cover
Contact Name
Khairuddin
Contact Email
khairuddinazka15@gmail.com
Phone
+6282286180987
Journal Mail Official
dampengartheritage@gmail.com
Editorial Address
Tanah Bara
Location
Kab. aceh singkil,
Aceh
INDONESIA
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture
ISSN : 30896657     EISSN : 30899753     DOI : 10.70742/dampeng
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture (ISSN-P 3089-6657 ; ISSN-E 3089-9753) is a double-blind peer-reviewed journal published by Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara, Indonesia. This journal publishes research articles and conceptual papers in the fields of art, heritage, and culture (see Focus and Scope). All submissions are reviewed by experts in their respective fields, and each article includes abstracts in both English and Indonesian. Submitted manuscripts must demonstrate scholarly achievement or novelty relevant to the journal’s focus. All texts must be free from plagiarism, and authors are strongly encouraged to use plagiarism detection software to ensure a similarity index below 25%. Please note that the journal only accepts manuscripts written in either Indonesian or English. The journal is published four times a year, in February, May, August, and November.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
The Umayyad Dynasty in Andalusia: Contributions to the Development of Science Yan Nurcahya; Deri Sugiarto; Teddiansyah Nata Negara; Dandi Hambaliana; Rian Ananda Putra
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 3 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i3.245

Abstract

The Umayyad Dynasty was an Islamic government regime under the rule of the Umayyad family which lasted from 661 AD-750 AD. The Umayyad Caliphate or Umayyad Dynasty was the second Islamic caliphate after the dissolution of the Rashidun Caliphate in the Arabian Peninsula, the Umayyad Dynasty in Al-Andalus was an important period in Spanish history which began in 756 AD when Abdul ar-Rahman I fled from Constantinople after the defeat of Umayyad troops in the Middle East. The dynasty ended in 1031 AD when political collapse and rebellion divided Al-Andalus into various small taifa kingdoms. The city of Cordoba became an important cultural and economic center, with Al-Andalus being one of the intellectual centers of the Islamic world. The steps in this research were carried out in three stages, namely the source collection stage and the analysis results presentation stage. The collection of sources in this research used library research techniques. The Umayyad dynasty in Andalusia was a golden period in the history of the development of science and culture. Policies of tolerance and support for education and research allowed for innovations that not only enriched the Islamic world, but also had a profound and lasting influence throughout the world. Abstrak: Dinasti Umayyah merupakan rezim pemerintahan Islam di bawah kekuasaan keluarga Umayyah yang berlangsung dari tahun 661 M hingga 750 M. Kekhalifahan Umayyah atau Dinasti Umayyah adalah kekhalifahan Islam kedua setelah runtuhnya Kekhalifahan Rasyidun di Jazirah Arab. Dinasti Umayyah di Al-Andalus menjadi periode penting dalam sejarah Spanyol yang dimulai pada tahun 756 M ketika Abdul ar-Rahman I melarikan diri dari Konstantinopel setelah kekalahan pasukan Umayyah di Timur Tengah. Dinasti ini berakhir pada tahun 1031 M ketika terjadi keruntuhan politik dan pemberontakan yang memecah Al-Andalus menjadi berbagai kerajaan kecil (taifa). Kota Cordoba berkembang menjadi pusat kebudayaan dan perekonomian yang penting, dengan Al-Andalus sebagai salah satu pusat intelektual dunia Islam. Langkah-langkah penelitian ini dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu tahap pengumpulan sumber dan tahap penyajian hasil analisis. Pengumpulan sumber dalam penelitian ini menggunakan teknik studi pustaka. Dinasti Umayyah di Andalusia merupakan masa keemasan dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kebijakan toleransi serta dukungan terhadap pendidikan dan penelitian memungkinkan lahirnya berbagai inovasi yang tidak hanya memperkaya dunia Islam, tetapi juga memberikan pengaruh mendalam dan bertahan lama di seluruh dunia.
Local Cultural Transformations in the Development of Halal Tourism in Indonesia and Malaysia Hendri Hermawan Adinugraha; Ferida Rahmawati; Rizky Andrean
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 3 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i3.354

Abstract

The phenomenon of local cultural transformation in halal tourism is a strategic issue worthy of research because it involves tension between the preservation of tradition and the standardization of global halal services. This study aims to explore how local cultural values in Indonesia and Malaysia are integrated with Sharia principles to create an authentic and sustainable tourism experience. The research gap lies in the lack of comparative studies examining the interaction between local culture and halal tourism. In contrast, previous research has tended to focus on certification aspects or tourist behavior. This study employs a qualitative approach with a literature review design, collecting data from scientific journals, research reports, and policy documents. These documents are then analyzed using content analysis techniques, which involve reduction, categorization, and thematic synthesis. The analysis results show that Indonesia emphasizes community participation and local cultural richness, while Malaysia excels in regulation, standardization, and global promotion through the “Muslim-Friendly Tourism” branding. These findings contribute theoretically to the role of selective acculturation and cultural hybridization in halal tourism, while offering a culture-based development model compatible with the demands of the Muslim tourist market. Abstrak: Fenomena transformasi budaya lokal dalam pariwisata halal menjadi isu strategis yang layak diteliti karena mengandung ketegangan antara pelestarian tradisi dengan standarisasi layanan halal global. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai budaya lokal di Indonesia dan Malaysia diintegrasikan dengan prinsip syariah guna menciptakan pengalaman wisata yang autentik dan berkelanjutan. Gap penelitian ini terletak pada kurangnya studi komparatif yang mengkaji interaksi antara budaya lokal dan pariwisata halal, sementara riset sebelumnya cenderung berfokus pada aspek sertifikasi atau perilaku wisatawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi pustaka, mengumpulkan data dari jurnal ilmiah, laporan riset, serta dokumen kebijakan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi melalui reduksi, kategorisasi, dan sintesis tematik. Hasil analisis menunjukkan bahwa Indonesia menonjolkan partisipasi komunitas dan kekayaan budaya lokal, sedangkan Malaysia lebih unggul dalam regulasi, standardisasi, dan promosi global melalui branding “Muslim-Friendly Tourism.” Temuan ini memberikan kontribusi teoritis terkait peran akulturasi selektif dan cultural hybridization dalam pariwisata halal, sekaligus menawarkan model pengembangan berbasis budaya yang kompatibel dengan tuntutan pasar wisatawan muslim.
Sejarah Perkeretaapian Dan Relevansinya Terhadap Perekonomian Masyarakat Pulau Jawa 1917-2017 M Kautsar Thariq Syah; Putri Lailatus Sa'adah; Riyan Haqi Khoerul Anwar
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 3 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i3.367

Abstract

This study aims to examine the strategic role of railways in Indonesia as a primary transportation infrastructure capable of addressing geographical challenges and supporting economic development. This study is important because railways function not only as a means of mobility but also as a driver of socio-economic growth across generations. The study uses a qualitative approach with a literature study method, based on historical literature sources, official archives, and relevant policy documents. Data are analyzed descriptively and analytically to trace the dynamics of railway development and its impact on people's lives. The research findings indicate that the construction of the first railway line in Java on June 17, 1864, by Governor General L.A.J. Baron Sloet van de Beele marked a milestone in transportation modernization in Asia. The existence of railways has been proven to increase mobilization efficiency, strengthen trade activities, accelerate regional integration, and remain relevant in the contemporary era, including supporting homecoming and tourism. The implications of this study emphasize the importance of railway revitalization as an environmentally friendly and sustainable transportation solution. The originality of the study lies in the emphasis on the historical and socio-economic dimensions that demonstrate the continuity of the role of railways from the colonial period to the modern era, thus providing academic and practical contributions to the study of sustainable transportation in Indonesia Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran strategis perkeretaapian di Indonesia sebagai infrastruktur transportasi utama yang mampu menjawab tantangan geografis dan mendukung pembangunan ekonomi. Kajian ini penting karena kereta api tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas, tetapi juga sebagai penggerak pertumbuhan sosial-ekonomi lintas generasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, berdasarkan sumber literatur sejarah, arsip resmi, dan dokumen kebijakan yang relevan. Data dianalisis secara deskriptif-analitis untuk menelusuri dinamika perkembangan perkeretaapian serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembangunan jalur kereta api pertama di Jawa pada 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal L.A.J. Baron Sloet van de Beele menjadi tonggak modernisasi transportasi di Asia. Keberadaan kereta api terbukti meningkatkan efisiensi mobilisasi, memperkuat aktivitas perdagangan, mempercepat integrasi wilayah, serta tetap relevan dalam era kontemporer, termasuk mendukung mudik dan pariwisata. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya revitalisasi perkeretaapian sebagai solusi transportasi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Orisinalitas penelitian terletak pada penekanan dimensi historis dan sosial-ekonomi yang memperlihatkan kesinambungan peran kereta api dari masa kolonial hingga era modern, sehingga memberikan kontribusi akademik dan praktis bagi kajian transportasi berkelanjutan di Indonesia.
Nur Mohammad Taraki hingga Mohammad Najibullah: Konflik Uni Soviet dengan Mujahidin di Afghanistan 1978-1992 Yunus Sulthonul Khakim; Rahmad Setyawan; Muhammad Husna Rosyadi; Andi Arif Rifa’i
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 3 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i3.390

Abstract

Afghanistan was originally an absolute monarchy, where the king held full power and controlled the government completely. However, in 1973, the long-ruling king was overthrown in a coup, giving birth to the Republic of Afghanistan. After that, the country experienced a dark period as the government was taken over by a communist regime controlled by the Soviet Union. This situation left Afghanistan vulnerable to conflict and instability. Then, a jihadist group emerged that dared to oppose communist domination and Soviet intervention from 1978 to 1992. This movement was known as the Mujahideen, which consisted of the Muslim community of Afghanistan. This paper aims to examine the role of this Islamic guerrilla group in the struggle against communism, both in terms of violence, invasion, and cultural change in Afghanistan. Methodologically, this research falls under the category of political history research, utilizing library data as the main reference in the preparation of the discussion. This research uses historical methods, starting from topic selection, source search and verification, interpretation, to writing. The results of the study show that the Mujahideen succeeded in developing and were able to expel communist forces, thus becoming the main force that dominated the new power in Afghanistan. Abstrak: Afghanistan pada awalnya merupakan Negara dengan sistem monarki absolut, di mana raja memegang kekuasaan penuh dan mengendalikan jalannya pemerintahan secara total. Namun, pada tahun 1973, kekuasaan raja yang telah lama berkuasa berhasil digulingkan melalui kudeta, sehingga lahirlah Republik Afghanistan. Setelah itu, Negara ini mengalami masa-masa kelam karena pemerintahan sempat dikuasai oleh rezim komunis yang dikendalikan oleh Uni Soviet. Kondisi tersebut menempatkan Afghanistan dalam situasi yang rentan terhadap konflik dan ketidakstabilan. Hingga kemudian muncul kelompok jihad yang berani menentang dominasi komunis dan intervensi Uni Soviet pada tahun 1978-1992. Gerakan tersebut dikenal dengan sebutan Mujahidin, yang terdiri dari masyarakat muslim Afghanistan. Tulisan ini bertujuan menelaah peran kelompok gerilya Islam tersebut dalam perjuangan melawan komunisme, baik terkait kekerasan, invasi, maupun perubahan budaya di Afghanistan. Secara metodologis, penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian sejarah politik dengan memanfaatkan data kepustakaan sebagai rujukan utama dalam penyusunan pembahasan. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, mulai dari pemilihan topik, penelusuran dan verifikasi sumber, interpretasi, hingga penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mujahidin berhasil berkembang dan mampu mengusir pasukan komunis, sehingga kemudian menjadi kekuatan utama yang mendominasi kekuasaan baru di Afghanistan.
Jejak yang Terlupakan: Keraton Kartasura dalam Perspektif Politik Identitas dan Memori Kolektif Masyarakat Rahmania Yoga Ratri; Anisa Fitri Rohimah; Nurul Chotimah; Reska Nurviani; Salsabilla Diana Putri
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 3 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i3.415

Abstract

The Kartasura Palace represents a significant legacy of the Mataram Islamic Kingdom, yet it has gradually faded from the collective memory of society. This study aims to examine the position of the Kartasura Palace not only as a historical site but also as a symbol of political identity and collective memory among Javanese communities. Using a qualitative approach and a descriptive-narrative method, data were collected through in-depth interviews, direct observation, and historical literature review. The findings reveal that the low level of public knowledge—especially among younger generations—about the history of Kartasura Palace is influenced by the dominance of the Surakarta Palace narrative and the weakness of local history education. The site is often perceived more mystically than historically, weakening the community’s sense of collective identity. However, local communities and site managers have initiated preservation efforts that could revive Kartasura’s historical and cultural values. The Kartasura Palace holds great potential as a space for cultural representation and historical learning to strengthen both local and national identity awareness. This study recommends enhancing local history education, fostering cultural preservation collaboration between government and society, and symbolically revitalizing the site as a strategy to reinforce an inclusive and sustainable political identity. Abstrak: Keraton Kartasura merupakan bagian penting dalam sejarah Kesultanan Mataram Islam yang kini mengalami pelunturan dalam memori kolektif masyarakat. Penelitian ini bertujuan menelaah posisi Keraton Kartasura tidak hanya sebagai situs historis, tetapi juga sebagai simbol politik identitas dan memori kolektif masyarakat Jawa. Dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif naratif, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, serta telaah literatur sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan masyarakat lokal, terutama generasi muda, terhadap sejarah Keraton Kartasura disebabkan oleh dominasi narasi Kesunanan Surakarta dan lemahnya pendidikan sejarah lokal. Situs ini cenderung dipersepsikan secara mistis daripada historis, sehingga melemahkan keterikatan identitas kolektif masyarakat. Namun, terdapat inisiatif pelestarian dari komunitas lokal dan pengelola situs yang berpotensi menghidupkan kembali nilai historis dan budaya Kartasura. Keraton Kartasura memiliki potensi besar sebagai ruang representasi budaya dan pembelajaran sejarah yang dapat memperkuat kesadaran identitas lokal maupun nasional. Penelitian ini merekomendasikan penguatan edukasi sejarah lokal, kolaborasi pelestarian budaya antara pemerintah dan masyarakat, serta revitalisasi simbolik situs sebagai strategi memperkuat politik identitas yang inklusif dan berkelanjutan.
Model Pengembangan Kompetensi Pemandu Wisata Budaya di Rumah Adat Karo Selayang dalam Menghadapi Kebutuhan Wisata Edukasi Rahmat Alhafiizh; Tri Wahyuda; Irmayana Irmayana; Donna Sapitri Harahap; Annisa Dea Mudrika; Ilham Adithiya Sirait; Sri Windari
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 4 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i4.484

Abstract

This study focuses on the urgency of developing the competence of cultural tour guides at the Karo Traditional House Garista, located in Medan Selayang, in response to the increasing demand for the educational tourism sector. Garista, an authentic Siwaluh Jabu (eight-family house) that was relocated and preserved, serves as a knowledge center rich in philosophical value and the uniqueness of nail-less architecture, making it a vital destination for students, university students, and researchers. Therefore, the guides at this site are required to possess competence beyond general standards, specifically the ability to perform educational interpretation rather than mere description, ensuring that the essence of Karo culture is conveyed with depth and substance. This research aims to formulate an ideal model for competence development, which includes identifying existing guide competency gaps, determining the key elements required (knowledge, skills, and attitude), and designing a structured training model. Methodologically, the study will utilize a qualitative descriptive approach with data collection techniques involving triangulation, including in-depth interviews with managers, guides, and local cultural experts, participatory observation of the guiding process, and document analysis. The expected outcome is a Guide Competency Development Model oriented towards strengthening cultural narratives that can significantly enhance the educational tourism experience, while simultaneously contributing to the preservation efforts of the Karo heritage in an urban environment.  [Penelitian ini memfokuskan pada urgensi pengembangan kompetensi pemandu wisata budaya di Rumah Adat Karo Garista, yang berlokasi di Medan Selayang, sebagai respons terhadap meningkatnya permintaan sektor wisata edukasi. Garista, sebuah Siwaluh Jabu (rumah delapan keluarga) otentik yang dipindahkan dan dilestarikan, berfungsi sebagai pusat pengetahuan yang kaya akan nilai filosofis dan keunikan arsitektur tanpa paku, menjadikannya destinasi vital bagi pelajar, mahasiswa, dan peneliti. Oleh karena itu, pemandu di situs ini dituntut untuk memiliki kompetensi di atas standar umum, yaitu kemampuan untuk melakukan interpretasi edukatif alih-alih sekadar deskripsi, agar esensi budaya Karo dapat tersampaikan secara mendalam dan berbobot. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model pengembangan kompetensi yang ideal, mencakup identifikasi kesenjangan kompetensi pemandu yang ada, penentuan elemen-elemen kunci yang dibutuhkan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap), dan perancangan model pelatihan yang terstruktur. Secara metodologis, penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data triangulasi meliputi wawancara mendalam dengan pengelola, pemandu, dan budayawan lokal, observasi partisipatif terhadap proses guiding, serta analisis dokumen. Hasil yang diharapkan adalah Model Pengembangan Kompetensi Pemandu yang berorientasi pada penguatan narasi budaya dan mampu meningkatkan pengalaman wisata edukasi secara signifikan, sekaligus berkontribusi pada upaya pelestarian warisan Karo di wilayah urban.]
Mengukir Narasi Medan Area: Peran Pemandu dalam Interpretasi Koleksi Perjuangan Kemerdekaan di Museum TNI Medan Ayu Lestari; Maysaroh; Suci Ramadani; Muttaqin Nur; Muhammad Salim Mahallin; Husnul Hamdi; Sri Windari
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 4 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i4.485

Abstract

This study aims to analyze the crucial role of museum guides in interpreting the collection of the Medan Indonesian Army (TNI) Struggle Museum (Kodam I/BB), focusing specifically on the Medan Area Incident (1945–1947). While the museum houses valuable artifacts, the effectiveness of delivering the historical narrative often relies on human intervention. Employing a descriptive qualitative method, this research gathered data through in-depth interviews with guides, observation of guiding sessions, and analysis of curatorial documents. The findings indicate that guides act as 'Narrative Carvers,' transforming static artifacts into a living and emotional historical experience. Key strategies utilized by the guides include locality-based storytelling, connecting artifacts with the actual geography of Medan City, and contextual presentation of key figures in the North Sumatran struggle. Guides function not merely as information providers, but as emotional bridges and agents for the conservation of collective memory. This study recommends prioritizing guide empowerment through intensive training in local historiography and sensitive interpretation techniques, as this is crucial for enhancing public education quality and preserving the historical memory of the Medan Area. [Penelitian ini bertujuan menganalisis peran krusial pemandu (guide) museum dalam menginterpretasikan koleksi Museum Perjuangan TNI Medan (Kodam I/BB), dengan fokus pada Peristiwa Medan Area (1945–1947). Museum ini menyimpan artefak berharga, namun efektivitas penyampaian narasi sejarah sering kali bergantung pada intervensi manusia. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan pemandu, observasi sesi pemanduan, dan analisis dokumen kuratorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemandu berperan sebagai 'Pengukir Narasi' yang mengubah artefak statis menjadi pengalaman sejarah yang hidup dan emosional. Strategi kunci yang dilakukan pemandu meliputi storytelling berbasis lokalitas, koneksi artefak dengan geografi aktual Kota Medan, dan penyajian tokoh kunci perjuangan Sumatera Utara secara kontekstual. Pemandu tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai jembatan emosional dan agen konservasi memori kolektif. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pemberdayaan pemandu melalui pelatihan intensif pada historiografi lokal dan teknik interpretasi yang sensitif, sebagai kunci untuk meningkatkan kualitas edukasi publik dan melestarikan ingatan sejarah Medan Area.]
Peran Museum Negeri Medan Dalam Pelestarian Warisan Budaya Multietnis Di Sumatera Utara Dumel Awiyah Harahap; Tegar Triwibowo Damanik; Alvin Rivaldi; Novia Astari; Farhana Aziz Batu bara
Dampeng: Journal of Art, Heritage and Culture Vol. 1 No. 4 (2025): Dampeng: Journal Art, Heritage and Culture
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/dampeng.v1i4.486

Abstract

This study aims to analyze the role of the Medan State Museum in preserving multi-ethnic cultural heritage in North Sumatra. The museum is understood not only as a place for storing historical artifacts, but also as a space for public education and a means of strengthening community cultural identity. This research employs a qualitative approach using a descriptive-analytical method through observation, interviews, and documentation studies. The findings indicate that the Medan State Museum plays an active role in preserving ethnographic collections, representing the cultures of various ethnic groups in North Sumatra, and organizing educational programs as well as cultural exhibitions for the public. However, the museum still faces several challenges, including limitations in human resources, facilities, and low public interest in museum visits. Therefore, innovative, participatory, and sustainable management strategies are required to further optimize the museum’s role in preserving and safeguarding multi-ethnic cultural heritage. [Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Museum Negeri Medan dalam pelestarian warisan budaya multietnis di Sumatera Utara. Museum dipahami tidak hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi benda bersejarah, tetapi juga sebagai ruang edukasi publik dan sarana penguatan identitas budaya masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Negeri Medan berperan aktif dalam melestarikan koleksi etnografi, merepresentasikan kebudayaan berbagai etnis yang ada di Sumatera Utara, serta menyelenggarakan kegiatan edukasi dan pameran budaya bagi masyarakat. Namun demikian, museum masih menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia, fasilitas, serta rendahnya minat kunjungan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan yang inovatif, partisipatif, dan berkelanjutan agar peran museum dapat lebih optimal dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya multietnis]

Page 2 of 2 | Total Record : 18