cover
Contact Name
Dewi Susanna
Contact Email
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Editorial Address
G301 Building G 3th Floor Faculty of Public Health Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : https://doi.org/10.7454/kesmas
Core Subject : Health,
The focus of Kesmas is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance the public health through a scientific approach applying a variety of technique. This focus includes areas and scopes such as Biostatistics, Environmental Public Health, Epidemiology, Health Policy, Health Services Research, Nutrition, Occupational Health and Industrial Hygiene, Public Health, Public Health Education and Promotion, Women Health.
Articles 928 Documents
Effectivity of Foot Care Education Program in Improving Knowledge, Self-Efficacy and Foot Care Behavior among Diabetes Mellitus Patients in Banjarbaru, Indonesia Mahdalena, Mahdalena; Ningsih, Endang Sri Purwanti
Kesmas Vol. 11, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah kaki diabetik di Indonesia masih merupakan masalah besar dan masih memerlukan perhatian yang optimal. Edukasi perawatan kaki adalah salah satu upaya yang harus dilakukan dalam mencegah masalah kaki untuk pasien diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program pendidikan perawatan kaki dalam meningkatkan pengetahuan, efikasi diri, dan perilaku perawatan kaki pasien diabetes di wilayah Banjarbaru. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental dengan prepost test, dilakukan di puskesmas wilayah Banjarbaru tahun 2013. Kelompok intervensi diberikan program pendidikan perawatan kaki. Sampel berjumlah 48 pasien (32 orang kelompok intervensi dan 16 orang kelompok kontrol) menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diukur adalah pengetahuan, efikasi diri, dan perilaku perawatan kaki pasien diabetes melitus. Perlakuan yang diberikan pada responden berupa pendidikan kesehatan tentang perawatan kaki sebanyak dua kali. Setiap variabel diukur dua kali sebelum dan setelah intervensi. Uji pengetahuan diukur menggunakan Diabetic Foot Care Knowledge Questionnaire, efikasi diri diukur menggunakan Foot Care Confident Scale Self-Efficacy, dan perilaku perawatan kaki dinilai menggunakan Behavior Foot Care Questionnaire. Analisis data menggunakan Manova. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan (nilai p = 0,001), efikasi diri (nilai p = 0,000) dan perilaku perawatan kaki (nilai p = 0,000) sebelum dan setelah intervensi. Diabetic foot problem in Indonesia remains a big problem and still needs an optimum concern. Foot care education is one of efforts that must be performed to prevent foot problem among diabetes mellitus patients. This study aimed to analyze effectivity of foot care education program in improving knowledge, self-efficacy and foot care behavior of diabetes patients in Banjarbaru. This study was quasi experimental with prepost test as conducted at primary health care in Banjarbaru in 2013. Foot care education program was provided to intervention group. Samples were 48 patients (32 persons in intervension group and 16 persons in control group) using purposive sampling technique. Variables measured were knowledge, self-efficacy and foot care behavior of diabetes mellitus patients. Intervension provided on respondents was in form of health education concerning foot care for twice. Every variable was measured twice before and after intervension. Knowledge test was measured using Diabetic Foot Care Knowledge Questionnaire, self-efficacy was measured by using Foot Care Confident Scale Self-Efficacy and foot care behavior was assessed using Behavior Foot Care Questionnaire. Data analysis used Manova. Results showed significant differences on knowledge level (p value = 0.001), self-efficacy (p value = 0.000) and foot care behavior (p value = 0.000) before and after intervension.
Lack of Exclusive Breastfeeding among Working Mothers in Indonesia Sari, Yulia
Kesmas Vol. 11, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberlangsungan proses menyusui pada saat ibu kembali bekerja merupakan isu serius yang harus segera ditindaklanjuti agar program pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan dapat tercapai. Selain memberikan banyak manfaat bagi bayi, ASI juga bermanfaat bagi ibu dan pengusaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dengan sampel berjumlah 1.193 ibu berusia 15 – 49 tahun yang memiliki bayi berusia 0-5 bulan. Berdasarkan analisis multivariat, ibu bekerja dapat menurunkan peluang pemberian ASI eksklusif dimana ibu yang bekerja sepanjang waktu lebih berisiko 1,54 kali untuk tidak memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang tidak bekerja setelah dikontrol oleh usia melahirkan ibu, indeks kesejahteraan rumah tangga dan frekuensi pemeriksaan kehamilan (p = 0,038; CI 95% = 1,0 - 2,3). Ibu bekerja dua kali memiliki peluang untuk tidak dapat memberikan ASI eksklusif daripada ibu yang tidak bekerja setelah dikontrol oleh variabel perancu. Continuity of breastfeeding process when mothers return to work is a serious issue that immediately must be followed up, so that exclusive breastfeeding program within the first six months can be achieved. Beside providing many benefits for babies, breastfeeding is also beneficial for mothers and entrepreneurs. This study aimed to determine relation of working mothers to exclusive breastfeeding. This study used was cross- sectional design with secondary data of Indonesia Demographic and Health Survey 2012 with samples as many as 1,193 mothers aged 15 – 49 years who had 0 – 5-month-old babies. Based on multivariate analysis, working mothers could decrease opportunity of exclusive breastfeeding in which mother who worked all the time were 1.54 times more likely not to give exclusive breastfeeding than mothers who did not work after controlled by maternal age at childbirth, household wealth index, and antenatal care frequency (p = 0.038; 95% CI = 1.0 to 2.3). Fulltime working mothers are twofold more likely to not be able to give exclusive breasfedding than unemployed mothers after being controlled by counfounder variable.
The Risk of Pneumonia among Toddlers in Lambatee, Aceh Sidiq, Rapitos; Ritawati, Ritawati; Sitio, Roma; Hajar, Siti
Kesmas Vol. 11, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu masalah kesehatan global yang sangat penting pada anak bawah lima tahun (balita), khususnya pada negara-negara berkembang. Saat ini, pneumonia merupakan salah satu kasus penyebab kematian pada anak terbesar, terutama pada periode baru lahir. Di Provinsi Aceh, penyakit pneumonia merupakan penyakit urutan ke-8 dari 25 penyakit terbesar yang ditemukan di puskesmas dengan jumlah 1.112 kasus. Sedangkan besarnya kasus pneumonia pada penderita rawat jalan di Aceh mencapai 434 kasus (29,03%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita. Penelitian bersifat analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian adalah ibu dan balita yang berjumlah 48 orang. Pengumpulan data dilaksanakan tanggal 3 – 14 Agustus 2015 dengan wawancara dan observasi. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kondisi sanitasi rumah secara fisik berpengaruh terhadap kecendrungan balita menderita penyakit pneumonia dengan nilai p 0,01 < 0,05, dengan nilai OR tertinggi 6,431 dan CI 95% = 1.559 - 26.532. Disimpulkan bahwa kondisi sanitasi rumah secara fisik memiliki peluang enam kali menyebabkan terjadinya pneumonia pada balita di Desa Lambatee, Kecamatan Darul Kamal, Kabupaten Aceh Besar. Pneumonia is one of very important global health problems among toddlers, especially in developing countries. Nowadays, pneumonia is one of largest causes of child mortality, especially in newborn period. In Aceh Province, pneumonia disease is the eighth of 25 biggest diseases found at primary health care with 112 cases, while pneumonia among outpatient sufferers in Aceh reached 434 cases (29.03%).This study aimed to determine factors related to incidence of pneumonia toddlers in Lambatee Village, Darul Kamal Subdistrict, Aceh Besar District. This study was analytical descriptive using cross-sectional design. Samples of study were mothers and toddlers amounted to 48 people. Data were collected on August 3rd – 14th, 2015 by interview, observation. Multivariate analysis used logistic regression. Results of study showed that the factor physical condition of house sanitation influenced to trend among toddlers suffering from pneumonia with p value 0.01< 0.05, the highest OR score 6.431 and 95% CI = 1.559 - 26.532. In conclusion, physical condition of house sanitation had six times risk of causing trend of pneumonia incidence among toddlers in Lambatee Village, Darul Kamal Subdistrict, Aceh Besar District.
Motivation Variables to Use Contraceptive among Male in Yogyakarta Sariyati, Susiana; Hati, Febrina Suci; Fatimah, Fatimah
Kesmas Vol. 11, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu program pembangunan nasional yang sangat penting dalam rangka mewujudkan keluarga Indonesia yang sejahtera. Peran program KB sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan reproduksi seseorang, baik untuk kesehatan reproduksi perempuan maupun kesehatan reproduksi laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi laki-laki pasangan usia subur dalam menggunakan kontrasepsi di Desa Bumijo, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta. Jenis penelitian ini bersifat kuantitatif dengan analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan hubungan pengetahuan dengan motivasi yaitu nilai p = 0,368. Hubungan sosial budaya dengan motivasi yaitu nilai p = 0,147. Hubungan pendidikan dengan motivasi yaitu nilai p = 0,968. Hubungan informasi dengan motivasi yaitu nilai p = 0,296. Hubungan dukungan istri dengan motivasi yaitu nilai p = 0,001. Tidak terdapat hubungan pengetahuan, pendidikan, sumber informasi, sosial budaya dengan motivasi. Terdapat hubungan dukungan istri dengan motivasi. Family Planning program is one of very important national development programs in order to embody wealthy Indonesian families. Role of such program has a big influence to a person’s reproductive health, both reproductive health of woman and man. This study aimed to determine factors related to reproductive men’s motivations for contraceptive use in Bumijo Village, Jetis District, Yogyakarta City. This study was conducted in Bumijo Village, Jetis Subdistrict, Yogyakarta. Subjects were 161 men in reproductive age older than 30 years old and had two children or more. This study was quantitative with logistic regression analysis. Results of study showed relation between knowledge and motivation (p value = 0.368), sociocultural and motivation (p value = 0.147), education and motivation (p value = 0.968), information and motivation (p value = 0.296), wife’s support and motivation (p value = 0.001). There was no relation between knowledge, education, information source, social and culture with motivation. There was a relation between wife’s support and motivation.
Coronary Heart Disease Risk Factors among Women Aged Older than 45 Years Old in Makassar Masriadi, Masriadi; Idrus, Hasta Handayani; Arman, Arman
Kesmas Vol. 11, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kardiovaskuler menyebabkan 8.6 juta kematian pada perempuan setiap tahun, yang merupakan penyebab kematian terbanyak, yaitu sepertiga dari seluruh kematian perempuan di seluruh dunia. Setengah dari seluruh kematian perempuan berusia di atas 50 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan stroke. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner pada perempuan usia > 45 tahun di Rumah Sakit TNI AU Dody Sarjoto Makassar. Besar sampel sebanyak 76 sampel yang terdiri dari 64 kasus penyakit jantung koroner dan 12 kasus non penyakit jantung koroner. Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap responden dengan menggunakan kuesioner dan wawancara langsung. Data dianalisis menggunakan uji koefisien korelasi kontingensi (Exp (B)) terhadap variabel independen dan dependen. Adapun hasil yang ditemukan adalah obesitas (Exp (B) = 0.140), diabetes mellitus (Exp (B) = 0.164), dan dislipidemia (Exp (B) = 0.185) terbukti memiliki hubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner pada perempuan usia > 45 tahun dan faktor yang memiliki hubungan paling besar adalah dislipidemia. Cardiovascular disease causes 8.6 million deaths of women every year, which is the major cause of death by one-third of all deaths of women in the world. Half of all deaths of women older than 50 years old is caused by cardiovascular and stroke diseases. This study aimed to analyze risk factors related to coronary heart disease among women aged older than 45 years at Dody Sarjoto Makassar Air Force Hospital 2016. The total of sample was 76 consisting of 64 cases of coronary heart disease and 12 non-coronary heart disease. Determination of sample used purposive sampling. Primary data were obtained through interview to respondents using questionnaire and direct interview. Data were analyzed by using contingency correlation coefficient (Exp (B)) test to identify significant relation between dependent and independent variables. Results found were hypertension (Exp (B) = 0.309), obesity (Exp (B) = 0.140), diabetes mellitus (Exp (B) = 0.164) and dyslipidemia (Exp (B) = 0.185), as proven having relation with coronary heart disease among women aged older than 45 years, and the factor which had the most significant relation was dyslipidemia.
Basis for Development of Business Strategic Plan Primary Health Care with Local Public Service Entity Status in Gianyar District Indrayathi, Putu Ayu; Ulandari, Luh Putu Sinthya
Kesmas Vol. 11, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Puskesmas yang berbentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) perlu membuat rencana strategi bisnis yang tepat. Penyusunan rencana strategi bisnis perlu memerhatikan pesaing yang beroperasi di sekitar wilayah kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aspek lingkungan internal dan eksternal di Puskesmas Ubud 1 dan Tegallalang 1 serta mengembangkan model pengembangan rencana strategi bisnis di kedua puskesmas yang berstatus BLUD tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif yang dilakukan pada tahun 2014. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan studi dokumentasi. Sampel penelitian ditentukan secara purposif dan diambil secara non proporsional, terdiri dari kepala dan staf Puskesmas Ubud 1 dan Tegallalalng 1. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil analisis faktor internal dan eksternal kedua puskesmas menunjukkan hasil yang sama. Sebagian besar indikator variabel internal merupakan kekuatan, hanya kuantitas tenaga kerja bidang medis dan nonmedis sebagai kelemahan dalam pengembangan program. Sedangkan hasil analisis faktor eksternal menunjukkan sebagian besar indikator variabel eksternal merupakan peluang dan hanya perilaku masyarakat terhadap lingkungan yang merupakan ancaman dalam pengembangan program. Sebagai kesimpulan, posisi strategis pengembangan di Puskesmas Ubud 1 dan Tegallalang 1 adalah strategi pertumbuhan. Primary health care as Local Public Service Entity needs to make the right business strategic plan. Arranging business plan needs to pay attention to its competitors operating around its working area. This study aimed to determine internal and external environmental factors in Ubud 1 and Tegallalang 1 Primary Health Care and develop model of business strategic plan development in both primary health cares with Local Public Service Entity status. This study was descriptive explorative conducted in 2014. Data were collected through questionnaires, and documentation study. Samples were determined purposively or taken non-proportionally, consisting of Ubud 1 and Tegallalang 1 Primary Health Care heads and staff. Data were analyzed by descriptive quantitative analysis. Results of internal and external factor analysis in both primary health cares showed similar findings. Most indicators of internal variable were strength, only quantities of medical and non-medical workers were the weaknesses in program development. Meanwhile, external factor analysis showed that most indicators of external variable were opportunities and it was only people’s lifestyle toward environment as the threat in program development. In conclusion, the development strategic position in Ubud 1 Tegallalang 1 was growth strategy.
Family Planning Information, Education and Communication with Contaceptive Use Winarni, Endah; Dawam, Muhammad
Kesmas Vol. 11, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) berperan penting dalam meningkatkan pencapaian prevalensi kesertaan Keluarga Berencana (KB). Namun, prevalensi KB di Indonesia selama satu dekade terakhir (2002-2012) tidak meningkat secara signifikan, walaupun pelbagai kegiatan KIE KB telah dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor sosio ekonomi demografi yang berkaitan dengan KIE KB, pelbagai unsur KIE yang berkaitan dengan pemakaian KB, dan unsur KIE yang berpengaruh terhadap pemakaian KB. Analisis menggunakan sumber data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012 dengan unit analisis perempuan berstatus kawin usia 15-49 tahun. Jumlah sampel yang dianalisis 33.465 perempuan berstatus kawin. Analisis menggunakan odds ratio atau rasio kecenderungan antara perempuan yang memperoleh KIE KB terhadap perempuan tidak mendapatkan akses KIE KB dalam hubungannya dengan pemakaian KB. Temuan bahwa pemberian KIE KB, baik media maupun petugas, merupakan faktor penting dalam pemakaian KB. KIE melalui televisi dan poster/pamflet memiliki hubungan bermakna dengan pemakaian KB (OR 1,6 dan 1,3). Petugas medis, petugas KB dan tokoh informal di masyarakat berperan penting dalam penyampaian informasi KB dan pemakaian KB (OR 2,2; 1,4; dan 1,2). Sejalan dengan hasil tersebut, kunjungan petugas KB dan petugas kesehatan menjelaskan KB kepada klien di fasilitas kesehatan berpengaruh secara bermakna ke pemakaian KB (OR 1,5 dan 2,6). Family Planning Information, Education, Communication (FP IEC) takes an important role in improving achievement of prevalence of Family Planning participation. However, contraceptive use prevalence in Indonesia within the last decade (2002-2012) did not significantly increase, although many FP IEC activities had been performed. This study aimed to determine socioeconomic demographic factors related to FP IEC, any IEC elements related to contraceptive use and IEC elements affecting on contraceptive use. Analysis used Indonesia Demographic and Health Survey 2012 as data source with analysis unit namely married women aged 15-49 years. Samples were 33,465 married women. Analysis used odds ratio (OR) between women receiving FP IEC toward women not getting access to FP IEC related to contraceptive use. This study found that FP IEC, both media and officers were important factors in contraceptive use. IEC through television and poster/flyer had a significant relation with contraceptive use (OR 1.6 and 1.3). Medical officers, FP officers and informal figures in community played an important role in FP information and contraceptive use (OR 2.2; 1.4; and 1.2). In line with results, visits of FP officers and medical officers informing contraception to clients at healthcare facilities significantly affected on contraceptive use (OR 1.5 and 2.6).
Assessment of Nutrition Information System Using Health Metrics Network Framework Nurmansyah, Mochamad Iqbal; Rosidati, Catur; Wardani, Riastuti Kusuma; Al-Aufa, Badra
Kesmas Vol. 10, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem informasi gizi (Sigizi) dikembangkan oleh Direktorat Bina Gizi Kementerian Kesehatan sejak 2011. Data Sigizi mencakup data penimbangan balita di posyandu, kasus gizi buruk, cakupan pemberian tablet Fe pada ibu hamil, konsumsi garam beryodium, pemberian vitamin A, dan ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja pengelolaan Sigizi di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menggunakan kerangka Health Metrics Network yang dikeluarkan oleh WHO tahun 2008. Sigizi merupakan sistem informasi yang diaplikasikan pada tingkat nasional dengan mekanisme pelaporan berjenjang, dari 508 kabupaten/kota menuju 34 provinsi dan bermuara di tingkat nasional. Di Provinsi Banten, terdapat delapan kabupaten/kota yang menjalankan Sigizi. Informan penelitian berjumlah enam orang, yaitu seksi gizi, seksi sumber daya kesehatan dan sistem informasi kesehatan, dua tenaga pelaksana gizi, dan dua kader posyandu. Pengumpulan data dilakukan Januari – April 2013 menggunakan pedoman wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Analisis interpretasi digunakan dalam menganalisis data. Hasil penelitian menunjukan belum ada kebijakan serta pelatihan mengenai pengawasan gizi. Kegiatan pemantauan telah dilakukan. Sarana dinilai cukup, namun terdapat kekurangan dalam upaya perawatannya. Terdapat enam indikator dalam pembinaan gizi yang mengacu pada MDGs. Terdapat pengelompokan dan kamus data. Pelaporan data dilakukan setiap bulan. Grafik dan peta digunakan untuk menyajikan data. Data yang tersedia digunakan untuk pemonitoran dan pengambilan keputusan dalam kegiatan pembinaan gizi, baik di tingkat posyandu, puskesmas maupun dinkes. Secara umum, pelaksanaan Sigizi di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan telah memadai. Nutrition Information System (NIS) developed by Heath Ministry’s Nutritional Development Directorate since 2011 covers data of toddler assessment in integrated health care, malnutrition case, coverages of Fe tablet among pregnant mothers, iodized salt consumption, vitamin A distribution and exclusive breastfeeding. This study aimed to assess NIS performance in South Tangerang City Health Agency using WHO’s Health Metrics Network 2008 framework. NIS is national level information system with gradual reporting mechanism starting from 508 districts/cities to 34 provinces ended at national level. Eight districts/cities over Banten Province have conducted NIS. This study had six informants namely nutrition section, health resources and health information system section, two nutrition duties and two integrated health care workers. Data was collected on January - April 2013 using interview, observation and document analysis guidelines. Data analysis used interpretation analysis. The result showed no any policy and training implemented regarding nutrition surveillance. Monitoring activity was already conducted. Facilities were adequate, but the maintenance was deficient. There are six nutritional development indicators according to MDGs. Data grouping and dictionaries were available. Data reporting was conducted every month. Graphics and maps were used for presenting data. The data served was used for monitoring and making a decision on nutritional development programs at integrated health care, primary health care and health agency levels. Generally, NIS implementation in South Tangerang City. Health agency was already adequate.
Sociodemographic Factors to Dengue Hemmorrhagic Fever Case in Indonesia Nuryunarsih, Desy
Kesmas Vol. 10, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyebab utama rawat inap dan kematian pada anak-anak. Indonesia adalah salah satu negara yang oleh WHO dikategorikan hyperendemicity dengan empat serotipe virus tersebar di daerah perkotaan. Faktor sosiodemografi dianggap sebagai faktor pendukung terjadinya DBD di Indonesia. Studi ini menggunakan data sekunder yang diunduh dari Basis Data Kesehatan Provinsi tahun 2010 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk menentukan korelasi antara ketiga faktor sosiodemografi dengan insiden DBD. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskripsi korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua faktor sosiodemografi terpilih memiliki korelasi linier dengan insiden DBD. Analisa regresi multivariat menunjukkan kecilnya korelasi antara insiden DBD dengan sekaligus tiga faktor sosiodemografi terpilih. Akan tetapi, hasil perhitungan analisa regresi univariat menunjukkan bahwa kepadatan penduduk dan kemiskinan memiliki korelasi yang signifikan terhadap DBD. Kepadatan penduduk r(4) = 0,843, nilai p < 0,05, sedangkan kemiskinan r(4)= 0,897, nilai p < 0,05. Variabel usia di bawah 15 tahun tidak memiliki korelasi positif terhadap insiden DBD. Diharapkan penelitian ini dapat memiliki kontribusi terhadap program pencegahan DBD dengan cara membantu praktisi kesehatan masyarakat mengembangkan strategi pencegahan DBD, terutama yang berhubungan dengan faktor sosiodemografi. Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a leading cause of hospitalization and death among children. Indonesia is one of those countries categorized by World Health Organization (WHO) as hyperendemicity with four serotypes circulating in urban area. Sociodemographic factors are considered as factors affecting DHF in Indonesia. This study used secondary data downloaded from Province Health Database 2010 of Health Ministry Republic of Indonesia to determine correlation between three sociodemographic factors to DHF incidence. This study used quantitative descriptive correlational methods. Results showed the selected two sociodemographic factors had a linear impact on DHF incidence. Multiple regression multivariate analysis showed least correlation between DHF incidence and three selected sociodemographic factors. However, the univariate regression analysis showed that population density and poverty had significant correlation to DHF, respectively the population density r(4) = 0.843, p value < 0.05 and poverty r(4) = 0.897, p value < 0.05. Variable of age under 15 years old did not have any positive correlation to DHF. It is expected this study may have contribution to DHF prevention programs by helping public health practitioners develop more strategies with respect to the sociodemographic factors.
Penerapan Sistem Remunerasi dan Kinerja Pelayanan Soetisna, Tri Wisesa; Ayuningtyas, Dumilah; Misnaniarti, Misnaniarti
Kesmas Vol. 10, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remuneration can influence worker`s motivation, and improve their performance. Likewise in hospital as capital-intensive, human resources-intensive as well as knowledge and technology-intensive health care institution. This study aimed to analyze employee’s perception of remuneration system implementation and adult cardiac surgery services unit’s performance at hospital. This study used a mixed method approach (quantitative and qualitative). Quantitative study design was cross-sectional using questionnaire for self-assesment. Meanwhile, qualitative study design was descriptive conducted through focus group discussion and document review on data in forms of schedule book, registration book, nursing notes and medical records. Data collection was conducted in 2013 at one hospital in Jakarta. Respondents/informants were functional medical staff, nurses, and administration staff amounted to 29 people. Data was analyzed using univariate and content analysis techniques. Results showed most functional medical staff dan nurse were unsatisfied (71.2%) with several things in remuneration system implementation, such as in payroll system and grading determination. However, adult cardiac surgery services unit’s performance is increasing every year before and after the implementation of remuneration system. This hospital is expected to improve the remuneration system in accordance with policy and arrange incentive formulation that is more appropriate with current condition as well as followed with proper socialization and periodical evaluation. Remunerasi dapat memengaruhi motivasi pegawai sekaligus meningkatkan kinerjanya. Demikian halnya di rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan yang padat modal, sumber daya manusia serta padat ilmu dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pegawai terhadap implementasi sistem remunerasi dan kinerja unit pelayanan bedah jantung dewasa (UPBJD) di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods (kuantitatif dan kualitatif). Desain penelitian kuantitatif adalah potong lintang menggunakan instrumen kuesioner self-assessment. Sedangkan desain penelitian kualitatif adalah deskriptif, dilakukan melalui focus group discussion dan telaah dokumen pada data berupa buku jadwal, buku registrasi, catatan keperawatan, dan rekam medis. Pengambilan data dilakukan pada tahun 2013 di salah satu rumah sakit di Jakarta. Responden/informan adalah staf medis fungsional, perawat, dan petugas administrasi berjumlah 29 orang. Data dianalisis secara univariat (metode kuantitatif), dan content analysis (metode kualitatif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar staf medis fungsional dan perawat tidak puas (71,2%) dengan beberapa hal dalam penerapan sistem remunerasi, seperti pada sistem penggajian dan penentuan grading. Terlihat kinerja unit pelayanan bedah jantung dewasa mengalami kenaikan setiap tahun sebelum dan setelah penerapan sistem remunerasi. Diharapkan agar rumah sakit ini dapat memperbaiki sistem remunerasi yang sesuai ketentuan kebijakan dan menyusun formulasi insentif dan bonus yang lebih sesuai dengan kondisi saat ini serta perlu dilakukan sosialisasi yang tepat dan evaluasi secara berkala.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20, No. 5 Vol. 20, No. 3 Vol. 20, No. 2 Vol. 20, No. 1 Vol. 19, No. 5 Vol. 19, No. 4 Vol. 19, No. 3 Vol. 19, No. 2 Vol. 19, No. 1 Vol. 18, No. 5 Vol. 18, No. 4 Vol. 18, No. 3 Vol. 18, No. 2 Vol. 18, No. 1 Vol. 17, No. 5 Vol. 17, No. 4 Vol. 17, No. 3 Vol. 17, No. 2 Vol. 17, No. 1 Vol. 16, No. 5 Vol. 16, No. 4 Vol. 16, No. 3 Vol. 16, No. 2 Vol. 16, No. 1 Vol. 15, No. 5 Vol. 15, No. 4 Vol. 15, No. 3 Vol. 15, No. 2 Vol. 15, No. 1 Vol. 14, No. 2 Vol. 14, No. 1 Vol. 13, No. 4 Vol. 13, No. 3 Vol. 13, No. 2 Vol. 13, No. 1 Vol. 12, No. 4 Vol. 12, No. 3 Vol. 12, No. 2 Vol. 12, No. 1 Vol. 11, No. 4 Vol. 11, No. 3 Vol. 11, No. 2 Vol. 11, No. 1 Vol. 10, No. 4 Vol. 10, No. 3 Vol. 10, No. 2 Vol. 10, No. 1 Vol. 9, No. 4 Vol. 9, No. 3 Vol. 9, No. 2 Vol. 9, No. 1 Vol. 8, No. 8 Vol. 8, No. 7 Vol. 8, No. 6 Vol. 7, No. 12 Vol. 7, No. 11 Vol. 7, No. 10 Vol. 8, No. 5 Vol. 8, No. 4 Vol. 8, No. 3 Vol. 8, No. 2 Vol. 8, No. 1 Vol. 7, No. 9 Vol. 7, No. 8 Vol. 7, No. 7 Vol. 7, No. 6 Vol. 7, No. 1 Vol. 7, No. 5 Vol. 7, No. 4 Vol. 7, No. 3 Vol. 7, No. 2 Vol. 6, No. 6 Vol. 6, No. 5 Vol. 6, No. 4 Vol. 6, No. 3 Vol. 6, No. 2 Vol. 6, No. 1 Vol. 5, No. 6 Vol. 5, No. 5 Vol. 5, No. 4 Vol. 5, No. 3 Vol. 5, No. 2 Vol. 5, No. 1 Vol. 4, No. 6 Vol. 4, No. 5 Vol. 4, No. 4 Vol. 4, No. 3 Vol. 4, No. 2 Vol. 4, No. 1 Vol. 3, No. 6 Vol. 3, No. 5 Vol. 3, No. 4 Vol. 3, No. 3 Vol. 3, No. 2 Vol. 3, No. 1 Vol. 2, No. 6 Vol. 2, No. 5 Vol. 2, No. 4 Vol. 2, No. 3 Vol. 2, No. 2 Vol. 2, No. 1 Vol. 1, No. 6 Vol. 1, No. 5 Vol. 1, No. 4 Vol. 1, No. 3 Vol. 1, No. 2 Vol. 1, No. 1 More Issue