkan beban aksial yang bekerja di atasnya (9503,63 kN). Perkuatan fondasi sumuran yang dilakukan adalah dengan cara melebarkan diameter fondasi agar kapasitas daya dukungnya mampu menahan beban struktur di atas nya. Analisis daya dukung yang digunakan yaitu dengan perhitungan manual dan pemodelan program PLAXIS 2D. Perencanaan perkuatan fondasi sumuran baru yang dipilih yaitu pada abutment 1 diameter fondasi sumuran menjadi 3,6 m dan pada abutment 2 diameter fondasi sumuran menjadi 3,4 m dengan kedalaman fondasi sumuran tetap seperti awal dan jumlah fondasi sumuran di setiap abutment adalah 1 unit. Kata kunci: fondasi sumuran, kapasitas daya dukung, pelebaran jembatan, perkuatan. ABSTRACT The substructure of Krueng Seulekat Bridge is consist of 2 abutment with the foundation namely a caisson foundation with a diameter of 3 m. The depth of the caisson on abutment 1 is 5,5 m and on abutment 2 is 6,5 m. The bridge needs to be widened, with the widening of the bridge structure it also affect the bearing capacity of the bridge foundations. Once the bridge is widened the foundation is no longer able to support the axial load that working on it (9503,63 kN). Reinforcement of the caisson foundation is planned by expanding the foundation diameter so that its bearing capacity is able to support the load of the upper structure after the bridge widening. Analysis is using the calculation of manual formula and modeling in software Plaxis 2D. The reinforcement planning for the new diameter of foundation is, in abutment 1 the diameter of caisson foundation becomes 3,6 m and in abutment 2 the diameter becomes 3,4 m with the depth of the caisson foundation remains as the beginning and the number of caisson foundation in each abutment is 1 unit. Keywords: caisson foundation, bearing capacity, bridge widening, reinforcement
Perencanaan Teknis Pangkalan Pendaratan Ikan Baruakol Kepulauan Sula Maluku Utara Dwinanda Narindra; Yati Muliati; Fachrul Madrapriya
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 4: Desember 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i4.115

Abstract

ABSTRAKDesa Baruakol, Kabupaten Kepulauan Sula merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Provinsi Maluku Utara. Namun selama periode 2012-2014, total nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor-sektor ekonomi mengalami penurunan menurut BPS (Badan Pusat Statistik). Pembangunan prasarana perikanan dibutuhkan untuk dapat membantu meningkatkan perekonomian daerah. Prasarana tersebut berupa pelabuhan ikan yang termasuk kedalam klasifikasi pangkalan pendaratan ikan (PPI). Analisis yang digunakan yaitu pasang surut dengan menggunakan metode Least Square dan metode Admiralty, dilanjutkan dengan perhitungan fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang. Hasil pasang surut yang digunakan adalah metode Least Square dengan hasil tunggang pasut yang didapat sebesar 2,04 m serta HWS pada elevasi +2,39 m dan LWS +0,35 m. Dengan dilengkapi fasilitas pokok dengan luas total sebesar 7.982 m2 sedangkan untuk fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang seluas 2.692 m2.Kata kunci: perencanaan teknis, metode pasang surut, pangkalan pendaratan ikanABSTRACTBaruakol Village, in Sula Islands Region is one of the largest fish resource in North Maluku Province. However, during the 2012-2014 period, the total additional value generated by the economic sectors are decreasing, according to BPS (Badan Pusat Statistik) / National Statistic Centre. Developing fishing port infrastructure is needed to help improving the regional economy. The infrastructure is formed as fishing port that classification type of PPI. The tidal analysis is Least Square method and Admiralty method, and  calculation of basic facilities, functional facilities and supporting facilities. The tidal ebb & flow test is using Least Square method the result obtained from tidal ebb & flow test is 2.04 m and HWS elevation at +2.39 m and LWS at +0.35 m. Equipped with basic facilities with total area of 7,982 m,2 meanwhile coverage area for functional facilities and supporting facilities is 2,692 m2.Keywords: technical planning, tidal method, fishing port type PPI
Studi Mengenai Perancangan Komposisi Bahan dalam Campuran Mortar untuk Pembuatan Bata Beton (Paving Block) Kiagus Aldi Multazam; Priyanto Saelan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 1, No 1: Desember 2015
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v1i1.89

Abstract

ABSTRAKPerancangan komposisi bahan campuran mortar untuk membuat bata beton (paving block) dilakukan dengan cara coba-coba (trial error) hal ini disebabkan metode mix design untuk campuran mortar belum dikembangkan secara teoritis. Agar produk paving block dapat memenuhi syarat yang ditentukan oleh SNI 03-0691-1996 maka perlu dikembangkan suatu teori pendekatan dalam perancangan komposisi bahan dalam campuran mortar. Hasil-hasil pengujian dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa makin tinggi volume pasir dalam campuran bata beton, makin rendah nilai kuat tekan paving block dari yang seharusnya. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya ikatan antara pasta semen dengan permukaan agregat akibat berkurangnya kelecakan campuran mortar jika volume pasir bertambah. Dari hasil penelitian perancangan komposisi bahan dalam campuran mortar untuk pembuatan paving block dapat dilakukan mengunakan persamaan Dreux dengan menambah faktor koreksi berkisar antara 0 sampai 1. Volume pasir maksimum untuk semua ukuran butiran agar tidak terjadi seregrasi pada campuran adalah 0,70 m3,dan modulus kehalusan pasir yang paling baik untuk membuat campuran mortar adalah sama dengan atau lebih besar dari 2,3.Kata kunci: mortar, volume pasir, kuat tekan, kelecakan ABSTRACTMortar mix design in paving block home industries was usually carried out by using trial and error method. This method was caused by unavailability of theoritical approach in mortar mix design. In order to fulfill SNI 03-0691-1996 standard, it is necessary to develope  theoritical aproach in mortar mix design. The method proposed in this research is developed by using concrete mix design by Dreux. Test results in this research showed the higher the volume of sand, the lower the compressive strength that should be. Based on the test results, mortar mix design can be carried out by adding corrcetion factor in Dreux method, which is  0 1. In order to prevent segregation in mortar mix, the maximum volume of sand is 0.7 m3 and the fineness modulus is equal or larger than 2,3.Keywords: mortar, the volume of sand, compressive strength, workability
Pengaruh Floating Stone Column Dalam Perbaikan Tanah Pada Tanah Lempung Lunak Menggunakan Metode Elemen Hingga Rangga Anhar; Indra Noer Hamdhan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.83

Abstract

ABSTRAK Tanah lunak umumnya memiliki daya dukung yang rendah. Apabila ada pembebanan konstruksi melampaui daya dukung kritisnya, akan terjadi penurunan yang drastis. Maka perlu dilakukan perbaikan tanah untuk meningkatkan daya dukung tanah tersebut. Pada analisis ini pemodelan dengan Stone Column dipilih sebagai metode perbaikan tanah. Pemodelan Stone Column yang dilakukan adalah mengambang (floating) di lapisan tanah lunak. Dalam analisis ini menggunakan perhitungan numerik pada program PLAXIS 2D AE yang berbasis metode elemen hingga. Analisis dengan Floating Stone Column dilakukan dengan variasi pemodelan dan variasi kedalaman. Variasi konfigurasi yang dilakukan dengan berbagai tipe yaitu tipe sejajar, tipe tangga dan tipe piramida. Variasi kedalaman yang dilakukan yaitu 90%, 80%, 70%, 60%, dan 50% dari kedalaman tanah lunak. Model floating stone column dipilih mana yang paling effiesien baik dari segi hasil maupun segi ekonomis. Kondisi S2 dipilih dengan nilai penurunan 0,158 m dengan dan waktu konsolidasi 62 hari.Kata Kunci: Floating Stone Column, Perbaikan Tanah, Tanah Lempung Lunak, Metode Elemen Hingga. ABSTRACT Soft soil generally has low bearing capacity. Therefore the soft soil is need to improve for increase the bearing capacity of soft soil. The method of soil improvement that chosen in this analysis is stone column method. The model of Stone Column is floating in soft soil layer. PLAXIS 2D AE with finite element method are used in the numerical analysis. Analysis with Floating Stone Column were done by variation of configuration and depths. The configurations of floating stone column model are parallell type, stairs type and pyramid type. The depths variation of floating stone column are  90%, 80%, 70%, 60%, and 50% in soft soil layer. The model of stone column was selected which most efficient model in term both of result and ecomically. S2 Condition is selected that the settlement is 0,158 m and the time of consolidation is 62 days.Key Words: Floating Stone Column, Soil Improvement, Soft Soil, Finite Element Method.
Potensi Penerapan Ecodrainage di Desa Sumberejo Kecamatan Pakal Kota Surabaya Hudhiyantoro Hudhiyantoro; Faradlillah Saves; Masca Indra
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 1: Maret 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i1.10

Abstract

ABSTRAKKota Surabaya berkembang sangat pesat, seiring perkembangan tersebut tentu didukung dengan perkembangan infrastruktur air. Akibat pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi dan kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan, sehingga kerap kali terjadi banjir.Dalam penelitian ini peneliti mencoba menerapkan sistem ecodrainage di salah satu desa yang ada di Surabaya yaitu Desa Sumberejo Kecamatan Pakal, dimana yang notabene di desa tersebut kerap terjadi banjir. Tahap awal adalah survei lapangan guna mencari informasi faktual tentang banjir setempat. Langkah selanjutnya melakukan pengolahan data yaitu dengan menganalisis data curah hujan yang kemudian didapatkan curah hujan rancangan dan kemudian dirunning menggunakan software EPA SWMM 5.1. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh saluran eksisting tidak dapat menampung debit rencana. Sehingga diperlukan sumur resapan untuk menanggulangi banjir. Sumur resapan direncanakan setinggi 2,9125 m dengan jari-jari sumur 0,5 m. Dengan adanya sumur resapan maka debit rencana dapat tertampung 100%.Kata kunci: saluran drainase, EPA SWMM 5.1, sistem ecodrainage ABSTRACTSurabaya develops very rapidly, as the development of course supported the development water infrastructure.Due to the higher growth of population and the lack of public awareness on the importance of protecting the environment, so it often time there was a flood.In this research researchers tried to apply ecodrainage system in one village that is in surabaya which is a village Sumberejo Sub-district Pakal, where the service provider claimed in the village floods the.The initial stage is field surveys in order to look for factual information about local flood .The next step process data that is by analyzing of precipitation data which are then obtained rainfall dirunning uses software design and then the final stage of the SWMM 5.1.Based on the research done the existing obtained can not accommodate discharge plan.Leading to the need for wells to cope with the flood.Wells planned as high as 2.9125 m with radius of wells 0.5 m with the wells and discharge plan could be accommodated 100%.Keywords: drainage, EPA SWMM 5.1, ecodrainage system
Analisis Perilaku Timbunan Tanah Pasir Menggunakan Uji Model Fisik Fadi Muhammad Akmal; Yuki Achmad Yakin
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.112

Abstract

ABSTRAKIlmu teknik pada dasarnya berhubungan dengan pemodelan untuk mencari solusi dari permasalahan yang nyata. Pemodelan dapat berupa model fisik atau model numerik. Pemodelan yang dilakukan pada studi ini adalah model fisik, yaitu model fisik timbunan menerus dengan material tanah pasir. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui besarnya penurunan timbunan tanah pasir setelah diberi beban yang dimodelkan di laboraturium dengan material tanah yang sama tetapi kondisi pemadatannya berbeda. Tingkat kepadatan tanah yang didapatkan dan dimodelkan ada tiga yaitu, sangat lepas, sangat lepas sampai lepas, dan lepas. Penurunan umumnya terjadi pada tanah dengan kondisi kepadatan sangat lepas hingga lepas. Hasil penurunan dari pemodelan ini kemudian dibandingkan dengan metode numerik dan analitik. Penurunan yang didapat dari pemodelan empirik untuk pemodelan pertama dengan kepadatan sangat lepas adalah 1,2 cm, kedua model timbunan dengan kepadatan sangat lepas sampai lepas sebesar 0,75 cm, dan model timbunan ketiga dengan kepadatan lepas sebesar 0,45 cm.Kata kunci: timbunan, tanah non-kohesif, penurunan, pemodelan geoteknik, model fisik: skala kecil. ABSTRACTEngineering is fundamentally concerned with modelling to find solutions of real problems. Modelling could be a physical model or numerical model. A model that had been analysed in this study was physical model of continuous embankment with sand as the material. The purpose of this analysis was to find the settlement of sand embankment after the embankment loaded through modelling in laboratory with same material but in different condition of compaction. The kinds of soil density that were modelling were, very loose, very loose-to-loose, and loose. Settlement commonly happened on very loose through loose density condition. The result from physical modelling were compare with numerical and analytical method. The settlement of the first modelling with very loose density was 1.2 cm, the second modelling with very loose-to-loose density was 0.75 cm, and the third modelling with loose density was 0.45 cm.Keywords: embankment, non-cohessive soil, settlement, geotechnical modelling, physical models: small scale.
Pembesaran Gaya Dalam dan Rasio Kekuatan Elemen Struktur Baja untuk Berbagai Koefisien Modifikasi Respon (R) Wahyu Satria Komara; Kamaludin Kamaludin
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.86

Abstract

ABSTRAKPerencanaan struktur bangunan yang elastis membuat dimensi struktur yang di desain menjadi lebih besar sehingga biaya pembangunan struktur menjadi meningkat. Struktur bangunan harus di desain dengan suatu konsep tertentu sehingga bangunan tersebut dapat menahan beban yang terjadi secara efisien. Perencanaan struktur bangunan gedung dengan menggunakan koefisien modifikasi respon () ialah merencanakan bangunan untuk mengalami proses plastifikasi pada elemen struktur ketika terjadi gempa. Penelitian ini membandingkan model struktur bangunan dari rangka baja yang terdiri dari 10 lantai, dengan variasi koefisien modifikasi respon () yaitu, =3; 3,5; 4,5; 5; 6; 7; dan 8. Ketujuh model ini juga di dianalisis sesuai dengan sistem penahan gaya seismiknya. Analisis pada penelitian ini menggunakan program ETABS2015. Dari hasil analisis, diperoleh bahwa Semakin kecil nilai koefisien modifikasi respon () yang digunakan mempengaruhi rasio lentur yang terjadi. Perbesaran lentur pada kolom 18 (C18) ketika nilai =3 sebesar 52,47%.Kata kunci: koefisien modifikasi respon (), daktilitas, pembesaran gaya dalam ABSTRACTPlanning an elastic building structure makes the dimensions and designed structures larger and it can increases the cost of the construction itself. The building structures must be designed with a certain concept so, that the building can withstand the loads efficiently. A structure planning using the response modification coefficient () is to plan the building to experience a process of plasticization of the structural elements during an earthquake. This study compares the building structure model of a steel frame consisting of 10 floors, with variation in the modification coefficient of response () from =3; 3,5; 4,5; 5; 6; 7; until 8. The seven models are also analysed according to the seismic force retaining system.  The analysis in this study using the ETABS2015 program. From the results of the analysis, it was found that the smaller the value of the  response modification coefficient used will affects the bending ratio that occurs. The flexural force when the value of =3 in column 18 (C18) is 52.47%.Keywords: response modification coeffient, ductility, inner force enlargement
Analisis Tingkat Kepuasan terhadap Kualitas Pelayanan Kereta Api Ekonomi Bandung Raya Galih Wijaksana Affandi; Dwi Prasetyanto; Andrean Maulana
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 4: Desember 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i4.12

Abstract

ABSTRAKKualitas pelayanan menjadi salah satu indikator yang digunakan oleh banyak perusahaan jasa transportasi dalam menghadapi persaingan usaha, termasuk PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Persero. Analisis tingkat kepuasan dan tingkat kepentingan berdasarkan metode Importance Performance Analysis (IPA) dan metode Customer Satisfaction Index (CSI) digunakan untuk mengetahui kualitas pelayanan yang diberikan. Hasil analisis setiap pelayanan yang telah diuji validitas & reliabilitas dan dinyatakan valid & reliabel kemudian dipetakan dalam diagram kartesius IPA serta nilai CSI untuk mengetahui tingkat kepuasan pengguna jasa kereta api secara keseluruhan. Berdasarkan metode IPA Pelayanan tentang Kebersihan & Kerapihan Fasilitas Kereta, Kelengkapan Fasilitas Kereta, serta Kesopanan & Kejujuran Petugas dirasakan penting dan memuaskan oleh pengguna jasa. Berdasarkan metode CSI diperoleh nilai CSI sebesar 75,06% yang berarti bahwa kualitas pelayanan yang diberikan oleh kereta api secara keseluruhan dirasa memuaskan oleh pengguna jasa.Kata kunci: kualitas pelayanan, tingkat kepuasan, tingkat kepentinganABSTRACTService quality becomes one of indicator which is used by many transportation service companies in business competition including PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Persero. The analysis of satisfaction and importance level based on Importance Performance Analysis (IPA) and Customer Satisfaction Index (CSI) method used to find out the service quality. The analysis result has been tested by validity & reliability for each service which is valid & reliable and then plotted onto IPA cartesians diagram and CSI value to determine the satisfaction for whole train users. Based on IPA method, the service of Cleanliness & Neatness, Qualities & Services in Train Facilities, and Integrity & Respectful Officers are felt important and satisfy by train users. Based on CSI method, the CSI value is 75.06% which means that the service quality that has been given by whole of trains are satisfied by train users.Keywords: service quality, satisfaction level, importance level