cover
Contact Name
Umi Narsih
Contact Email
uminars@gmail.com
Phone
+6281336240199
Journal Mail Official
jikeshafshawaty@gmail.com
Editorial Address
https://journal.unhasa.ac.id/index.php/jikes/about/editorialTeam
Location
Kab. probolinggo,
Jawa timur
INDONESIA
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
ISSN : -     EISSN : 25797913     DOI : https://doi.org/10.333006/jikes
Core Subject : Health,
JI-KES (Jurnal of Health Sciences) is a journal published by LP2M Stikes Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan. This journal publishes research articles in the health care field, including nursing, midwifery, public health, nutrition, pharmacy, and others. The management of this journal accept articles from research lecturers and health experts to be published twice a year in February and August.
Articles 155 Documents
Edukasi Kegawatdaruratan Hipertensi terhadap Pengetahuan Keluarga tentang Pertolongan Pertama di Rumah Muhammad Risal; Adrian Sali; Moh Rozani
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 10 No. 1 (2026): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v10i1.1048

Abstract

Abstrak Hipertensi dapat berkembang menjadi kegawatdaruratan hipertensi yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah kerusakan organ dan kematian. Keluarga sebagai first responder berperan penting dalam memberikan pertolongan pertama sebelum penderita memperoleh penanganan medis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi kegawatdaruratan hipertensi terhadap pengetahuan keluarga tentang pertolongan pertama di rumah. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest–posttest yang dilaksanakan pada 2 Februari–20 April 2026 di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Bungku Tengah. Sampel berjumlah 72 anggota keluarga penderita hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan yang telah diuji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis dengan uji Wilcoxon. Sebelum edukasi, sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori cukup (43,1%), sedangkan setelah edukasi mayoritas berada pada kategori baik (73,6%). Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 1,90 menjadi 2,74. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan edukasi terhadap peningkatan pengetahuan keluarga. Edukasi kegawatdaruratan hipertensi efektif meningkatkan pengetahuan keluarga sehingga dapat diintegrasikan dalam pelayanan keperawatan komunitas dan pelayanan kesehatan primer untuk memperkuat peran keluarga sebagai first responder. Kata kunci: edukasi; kegawatdaruratan; hipertensi; keluarga   Abstract Hypertension can progress into a hypertensive emergency that requires immediate treatment to prevent organ damage and death. Families as first responders play a crucial role in providing first aid before the patient receives medical treatment. This study aimed to analyze the effect of hypertension emergency education on family knowledge of first aid at home. The study used a pre-experimental design with a one-group pretest–posttest design conducted from February 2–April 20, 2026, in the Bungku Tengah Community Health Center (UPT) Work Area. The sample consisted of 72 family members of hypertension patients selected using a purposive sampling technique. Data were collected using a knowledge questionnaire that had been tested for validity and reliability, then analyzed using the Wilcoxon test. Before education, most respondents had moderate knowledge (43.1%), while after education, the majority were in the good category (73.6%). The mean knowledge score increased from 1.90 to 2.74. The Wilcoxon test yield  a p-value of 0.000 (p<0.05), indicating a significant effect of education on increasing family knowledge. Hypertension emergency education significantly increases family knowledge and should be integrated into community nursing services and primary health care to strengthen the family's role as first responders. Keywords: education; emergency; hypertension; family
Penentuan KHM dan KBM Ekstrak Etanol Daun Mimba (Azadirachta indica A.Juss) terhadap Staphylococcus Aureus Shinta Nova Salsabila; Fahmi Dimas Abdul Azis; Vivi Shofia
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 10 No. 1 (2026): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v10i1.1050

Abstract

Abstrak Daun mimba (Azadirachta indica A.Juss.) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri karena mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa fitokimia ekstrak etanol daun mimba serta menentukan aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus berdasarkan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik. Ekstrak etanol daun mimba diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%. Uji fitokimia dilakukan secara kualitatif, sedangkan aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode dilusi cair pada media Mueller Hinton Broth (MHB) dengan variasi konsentrasi ekstrak 8%, 4%, 2%, 1%, 0,5%, dan 0,25% untuk menentukan KHM, kemudian dilanjutkan dengan penanaman pada media Mueller Hinton Agar (MHA) untuk menentukan KBM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mimba mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, dan terpenoid serta memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Nilai KHM diperoleh pada konsentrasi 1%, sedangkan nilai KBM pada konsentrasi 2%. Dengan demikian, ekstrak etanol daun mimba berpotensi sebagai sumber antibakteri alami terhadap Staphylococcus aureus. Kata kunci: azadirachta indica; antibakteri; staphylococcus aureus; KHM; KBM   Abstract Neem (Azadirachta indica A.Juss.) is a medicinal plant with antibacterial potential attributed to its diverse secondary metabolites. This study aimed to identify the phytochemical constituents of the ethanolic neem leaf extract and to evaluate its antibacterial activity against Staphylococcus aureus by determining the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC). This was an in vitro laboratory experiment. Qualitative phytochemical screening was conducted. Antibacterial activity was assessed using the broth dilution method in Mueller Hinton Broth (MHB) at extract concentrations of 8%, 4%, 2%, 1%, 0.5%, and 0.25% to determine the MIC, followed by subculturing on Mueller Hinton Agar (MHA) to determine the MBC. The ethanolic neem leaf extract contained flavonoids, alkaloids, saponins, and terpenoids, and demonstrated antibacterial activity against Staphylococcus aureus. The MIC and MBC were 1% and 2%, respectively. These findings suggest that ethanolic neem leaf extract has potential as a natural antibacterial agent against Staphylococcus aureus. Keywords: azadirachta indica; neem leaves; antibacterial; staphylococcus aureus; MIC; MBC
Efektivitas Exercise Based Intervention dalam Meningkatkan Keseimbangan pada Anak Autism Spectrum Disorder (ASD) Indah Pramita; I Made Yullyantara Saputra; Ni Luh Sri Apsari; I Gede Putu Wahyu Mahendra; Tjokorda Istri Agung Rosanthi Pradnyani
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 10 No. 1 (2026): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v10i1.1054

Abstract

Abstrak Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) sering mengalami gangguan keseimbangan yang berdampak pada keterbatasan aktivitas fungsional dan kemandirian sehari-hari. Kondisi ini mendorong perlunya intervensi fisioterapi yang efektif untuk meningkatkan kemampuan motorik anak ASD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan pengaruh Perceptual Motor Program dan Core Stability Exercise terhadap peningkatan keseimbangan pada anak dengan ASD. Penelitian menggunakan desain eksperimental dengan rancangan pre-test and post-test two group design. Sebanyak 30 anak ASD berusia 4–8 tahun dibagi ke dalam dua kelompok perlakuan, masing-masing mendapatkan Perceptual Motor Program dan Core Stability Exercise selama enam minggu dengan frekuensi dua kali per minggu. Pengukuran keseimbangan dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan One Leg Stand Test. Data dianalisis menggunakan uji statistik dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis intervensi mampu meningkatkan keseimbangan secara signifikan pada anak ASD. Selain itu, tidak ditemukan perbedaan efektivitas yang bermakna antara kedua kelompok perlakuan. Dengan demikian, Perceptual Motor Program dan Core Stability Exercise dapat digunakan sebagai pilihan intervensi fisioterapi yang sama-sama efektif untuk meningkatkan keseimbangan pada anak dengan Autism Spectrum Disorder. Kata kunci: autism spectrum disorder; postural balance; motor skills; exercise therapy; physical therapy modalities   Abstract Children with Autism Spectrum Disorder (ASD) commonly experience balance impairments that interfere with functional activities and daily independence. These limitations highlight the need for effective physiotherapy interventions targeting motor control and postural stability. This study aimed to examine and compare the effects of a Perceptual Motor Program and Core Stability Exercise on balance improvement in children with ASD. An experimental study with a pre-test and post-test two-group design was conducted. A total of 30 children with ASD aged 4–8 years were allocated into two intervention groups, each receiving either a Perceptual Motor Program or Core Stability Exercise twice weekly for six weeks. Balance performance was assessed before and after the intervention using the One Leg Stand Test. Data were analyzed using appropriate statistical tests with a significance level set at 0.05. The results demonstrated that both interventions significantly improved balance in children with ASD. However, no statistically significant difference was found between the two groups. In conclusion, both the Perceptual Motor Program and Core Stability Exercise are equally effective and may be considered viable physiotherapy interventions to enhance balance in children with Autism Spectrum Disorder. Keywords: autism spectrum disorder; postural balance; motor skills; exercise therapy; physical therapy modalities
Aktivitas Antibakteri Kombinasi Nanopartikel Kitosan–Ekstrak Daun Mangga Arumanis dan Doksisiklin terhadap Staphylococcus Aureus Aidlatul Latifah; Fahmi Dimas Abdul Azis; Hilmia Lukman
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 10 No. 1 (2026): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v10i1.1057

Abstract

Abstrak Infeksi Staphylococcus aureus masih menjadi masalah kesehatan akibat peningkatan resistensi antibiotik, termasuk doxycycline. Kombinasi antibiotik dengan bahan alami berbasis nanopartikel diperkirakan dapat meningkatkan efektivitas terapi. Studi ini bertujuan untuk menentukan efektivitas kombinasi nanopartikel kitosan – ekstrak daun mangga Arumanis (Mangifera indica L.) dan doxycycline dalam menghambat Staphylococcus aureus serta mengevaluasi aktivitas antibakteri pada beberapa konsentrasi. Metode eksperimen laboratorium in vitro dilakukan dengan maserasi ekstrak etanol 70%, formulasi nanopartikel kitosa, dan karakterisasi Scanning Electron Microscopy (SEM). Uji difusi cakram menggunakan kombinasi nanopartikel 2,5%, 5%, dan 7,5% dengan 30 μg doksisiklin. Hasilnya menunjukkan hasil ekstrak sebesar 23,84% dan ukuran nanopartikel rata-rata 114,5 nm. Diameter zona hambatan rata-rata berturut-turut adalah 24,70, 27,56, dan 30,58 mm untuk formulasi 2,5%, 5%, dan 7,5%, masing-masing. Tes Kruskal–Wallis menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p=0,009). Konsentrasi sebesar 7,5% menghasilkan zona hambatan terbesar. Disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak daun mangga chitosan–Arumanis dan nanopartikel doxycycline secara efektif menghambat Staphylococcus aureus, dengan konsentrasi 7,5% dan 30 μg doxycycline menunjukkan aktivitas tertinggi. Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk uji MIC, MBC, sinergisme, toksisitas, dan in vivo guna mendukung pengembangan formulasi terapi pendamping antibiotik. Kata kunci: daun mangga arumanis; nanopartikel kitosan; doksisiklin; Staphylococcus aureus; antibakteri   Abstract Staphylococcus aureus infection remains a health issue due to rising antibiotic resistance, including doxycycline. Combining antibiotics with natural nanoparticle-based agents is expected to enhance therapeutic efficacy. This study aimed to examine the effectiveness of a combination of chitosan nanoparticles, Arumanis mango (Mangifera indica L.) leaf extract, and doxycycline in inhibiting Staphylococcus aureus, and to evaluate antibacterial activity at various concentrations. An in vitro experiment utilized  70% maceration for leaf extraction, chitosan nanoparticle formulation, and characterization using Scanning Electron Microscopy (SEM) and disk diffusion assays with nanoparticle-doxycycline combinations at 2,5%,5% and 7,5%. The results showed an extraction yield of 23.84% and an average nanoparticle size of 114.5 nm. The mean inhibition zone diameters were 24.70 mm, 27.56 mm, and 30.58 mm for the 2.5%, 5%, and 7.5% formulations, respectively. The Kruskal–Wallis test indicated significant differences between groups (p=0.009). The 7.5% concentration produced the largest inhibition zone. It is concluded that the combination of chitosan–Arumanis mango leaf extract nanoparticles and doxycycline effectively inhibits Staphylococcus aureus, with the 7.5% concentration and 30 μg doxycycline exhibiting the highest activity. Further investigations on MIC, MBC, synergism effect, toxicity, and in vivo assays are warranted to advanced antibiotic-adjuvant therapeutic formulation development. Keywords: arumanis mango leaf; chitosan nanoparticles; doxycycline; Staphylococcus aureus; antibacterial
Efek Ekstrak Temulawak terhadap Malondialdehid Serum Tikus Betina Model Induksi Estradiol Titis Maysaroh; Fahmi Dimas Abdul Azis; Vivi Shofia
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 10 No. 1 (2026): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v10i1.1058

Abstract

Abstrak Stres oksidatif terjadi akibat ketidakseimbangan antara produksi reactive oxygen species (ROS) dan kapasitas antioksidan tubuh, yang memicu kerusakan sel melalui peroksidasi lipid. Kadar malondialdehid (MDA) digunakan sebagai penanda kondisi ini. Pemberian estradiol dapat meningkatkan ROS dan MDA. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) mengandung kurkuminoid dan xanthorrhizol yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efek natrium diklofenak dan ekstrak etanol temulawak terhadap kadar MDA serum tikus betina yang diinduksi estradiol, serta menentukan dosis terbaik. Menggunakan desain post-test only control group, 25 tikus Wistar dibagi menjadi lima kelompok: kontrol negatif, kontrol positif (natrium diklofenak 10 mg/kgBB), dan perlakuan ekstrak temulawak dosis 250, 500, dan 1000 mg/kgBB. Kadar MDA diukur dengan metode TBARS menggunakan spektrofotometri UV-Vis, lalu dianalisis dengan Kruskal–Wallis dan Mann–Whitney. Hasil menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p=0,000). Natrium diklofenak dan ekstrak temulawak menurunkan MDA dibandingkan kontrol negatif. Dosis 1000 mg/kgBB memberikan penurunan terbesar, setara dengan diklofenak (p>0,05). Simpulannya, ekstrak etanol temulawak efektif menurunkan MDA serum tikus yang diinduksi estradiol, dengan dosis 1000 mg/kgBB sebagai yang efektif. Kata kunci: temulawak; natrium diklofenak; estradiol; malondialdehid; tikus putih   Abstract Oxidative stress results from an imbalance between the production of reactive oxygen species (ROS) and the body's antioxidant capacity, which triggers cell damage through lipid peroxidation. Malondialdehyde (MDA) levels are widely recognized as biomarkers of this condition. Estradiol administration may elevate ROS and MDA levels. Curcuma xanthorrhiza Roxb.(Temulawak) contains curcuminoids and xanthorrhizole which exhibit antioxidant and anti-inflammatory properties. This study aimed to evaluate the effect of diclofenac sodium and temulawak ethanol extract on the serum MDA levels of estradiol-induced female rats, as well as determine the best dose. Using a post-test only control group design involving 25 Wistar mice divided into five groups: negative control, positive control (sodium diclofenac 10 mg/kgBB), and cucumin extract treatment at doses of 250, 500, and 1000 mg/kgBB. MDA levels were measured using the TBARS method using UV-Vis spectrophotometry, and then analyzed with Kruskal–Wallis and Mann–Whitney. Results showed significant differences among groups (p=0.000). Sodium diclofenac and curcuma extract lowered MDA compared to negative controls. A dose of 1000 mg/kgBB provided the greatest reduction, equivalent to diclofenac (p>0.05). In conclusion, temulawak ethanol extract effectively reduced estradiol-induced serum MDA levels in rats, with 1000 mg/kgBW identified as the most effective dose. Keywords: curcuma xanthorrhiza; malondialdehyde; oxidative stress; estradiol; diclofenac sodium